MAKALAH PERLENGKAPAN KAPAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DARURAT DAN SAR

BAB III TINJAUAN UMUM UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN

RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSA DAN PENGUJI KESELAMATAN DAN KEAMANAN KAPAL

EVALUATION OF SAFETY FACILITIES AVAIBILITY IN FERRY TRANSPORT (CASE STUDY IN NORTH MALUKU PROVINCE)

DESAIN AKSES OPTIMUM DAN SISTEM EVAKUASI SAAT KONDISI DARURAT PADA KM. SINAR BINTAN. Disusun Oleh: Nuke Maya Ardiana

BAB VI TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT

BAB V PENGENALAN ISYARAT BAHAYA. Tanda untuk mengingat anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah dengan kode bahaya.

BAB VIII PENUTUP. bahan bakar berasal dari gas berupa: LPG. generator, boiler dan peralatan masak di dapur.

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

b. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a perlu diatur lebih lanjut mengenai perkapalan dengan Peraturan Pemerintah;

Perancangan Fire Control and Safety Plan pada Kapal Konversi LCT menjadi Kapal Small Tanker

BAB 1 : PENDAHULUAN. industri penyedia jasa angkutan laut seperti pelayaran kapal laut. (1)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI. Penerima Receiver.

PENANGANAN PROSEDUR DARURAT PADA KAPAL ABSTRAK

BAB II JENIS-JENIS KEADAAN DARURAT

FINAL KNKT Laporan Investigasi Kecelakaan Laut

2013, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negar

A L AT- A L AT P E N O L O N G Dl ATAS KAPAL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG PERKAPALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG P E R K A P A L A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. garis khatulistiwa, oleh karenanya angkutan laut sangat dibutuhkan untuk

Evaluasi Kesesuaian Life-Saving Appliances (LSA) dan Pembuatan Simulasi Sistem Evakuasi Pada Kapal Perintis 1200 GT Menggunakan Software Pathfinder

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA


PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

Awak tidak memperhatikan bangunan dan stabilitas kapal. Kecelakaan kapal di laut atau dermaga. bahaya dalam pelayaran

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG

MENGAMATI KESELAMATAN PENUMPANG ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

2016, No Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 1980 tentang Pengesahan International Convention For The Safety of Life at Sea, 1974; 6. Peratur

No Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Pasal 369 Undang- Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Undang- Undang Nomor 22

BAB 6 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DI KAPAL

FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA

FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 NOMOR 4

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG KEPELAUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEDOMAN PENYELENGGARAAN DIKLAT KETERAMPILAN KHUSUS PELAUT SURVIVAL CRAFT AND RESCUE BOAT (SCRB)

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2008 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

APLIKASI PENERAPAN PERATURAN SOLAS DALAM PERENCANAAN PERALATAN KESELAMATAN KMP LEGUNDI PADA LINTASAN MERAK-BAKAUHENI

PT. PELANGI NIAGA MITRA INTERNASIONAL EMERGENCY RESPONSE TEAM AHT. PELANGI ESCORT - YD. 4523

RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA DAERAH PELAYARAN KAPAL PELAYARAN RAKYAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II PERSIAPAN UNTUK MENGOLAH GERAK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No kepelabuhanan, perlu dilakukan penyempurnaan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan L

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM.1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE)

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan

namun metode ini hanya dapat membekali operator kapal yang merupakan subyek langsung dari kecelakaan kapal.

2018, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5086), sebagaimana telah diubah dengan Perat

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pencarian dan Pertolongan adalah segala usaha dan

BUPATI BARITO UTARAA PERATURAN BUPATI BARITO UTARA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG DI SUNGAI BARITO DALAM WILAYAH KABUPATEN BARITO UTARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG K E P E L A U T A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42/PERMEN-KP/2016 TENTANG PERJANJIAN KERJA LAUT BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN

BAB III KESELAMATAN PELAYARAN

BUPATI MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

[Standar Pelayanan Minimum KM. Andalus] 1

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN

WAKTU EVAKUASI MAKSIMUM PENUMPANG PADA KAPAL PENYEBERANGAN ANTAR PULAU

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 LAMPIRAN BAB 1 ISTILAH DAN DEFINISI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan kekayaan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. 1

