BRIEF Volume 11 No. 02 Tahun 2017

dokumen-dokumen yang mirip
BRIEF Volume 11 No. 02 Tahun 2017

Daya Mineral yang telah diupayakan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah pada periode sebelumnya.

Ringkasan Eksekutif INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2009

DEWAN ENERGI NASIONAL RANCANGAN RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL

2 Di samping itu, terdapat pula sejumlah permasalahan yang dihadapi sektor Energi antara lain : 1. penggunaan Energi belum efisien; 2. subsidi Energi

PERHUTANAN SOSIAL SEBAGAI SALAH SATU INSTRUMEN PENYELESAIAN KONFLIK KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL)

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

PROSPEK EKONOMI WOOD PELLET (Untuk Bisnis Energi Terbarukan)

STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL

I. PENDAHULUAN. Gambar 1. Kecenderungan Total Volume Ekspor Hasil hutan Kayu

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) SEBAGAI BAHAN BAKAR LAIN

IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI BERDASARKAN UU NO. 21 TAHUN 2014 TENTANG PANAS BUMI SEBAGAI PILIHAN TEKNOKRATIK

Disampaikan pada Seminar Nasional Optimalisasi Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Menuju Ketahanan Energi yang Berkelanjutan

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SEKTOR ESDM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pembangunan Kehutanan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012

REVITALISASI KEHUTANAN

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

2012, No BAB I PENDAHULUAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA - SALINAN SALINAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHUL'CJAN Latar Belakang

VISI, MISI & SASARAN STRATEGIS

INSTRUMEN KELEMBAGAAN KONDISI SAAT INI POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI INDIKASI PENYEBAB BELUM OPTIMALNYA PENGELOLAAN ENERGI

OLEH: LALU ISKANDAR,SP DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

VI. SIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Perubahan iklim global (global climate

I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

Kebijakan Bioenergi, Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Sidang Pendadaran, 24 Desember 2016 Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ~VK

SISTEMATIKA PENYAJIAN :

PENGEMBANGAN INDUSTRI KEHUTANAN BERBASIS HUTAN TANAMAN penyempurnaan P.14/2011,P.50/2010, P.38 ttg SVLK) dan update peta P3HP.

Kebijakan Fiskal Sektor Kehutanan

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-03/M.

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

KEBIJAKAN PENURUNAN EMISI DAN SERAPAN KARBON DI HUTAN PRODUKSI MELALUI : PROGRAM DAN KEGIATAN DITJEN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI

PIDATO UTAMA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA

BAB VI KESIMPULAN DAN IMPLIKASI. 6.1 Kesimpulan. sektor kehutanan yang relatif besar. Simulasi model menunjukkan bahwa perubahan

PENDAHULUAN Latar Belakang

Oleh Deddy Permana / Yayasan Wahana Bumi Hijau Sumatera selatan

KONSTRIBUSI SEKTOR KEHUTANAN DALAM PENGEMBANGAN ENERGI BERBASIS BIOMASSA. Oleh : Sofwan Bustomi

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

Rancangan Umum Pengembangan Bioenergi Berbasis Kehutanan : Sebuah Inisiasi

PERCEPATAN PENGEMBANGAN EBTKE DALAM RANGKA MENOPANG KEDAULATAN ENERGI NASIONAL

Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p Resensi Buku

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dengan pasokan energi dalam negeri. Menurut Pusat Data dan Informasi Energi dan

Garis-Besar NAP. Latar Belakang. Tujuan dan Strategi Pembangunan Nasional Dalam Rangka Antisipasi Perubahan Iklim. Rencana Aksi Nasional

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jambi

I. PENDAHULUAN. Pertanian dan sektor-sektor yang terkait dengan sektor agribisnis

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Berdasarkan PP KEN 79/2014

4.2 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik

Cakupan Paparan : Outlook industri pulp dan kertas (IPK) Gambaran luasan hutan di indonesia. menurunkan bahan baku IPK

PROGRAM : PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN USAHA KEHUTANAN (Renstra Ditjen PHPL )

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN Pada Acara SEMINAR DAMPAK PENURUNAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP INDUSTRI PETROKIMIA 2015 Jakarta, 5 Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

