BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG. Tumbuhnya insidensi lesi yang terjadi pada tulang. rawan ditandai oleh peningkatan tajam dari individu

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan pencangkokan tulang. Tulang merupakan jaringan kedua terbanyak. tahun dilakukan diseluruh dunia (Greenwald, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Kemajuan di bidang kedokteran merupakan hal yang. tidak dapat dipungkiri pada saat ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

PS-S1 Jurusan Biologi, FMIPA, UNEJ (2017) JARINGAN TULANG SYUBBANUL WATHON, S.SI., M.SI.

Tulang Rawan. Struktur Dasar, Tipe dan Lokasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pencabutan gigi merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan di bidang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kerusakan jaringan periodontal yang meliputi gingiva, tulang alveolar, ligamen

Proses Penyembuhan Fraktur (Regenerasi Tulang)

I.! PENDAHULUAN. A.!Latar Belakang Masalah. Kasus kerusakan tulang pada bidang kedokteran gigi dapat disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tulang merupakan suatu jaringan ikat tubuh terkalsifikasi yang terdiri dari

TINJAUAN PUSTAKA Aplikasi Hidroksiapatit Berpori

PENDAHULUAN. Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Makroskopis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam Global Burden Disease Report, World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. sekitar delapan juta orang mengalami kejadian patah tulang dengan jenis patah

JARINGAN IKAT KHUSUS. Tulang Rawan dan Tulang

BAB I PENDAHULUAN. karies gigi (Wahyukundari, et al., 2009). Berdasarkan hasil riset dasar yang

INDIKTOR 14: Menjelaskan sifat, ciri-ciri, dan fungsi jaringan pada tumbuhan dan hewan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penghilangan gigi dari soketnya (Wray dkk, 2003). Pencabutan gigi dilakukan

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

Jaringan Hewan. Compiled by Hari Prasetyo

BAB I PENDAHULUAN. organik dan anorganik terutama garam-garam kalsium seperti kalsium fosfat dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh dokter gigi untuk menghilangkan gigi dari dalam soketnya dan menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tulang seperti halnya jaringan hidup lainnya pada tubuh manusia dapat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. prosedur yang kompleks dengan kemungkinan resiko terhadap pasien

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terjadi akibat kerusakan serat kolagen ligamentum periodontal dan diikuti

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang bermetabolisme secara aktif dan terintegrasi. Tulang merupakan material komposit,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. periodontitis. Dalam kondisi kronis, periodontitis memiliki gambaran klinis berupa

BAB I PENDAHULUAN. (penyakit pada tulang dan jaringan otot) yang tidak menular dan menjadi penyebab

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengambil kebijakan di bidang kesehatan. Beberapa dekade belakangan ini,

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN OSTEOPOROSIS

BAB VI PEMBAHASAN. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kadar NO serum awal penelitian dari

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengaruh variasi..., Agung Prasetyo, FT UI, 2010.

Laporan Pendahuluan METASTATIC BONE DISEASE PADA VERTEBRAE Annisa Rahmawati Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Mukosa rongga mulut merupakan lapisan epitel yang meliputi dan melindungi

TINJAUAN PUSTAKA Tulang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan pencabutan gigi adalah sebesar 1:6 bahkan di beberapa daerah lebih besar

Penuntun praktikum histologi cell and genetics

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Minat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut semakin

BAB I. PENDAHULUAN. berhentinya siklus menstruasi disebabkan oleh jumlah folikel yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Luka merupakan gangguan integritas jaringan yang menyebabkan kerusakan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 400x. Area pengamatan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa (Carranza & Newman,

BAB I PENDAHULUAN. aplikasi implan tulang merupakan pendekatan yang baik (Yildirim, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. kandungan bahan tertentu. Faktor intrinsik diantaranya adalah penurunan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. transplantasi. Lebih dari satu juta pasien dirawat karena masalah skeletal, bedah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jaringan tulang merupakan salah satu jaringan yang paling sering digunakan

ANALISIS DERAJAT KRISTALINITAS, UKURAN KRISTAL DAN BENTUK PARTIKEL MINERAL TULANG MANUSIA BERDASARKAN VARIASI UMUR DAN JENIS TULANG MELLY NURMAWATI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Fraktur merupakan salah satu kasus yang sering terjadi pada hewan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Poket infraboni dan poket suprabonimerupakan dua tipe poket periodontal yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. trauma dan tindakan bedah mulut dan maksilofasial. Tindakan bedah mulut dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mengalami penyembuhan luka (Fedi dkk., 2004). Proses penyembuhan luka meliputi beberapa fase yaitu fase inflamasi,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu.

