RENCANA POLA RUANG Rencana pola ruang pada dasarnya merupakan penetapan lokasi serta besaran ruang untuk mewadahi berbagai jenis kegiatan fungsional perkotaan. Pola ruang wilayah Kota Bengkulu terdiri dari kawasan lindung dan kawasan budidaya. 4.1 RENCANA KAWASAN LINDUNG Penetapan kawasan lindung dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997, dan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990. Kawasan lindung didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah, serta budaya, guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan lindung di Kota Bengkulu terdiri dari: a. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; b. kawasan perlindungan setempat; c. ruang terbuka hijau (RTH) Kota; d. kawasan suaka alam dan cagar budaya; dan e. kawasan rawan bencana alam. 4.1.1 Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap Kawasan Bawahannya Di Kota Bengkulu kawasan ini merupakan kawasan resapan air yang terdapat di Kecamatan Singaran Pati seluas 545 hektar. 4.1.2 Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat merupakan kawasan yang harus dibebaskan dalam upaya untuk memberikan perlindungan pada objek khusus yang ada. Dalam hal ini, kawasan perlindungan setempat terdiri dari kawasan sempadan danau, sempadan jaringan transmisi tenaga listrik, sempadan pantai, dan sempadan sungai. 138
A. Kawasan Sempadan Danau Kawasan lindung untuk kawasan sekitar danau di Kota Bengkulu adalah daratan sepanjang Danau Dendam Tak Sudah di Kecamatan Singaran Pati (seluar 18,65 hektar) yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau, yaitu 50 meter dari tepi danau. B. Sempadan Jaringan Transmisi Tenaga Listrik Sempadan jaringan transmisi tenaga listrik meliputi sempadan di jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) di Kecamatan Sungai Serut sejauh 32 meter dihitung dari titik tengah jaringan tenaga listrik. C. Sempadan Pantai Kriteria penetapan sempadan pantai (berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, Pasal 56 ayat 1) dengan pengaturan sebagai berikut: 1. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau 2. Daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik Sempadan pantai Kota Bengkulu seluas kurang lebih 880 hektar, yang terdapat di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Gading Cempaka, dan Kecamatan Kampung Melayu. D. Sempadan Sungai Mengacu pada Permen PU No. 63/PRT/1993 tentang Pengaturan Garis Sempadan Sungai, diatur dua jenis garis sempadan sungai yaitu : 1. Sungai kecil dengan DAS 500 km 2 atau kurang memiliki garis sempadan sebesar 50 m. 2. Sungai besar dengan DAS lebih luas dari 500 Km 2 memiliki garis sempadan sebesar 100 m. 139
Kebijakan penetapan sempadan sungai juga mempertimbangkan hal - hal sebagai berikut : 1. Lebar sempadan sungai ideal sebagaimana tersebut di atas berlaku pada daerah aliran sungai yang belum dimanfaatkan untuk kegiatan terbangun, terutama permukiman. 2. Pada daerah aliran sungai yang melintasi kawasan permukiman atau kawasan perkotaan, pengaturan lebar sempadan sungainya disesuaikan dengan ketentuan peraturan daerah yang berlaku. 140
Gambar 4.1 Sketsa Sempadan Sungai Tak Bertanggul Gambar 4.2 Sketsa Sungai dan Dataran Banjir Gambar 4.2 Sketsa Sungai dan Dataran Banjir 141
Penetapan dan pengaturan garis sempadan sungai juga diatur berbeda untuk sungaisungai yang mengalir dalam wilayah perkotaan. Di Kota Bengkulu, luas sempadan sungai kurang lebih 765,72 hekta, meliputi: 1. Sempadan sungai bertanggul dengan lebar kurang lebih 25 (dua puluh lima) meter dari kaki tanggul terluar, terdapat di Sungai Air Bengkulu Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kecamatan Sungai Serut; 2. Sempadan sungai tidak bertanggul dengan lebar sempadan kurang lebih 50 meter dari tepi sungai terdapat di Sungai Jenggalu Kecamatan Kampung Melayu, Kecamatan Gading Cempaka dan Kecamatan Ratu Agung; dan 3. Sempadan sungai yang berada pada kawasan perumahan dengan lebar sempadan kurang lebih 10 (sepuluh) meter, terdapat di sungai dan anak sungai di Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Kampung Melayu, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Muara Bangka hulu, Kecamatan Selebar, Kecamatan Singaran Pati dan Kecamatan Teluk Segara. 4.1.3. Kawasan Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan terbuka hijau kota adalah: 1. Lokasi sasaran kawasan terbuka hijau kota termasuk antara lain di kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan pendidikan, serta tepi sungai dan jalan yang berada di kawasan perkotaan. 2. Hutan yang terletak di dalam wilayah perkotaan atau sekitar kota dengan luas minimal 0,25 Ha. 3. Hutan yang terbentuk dari komunitas tumbuhan yang berbentuk kompak pada satu hamparan, berbentuk jalur atau merupakan kombinasi dari bentuk kompak dan bentuk jalur. 142
4. Jenis tanaman untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon-pohonan, tanaman hias atau herbal, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun jenis asli atau domestik. 5. Jenis tanaman untuk kawasan terbuka hijau kota adalah berupa pohon-pohonan dan tanaman hias atau herbal, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun jenis asli atau domestik. Ruang Terbuka Hijau dipersyaratkan dalam UU No 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota. 20 (dua puluh) persen ruang terbuka hijau publik dan 10 (sepuluh) persen ruang terbuka hijau privat. Kawasan ruang terbuka hijau selain berfungsi sebagai paru-paru kota, juga berfungsi sebagai salah satu unsur pembentuk struktur tata ruang kota dan dalam pola ruang merupakan kawasan yang dapat berfungsi menunjang fungsi lindung. Pengelolaan kawasan/ruang terbuka hijau ini secara umum meliputi: 1. Pembatasan pendirian bangunan-bangunan, kecuali yang memiliki fungsi sangat vital atau bangunan-bangunan yang merupakan penunjang dan menjadi bagian dari kawasan ruang terbuka hijau. 2. Pengembangan kawasan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari pengembangan fasilitas umum dan taman - taman kota/ lingkungan 3. Pengembangan kawasan ruang terbuka hijau sebagai pembatas antara kawasan industri dengan kawasan fungsional lain di sekitarnya, terutama kawasan permukiman. Untuk menghitung kebutuhan luas RTH publik Kota Bengkulu digunakan metode perhitungan kebutuhan RTH berdasarkan persentase sesuai dengan kebijakan tata ruang yang terbaru yaitu Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, yaitu: 1. Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota. 20 (dua puluh) persen ruang terbuka hijau publik dan 10 (sepuluh) persen ruang terbuka hijau privat. Maka perhitungan RTH adalah sebagai berikut : 143
a. Luas Wilayah Kota Bengkulu: 15.170 Ha b. Standar: UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Luas RTH = 20% dari luas kota nya). c. Kebutuhan luas Ruang Terbuka Hijau (Kawasan Lindung) Kota Bengkulu sesuai standar UU No. 26 Tahun 2007 yaitu 30% dari 15.170 Ha sama dengan 4.335,6 Ha. d. Kebutuhan luas Ruang Terbuka Hijau (Kawasan Publik) Kota Bengkulu sesuai standar UU No. 26 Tahun 2007: yaitu 20% dari 15.170 Ha = 2.890,4 Ha. Dalam kaitannya dengan pengembangan pola ruang kota, maka penjabaran rencana Ruang Terbuka Hijau pada masing-masing fungsi kawasan Subpusat Pelayanan Kota di Kota Bengkulu untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 di halaman sebelah ini: 144
Tabel 4.1 PROYEKSI KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BENGKULU TAHUN 2030 NO JENIS FASILITAS PENDUKUNG TAHUN 2011 TAHUN 2030 LUAS (Ha) LUAS (Ha) RTH PRIVAT 1 RTH Pekarangan rumah 631.58 631.58 2 RTH Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa 18.22 18.22 3 RTH Kawasan Peruntukan Pariwisata 9.57 38.00 4 RTH Kawasan Peruntukan industri 13.52 40.56 6 RTH Kawasan Peruntukan perkantoran 42.15 42.15 7 RTH Kawasan peruntukan lainnya 13.70 13.70 728.74 784.21 RTH PUBLIK 1 RTH Pada Jalur Jalan Kota 22.00 207.00 2 RTH Taman Persimpangan Jalan 0.30 0.30 3 RTH Taman kota 23.47 23.47 4 RTH Makam 50.34 60.34 5 RTH Hutan Kota 179.62 493.78 6 RTH sempadan SUTM, Sungai, pantai, danau, KA 1,706.47 1,733.97 7 Taman Lingkungan 147.78 147.78 8 Sabuk Hijau Cagar Alam - 502.66 9 Sabuk Hijau TWA - 65.26 2,129.98 3,234.56 LUAS TOTAL RTH (Ha) 2,858.72 4,018.77 % RTH 20.93 29.42 % RTH PRIVAT 5.34 5.74 % RTH PUBLIK 15.60 23.68 Sumber: Hasil analisis, 2011 145
Rencana pengembangan Ruang Terbuka Hijau kota dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut: 1. Untuk menciptakan kenyamanan iklim mikro Kota Bengkulu, perlu dialokasikan minimal 30% luas wilayah kota sebagai ruang terbuka dengan tutupan vegetasi. Ruang Terbuka Hijau (RTH) tersebut dapat disediakan dalam bentuk : a. Ruang Terbuka Hijau Produktif seperti kawasan pertanian, dan perkebunan; b. Ruang Terbuka Hijau Konservasi, seperti hutan raya, hutan kota, dan catchment area; c. Ruang Terbuka Hijau Lingkungan, meliputi taman kota, taman lingkungan dan pekarangan; d. Ruang Terbuka Koridor, meliputi koridor jaringan jalan, jalur jaringan listrik tegangan tinggi, serta sepanjang perbatasan Kota Bengkulu dengan wilayah sekitarnya yang didesain dengan ketebalan zona penyangga 100-500 meter; e. Ruang Terbuka Hijau Khusus, meliputi tempat pemakaman umum (TPU), pekarangan perkantoran, zona penyangga (bufferzone), kawasan pendidikan, kawasan rekreasi, dan kebun binatang; 2. Pemilihan jenis vegetasi disesuaikan dengan misi dari jenis Ruang Terbuka Hijau yang akan dikembangkan, misalnya: pada RTH koridor, jenis vegetasi yang dipilih harus memiliki sistem perakaran yang tidak merusak bahu atau badan jalan serta sistem percabangannya tidak mengganggu keselamatan lalu-lintas. Untuk pemenuhan kebutuhan lahan bagi Peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan RTH tiap WP(wilayah Pembangunan), diupayakan dari keberadaan taman kota yang ada di Kota Bengkulu beserta Kawasan Sempadan (Sempadan Sungai dan Sempadan Pantai dan Sempadan Kawasan Sekitar Danau). Berdasarkan hasil analisis mengenai kebutuhan taman di Kota Bengkulu dapat dilihat total pemenuhan kebutuhan RTH di Kota Bengkulu pada Tabel 4.2 di sebelah ini. 146
