BULAN. Oleh: J DOKTER

dokumen-dokumen yang mirip
BESAR RISIKO ANTARA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH KURANG BULAN DENGAN CUKUP BULAN TERHADAP IKTERUS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEGAL

PERBEDAAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM ANTARA BAYI PREMATUR DAN BAYI CUKUP BULAN PADA BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. bulan, 80% anak meninggal terjadi saat umur 1-11 bulan. 1 Menurut profil

PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN RISIKO ASFIKSIA NEONATORUM ANTARA BAYI KURANG BULAN DENGAN BAYI CUKUP BULAN PADA BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)

HUBUNGAN BERAT LAHIR DENGAN KEJADIAN IKTERIK PADA NEONATUS TAHUN 2015 DI RSUD. DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN. yang sering dihadapi tenaga kesehatan terjadi pada sekitar 25-50% bayi

BAB I PENDAHULUAN. Hearing loss atau kurang pendengaran didefinisikan sebagai kurangnya

BAB I PENDAHULUAN. Bayi menurut WHO ( World Health Organization) (2015) pada negara

BAB I PENDAHULUAN. paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi. Kematian

ABSTRAK INSIDENSI DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO IKTERUS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2005

HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HALMAHERA, SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Ikterus merupakan perubahan warna kuning pada kulit, jaringan mukosa,

BAB 1 PENDAHULUAN. penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi sampai pada batas angka

ABSTRAK. Audylia Hartono Pembimbing I : Rimonta F. Gunanegara, dr., Sp.OG. Pembimbing II : July Ivone, dr., MKK., MPd.Ked.

HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR DAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM

BAB I PENDAHULUAN. pelatihan medik maupun paramedik serta sebagai pelayanan peningkatan

HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN IKTERUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. dengan jumlah kelahiran hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi AKB

BAB I PENDAHULUAN. kematian ibu dan angka kematian perinatal. Menurut World Health. melahirkan dan nifas masih merupakan masalah besar yang terjadi di

PERBEDAAN LUARAN JANIN PADA PERSALINAN PRETERM USIA KEHAMILAN MINGGU DENGAN DAN TANPA KETUBAN PECAH DINI JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SEPSIS PADA NEONATORUM DI RUMAH SAKIT MOEHAMMAD HOESIN PALEMBANG. Enderia Sari 1), Mardalena 2)

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN ABSTRAK

Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir Di RSUP H.Adam Malik Medan Dari Tahun

ABSTRAK. HUBUNGAN UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS (LLA) DAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) IBU KEHAMILAN ATERM DENGAN DISMATURITAS BAYI LAHIR DI SEBUAH RS DI MEDAN

HUBUNGAN PENAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT DR. NOESMIR BATURAJA TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Hiperbilirubinemia merupakan peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI IBU HAMIL DAN BBLR DI RSUD SURAKARTA KARYA TULIS ILMIAH

Relationships between Parity and Age of Pregnant Women with Infant Birth Weight in Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung in 2012

BAB III METODE PENELITIAN. sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Variabel bebas yang. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Dr Moewardi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehamilan (HDK), infeksi, partus lama/macet, dan abortus. 1 Infeksi

HUBUNGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEMATIAN NEONATAL DI RSUD. DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG TAHUN 2013 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Amerika Serikat, dari 4 juta neonatus yang lahir setiap

GAMBARAN BAYI BARU LAHIR DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUP H.ADAM MALIK PADA TAHUN Oleh : PRIYA DARISHINI GUNASEGARAN

HUBUNGAN KADAR BILIRUBIN INDIREK DENGAN SEPSIS PADA BAYI KURANG BULAN DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan adalah observasional analitik komparatif kategorik

HUBUNGAN ANTARA INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA INDUKSI

Riset Informasi Kesehatan, Vol. 6 No.1 Juni 2017 Hubungan sepsis neonatorum, BBLR dan asfiksia dengan kejadian ikterus pada bayi baru lahir

HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU HAMIL DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH

HUBUNGAN USIA GESTASI DAN JENIS PERSALINAN DENGAN KADAR BILIRUBINEMIA PADA BAYI IKTERUS DI RSUP NTB. Syajaratuddur Faiqah