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kulit merupakan barier penting tubuh terhadap lingkungan termasuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. yaitu : hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Setiap fase penyembuhan

BAB I PENDAHULUAN. biomaterial logam, keramik, polimer dan komposit. kekurangan. Polimer mempunyai kekuatan mekanik yang sangat rendah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dkk., 2006). Secara fisiologis, tubuh manusia akan merespons adanya perlukaan

Jaringan Hewan A. Jenis jaringan Hewan

Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.

Jaringan Rawan dan Tulang. Struktur Hewan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendalaman sulkus gingiva ini bisa terjadi oleh karena pergerakan margin gingiva

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Perawatan ortodontik berhubungan dengan pengaturan gigi geligi yang tidak teratur

BAB I PENDAHULUAN. jaringan, setelah transplantasi gigi. Meskipun ada kemungkinan bahwa prosedur

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap tahun permintaan untuk Drug Delivery System atau sistem

Oleh : Ikbal Gentar Alam

BAB I PENDAHULUAN. evaluasi laka lantas MABES Polri tercatat ada 61,616 kasus kecelakaan lalu lintas di

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilakukan jika menutupi gigi yang akan dicabut (Archer, 1975). Pencabutan gigi

FAKTOR IMUNOLOGI PATOGENESIS ENDOMETRIOSIS

Penyembuhan luka jaringan keras pascatrauma

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

KARYA TULIS ILMIAH PERBEDAAN PROFIL DEGRADASI PERANCAH KORAL BUATAN BERBAGAI KONSENTRASI PADA MEDIUM KULTUR SEL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. ini adalah dengan cara mengumpulkan massa tulang secara maksimal selama masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sebagai perawatan jaringan periodontal dengan tujuan untuk menghilangkan poket

SISTEM GERAK PADA MANUSIA. Drs. Refli., MSc

pergerakan gigi isiologis merupakan gerakan gigi secara alami yang terjadi selama dan setelah erupsi. gerakan gigi isiologis melipui:

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian. sebagai bahan dasar mini screw orthodontics terhadap reaksi jaringan dorsum

Sistem vaskuler darah. Sistem Sistem sirkulasi: sirkulasi: Sistem vaskuler darah. System vaskuler limfe System vaskuler limfe. Sistem vaskuler darah

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIOLOGI BAB XI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN HEWAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

MEKANISME ERUPSI DAN RESORPSI GIGI

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dikatakan sebagai mukosa mastikasi yang meliputi gingiva dan palatum keras.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN X O-1

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori 1. Pengertian Tulang Tulang merupakan jaringan ikat, terdiri dari sel, serat, dan substansi dasar yang berfungsi untuk penyokong dan pelindung kerangka. Tulang merupakan penyokong tubuh dan pelindung otot dan tendo untuk daya gerak. Sifat fisik tulang sangat kuat, tahan kompresi, sedikit elastis dan sekaligus merupakan materi yang relatif ringan. Tulang juga cukup responsif terhadap pengaruh metabolik, nutrisional, dan endokrin. Namun, dengan segala kekuatan dan kekerasannya, tulang merupakan materi hidup yang dinamis, secara tetap diperbaharui dan dikonstruksi ulang dalam seumur hidup (Fawcett, 2002). Tulang adalah suatu jaringan ikat vaskular terdiri atas sel-sel dan zat antar sel yang mengalami kalsifikasi, seperti tulang padat (tulang kompakta) dan seperti spons (tulang spongiosa). Tulang juga mempunyai banyak fungsi sebagai penyokong, pelindung, penyimpan mineral pada ujung-ujung persendian dimana tulang rawan sebagai pelapis yang khusus untuk mempermudah pergerakan (Gartner dan Hiatt, 2012). Jaringan tulang menyusun struktur berdaging, melindungi organorgan vital yang terdapat didalam tengkorak, rongga dada, dan juga 7

8 menampung sumsum tulang sebagai tempat sel-sel darah dibentuk. Tulang berfungsi sebagai cadangan kalsium, fosfat, dan ion lain yang dapat dilepaskan atau disimpan dengan cara terkendali untuk mempertahankan konsentrasi ion-ion di dalam cairan tubuh (Junqueira dkk., 1997). Tulang rahang dibagi menjadi dua, yaitu tulang alveolar dan tulang basal. Tulang alveolar mendukung gigi dan sebagai satu unit fungsional. Perkembangan tulang alveolar tergantung dari pembentukan akar gigi. Tulang basal adalah tempat bermuaranya saraf besar dan pembuluh darah utama serta sebagai tempat melekatnya otot (Garant, 2003). Tulang alveolar merupakan bagian maksila dan mandibula yang membentuk dan mendukung soket gigi. Bagian tulang alveolar yang membentuk dinding soket gigi disebut alveolar proprium. Alveolar proprium ini didukung oleh bagian tulang alveolar lainnya yang dikenal dengan tulang alveolar pendukung. Tulang alveolar membentuk soket yang mendukung dan melindungi akar gigi (Putri dkk., 2013). 2. Struktur makroskopik & mikroskopik tulang a. Struktur Makroskopik Tulang dapat dibedakan dalam dua bentuk, tulang kompak (substansi kompakta) dan tulang spons atau konselosa (substansi spongiosa). Tulang kompakta tampak sebagai massa utuh padat dengan ruang-ruang kecil yang hanya dapat terlihat dengan

