PERBANDINGAN PENGUASAAN VOCABULARY SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI DAN INSIDE OUTSIDE CIRCLE (LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR) PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS KELAS III DI SDIT BEKASI Rima Rikmasari* Alfrida Riyanissani* Email : r.rikmasari@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Penguasaan Vocabulary Siswa Antara Model Pembelajaran Artikulasi dan Inside Outside Circle (Lingkaran Kecil- Lingkaran Besar) Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas III Di SDIT YPI 45 Bekasi. Populasi pada penelitian ini sebanyak 44 orang siswa. Dari hasil perhitungan diperoleh thitung sebesar 3,080 dan ttabel dengan taraf signifikasi sebesar 0,05 sebesar 2,000. Dari hasil nilai rata-rata posttest pada kelas ekperimen I sebesar 89,59 dan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen II sebesar 85,23. Karena thitung ttabel (3,080 > 2,000) maka Ho ditolak dan Hi diterima. Hasil perhitungan N-Gain penguasaan vocabulary siswa kelas eksperimen I memperoleh nilai sebesar 0,79 berkategori tinggi, dan hasil perhitungan N-Gain kelas eksperimen II memperoleh nilai sebesar 0,70 berkategori sedang. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan penguasaan vocabulary siswa yang pembelajaran artikulasi dan inside outside circle pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas III SDIT YPI 45 Bekasi. Kata kunci : Penguasaan Vocabulary Siswa, Model Pembelajaran Artikulasi, Model Pembelajaran Inside Outside Circle. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Miarso dalam Siregar (2014:12) pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Pelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu pelajaran bahasa asing yang harus dipelajari oleh siswa sedini mungkin, karena Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi yang 77
digunakan secara internasional. Setiap negara dapat berkomunikasi secara resmi dengan negara lain melalui perantara Bahasa Inggris. Dalam era modern seperti ini Bahasa Inggris dibutuhkan baik dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia kerja. Salah satu kemampuan yang harus di miliki siswa dalam belajar Bahasa Inggris adalah vocabulary. Menurut Carter dalam Suleman (2013: 4) vocabulary is the total number of words in a language. It also a collection of words a person knows and used in speaking and writing (Kosakata atau perbendaharaan kata adalah jumlah seluruh kata dalam suatu bahasa; juga kemampuan kata-kata yang diketahui dan digunakan seseorang dalam berbicara dan menulis). Menurut Cameron dalam Zulkifli (2014: 181-183) menjelaskan bahwa ada empat indikator yang memiliki pengaruh besar terhadap penguasaan kosakata Bahasa Inggris untuk siswa usia dini (english for young learner), yaitu: (a) Pengucapan, (b) Ejaan, (c) Perubahan struktur bahasa, (d) Makna. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti dengan guru kelas IIIA dan IIIB di SDIT YPI 45 Bekasi mengenai Penguasaan vocabulary siswa masih sangat rendah dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris. Hal ini dapat dilihat dari pelafalan siswa yang masih terbatabata, ragu-ragu, dan tidak percaya diri dalam mengucapkan kosakata Bahasa Inggris, intonasi pengucapan siswa yang kurang tepat sehingga terdengar tidak jelas dalam mengucapkan kosakata Bahasa Inggris, masih banyak siswa yang kesulitan dalam mengingat tulisan kosakata Bahasa Inggrisyang diucapkan oleh guru, masih banyak siswa yang kurang tepat dalam menyusun kalimat Bahasa Inggris sesuai dengan tata bahasa yang baik dan benar, serta masih banyak juga siswa yang belum dapat mengartikan kosakata dalam Bahasa Inggris. Model pembelajaran artikulasi sebagai suatu pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa untuk pandai berbicara atau kata-kata dengan jelas, pengetahuan dan cara berpikir dalam penyampaian kembali materi yang telah disampaikan oleh guru. Model pembelajaran artikulasi sebagai suatu pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa untuk pandai berbicara atau kata-kata dengan jelas, pengetahuan dan cara berpikir dalam penyampaian kembali materi yang telah disampaikan oleh guru. Menurut Shoimin (2014: 87) pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar) adalah pembelajaran dengan sistem lingkaran kecil dan lingkaran besar yang diawali dengan pembentukan kelompok besar dalam kelas yang terdiri dari kelompok lingkaran dalam dan lingkaran luar. Model pembelajaran ini hanya akan cocok bila dipraktikkan pada pelajaran yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antar siswa. 78