PERBANDINGAN LUARAN BAYI (BERAT BADAN DAN APGAR SCORE) PADA PREEKLAMSIA BERAT DAN PREEKLAMSIA BERAT DENGAN KOMPLIKASI HELLP SYNDROME SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. lahir adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Angka tersebut merupakan indikator

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate merupakan. indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. konsepsi, fertilisasi, nidasi, dan implantasi. Selama masa kehamilan, gizi ibu dan

BAB I PENDAHULUAN. Organization (WHO), salah satunya diukur dari besarnya angka kematian

Hubungan antara Apgar Score Dengan Ikterus Neonatorum Fisiologis di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Tahun 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan suatu bentuk dari kebutuhan dasar manusia.

KARAKTERISTIK IBU KAITANNYA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH

HUBUNGAN KEPATUHAN HAND HYGIENE TENAGA KESEHATAN DAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI HCU NEONATUS RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

UKDW. % dan kelahiran 23% (asfiksia) (WHO, 2013). oleh lembaga kesehatan dunia yaitu WHO serta Centers for Disease

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan masyarakat merupakan salah satu tujuan Rencana. Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN-N) tahun yang

BAB 1 PENDAHULUAN UKDW. masih tingginya angka kematian bayi. Hal ini sesuai dengan target Millenium

PHBS yang Buruk Meningkatkan Kejadian Diare. Bad Hygienic and Healthy Behavior Increasing Occurrence of Diarrhea

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

HUBUNGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RUMAH SAKIT UMUM DEWI SARTIKA PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2016

Elli Hidayati, 2 Martsa Rahmaswari. Abstrak

BAB I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Penyebab Kematian Neonatal di Indonesia (Kemenkes RI, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. waktu dan tempat, salah satunya adalah kematian janin sewaktu masih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. pada ibu dan janin sehingga menimbulkan kecemasan semua orang termasuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikterus neonatorum merupakan masalah yang sering dijumpai pada perawatan bayi baru lahir normal, khususnya di

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan adalah suatu proses fisiologi yang terjadi hampir pada setiap

PENGARUH PERAWATAN BAYI LEKAT TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ABSTRAK. Yuliana Elisabeth Eluama, 2015 Pembimbing I : dr. Dani, M.Kes Pembimbing II: dr. Jeanny E. Ladi, M.Kes., PA

BAB IV METODE PENELITIAN. obstetri dan ginekologi. analisis data dilakukan sejak bulan Maret Juni menggunakan pendekatan retrospektif.

Frekuensi Transfusi pada Neonatus Berat Badan Lahir Rendah di Unit Perawatan Neonatal RSUP Haji Adam Malik periode Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bilirubin merupakan produk samping pemecahan protein hemoglobin di

BAB I PENDAHULUAN. angka mortalitas tertinggi di negara-negara yang sedang berkembang.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga ABSTRAK. Kata kunci: BBLR, kualitas, kuantitas, antenatal care. viii

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki banyak risiko

PROPORSI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA BAYI KEMBAR YANG LAHIR DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN Oleh: ANDRIO GULTOM

HEARING DISORDERS ON NEWBORN WITH PREMATURE RISK FACTORS AT GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN FAKTOR

Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Tingkat Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered, Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2014

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSHARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. akibat ketidak matangan sistem organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, badan kurang 2500 gram (Surasmi dkk, 2003).

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. saat menghadapi berbagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya seperti kesakitan. dan kematian akibat berbagai masalah kesehatan.

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BBLR DI RSUD. PROF. DR. HI. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO TAHUN Tri Rahyani Turede NIM

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN

ABSTRAK DEFISIENSI G6PD SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERHADAP HIPERBILIRUBINEMIA PADA NOENATUS BERUMUR DUA HARI DI RSAB HARAPAN KITA, JAKARTA BARAT, TAHUN

HUBUNGAN ANTARA SEPSIS NEONATORUM DENGAN TERJADINYA IKTERUS NEONATORUM DI RSUD KARANGANYAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI Ny. S DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH ( BBLR ) DI BANGSAL KBRT RSUD Dr.MOEWARDI SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANGKRAH KOTA SURAKARTA

ABSTRAK HUBUNGAN FAKTOR RISIKO IBU DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011

HUBUNGAN KEHAMILAN POST TERM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL TAHUN 2013 NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 359 per