Tabel 4.2 Rencana Pemenuhan Kebutuhan RTH di Kota Bengkulu Jenis RTH Luasan (ha) Rencana Pemenuhan Kebutuhan (Publik)RTH 20% terdiri dari : 2890.4 1. Hutan/Taman Kota 29.51 2. Sempadan Pantai 161.18 3. Sempadan Sungai 378.25 4. RTH Kecamatan (9 kecamatan)@ 2,4 Ha 21.6 5. RTH Kelurahan 47 6. RTH seluruh Kota Bengkulu(eksisting) 222.43 Kekurangan RTH Publik 2030.43 (disebar secara proporsional sesuai luas WP dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan masing-masing serta diperinci dalam Rencana yang lebih Rinci (RDTRK)') Kecamatan Ratu Agung, Ratu Samban dan Teluk Segara dpt dibentuk dari sempadan jalan dan saat ini tersedia Lahan Terbuka 78,35 Ha dan Hutan Pantai 108,23 Ha dan Semak Belukar(Kec. Ratu Agung 8,6 Ha)*) 366.13 Kecamatan Muara Bangkahulu) dibentuk dari sempadan jalan dan lahan terbuka 171,94 Ha 336.63 Kecamatan Sungai Serut, Gading Cempaka dan Singaran Pati, dibentuk dari sempadan jalan, sempadan waduk,dan TPU pemakaman (Kec. Gading Cempaka 1,68 Ha), Lapangan Golf (Kec. Gading Cempaka 43,93 Ha) dan Lahan Terbuka di seluruh Kecamatan(Gading Cempaka, Singaran Pati dan Sungai Serut 174,62 Ha 269.33 Kecamatan Selebar, dibentuk dari sempadan jalan, dan Lahan Terbuka 400,58 Ha, RTH kawasan Bandar Udara, TPU (10,89 ha) dan Semak Belukar 1531,92 Ha 487.24 Kecamatan Kampung Melayu, dibentuk dari sempadan jalan, lahan terbuka 66,41 ha, kawasan sekitar pelabuhan dan belukar rawa 307,75 Ha dan Semak Belukar 662,42 Ha 571.11 Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, dapat dilihat kekurangan RTH. Untuk memenuhi kekurangan tersebut akan dilakukan penambahan hutan kota di Universitas Bengkulu dan perumahan KORPRI, penambahan hitungan sempadan jalan, sempadan Danau Dendam Tak Sudah, sempadan Danau Buatan, RTH di kawasan Bandar udara Fatmawati dan pelabuhan Pulau Baai. 147
Jenis pemanfaatan ruang yang diarahkan dalam ruang terbuka hijau yang diarahkan pengembangannya di Kota Bengkulu terdiri dari: 1. RTH Publik, meliputi: a. RTH Taman kota; b. RTH Taman Persimpangan Jalan; c. RTH Taman Lingkungan; d. RTH Kebun Raya; e. RTH Sempadan SUTM, sungai, pantai, dan danau; f. RTH Jalur Hijau Jalan; g. RTH Hutan Kota; h. RTH Pemakaman Umum dan Swasta. 2. RTH Privat, meliputi: a. RTH Pekarangan Rumah Tinggal; b. RTH kawasan peruntukan perdagangan dan jasa; c. RTH kawasan peruntukan pariwisata; d. RTH kawasan peruntukan industri; e. RTH kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan; f. RTH kawasan peruntukan perkantoran; dan g. RTH kawasan peruntukan lainnya seperti kawasan peruntukan pendidikan kesehatan, peribadatan, pelabuhan dan terminal, dan TPA. Arahan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bengkulu 1. Ruang Terbuka Hijau Publik RTH publik yang telah ada di Kota Bengkulu meliputi kawasan seluas kurang lebih 2.129,98 Ha atau 15,59 persen dari luas wilayah Kota Bengkulu. Pada akhir tahun perencanaan RTH yang ada akan dikembangkan menjadi seluas kurang lebih 3.234,56 Ha atau 23,68 persen dari luas kota. a. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000 penduduk dengan standar minimal 0,3 m 2 per penduduk kota, dengan luas taman minimal 148
144.000 m 2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% - 90%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) tidak beracun, tidak berduri, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak mengganggu pondasi; b) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; c) ketinggian tanaman bervariasi, warna hijau dengan variasi warna lain seimbang; d) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; e) kecepatan tumbuh sedang; f) berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya; g) jenis tanaman tahunan atau musiman; h) jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal; i) tahan terhadap hama penyakit tanaman; j) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara; k) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. Taman kota yang telah ada di Kota Bengkulu terdapat di Kecamatan Singaran Pati dan Kecamatan Teluk Segara dengan luas kurang lebih 23,47 hektar. b. RTH Taman Persimpangan Jalan Taman persimpangan jalan dengan luas kurang lebih 0,3 hektar terdapat di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar dan Kecamatan Kampung Melayu. 149
c. RTH Taman Lingkungan Taman lingkungan dengan luas kurang lebih 147,78 hektar tersebar di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar dan Kecamatan Kampung Melayu. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut, fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial, RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu taman umum (community garden )dengan menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup, sayur, dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga. Gambar 4.5 Taman Kota Rukun Tangga 150
a. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan, baik olahraga maupun aktivitas lainnya, beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga, dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. Gambar 4.6 Taman Kota Rukun Warga RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. Taman ini dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif, dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon - pohon tahunan. 151
Tabel 4.3 Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Koefisien Daerah Hijau (KDH) Fasilitas Vegetasi Aktif 70 80% 1. lapangan terbuka; 2. trek lari, lebar 5 m panjang 325 m; 3. WC umum; 4. 1 unit kios (jika diperlukan); 5. kursi kursi taman. 1. minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil); 2. semak; 3. perdu; 4. penutup tanah. Pasif 80 90% 1. minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil); 2. semak; 3. perdu; 4. penutup tanah. Sumber : Pedoman pemanfatan dan penyediaan RTH di Pekotaan, Dep. PU 2008 1. minimal 50 pohon (sedang dan kecil); 2. semak; 3. perdu; 4. penutup tanah. 152
Gambar 4.7 Taman Kota Kelurahan Ilustrasi Taman Kota Kelurahan RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga, dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: 153
Tabel 4.4 Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Koefisien Daerah Hijau (KDH) Fasilitas Vegetasi Aktif 70 80% 1. lapangan terbuka; 2. lapangan basket; 3. lapangan volley; 4. trek lari, lebar 5 m panjang 325 m; 5. WC umum; 6. parkir kendaraan; 7. termasuk sarana kios (jika diperlukan); 8. kursi-kursi taman. Pasif 80 90% 1. sirkulasi jalur pejalan kaki, lebar 1,5 2 m; 2. WC umum; 3. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan); 4. kursi-kursi taman. 1. minimal 50 pohon (sedang dan kecil); 2. semak; 3. perdu; 4. penutup tanah. 1. lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil); 2. semak; 3. perdu; 4. penutup tanah. Sumber : Pedoman pemanfatan dan penyediaan RTH di Pekotaan, Dep. PU 2008 Gambar 4.8 Taman Kota Kecamatan 154
d. RTH Kebun Raya Kebun raya di Kota Bengkulu dikembangkan dengan luas kurang lebih... hektar dan terdapat di Kecamatan Singaran Pati. e. RTH Sempadan SUTM, sungai, pantai, dan danau RTH sempadan SUTM, sungai, pantai dan danau dengan luas kurang lebih 1.706,47 hektar terdapat di Kecamatan Muara Bangka Hulu, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Gading Cempaka, dan Kecamatan Kampung Melayu. RTH ini nantinya akan dikembangkan menjadi seluas 1.733,97 hektar. f. RTH pada jalur hijau jalan Untuk jalur hijau jalan, RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20 30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan kelas jalan. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman, perlu memperhatikan 2 (dua) hal, yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta tingkat evapotranspirasi rendah. RTH ini tersebar di Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Gading Cempaka, dan Kecamatan Selebar dengan luas kurang lebih 22 hektar. RTH pada jalur hijau jalan akan lebih dikembangkan lagi menjadi 207 hektar tersebar di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar dan Kecamatan Kampung Melayu. Gambar 4.10 Penempatan Tata Letak Jalur Hijau Jalan 155
Tata Letak Jalur Hijau di Kiri-kanan jalan Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1. Kenyamanan, adalah cara mengukur kualitas fungsional yang ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: Orientasi, berupa tanda visual (landmark, marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar; Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian, kehadiran penghambat fisik, kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. 2. Karakter fisik, meliputi: Kriteria dimensional, disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat, kebiasaan dan gaya hidup, kepadatan penduduk, warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan; Kriteria pergerakan, jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan, kondisi cuaca, kebiasaan dan budaya masyarakat. 156
Gambar 4.11 Pola Taman pada Jalur Pejalan Kaki Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998, tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. Tabel 4.6 Rencana Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Sepanjang Jalan Sesuai Dengan Fungsi Jalan Di Kota Bengkulu Unsur Rencana Arteri Primer Arteri Sekunder Kolektor Primer Kolektor Sekunder Lokal Kecepatan Kendaraan (km/jam) 80 60 50 40 30 Lebar Lajur Jalan (m) 3,5 3,5 3,25 3,0 2,5 Lebar Jalur Median Min (m) 4,0 3,0 2,0 1,0 - Lebar Bahu Jalan (m) 2,5 2,0 1,5 1 ) 1 ) Lebar Trotoar (m) 3,5-5,0 3,0 4,0 2,5-3,5 2,0 3,0 1,0-2,0 Prosentase Hijau Jalan 15% 15% 10% 10% 5% Lebar Jalur Parkir (m) - - - 2,5/4,5 2 ) 2,5 2 ) 157
h. RTH Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai penyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika; b. Meresapkan air; c. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota; dan d. Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Guna mengoptimalkan fungsi dan peran kawasan lindung dalam menjaga keseimbangan ekologi di Kota Bengkulu. maka pada saat ini sudah terdapat hutan kota seluas 29,51 Ha. Tujuan dari penyelengaraan Hutan Kota Bengkulu adalah: a. Menekan atau mengurangi peningkatan suhu udara di Kota Bengkulu dan Kawasan sekitarnya. b. Menekan atau mengurangi pencemaran udara (kadar carbon monoksida, ozon, carbon dioksida, nitrogen, belerang dan debu). c. Mencegah terjadinya penurunan air tanah dan air permukaan. Mencegah terjadinya banjir atau genangan, kekeringan dan peningkatan kandungan logam berat dalam air. Hutan kota dapat berbentuk: 1. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal, dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan; 2. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu, dengan luas minimal 2500 M2. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil; 3. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% - 100% dari luas hutan kota; 4. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. 158