Kendatipun hanya bisa dipraktikkan pada sebagian kecil materi pelajaran, tapi pembelajaran ini memiliki struktur yang jelas yang memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Selain itu siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Berdasarkan uraian di atas peneliti membandingkan apakah ada perbedaan yang signifikan penguasaan vocabulary Bahasa Inggris antara siswa yang mengikuti pembelajaran pembelajaran artikulasi dengan siswa yang mengikuti pembelajaran pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar). berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul Perbandingan Penguasaan Vocabulary Siswa Antara Model Pembelajaran Artikulasi dan Inside Outside Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar) Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas III Di SDIT YPI 45 Bekasi. B. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah 1. Bagaimana penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan dengan pembelajaran artikulasi? 2. Bagaimana penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan dengan pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar)? 3. Apakah ada perbedaan penguasaan vocabulary siswa yang diajar dengan pembelajaran artikulasi dan inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar)? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan dengan pembelajaran artikulasi. 2. Untuk mengetahui penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan dengan pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar). 3. Untuk mengetahui perbedaan penguasaan vocabularysiswa melalui pembelajaran artikulasi dan inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar). II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Penguasaan Vocabulary Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dalam Fajriyah (2013: 21-22) Penguasaan merupakan bentuk kata yang telah mengalami imbuhan dari kata kuasa yang telah memperoleh awalan berupa pe- dan akhiran berupa -an. Kuasa merupakan 79
suatu kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Penguasaan merupakan suatu kemampuan yang ada dalam diri seseorang untuk mengusai dan mendalami sesuatu hal yang sedang dipelajarinya. Menurut Suyanto (2009: 43) kosakata (vocabulary) merupakan kumpulan kata yang dimiliki oleh suatu bahasa dan memberikan makna bila kita bahasa tersebut. Kosakata Bahasa Inggris yang perlu dipelajari oleh siswa sekolah dasar diperkirakan sebanyak lebih kurang 500 kata. Bila dilihat dari beberapa pemaparan menurut para ahli maka dapat dipahami mengenai definisi penguasaankosakata (vocabulary) adalah suatu kemampuan yang ada dalam diri seseorang untuk dapat menguasai dan memahami mengenai suatu kata yang berada didalam suatu bahasa yang menjadi dasar dalam berkomunikasi yang telah diketahui oleh setiap orang. Dalam penelitian ini, indikator kemampuan kosakata Bahasa Inggris dijadikan sebagai alat ukur untuk melihat tercapai atau tidaknya target dari penelitian ini. Cameron dalam Zulkifli (2014: 181-183) menjelaskan ada empat indikator yang memiliki pengaruh besar terhadap penguasaan kosakata Bahasa Inggris untuk siswa usia dini (english for young learner), yaitu: 1. Pelafalan (Pronunciation) Menurut Suyanto (2009: 49-50) pelafalan (pronunciation) adalah cara mengucapkan kata-kata suatu bahasa. ucapan Bahasa Inggris sangat berbeda dengan sistem ucapan bahasa ibu dan bahasa pertama anakanak sekolah dasar di Indonesia. Pada kenyataan, tulisan dan ucapan Bahasa Indonesia sudah dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Untuk kelas EYL (english for young learners), anakanak sejak awal perlu diperkenalkan dengan bunyi alfabet Bahasa Inggris. 2. Ejaan (Spelling) Wehmeler dalam Zulkifli (2014: 182) siswa juga perlu mengetahui huruf dan suku kata yang membentuk kata, itu disebut ejaan."ejaan adalah tindakan membentuk kata-kata dengan benar dari surat individu atau cara bahwa kata dieja". 3. Perubahan Struktur Bahasa (Grammatical Change) Menurut Suyanto (2009: 44-46) Kegiatan guru Bahasa Inggris di sekolah dasar sebaiknya tidak memberikan grammar dalam bentuk rumus, pola kalimat atau aturan bahasa yang harus dihafalkan siswa. Grammar sebaiknya diajarkan dalam bentuk terintegrasi dengan kosakata dalam kalimat pernyataan, misalnya sebagai pertanyaan komunikatif dalam bentuk pertanyaan, misalnya sebagai pertanyaan komunikatif dalam bentuk tanya jawab, dan dalam wacana yang langsung diberikan sebagai suatu bentuk bahasa yang utuh dan bermakna. 4. Makna (Meaning) 80