HUBUNGAN ANTARA STATUS ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH LAPORAN AKHIR HASIL KARYA TULIS ILMIAH

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Oleh : Januariska Dwi Yanottama Anggitasari J

Transkripsi:

BESAR RISIKO ANTARA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH KURANG BULAN DENGAN CUKUP BULAN TERHADAP IKTERUS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEGAL Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Oleh: WELLY WINDARIZA J500130011 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKARTA 2017

i

ii

iii

BESAR RISIKO ANTARA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH KURANG BULAN DENGAN CUKUP BULAN TERHADAP IKTERUS NEONATORUM DI RS PKU MUHAMMADIYAH TEGAL ABSTRAK Angka kematian bayi sebagian besar disebabkan oleh berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan atau pada bayi cukup bulan. Bayi BBLR yang kurang bulan maupun cukup bulan merupakan faktor risiko tersering terjadinya ikterus neonatorum. Ikterus neonatorum (jaundice) terjadi apabila terdapat peningkatan kadar bilirubin dalam darah, sehingga kulit dan sklera bayi tampak kekuningan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis besar risiko antara BBLR yang cukup bulan dengan yang kurang bulan terhadap ikterus neonatorum di RS PKU muhammadiyah Tegal. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan teknik simple random sampling, dengan jumlah sampel 64 bayi berat lahir rendah tahun 2016 di RS PKU Muhammadiyah Tegal. Data diperoleh dari rekam medis di bagian rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square. Berdasarkan hasil uji Chi-square untuk mengetahui perbedaan kejadian ikterus neonatorum antara bayi prematur dan bayi cukup bulan pada bayi dengan berat lahir rendah didapatkan p value =0,016 (p<0,005). Kejadian ikterus pada bayi kurang bulan sebanyak 45,3% lebih banyak dibandingkan dengan bayi cukup bulan sebanyak 32,8%. Terdapat perbedaan yang bermakna kejadian ikterus neonatorum antara bayi prematur lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan pada bayi dengan berat lahir rendah di RS PKU Muhammadiyah Tegal. Kata kunci: Ikterus Neonatorum, Bayi Kurang Bulan, Bayi Cukup Bulan, bayi BBLR ABSTRACT Infant mortality is largely caused by low birth weight babies (LBW). BBLR infants with birth weight less than 2500 grams. BBLR can occur in babies preterm infants or quite a month. BBLR babies of less month month enough is a risk factor for the onset of jaundice tersering neonatorum. Jaundice (jaundice) neonatorum occurs when there are increased levels of bilirubin in the blood, so that the skin and baby looks yellowish sklera. Objective to know and analyze the risk of LBW among big enough months with less months against jaundice neonatorum in PKU muhammadiyah Tegal. Methods the study using the method of observational analytic with cross sectional approach, using the technique of simple random sampling, with the number of samples of 64 low-birth weight babies 2016 in PKU Muhammadiyah Tegal. Data obtained from the medical record at the medical record, and then analyzed using Chi square test. Result based on Chi square test results to find out the difference in the incidence of jaundice neonatorum between premature babies and babies enough months in infants with low birth weight is obtained p value = 0.016 (p < 0.005). The incidence of jaundice in preterm babies as much as 45.3% more compared to baby enough months as much as 32.8%. 1

there is a meaningful difference in the incidence of jaundice neonatorum between premature babies more than enough baby month on low birth weight babies with PKU Muhammadiyah in Tegal. Key words: Jaundice Neonatorum, Preterm Babies, babies, babies Month Enough LBW 1. PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa angka kematian bayi sebagian besardisebabkan oleh asfiksia (20-60%), infeksi (25-30%), bayi dengan berat lahir rendah(25-30%), dan trauma persalinan (5-10%) (Depkes RI, 2008). Berdasarkan WHO (2007) prevalensi bayi berat badan lahir rendah diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% - 3,8% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosial ekonomi rendah. BBLR masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Secara nasional, persentase bayi dengan BBLR adalah 6,37 persen di mana akan menjadi penyumbang terbesar persentase Balita dengan BBLR, bahkan kematian bayi khususnya pada masa perintal, gangguan tumbuh kembang fisik dan mental, oleh sebab itu perlu penanganan yang lebih serius pada kelompok bayi (Pramono, 2014) Provinsi dengan Bayi BBLR cukup tinggi yaitu Gorontalo, DIY dan Maluku. Provinsi DIY patut menjadi perhatian karena besarnya penurunan data BBLR di tahun 2013 (5,5%) menjadi semu jika meninjau persentase BBLR pada bayi, yang merupakan provinsi tertinggi ke dua setelah Gorontalo (Riskesdas, 2013). Data dari Riskesdas presentase bayi berat lahir rendah di provinsi jawa tengah 6,68% dengan nilai 45 bayi, sedangkan yang tidak BBLR sebanyak 93,32% dengan nilai 629 bayi jadi total nilai pada provinsi Jawa Tengah adalah sebanyak 674 (Pramono, 2014). Presentase bayi berat lahir rendah di Jawa Tengah pada tahun 2014 sebanyak (3,9%), meningkat bila dibandingkan tahun 2013 (6,68%). 2