9 menggunakan mikroskop. Tulang panjang khas, seperti femur atau humerus, pada bagian batang (diafisis) terdiri atas silinder berlubang tulang kompak berdinding tebal dengan rongga sumsum tulang. Ujung tulang panjang terutama terdiri atas tulang spons ditutupi korteks tulang kompak tipis, tulang panjang yang tumbuh disebut epifisis. Tulang rawan epifisis dan tulang spons metafisis yang berdekatan merupakan zona pertumbuhan pada semua inkremen memanjang dalam pertumbuhan tulang berlangsung. Tulang dibungkus oleh periosteum, lapisan jaringan ikat khusus yang mempunyai potensi osteogenik atau pembentuk tulang, jika periosteum fungsional tidak ada maka tidak memiliki potensi osteogenik dan tidak berhubungan dengan pemulihan patah tulang. Rongga sumsum diafisis dan rongga dalam tulang spons dilapisi oleh endosteum yang juga memiliki sifat osteogenik. Substansi kompakta pada tulang pipih tengkorak terbentuk pada permukaan luar dan dalam yang sering disebut tabel luar dan dalam. Periosteum permukaan luar tengkorak disebut perikranium dan pada permukaan dalam disebut dura mater. Pembungkus dari jaringan ikat dari tulang-tulang pipih memiliki potensi osteogenik tidak berbeda antara periosteum dan endosteum tulang panjang (Fawcett, 2002). b. Sturktur Mikroskopik Bagian tulang panjang diamati dengan mikroskop, nyata bahwa konstribusi unsur sel dari tulang terhadap massa total sangat

10 kecil. Terdiri atas sebagian besar matriks tulang, interstisial bermineral, yang dideposisikan dalam lapisan atau lamel dengan tebal 3-7 nm. Substansi interstisial tulang adalah rerongga lentikuler, disebut lakuna yang masing-masing berada disebuah sel osteosit. Lakuna memencar keluar ke segala arah dan menerobos lamel dari substansi interstisial dan beranastomosis dengan kanalikuli. Lakuna letaknya berjauhan tetapi mereka membentuk rongga utuh yang saling behubungan melalui jaringan saluran yang sangat halus. Saluran halus ini penting untuk nutrisi sel-sel tulang. Lamel tulang kompak terdapat dalam tiga pola umum, yaitu: 1). Disusun konsentris mengelilingi saluran vaskuler memanjang, membentuk unit silindris yang disebut sistem Havers atau osteon. 2). Sistem Havers terdapat potongan tulang berlamel dengan berbagai ukuran dan bentuk tak teratur. 3). Permukaan luar tulang korteks, tepat dibawah periosteum pada permukaan dalam terdapat sejumlah lamel yang yang berjalan tidak terputus-putus mengitari bagian batang (Fawcett, 2002). Penampilan mikroskopis periosteum bervariasi sesuai keadaan fungsionalnya. Semasa embrional dan pertumbuhan pasca lahir memiliki lapisan dalam dari sel-sel osteoblas yang berhubungan langsung dengan tulang, sesudah pertumbuhan tulang terhenti, osteoblas berubah berubah menjadi sel-sel pelapis tulang tidak aktif, tetapi mereka tetap memiliki potensi osteogenik dan jika tulang itu cidera mereka berubah