Struktur hutan kota terdiri dari: 1. Hutan kota berstrata dua, yaitu hanya memiliki komunitas tumbuh - tumbuhan pepohonan dan rumput; 2. Hutan kota berstrata banyak, yaitu memiliki komunitas tumbuh-tumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput, juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. Gambar 4.3 Pola Hutan Kota Strata 2 Gambar 4.4 Pola Hutan Kota Strata Banyak Kriteria pemilihan vegetasi untuk Hutan Kota adalah : a) memiliki ketinggian yang bervariasi; b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung; c) tajuk cukup rindang dan kompak; d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara; e) tahan terhadap hama penyakit; 159
f) berumur panjang; g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air; h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri; i) batang dan sistem percabangan kuat; j) batang tegak kuat, tidak mudah patah; k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor; l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati, agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah; m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous); n) memiliki perakaran yang dalam. Hutan kota yang telah ada seluas kurang lebih 179,62 hektar di Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kecamatan Selebar, dan akan lebih dikembangkan dengan luas kurang lebih 493,78 hektar. i. RTH Pemakaman Umum dan Swasta Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan. Untuk penyediaan RTH pemakaman, maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: 1. ukuran makam 1 m x 2 m; 2. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 m; 3. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/perkerasan; 4. pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat; 5. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya; 6. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung; 160
7. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. Gambar 4.9 Pola Penanaman Pada RTH Pemakaman Kebutuhan lahan Tempat Pemakaman Umum berdasarkan hasil analisis, didasarkan pada beberapa aspek antara lain : a. Jumlah penduduk Kota Bengkulu dan tingkat mortalitas rata-rata. b. Ketersediaan lahan pada masing-masing kecamatan. c. Alokasi lahan pemakaman umum dilakukan dengan mempertimbangkan radius pelayanan dengan asumsi setiap wilayah kecamatan minimal dilayani oleh 1 (satu) lahan TPU. Arahan pengembangan Tempat Pemakaman Umum adalah: a. Lahan TPU Kota diarahkan pengembangannya di Kelurahan Pagar Dewa dan Kelurahan Air Sebakul, Kecamatan Selebar, alternatif lain yang dapat dikembangkan adalah alokasi TPU Kota pada jalur lepas landas Bandara Fatmawati Soekarno. Hal ini dimaksudakan untuk tetap menjaga jalur lepas landas menjadi areal yang tidak terbangun namun tetap menjadi fasilitas kota. b. Selain itu untuk pelayanan wilayah dan pemenuhan kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau kota, maka TPU juga diarahkan untuk dikembangkan di setiap kecamatan 161
dengan luas yang disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan kepadatan penduduknya. c. Apabila TPU di kecamatan-kecamatan yang berada di Kawasan Pusat Kota sudah penuh maka akan dilayani oleh TPU yang berada pada wilayah lain, sesuai lokasi dan radius ke TPU terdekat. Untuk pengaturan lebihlanjut tentang mekanisme pengelolaan lahan TPU yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang, perlu dilakukan studi khusus dalam bentuk masterplan penyediaan dan pengelolaan TPU, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap daerah, dan terlebih lagi, dapat mengatasi kendala ketersediaan lahan. Pemakaman umum dan swasta yang telah ada di Kota Bengkulu memiliki luas kurang lebih 50,34 hektar yang terletak di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar dan Kecamatan Kampung Melayu. Rencananya RTH ini akan dikembangkan menjadi kurang lebih 60,34 hektar. Sabuk Hijau Selain RTH yang telah disebutkan di atas, Kota Bengkulu juga akan mengembangkan Sabuk Hijau. Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota, pemisah kawasan, dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu, serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. Sabuk hijau dapat berbentuk: RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu, dipenuhi pepohonan, sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah; Sabuk hijau kawasan TPA, sabuk hijau kawasan Industri, sabuk hijau sempadan sungai dan waduk buatan Hutan kota; Kebun campuran, perkebunan, pesawahan, yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum, dipertahankan keberadaannya. 162
Fungsi lingkungan sabuk hijau: Peredam kebisingan; Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari; Penapis cahaya silau; Mengatasi penggenangan; daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. Penahan angin; untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang dan lebar jalur. Sabuk hijau yang akan dikembangkan Kota Bengkulu adalah: 1. sabuk hijau Cagar Alam 502,66 hektar yang terdapat di Kecamatan Singaran Pati dan Kecamatan Sungai Serut; dan 2. sabuk hijau Taman Wisata Alam yang terletak di Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Gading Cempaka dan Kecamatan Kampung Melayu. 2. Ruang Terbuka Hijau Privat RTH privat meliputi kawasan seluas kurang lebih 728,74 hektar yang terdiri atas: a. RTH pekarangan rumah tinggal seluas kurang lebih 631,58 ha; b. RTH kawasan peruntukan perdagangan dan jasa seluas kurang lebih 18,22 ha; c. RTH kawasan peruntukan pariwisata seluas kurang lebih 9,57 ha; d. RTH kawasan peruntukan industri seluas kurang lebih 13,52 ha; e. RTH kawasan peruntukan perkantoran seluas kurang lebih 42,15 ha; dan f. RTH kawasan peruntukan lainnya seperti kawasan peruntukan pendidikan kesehatan, peribadatan, pelabuhan dan terminal, dan TPA seluas kurang lebih 13,7 ha. 163
Dalam perkembangannya RTH ini diperkirakan akan seluas kurang lebih 784,21 Ha atau 5,74 Ha persen dari luas kota dan terdiri dari: a. RTH pekarangan rumah tinggal seluas kurang lebih 631,58 ha; b. RTH kawasan peruntukan perdagangan dan jasa seluas kurang lebih 18,22 ha; c. RTH kawasan peruntukan pariwisata seluas kurang lebih 38 ha; d. RTH kawasan peruntukan industri seluas kurang lebih 40,56 ha; e. RTH kawasan peruntukan perkantoran seluas kurang lebih 42,15 ha; dan f. RTH kawasan peruntukan lainnya seperti kawasan peruntukan pendidikan, kesehatan, peribadatan, pelabuhan dan terminal, dan TPA seluas kurang lebih 13,7 ha. Untuk pengembangan RTH pada kawasan budidaya dapat dilihat pada tabel berikut: Fungsi Kawasan Tabel 4.5 Rencana Pengembangan RTH Pada Kawasan Budidaya Fungsi dan Rencana Kebutuhan Pemanfaatan Pengembangan RTH Pengembangan RTH Ruang Terbuka Hijau Kawasan Ruang untuk Pertanian perkotaan Upaya untuk mempertahankan Pertanian pengembangan budidaya yang terletak di kawasan pertanian kota tidak per-tanian kota diarahkan sebagian Kecamatan hanya dalam rangka ketahanan pada lokasi-lokasi yang Gading Cempaka, pangan namun juga sebagai memiliki sarana saluran sebagian Kecamatan bagian dari penataan lansekap irigasi teknis. Ratu Agung dan kota dalam upaya menjaga Upaya untuk mempertahankan kawasan pertanian kota tidak hanya sebagian Keca-matan Sungai Serut, Luas lahan untuk keseimbangan antara lahan terbangun dan lahan tidak terbangun dalam rangka ketahanan pertanian seluas 928,75 pangan namun juga sebagai ha bagian dari penataan lansekap kota dalam upaya menjaga keseimbangan antara lahan terbangun dan lahan tidak terbangun Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Secara umum ruang tidak Pemanfaatan RTH pada Permukiman kawasan permukiman akan di terbangun di kawasan kawasan permukiman (RTH Privat) kembangkan untuk permukiman yang akan merupakan RuSang Terbuka meningkatkan kualitas dikembangkan di seluas Hijau privat di halaman rumah 164
Fungsi Kawasan Fungsi dan Rencana Kebutuhan Pemanfaatan Pengembangan RTH Pengembangan RTH Ruang Terbuka Hijau lingkungan dan estetika 40% dari luas lahan untuk yang harus ditanami dengan kawasan pengembangan kawasan pohon maupun perdu dengan Pada kawasan permukiman RTH dikembangkan sebagai Ruang Terbuka Hijau privat yang dihitung verdasarkan angka koefisien dasar hijau permukiman (7.278,85 ha). Ruang yang tidak terbangun di kawasan permukiman mencakup ketentuan- ketentuan yang akan diatur lebih lanjut sesuai dengan besarnya kapling serta arahan daripada Koefisien Dasar Hijau (KDH) (KDH) yang ditetap-kan setiap lahan seluas 3.004 ha. Pada RTH milik publik dan arahan zonasi dengan ketentuan minimum sebagai berikut Lingkungan dengan kepadatan tinggi, KDH Untuk Ruang Terbuka Hijau publik dikembangkan berdasarkan herarki ruang yang meliputi RTH di bersifat publik dimanfaatkan sebagai ruang sosial budaya masyarakat yang dipadukan dengan fungsi olahraga dan rekreasi serta fungsi pendidikan minimum 10% tingkat tingkat RT, Sedangkan ruang terbuka milik Lingkungan dengan kepadatan sedang, KDH minimum 15% Lingkungan dengan kepadatan rendah KDH minimum 20% tingkat RW, Tingkat Kelurahan, Tingkat Kecamatan dan tingkat kota. Kebutuhan RTH dihitung berdasarkan standar pe-rencanaan privat yang bersifat publik akan diberikan insentif yang akan diatur lebih lanjut didalam peraturan zonasi yang termuat dalam Permen PU No. 5/2008 Kebutuhan di tingkat RT dan RW aan di rencanakan pada rencana tata ruang yang lebih rinci Kebutuhan RTH tingkat kelurahan untuk seluruh kota adalah 47 Ha Kebutuhan RTH tiap kecamatan minimum 2,4 ha. dengan demikian luas RTH tingkat kecamatan di seluruh Kota adalah 165
Fungsi Kawasan Fungsi dan Rencana Kebutuhan Pemanfaatan Pengembangan RTH Pengembangan RTH Ruang Terbuka Hijau 21,6 ha Kebutuhan lahan untuk RTH tingkat kota min 9,4 ha Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Berdasarkan luas Pemanfaatan Ruang Terbuka Perdagangan kawasan perdagangan dan kawasan perdagangan Hijau dan non hijau di kawasan dan Jasa jasa di kembangkan untuk dan jasa yang akan perdagangan diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan dikembangkan sesuai kegiatan : ruang serta peningkatan kualitas lingkungan serta estetika kawasan Pada kawasan perdagangan dan jasa Ruang Terbuka Hijau dikembangkan sebagai Ruang Terbuka Hijau semi publik privat yang dihitung berdasarkan angka koefisien dasar hijau (KHD) yang ditetapkan setiap arahan zonasi dengan ketentuan minimum : Lingkungan dengan kepadatan tinggi, KDH dengan pola ruang kota,maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata kurang lebih 15% dari luas kawasan perdagangan dan jasa. Dengan demikian maka luas RTH semi publik yang akan di kembangkan adalah : 167,02 ha dari luas kawasan perdagangan dan jasa seluas 1.113,2 ha kawasan perdagangan dan jasa o Penanaman pohon-pohon peneduh yang dapat menciptakan terbentuknya pengikliman mikro ruang kawasan perdagangan dan jasa dan meningkatkan kenyamanan ruang o Perdagangan dan jasa khusus untuk penyediaan ruang ruang restoran ruang luar o Plasa sebagai ruang berkumpulnya masyarakat umum minimum 10% Lingkungan dengan kepadatan sedang, KDH minimum 15% Lingkungan dengan kepadatan rendah KDH minimum 20% Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Berdasarkan luas Pemanfaatan Ruang Terbuka Perkantoran kawasan perkantoran kawasan perkantoran Hijau dan Non Hijau di kawasan Pemerintah pemerintah baik di pusat kota pemerintah yang akan pemerintahan diarahkan untuk maupun di Bentiring di dikembangkan sesuai kegiatan : kembangkan untuk meningkatkan kenyamanan ruang serta peningkatan kualitas lingkungan serta estetika dengan pola ruang kota maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata o Penanaman pohon-pohon peneduh yang dapat menciptakan terbentuknya pengikliman mikro ruang 166
