MAKALAH BUDIDAYA KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

dokumen-dokumen yang mirip
BUDIDAYA IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DI KERAMBA JARING APUNG

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer)

Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Terhadap Tingkat Pertumbuhan Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos) Pada Saat Pendederan

PENDEDERAN IKAN BERONANG (Siganus guttatus) DENGAN UKURAN TUBUH BENIH YANG BERBEDA

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March :22

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan

BUDIDAYA LELE DENGAN SISTEM BIOFLOK. drh. Adil Harahap dokadil.wordpress.com

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Balai Benih Ikan Inovatif ( BBII ) merupakan unit pelaksanaan teknis daerah

PENDAHULUAN. perikanan laut yang sangat besar. Sebagai negara maritim, usaha budidaya laut

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

PENGARUH JENIS DAN WAKTU PEMBERIAN PAKAN TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN KERAPU MACAN

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT

PEMBESARAN BANDENG DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)

MODUL: PENYIAPAN BAK DAN AIR

EFISIENSI PENGGUNAAN PLANKTON UNTUK PEMBENIHAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) PADA HATCHERI SKALA RUMAH TANGGA

I. PENDAHULUAN. budidaya karena memiliki nilai ekonomis tinggi ( high economic value) serta

II. METODE PENELITIAN

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

MODUL: PEMANENAN DAN PENGEMASAN

I. PENDAHULUAN. disebut dengan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Ikan ini memiliki potensi

Bisnis Budidaya Ikan Bawal

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga Februari 2013

Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

ASPEK PRODUKSI, BUDIDAYA IKAN KERAPU DENGAN KARAMBA JARING APUNG

MODUL: PENEBARAN NENER

PEMELIHARAAN IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) YANG DIBERI PAKAN PELET DAN IKAN RUCAH DI KERAMBA JARING APUNG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

BAB I PENDAHULUAN. Ikan bawal air tawar (Colossoma macopomum) merupakan ikan yang

Pengaruh Pemberian Dosis Pakan Otohime yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Kerapu Bebek di BPBILP Lamu Kabupaten Boalemo

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 4, Desember 2012: ISSN :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 45 hari dengan menggunakan 4 perlakuan yakni perlakuan A (Perlakuan dengan

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

RINGKASAN LAPORAN KEAHLIAN TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI BAK TERPAL BAPPL STP SERANG, BANTEN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat.

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK)

Karamba jaring apung (KJA) kayu untuk pembesaran ikan kerapu di laut

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, yang melaksanakan tugas operasional

Efektivitas Suplemen Herbal Terhadap Pertumbuhan dan Kululushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp.)

I. PENDAHULUAN. potensi besar dalam pengembangan di sektor pertanian. Sektor pertanian di

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

PENDAHULUAN Ikan Nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang mendapat perhatian besar bagi usaha perikanan terutama

UNTUK PERTUMBUHAN DAN PENINGKAT. (Cromileptes altivelis)

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar

MODUL: PEMIJAHAN DAN PEMANENAN TELUR

PENGARUH KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis sp.) DI KOLAM BETON DAN TERPAL

I. PENDAHULUAN. ekonomis penting yang terdapat di perairan Indonesia. Ikan kerapu bernilai gizi

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Rancangan Percobaan 2.2 Prosedur Kerja Persiapan Wadah Ukuran dan Padat Tebar

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 3. Kolam yang diperguanak untuk Percontohan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei - Juni 2014 di Laboratorium Basah Jurusan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 Oktober sampai 10 November 2014,

BUDIDAYA LOBSTER (Panulirus sp.) DI VIETNAM DAN APLIKASINYA DI INDONESIA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-April 2015,

Tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan bawal air tawar (Collosoma sp.) dengan laju debit air berbeda pada sistem resirkulasi

MODUL: PEMELIHARAAN INDUK

USAHA PENGGELONDONGAN IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT DI SULAWESI TENGGARA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan.

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

PEMANFAATAN BIOFLOK DARI LIMBAH BUDIDAYA LELE DUMBO (Clarias gariepinus) SEBAGAI PAKAN NILA (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. benih dan untuk membina usaha budidaya ikan rakyat dalam rangka

Pematangan Gonad di kolam tanah

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada 17 Januari 2016 di UD.