6. ANALISIS DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kebijakan di dalam pengembangan UKM

PENGEMBANGAN MODEL INDONESIA 2050 PATHWAY CALCULATOR (I2050PC) SISI PENYEDIAAN DAN PERMINTAAN ENERGI BARU TERBARUKAN. Nurcahyanto

Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia

LAND AVAILABILITY FOR FOOD ESTATE. Oleh : MENTERI KEHUTANAN RI ZULKIFLI HASAN, SE, MM

I. PENDAHULUAN. sesuai dengan rencana Pembangunan Jangka Menengah sampai tahun 2009 sebesar

PENDAHULUAN Latar Belakang

tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kehutanan Tahun , implementasi kebijakan prioritas pembangunan yang

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia

BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik

KEBIJAKAN PENGUATAN SEKTOR RIIL DI INDONESIA Kamis, 16 Juli 2009

Bismillahirrahmanirrahim,

ARAH KEBIJAKAN, PROGRAM, DAN KEGIATAN BIDANG PENINGKATAN DI DAERAH TERTINGGAL

Krisis Pangan, Energi, dan Pemanasan Global

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014

Pengarahan KISI-KISI PROGRAM PEMBANGUNAN KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2014

MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN (Dalam miliar Rupiah) Prioritas/ Rencana Prakiraan Rencana.

Insentif fiskal dan Instrument Pembiayaan untuk Pengembangan Energi Terbarukan dan Pengembangan Listrik Perdesaan

RENCANA STRATEGIS. Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung. Tahun (Perubahan)

Transkripsi:

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN POLICY BRIEF Volume 11 No. 02 Tahun 2017 Sumber foto: benergi.com MENGGAGAS ENERGI BIOMASSA HUTAN SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN Rachman Effendi, Nanang Roffandi, Triyono Puspitodjati, dan Indah Bangsawan Ringkasan Eksekutif Pengembangan energi dari kayu sebagai salah satu alternatif pengembangan yang sangat penting dalam pengusahaan hutan dan hasil Hal ini sejalan dengan program prioritas 2018 pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 1 Pebruari 2017 tentang ketahanan energi 2018 yang meliputi 1) Energi baru terbarukan (EBT) dan konservasi energi; 2) Pemenuhan kebutuhan energi nasional. Kontribusi sub sektor kehutanan dalam program tersebut antara lain yaitu mengoptimalkan manfaat ekonomi pengusahaan budidaya tanaman penghasil energi, pasokan/pemanfaatan limbah kayu dan pengolahan energi biomassa hutan sebagai EBT dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional, selain itu dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan penduduk sekitar Berkaitan dengan hal tersebut dalam jangka pendek, menengah dan panjang, policy brief ini dimaksudkan untuk memberi informasi sebagai gagasan dalam mengembangkan sumber energi terbarukan yang bersumber dari biomassa Kajian difokuskan pada aspek sosial, ekonomi dan kebijakan energi biomassa hutan sebagai energi terbarukan dalam upaya menyamakan presepsi dalam pengembangan energi biomassa Selain itu bagi industri pengolahan kayu dapat mendaur ulang limbah kayu untuk energi terbarukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan Hutan Tanaman Industri Energi (HTI-E) perlu digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk dimotivasi dan mendapat dukungan politik dari legislatif sehingga menjadi komitmen program prioritas bersama. 38 Policy Brief Volume 11 No. 02 Tahun 2017