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENERBITAN PAS KECIL UNTUK KAPAL KURANG DARI 7 GROSSE TONNAGE

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Per

ISPS CODE Seri: Manajemen Pelabuhan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG INVESTIGASI KECELAKAAN TRANSPORTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1992 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN [LN 1992/49, TLN 3480]

BAB III. Tindakan Olah Gerak menolong orang jatuh kelaut tergantung dan pada factor-factor sebagai berikut :

2 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republ

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 05/MEN/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PEMANTAUAN KAPAL PERIKANAN

RENCANA RESCUE DAN EVAKUASI MEDIS. Referensi : - IAMSAR Manual, Vol 2

VII. TATA LETAK PABRIK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG INVESTIGASI KECELAKAAN TRANSPORTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2016, No Republik Indonesia Nomor 4152); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008

1998 Amandments to the International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979 (Resolution MCS.70(69)) (Diadopsi pada tanggal 18 Mei 1998)

PENERAPAN PENGGUNAAN ALAT KESELAMATAN PADA SAAT BERLAYAR UNTUK KELOMPOK NELAYAN MADURA

Laporan Akhir Studi Penyusunan Kebutuhan Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria (NSPK)di Bidang Pelayaran KATA PENGANTAR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG OPERASI PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]

ISYARAT BAHAYA DI KAPAL. TPL - Prod/C.01. Kompetensi : Prosedur Darurat dan Sar

BAB II PEMUTAKHIRAN PETA LAUT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Penerapan Analisis DuPont Untuk Mengetahui Kondisi Keuangan PT. Pelayaran Tempuran Emas Tbk Tahun Ekka Pujo Ariesanto Akhmad

Transkripsi:

MAKALAH PERLENGKAPAN KAPAL PERLENGKAPAN KESELAMATAN DIKAPAL DISUSUN OLEH : 1. AZIS ANJAS NUGROHO ( 21090111120001 ) 2. CARMINTO ( 21090111120002 ) 3. M.RESI TRIMULYA ( 21090111120003 ) 4. M. BUDI HERMAWAN ( 21090111120004 ) 5. MUSTIKA AGUNG ( 21090111120005 ) 6. AZIS ABDUROHMAN ( 21090111120006 ) 7. UCOK MARULI SILALAHI ( 21090111120007 ) 8. MARTINUS ARFENDO ( 21090111120008 ) 9. RAHMAT PRIO APRIJAL ( 21090111120009 ) 10. M NURDIN S R ( 21090111120010 ) 11. HUGO DIGITEC S ( 21090111120011 ) 12. ADI PRIANDIKO ( 21090111120012 ) 13. FATCHUL FALAH AZMI ( 21090111120013 ) PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERKAPALAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012 / 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kapal merupakan alat transportasi perhubungan manusia dan pengiriman barang dari suatu wilayah ke wilayah lain. Kapal dapat dikelompokkan dalam bermacam - macam jenis, dalam penggolongannya kapal di bedakan berdasarkan bahan pembuat kapal, alat penggeraknya, fungsi dan kegunaan kapal. Kapal kapal yang di gunakan dalam kegiatan sehari hari bukan untuk perang, namun kapal digunakan untuk mengangkut barang atau penumpang. Pada dasarnya kapal yang digunakan untuk semua kegiatan baik untuk mengangkut barang atau penumpang maupun kegiatan lain dalam pembuatannya memerlukan sistem keamanan yang baik pada saat kapal tersebut beroprasi. Untuk menunjang tingkat keamanan yang di perlukan pada kapal tersebut, maka dalam pembuatannya kapal tersebut harus dilengkapi dengan sistem perlengkapan keamanan sesuai standar biro klasifikasi yang berlaku.

BAB II PERMASALAHAN Dalam pembuatan makalah yang berjudul Perlengkapan Keselamatan Pada Kapal, penyusun memaparkan beberapa permasalahan yang akan dibahas guna mengetahui macam dan kegunaan dari perlengkapan keselamatan pada kapal. Adapun permasalahan yang akan dibahas yaitu sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan perlengkapan keselamatan di kapal? 2. Macam - macam dan kegunaan perlengkapan keselamatan pada kapal? 3. Bagaimanakah persyaratan teknis pada perlengkapan keselamatan kapal? 4. Bagaimanakah pemeriksaan dan pemeliharaan perlengkapan keselamatan pada kapal? Demikian permasalahan yang akan kami bahas dalam penyusunan makalah ini, semoga pembahasan makalah ini dapat memberikan sedikit pengetahuan yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi pembaca.

