BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KONSEP DASAR. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang

BAB II TINJAUAN TEORI. (DepKes, 2000 dalam Direja, 2011). Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB II KONSEP DASAR. tanda-tanda positif penyakit tersebut, misalnya waham, halusinasi, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku

BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB II TINJAUAN TEORI. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif

BAB II TINJAUAN TEORI. menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI. maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri).

BAB II TINJAUAN KONSEP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Interaksi Sosial

BAB I PENDAHULUAN. Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasakan sebagai ancaman (Nurjannah dkk, 2004). keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, kedalam

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

BAB II KONSEP DASAR. memelihara kesehatan mereka karena kondisi fisik atau keadan emosi klien

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun baik stimulus suara,

BAB II TUNJAUAN TEORI. orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993)

BAB II KONSEP TEORI. Perubahan sensori persepsi, halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu

Koping individu tidak efektif

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI

BAB II TINJAUAN TEORI

KONSEP DIRI OIeh: Purwanta, S.Kp., M.Kes

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang merupakan

BAB III RESUME KEPERAWATAN. Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 3 Desember Paranoid, No Register

BAB II KONSEP DASAR. Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang membuat

Konsep diri, KDK, Sal

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang

PROSES TERJADINYA MASALAH

TINJAUAN TEORI BAB II. A. Pengertian. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO BUNUH DIRI DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. S DENGAN GANGGUAN MENARIK DIRI DI RUANG ABIMANYU RSJD SURAKARTA

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk

BAB I PENDAHULUAN. dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun. komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus

BAB II TINJAUAN TEORI. sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun, baik stimulus suara, bayangan, bau-bauan,

BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR TENTANG HARGA DIRI RENDAH

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).

BAB II TINJAUAN TEORI. kecemasan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.

BAB II KONSEP DASAR. langsung (Schult & Videbeck, 1998) langsung diekspresikan (Townsend, 1998).

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan jiwa seseorang. yang berarti akan meningkatkan jumlah pasien gangguan jiwa.

LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ISOLASI SOSIAL

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI. (dalam Setiadi, 2008).Menurut Friedman (2010) keluarga adalah. yang mana antara yang satu dengan yang lain

BAB I PENDAHULUAN. dapat meningkatkan jumlah penderita gangguan jiwa (Nurdwiyanti,2008),

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI. Adapun definisi lain yang terkait dengan halusinasi adalah hilangnya

BAB II KONSEP DASAR. Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau

BAB I PENDAHULUAN. dan kestabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan. pekerjaan, & lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008).

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN WAHAM DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ANXIETAS DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

2.1.2Faktor Penyebab Harga Diri Rendah 1. Faktor Predisposisi a). Perkembangan individu yang meliputi : 1). Adanya penolakan dari orang tua.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

BAB I PENDAHULUAN. keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. ANA (American nurses

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH

Kepekaan Reaksi berduka Supresi emosi Penundaan Putus asa

BAB Ι PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari sejarah

BAB II KONSEP DASAR PERILAKU KEKERASAN. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon

BAB II KONSEP DASAR. rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL KEPUTUSASAAN DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH ( HOME VISIT) TENTANG GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI PENDENGARAN DENGAN KELUARGA Ny.

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. tersebut menjadi faktor stressor bagi anak baik terhadap anak maupun orang tua

BAB II TINJAUAN TEORI. Amarah merupakan suatu emosi yang menentang dari sifat mudah tersinggung

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan sehat atau sakit mental dapat dinilai dari keefektifan fungsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TUNJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. stimulus yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun, baik stimulus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Walgito (2001, dalam Sunaryo, 2004).

ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN BUDI ANNA KELIAT

KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI

BAB II TINJAUAN KASUS

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN GANGGUAN PERILAKU KEKERASAN DI RUANG SHINTA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA


BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Perubahan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang menjadi pintu layanan terdepan dalam. hubungan dengan masyarakat adalah di rumah sakit.

BAB II KONSEP DASAR. serta mengevaluasinya secara akurat (Nasution, 2003). dasarnya mungkin organic, fungsional, psikotik ataupun histerik.