Fungsi Kawasan Fungsi dan Rencana Kebutuhan Pemanfaatan Pengembangan RTH Pengembangan RTH Ruang Terbuka Hijau kawasan kurang lebih 20-40% dari kawasan pusat peme- Untuk meningkatan fungsi ruang pelayanan publik, RTH di kawasan pemerintahan luas kawasan perkantoran pemerintah seluas 111,01 ha. rintahan meningkatkan kenyamanan ruang o Untuk penyediaan sosial dimanfaatkan sebagai ruang Dengan demikian maka budaya bagi masyarakat sosial budaya luas RTH publik (hijau dan non hijau) yang akan di kembangkan pada kawasan pemeritahan kurang lebih 23 ha sampai dengan 46 ha Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Berdasarkan luas Pemanfaatan Ruang Terbuka Pendidikan kawasan pendidikan tinggi di kawasan pendidikan tinggi Hijau dan non hijau di kawasan Tinggi kembangkan untuk yang akan dikembangkan pendidikan tinggi meningkatkan kenyaman-an ruang serta peningkat-an kualitas lingkungan serta estetika kawasan. Dalam hal meningkatan fungsi ruang pendidikan tinggi, RTH di kawasan pemerintahan dimanfaat-kan sebagai ruang sosial budaya, penelitian dan estetika lingkungan sesuai dengan pola ruang kota (176,85 ha) maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata kurang lebih 40 60% dari luas kawasan pendidikan tinggi Denga demikian maka luas RTH publik yang akan di kembangkan Penanaman pohon-pohon peneduh yang dapat menciptakan terbentuknya pengikliman mikro ruang kawasan pendidikan tinggi dan meningkatkan kenyamanan ruang kurang lebih 70,74 ha sampai dengan 106 ha Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Berdasarkan luas Pemanfaatan Ruang Terbuka Pariwisata kawasan pariwisata di kawasan pariwisata yang Hijau dan non hijau di kawasan kembangkan untuk me- akan dikembangkan pariwisata diarahkan untuk ningkatkan kenyamanan ruang sesuai dengan pola ruang kegiatan : serta peningkatan kualitas lingkungan serta estetika kawasan. Kawasan pariwisata pantai panjang, pengembangan Ruang Terbuka Hijau dilakukan untuk mitigasi bencana tsunami berupa kota (150,65 ha) maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata kurang lebih 60-80% dari luas kawasan pariwisata Luas RTH publik yang akan di kembangkan o Rekreasi aktif berupa Kegiatan rekreasi ruang luar o Penanaman pohon-pohon peneduh dan pengaman sempadan pantai yang dapat menciptakan terbentuknya pengikliman mikro ruang kawasan pariwisata serta 167
Fungsi Kawasan Fungsi dan Rencana Kebutuhan Pemanfaatan Pengembangan RTH Pengembangan RTH Ruang Terbuka Hijau pohon di sepadan pantai kurang lebih 90,36 ha meningkatkan kenyamanan Dalam hal meningkatan fungsi sampai dengan 120,48 ha ruang ruang kota, RTH di kawasan pariwisata dimanfaatkan sebagai ruang sosial budaya, dan estetika lingkungan Kawasan Ruang Terbuka Hijau di Berdasarkan luas Pemanfaatan Ruang Terbuka Industri dan kawasan industri dikem- kawasan industri dan Hijau dan non hijau di kawasan Pergudangan bangkan untuk barier / pergudangan yang akan industri dan pergudangan pembatas kawasan indus-tri dikembangkan sesuai diarahkan dengan penanaman dengan lingkungan sekitarnya. dengan pola ruang kota pohon- pohon peneduh yang Kawasan industri di tepi pantai, pengembangan Ruang Terbuka Hijau dilakukan untuk mitigasi bencana tsunami berupa pohon di sepadan pantai Dalam hal meningkatan fungsi ruang kota, RTH di kawasan pariwisata dimanfaatkan untuk meningkatkan estetika lingkungan maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata kurang lebih 20 30% dari luas kawasan industri dan pergudangan (1.459,51 ha) Dengan demikian maka luas RTH yang akan dikembangkan kurang lebih 291 ha sampai dengan 437,85 ha dapat menciptakan terbentuknya pengikliman mikro ruang kawasan industri dan pergudangan dalam upaya untuk meningkatkan kenyamanan ruang Kawasan Hijau RTH Kawasan hijau binaan Binaan dikembangkan secara khusus untuk Fungsi olahraga dan rekreasi baik di tingkat kecamatan maupun tingkat kota. Secara khusus RTH ini juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas kenyaman ruang melalui pembentukan iklim mikro kawasan Sumber : Hasil Rencana, 2011 Berdasarkan luas kawasan hijau binaan yang akan dikembangkan sesuai dengan pola ruang kota maka Ruang Terbuka Hijau yang harus disediakan rata rata kurang lebih 80 90 % dari luas kawasan hijau binaan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau dan Non Hijau di kawasan olahraga dan rekreasi diarahkan untuk kegiatan : o Rekreasi ruang terbuka aktif o Perdagangan dan jasa yang berorientasi kepada rekreasi 168
4.1.4. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.68/Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, bahwa Kawasan Cagar Alam termasuk dalam kategori kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sehingga Kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar di Kota Bengkulu ini termasuk dalam Kawasan Lindung Suaka Alam. Kawasan suaka alam ini bertujuan untuk melindungi perkembangan flora dan fauna yang khas dan beraneka ragam. Kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, daerah perlindungan satwa dan daerah pengungsian satwa. Kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar di Kota Bengkulu merupakan kawasan yang dalam PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Nasional.Tujuan perlindungan terhadap cagar alam (sebagai bagian dari kawasan suaka alam) adalah untuk melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. Kawasan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai di Kota Bengkulu, dengan luas 967,20 Ha berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 termasuk dalam Kategori Kawasan Pelestarian Alam. Kawasan suaka alam dan cagar budaya Kota Bengkulu meliputi: a. Kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar Reg.61 dengan luas kurang lebih 545 hektar di Kecamatan Singaran Pati; b. Taman Wisata Alam Pantai Panjang Pulau Baai Reg.91 seluas kurang lebih 967,2 Ha di Kecamatan Gading Cempaka dan Kecamatan Kampung Melayu; c. Kawasan Kampung Cina, Benteng Marlborough dan Tapak Paderi dengan dengan luas kurang lebih 5,2 hektar di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara; d. Kawasan Persada Bung Karno dengan luas kurang lebih 2,01 hektar di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Teluk Segara; e. Kawasan Taman Makam Sentot Ali Basyah dengan luas kurang lebih 0,7 hektar di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara; 169
f. Kawasan Masjid Jamik dengan luas kurang lebih 0,75 hektar di Kelurahan Pintu Batu, Kecamatan Teluk Segara; dan g. Kawasan Wisata Tabot dengan luas kurang lebih 3,46 hektar di Kelurahan Sawah Lebar, Kecamatan Teluk Segara. 4.1.4. Kawasan Rawan Bencana Memperhatikan kondisi Kota Bengkulu, kawasan rawan bencana meliputi kawasan rawan bencana tsunami dan kawasan rawan bencana banjir. Meskipun memiliki resiko keamanan, kawasan ini tidak seutuhnya tidak dapat dibangun, melainkan pemanfaatannya harus disertai dengan upaya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam. Perlu dilakukan kajian untuk mengidentifikasi daerah bahaya berdasarkan kemungkinan tingkat kerusakan yang akan terjadi. Kawasan rawan bencana masing-masing ditetapkan sebagai berikut: a. Kawasan rawan bencana tsunami meliputi kawasan sepanjang pantai di Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Ratu agung, Kecamatan Gading Cempaka, Kecamatan Sungai Serut, dan Kecamatan Kampung Melayu. b. Kawasan rawan bencana banjir meliputi sepanjang Jl. Irian di Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Sungai Serut, sebagian Kelurahan Rawa Makmur dan Kelurahan Rawa Makmur Permai, Kecamatan Kampung Melayu. Kawasan Rawan Bencana Banjir Kawasan rawan banjir di Kota Bengkulu adalah di sepanjang Jl. Irian tepatnya di Kelurahan Tanjung Agung sudah dilakukan upaya untuk mencegah dan mengurangi dampak merugikan melalui pembuatan pintu-pintu air yang dilengkapi dengan pompa air, peninggian Jl. Irian sebagai tanggul untuk mengatasi meluapnya Sungai Air Bengkulu. Untuk lebih memaksimalkan upaya pencegahan banjir di lokasi tersebut perlu dilakukan upaya lebih jauh berupa pembuatan danau buatan (polder) sebagai penampung banjir. Pembuatan polder diintegrasikan dengan upaya pengembangan pariwisata dan budidaya pertanian dan perikanan kota. Secara khusus pengelolaan kawasan rawan bencana banjir dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 170
a. Pencegahan terjadinya banjir melalui pengembangan polder pengendali banjir yang terpadu dengan pengembangan pintu air dan pompa air di Sungai Air Bengkulu serta revitalisasi Danau Dendam Tak Sudah; b. Pada kawasan banjir yang sudah terbangun perlu dilakukan kajian untuk merelokasi penduduk yang bermukim di kawasan rawan banjir; c. Pada lahan yang belum terbangun dilakukan dengan melarang atau member-lakukan disinsentif pengembangan ruang pada kawasan rawan banjir. Dalam hal terjadi bencana banjir, ruang evakuasi yang disediakan adalah: 1. Gedung Sekolah Dasar di Kelurahan Tanjung Jaya Kecamatan Sungai Serut; 2. Gedung Sekolah Menengah Pertama di Kelurahan Semarang Kecamatan Sungai Serut; 3. Gedung Kantor Pemerintah Kota di Kelurahan Semarang Kecamatan Teluk Segara; Kawasan Rawan Bencana Tsunami Untuk mengurangi korban jiwa dan dampak kerusakan dari gejala alam ini diperlukan sebuah kajian mitigasi bencana yang diwujudkan ke dalam pemetaan rawan bencana, rencana penetapan bangunan penyelamat (escape building), rencana jalur penyelamatan/evakuasi (escape road), dan rencana lokasi penyelamatan darurat (shelter). Dengan demikian diharapkan dampak dari bencana tersebut paling tidak dapat diminimalisir sedini mungkin, baik pada saat kejadian maupun pada saat pasca kejadian. Dengan demikian maka perlu dilakukan kajian untuk mengidentifikasi Identifikasi daerah bahaya berdasarkan kemungkinan tingkat kerusakan yang akan terjadi, Mengidentifikasi bangunan umum terdekat yang dapat dijadikan sebagai bangunan perlindungan (escape building), dan Mengidentifikasi jalur-jalur jalan yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri (escape road) menuju bangunan perlindungan. Morfologi tanah Kota Bengkulu pada umumnya bergelombang. Di satu sisi kondisi ini menguntungkan karena akan menghambat/mereduksi kekuatan gelombang tsunami. Di sisi lain morfologi tanah yang bergelombang menciptakan adanya cekungan-cekungan tanah yang akan menjebak air tsunami. Dalam upaya untuk mitigasi bencana tsunami maka didalam RTRW kota ini perlu dilakukan penetapan zona bahaya yang menjadi dasar untuk mengarahkan pemanfaatan ruang selanjutnya. 171
