Alat Tangkap Longline

dokumen-dokumen yang mirip
METODE PENANGKAPAN IKAN

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERIKANAN PANCING TONDA DI PERAIRAN PELABUHAN RATU *)

OPERASI PENANGKAPAN IKAN PADA USAHA PERIKANAN POLE AND LINE DI PT. PERIKANAN PERKEN UTAMA KENDARI SULAWESI TENGGARA

Alat bantu Gill net Pengertian Bagian fungsi Pengoperasian

III. METODE PENELITIAN

WARNA UMPAN TIRUAN PADA HUHATE

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP

SEBARAN LAJU PANCING RAWAI TUNA DI SAMUDERA HINDIA DISTRIBUTION OF THE HOOK RATE OF TUNA LONGLINE IN THE INDIAN OCEAN

Kajian aspek teknis unit penangkapan kapal pole and line yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung

(Jaring Insang) Riza Rahman Hakim, S.Pi

BEBERAPA JENIS IKAN BAWAL (Angel fish, BRAMIDAE) YANG TERTANGKAP DENGAN RAWAI TUNA (TUNA LONG LINE) DI SAMUDERA HINDIA DAN ASPEK PENANGKAPANNYA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Produktivitas 2.2 Musim

HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BY CATCH) TUNA LONG LINE DI PERAIRAN LAUT BANDA

TINJAUAN PUSTAKA. jenis merupakan sumber ekonomi penting (Partosuwiryo, 2008).

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA

BEBERAPA JENIS PANCING (HANDLINE) IKAN PELAGIS BESAR YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PPI HAMADI (JAYAPURA)

3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar

TEKNIK PENGOPERASIAN HUHATE (POLE AND LINE) DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPANNYA DI LAUT SULAWESI

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR

BAB III BAHAN DAN METODE

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. di udara, darat, maupun laut. Keanekaragaman hayati juga merujuk pada

BAB III BAHAN DAN METODE

PERIKANAN TUNA YANG BERBASIS DI KENDARI, SULAWESI TENGGARA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Tuna Klasifikasi ikan tuna

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

Fishing Technology: Longline. Ledhyane Ika Harlyan

METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

KAJIAN FISHING GEAR SERTA METODE PENGOPERASIAN RAWAI (LONG LINE) DI PERAIRAN BAGIAN SELATAN PULAU TARAKAN. Muhammad Firdaus 1), Kamelia 2)

PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP PANCING TONDA DI LAUT BANDA YANG BERBASIS DI KENDARI

2 TINJAUAN PUSTAKA. Sumber: Gambar 1 Ikan tuna sirip kuning ( Thunnus albacares)

5 PEMBAHASAN 5.1 Desain Perahu Katamaran General arrangement (GA)

PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA)

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Produktivitas

MENGIDENTIFIKASI JENIS-JENIS IKAN TUNA DI LAPANGAN. Jenis-jenis ikan tuna. dan. Jenis-jenis yang serupa tuna ( tuna-like species )

3 METODOLOGI PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/KEPMEN-KP/2015 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN PERIKANAN TUNA, CAKALANG DAN TONGKOL

BAB III BAHAN DAN METODE

KLASIFIKASI ALAT / METODE PENANGKAPAN DI INDONESIA (STANDAR NASIONAL)

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

KAPAL IKAN PURSE SEINE

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Pancing Tonda Definisi dan klasifikasi Alat penangkapan ikan

II. TINJAUAN PUSTAKA Penangkapan Ikan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha

STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Alat tangkap gillnet millenium

KEDALAMAN LAPISAN RENANG TUNA (Thunnus sp.) YANG TERTANGKAP OLEH RAWAI TUNA DI SAMUDERA HINDIA SATRIA AFNAN PRANATA

EKSPLORASI SUMBER DAYA PERAIRAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL UNIT USAHA PANCING LAYANGAN DI PERAIRAN BANGGAE KABUPATEN MAJENE

DRAFT KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PRODUKTIVITAS KAPAL PENANGKAP IKAN

Muhammad Rifai Siregar 1), Irwandy Syofyan 2), and Isnaniah 2) Fisheries and Marine Science Faculty Riau University ABSTRACT