11 kembali menjadi osteoblas dan berpartisipasi dalam pembentukan tulang baru (Fawcett, 2002). 3. Matriks Tulang Kira-kira 50% matriks tulang adalah bahan anorganik. Matriks anorganik terdiri kalsium, fosfor, bikarbonat, sitrat, magnesium, kalium dan natrium. Bahan organik dalam matriks tulang adalah kolagen tipe I dan substansi dasar, yang mengandung proteoglikan dan beberapa glikoprotein struktural spesifik. Glikoprotein tulang bertanggung jawab atas kelancaran kalsifikasi matriks tulang (Junqueira dkk., 1997). 4. Sel-sel Tulang Tulang terdapat empat jenis sel yaitu, sel osteoprogenitor, sel osteoblas, sel osteosit dan sel osteoklas (Fawcett, 2002). a. Sel osteoprogenitor Sel-sel osteoprogenitor adalah sel-sel gepeng yang belum berdifernsiasi, terdapat dalam lapisan selular poriosteum, dalam endosteum dan membatasi kanal Havers (Gartner dan Hiatt, 2012). Sel-sel osteoprogenitor berproliferasi dan diferensiasi selama berlangsungnya remodelling tulang (Fawcett, 2002). b. Sel Osteoblas Sel osteoblas adalah sel berbentuk kuboid yang berperan untuk sintesis matriks tulang. Osteoblas berfungsi dalam mengatur mineralisasi tulang juga berperan untuk pembentukan, penarikan,

12 dan mempertahankan osteoklas seperti untuk awal resorpsi tulang (Gartner dan Hiatt, 2012). Osteoblas bertanggung jawab atas sintesis komponen matriks tulang pada kolagen tipe I, proteoglikan, dan glikoprotein. Deposisi komponen organik tulang juga bertgantung pada adanya osteoblas yang aktif. Osteoblas yang aktif mensintesis matriks berbentuk kuboid sampai silindris dengan sitoplasma basofilik sedangkan apabila aktivitas menurun bentuk sel menjadi gepeng dan sifat basofilik pada sitoplasmanya akan berkurang. Selama sintesis matriks berlangsung osteoblas memiliki struktur ultra sel yang secara aktif mensintesis protein untuk dikeluarkan. Komponen matriks disekresi pada permukaan sel dan menghasilkan lapisan matriks baru yang disebut osteoid. Proses ini dituntaskan dengan pengendapan garam-garam kalsium ke dalam matriks yang baru dibentuk (Junqueira dkk, 1997). Sel osteoblas selain mensekresi berbagai unsur matriks seperti kolagen tipe I, proteoglikan, osteokalsin, osteonektin, osteopontin, dan osteoblas juga menghasilkan faktor pertumbuhan yang memiliki efek autokrin dan parakrin penting pada pertumbuhan tulang (Fawcett, 2002). c. Sel osteosit Sel osteosit adalah sel-sel gepeng yang menempati lakuna, sel osteosit berperan mempertahankan tulang (Gartner dan Hiatt,

13 2012). Terdapat satu osteosit dalam lakuna yang mengandung tonjolan-tonjolan sitoplasma. Tonjolan dari sel-sel yang berdekatan saling berkontak melalui gap junction dan molekul-molekul berjalan melalui struktur dari sel ke sel. Sejumlah molekul bertukar tempat dari osteosit dan pembuluh darah melalui substansi ekstrasel yang terletak diantara osteosit dan matriks tulang. Sel osteosit secara aktif terlibat untuk mempertahankan matriks tulang (Junqueira dkk, 1997). d. Sel osteoklas Sel osteoklas adalah sel besar berinti banyak yang berasal dari prekursor monosit dan berperan untuk resorpsi tulang. Sel ini meresorpsi tulang dan sel menempati cekungan dangkal yaitu Lakuna Howship (Gartner dan Hiatt, 2012). Pada daerah terjadinya resorpsi tulang, osteoklas terdapat pada lekukan yang terbentuk akibat kerja enzim pada matriks yang disebut Lakuna Howship. Pada osteoklas yang aktif, matriks tulang yang menghadap permukaan terlipat secara teratur, sering berupa tonjolan yang terbagi lagi dan membentuk batas yang bergelombang. Aktivitas osteoklas dikendalikan oleh sitoken dan hormon (Junqueira dkk, 1997). 5. Kerusakan dan Penyembuhan Tulang Kerusakan tulang merupakan suatu kondisi patologis hilangnya struktur tulang yang dapat terjadi karena beberapa penyebab, kerusakan