Penetapan zona bahaya dilakukan sebagai berikut : Zona bahaya didasarkan atas Permukiman yang berada di sekitar pantai dengan ketinggian di bawah 10 m diperkirakan akan hancur diterjang gelombang tsunami. Selanjutnya kawasan ini disebut sebagai kawasan bahaya I. Permukiman (dengan konstruksi permanen) yang berada pada ketinggian di atas 10 m diperkirakan juga akan terkena gelombang tsunami, namun tidak sampai hancur. Kawasan ini selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bahaya II. Kekuatan gelombang tsunami pada saat mencapai kawasan ini diperkirakan sudah berkurang hingga di bawah 50% karena sudah terhambat oleh bangunan-bangunan yang berada di kawasan Bahaya I. Permukiman yang berada di daerah cekungan kemungkinan akan terendam selama beberapa waktu oleh air tsunami yang terjebak di dalamnya beserta dengan berbagai material yang dibawanya. Air tsunami ini akan mematikan semua jenis tanaman, hewan dan bahkan orang yang sempat menghirupnya. Sehubungan dengan itu kawasan seperti ini selanjutnya akan disebut sebagai Kawasan Bahaya Ib. Setelah melalui Kawasan Bahaya II kekuatan gelombang tsunami terus menurun namun masih akan mengalir ke arah pedalaman seperti air banjir biasa. Pengalaman di Banda Aceh yang morfologinya sangat datar, air banjir seperti ini mencapai jarak 2,6 Km dari garis pantai. Di Kota Bengkulu diperkirakan air banjir seperti ini akan mengalir hingga 1,5 Km dari pantai. 4.2. RENCANA KAWASAN BUDIDAYA Kawasan budidaya didefinisikan sebagai kawasan yang dimanfaatkan secara terencana dan terarah sehingga dapat berdayaguna dan berhasilguna bagi hidup dan kehidupan manusia. Rencana pengembangan kawasan budidaya ini merupakan upaya untuk mengendalikan alih fungsi guna lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. 4.2.1. Kawasan Peruntukan Perumahan Arahan pengembangan kawasan permukiman di Kota Bengkulu tetap mengacu pada kecenderungan perkembangan saat ini, dan gejala pertumbuhan kawasan permukiman pada kawasan-kawasan potensial sebagai akibat terstimulasi oleh program pembangunan pemerintah kota. 172
Untuk menciptakan lingkungan permukiman yang nyaman (kecuali kawasan perumahan di pusat kota yang telah terbentuk), maka pada kawasan pusat kota dan sepanjang pantai tidak direkomendasikan untuk pengembangan permukiman dengan kepadatan sangat tinggi (>75%). Ini dilakukan mengingat luas wilayah Kota Bengkulu saat ini masih memungkinkan untuk ditata dengan baik hingga beberapa tahun ke depan. Dalam rangka realisasi tersebut, maka diperlukan langkah-langkah kongkrit sebagai berikut: 1. Pemberlakuan maksimum KDB 60% pada setiap bangunan baru yang akan dibangun. 2. Demikian pula halnya dengan densitas bangunan per satuan lahan (Ha), disesuaikan secara proporsional terhadap KDB dan alokasi ruang untuk prasarana lingkungan (jaringan jalan, drainase, dan pedestrian). 3. Pekarangan yang ada, diarahkan pemanfaatannya bagi penanaman vegetasi baik berupa tanaman produktif maupun tanaman hias. 4. Kawasan permukiman tidak memiliki akses langsung ke jalan arteri dan kolektor, tetapi secara hirarkis dihubungkan oleh jalan-jalan lingkungan. 5. Kawasan permukiman lama diarahkan dengan intensifikasi penggunaan lahan, menggunakan teknik dan instrumen yang sesuai. 6. Kawasan permukiman di kawasan baru (kawasan pengembangan) diarahkan dengan ekstensifikasi menggunakan teknik dan instrumen seperti guided land development dan insentif pengadaan akses serta infrastruktur. Dengan demikian, distribusi pengaturan kepadatan kawasan permukiman adalah sebagai berikut : a. Kawasan perumahan kepadatan tinggi dengan luas kurang lebih 2.854,47 hektar terdapat meliputi Kelurahan Jitra, Kelurahan Pasar Melintang, Kelurahan Pondok Besi, Kelurahan Kebun Ross, Kelurahan Pintu Batu, Kelurahan Tengah Padang, Kelurahan Bajak, dan Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Teluk Segara; Kelurahan Kelurahan Tanah Patah, Kelurahan Kebun Tebeng, Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kelurahan Sawah Lebar, Kelurahan Nusa Indah, Kelurahan Kebun Kenanga, Kelurahan Kebun Beler, Kecamatan Ratu Agung; Kelurahan Anggut Bawah, Kelurahan Penurunan, Kelurahan Padang Jati, Kelurahan Belakang Pondok; Kelurahan Pengantungan, Kelurahan Kebun Dahri, Kelurahan Kebun Geran, Kelurahan Anggut Atas, dan Kelurahan Anggut Dalam Kecamatan Ratu Samban; Kelurahan Padang Harapan, Kelurahan Jalan Gedang, dan Kelurahan Cempaka Permai, Kecamatan Gading Cempaka; Kelurahan Suka Merindu, Kecamatan Sungai 173
Serut; serta Kelurahan Panorama, Kelurahan Jembatan Kecil, Kelurahan Dusun Besar dan Kelurahan Padang Nangka, Kecamatan Singaran Pati; b. Kawasan peruntukan perumahan kepadatan sedang dengan luas kurang lebih 2.924,61 hektar di Kelurahan Sidomulyo, Kelurahan Lingkar Barat, Kecamatan Gading Cempaka; Kelurahan Beringin Raya, Kelurahan Rawa Makmur, Kelurahan Kandang Limun, Kelurahan Pematang Gubernur, Kelurahan Bentiring, dan Kelurahan Bentiring Permai, Kecamatan Muara Bangkahulu; Kelurahan Surabaya dan Kelurahan Semarang, Kecamatan Sungai Serut; Kelurahan Lingkar Timur dan Kelurahan Timur Indah, Kecamatan Singaran Pati; Kelurahan, Kecamatan Selebar; serta Kelurahan Padang Serai, Kelurahan Kandang, Kelurahan Kandang Mas, dan Kelurahan Muara Dua Kecamatan, Kampung Melayu; c. Kawasan peruntukan perumahan kepadatan rendah dengan luas kurang lebih 1.054,91 hektar di Kelurahan Pekan Sabtu, Kelurahan Sukarami, Kelurahan Bumi Ayu dan Kelurahan Pagar Dewa, Kecamatan Selebar; Kelurahan Teluk Sepang dan Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu; Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung; Kelurahan Kebun Keling, Kelurahan Malabero, Kelurahan Sumur Meleleh, dan Kelurahan Berkas, Kecamatan Teluk Segara; Kelurahan Tanjung Jaya, Kelurahan Tanjung Agung, Kelurahan Kampung Kelawi, dan Kelurahan Pasar Bengkulu, Kecamatan Sungai Serut; Kelurahan Rawa Makmur, Kelurahan Rawa Makmur Permai, dan Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Muara Bangkahulu. Komponen pengembangan kawasan permukiman di Kota Bengkulu meliputi pembangunan baru, perbaikan, dan peningkatan kualitas lingkungan, peremajaan dan pemugaran: 1. Pembangunan baru permukiman menerapkan konsep hunian berimbang perumahan ukuran besar, sedang, kecil yaitu 1 : 3 : 6, sedangkan pengadaannya dilakukan oleh swasta, pemerintah, dan masyarakat. Sektor swasta didorong agar secara berimbang mengembangkan seluruh segmen perumahan ukuran besar, sedang, maupun kecil. Pengadaan permukiman untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di pusat kota perlu diprogramkan dengan berbagai instrumen yang tepat seperti urban renewal, konsolidasi lahan, land readjusment, maupun revitalisasi. 174
2. Perbaikan rumah dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan merupakan bagian dari program perumahan, khususnya untuk perumahan dan kawasan kumuh. 3. Peremajaan dilakukan pada kawasan pusat kota yang memiliki nilai ekonomi ruang sangat tinggi dan merupakan kawasan kumuh. Optimasi pemanfaatan ruang dilakukan dengan konsep peremajaan kawasan dengan pengembangan rumah susun terbatas (mempertimbangkan kerawanan gempa). 4. Pola pemugaran dilakukan pada kawasan permukiman lama yang memiliki nilai sejarah terhadap perkembangan kota. Pola pemugaran ini di tetapkan pada Kawasan Pencinaan. Konsep pemugaran dilakukan dengan melestarikan bangunanbangunan cagar budaya yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh masyarakat. 4.2.2. Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa Sektor perdagangan dan jasa merupakan kegiatan pemicu utama pengembangan kawasan. Dengan demikian untuk mempercepat pertumbuhan Kota Bengkulu, maka perlu dipacu perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa yang berorientasi pada pelayanan kota dan regional untuk wilayah sekitar Kota Bengkulu. Namun demikian perkembangan kegiatan perdagangan harus dapat diantisipasi hingga dua puluh tahun ke depan, terutama pengaturan pemanfaatan lahan untuk masing-masing jenis kegiatan perdagangan. Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa di Kota Bengkulu: 1. Pasar Tradisional dengan luas kurang lebih 7,52 hektar meliputi Kelurahan Lingkar Timur, Kelurahan Bentiring, Kelurahan Pematang Gubernur, Kelurahan Pagar Dewa, Kelurahan Malabero; 2. Pusat Perbelanjaan, dengan luas kurang lebih 895,22 hektar meliputi Kelurahan Anggut Atas, Kelurahan Kebun Geran, Kelurahan Kebun Dahri, Kelurahan Belakang Pondok. 3. Toko Modern, dengan luas kurang lebih 8,51 hektar meliputi Kelurahan Belakang Podok, dan Kelurahan Penurunan. 175
Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di Kota Bengkulu dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi Kota Bengkulu di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan peran serta fungsi Kota Bengkulu dalam lingkup regional. Arahan rencana pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di Kota Bengkulu dilakukan sebagai berikut : 1. Mengembangkan pasar tradisional yang meliputi Pasar Minggu, Pasar Baru, Pasar Panorama, Pasar Pagar Dewa, dan Pasar Bentiring; 2. Mengembangkan fasilitas perdagangan terpadu antara pasar tradisonal dan pasar modern sesuai dengan kebutuhan dan jangkauan pelayanannya; 3. Mendorong pengembangan bangunan dan kawasan multi-fungsi bertaraf nasional di pusat kota; 4. Mengarahkan pengembangan bangunan perdagangan dan jasa yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai; 5. Meningkatkan dan mengintegrasikan pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa di PPK-I yang berkembang linier mengikuti jalan utama, seperti di Jl. Suprapto, Jl. KZ. Abidin, Jl. Bali, Jl. MT. Haryono sebagai pusat pelayanan kota dengan skala regional. 6. Pengembangan fasilitas perdagangan khsusus yang terintegrasi dengan pengembangan kegiatan pariwisata di Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Fatmawati, Jl. Danau dan Jl. S. Parman. Selain itu juga pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa dengan memanfaatkan bangunan-bangunan cagar budaya di kawasan Kampung Cina; 7. Mengembangkan kawasan perdagangan dan jasa baru di PPK-II dan PPK-III sebagai pemicu pertumbuhan kawasan; 8. Membatasi pengembangan kawasan perdagangan di PPK-IV dan serta pada kawasan yang ditetapkan sebagai KKOP. Kegiatan perdagangan direncanakan tersebar pada beberapa ruas jalan utama Kota Bengkulu, terutama pada ruas-ruas jalan arteri dan kolektor sebagai berikut : 1. Perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional di kembangkan di pusat kota dengan mempertimbangkan kondisi yang sudah berkembang saat ini. Perdagangan dan jasa di pusat kota diarahkan pada pola pengem-bangan berskala blok. Dengan demikian maka pemanfaatan ruang di pusat kota lebih dapat dioptimalkan. Sedangkan pola pengembangan linier yang sudah berkembang di sepanjang koridor 176