PENGARUH PERBEDAAN UMPAN DAN WAKTU SETTING RAWAI TUNA TERHADAP HASIL TANGKAPAN TUNA DI SAMUDERA HINDIA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sumberdaya Ikan Pelagis 1) Ikan cakalang ( Katsuwonus pelamis

Bentuk baku konstruksi kapal rawai tuna (tuna long liner) GT SNI Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional

4. HASIL PENELITIAN 4.1 Keragaman Unit Penangkapan Ikan Purse seine (1) Alat tangkap

Sukses pengoperasian pukat cincin Sinar Lestari 04 dengan alat bantu rumpon yang beroperasi di Perairan Lolak Provinsi Sulawesi Utara

KONSTRUKSI DAN PRODUKTIVITAS RUMPON PORTABLE DI PERAIRAN PALABUHANRATU, JAWA BARAT

Lampiran 1 Peta PPN Palabuhanratu

KATA PENGANTAR. Jakarta, November Penyusun

PURSE SEINE (PUKAT CINCIN)

MONITORING HASIL PERIKANAN DENGAN ALAT TANGKAP PANCING TONDA DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PRIGI, KABUPATEN TRENGGALEK, PROPINSI JAWA TIMUR

PENGARUH JARAK TALI CABANG PADA ALAT TANGKAP PANCING RAWAI DASAR TERHADAP HASIL TANGKAP IKAN DASAR DI PERAIRAN SELAT MADURA

MODUL MERAKIT RAWAI TUNA

TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN TUNA DENGAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR DI LAUT BANDA OLEH NELAYAN AMBON (PROVINSI MALUKU)

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.

DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA (Thunnus sp.) DI SANGIHE, SULAWESI UTARA

Program Bycatch: Pengembangan Teknologi Mitigasi

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ALAT PENANGKAPAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PENGARUH LAMA SETTING DAN JUMLAH PANCING TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAWAI TUNA DI LAUT BANDA

Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Alat Dan Kapal Penangkapan Ikan. Dosen : Prof. Dr. Ir. H. Dulmiad Iriana PANCING TONDA DISUSUN OLEH :

KATA PENGANTAR. Jakarta, Nopember Penyusun

MODUL MENGOPERASIKAN JARING INSANG HANYUT (DRIFT GILLNET)

Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)

Komposisi dan distribusi hasil tangkapan kapal pukat cincin KM Grasia 04 di perairan Laut Maluku

pemanfaatan potensi perikanan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERIKANAN PANCING ULUR TUNA DI KEDONGANAN, BALI

Mancing : Jenis-Jenis Alat Tangkap Pancing

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta

TEKNOLOGI ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING ULUR (HANDLINE) TUNA DI PERAIRAN LAUT SULAWESI BERBASIS DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

PAPER TEKNIK PENANGKAPAN IKAN ALAT TANGKAP IKAN

DAYA PERAIRAN. Fisheries Department UMM

PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCING GANDA PADA RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LAYUR

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 4.2 Keadaan Umum Perikanan di Sulawesi Utara

EFFECT OF PRODUCTION FACTORS ON PURSE SEINE FISH CAPTURE IN THE LAMPULO COASTAL PORT, BANDA ACEH

Sebaran Ikan Tuna Berdasarkan Suhu dan Kedalaman di Samudera Hindia

PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN MELALUI PENDEKATAN KONVENSIONAL

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbandingan hasil tangkapan tuna hand line dengan teknik pengoperasian yang berbeda di Laut Maluku

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Transkripsi:

Alat Tangkap Longline Longline merupakan suatu alat tangkap yang efektif digunakan untuk menangkap ikan tuna. Selain itu alat tangkap ini selektif terhadap hasil tangkapannya dan pengoperasiannya bersifat pasif. Sehingga, tidak merusak sumber daya hayati perairan (Herlindah, 2004). API Longline enggunakan umpan untuk menarik perhatian ikan Target ikan : ikan tuna, dsb Alat tangkap terdiri dari : tali utama (main line), tali cabang (tali pancing, branch line), tali pemberat, pemberat, pelampung, tali pelampung (float line), bendera (sign flag), jangkar (anchor), tali jangkar (anchor line), dan mata pancing (hook) jenis-jenis mata pancing Klasifikasi Longline : Berdasarkan cara pengoperasian Drift Longline, yaitu longline yang dioperasikan dalam keadaan hanyut Bottom Longline, yaitu longline yang dioperasikan didasar perairan Berdasarkan letak pengoperasiaran di perairan Longline permukaan (surface longline) Longline pertengahan (midwater longline) Longline dasar (bottom longline) Berdasarkan kontruksi alat tangkap

