BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

LANDASAN TEORI. 2.1 Citra Digital Pengertian Citra Digital

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Sistem penglihatan manusia memiliki akurasi yang besar dalam mengenali

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

BAB 2 LANDASAN TEORI

PEMANFAATAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL DALAM MENENTUKAN KEMATANGAN BUAH KAKAO MENGGUNAKAN METODE EUCLIDEAN DISTANCE SKRIPSI

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

Penyusun Tugas Akhir Alvian Adi Pratama [ ] Dosen Pembimbing Diana Purwitasari, S.Kom, M.Sc. Dr. Eng. Nanik Suciati, S.Kom., M.Kom.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. Pada bab ini akan dibahas teori-teori pendukung yang digunakan sebagai acuan dalam merancang algoritma.

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

Pengolahan Citra Digital FAJAR ASTUTI H, S.KOM., M.KOM

APLIKASI DETEKSI MIKROKALSIFIKASI DAN KLASIFIKASI CITRA MAMMOGRAM BERBASIS TEKSTUR SEBAGAI PENDUKUNG DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA

ARTIKEL APLIKASI KLASIFIKASI JENIS JENIS BUAH JERUK MENGGUNAKAN METODE K-NEAREST NEIGHBOR

PENDAHULUAN. Latar Belakang

DETEKSI NOMINAL MATA UANG DENGAN JARAK EUCLIDEAN DAN KOEFISIEN KORELASI

Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengenalan Jenis Pempek Menggunakan Metode Canny & K-Nearest Neighbor (KNN) Berdasarkan Bentuknya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDETEKSI UANG LOGAM DENGAN METODE EUCLIDEAN

Pengolahan Citra untuk Bidang Pertanian(Menentukan Kematangan Buah) Oleh Nama:Wahyu Abid A. NRP : Kelas :2D4 IT(B)

BAB II LANDASAN TEORI

APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

Dosen Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pakuan Bogor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

PENGENALAN POLA BENTUK BUNGA MENGGUNAKAN PRINCIPLE COMPONENT ANALYSIS DAN K-NN

2.Landasan Teori. 2.1 Konsep Pemetaan Gambar dan Pengambilan Data.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pertemuan 2 Dasar Citra Digital. Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

APLIKASI PENGENALAN PLAT NOMOR KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION

DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN... III PERNYATAAN... IV PRAKATA... V DAFTAR ISI... VI DAFTAR GAMBAR... IX DAFTAR TABEL... XII INTISARI...

BAB 2 LANDASAN TEORI

APLIKASI PENGKLASIFIKASIAN MOTIF BATIK TULIS LASEM MENGGUNAKAN METODE GRAY LEVEL CO-OCCURRENCE MATRICES (GLCM) DAN SUPPORT VECTOR MACHINE (SVM)

Pertemuan 2 Representasi Citra

BAB III METODE PENELITIAN

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TI JAUA PUSTAKA

Temu Kembali Citra Makanan Menggunakan Representasi Multi Texton Histogram

BAB II LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENENTUAN KUALITAS DAUN TEMBAKAU DENGAN PERANGKAT MOBILE BERDASARKAN EKSTRASI FITUR RATA-RATA RGB MENGGUNAKAN ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBOR

Implementasi Principal Component Analysis (PCA) Untuk Pengenalan Wajah Manusia

COMPUTER VISION UNTUK PENGHITUNGAN JARAK OBYEK TERHADAP KAMERA

BAB III METODE PENELITIAN. tangan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C-

1. TRANSLASI OPERASI GEOMETRIS 2. ROTASI TRANSLASI 02/04/2016

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI UNTUK MENDESAIN KARTU UCAPAN

Analisa Hasil Perbandingan Metode Low-Pass Filter Dengan Median Filter Untuk Optimalisasi Kualitas Citra Digital

BAB II LANDASAN TEORI

Jurnal Coding, Sistem Komputer Untan Volume 4, No. 2, Hal ISSN : x

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 2 NO. 1 SEPTEMBER 2010

Deteksi Mobil Menggunakan Histogram of Oriented Gradient

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. dilakukan oleh para peneliti, berbagai metode baik ekstraksi fitur maupun metode

IDENTIFIKASI TANDA TANGAN DENGAN DETEKSI TEPI DAN KOEFISIEN KORELASI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

KLASIFIKASI JENIS KUALITAS KEJU DENGAN MENGGUNAKAN METODE GRAY LEVEL COOCCURRENCE MATRIX (GLCM) DAN SUPPORT VECTOR MACHINE (SVM) PADA CITRA DIGITAL

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. ukuran, dan warna ketika suatu citra digambarkan meskipun dalam ruang 2D (dua

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. implementasi dan evaluasi yang dilakukan terhadap perangkat keras dan

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini

Teknik pengenalan wajah berbasis fitur local binary pattern (LBP)