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan meningkatnya penderita gangguan jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive),

BAB II KONSEP DASAR. membahayakan diri sendiri mauupun lingkungan (Fitria, 2009).

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gangguan Harga Diri Rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak langsung di ekspresikan (Townsend, 1998). Gangguan Harga Diri Rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri, dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, (Keliat, 2006). Gangguan Harga Diri Rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keingginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998 dikutip Yosep, I., 2009) Jadi dapat disimpulkan bahwa Gangguan Harga Diri Rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tidak langsung. B. Rentang Respon konsep Diri Respon individu terhadap konsep diri berfluktuasi seanjang rentang respon aktualisasi diri yang paling adaptif sampai status depersonalisasi yang paling

mal adaptif. Kerancuan identitas merupakan kegagalan individu untul mengitegrasikan berbagai identifikasi dimasa kanak - kanak kedalam kepribadian pada masa dewasa yang harmonis. Depersonalisasi merupakan suatu keadaan yang tidak realistis dan merasa asing terhadap diri sendiri. Individu mengalami kesulitan membedakan diri sendiri dan orang lain, ia merasa asing dan tidak nyata. Hal ini berhubungan dengan ansietas individu pada tingkat panik dan kegagalan pada uji realita. (Keliat, 2006) Gambar II. 1 Rentang Respon Repon adaptif Respon maladaptif Aktualisasi Diri Konsep Diri Positif Harga Diri Rendah Kerancuan Identitas Depersonalisasi (Keliat, 2006) C. Etiologi 1. Faktor Predisposisi Faktor penunjang terjadi perubahan konsep diri dapat dibagi menjadi tiga faktor (Stuard, G. W. 2007), yaitu : a. Faktor penunjang harga diri rendah 1) Penilaian orang tua. 2) Harapan Orang Tua yang tidak realistis. 3) Kegagalan yang berulang kali. 4) Kurang mempunyai tanggung jawab personal. 5) Ketergantungan kepada orang lain.

b. Faktor mempengaruhi penampilan peran 1) Streotropik peran seks. 2) Harapan peran kultural. c. Faktor identitas personal 1) Ketidakpercayaan orangtua. 2) Tekanan dari kelompok sebaya. 3) Perubahan dalam struktur sosial. 2. Faktor Presipitasi : a. Sumber internal dan eksternal 1) Trauma : Menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupannya. 2) Frustasi : Ketegangan peran yang behubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami. b. Transisi peran 1) Transisi peran perkembangan : perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan dalam kehidupan individu, keluarga dan norma-norma budaya dan tekanan untuk penyesuaian diri. 2) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah / berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian. 3) Transisi peran sehat sakit sebagai peran akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit.

D. Psikopatologi Menurut Stuart dan Laria (2001). Model stres adaptasi Stuart berhubungan dengan konsep diri. Gambar II. 2 Psikopatologi Faktor Predisposis Harga diri Peran Identitas Stressor presipitas Trauma Stressor penilaian Kekuatan diri Ketergantungan Peran Jangka pendek Mekanisme Koping Jangka panjang Orientasi diri Konstruktif (Stuart dan Laria 2001) Destruktif Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang yaitu Faktor predisposisi yang merupakan faktor pendukung harga diri rendah meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. Faktor yang mempengaruhi peran adalah peran gender, tuuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial. Sedangkan faktor presipitasi munculnya harga diri rendah meliputi trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau

menyaksika kejadian yang megancam kehidupan dan ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman. Klien semakin tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan. Semakin klien menjauhi kenyataan semakin kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. E. Tanda Dan Gejala Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah : 1. Perasaan negatif terhadap diri sendiri. 2. Merasa tidak berguna, tidak berharga dan tidak mampu. 3. Menarik diri dari kehidupan sosial. 4. Krisis terhadap diri sendiri dan orang lain. 5. Mudah tesinggung. 6. Penolakan terhadap diri sendiri. 7. Menarik diri sendiri.