utama kota diarahkan pada pola bangunan tunggal dalam upaya untuk membentuk karakter. 2. Pengembangan perdagangan dan jasa di kawasan wisata diarahkan pada perdagangan dan jasa yang menunjang kegiatan pariwisata di Kota Bengkulu 3. Perdagangan lokal dengan skala pelayanan kawasan, pengembangannya diarahkan pada semua Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan memper-timbangkan keserasian antara skala kegiatan dengan lokasi kegiatan. 4. Perdagangan lokal dengan skala pelayanan kota pengembangannya diarahkan pada pusat-pusat Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan memperhatikan arahan pemanfaatan dan sebaran lahan permukiman yang ada di sekitarnya. 5. Perdagangan regional (seperti pasar induk) diarahkan pengembangannya pada koridor-koridor arteri, baik primer maupun sekunder terutama pada kawasan di sekitar Air Sebakul. 6. Skala pelayanan kawasan perdagangan ini selanjutnya diatur dengan intensitas ruang perdagangan yang diatur lebih lanjut di dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR-Kota) dan peraturan zonasi (zoning regulation). Demi terciptanya struktur pelayanan kegiatan perdagangan yang semakin baik pada masa mendatang, maka beberapa langkah kebijakan yang perlu ditempuh Kota Bengkulu yaitu : 1. Tidak mengeluarkan izin baru atau memperpanjang izin usaha bagi kegiatan perdagangan yang tidak sesuai peruntukannya. 2. Pengembangan kawasan perdagangan regional harus memilki interaksi yang cukup kuat dengan kawasan terminal regional dan outlet-outlet transportasi lainnya seperti pelabuhan laut dan bandar udara. 3. Kapling-kapling kawasan perdagangan tidak diijinkan memiliki akses langsung ke jalan arteri primer (harus diarahkan menggunakan akses jalur lambat). 177
4.2.3. Kawasan Peruntukan Perkantoran Arahan kebijakan pengembangan kawasan perkantoran pemerintahan adalah sebagai berikut: 1. Mempertahankan lokasi kawasan pemerintahan tingkat provinsi pada lokasi yang ada saat ini di Jl. Pembangunan dan kawasan Padang Harapan; 2. Mengembangkan ruang terbuka hijau kota dan memadukan dengan kegiatan jasa komersial pada bekas kantor pemerintah di Jl. Basuki rahmat. 3. Pengembangan kawasan perkantoran pemerintahan tingkat kota diarahkan ke Bentiring dengan berorientasi pada: a. Relokasi kawasan perkantoran pemerintahan, khususnya bagi dinas-dinas yang belum memiliki bangunan tetap, pengaturan lokasinya dapat disesuaikan berdasarkan intensitas koordinasi antar instansi. b. Beberapa perkantoran pemerintah seperti Dinas Kehutanan, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, dan seterusnya, disarankan agar letaknya mendekati lokasilokasi yang menjadi daerah/tanggungjawab pembinaannya. c. Alokasi kawasan perkantoran pemerintahan khususnya yang berada pada koridor Jl. S. Parman dan Jl. Basuki Rahmat dapat juga bersifat mix used baik oleh pemerintah maupun swasta. Kawasan peruntukan perkantoran terdiri atas kawasan perkantoran pemerintah dan kawasan perkantoran swasta, masing-masing terdiri atas: 1. Kawasan perkantoran pemerintahan dengan luas kurang lebih 84,68 hektar terdiri atas: a. Kawasan peruntukan perkantoran pemerintahan kota terdapat di Kelurahan Bentiring dan Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu; dan b. Kawasan perkantoran pemerintahan Provinsi terdapat di Jalan Pembangunan Kelurahan Padang Harapan Kecamatan Gading Cempaka, Koridor Jalan S. Parman Kelurahan Padang Jati, Jalan Basuki Rahmat Kelurahan Padang Jati dan Kelurahan Belakang Pondok Kecamatan Ratu Samban. 2. Kawasan perkantoran swasta terdapat di Jalan S. Parman, Jalan Sutoyo Kelurahan Kebun Kenanga dan Kelurahan Padang Jati Kecamatan Ratu Agung. 178
4.2.4. Kawasan Peruntukan Industri Rencana pengembangan kawasan industri dan pergudangan di Kota Bengkulu secara umum dilakukan dengan: 1. Menempatkan dan merelokasi industri besar dan sedang serta industri polutif di pusat kota ke kawasan industri di Kecamatan Kampung Melayu; 2. Mengembangkan industri dan pergudangan untuk menyiapkan peran dan fungsi Kota Bengkulu sebagai pengumpul di Provinsi Bengkulu yang terintegrasi dengan pelabuhan laut dan bandara. 3. Melakukan kerjasama pengembangan industri dengan wilayah di sekitar Kota Bengkulu. 4. Merencanakan lebih detail kawasan industri dan pergudangan yang dikembangkan terpadu dengan palabuhan pulau Baai, stasiun kereta api dan jalan lingkar Kota Bengkulu 5. Kawasan dan zona industri merupakan salah-satu fungsi utama yang akan dikembangkan di Kota Bengkulu dan memiliki prospek yang cukup baik pada masa yang akan datang. 6. Aspek yang sangat mendukung adalah, keberadaan Pelabuhan Pulau Baai yang secara historis telah memainkan peran penting sebagai jalur perhubungan regional dan internasional. Kondisi ini didukung oleh mulai masuknya investasi untuk mengembangkan kawasan pelabuhan dan kawasan sekitarnya. Alokasi rencana pemanfaatan lahan untuk kebutuhan pengembangan industri dalam RTRW Kota Bengkulu ini dilakukan dengan memberikan arahan pengembangan di bagian-bagian lahan yang secara teknis memungkinkan dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor lainnya. Untuk mengakomodir kebutuhan pengembangan kawasan industri hingga tahun 2031, alokasi ruang yang dicadangkan adalah: 1. Kawasan peruntukan industri kecil dan mikro, terdapat di: a. Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung; b. Kelurahan Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara; c. Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara; d. Kelurahan Timur Indah, Kecamatan Singaran Pati; e. Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu; f. Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar. 179
2. Kawasan peruntukan industri menengah seluas kurang lebih 410,27 hektar terdapat di: a. Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu; b. Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar. 3. Kawasan peruntukan industri besar seluas kurang lebih 243,46 hektar terdapat di Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu. Dalam rangka mensukseskan pembangunan kawasan industri pada masa yang akan datang, maka kebijakan pengembangan kawasan industri diarahkan sebagai berikut: 1. Kegiatan produksinya dibangun berdasarkan optimasi pemanfaatan SDA di sekitar Kota Bengkulu dan skill masyarakat setempat. 2. Melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar khususnya dari penduduk setempat. 3. Menghasilkan nilai tambah agregat yang besar. 4. Dapat memicu pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor terkait, di Kota Bengkulu. 5. Mempunyai prospek pasar yang potensial dan berkelanjutan, terutama pasar ekspor. 6. Komponen-komponen kegiatan industri di dalamnya mempunyai prospek kelayakan finansial yang menjanjikan, sehingga hasil kegiatan pembinaan akan dapat mewujudkan kegiatan usaha industri yang secara komersial dapat berjalan dan tumbuh berkembang secara mandiri dan sehat. Pengembangan kawasan industri dan perdagangan selalu berkaitan dengan pergudangan. Pertimbangan di dalam penetapan kawasan pergudangan antara lain : 1. Memiliki sirkulasi yang baik dan terintegrasi dengan sistem transportasi regional. 2. Memilki akses yang baik terhadap outlet (pelabuhan barang) dan kegiatan perdagangan, niaga, atau industri. 3. Kawasan pergudangan diarahkan terintegrasi dengan kawasan utama yang didukungnya, yaitu kegiatan industri, perdagangan dan transportasi. 4. Kawasan pergudangan serta kegiatan utama yang didukungnya terpisah dari kawasan perumahan menggunakan buffer zone berupa jalur hijau dan jaringan jalan dengan lebar 25 50 meter. 180
Pengembangan kawasan pergudangan di Kota Bengkulu diarahkan terpadu dengan Pelabuhan Pulau Baai dan kawasan industri di Kecamatan Kampung Melayu. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk : 1. Peningkatan peran Kota Bengkulu sebagai simpul koleksi dan distribusi dalam sistem perwilayahan regional Provinsi Bengkulu. 2. Operasionalisasi kawasan industri yang akan berdampak pada peningkatan aliran barang, baik bahan baku maupun barang produksi. Peningkatan ini akan berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan kawasan pergu-dangan yang berfungsi sebagai pos transisi dalam proses distribusi barang. 3. Sebagaimana halnya perkembangan kawasan industri, kecenderungan perkembangan kegiatan perdagangan dan niaga dalam skala regional akan memberikan konsekuensi terhadap peningkatan arus barang dalam jumlah besar. 4. Dengan demikian, kebijakan pengembangan kawasan pergudangan diarahkan sebagai berikut : 5. Alokasi kawasan pergudangan ditetapkan dengan mempertimbangkan eksistensi kegiatan dengan skala pelayanan regional yang telah ada (kawasan pusat kota dan sub pusat Pulau Baai). Lokasi kawasan pergudangan harus dapat mengantisipasi perkembangan kawasan industri dan perdagangan pada masa yang akan datang. 4.2.5. Kawasan Pariwisata Pengembangan kegiatan pariwisata dilakuan dengan memperhatikan potensi-potensi wisata yang ada di Kota Bengkulu yang meliputi wisata budaya dan kuliner, wisata alam serta wisata sejarah. Dengan memperhatikan keberadaan potensi wisata tersebut maka kawasan pariwisata yang dikembangkan meliputi: 1. Kawasan pariwisata budaya seluas kurang lebih 7,95 hektar, terdiri atas: a. Kampung di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara; b. Kawasan Benteng Marlborough dan Tapak Paderi di Kelurahan Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara; c. Kawasan Persada Bung Karno di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban; d. Kawasan Taman Makam Sentot Ali Basyah di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara; 181