Pengaruh Pemberian Viterna Plus dengan Dosis Berbeda pada Pakan terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo

Laju Pertumbuhan Ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis yang Dipelihara dalam Keramba Jaring Apung

PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscogutaftus) PEMELIHARAAN LARVA

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

BAB III BAHAN DAN METODE

II. BAHAN DAN METODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

HAMA DAN PENYAKIT IKAN

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis penting yang banyak dibudidayakan oleh petani. Beternak lele

I. PENDAHULUAN. (Bahari Indonesia: Udang [29 maret 2011Potensi]

PENDEDERAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus, PADA HATCHERI SKALA RUMAH TANGGA

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB III BAHAN DAN METODE

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN KERAPU BEBEK (CROMILEPTES ALTIVELIS)

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) - Bagian 2: Produksi induk

[ GROUPER FAPERIK] [Pick the date]

Transkripsi:

MAKALAH BUDIDAYA KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) Oleh : SARAH SEKAR 26010212110054 IMAM BAHRUDDIN 26010212140083 YOHANES PAMUNGKAS 26010212140084 NERI YUNIRA 26010212140087 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

I. PENDAHULUAN Gambar 1. Ikan Kakap Putih Nama Latin : Lates calcarifer Nama lokal : Pelak, Petakan, Cabek, Cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Dubit Tekong (Madura), Talungtar, Pica-pica, Kaca-kaca (Sulawesi). (Sumber : http://www.iptek.net.id/ind/warintek/3b3c.html) Akuakultur merupakan salah satu aktivitas penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dari sektor perikanan. Dalam satu dekade terakhir, produksi perikanan dari sektor akuakultur mengalami peningkatan sedangkan produksi perikanan hasil penangkapan (captured fishery) cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan (Anonim, 2004). Perairan laut di Indonesia kaya akan sumber daya ikan yang berpotensi untuk usaha budidaya. Salah satu ikan yang berpotensi adalah ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch). Ikan Kakap Putih atau sering disebut dengan nama seabass/baramundi memiliki nilai ekonomis tinggi untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Alasan lain Ikan Kakap Putih ini berpotensi untuk dibudidayakan adalah banyak lahan yang tersedia untuk pelaksanaan budidaya di Indonesia baik di laut, tambak maupun air tawar. Namun, kebanyakan produksi Ikan Kakap Putih di Indonesia dihasilkan dari penangkapan di laut. Hal itu disebabkan karena masih sulitnya pengadaan benih Ikan Kakap Putih. Lokasi budidaya Ikan Kakap Putih di laut secara umum adalah daerah perairan teluk, lagoon dan perairan pantai yang terletak di antara dua buah pulau

(selat). Alasan dipilihnya lokasi tersebut supaya memudahkan untuk kegiatan transportasi dan monitoring karena dekat dengan daratan. Lokasi tersebut juga diusahakan tidak dilalui transportasi laut lain yang dapat mencemari atau mengganggu proses budidaya. Pemilihan perairan pantai di antara pulau-pulau dimaksudkan untuk mencegah gelombang besar dari laut lepas yang dapat merusak sarana budidaya.

II. PEMBAHASAN 2.1. Metode Budidaya 2.1.1. Budidaya ikan kakap putih di karamba jaring apung Karamba adalah wadah sebagai tempat pembesaran ikan yang biasanya diletakan di badan air (perairan). Secara umum karamba lebih mudah mengurusnya Produksi per satuan luas luas lebih tinggi karamba jaring apung. Bagi nelayan lebih dekat hubungannya dibanding dengan kolam, karena asal muasal karamba adalah melakukan hasil tangkapan yang kemudian berubah ukuran atau tumbuh. Karamba menjadi populer setelah ikan-ikan tawar dan laut dapat dibudidayakan. a. Lokasi budidaya Sebelum kegiatan budidaya terlebih dahulu diadakan pemilihan lokasi. Pemeliharaan kakap putih di KJA dengan metode operasional monokultur Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberasilan usaha budidaya ikan kakap putih. Secara umum lokasi yang baik untuk kepentingan budidaya adalah daerah teluk, lagoon dan pantai yang terletak diantara dua pulau. Persyaratan fisik lain seperti: Perairan terlidung bebas pencemaran, kedalam 5 7 meter, salinitas 27 32 ppt, osigen terlarut 7 8 ppm dan tersediaanya sumber tenaga kerja. Setelah mempelajari materi ini, pelaku utama usaha budidaya mengetahui dan mampu melakukan kegiatan pembesaran kakap putih di karamba jaring apung. Secara garis besar KJA terdiri dari bagian : 1. Jaring Jaring terbuat dari bahan: Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar. Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan) 2. Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan. Bahan: Bambu atau kayu Ukuran: 8 m x 8 m