3.1 Perlengkapan keselamatan BAB III PEMBAHASAN Perlengkapan keselamatan (safety equipment) adalah semua peralatan keselamatan yang hanya digunakan pada keadaan darurat menyangkut keselamatan manusia dan/atau kapal. Jumlah, jenis dan kelengkapan perlengkapan keselamatan telah diatur oleh dalam peraturan keselamatan yang mengacu pada ketentuan Intergovernmental Maritime Organization (IMO) melalui SOLAS 1974. Peraturan ini berlaku untuk semua kapal baik yang sedang berlayar, berlabuh, menangkap ikan, bersandar dan docking. Peralatan ini wajib ada di atas kapal dengan jumlah yang cukup sesuai ketentuan yang berlaku dan disyahkan oleh yang berwenang. Perlengkapan keselataman adalah semua peralatan yang digunakan bagi para awak kapal (life jacket, immersion suit) untuk meninggalkan kapal (abandon ship) jika kapal dinyatakan bahaya oleh Nakhoda termasuk sekoci penolong, life raft, dan rakit penolong). Perlengkapan keselamatan ini wajib ada di kapal dan ditempatkan di tempattempat yang mudah dijangkau dan diluncurkan dari kapal. 3.2 Macam-macam dan kegunaan perlengkapan keselamatan pada kapal:

1. Sekoci penolong tertutup adalah alat apung yang digunakan untuk meninggalkan kapal. Sekoci ini dilengkapi mesin, perlengkapan penunjang kehidupan, navigasi, dan komunikasi. Sekoci ini ditempatkan pada dewi-dewi meluncur otomatis, dimana awak kapal masuk ke sekoci sebelum diluncurkan. 2. Jacket Penolong (Life Jacket) adalah jaket khusus yang dilengkapi peralatan mengapung dan isyarat (peluit)yang dipakai oleh perorangan. Jumlahnya paling sedikit satubuah untuk satu orang atau menurut ketentuan yang berlaku. 3. Pelampung penolong (Life Ring) adalah alat apung yang digunakan misalnya untuk menolong orang jatuh kelaut. Alat ini dipasang di masing-masing lambung kapal, mudah dijangkau, tidak boleh diikat. Salah satu dari sejumlah pelampung yang dipasang di masing-masing lambung kapal harus dilengkapi dengan tali dan lampu isyarat yang dapat menyala secara otomatis (biasanya di pasang disamping kamar kemudi). 4. Rakit penolong adalah apung keselamatan yang juga diwajibkan ada diatas kapal. Life Raft Life Raft adalah alat apung yang dapat mengapung dengan sendirinya. Alat ini digunakan saat kapal benar-benar semua awak kapal harus meninggalkan kapal (tenggelam atau terbakar). Alat ini dipasang di masingmasing lambung kapal dengan penataan khusus yang dapat diluncurkan dengan mudah atau terlepas dengan sendirinya. Jumlah dan kapasitasnya life raft dimasing-masing lambung kapal harus mampu menampung seluruh awak kapal atau mengacu pada aturan yang berlaku. Life Raft harus selalu diperiksa dan oleh ahlinya dan disahkan oleh yang berwenang. Sekoci penolong adalah alat apung yang digunakan untuk meninggalkan kapal. Sekoci ini dilengkapi mesin, perlengkapan penunjang kehidupan, navigasi, dan komunikasi. Sekoci ini ditempatkan pada dewi-dewi harus dapat diluncurkan baik secara mekanis maupun otomatis. Ada 3 jenis lifeboat (sekoci penolong) utama biasa digunakan diantaranya : 1. Fully enclosed lifeboat (sekoci Tertutup) Digunakan pd kebanyakan kapal tanker dan kontainer. sekoci Tertutup adalah sekoci paling populer yang digunakan pada kapal, karena mereka tertutup yang menyimpan kru dari air laut, angin kencang dan cuaca kasar. Selain itu, integritas air ketat lebih tinggi pada jenis ini sekoci dan juga bisa mendapatkan tegak sendiri jika terguling oleh gelombang. sekoci tertutup adalah lebih diklasifikasikan sebagai - Sebagian tertutup dan penuh tertutup sekoci. 2. Semi enclosed life boat atau open life boat (sekoci terbuka) Seperti namanya, sekoci terbuka memiliki tanpa atap dan biasanya didorong oleh tenaga manual dengan menggunakan tangan Bijih didorong. Kompresi motor bakar juga dapat diberikan untuk tujuan propulsi. Namun, sekoci terbuka menjadi usang sekarang karena norma-norma keselamatan yang ketat, tetapi masih kadang ditemukan di kapal tua. Sekoci terbuka tidak banyak