Pernyataan 1) Terjadinya penurunan peranan industri Masalah bebasis kayu, ketersediaan energi yang semakin langka, sumber daya alam yang semakin rusak, dan bencana alam merupakan isu-isu yang sangat kritis di masa depan. 2) Pengembangan energi dari biomassa hutan yang ada saat ini belum didukung oleh kebijakan bidang perekonomian yang berpihak kepada usaha kecil menengah dan koperasi ( U M K M ) s e r t a p e m e r a t a a n kesempatan dan peluang kerja bagi masyarakat, padahal potensinya sangat besar dan letak hutan yang sangat strategis. 3) Berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain, biomassa merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berasal dari sumberdaya alam, tetapi potensi biomassa hutan sangat besar dan posisi hutan juga sangat strategis belum dimanfaatkan. Inpres tersebut p e r l u s e g e r a d i r e v i s i k a r e n a membatasi peran sektor kehutanan (Kementerian LHK) dalam pengembangan biofuel, dimana peran Kementerian LHK hanya mendapat mandat terkait penyediaan lahan pengembangan pada lahan tidak p r o d u k t i f, s e h a r u s n y a u n t u k mendorong percepatan mandatnya termasuk: Penyediaan bahan baku BBN y a i t u P e m b a n g u n a n H u t a n Tanaman Industri Energi (HTI-E). Penyiapan teknologi pengolahan. Pengembangan energi alternatif berbasis tanaman 4) Bio-energi mulai dipikirkan para pakar energi global sebagai salah satu sumber energi terbarukan potensial y a n g r a m a h l i n g k u n g a n d a n berkelanjutan, utamanya yang berbasis biomassa 5) Permasalahan dalam meng-upayakan kemandirian dan ketahanan energi nasional sangat luas dan komplek menyangkut aspek : ekonomi, teknis, perdagangan, infrastruktur, dilematis, etik, pemahaman, politik, serta konflik interes. 6) Pengembangan energi biomassa hutan sebagai EBT memerlukan dukungan penelitian dan pengembangan dengan sumber pendanaan yang cukup yang d i k e l o l a s e c a r a k h u s u s d a n berkelanjutan dalam kaitannya dengan keekonomian pemanfaatan jenis-jenis kayu energi, peningkatan produktivitas dan nilai kalor, sistim silvikultur, pemuliaan pohon, dan pengayaan variasi genetik. Kondisi Saat Ini 1) Hutan sebagai mesin devisa dengan membabat kayu, telah mengakibatkan kehancuran sumber-daya hutan, pengembangan energi dari kayu s e b a g a i s a l a h s a t u a l t e r n a t i f pengembangan yang sangat penting dalam pengusahaan hutan dan hasil 2) Program prioritas 2018 pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 1 Pebruari 2017 tentang ketahanan energi 2018 yang meliputi a) Energi baru terbarukan (EBT) dan konservasi energi, b) Pemenuhan kebutuhan energi nasional. 3) Kementerian LHK dapat berkontribusi dalam manfaat ekonomi pengusahaan budidaya tanaman penghasil energi, pasokan/ pemanfaatan limbah kayu, peng-olahan energi biomassa hutan sebagai EBT dalam pemenuhan k e b u t u h a n e n e r g i n a s i o n a l, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan penduduk sekitar 4) Di bawah pengaruh Protokol Kyoto, P e m e r i n t a h I n d o n e s i a memperkenalkan kebijakan untuk mempromosikan pengembangan bahan bakar biomassa hutan dan pada tanggal 31 Januari 2012 telah mengeluarkan beberapa subsidi pajak untuk pengembangan bio-energi, biogas dan pemanfaatan kembali limbah padat lainnya. Menggagas Energi Biomassa Hutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan 39

5) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, dimana biomassa merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berasal dari sumberdaya alam yang pada dasarnya dapat berasal dari biomassa hutan yaitu tanaman kayu-kayuan. 7) Energi biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari pengolahan kayu energi dapat berbentuk padat, cair atau gas. Yang berbentuk padat antara lain kayu bakar, serpih (chip), pelet atau briket dan arang. Penggunaan energi tersebut dapat untuk sektor rumah tangga, sektor industri, sektor transportasi dan perdagangan. 8) Komitmen Kementerian LHK telah menetapkan peran energi terbarukan berbasis biomassa hutan akan berperan 5% dari bauran energi tahun 2025 sebesar 23% dan 10% dalam bauran 31% pada tahun 2050. 9) Kayu yang digunakan sebagai sumber biomassa hutan untuk bahan baku energi dapat bersumber dari: Limbah logging (sebesar 20% sd 40% dari total tegakan kayu) Limbah industri pengolahan kayu Hutan tanaman (HTI-E, HTR) Hutan desa Hutan adat / rakyat Tanaman hasil penghijauan (1 Milyar/Tahun) Agroforestry Land Clearing HTI, tambang dan kebun 10)Gambaran tingkat keuntungan usaha pemanfaatan kayu energi masingmasing untuk kayu bakar (KB), wood pellet (WB) dan listrik (rumah tangga dan industri): 11)Hasil kajian keekonomian menunjukan usaha HTI-E sebagai ELECTRICITY ELECTRICITY biomassa hutan untuk energi terbarukan cukup menguntungkan dan layak ditumbuhkembangkan secara finansial & ekonomi. 12)Beberapa faktor ekonomi dan kelembagaan yang berpengaruh nyata terhadap daya saing usaha HTI-E adalah harga jual kayu bulat, kebijakan larangan ekspor kayu bulat, jaminan pemberian kredit bank (Bankable), biaya transaksi, dan tata usaha kayu. 13)Adanya gagasan pemanfaatan energi biomassa hutan untuk energi terbarukan akan berdampak terhadap peningkatan aktivitas perekonomian, a d a n y a a d o p s i i n o v a s i d a n pengembangan energi biomassa 14)Gagasan pemanfaatan energi biomassa (terutama dari limbah) u n t u k e n e rg i t e r b a r u k a n k e - berhasilannya tergantung pada beberapa hal, di antaranya adalah: (a) 40 Policy Brief Volume 11 No. 02 Tahun 2017