F. Pohon Masalah Gambar II. 3 Pohon Masalah Isolasi Sosial. Akibat Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Masalah Utama Kopling Mekanisme Tidak Efektif (Keliat, 2006) Penyebab G. Masalah keperawatan 1. Isolasi Sosial. 2. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah. 3. Koping Mekanisme Tidak Efektif H. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah 2. Isolasi Sosial I. Fokus intervensi 1. Gangguna konsep diri : Harga diri rendah (Keliat, 2006) Tujuan Umum : Pasien dapat meningkatkan harga diri. TUK I : BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya). a. Klien mau membalas salam b. Klien mau berjabat tangan

c. Klien mau menyebutkan nama d. Klien mau tersenyum e. Klien mau mengetahui nama perawat a. Sapa klien dengan ramah, baik verbal atau non verbal. b. Perkenalkan diri dengan sopan. c. Tanyakan nama lengkap dan nama yang disukai. TUK II : Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Klien mengingat dan mengungkapkan kemampuan positif yang dimiliki klien kepada perawat Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Klien. TUK III : Klien dapat menilai kemampuan klien yang masih dapat dilkukan. Klien mampu mengungkapkan kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit Rencanakan bersama Klien aktifitas yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.

TUK IV : Klien dapat memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan. Klien dapat memilih kegiatan yang masih dapat dilakukan selama di rumah sakit ( kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total) Diskusikan dengan Klien kegiatan yang dipilih klien. TUK V : Klien mau melakukan kegiatan yang sesuai kegiatan yang dipilih. a. Klien dapat mendemonstrasikan kegiatan yang telah dipilih b. Klien dapat mengevaluasi kemampuanya dalam melakukan kegiatan yang telah dipilih Melatih Klien kegiatan pertama. 2. Isolasi Sosial (Keliat, 2006) TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya. Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau

mengutarakan masalah yanag dihadapi. a. Menyapa klien dengan ramah. b. Memperkenalkan diri dengan sopan. c. Menanyakan nama lengkap dan nama pangilan yang di sukai. d. Menjelaskan tujuan pertemuan kepada klien. TUK II : Klien dapat mengenal penyebab Isolasi Sosial. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yanga berasal dari : diri sendiri, orang lain, lingkungan. a. Mengkaji pengetahuan klien tentang penyebab isolasi sosial. b. Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan penyebab isolasi sosial. c. Mendiskusikan bersama klien tentang prilaku isolasi sosial, tanda-tanda yang muncul serta penyebabnya. d. Memberikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

TUK III : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian jika tidak berhubungan dengan orang lain. a. Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain (misalnya : banyak teman, tidak sendiri, bisa diskusi, dll) b. Klien dapat menyebutkan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain (misalnya : sendiri, tidak memiliki teman, sepi, dll) a. Mengkaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain. b. Mendiskusikan bersama tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian jika tidak berhubungan dengan orang lain. c. Memberi pujian positif terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasanya. TUK IV : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Klien dapat mendemonstrasikan interaksi sosial secara bertahap antara : klien - perawat, klien - perawat - perawat lain, klien perawat perawat lain

- klien lain, klien keluarga / kelompok / masyarakat a. Mengkaji kemampuan klien dalam membina hubungan dengan orang lain. b. Memberi pujian positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai. c. Membantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain. TUK V : Klien dapat mengungkapkan perasaanya setelah berhasil berhubungan dengan orang lain. Klien dapat mengungkapkan peraaannya setelah berinteraksi dengan orang lain untuk : diri sendiri, orang lain a. Mendorang klien untuk mengungkapkan perasannya bila berhubungan dengan orang lain. b. Mendiskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain. c. Memberi pujian positif atas kemampuan klien mengungkapkan, manfaat berhubungan dengan orang lain.

TUK VI : Klien dapat memberdayakan sistem pendukung yang ada atau keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. Keluarga dapat menjelaskan perasaannya, menjelaskan cara merawat klien menarik diri, mendemonstrasikan cara merawat klien menarik diri, berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri. a. Mendiskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab, akibat, yang terjadi bila prilaku menarik diri tidak di tangani. b. Menganjurkan keluarga secara bergantian menjenguk klien, minimal 1x seminggu. c. Memberi pujian atas hal-hal yang telah di capai oleh keluarga.