membantu dalam hujan atau cuaca buruk dan kemungkinan masuknya air dalam tertinggi. 3. free-fall lifeboat (sekoci jatuh bebas) sekoci jatuh bebas adalah sama dengan sebuah sekoci tertutup namun proses peluncuran sama sekali berbeda. Mereka aerodinamis di alam dan dengan demikian perahu bisa menembus air tanpa merusak badan sekoci saat diluncurkan dari kapal.sekoci ini terletak di bagian belakang kapal, yang menyediakan area yang jelas maksimum untuk jatuh bebas. Jenis ini biasanya hanya disediakan satu saja dikapal. 5. Roket Pelontar Cerawat Payung (Parachute Flare Rocket) adalah alat pemberi isyarat yang berupa pelontar yang secara teknisnya ditembakan secara vertikal yang mampu mencapai ketinggian tidak kurang 300 meter. Ketika puncaknya cerawat berparasut dapat menyala dengan warna merah terang, dan dapat menyala dalam jangka waktu 40 detik. 5. Cerawat Tangan (Hand Flare) adalah alat pemberi isyarat yang berupa tabung yang dapat menyala dengan warna merah terang, dan dapat menyala dalam jangka waktu 1 menit juga dapat terus menyala dalam air dalam jangka waktu 10 detik. 7. Isyarat Asap (Smoke Signal) adalah alat pemberi isyarat yang berupa tabung yang mengeluarkan asap berwarna menyolok selama 3 menit dan selama 10 detik dalam air. 8. Peralatan Pelontar Tali (Line-Throwing Apparatus) adalah alat berupa pistol roket yang menyatu dengan tali, yang berfungsi melontarkan tali. 3.3 Persyaratan Teknis Perlengkapan Keselamatan Kapal Adapun persyaratan teknik dalam perlengkapan kapal yaitu sebagai berikut : 1. Alat penolong harus di rancang,dibuat dan diatur sedemikian supaya tingkat kemungkinan selamat menjadi lebih besar ketika terjadi kecelakaan kapal 2. Alat penolong harus disimpan sedemikian sehingga siap diambil dan digunakan sesuai fungsinya ketika terjadi kecelakaan. 3. Alat penolong harus dirancang, dibuat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga dengan baik diperlukan 4. Alat penolong sebagaimana dimaksud dalam kalimat diatas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dibuat dari bahan dengan mutu yang memenuhi syarat. b. mempunyai kontruksi dan daya apung yang baik, sesuai dengan kapasitas dan beban yang di tentukan. c. diberi warna yang mencolok sehingga mudah dilihat.

d. telah lulus uji coba produksi dan uji coba pemakaian dalam pengoperasian dan diberi tanda legalitas. e. dengan jelas dan tetap mencantumkan nama kapal dan spesifikulasi alat penolong. f. ditempatkan pada tempat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3.4 Pemeriksaan dan Pemeliharaan Perlengkapan Keselamatan Pada Kapal Pemeriksaan dan pemeliharaan perlengkapan keselamatan kapal dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Pemeriksaan dan verifikasi peralatan keselamatan dengan salah satu atau beberapa metode berikut ini : 1. Diuji atau didaftar secara khusus untuk tujuan itu oleh badan penguji atau pendaftaran resmi di Indonesia. 2. Disahkan oleh otoritas yang berwenang atau oleh badan sertifikasi produk yang berwenang. 3. Jenis yang disetujui oleh badan klasifikasi yang berwenang. 4. Pengujian dan pendaftaran, sertifikasi atau persetujuan jenis dengan cara tersebut di atas dianggap sebagai bukti pemenuhan standar ini. 5. Metode penilaian untuk pemeliharaan peralatan keselamatan harus diverifikasi dengan cara sesuai dengan resiko yang mungkin terjadi bila sistem keselamatan gagal kinerjanya. b. Rakit penolong kembung pantai dan rakit penolong terbuka bolak balik 1. Rakit penolong kembung pantai dan rakit penolong terbuka bolak balik harus dipelihara pada interval 12 bulan, atau lebih sesuai dengan saran pembuat dan disetujui pada waktu produk dinilai dan diverifikasikan sesuai ketentuan otoritas yang berewenang. 2. Pemeliharaan alat ini harus dilakukan oleh orang atau organisasi yang : Disetujui dan diakreditasi untuk melakukan hal itu oleh pembuat. Mempunyai buku pemeliharaan yang berlaku(termasuk amandemennya) sebagaimana yang dibrikan oleh pembuat rakit