3. Pelampung: Pelampung berpfungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan Jenis: Drum (Volume 120 liter) Jumlah: 9 buah Gambar 2. Unit Karamba dengan rangka dan pemasangan jaring Gambar diatas merupakan gambar Unit karamba dengan rangka dan pemasangan jaring Sumber : Gufron, M. Dan H. Kordi K. 2007. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Dahara Prize.Semarang. 101 Halaman. Gambar 3. Karamba tipe bujur sangkar atu pesegi empat Gambar diatas merupakan gambar karamba dengan tipe bujur sangkar atau persegi empat. Sumber : Gufron, M. Dan H. Kordi K. 2007. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Dahara Prize. Semarang. 101 Halaman.

4. Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar. 5. Peralatan pendukung lainya. Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg). Jumlah : 4 buah Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke dalam air Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor Pakan yang digunakan: ikan rucah Perahu : Jukung Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll Gambar 4. Cara mengikat pelampung di rakit rakit Gambar diatas merupakan gambar teknik cara mengikat pelampung pada Sumber : Gufron, M. Dan H. Kordi K. 2007. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Dahara Prize.Semarang. 101 Halaman. b. padat penebaran Benih kakap putih dapat diperoleh dari alam atau dari panti benih. Ukuran panjang 2-3 cm dalam kurun waktu 30-40 hari atau ukuran besar 25-30 gram/ekor. Benih berenang cepat/gesit, sisik mengkilat tergolong benih yang baik dan sehat. Kepadatan optimal untuk benih berukuran 25-30 gram/ekor adalah 100 ekor/m 3. Sedangkan benih berukuran 100-150 gram/ekor padat tebarnya adalah 40-50 ekor/m 3 KJA.

Pendederan dilakukan setelah benih berumur 30 hari (D-30) dari saat penetasan. Waktu penebaran benih adalah pagi hari atau sore hari. Padat penebaran antara 80-100 ekor/m 3 volume air. Pakan diberi berupa cacahan daging segar halus dengan dosis 100% per hari dari total berat badan selama bulan pertama. dan pada bulan kedua dosisnya diturunkan menjadi 75% per hari. Masa pememliharaan pendederan selama 1-2 bulan, benih sudah akan mencapai ukuran gelondong. Pemeliharaan selama satu bulan ukuran panjang 2,5-3,5 cm, sedangkan pemeliharaan selama 2 bulan 7,5-10 cm. Jaring/hapa yang memiliki lubang (mata jaring) kecil. Dengan ukuran kurungan pendederan adalah 2x2x2 m 3 atau 3x3x3 m 3 (Ghufron, 2007). Setelah benih berukuran 7,5 10 cm, langkah pemeliharaan selanjutnya adalah pemindahan benih ke dalam kurungan pembesaran. B Konstruksi kurungan pembesaran yaitu 4x4x3 m 3 atau 5x5x3 m 3. Bahan kurungan (jaring) dari P (polythilene = eks jaring trawl) dengan mesh size 3/4 inchi (D.12-16) untuk pembesaran tahap I. dan untuk tahap II dengan mesh size 1.25 inchi (D.I8). Padat penebaran untuk tahap I. yakni bulan I dan II, pada kurungan pembesaran adalah 30-35 ekor gelondong/m 3 ; dan untuk tahap II, yakni bulan 111 V kepadatannya diturunkan menjadi 25-30 ekor gelondong/m 3. Usaha pembesaran di perairan atau laut diperlukan waktu sekitar 4-5 bulan. Untuk ukuran konsumsi waktu pemeliharaannya ditambah beberapa bulan dan padat penebarannya diturunkan menjadi 15-20 ekor/m 3.Untuk mernacu pertumbuhan. perlu diberi tambahan pakan cacahan daging ikan rucah segar dengan dosis 5-10% per hari dari total berat badan ikan. c. pakan dan pemberian pakan Pakan yang diberikan untuk ikan kakap putih ada 3 jenis, yaitu: pakan hidup (rotifera, naupli artemia), pakan segar (daging ikan segar yang dihaluskan, udang rebon) dan pakan buatan dengan kandungan protein > 40% dan lemak < 12%. Ikan kakap putih dapat juga diberi pakan ikan rucah. Ikan rucah bisa diperoleh dari hasil tangkapan gombang. Ikan rucah bisa diramu dengan bahan pengikat (tepung sagu). Ditambah dengan vitamin, mineral dan protein tambahan, untuk menghasilkan pelet ikan. Pemberian pakan harus memperhatikan keadaan cuaca. waktu dan ukuran ikan. Ikan berukuran 50 gram, diberikan 10% dari berat total ikan dalam karamba per hari. Ikan berukuran 100-300 gram cukup diberi