Nation dalam Zulkifli (2014: 182) berpendapat "cara untuk menjelaskan makna kata baru pelajar usia dini, yaitu dengan objek, tokoh, gesture, tindakan, foto, gambar atau diagram pada papan, gambar dari buku cerita." Menemukan makna untuk kata bahasa asing yang baru adalah baik untuk proses kerja otak anak, dengan cara berfikir dan mengingat kata baru. B. Konsep Model Pembelajaran Artikulasi Menurut Shoimin (2014:27) artikulasi merupakan pembelajaran dengan sistem pesan berantai. Pesan yang akan dibawa merupakan materi pelajaran yang sedang dipelajari ketika itu. Secara teknis, setiap siswa wajib meneruskan pesan dan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan kelompoknya). Langkahlangkah pelaksanaan pembelajaran artikulasi menurut Shoimin (2014:27-28) : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. 3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 4. Guru menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya. 5. Menugaskan siswa secara bergiliran/ diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. 6. Guru mengulangi/ menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa. 7. Kesimpulan/ penutup. C. Konsep Model Pembelajaran Inside Outside Circle (Lingkaran Kecil- Lingkaran Besar) Menurut Shoimin (2014:87-88) Model pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar) adalah pembelajaran dengan sistem lingkaran kecil dan lingkaran besar yang diawali dengan pembentukan kelompok besar dalam kelas yang terdiri dari kelompok lingkaran dalam dan lingkaran luar. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inside outside circle (lingkaran kecil-lingkaran besar) menurut Kurniasih dan Berlin (2015: 94): 1. Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri membentuk lingkaran kecil. Mereka berdiri melingkar dan menghadap keluar. 2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran yang pertama menghadap kedalam. 81
3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan lingkaran besar berbagi informasi. 4. Pertukaran informasi bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan. 5. Kemudian siswa yang di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser, satu atau dua langkah searah jarum jam. 6. Sekarang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagikan informasi demikian seterusnya. 7. Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. III. METODE PENELITIAN Penelitian ini pendektan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Menurut Sugiyono (2014:109) metode eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain, dalam metode penelitian eksperimen ada perlakuan (treatment) yang diberikan. Desain dalam penelitian eksperimen ini adalah Quasi Experiental Design dengan bentuk Nonequivalent control grup design. Langkah awal untuk menentukan unit-unit eksperimen dilakukan dengan memilih sekolah, yang kemudian memilih dua kelas yang homogen ditinjau dari kemampuan akademiknya. Subjek penelitian dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen I akan diberi perlakuan dengan pembelajaran artikulasi. Sedangkan kelompok eksperimen II diberi perlakuan dengan pembelajaran inside outside circle. Perlakuan yang diberikan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pembelajaran terhadap penguasaan vocabulary siswa. Penelitian ini dilakukan pada kelas III dan mengambil dua kelas untuk menguji dua pembelajaran tersebut di SDIT YPI 45 Bekasi. Secara keseluruhan penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: 1) tahap persiapan, 2) tahap pelaksanaan, dan 3) tahap akhir. Adapun uraian tahap-tahap tersebut sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan a. Melakukan perizinan untuk penelitian dengan memberikan surat izin observasi yang dikeluarkan oleh fakultas untuk sekolah yang dijadikan tempat penelitian. b. Observasi ke lokasi penelitian untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan penelitian. c. Menentukan pokok bahasan atau materi yang akan digunakan dalam penelitian dengan cara melakukan studi literatur dari KTSP dan Silabus. d. Menyusun instrumen untuk pengumpulan data penelitian. 82