Adanya kebijakan yang lebih mendukung pengembangan EBT, (b) Ketersedian b a h a n b a k u ( l i m b a h ) y a n g berkelanjutan (sustainable), (c) Energi fosil dan listrik yang tinggi harganya d a n t i d a k b e r s u b s i d i, ( d ) Pengembangan dilakukan untuk mensubstitusi jenis energi fosil yang digunakan; (e) Adanya keterbatasan lahan untuk pembuangan limbah; (f) Tipping fee yang tinggi untuk pembuangan limbah; dan (g) adanya dukungan publik akan pengembangan EBT (Kemenkeu, 2014). 1 5 ) P e m b a n g u n a n H T I - E t e r u s digalakkan sebagai sumber energi potensial dan terpercaya untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku (feed stock) yang berkelanjutan dibandingkan dengan sawit yang bertabrakan dengan pangan. Besarnya potensi energi biomassa tersebut belum ter-manfaatkan dengan baik sebagai-mana yang tercantum pada Panduan Penggunaan untuk Sektor Pasokan Bioenergi: Indonesia 2050 Pathway Calculator (Anonim, 2017), bahwa biomassa yang termanfaatkan hingga tahun 2013 kurang dari 5% (dari potensi umum) yakni hanya mencapai 865,73 MWe. Untuk itu berbagai studi menyarankan agar pasokan biomassa yang bersumber dari limbah, residu, dan tanaman dapat tersedia secara berkelanjutan dikhususkan untuk tanaman energi. 16)Dari aspek teknis yaitu daur tanaman dan sistem silvikulturnya HTI-E harus berdaur pendek Short Rotation Forestry (SRF) sehingga lebih mudah untuk mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan, tetapi di lain pihak SRF kurang baik tehadap aspek lingkungan dan menguras kesuburan lahan serta tidak akan menghasilkan carbon credit. Seandainya HTI-E berdaur panjang, maka hal ini akan berdampak pada turunnya Internal Rate of Return (IRR) dan naiknya kebutuhan modal kerja dan investasi serta tidak bankable. 17)Paradigma Ekonomi Hijau dimana pelaku usaha secara sukarela m e n g i n t e r n a l i s a s i k a n d u a eksternalitas lingkungan dan sosial ke dalam biaya produksinya, sehingga menghasilkan harga feed stock yang b e r k e a d i l a n u n t u k m e n j a m i n keberlanjutan pasokannya. 18)Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 1 8 / M e n h u t - I I / 2 0 11 t e n t a n g Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.12/Menlhk- II/2015 tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri, dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu: (a) tanaman hutan berkayu penghasil kayu, pangan dan energi; (b) tanaman budidaya tahunan berkayu penghasil kayu, pangan dan energi; dan (c) tanaman lainnya penghasil pangan dan energi. Jadi beragam jenis hutan tanaman, yaitu Hutan Tanamn Industri (HTI), Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Tanaman Hasil Hutuan Bukan Kayu (HT-HHBK) dan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dapat dikelola untuk menghasilkan beragam produk, termasuk energi. 19)Rencana Penelitian Integratif (RPI) Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010-2014 sudah ada kebijakan pengembangan HTI-E antara lain adanya 1 (satu) judul penelitian di antaranya berkaitan dengan energi. Hasil penelitian merekomendasikan empat jenis tanaman cepat tumbuh yang potensial dikembangkan sebagai HTI-E energi biomassa, yaitu: akor, gamal, kaliandra dan lamtorogung, dan tiga jenis tanaman penghasil biofuel, yaitu: nyamlung, bintaro dan malapari. 20)Peraturan Menteri Lingkungan Hidup d a n K e h u t a n a n N o m o r P.39/MenLHK-Setjen/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan tahun 2015-2019, bahwa luas usaha pemanfaatan hutan produksi untuk biomassa atau bioenergi ditargetkan meningkat 100.000 ha. Sampai saat ini t e r d a p a t 3 2 u n i t I z i n U s a h a Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) seluas ± 1,1 juta ha yang mendukung pembangunan HTI-E 21)Beberapa kendala dalam pengem- Menggagas Energi Biomassa Hutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan 41