Presentase BBLR tertinggi adalah dikabupaten Grobogan (7,2%) dan yang terendah dikabupaten Pati (0,5%). BBLR pada bayi dipengaruhi oleh faktor jumlah anak yang banyak, terjadinya komplikasi selama kehamilan, status ekonomi keluarga yang rendah, dan jenis kelamin bayi adalah perempuan. Dari keempat variabel tersebut yang paling memberikan dampak adalah adanya komplikasi selama kehamilan (Pramono, 2014) Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tutiek Herlina, dkk di RSUD Dr. Harjono Ponorogo pada tahun 2012 tentang Hubungan Antara Berat Bayi Lahir dengan kadar Bilirubin Bayi Baru Lahir, menyatakan bahwa dari 88 berat bayi lahir tidak normal, 72 bayi (81,8%) mempunyai kadar bilirubin tidak normal dan 16 bayi (18,2%) mempunyai kadar bilirubin normal, sedangkan dari 47 berat bayi normal, 40 bayi (85,1%) mempunyai kadar bilirubin normal, dan 7 bayi (14,9%) mempunyai kadar bilirubin tidak normal sehingga dapat disimpulkan bahwa berat bayi lahir berhubungan dengan kadar bilirubin (Mutianingsih, 2014). Menurut Zabeen B (2010) menyatakan bahwa BBLR dan prematuritas merupakan faktor risiko tersering terjadinya ikterus neonatorum di wilayah Asia tenggara. Berdasarkan Sukadi (2008), menjelaskan bahwa Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang di tandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih. Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dl. Seringkali prematuritas berhubungan dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi pada neonatus. Aktifitas Uridine Difosfat Glukoronil Transferase Hepatik jelas menurun pada bayi kurang bulan, sehingga kadar bilirubin yang terkonjugasi menurun. Namun pada bayi cukup bulan dan bayi kurang bulan terjadi peningkatan hemolisis karena umur sel darah merah yang pendek pada neonatus (Martiza, 2010) dan pada bayi BBLR, pembentukan hepar belum sempurna (imaturitas hepar) sehingga menyebabkan konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk di hepar 3

tidak sempurna (Sukadi, 2008). Usia kehamilan merupakan salah satu faktor terjadinya bayi lahir dengan berat bayi lahir rendah, wanita dengan persalinan preterm umur kehamilan 34-36 minggu memiliki risiko bayi BBLR namun dengan persalinan cukup bulan juga memiliki risiko bayi BBLR (Leonardo,2011). Ikterus neonatorum dapat menimbulkan ensefalopati bilirubin indirek (kernikterus) yaitu manifestasi klinis yang timbul akibat efek toksis bilirubin pada system saraf pusat diganglia basalis dan beberapa nuclei batang otak. Saat ini angka kelahiran bayi di Indonesia diperkirakan mencapai 4,6 juta jiwa pertahun, dengan angka kematian bayi sebesar 48/1000 kelahiran hidup dengan ikterus neonatorum merupakan salah satu penyebabnya sebesar 6,6% (Depkes RI, 2002). Di Indonesia, didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan, diantaranya RSCM dengan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir tahun 2003 sebesar 58% untuk kadar bilirubin 5mg/dL dan 29,3% untuk kadar bilirubin 12 mg/dl pada minggu pertama kehidupan. Namun di RS Dr. Sardjito melaporkan terdapat sebanyak 85% bayi sehat cukup bulan mempunyai kadar bilirubin 5 mg/dl dan 23,8% kadar bilirubin 13 mg/dl, kemudian di RS Dr. Kariadi Semarang dengan prevalensi ikterus neonatorum sebesar 13,7% (Sastroasmoro, 2004). Berdasarkan latar belakang diatas, berapakah besarnya resiko bayi BBLR yang kurang bulan dengan yang cukup bulan terhadap ikterus neonatorum. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui besarnya resiko bayi BBLR yang kurang bulan dengan yang cukup bulan terhadap ikterus neonatorum. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PKU muhammadiyah Tegal pada November 2016. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan kriteria restriksi. Kriteria inklusi: Bayi dengan BBLR, pasien yang memiliki 4