Longline tegak (vertical longline) Longline mandatar (horizontal longline) Berdasarkan jenis ikan yang ditangkap Longline tuna, longline cucut, dsb umpan untuk menangkap tuna Operasi Alat Tangkap Longline Tuna Kapal rawai tuna dapat memperkerjakan 15-23 orang Langkah pengoperasian Setting (penyiapan dan pelepasan alat tangkap), Immersing (perendaman alat tangkap), dan hauling (penarikan alat tangkap). Setting dilakukan sekitar 5 hingga 6 jam tergantung pada kondisi main line, branch line dan hauling terakhir Jika hauling dilakukan pukul 04.00 maka setting selanjutnya dilakukan pukul 07.00 dengan kecepatan 2-5 knots Setelah setting, line dilepas, dimana setelah 3-5 jam pelepasan line (drifting), maka selanjutnya dilakukan hauling Hauling biasanya dilakukan pukul 17.00 Pembagian kerja pada saat hauling 1 Oang mengoperasikan line hauler, 1 orang memantau dan mengatur main line ke basket, 2 orang menggulung branch line, dan 4 orang standby untuk membenahi penempatan branch line dan main line, serta memproses ikan yang tertangkap.

posisi hook ketika mendapat ikan Jenis-jenis ikan tuna A. Nama Indonesia : Tuna sirip kuning atau Madidihang Nama Internasional : Yellowfin Tuna Nama Latin : Thunnus albacore Fork Length atau ukuran layak tangkap 120cm B. Nama Indonesia : Tuna sirip biru selatan Nama Internasional : Southern Bluefin Tuna Nama Latin : Thunnus macoyii Fork Length atau ukuran layak tangkap : 140cm C. Nama Indonesia : Tuna mata besar Nama Internasional : Big Eye Tuna Nama Latin : Thunnus Obesus Fork Length atau ukuran layak tangkap : 120cm D. Nama Indonesia : Albakora Nama Internasional : Albacore Nama Latin : Thunnus alalunga Fork Length atau ukuran layak tangkap : 95cm

PANCING: POLE AND LINE Pancing (Hook and Line) Pole and Line (HUHATE) 1. Definisi dan Klasifikasi Pole and line atau huhate adalah alat penangkapan ikan yang terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dan tali sebagai tali pancing. Pada tali pancing ini dikaitkan mata pancing yang tidak berkait dimaksudkan agar ikan dapat mudah lepas. Pada pengoperasiannya alat tangkap ini dilengkapi dengan umpan dalam bentuk mati ataupun hidup. Alat tangkap ini termasuk dalam klasifikasi pancing (hook and line). 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan Pole and line terdiri dari gandar yang biasa terbuat dari bambu, tali pancing dan mata pancing. Panjang galah biasanya tergantung ukuran perahu yaitu semakin besar ukuran perahu yang digunakan, ukuran gandar atau joran juga semakin panjang dan terbuat dari bambu atau fiberglass karena ringan dan lentur. Tali utama terbuat dari bahan nylon monofilament warna merah atau hijau dan panjangnya 2/3 dari panjang gandarnya. Mata pancing pole and line ini ada dua macam yaitu yang berkait balik dan tidak berkait balik, namun yang sering digunakan adalah yang tidak berkait balik. Mata pancing ini diselipkan seakan-akan disembunyikan pada umpan tiruan, sehingga secara tidak langsung kelihatan menyolok. Untuk mata pancing yang berkait balik memakai umpan, yaitu umpan hidup atau masih segar. Penggunaan mata pancing ini hanya dilakukan kalau nantinya ikan yang akan ditangkap tidak suka menyambar umpan tiruan. Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Balai Keterampilan Penangkapan Ikan Ambon (1981), huhate terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut, joran/galah yang terbuat dari bambu atau plastik dengan panjang yang berkisar antara 2-3,25 meter. Kemudian tali dari bahan sintetis, monofilament atau multi filament dengan panjang 1,5 2,5 meter dan diameter tali 0,2 0,3 meter. Lalu kawat baja (wire leader) yang panjangnya 5 10 cm, terdiri dari 2 3 urat yang disatukan/ dipintal dengan diameter 1,2 mm. setelah itu mata kail (hook) yang khusus, karena ujungnya tidak memiliki kait. Gambar konstruksi alat dapat dilihat pada lampiran. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan 3.1 Kapal Bentuk kapal pole and line sangat berperan penting dalam keberhasilan penangkapan ikan ini, untuk itu kapal yang digunakan harus sesuai untuk pengoperasian. Menurut Subani dan Barus (1989), ada beberapa ciri khusus bentuk kapal pole and line diantaranya yaitu pertama pada bagian atas dek kapal bagian depan terdapat plataran ( flat form ) yang digunakan sebagai tempat memancing, kedua dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk penyimpanan ikan umpan yang masih hidup, dan yang ketiga pada kapal pole and line ini harus dilengkapi sistem semprotan air ( water splinkers system ) yang dihubungkan dengan suatu pompa. Sedangkan tenaga pemancing jumlahnya bervariasi misalnya saja untuk kapal ukuran 20 GT dengan kekuatan 40-60 HP. Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang stream line dan mempunyai olah gerak kapal yang lincah dan tergolong kapal yang mempunyai kecepatan