14 tulang terbagi menjadi dua yaitu secara fisiologis maupun traumatik. Kerusakan akibat fisiologis antara lain karena resorbsi tulang akibat pencabutan gigi dan resorbsi akibat proses penuaan sedangkan akibat traumatik yaitu fraktur tulang, osteoporosis, osteosarkoma, dan lain-lain (Mellis dan Mulder, 2008). Apabila sebuah tulang patah, matriks tulang rusak dan sel-sel tulang yang berdekatan dengan daerah fraktur akan mati. Pembuluhpembuluh darah yang cedera mengakibatkan perdarahan setempat dengan pembekuan darah. Selama proses perbaikan, bekuan darah, selsel, dan matriks tulang yang rusak dibersihkan oleh makrofag. Periosteum dan endosteum disekitar daerah fraktur memberi respon berupa proliferasi hebat dari sel-sel osteoprogenitor yang membentuk jaringan selular sekeliling fraktur dan menyusup diantara fraktur tulang tersebut. Tulang muda akan terbentuk melalui proses osifikasi endokondoral dari tulang rawan kecil yang muncul dalam jaringan ikat fraktur. Proses perbaikan berlangsung sedemikian rupa sehingga terbentuk trabekel-trabekel tidak beraturan yang sementara sebagai penyambung ujung-ujung tulang yang patah (Junqueira dkk, 1997). Proses penyembuhan tulang terdapat 3 tahap, yaitu tahap inflamasi awal, tahap perbaikan, dan tahap remodelling. a. Tahap Inflamasi Sel infalamasi (sel makrofag, monosit, limfosit dan polimorfonuklear) dan fibroblas akan menginfiltrasikan area

15 kerusakan tulang, menghasilkan formasi jaringan granulasi, pertumbuhan ke arah dalam dari jaringan granulasi, pertumbuhan ke arah dalam jaringan vaskuler, dan migrasi sel masenkimal. b. Tahap perbaikan Fibroblas akan mulai membentuk stroma yang membantu mendukung pertumbuhan pembuluh darah ke arah dalam. Berjalannya perkembangan pembentukan pembuluh darah baru yang menginfiltrasi area kerusakan, matriks kolagen akan terdeposisi diiringi osteoid yang disekresikan dan secara bertahap dimineralisasikan yang akan membentuk soft callus di area penyembuhan, lalu kalus mengalami osifikasi menjadi woven bone, selanjutnya mengalami pemodelan tulang. c. Tahap remodelling Tahap ini akan membentuk jaringan tulang dengan bentuk, ukuran, dan kekuatan yang optimal dalam proses remodelling tulang ini membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan beberapa tahun (Kalfas, 2001). 6. Pertumbuhan dan Remodelling Tulang Tulang yang sedang tumbuh secara tetap mengubah susunan bagian dalamnya, bentuk luar tetap dipertahankan sama pada stadium fetus awal sampai kehidupan dewasa, hal ini tidak mungkin bahwa tulang baru diletakan dengan kecepatan sama pada semua tempat dibawah periosteum. Bentuk tulang dipertahankan selama pertumbuhan

16 oleh remodeling tulang yang mencangkup deposisi tulang pada beberapa tempat dibawah periosteum dan absorpsi tulang pada daerah lain (Fawcett, 2002). Pertumbuhan tulang biasanya berhubungan dengan resorpsi parsial dari jaringan yang telah dibentuk sebelumnya dan sekaligus sebagai perlekatan tulang baru. Remodelling tulang adalah sebuah proses fisiologik dinamis yang berlangsung serentak pada banyak lokasi di kerangka, yang tidak berhubungan dengan pertumbuhan tulang. Kecepatan remodelling atau pergantian tulang sangat aktif pada anakanak, yang mungkin 200 kali lebih cepat dibandingkan dewasa. Proses remodelling tulang dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah tegangan dan tekanan yang disebabkan oleh kontraksi otot dan pergerakan tubuh, kehamilan, hormon dan faktor-faktor pertumbuhan (Junqueira dkk, 1997). 7. Tissue engineering atau Rekayasa jaringan Tissue Engineering (TE) atau rekayasa jaringan adalah salah satu teknologi di bidang biomedis yang dikembangkan untuk membantu regenerasi jaringan tubuh, untuk mengobati luka dengan ukuran besar yang tidak mungkin untuk memperbaiki diri. Tissue engineering juga dapat membantu menggantikan fungsi biologis organ yang rusak dengan memanfaatkan sel. Tujuan teknik rekayasa jaringan adalah untuk regenerasi jaringan serta menciptakan pengganti biologis untuk jaringan yang rusak atau hilang (Tabata, 2003).