e. Kawasan Masjid Jamik di Kelurahan Pintu Batu, Kecamatan Teluk Segara; f. Kawasan Wisata Tabot di Kelurahan Sawah Lebar, Kecamatan Ratu Agung. 2. Kawasan pariwisata wisata alam, terdiri atas: a. Wisata alam sepanjang Pesisir Pantai Kota Bengkulu meliputi Kecamatan Muara Bangka Hulu, Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Ratu Samban, Kacamatan Ratu Agung, Kecamatan Gading Cempaka, dan Kecamatan Kampung Melayu. b. Kawasan Danau Dendam Tak Sudah di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati; 3. Kawasan pariwisata buatan seluas kurang lebih 6,26 hektar meliputi Kawasan wisata Bahari di Jalan Pariwisata Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara. Sehubungan dengan keterkaitan yang cukup tinggi antara kawasan pariwisata alam dengan kawasan lindung maka pengelolaan kawasan pariwisata ini harus dilakukan secara hati-hati sehingga dapat mem-pertahankan kelestarian lingkungan dalam upaya untuk pengembangan kegiatan pariwisata yang berkelanjutan. 4.2.6. Kawasan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) Kawasan terbuka non hijau diperlukan dalam upaya penyediaan ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berolahraga dan rekreasi keluarga. RTNH tersebut meliputi kawasan seluas kurang lebih 17,7 hektar terdiri atas: a. Ruang terbuka non hijau berupa pusat kegiatan olahraga di Kecamatan Ratu Samban. Pengembangan pusat kegiatan olahraga ini dilakukan dengan pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang dipersiapkan untuk pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga dan penyelenggaraan even olahraga tingkat nasional dan regional. Penataan kawasan ini, juga diharapkan dapat mengadopsi konsep-konsep kawasan olahraga terpadu, dimana, area di luar stadion (venue) dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan olahraga masyarakat Kota Bengkulu. Sport centre diarahkan dengan konsep yang didominasi oleh ruang terbuka. 182
b. Ruang terbuka non hijau dikembangkan di kawasan pusat kota dengan memanfaatkan Stadion olahraga yang sudah ada saat ini di sekitar Jl. Cendana Kelurahan Sawah Lebar, Kecamatan Ratu Agung. Selain itu dikembangkan juga kawasan olahraga skala sub pusat kota pada masing-masing sub pusat kota dan kawasan olahraga skala lingkungan dikembangkan pada pusat-pusat lingkungan dengan ketentuan: pada tingkat kelurahan bisa terlayani oleh 1 (satu) lapangan olahraga yang dilengkapi dengan lintasan lari, sedangkan pada tingkat RW dan kelurahan minimal tersedia lapangan bola voli dan atau bulutangkis. c. ruang terbuka non hijau berupa lapangan parkir di Jl. Pariwisata Kelurahan Penurunan Kecamatan Ratu Samban. Selain itu areal parkir yang disiapkan secara khusus dalam bentuk ruang terbuka non hijau terdapat pada beberapa gedung perkantoran (pemerintah dan swasta), dengan luas yang relatif kecil. Kemudian direncanakan bangunan-bangunan perdagangan dan jasa dengan luas >1.000 m² harus menyediakan areal parkir dalam bentuk ruang terbuka non hijau, terutama kawasan perkantoran, kawasan pertokoan, mall/plaza maupun kawasan rekreasi. 4.2.7. Ruang Evakuasi Bencana Mitigasi bencana di Kota Bengkulu perlu menjadi pertimbangan didalam penatan ruang mengingat Kota Bengkulu rawan terjadi bencana alam banjir dan tsunami. Perlu dilakukan penetapan kawasan rawan bencana serta upaya mitigasi bencana dan upaya evakuasi. 1. Ruang evakuasi bencana banjir Dalam hal terjadi bencana banjir, ruang evakuasi yang disediakan adalah: a. Gedung Sekolah Dasar di Kelurahan Tanjung Jaya, Kecamatan Sungai Serut; b. Gedung Sekolah Menengah Pertama di Kelurahan Semarang, Kecamatan Sungai Serut; dan c. Gedung Kantor Pemerintah Kota di Kelurahan Semarang, Kecamatan Sungai Serut; 183
Kawasan Rawan Bencana Tsunami Untuk mengurangi korban jiwa dan dampak kerusakan dari gejala alam ini diperlukan sebuah kajian mitigasi bencana yang diwujudkan ke dalam pemetaan rawan bencana, rencana penetapan bangunan penyelamat (escape building), rencana jalur penyelamatan/evakuasi (escape road), dan rencana lokasi penyelamatan darurat (shelter). Dengan demikian diharapkan dampak dari bencana tersebut paling tidak dapat diminimalisir sedini mungkin, baik pada saat kejadian maupun pada saat pasca kejadian. Dengan demikian maka perlu dilakukan kajian untuk mengidentifikasi Identifikasi daerah bahaya berdasarkan kemungkinan tingkat kerusakan yang akan terjadi, Mengidentifikasi bangunan umum terdekat yang dapat dijadikan sebagai bangunan perlindungan (escape building), dan Mengidentifikasi jalur-jalur jalan yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri (escape road) menuju bangunan perlindungan. Morfologi tanah Kota Bengkulu pada umumnya bergelombang. Di satu sisi kondisi ini menguntungkan karena akan menghambat/mereduksi kekuatan gelombang tsunami. Di sisi lain morfologi tanah yang bergelombang menciptakan adanya cekungan-cekungan tanah yang akan menjebak air tsunami. Dalam upaya untuk mitigasi bencana tsunami maka didalam RTRW kota ini perlu dilakukan penetapan zona zona bahaya yang menjadi dasar untuk mengarahkan pemanfaatan ruang selanjutnya. Penetapan zona bahaya dilakukan sebagai berikut: Zona bahaya didasarkan atas Permukiman yang berada di sekitar pantai dengan ketinggian di bawah 10 m diperkirakan akan hancur diterjang gelombang tsunami. Selanjutnya kawasan ini disebut sebagai kawasan bahaya I. Permukiman (dengan konstruksi permanen) yang berada pada ketinggian di atas 10 m diperkirakan juga akan terkena gelombang tsunami, namun tidak sampai hancur. Kawasan ini selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bahaya II. Kekuatan gelombang tsunami pada saat mencapai kawasan ini diperkiran sudah berkurang hingga di bawah 50% karena sudah terhambat oleh bangunan-bangunan yang berada di kawasan Bahaya I. Permukiman yang berada di daerah cekungan kemungkinan akan terendam selama beberapa waktu oleh air tsunami yang terjebak di dalamnya beserta dengan berbagai material yang dibawanya. Air tsunami ini akan mematikan semua jenis tanaman, hewan dan bahkan orang yang sempat menghirupnya. Sehubungan dengan itu kawasan seperti ini selanjutnya akan disebut sebagai Kawasan Bahaya Ib. 184
Setelah melalui Kawasan Bahaya II kekuatan gelombang tsunami terus menurun namun masih akan mengalir ke arah pedalaman seperti air banjir biasa. Pengalaman di Banda Aceh yang morfologinya sangat datar, air banjir seperti ini mencapai jarak 2,6 Km dari garis pantai. Di Kota Bengkulu diperkirakan air banjir seperti ini akan mengalir hingga 1,5 Km dari pantai. Bahaya utama gelombang tsunami timbul dari gelombang yang datang secara frontal terhadap bangunan yang ada dimuka pantai. Selain itu ada bahaya lateral yang datang dari adanya aliran gelombang tsunami yang mengalir melalui jalur jalan raya atau sungai yang posisinya tegak lurus terhadap pantai. Peristiwa tsunami di Kota Banda Aceh menunjukan ketinggian air di tepi pantai mencapai 15 m. Setelah mengalir melalui jalan raya ketinggiannya menurun menjadi 2 m pada jarak 3 km dari pantai dan menurun menjadi 20 cm pada jarak 4 km dari pantai Sedangkan gelombang tsunami yang masuk melalui aliran sungai menurun menjadi 5 m pada jarak 8 Km dari pantai melalui sungai yang berkelok-kelok. Dengan demikian perlu disampaikan beberapa kriteria untuk perencanaan jalur penyelamatan dan bangunan penyelamatan yang akan di kaji lebih lanjut dalam rencana yang lebih rinci. Beberapa kriteria untuk jalur penyelamatan dan bangunan penyelamatan adalah sebagai berikut: a. Kriteria jalur penyelamatan untuk para pengungsi adalah: 1) Jalur yang disarankan untuk digunakan untuk menyelamatkan diri pada saat terjadinya bencana tsunami menuju ke bangunan penyelamatan yang sudah diidentifikasi sebelumnya. 2) Jalur penyelamatan terdiri jalur jalan formal (jalan kota/jalan raya) dan jalan-jalan tikus yang berada diantara bangunan yang biasa digunakan untuk memintas jarak. 3) Jalur jalan formal selain sebagai jalur penyelamatan juga akan berfungsi sebagai saluran gelombang tsunami yang mematikan, karenanya disarankan hanya digunakan pada saat awal setelah gempa sebelum gelombang tsunami datang. b. Kriteria Bangunan penyelamatan untuk evakuasi mempunyai kriteria sebagai: 2) Bangunan umum seperti halnya mesjid, sekolah, pasar atau perkantoran pemerintah yang tidak memiliki tingkat kerahasiaan tinggi seperti halnya bank; 3) Terletak tidak lebih dari 1 km dari konsentrasi penduduk yang harus diselamatkan; 185
4) Terletak pada daerah diperkirakan hanya akan rusak ringan, bila berada di daerah yang diperkirakan akan rusak berat, maka bangunan tersebut harus diperkuat konstruksinya; 5) Terletak pada jaringan jalan yang aksesibel/mudah dicapai dari semua arah dengan berlari/berjalan kaki; dan 6) Setiap orang akan membutuhkan ruang minimum 2 m², sehingga daya tampung bangunan penyelamatan dapat dihitung. Rencana pengembangan Jalur evakuasi dan tempat evakuasi akibat bencana tsunami adalah sebagai berikut; No. Tabel 4.7 LOKASI BERKUMPUL DAN JALUR EVAKUASI DI KOTA BENGKULU LOKASI TITIK CAKUP WILAYAH KETINGGIAN BERKUMPUL EVAKUASI JALUR EVAKUASI 15 20 m dpl Kel. Rawa Makmur Permai Jl. UNIB Raya Kel. Rawa Makmur Jl. Kandang Limun Kel. Beringin Jaya Jl. Bandar Raya 1 Kampus Universitas Bengkulu 2 Kantor Lurah Kampung Kelawi 3 Lapangan Merdeka di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara 4 Mesjid At-Taqwa di Kel. Anggut Bawah, Kec. Ratu Samban 5 Simpang Empat Pantai di Kel. Kebun Kenanga, Kec. Ratu Agung 6 STM Negeri di Kel. Tanah Patah, Kec. Ratu Agung 7 Lapangan Sepakbola Kemuning di Kel. Lempuing, Kec. Ratu Agung 8 Balai Buntar di Kel Jalan Gedang, Kec. Gading Cempala 9 Lapangan Pagar Dewa di Kel. Pagar Dewa Kec. Selebar 14 m dpl Kel. Pasar Bengkulu Kel. Kampung Bali Kel. Kampung Kelawi Kel. Tanjung Agung Kel. Tanjung Jaya 15 m dpl Kel. Pondok Besi Kel. Malabero Kel. Sumur Meleleh Kel. Berkas Kel. Kebon Keling Kel. Tengah Padang 14 m dpl Kel. Penurunan Kel. Anggut Bawah 12,5 m dpl Kel. Penurunan Kel. Kebun Beler Jl. Pasar Bengkulu-Jl. Kalimantan-Jl. Enggano Jl. Pendakian-Jl. Depan Benteng Jl. Depan Lapas-Jl. SMP Carolus Jl. Pasar Barau-Jl. Dalam Pasar Baru Koto II Jl. Pasar Baru-Jl. Nala Jl. Putri Gading Cempaka Jl. Sedap Malam Jl. Kebun Beler 13 m dpl Kel. Lempuing Jl. Batanghari Jl. Kampar 10,5 m dpl Kel. Lempuing Kel. Lingkar Barat 19 m dpl Kel. Lempuing Kel. Padang Harapan 15 dpl Kel. Muara Dua Kel. Kandang Mas Kel. Bumi Ayu Kel. Kandang Jl. Pembangunan Jl. Pariwisata Jl. Ciliwung Jl. Serayur Jl. Cimanuk Jl. Kap. Tendean Jl. Natadirja Jl. Ir. Rustandi Sugiarto 10 Lapangan Pesantren 20 m dpl Kel. Jembatan Kecil Jl. Jembatan Kecil 186