e. Melakukan konsultasi instrumen dengan dosen dan guru mata pelajaran yang bersangkutan. f. Melakukan uji ahli instrumen penelitian yang akan digunakan. g. Menentukan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dengan berkonsultasi dengan guru mata pelajaran. h. Menentukan waktu pelaksanaan penelitian dengan guru mata pelajaran. 2. Tahap Pelaksanaan a. Melakukan tes awal (pretest) di awal pembelajaran pada masing-masing kelas (eksperimen I dan eksperimen II) dengan soal tes yang sama. Tes ini bertujuan untuk mengetahui hasil penguasaan vocabulary sebelum diberikan perlakuan (treatment). b. Pemberian treatment terhadap kelas eksperimen I dengan artikulasi, sedangkan untuk kelas eksperimen II dengan inside outside circle. c. Melakukan tes hasil penguasaan vocabulary (posttest) terhadap kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dengan soal tes yang sama yaitu dengan tes lisan dan tes tertulis. Tes ini dilakukan untuk mengukur peningkatan penguasaan vocabulary setelah diberikan perlakuan (treatment). 3. Tahap Akhir Pada tahap akhir, data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut: a. Tahap analisis data Pada tahap ini dilakukan analisis data terhadap skor hasil penguasaan vocabulary siswa kelas eksperimen I dan eksperimen II. Analisis yang dilakukan meliputi; uji normalitas dan uji homogenitas. Jika data berdistribusi normal dan homogen, maka tahap uji hipotesis dilakukan uji-t (t-test), dan untuk tahap akhir perhitungan rumus N-gain untuk mengetahui peningkatan penguasaan vocabulary siswa. b. Hasil analisis dapat dipaparkan dalam pembahasan. c. Tahap uji hipotesis. Tahap uji hipotesis dilakukan penarikan kesimpulan untuk menerima atau menolak hipotesis berdasarkan hasil pengolahan data. d. Tahap penarikan kesimpulan. IV. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Penguasaan Vocabulary Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Artikulasi Penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan pembelajaran artikulasi pada kelas eksperimen I. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata pretest yaitu 54,3 rata-rata posttest yaitu 89,59. 83
Kemudian dilakukan pengujian dengan uji N-Gain didapat nilai sebesar 0,79 dengan kategori tinggi (Nilai g > 0,70). Dengan demikian terlihat bahwa terdapat penguasaan vocabulary siswa dengan pembelajaran artikulasi pada siswa kelas III di SDIT YPI 45 Bekasi. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Shoimin (2014:27) pembelajaran artikulasi merupakan pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa untuk pandai berbicara atau katakata dengan jelas. 2. Penguasaan Vocabulary Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Inside Outside Circle Penguasaan vocabulary siswa yang diajarkan pembelajaran inside outside circle pada kelas eksperimen II. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata pretest yaitu 52,5 rata-rata posttest yaitu 85,2. Kemudian dilakukan pengujian dengan uji N-Gaindidapat nilai sebesar 0,70 dengan kategori sedang (Nilai 0,30 < g 0,70). Dengan demikian terlihat bahwa terdapat penguasaan vocabulary siswa dengan pembelajaran artikulasi pada siswa kelas III di SDIT YPI 45 Bekasi. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Shoimin (2014:27) pembelajaran artikulasi merupakan pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa untuk pandai berbicara atau katakata dengan jelas. 