17 Rekayasa jaringan adalah bidang multi disiplin yang diaplikasikan dari prinsip-prinsip dan teknik metode dalam ilmu kehidupan yang berhubungan dengan struktur, fungsi, jaringan untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi jaringan. Tujuan rekayasa jaringan adalah untuk melampaui kebatasan perawatan konvesional berdasarkan transplantasi organ dan implantasi biomaterial (Khaled dkk, 2011). Faktor-faktor yang diperlukan untuk rekayasa jaringan meliputi sel, perancah untuk proliferasi sel dan growht factor. Sel ini digunakan untuk regenerasi jaringan tidak perlu selalu menjadi sel induk. Hal ini dimungkinkan untuk memanfaatkan sel blastic sebagai tahap sel penengah antara sel-sel induk, akan ideal apabila bisa mendapatkan sel dari pasien itu sendiri. Matriks ekstraselular tidak hanya dukungan sel fisik tetapi juga memiliki pengaruh penting terhadap proliferasi dan diferensiasi sel yang memberikan kontribusi untuk regenerasi jaringan. Dengan demikian, tidak mungkin bahwa kerusakan tulang yang besar akan secara alami diregenerasi dan diperbaiki hanya dengan menyediakan sel. Dengan menempatkan perancah sebagai matriks ekstraselular buatan yang mendukung sel yang akan berproloferasi dan berdiferensiasi, setelah jaringan baru regenerasi akhirnya menghasilkan matriks ekstraselular. Faktor yang ketiga yang dibutuhkan untuk rekayasa jaringan adalah growht factor (Tabata, 2003). Perawatan kerusakan tulang yang besar memerlukan suatu bahan substitusi tulang untuk memacu tumbuhnya tulang baru sehingga

18 rekontruksri kerusakan tulang tersebut dapat diatasi. Perkembangan rekayasa jaringan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu sel, faktor pertumbuhan (growht factor), dan perancah (scaffold) (Tabata dkk., 2011). 8. Scaffold atau Perancah Scaffold atau perancah adalah sel induk yang sering ditanamkan ke struktur yang mampu mendukung pembentukan jaringan 3 dimensi. Perancah juga berfungsi meningkatkan regenerasi jaringan melalui pengiriman biofaktor sambil mempertahankan fungsi mekanik (Khaled dkk., 2011). Perancah yang digunakan dalam rekayasa jaringan untuk regenerasi tulang juga harus bertindak sebagai tempat untuk adhesi sel, migrasi, proliferasi, interaksi sel dan pembentukan matriks tulang ekstraselular, yang memberikan dukungan struktural untuk jaringan yang baru terbentuk. Selain itu, mereka dapat berfungsi sebagai pengiriman untuk sitokin seperti protein tulang morfogenetik (BMP), faktor pertumbuhan seperti insulin (IGFs) dan mengubah faktor pertumbuhan (TGFs) yang merangsang sel-sel prekursor direkrut host untuk berdiferensiasi menjadi tulang matriks yang memproduksi sel (Mangano dkk., 2011). Perancah pada dasarnya sebagai tempat untuk pembentukan jaringan dan pertumbuhan jaringan baru, perancah yang dihasilkan dari berbagai biomaterial harus memiliki syarat diantaranya yaitu

19 biocompatibility, biodegradability, mechanical properties, dan scaffold architecture (O Brien, 2011). a. Biocompatibility Kriteria pertama dari setiap perancah untuk teknik rekayasa jaringan adalah harus biokompatibel, sel harus berfungsi secara normal, mampu bermigrasi dan dapat berkembangbiak sebelum meletakkan matriks baru. Setelah diimplantasi, perancah berkonstruksi untuk mencegah respon inflamasi parah yang mungkin mengurangi penyembuhan atau penyebab penolakan oleh tubuh. b. Biodegradability Tujuan dari rekayasa jaringan adalah untuk sel-sel tumbuh yang akhirnya akan menggantikan perancah dengan jaringan yang baru. Perancah tidak sebagai implan permanen, oleh karena itu perancah harus bersifat biodegradable atau terdegradasi sedikit demi sedikit dan harus mampu untuk keluar dari tubuh tanpa gangguan organ lain, sehingga memungkinkan sel-sel untuk menghasilkan matriks ekstraselular. Degradasi akan terjadi bersama-sama dengan pembentukan jaringan. c. Mechanical properties Perancah harus memiliki sifat mekanik yang konsisten dengan situs anatomi dimana itu harus ditanamkan dan harus cukup kuat untuk memungkinkan penanganan bedah selama implantasi.

20 Perancah juga harus memiliki integritas mekanik yang cukup untuk berfungsi saat implantasi untuk penyelesaian proses renovasi. d. Scaffold architecture. Arsitektur perancah yang digunakan untuk teknik rekayasa jaringan bahwa perancah harus memiliki pori-pori yang saling berhubungan dengan struktur dan porositas tinggi untuk memastikan penetrasi selular dan difusi nutrisi yang memadai ke sel-sel di dalam membangun matriks ekstraseluler yang dibentuk oleh sel. Struktur juga saling berhubungan untuk memungkinkan difusi produk dari perancah, dan produk-produk dari degradasi perancah harus mampu keluar dari tubuh tanpa gangguan dengan organ-organ lain dan jaringan sekitarnya. Masalah inti degradasi, yang timbul dari kurangnya vaskularisasi dan limbah penghapusan dari pusat jaringan rekayasa konstruksi, adalah perhatian utama di bidang teknik jaringan. Komponen utama lainnya adalah berarti ukuran pori perancah. Sel berinteraksi dengan perancah melalui kelompok kimia (ligan) pada permukaan material. Kepadatan ligan dipengaruhi oleh luas permukaan yang spesifik, yaitu permukaan yang tersedia dalam pori-pori. Hal ini tergantung pada rata-rata ukuran pori di perancah. Sehingga pori-pori pada perancah harus cukup besar untuk memungkinkan sel untuk bermigrasi ke dalam struktur dimana yang akhirnya akan terikat pada ligan dalam perancah. Oleh karena itu, untuk perancah apapun dengan berbagai