No. LOKASI TITIK BERKUMPUL Pancasila di Kel. Jembatan Kecil, Kel. Singaran Pati 11 Terminal Betungan di Kel. Betungan, Kec. Selebar 12 Simpang Empat Nakau, di Kel. Surabaya, Kec. Sungai Serut 13 Kompleks perkantoran Pemerintah Kota Bengkulu di Kec. Muara Bangkahulu KETINGGIAN CAKUP WILAYAH EVAKUASI Kel. Sawah Lebar Kel. Kebun Tebeng 20 m dpl Kel. Padang Serai Kel. Sumber Jaya Kel. Bumi Ayu Kel. Teluk Sepang 21 m dpl Kel. Tanjung Agung Kel. Tanjung Jaya Kel. Semarang Kel. Surabaya Kel. Bentiring Kel. Bentiring Permai Kel. Beringin Raya Kel. Kandang Limun Kel. Rawa Makmur Kel. Rawa Makmur Permai JALUR EVAKUASI Jl. Gunung Bungkuk Jl. Merapi Jl. Danau Jl. Raya Betungan Jl. Dua Jalur Simpang Kandis Jl. Irian Jl. Halmahera Jl. Danau Jl. Kalimantan Jl. Budi Utomo Menuju Jalan WR Supratman 14 Kompleks STQ Air Sebakul di Kel. Air Sebakul, Kec. Selebar dan Stadion Semarak di Kel. Sawah Lebar, Kec. Ratu Agung Ruang berkumpul akhir Sumber : Dinas Tata Kota dan Pengawasan Bangunan Kota Bengkulu, 2008. 4.2.8. Kawasan Peruntukan Ruang bagi Sektor Informal Rencana pengembangan kawasan peruntukan ruang bagi sektor informal ditetapkan di kawasan Pasar Barokoto di Kelurahan Malabero, di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara dan di sepanjang koridor Jalan Soeprapto, Kecamatan Ratu Samban. 4.2.9. Kawasan Pendidikan Tinggi Rencana lokasi pengembangan kawasan pendidikan ke depan tetap mengacu pada kecenderungan polarisasi kawasan pendidikan yang terjadi saat ini, terutama pendidikan tinggi. Ketersediaan lahan cadangan yang masih luas, memungkinkan perluasan kawasan pendidikan dapat terjadi sewaktu-waktu. Sementara untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah (TK hingga SMU) penyebarannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah baik di tingkat PPK, Kecamatan maupun lingkungan. 187
Alokasi pemanfaatan ruang untuk pendidikan tinggi didasari oleh pertimbangan sebagai berikut : 1. Pengembangan kawasan pendidikan tinggi selain sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM, juga sebagai sarana untuk membatasi penumpukkan jumlah penduduk di kawasan pusat kota. 2. Rencana pengembangan kawasan industri dalam skala besar dan pengembangan kegiatan di sekitar Kota Bengkulu khususnya di sektor pertanian dan perkebunan, pariwisata, pemerintahan serta perdagangan dan jasa, akan membuka peluang bagi tenaga kerja trampil dan berkualitas dalam jumlah besar, sehingga peran perguruan tinggi sebagai penghasil SDM siap pakai sangat penting. Suatu daerah yang memahami kekuatan ini, dan mampu membuat kerangka kerja yang baik untuk bekerja dengan industri-industri kunci, lembaga pendidikan dan pelatihan, dan berbagai penyedia layanan pendidikan lainnya, maka daerah ini akan lebih berhasil dalam menciptakan industri-industri yang maju dan lebih berhasil dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang berkualitas bagi penduduknya. 3. Lokasi kawasan pendidikan tinggi saat ini telah tersebar di beberapa tempat yaitu Universitas Bengkulu terletak di Kecamatan Muara Bangkahulu, sebagian terletak di Kecamatan Gading Cempaka dan sebagian lagi terletak di Kecamatan Teluk Segara. Oleh karena itu, mengingat potensinya yang cukup strategis untuk menahan pertambahan penduduk di pusat kota, maka perlu dipertimbangkan untuk: a. Arahan Pusat Pendidikan Tinggi Lokasi pusat pendidikan tinggi diarahkan pada pengembangan di pinggiran kota yaitu: Kecamatan Muara Bangkahulu meliputi Kelurahan Beringin Raya dan Kelurahan Kandang Limun seluas kurang lebih 131,2 hektar; Kecamatan Selebar meliputi Kelurahan Sumur Dewa seluas kurang lebih 120,79 hektar;dan Kawasan pendidikan tinggi swasta Kecamatan Teluk Segara meliputi Kelurahan Kampung Bali dan Kelurahan Kebun Ros seluas kurang lebih 0,84 hektar. b. Arahan Kegiatan di Kawasan Pusat Pendidikan Tinggi Kampus bidang pendidikan terkait; Laboratorium, lahan percontohan; Perumahan untuk dosen, karyawan, asrama dan rumah kost bagi mahasiswa; 188
Pusat pelayanan jasa, perdagangan, student centre, hotel, gedung serbaguna, dan gedung olahraga. Kapling-kapling di kawasan pendidikan tinggi tidak langsung meng-gunakan akses ke jalan arteri dan kolektor, tetapi dihubungkan menggunakan jaringan jalan lingkungan secara hirarkis. 4. Dalam rangka mensukseskan program penghijauan pada seluruh elemen lingkungan kota, kawasan pendidikan dapat juga dikembangkan sebagai kawasan hijau baik untuk tujuan estetika maupun ekologi kota. 4.2.10. Kawasan Peruntukan Pertanian Ruang untuk pengembangan budidaya pertanian kota diarahkan pada lokasi-lokasi yang memiliki sarana saluran irigasi teknis. Upaya untuk mempertahankan kawasan peranian kota tidak hanya dalam rangka ketahanan pangan namun juga sebagai bagian daripada penataan lansekap kota dalam upaya menjaga keseimbangan antara lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Pertanian perkotaan yang terletak di sebagian Kecamatan Gading Cempaka, sebagian Kecamatan Ratu Agung dan sebagian Kecamatan Sungai Serut, khususnya pada ruang yang terletak di sekitar Danau Dendam Tak Sudah tetap dipertahankan dan sebagian dikembangkan sebagai untuk pengembangan polder yang dipadukan dengan pengembangan perikanan air tawar. Dalam RTRW ini, kawasan peruntukan pertanian terdiri atas: 1. Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan seluas kurang lebih 670,41 hektar, terletak di Kelurahan Bentiring, Kelurahan Beringin Raya, Kelurahan Kandang Limun, dan Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kelurahan Dusun Besar dan Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kelurahan Surabaya, Kelurahan Semarang dan Kelurahan Tanjung Jaya, Kecamatan Sungai Serut 2. Kawasan peruntukan pertanian holtikultura terletak di Kelurahan Tanah Patah dan Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung. 4.2.11. Kawasan Peruntukan Perikanan Kawasan peruntukan perikanan Kota Bengkulu terbagi dalam 3 (tiga) kawasan, yaitu: 1. Kawasan peruntukan perikanan tangkap 189
Kawasan perikanan tangkap di laut selanjutnya disebut perikanan laut, dengan jalur penangkapan ikan dengan batas 0 (nol) sampai 4 (empat) mil laut di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara, Kelurahan Pasar Bengkulu Kecamatan Sungai Serut, dan Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu. Sarana dan prasaranan penunjang kegiatan perikanan tangkap meliputi TPII Pulau Baai di Kelurahan Sumberjaya Kecamatan Kampung Melayu, stasiun karantina ikan di Kelurahan Pekan Sabtu Kecamatan Selebar. 2. Kawasan peruntukan perikanan budidaya seluas kurang lebih 262,87 hektar, terdiri atas: a. Kawasan perikanan budi daya air tawar terletak di Kelurahan Muara Dua dan Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu; b. Kawasan perikanan budi daya air payau di Kelurahan Padang Serai dan Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu; dan c. Sarana dan prasarana perikanan budi daya meliputi Balai Benih di Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Kampung Melayu. 3. Kawasan peruntukan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, terdiri dari: a. Pengolahan hasil perikanan meliputi pengolahan ikan di Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu dan Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara; b. Kawasan pemasaran hasil perikanan meliputi tempat pemasaran ikan Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Sungai Serut. 4.2.12. Kawasan Peruntukan Pertahanan dan Keamanan Negara Kawasan pertahanan dan keamanan negara seluas kurang lebih 39,54 hektar terdiri atas: a. Komando resort militer di Jl. Indragiri, Kelurahan Padang Harapan, Kecamatan Gading Cempaka; b. Kompleks Batayon Infantri di Jl. Zaenal Arifin, Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati; c. Lantanal di Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu; d. Kompleks Brigade Mobil Polri di Kelurahan Surabaya, Kecamatan Sungai Serut; dan e. Polda di Jl. Adam Malik Kelurahan Cempaka Permai, Kecamatan Gading Cempaka. 190
Tabel 4.8 Rencana Peruntukan Lahan Kota Bengkulu Tahun 2031 NO. RENCANA POLA RUANG LUAS (Ha) % Kawasan Lindung 1 Cagar Alam 545.04 3.59 2 Cagar Budaya 7.98 0.05 3 Danau 57.99 0.38 4 Hutan Kota 179.63 1.18 5 Rawan Bencana Banjir 123.25 0.81 6 Sempadan Danau 18.65 0.12 7 Sempadan Pantai 880.10 5.80 8 Sempadan Sungai 765.72 5.05 9 Sungai 855.18 5.64 10 Taman Kota 23.48 0.15 11 Taman Wisata Alam 353.39 2.33 12 TPU 60.34 0.40 3,870.74 25.51 Kawasan Budidaya LUAS (Ha) % 1 Bandar Udara 240.13 1.58 2 Budidaya Perikanan 262.88 1.73 3 Industri 676.03 4.46 4 IPLT/TPA 16.32 0.11 5 Kawasan Pelabuhan 398.43 2.63 6 Kawasan Pelayanan Kesehatan 22.20 0.15 7 Pariwisata 95.78 0.63 191
8 Pemerintahan 110.34 0.73 9 Pendidikan 220.92 1.46 10 Pendidikan Menengah & Olahraga 17.28 0.11 11 Perdagangan dan Jasa 911.26 6.01 12 Perkantoran 69.54 0.46 13 Persawahan 732.42 4.83 14 Perumahan 7,490.39 49.37 15 RTNH 20.73 0.14 16 Stasiun Kereta Api 15.33 0.10 11,299.95 74.49 Jumlah 15,170.68 100.00 192
Tabel 4. Rencana Pola Ruang dan Pemanfaatan Ruang NO. RENCANA POLA RUANG PEMANFAATAN RUANG LUAS BARU (Ha) LUAS BARU (Ha) 1 Bandar Udara Kawasan Bandar Udara 240,133 240,133 2 Budidaya Perikanan Budidaya Perikanan 262,878 262,878 3 Cagar Alam Cagar Alam 545,041 577,000 4 Cagar Budaya Cagar Budaya 7,978 7,978 5 Danau Danau 57,990 57,990 6 Hutan Kota Taman & Hutan kota 179,626 154,433 7 Industri Industri 676,026 890,192 8 IPLT/TPA Peruntukan Lain 16,317 16,317 9 Kawasan Pelabuhan Kawasan Pelabuhan 398,425 398,425 10 Kawasan Pelayanan Kesehatan Kawasan Pelayanan Kesehatan 22,197 22,197 11 Pariwisata Kawasan Wisata 95,778 95,778 12 Pemerintahan Pemerintahan 110,339 150,339 13 Pendidikan Pendidikan 220,915 260,385 14 Pendidikan Menengah & Olahraga Pendidikan Menengah & Olahraga 17,277 17,277 15 Perdagangan dan Jasa Perdagangan dan Jasa 911,259 911,259 16 Perkantoran Perkantoran 69,536 69,536 17 Persawahan Sawah 732,421 670,421 18 Perumahan Perumahan 7.490,389 8.094,793 19 Rawan Bencana Banjir Kawasan Rawan Bencana Banjir 123,249 123,249 20 RTNH Sport Center/Stadion/Makam Inggris 20,728 129,124 21 Sempadan Danau Sepadan Danau 18,650 36,650 22 Sempadan Pantai Sabuk Hijau 880,099 565,933 193
23 Sempadan Sungai Sempadan Sungai 765,717 745,717 24 Stasiun Kereta Api Stasiun Kereta Api 15,331 15,331 25 Sungai Sungai 855,184 1.010,184 26 Taman Kota Taman Kota 23,477 9,257 27 Taman Wisata Alam Taman Wisata Alam 353,385 353,385 28 TPU RTH 60,341 118,351 Jumlah 15.170,685 16.213,552 194
195