3. Perbedaan Penguasaan Vocabulary Bahasa Inggris Dengan Menggunakan Model Pembelajaran ArtikulasiDan Model Pembelajaran Inside outside Circle Dari hasil perhitungan untuk mengetahui penguasaan vocabulary siswa diperoleh thitung sebesar 3,080 dan ttabel dengan taraf signifikasi sebesar 0,05 sebesar 2,000. Dari hasil nilai rata-rata posttest pada kelas ekperimen I sebesar 89,59 dan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen II sebesar 85,23. Karena thitung ttabel (3,080 > 2,000) maka Ho ditolak dan Hi diterima. Hasil perhitungan N-Gain penguasaan vocabulary siswa kelas eksperimen I memperoleh nilai sebesar 0,79 berkategori tinggi, dan hasil perhitungan N-Gain kelas eksperimen II memperoleh nilai sebesar 0,70 berkategori sedang. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan penguasaan vocabulary siswa yang pembelajaran artikulasi dan inside outside circle pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas III SDIT YPI 45 Bekasi.Dengan pembelajaran artikulasi dalampembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, karena pada hakikatnya pembelajaran artikulasi sebagai suatu pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa untuk pandai berbicara atau kata-kata dengan jelas, pengetahuan dan cara berpikir dalam 84
penyampaian kembali materi yang telah disampaikan oleh guru. V. KESIMPULAN Berdasarkan pengolahan data hasil analisis serta pembahasan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Penguasaan vocabulary siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas IIIA dengan pembelajaran artikulasi diperoleh nilai rata-rata awal (pretest) nya adalah 54,3 dan diketahui nilai rata-rata akhir (posttest) nya adalah 89,59. Dan hasil perhitungan analisis N-Gain sebesar 0,79 maka perolehan nilai pada kelas yang pembelajaran artikulasi memiliki hasil penguasaan vocabulary siswa yang berkategori tinggi. 2. Penguasaan vocabulary siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas IIIB dengan pembelajaran inside outside circle diperoleh nilai rata-rata awal (pretest) nya adalah 52,5 dan diketahui nilai rata-rata akhir (posttest) nya adalah 85,2. Dan hasil perhitungan analisis N- Gain sebesar 0,70 maka perolehan nilai pada kelas yang pembelajaran inside outside circle memiliki hasil penguasaan vocabulary siswa yang berkategori sedang. 3. Terdapat perbedaan Penguasaan vocabulary siswa antara pembelajaran artikulasi dan pembelajaran inside outside circle. Berdasarkan uji-t, diperoleh thitung sebesar 3,080 dan ttabel dengan taraf signifikan 0,05 sebesar 2,000. Adapun hasil perhitungan N-Gain Penguasaan vocabulary kelas yang pembelajaran artikulasi memperoleh nilai sebesar 0,79 berkategori tinggi dan N-gain kelas yang pembelajaran inside outside circle memperoleh nilai sebesar 0,70 berkategori sedang. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan penguasan vocabulary siswa yang pembelajaran artikulasi dan pembelajaran inside outside circle pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas III di SDIT YPI 45 Bekasi. 85
*Rima Rikmasariadalah Dosen Universitas 45 Bekasi *Alfrida Riyanissaniadalah Mahasiswa PGSD Universitas 45 Bekasi DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Kurniasih, I. 2015. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Peningkatan Profesionalitas Guru. Jakarta: Kata Pena. Lie, A. 2014. Cooperative Learning. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Saputra, Y. M. 2008. Strategi Pembelajaran Kooperatif. Bandung: CV. Bintang Warli Artika. Shoimin, A. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurukulim 2013. Jakarta: Ar-Ruzz Media. Siregar, E. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Sugiyono. 2010. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta, cv. Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta, cv. Suprijono, A. 2012.Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suyanto, Kasihani K. E. 2009. English For Young Learners. Jakarta: Bumi Aksara. Tarigan, H. G. 2011. Pengajaran Kosakata. Bandung: Angkasa. Sumber Internet Suleman, H. 2013. Kemampuan Kosakata Bahasa Inggris Menggunakan Lagu Pada Siswa Kelas II SDN 15 Kecamatan Tibawa Kabupaten Gorontalo.http://eprints.uny.ac.id/14041/1/SKRIPSI%20Ningrum%20Perwit asari.pdf.(diunduh pada hari minggu, 13 Maret 2016 pukul 21.22). Zulkifli, N. A. 2014. Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Dengan Menggunakan Running Dictation Melalui Materi Agama di SD IT AlFittiyahPekanbaru.http://ejournal.uinsuska.ac.id/index.php/Kutubkhanah/article/download/816/776 vol 17 no 2. (Diunduh pada hari selasa, 17 Mei 2016 pukul 15.03). 86
87