21 ukuran pori dapat bervariasi, tergantung pada jenis sel yang digunakan dan jaringan yang direkayasa (O Brien, 2011). 9. Polimer Biasanya terdapat tiga kelompok individu biomaterial yang digunakan dalam fabrikasi dari perancah untuk teknik rekayasa jaringan diantaranya yaitu keramik, polimer sintetis dan polimer alami. Masingmasing kelompok individu biomaterial tentu saja memiliki keunggulan dan kekurangan (O Brien, 2011). a. Keramik Polimer keramik biasanya ditandai oleh kekakuan mekanik yang tinggi, elastisitas yang sangat rendah dan permukaan keras yang rapuh. Dari perspektif tulang, keramik menunjukan biokompatibilitas yang baik karena kesamaan struktur kimia dan fase mineral dari tulang asli mereka. Interaksi sel osteogenik dengan keramik untuk regenerasi tulang penting untuk meningkatkan diferensiasi osteoblas dan proliferasi. Berbagai keramik telah digunakan dalam operasi gigi dan ortopedi untuk mengisi kerusakan tulang dan untuk melapisi permukaan logam implan. Namun aplikasi untuk teknik rekayasa jaringan sangat terbatas karena kerapuhanya, kesulitan membentuk implantasi pada tulang yang baru dibentuk oleh jaringan hidroksiapatit tidak dapat mempertahankan beban mekanis yang diperlukan untuk renovasi.

22 b. Polimer sintetik Banyak polimer sintetik yang telah digunakan dalam upaya untuk mengasilkan perancah termasuk diantaranya polystyrene, poly-l-lactic acid (PLLA), polyglycolic acid (PGA) and poly-dllactic-co-glycolic acid (PLGA). Bahan-bahan tersebut telah menunjukan banyak keberhasilan karena mereka dapat dibuat sesuai dengan arsitektur dan karakteristik. Degradasi polimer sintetik dapat dikontrol dengan memvariasikan polimer itu sendiri. Polimer memiliki kelemahan termasuk risiko penolakan karena berkurangnya bioaktivitas. Selain itu, pada proses degradasi PLLA dan PGA menurunkan hidrolisis, memproduksi karbondioksida dan menurunkan ph lokal yang dapat mengakibatkan sel dan jaringan mati. c. Polimer alami Polimer alami secara biologis aktif dan sel biasanya dapat beradhesi dan pertumbuhan yang sangat baik. Mereka juga memiliki biodegradasi yang baik yang menghasilkan matriks ekstraselular mereka sendiri pada saat perancah terdegradasi. Perancah polimer alami memiliki kekurangan yaitu pada sifat mekaniknya dan terbatas dalam penggunaannya, misalnya pada aplikasi ortopedi (O Brien, 2011).

23 10. Platelet rich plasma (PRP) Platelet rich plasma (PRP) adalah plasma kaya platelet atau trombosit yang diperoleh dari autolpgous (dari individu yang sama) dengan kandungan berbagai macam faktor pertumbuhan. Darah normal memiliki jumlah platelet antar 150.000/ml-350.000/ml dan rata-ratanya terdapat 200.000 ml, sedangkan untuk proses penyembuhan luka diperlukan 1.000.000 ml platelet didapat dari 5ml volume plasma (Marx, 2001). Sebuah inovasi terbaru dalam kedokteran gigi yaitu penggunaan platelet rich plasma yang merupakan komponen darah dimana tromboisit terkonsentrasi dalam volume darah. Jumlah trombosit melebihi dua juta trombosit permikro liter. Komponen platelet rich plasma diantranya faktor pertumbuhan, sel fagosit, konsentrasi fibrinogen native, vasoaktif dan agen chemoactive, dan konsentrasi trombosit (Anila dan Nandakumar, 2006). Platelet rich plasma dikembangkan dari autologus darah maka penggunaan PRP aman dari penyakit seperti HIV dan hepatitis. Dalam meningkatkan jumlah trombosit Platelet rich plasma memberikan peningkatan jumlah faktor pertumbuhan (growth factor). Tujuh growht factor yang terdapat dalam PRP adalah Platelet derived growht factor (PDGFaa), PDGFbb, PDGFab, Transforming growht beta (TGF-b), TGF-b 2, Vascular endothelial Growht Factor (VEGF), Epitelial Growht Factor (EGF) (Marx, 2001).