service sedang yaitu diatas 10 knot dan gerakan stabilitas yang baik untuk mengejar segerombolan ikan, yakni kapal tersebut sambil olah gerak. 3.2 Nelayan Untuk pengoperasian alat tangkap pole and line ini dibutuhkan tenaga anak buah kapal (ABK) berjumlah 22-26 orang, dengan ketentuan sebagai berikut : 1 orang sebagai kapten, 1 motoris, 1-2 orang pelempar umpan, 1 orang sebagai koki dan sisanya sebagai pemancing (Subani dan Barus, 1989). 3.3 Alat bantu Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap huhate ini biasanya dalam pengoperasian alat sering menggunakan alatbantu diantaranya yaitu pila-pila yaitu digunakan sebagai tempat duduk atau berdiri tempat pemancing, yang letaknya bisa pada bagian haluan dan buritan antara sepanjang lambung kiri dan kanan (Ditjenkan, 1994). Pipa Penyemprot atau sprayer digunakan untuk menyemprot air secara percikan ke permukaan laut. Tujuannya adalah untuk mengelabui ikan-ikan seolah-olah pada permukaan laut terdapat banyak ikan terutama cakalang. Kemudian alat bantu berikutnya yaitu bak umpan, bak umpan digunakan sebagai tempat umpan. Pada bak umpan tersebut sebaiknya diberi warna putih supaya lebih mudah dan dengan lampu penerang di beberapa tempat masing-masing berkekuatan 50 watt. Fungsi dari lampu tersebut agar dapat memberikan fototaksis positif dari ikan, sehingga ikan-ikan tersebut dapat membentuk schooling yang baik. Apabila dalam bak umpan tidak dipasang lampu, maka dapat menyebabkan umpan banyak bergerak secara tidak menentu, antara umpan yang satu dengan lainnya saling bertubrukan dan membuat umpan tersebut rusak tidak dapat dipergunakan Sibu-sibu digunakan untuk menaikkan umpan hidup dari palka umpan ke dalam bak penebar umpan dan juga untuk menebarkan umpan hidup ke laut. Sibu- sibu yang berukuran kecil dipakai untuk menebar umpan dari bak penebar ke laut, sedangkan sibu-sibu besar digunakan untuk memindahkan umpan dari palka ke dalam bak penebar umpan. Lalu ada ember digunakan untuk mengangkat umpan hidup dari bagan nelayan ke dalam palka umpan, dan juga untuk berbagai keperluan. Ember ini juga menjadi ukuran dalam menentukan banyaknya umpan yang dimasukkan ke dalam palka umpan. 3.4 Umpan Penangkapan ikan cakalang dengan huhate atau pole and line biasanya menggunakan jenis umpan untuk mengumpulkan ikan cakalang yaitu umpan hidup. Jenis umpan hidup yang paling baik digunakan dalam perikanan Pole and line adalah ikan teri (Subani, 1973; Murdianto, Rosana dan Penturi, 1995 dalam Simbolon D, 2003). Pada mata pancing alat huhate ini biasanya dipasang bulu ayam yang berfungsi untuk mengelabui ikan sasaran dan menutupi mata pancing. 4. Metode Pengoperasian Alat Pengoperasian alat tangkap pole and line ini ada beberapa tahap yang harus dijalankan yaitu tahap pertama adalah persiapan meliputi kegiatan merangkai alat pancing, mempersiapkan tempat penyimpanan hasil tangkapan, menyediakan umpan, menyediakan alat bantu penangkapan, pengisian BBM dan perbekalan makanan untuk para ABK. Setelah semua persiapan selesai maka tahap selanjutnya adalah keberangkatan mencari fishing ground. Pencarian gerombolan ikan ini dapat dilakukan secara manual yaitu mencari langsung kawanan ikan dengan berlayar kesana-kemari ada pula yang hanya memperhatikan kawanan burung laut atau mendatangi rumpun yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Setelah mendapatkan lokasi kawanan ikan maka tahap yang selanjutnya yaitu pemancingan. Pemancingan dilakukan dengan