sebanyak 5% dari berat total per hari. Berukuan di tas 300 gram, diberi 3% per hari dari berat total ikan dalam karamba. Ikan rucah akan diperoleh nilai tukar pakan 5-71. Artinya untuk menghasilkan berat kakap 1 kg diperlukan ikan rucah sebanyak 5-7 kg. 2.2. Aktivitas Rutin Budidaya 2.2.1. Pengelolaan air dan wadah pemeliharaan Perkembangan dan kelangsungan hidup ikan kakap putih dalam kegiatan budidaya sangat bergantung pada parameter lingkungan pemeliharaan, yang diantaranya adalah intensitas cahaya, suhu, dan salinitas. Salinitas yang baik dalam pemeliharaan berkisar antara 30-31 ppt, dengan kisaran suhu 26-29 o C (Kungvankij, 1988). Suhu memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ikan yaitu pada pertumbuhan, tingkat konsumsi pakan, laju metamorfosis, tingkah laku, kecepatan renang, dan kecepatan metabolisme. Penelitian Sugama et al. (2004) menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan dan tingkat konsumsi pakan akan meningkat sejalan dengan peningkatan suhu. Adanya monitoring atau pengontrolan rutin perlu dilakukan dalam kegiatan budidaya ikan kakap putih di keramba jaring apung. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi masalah yang akan terjadi dalam kegiatan budidaya. Contoh masalah yang paling sering terjadi adalah adanya hama dan penyakit yang menyerang kultivan budidaya. Untuk menaggulangi hal tersebut harus dilakukan pengecekan kualitas air apakah sudah sesuai dengan kultivan, membersihkan jaring dari kotoran atau mengganti jaring dengan yang baru apabila sudah rusak, serta mempersihkan rakit dan pelampung dari kotoran yang menempal. 2.3. Masalah yang Sering Dihadapi Masalah yang sering dijumpai dalam budidaya Ikan kakap putih adalah masalah internal yaitu penyakit yang menyerang ikan kakap baik patogen maupun non patogen. 2.3.1. Penyakit patogen Parasit yang pernah menyerang larva ikan kakap putih adalah cacing pipih golongan Trematoda. Larva yang terserang parasit berumur sekitar 18 hari. Serangannya mencapai 2-3 %. Cacing ini banyak terdapat pada air media

pemeliharaan dan sebagian menempel pada tubuh larva, yaitu pada bagian spina. Tanda gejala serangan pada larva adalah nafsu makan berkurang, warna tubuh pucat, gerakan larva lambat dan berenang di permukaan. Bakteri yang menyerang larva adalah jenis Vibrio sp. Umumnya bakteri ini menyerang pada larva berumur sekitar 17 hari. Bakteri ini bersifat patogen pada larva dan merupakan penyebab kematian yang besar selain penyakit viral. Ikan yang terserang bakteri vibrio sp tidak menunjukan perubahan secara fisik, namun pada saat gelap tubuh ikan tampak bercahaya dan larva kehilangan nafsu makan (Kurniastuty et al., 2004). Penyakit viral pada larva kakap putih adalah VNN (viral nervous necrosis). Virus ini sangat patogenik dan merupakan penyebab kematian larva terbesar. VNN yang menginfeksi larva dapat mengakibatkan kematian total 100 % dalam tempo yang relatif singkat (1-2 minggu). Ikan yang terserang virus VNN tidak menunjukan perubahan secara fisik,gejala yang terlihat adalah terjadinya kematian secara masal dan tiba-tiba (Kurniastuty et al., 2004). 2.3.2. Penyakit non patogen Penyebab penyakit non patogenik dipengaruhi faktor lingkungan dan erat kaitannya dengan parameter kualitas air. Terjadinya perubahan kualitas air dapat menyebabkan inang memilki daya tahan tubuh lemah dan patogen berkembang dengan baik sehingga menimbulkan kematian pada larva. Beberapa penyakit non patogenik pada larva ikan kakap putih karena faktor lingkungan antara lain defisiensi oksigen, gas bubble desease dan keracunan. 2.4. Solusi dari Masalah Terkait Masalah penyakit pada Ikan Kakap Putih dapat ditanggulangi dengan berbagai cara sesuai dengan jenis penyakitnya. Berikut adalah contoh penyakit dan cara penanggulangannya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perlakuan untuk Mengatasi Penyakit Bakteri dan Parasit pada Ikan Kakap Putih Patogen Perlakuan Lama Perlakuan Perendaman dengan 150ppm 30 menit, 7 hari Monogonea hidrogen peroksida berturut-turut Cryptocaryon irritants Pergantian air, pemindahan -