rekam medis lengkap, bayi dengan BBLR di RS PKU Muhammadiyah Tegal pada tahun 2016. Kriteria Ekslusi: Bayi dengan kelainan kongenital, bayi dengan infeksi berat atau sepsis. Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan program SPSS 23.0 dengan perhitungan statistik data dengan Uji Chi-Square yang digunakan untuk mengetahui besarnya risiko antar kedua variabel. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Tegal pada November 2016. Karakteristik sampel pada penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut : Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Gestasi BBLR Gestasi Frekuensi Persen % Kurang bulan 32 50.0% Cukup bulan 32 50.0% Total 64 100 Sumber: Data Sekunder Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Ikterus Neonatorum Ikterus Neonatorum Frekuensi Persen (%) Ikterus 50 76,9% Tidak Ikterus 14 21,5% Total 64 100% Sumber: Data Sekunder Tabel 3. Analisis Data Statistik Uji Chi-Square besar risiko antara bayi BBLR kurang bulan dengan cukup bulan terhadap ikterus neonatorum Variabel Ikterus Tidak Ikterus Total N % n % p Gestasi - Kurang Bulan 23 72,2% 13 42,9% 36 0,016 - Cukup bulan 8 25,8% 18 58,1% 28 Total 31 100% 31 100% 64 Sumber: Data Sekunder Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medis rumah sakit PKU Muhammadiyah Tegal dengan mengambil sampel bayi dengan berat lahir rendah. Pengambilan data dilakukan dengan cara menganalisis gestasi dan 5

keadaan ikterus dari bayi. Data yang diambil dijamin kerahasiaan data identitasnya.usia kehamilan merupakan salah satu faktor terjadinya bayi lahir dengan berat bayi lahir rendah, wanita dengan persalinan prematur memiliki risiko bayi BBLR namun persalinan cukup bulan juga memiliki risiko bayi BBLR (Leonardo, 2011). Berat bayi lahir rendah adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Menurut Zabeen(2010) menyatakan bahwa bayi yang mengalami BBLR dan faktor prematuritas merupakan faktor risiko tersering terjadinya ikterus neonatorum.berdasarkan sukadi (2012), menjelaskan bahwa ikterus neonatorum merupakan keadaan klinis pada bayi yang ditandai dengan perwarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin indirek yang berlebih. Hasil uji statistik dalam penelitian ini menunjukan adanya risiko yang bermakna antara bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan pada bayi dengan berat lahir rendah dengan kejadian ikterus neonatorum dengan nilai p-value = 0.016. Hal itu dapat diketahui dari hasil uji statistik chi-square. Pada tabel 4.3 menjelaskan mengenai prevalensi kejadian ikterus pada bayi BBLR menurut usia gestasi. Pada bayi kurang bulan lebih banyak mengalami ikterus sebanyak 29 bayi dibandingkan dengan bayi cukup bulan yang mengalami hanya 21 bayi. Menurut Anggraeni (2014) pada neonatus terjadi peningkatan hemolisis eritrosit karena umur eritrosit yang memendek kurang dari 120 hari, sehingga bilirubin indirek yang dihasilkan oleh pemecahan eritorsit akan meningkat yang kemudian akan di ubah oleh enzim Difosfat Glukoronil Transferase di hati. Menurut Onyearugha (2011) mengungkapkan bahwa pada bayi prematur memiliki hepar yang imatur sehingga fungsi hepar belum matur sehingga hanya sedikit bilirubin indirek yang di ubah menjadi bilirubin direk. Sehingga kadar bilirubin indirek meningkat yang dapat mengakibatkan pewarnaan ikterus pada kulit dan sclera,sehingga kejadian ikterus lebih banyak pada bayi prematur di bandingkan bayi cukup bulan. 6

