MG XV METODE DAN TOOLS DALAM PENGELOLAAN LANSKAP

dokumen-dokumen yang mirip
Aplikasi SIG dalam Pengelolaan SDA

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi lahan kritis atau tanah kritis, adalah : fungsi hidrologis, sosial ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi

III. METODOLOGI 3.1 Waktu Penelitian 3.2 Lokasi Penelitian

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

6. PERSIAPAN KERJA. 6.1 Penyiapan / Penentuan Tim Penilai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

III. BAHAN DAN METODE

LOGO Potens i Guna Lahan

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

Gambar 1. Peta DAS penelitian

BAGIAN 1-3. Dinamika Tutupan Lahan Kabupaten Bungo, Jambi. Andree Ekadinata dan Grégoire Vincent

LANDSCAPE STRUCTURES: EDGES AND BOUNDARIES

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUKU INDIKASI KAWASAN HUTAN & LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI TAHUN 2003

LANDSCAPE STRUCTURES: EDGES AND BOUNDARIES

PENDAHULUAN Latar Belakang

(CoLUPSIA) Usulan revisi peta RTRW / Kawasan Hutan dan Perairan Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram. Yves Laumonier, Danan P.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

III. BAHAN DAN METODE

Pengertian Sistem Informasi Geografis

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. BAHAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan suatu proses produksi untuk menghasilkan barang

2.8 Kerangka Pemikiran Penelitian Hipotesis.. 28

Gambar 7. Lokasi Penelitian

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Pemanfaatan Citra Landsat Untuk Klasifikasi Tutupan Lahan Lanskap Perkotaan Kota Palu

III. BAHAN DAN METODE

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb.

Sistem Infornasi Geografis, atau dalam bahasa Inggeris lebih dikenal dengan Geographic Information System, adalah suatu sistem berbasis komputer yang

TINJAUAN PUSTAKA. lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil

1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. METODOLOGI. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2013 TENTANG TATA CARA PENETAPAN BATAS DAERAH ALIRAN SUNGAI

KAJIAN BIOFISIK LAHAN HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN ACEH TIMUR ISWAHYUDI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 296, 2012

SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA LAHAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL

KRITERIA DAN STANDAR IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN PADA HUTAN PRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN. harus segera diselesaikan. Berdasarkan data Ditjen BPDAS PS pada tahun 2011,

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) C78

Mendeteksi Kebakaran Hutan Di Indonesia dari Format Data Raster

BAB II METODE PENELITIAN

Dana Reboisasi: Pengertian dan pelaksanaannya

III. BAHAN DAN METODE. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

III METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Gambar 13. Citra ALOS AVNIR

Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Statistik Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XII Tanjungpinang Tahun Halaman 34 VI. PERPETAAN HUTAN

Modeling dan Analisa Data Spasial. Usulan Revisi Peta Status Lahan untuk Kapuas Hulu

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi

TINJAUAN PUSTAKA. Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o o LU. (perhitungan luas menggunakan perangkat GIS).

BALAI BESAR LITBANG SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2012

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman, pertanian, kehutanan, perkebunan, penggembalaan, dan

METODE PENELITIAN. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE (UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI PULAU SAMOSIR

KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 3 PENGOLAHAN DATA

III. BAHAN DAN METODE

Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG)

BAB I. PENDAHULUAN. kegiatan pertanian, pemukiman, penggembalaan serta berbagai usaha lainnya

Sistem Informasi Geografis Untuk pengelolaan sumberdaya alam. Disusun oleh: Atie Puntodewo Sonya Dewi Jusupta Tarigan

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

Pemanfaatan Citra landsat 8 dan SIG untuk Pemetaan Kawasan Resapan Air (Lereng Barat Gunung Lawu)

ANALISIS EVALUASI FUNGSI KAWASAN DENGAN KONDISI LAHAN EXISTING DAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DI KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA. Nur Andy Baharudin

III. METODOLOGI 3.1 Ruang Lingkup dan Batasan Kajian

Pemrosesan Data DEM. TKD416 Model Permukaan Digital. Andri Suprayogi 2009

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Gregorius Anung Hanindito 1 Eko Sediyono 2 Adi Setiawan 3. Abstrak

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Evaluasi Lahan. proses perencanaan penggunaan lahan (land use planning). Evaluasi lahan

RINGKASAN PROGRAM PENELITIAN HIBAH BERSAING TAHUN ANGGARAN TAHUN 2013

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.63/Menhut-II/2011

BAHAN DAN METODE. Tabel 4 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Keputusan Menteri Kehutanan No. 31 Tahun 2001 Tentang : Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

Kerangka Pikir Landscape-Lifescape Analysis Untuk Program CBNRM-MCA Indonesia. Eko Budi Wiyono

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (Mei, 2013) ISSN:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SIDANG TUGAS AKHIR IDENTIFIKASI KERUSAKAN HUTAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MENGGUNAKAN DATA CITRA LANDSAT 7 DAN LANDSAT

Transkripsi:

Dr KASWANTO M.K. PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN (ARL 521) DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN - INSTITUT PERTANIAN BOGOR Senin, 30 Mei 2016 MG XV METODE DAN TOOLS DALAM PENGELOLAAN LANSKAP 1. Principles and Methods in Landscape Ecology Almo Farina 2. Sistem Informasi Geografis untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam Atie Puntodewo, Sonya Dewi, Jusupta Tarigan (CIFOR) APLIKASI GIS DALAM PENGELOLAAN SDA 1. Prioritas Area Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) 2. Estimasi Potensi Rotan di DAS Kedang Pahu Prioritas Area Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) 1 Formulasi Permasalahan Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) sangat penting untuk memulihkan kembali fungsi lahan kritis. Lahan kritis adalah lahan yang telah mengalami kerusakan sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas toleransi. Sasaran RHL adalah lahan-lahan dengan fungsi yang ada kaitannya dengan kegiatan rehabilitasi dan penghijauan, yaitu fungsi kawasan hutan lindung, fungsi kawasan hutan lindung di luar kawasan hutan dan fungsi kawasan budidaya untuk usaha pertanian. 2 Konsep Dasar 1. RHL adalah segala upaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsi sumberdaya hutan dan lahan. 2. RHL diselenggarakan pada semua kawasan hutan dan lahan yang kritis dan tidak produktif. 3. RHL dilaksanakan berdasarkan kondisi spesifik biofisik dan potensi masyarakat setempat. 4. RHL dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dalam rangka pengembangan kapasitas masyarakat. 1

Pemrosesan Data Dasar 3 Metode 1 Identifikasi Data Dasar 2 Pemrosesan Data Dasar 3 Pemodelan Data 4 Analisa Hasil dan Rekomendasi Identifikasi Data Dasar 1. DEM (Digital Elevation Model) dari peta kontur yang diambil dari Peta Rupabumi Indonesia, skala 1:50.000 produksi Bakosurtanal. DEM adalah suatu citra yang secara akurat memetakan ketinggian dari permukaan bumi. DEM ini dibuat dari peta kontur, peta aliran sungai dan peta titik tinggi dengan resolusi 30 meter. 2. Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan, diperoleh dari Departemen Kehutanan. 3. Peta Rencana Tata Ruang dan Wilayah Propinsi, diperoleh dari Bappeda Tk I. 4. Peta Penutupan Lahan 1996 hasil klasifikasi citra Landsat TM. 5. Peta Kebakaran Hutan 1997/1998 produksi GTZ/IFFM. 6. Peta Kesesuaian Lahan 1:250.000 produksi RePPProT. 1. KELAS KELERENGAN dibuat dari data dasar DEM dengan cara membuat peta lereng, kemudian diklasifikasikan (1:0-8%, 3:8-15%, 5:15-25%, 7:25-40%, 10:>40%). 2. KELAS FUNGSI dibuat dari peta TGHK (1:perairan, 2:area penggunaan lain, 4:hutan produksi yang bisa konversi, 6:hutan produksi, 6:hutan produksi terbatas, 10:hutan lindung, hutan suaka alam dan wisata). 3. KELAS PERUNTUKKAN dibuat dari peta RTRWP (1:kawasan lindung dan perairan, 7:kawasan budi daya kehutanan, 10:kawasan budi daya nonkehutanan). 4. KELAS KERUSAKAN dibuat dari peta Kebakaran hutan (1:no data, 5:tingkat kerusakan rendah, 7: tingkat kerusakan sedang, 10: tingkat kerusakan tinggi). 5. KELAS TUTUPAN VEGETASI dibuat dari peta penutupan lahan (1:hutan, 2:karet, 3:belukar tua, 8:belukar muda dan semak, 10:alang-alang dan daerah terbuka). 6. KELAS EROSI dibuat dari peta enis tanah hasil analisis kesesuaian lahan (1:gambut, 3:alluvium, 5:balsa tuff, 7:limestone, 10:sandstone). Pemodelan Data 15 5 5 10 50 15 2

4 Analisa dan Rekomendasi Mohon dikritisi! 1. No Data harus segera diatasi 2. Kalkulasi hingga % dari LuasArea Kecamatan Catatan: Untuk data yang masih berbentuk vektor, kita bisa mengubahnya menjadi raster di dalam ModelBuilder, sebelum dioperasikan. Hasil yang diperoleh sangat tergantung kepada asumsi yang dipakai; semakin dekat asumsi yang dipakai dengan kenyataan, semakin akurat estimasi yang dihasilkan. Keterbatasan data juga mempengaruhi hasil estimasi, contoh: citra yang tertutup awan dan ketiadaan peta kontur untuk sebagian area menjadi faktor penghambat dalam mendapatkan estimasi dari seluruh area. Dalam menginterpretasi hasil estimasi untuk perencanaan, kita harus mempertimbangkan banyak faktor lain seperti kebijakan, masyarakat lokal, perusahaan yang terkait, ketidaktersediaan data, dsb. Estimasi Potensi Rotan di DAS Kedang Pahu See the PDF! A B X Y 3

J K 5-1. Aerial view of existing situation. 5-2. Aerial view after conventional development. J K L M CONVENTIONAL 5-3. Aerial view after creative development. CREATIVE 4

6-1. Aerial view of existing situation. 6-2. Aerial view after conventional development. 6-3. Aerial view after creative development. L M S T 7-1. Aerial view of existing situation. 5

5/30/2016 S T 7-2. Aerial view after conventional development. 7-3. Aerial view after creative development. Contact Address: kaswanto@ipb.ac.id www.kaswanto.staff.ipb.ac.id FB Regan Leonardus Kaswanto 6