penolong dan semua pendinian dari manual itu dan bulletin keselamatan lai dalam setiap bulan publikasi mereka Memiliki akses ketersediaan suku cadang asli, material dan peralatan untuk setiap jenis rakit penolong yang dipelihara Melakukan semua pelatihan yang diperlukan seperti ditetapkan oleh pembuat untuk mempertahankan ketrampilan Mempertahankan sistem manajemen mutu. c. Setiap Sistem Evakuasi Pelayar (MES) harus dipelihara 1. Pada interval 12 bulan, atau lebih lama sesuai saran pembuat dan disetujui pada waktu produk dinilai dan diverikasi sesuai dengan ketentuan otoritas yang berwenang. 2. Pada stasiun pemeliharaan yang disetujui dan diakreditasi untuk melakukannya oleh pembuat sistem evakuasi pelayar. d. Rakit penolong kembung NON-SOLAS 1. Semua perbaikan dan pemeliharaan rakit penolong kembung harus dilakukan sesuai dengaan intruksi pembuat. Sementara perbaikan darurat dapat dilakukan diatas kapal, namun perbaikan permanennya harus dilakukan di stasiun pemeliharaan yang disetujui dan diakreditasi oleh pembuat rakit penolong kembung tersebut. e. Alat peluncur 1. Dipelihara menurut interval yang direkomendasikan sesuai dengan intruksi pembuatnya. 2. Menjadi subyek pemeriksaan lengkap dengan interval tidak lebih dari 5 tahun 3. Setelah selesai pemeriksaan tersebut diatas, dilakukan uji dinamis rem pangsi dengan beban uji tidak lebih dari 1,1 kali batas beban kerja maksimal pada penurunan kecepatan. f. EPIRBS dan radar transponder

1. EPIRBS dan radar transponder harus diperiksa, diuji, jika perlu sumber energinya diganti, pada interval 12 bulan atau lebih lama sesuai petunjuk pembuat dan disetujui pada saat produk dinilai dan diverifikasi sesuai dengan ketentuan otoritas yang berwenang. 2. Jika EPIRBS terdapat dalam rakit penolong kembung, alat ini harus diperiksa, diuji dan dipelihara, ketika rakit penolong kembung dipelihara. 3. Pyrotechnic dan isyarat asap harus digunakan paling tidak selama 3 tahun sejak tanggal pembuatan atau lebih lama sesuia dengan rekomendasi pembuat dan disetujui pada saat dinilai dan diverifikasi sesuai dengan ketentuan otoritas yang berwenang.

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Perlengkapan keselamatan dalam kapal sangat dibutuhkan karena Perlengkapan keselamatan adalah semua peralatan keselamatan yang hanya digunakan pada keadaan darurat menyangkut keselamatan manusia dan/atau kapal.

Selain itu Perlengkapan keselataman adalah semua peralatan yang digunakan bagi para awak kapal (life jacket, immersion suit) untuk meninggalkan kapal (abandon ship) jika kapal dinyatakan bahaya oleh Nakhoda termasuk sekoci penolong, life raft, dan rakit penolong). Perlengkapan keselamatan ini wajib ada di kapal dan ditempatkan di tempattempat yang mudah dijangkau dan diluncurkan dari kapal. 4.2. Saran Makalah ini belum sepenuhnya dapat memberikan solusi dalam hal pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut. Tetapi makalah ini bisa dijadikan sebagai referensi untuk mengambil keputusan dalam menghadapi suatu permasalahan yang sedang dihadapi bagi semua orang khususnya mahasiswa ataupun bagi orang awam yang sedang menghadapi suatu permasalahan di bidang bagian perlenkapan keselamatan dikapal.