Berdasarkan penelitian sebelumnya menurut Edhogotu et al(2014) menyatakan ada perbedaan yang bermakna antara bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan dengan kejadian ikterus neonoatorum dengan nilai p=0,016 Menurut Maulidya (2013) dengan meneliti 41 bayi yang mengalami yang mengalami ikterus, didapatkan bayi prematur yang mengalamai ikterus 22 bayi (53,9%) dan pada bayi cukup bulan sebanyak 19 bayi (46,1%) dengan p-value = 0,02. Selanjutnya dari penelitian Anggraeni (2013) yang meneliti 52 bayi yang mengalami ikterus dengan hasil 38 di temukan pada usia kehamilan prematur dan 14 pada usia cukup bulan. Menurut Etika (2006) mengungkapkan bahwa angka kejadian ikterus pada bayi cukup bulan sebesar 60% dan pada bayi prematur sebesar 80%. Penelitian yang dilakukan memiliki beberapa kekurangan, seperti terbatasnya jumlah sampel serta terbatasnya waktu yang di butuhkan dalam penelitian ini. Dengan demikian terdapat perbedaan yang bermakna kejadian ikterus antara bayi prematur dan cukup bulan pada bayi BBLR.Kejadian ikterus lebih banyak terjadi pada bayi prematur di bandingkan dengan bayi cukup bulan. 4. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usia kehamilan pada BBLR berhubungan dengan ikterus neonatorum dan kejadian BBLR antara bayi kurang bulan lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan pada ikterus neonatorum dengan nilai p = 0,016. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan penelitian yang lebih baik seperti case control, serta menggunakan sample yang lebih banyak sehingga penelitian dapat lebih valid. Bagi tenaga kesehatan agar dapat meningkatkan antenatal care dan edukasi mengenai pola hidup sehat yang baik bagi ibu hamil sehingga dapat menurunkan angka kejadian BBLR. Meningkatkan penatalaksanaan pada bayi-bayi yang mengalami ikterus neonatorum sehingga dapat mencegah kejadian ensefalopati bilirubin yang dapat menyebabkan kematian. 7

PERSANTUNAN Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada direktur utama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Tegal yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini sehingga dapat berjalan dengan lancar dan baik. Kepada Dr. Mohammad Wildan, Sp.A, Prof.DR.Dr.Bambang Subagyo, Sp.A.(K.) dan Dr. M. Shoim Dasuki, M.Kes, yang telah membimbing, memberikan saran dan kritik dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Anggraeni, R., 2007. Pengaruh Jarak Kehamilam Terhadap Kematian Perinatal di Kabupaten Agam. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Depkes RI. 2002. Profil Kesehatan indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.tersedia di http://www.depkes.go.id Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.tersedia di http://www.depkes.go.id Leonardo. 2011. Perbedaan Luaran Janin pada Persalinan Preterm Usia Kehamilan 34-36 Minggu dengan dan tanpa Ketuban Pecah Dini.Jurnal Kesehatan. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Martiza, L., Juffrie, M., Oswar, I H., Arief, S., Rosalina, I,. 2010. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI 2015. 263-284 Maulidya, R., Mustarim, Shalahudden, S. 2013. Gambaran Faktor Risiko Ikterus Neonatorum pada Neonatus di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2013.Jurnal Kesehatan. Jambi: Fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Universitas Jambi Mutianingsih, R., 2014. Hubungan Antara Bayi Berat Lahir Rendah Dengan Kejadian Ikterus, Hipoglikemi dan Infeksi Neonatorum. Tesis. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Oxorn,H., 2003. Patologi dan fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan essentika Medika Sastroasmoro S et al. 2004. Tatalaksana Ikterus Neonatorum. Jakarta: HTA Indonesia Sukadi, A.,2008 Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 147-69 WHO, 2012. Born Too Soon; The Global Action Report on Preterm Birth. 8

WHO,2007.LowBirth Weight newborns (Percentage).Tersedia di http://www.who.int/ 9