ikan Formalin 200ppm, aerasi kuat ½-1jam, 3 hari Diplectanum sp. Formalin 20ppm + MG 0,15ppm Semalam Air tawar 1 jam Pseudohabdosyncus 250ppm formalin atau air tawar 1 jam Chlorampenichol 0,2 kg/kg pakan 4 hari Vibrio sp. Sulphonamide 0,5 g/kg pakan 7 hari Perendaman dengan Nitrofurazone 15 ppm atau 4 hari Sulfonamide 50ppm Sumber : Kurniasuty et al. (2004) Secara umum penanganan panyakit meliputi tindakan diagnosa, pencegahan dan pengobatan. Diagnosa yang tepat diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit, termasuk pengetahuan mengenai daur hidup dan ekologi organisme penyebab penyakit. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan tindakan penanggulangan yang lebih terarah yaitu dengan mempertahankan kualitas air agar tetap baik, mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar, pemberian pakan yang optimal mutu dan kualitasnya, mencegah penyebaran organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan ke bak pemeliharaan yang lain (Kurniastuty et al., 2004). Penanggulangan penyakit pada budidaya ikan laut baik pembesaran maupun pembenihan dapat dilakukan dengan mencegah timbulnya stress pada ikan. Stress didefinisikan sebagai reaksi biologis terhadap stimulus yang mengganggu, baik secara fisik, internal atau eksternal yang cenderung mengganggu kondisi homeostatis suatu organisme. Menurut Kurniastuty et al. (2004), menyatakan bahwa untuk mencegah mortalitas pada ikan dapat dilakukan hal- hal sebagai berikut : Mempertahankan kualitas air tetap baik Pemberian pakan yang cukup secara kualitas dan kuantitas Mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan satu ke bak yang lain.

III. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat didapatkan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. Bentuk wadah dalam budidaya ikan kakap putih berupa keramba jaring apung (KJA) 2. Aktivitas rutin budidaya ikan kakap putih meliputi pengelolaan air dan wadah pemeliharaan serta pemberian pakan. 3. Masalah yang sering dihadapi dalam budidaya ikan kakap putih adalah masalah internal berupa penyakit patogen dan non patogen. 4. Solusi penanganan penyakit secara umum dengan mempertahankan kualitas air tetap baik, pemberian pakan yang cukup secara kualitas dan kuantitas, dan mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan satu ke bak yang lain.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2004, The State of World Fisheries Aquaculture, FAO. Gufron, M. Dan H. Kordi K. 2007. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Dahara Prize. Semarang. 101 Halaman. Kurniastuty, T. Tusihadi dan P. Hartono. 2004. Hama dan Penyakit Ikan dalam Pembenihan Ikan Kerapu. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Kungvankij, P. 1988. Guide to Marine Finfish Hatchery Management. Food And Agriculture Of United Nations. Rome. Sugama, K., Trijoko, S. Ismi, K. Maha Setiawati. 2004. Effect of Water Temperature on Growth, Survival and Feeding Rate of Humpback Grouper (Cromileptes altivelis). In: Advences in Grouper Aquaculture, Editors: M.A. Rimmer, S. McBride and K.C. Williams. Australian Centre for International Aqricultural Research. Canberra. Page 55-60.