24 11. Profile release atau profil pelepasan Jaringan yang akan diperbaiki memiliki kemampuan regenerasi tinggi maka jaringan baru akan terbentuk dalam biodegradable perancah oleh sel aktif. Regenerasi tersebut memiliki potensi yang rendah karena konsentrasi lokal dari sel dan faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk generasi jaringan baru. Faktor pertumbuhan memerlukan kontrol pelepasan, salah satu masalah terbesar pelepasan dalam teknologi rekayasa jaringan adalah hilangnya aktivitas biologis dari protein. Hidrogel polimer mungkin lebih baik untuk pembawaan pelepasan protein, namun akan menjadi tidak mungkin untuk mencapai kontrol pelepasan protein selama jangka waktu yang panjang. Salah satu kemungkinan faktor pertumbuhan dalam biodegradable hidrogel yang memungkinkan faktor pertumbuhan akan dilepaskan disistem pelepasan tersebut, pelepasan faktor pertumbuhan dapat dikontrol dengan mengubah degradasi hidrogel (Tabata, 2003). B. Landasan Teori Kerusakan tulang merupakan suatu kondisi patologis hilangnya struktur tulang yang dapat terjadi karena beberapa penyebab, penyebab kerusakan tulang terbagi menjadi dua yaitu secara fisiologis maupun traumatik. Contoh pada kerusakan akibat fisiologis antara lain karena resorbsi tulang akibat pencabutan gigi dan resorbsi akibat proses penuaan sedangkan akibat traumatik yaitu fraktur tulang, penyakit-penyakit tulang, osteoporosis, osteosarkoma, dan lain-lain.

25 Tissue Engineering (TE) atau rekayasa jaringan adalah salah satu teknologi di bidang biomedis yang dikembangkan untuk membantu regenerasi jaringan tubuh, untuk mengobati luka denga ukuran besar yang tidak mungkin untuk memperbaiki diri. Tissue engineering juga dapat membantu menggantikan fungsi biologis organ yang rusak dengan memanfaatkan sel. Tujuan teknik rekayasa jaringan adalah untuk regenerasi jaringan serta menciptakan pengganti biologis untuk jaringan yang rusak atau hilang. Faktor-faktor yang diperlukan untuk rekayasa jaringan meliputi sel, perancah untuk proliferasi sel dan growht factor atau faktor pertumbuhan (PRP). Dengan adanya faktor-faktor tersebut diharapkan proses regenerasi tulang akan berjalan dengan baik. Scaffold atau Perancah adalah sel induk yang sering ditanamkan ke struktur yang mampu mendukung pembentukan jaringan 3 dimensi. Perancah juga berfungsi meningkatkan regenerasi jaringan melalui pengiriman biofactor sambil mempertahankan fungsi mekanik. Keberhasilan rekayasa jaringan ditentukan juga oleh jenis perancah, yaitu harus memiliki sifat biocompatible dan biodegradable. Perancah koral buatan yang digunakan memiliki bahan dasar CaCO 3+ Gelatin perbandingan 4:6 dengan dispersant sitrat. Platelet rich plasma (PRP) adalah plasma kaya platelet atau trombosit yang diperoleh dari autolpgous (dari individu yang sama) dengan kandungan berbagai macam faktor pertumbuhan. Tujuh growht factor yang terdapat dalam PRP adalah Platelet derived growht factor (PDGFaa), PDGFbb,

26 PDGFab, Transforming growht beta (TGF-b), TGF-b 2, Vascular endothelial Growht Factor (VEGF), Epitelial Growht Factor (EGF). C. Hipotesis Terdapat perbedaan profil pelepasan Platelet rich plasma dari pemuatan metode celup dan metode tetes perancah koral buatan dengan pendispersi sitrat.

27 D. Kerangka Konsep Tulang Kerusakan tulang Pertumbuhan dan Remodelling tulang Regenerasi tulang dengan rekayasa jaringan Perancah Sel Faktor pertumbuhan Mekanik Polimer sintetik Sel punca PRP Polimer alami Di aplikasikan pada kerusakan tulang Degradasi perancah Pelepasan PRP Terjadi regenerasi tulang Gambar 1. Kerangka Konsep