cara melemparkaan ikan umpan hidup sebagai perangsang agar cakalang lebih mendekat ke arah kapal sehingga lebih mudah dijangkau oleh pancing. Setelah ikan mendekat, agar umpan hidup tidak banyak terbuang, maka kran penyemprot air laut dibuka dan setelah ikan terlihat meloncatloncat kemudian dipancing. Kegiatan pemancingan ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas permukaan air dan bila disambar oleh cakalang, dengan cepat diangkat melalui atas kepala dan secara otomatis terlempar ke dalam dek kapal. Hal demikian dilakukan hingga berulang-ulang. Pemancingan dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting. Disamping itu ada yang disebut dengan cara gepe yaitu cara pemancingan dengan pole and line dimana setelah ikan terkena pancing dan diangkat dari dalam air kemudian pengambilan dari mata pancing dilakukan dengan cara menjepit ikan diantara tangan dan badan si pemancing. Hal yang menjadi parameter keberhasilan dalam penangkapan dengan cara ini yaitu kelengkapan alat bantu, waktu penangkapan, faktor politik dan keahlian pemancing. Untuk lama pengoperasian pole and line ini waktu yang dibutuhkan bisa sampai 1-2 jam dalam hal penangkapan, namun untuk lama perjalanan dan pengoperasiannya bisa mencapai 1-3 minggu. 5. Daerah Pengoperasian Menurut Uktolseja et al (1989), daerah penangkapan untuk tuna dipengaruhi oleh arus dan suhu perairan. Setiap jenis tuna memiliki suhu optimum, diantaranya, blue fin tuna dan albacore suhu optimum berkisar 15-210C, skipjack tuna (cakalang) suhu optimum 19-240C, dan little tuna (tongkol) dengan suhu optimumnya 12-240C Di perairan Indonesia, penangkapan dengan menggunakan pole and line banyak terdapat di wilayah Indonesia timur seperti Minahasa, Gorontalo, Air tembaga, Ambon, Bacan, Banda, Teratai dan Sorong. Sedangkan daerah penangkapan ikan dunia dengan menggunakan pole and line sebagai berikut, antara lintang 400LU-400LS yaitu daerah kepulauan Hawai, Chili, dan daerah ekuator lainnya. Kemudian daerah kepulauan Hokkaido dan Filipina serta Samudera Atlantic dan Laut Mediterania 6. Hasil Tangkapan Usaha penangkapan dengan pole and line biasanya ditujukan yang utama yaitu untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) akan tetapi dalam kenyataannya sering tertangkap juga hasil sampingan beberapa jenis ikan yang lain, diantaranya: yellow fin tuna (Thunnus albacares), little tuna (Auxis thazard), dan lain-lain (Balai Keterampilan Penangkapan Ikan Ambon, 1981). Selanjutnya dalam FAO (1980) mengatakan bahwa para nelayan pole and line terutama menangkap ikan skipjack (Katsuwonus pelamis), albacore (Thunnus alalunga), tuna kecil seperti frigate mackerel (Auxis spp), dan ikan dolphin (Coryphaena spp), juga yellow fin (Thunnus albacares), ikan-ikan muda spesies ikan tuna yang besar yang lain, bonito (Sarda spp), dan tuna kecil (Euthynnus spp). Semua jenis tadi tersebar secara luas di lautan dan Samudera di dunia.