Implikasi Manajerial Pilihan dan Rekomendasi Kebijakan lain: a. Konflik lahan hutan dengan masyarakat. b. Kesesuaian antara lokasi HTI-E dengan lokasi jaringan PLN (saat ini pembangunan HTI-E belum dikaitkan dengan jaringan PLN atau rencana pengembangan jaringan PLN). 1. Terciptanya bio-energi dari bahan baku limbah industri pengelolaan hutan dan tanaman kayu energi yang dapat dikelola secara berkelanjutan dalam bentuk HTI-E. 2. Pengembangan HTI-E juga akan membantu mengurangi tekanan pada hutan alam dan meningkatkan upaya konservasi, merehabilitasi lahan yang rusak, dan memelihara/melindungi bumi serta menyimpan cadangan karbon sehingga dapat memberikan jasa lingkungan yang lebih baik. 3. Manfaat penggunaan bio-energi dari biomassa hutan yang dikembangkan oleh Kementerian LHK, antara lain: a. Berperan nyata dalam pelaksanaan komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi 29% pada tahun 1. Diperlukan penyusunan kebijakan bersama yang digagas oleh Menteri LHK dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral tentang kebijakan hulu hilir pembangunan HTI-E yang menguntungkan semua pihak. 2. Direktorat Pengelolaan Hutan Lestari ( P H L ) dan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI) perlu merancang kebijakan untuk memaksimalkan peran industri energi biomassa hutan sebagai konsep kebijakan yang tepat dalam mengatur pengembangan energi biomassa hutan sebagai bagian dari energi terbarukan, diikuti dengan fasilitas insentif, baik fiskal maupun non fiskal yang c. Harga jual produk (biomasa/pelet) yang memberi keuntungan bagi pengusaha HTI. d. Kesesuaian harga energi listrik yang akan dihasilkan oleh pengusaha HTI-E, yang ditetapkan PLN masih rendah Rp 1.300 sampai dengan Rp 1.500 per kwh. 2030 dan 23% bauran energi tahun 2025 serta 31% tahun 2050 b. Sumber bahan baku terpercaya karena dapat dibangun dan dikelola secara berkelanjutan dalam bentuk: Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Tanaman Hasil Hutuan Bukan Kayu (HT-HHBK), dan Hutan Kemasyarakatan (HKm), hutan rakyat, Hutan Adat, dan Hutan/Kebun Energi. c. Membantu meningkatkan ketahanan dan kemandirian, diversifikasi serta k o n s e r v a s i e n e r g i, t a n p a mengganggu ketahanan pangan. d. Sejalan dengan program prioritas pemerintah tahun 2018 pada Sidang Paripurna tanggal 1 Pebruari 2017. kondusif. 3. Kementerian LHK mengkoordinasi seluruh jajaran para pihak terkait u n t u k m e m b a h a s m a s a l a h pengembangan HTI-E sebagai bahan baku EBT. 4. Ditjen PHL bersama BLI Kementerian LHK mengkaji peningkatan daya s a i n g u s a h a H T I - E m e l a l u i optimalisasi alokasi pemanfaatan jenis kayu energi sebagai sumber energi biomassa hutan, baik untuk ekspor maupun domestik. 5. Pengembangan HTI-E perlu digagas oleh Kementerian L H K untuk dimotivasi dan mendapat dukungan politik dari legislatif sehingga menjadi komitmen program prioritas bersama. 42 Policy Brief Volume 11 No. 02 Tahun 2017