Bab III ANALISIS&PERANCANGAN

PERBANDINGAN ALGORITMA TEMPLATE MATCHING DAN FEATURE EXTRACTION PADA OPTICAL CHARACTER RECOGNITION

APLIKASI IDENTIFIKASI ISYARAT TANGAN SEBAGAI PENGOPERASIAN E-KIOSK

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS EDGE DETECTION CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROBERT DAN CANNY

BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan tugas akhir ini akan membangun suatu model sistem yang

PENDETEKSIAN TEPI OBJEK MENGGUNAKAN METODE GRADIEN


ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

PERANCANGAN APLIKASI PENGURANGAN NOISE PADA CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE FILTER GAUSSIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM

IMPLEMENTASI METODE HARMONIC MEAN FILTERDAN CANNY UNTUK MEREDUKSI NOISEPADA CITRA DIGITAL

Pengenalan Plat Nomor Berdasarkan Klasikasi K-Nearest Neighbor (KNN)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Timor Leste terletak di antara garis lintang 8 dan 10 S, dan bujur 124

KLASIFIKASI JENIS DAGING BERDASARKAN TEKSTUR MENGGUNAKAN METODE GRAY LEVEL COOCURENT MATRIX

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pertemuan 3 Perbaikan Citra pada Domain Spasial (1) Anny Yuniarti, S.Kom, M.Comp.Sc

IMPLEMENTASI K NEAREST NEIGHBOR (KNN) PADA KLASIFIKASI ARTIKEL WIKIPEDIA INDONESIA

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengolahan Citra Digital [3] Citra atau gambar didefinisikan sebagai sebuah fungsi dua dimensi, f(x,y), di mana x dan y adalah koordinat bidang datar, dan harga fungsi f di setiap pasangan koordinat (x,y) disebut intensitas atau level keabuan (grey level) dari gambar di titik itu. Disebut sebagai citra digital jika x,y dan f semuanya berhingga (finite), dan bernilai diskrit. Sejumlah elemen yang berhingga memiliki lokasi dan nilai tertentu. Elemen elemen tersebut meliputi picture element, image element, pels, atau pixels. Pengolahan citra digital adalah pengolahan digital image dari suatu komputer digital untuk mendapatkan kualitas citra yang lebih baik. Gambar dihasilkan dari seluruh spektrum elektromagnetik, mulai dari gamma sampai gelombang radio. Adapun tujuan pengolahan citra digital yaitu : 1. Memperbaiki kualitas gambar dilihat dari aspek radiometrik (peningkatan kontras, transformasi warna, restorasi citra) dan dari aspek geometrik (rotasi, translasi, skala, transformasi geometrik). 2. Melakukan proses penarikan informasi atau deskripsi objek atau pengenalan objek yang terkandung pada citra. 3. Melakukan kompresi atau reduksi data untuk tujuan penyimpanan data, transmisi data, dan waktu proses data. 2.2 Batik Kata batik berasal dari kata tik yaitu menjatuhkan titik atau bintik. Tik merupakan kata titik titik yang terdapat pada ornamen kain (tritik) yaitu pola batik meniru tenunan kain (nitik, klitik). Batik dari cara kerjanya yaitu membatik. Cara membatik ialah cara penutupan pada bagian kain atau bahan dasar yang tidak diberi warna dengan bahan penutup, dalam hal ini berupa lilin [4]. Batik memiliki corak dan motif yang bermacam macam yang tersebar hampir di setiap daerah di seluruh Indonesia. Motif batik tidak hanya mengandung unsur keindahan, tetapi juga memiliki nilai filsafat dan latar sejarah di setiap daerah. 5

Sehingga sampai saat ini batik tetap dilestarikan sebagai harta karun dan warisan budaya. Batik adalah pembuatan ragam hias (termasuk isen) ke permukaan kain mori (putih) dengan lilin memakai alat tertentu (canting, cap, kuas), mencelup zat warna, memberi lilin lagi (menutup), mencelup zat warna lagi, begitu juga seterusnya sesuai dengan banyaknya warna yang dikehendaki hingga melalui proses pelorotan atau menghilangkan lilin (dengan air panas, atau bensin) pada akhirnya terlihat hasil kain batik yang dikehendaki [4]. 2.3 Multi Texton Histogram (MTH) 2.3.1 Ekstraksi Fitur Orientasi Tepi Proses ekstraksi fitur orientasi tepi memiliki peran yang penting dalam pengenalan pola. Terdapat banyak metode untuk melakukan deteksi fitur tepi, tetapi pada penelitian ini pendeteksian tepi dilakukan menggunakan operator sobel karena memiliki kemampuan untuk mengurangi noise sebelum melakukan perhitungan pendeteksian tepi dibandingkan operator gradient atau metode pendeteksian tepi yang lain sehingga dinilai lebih efisien dan sederhana [5]. Operator sobel menempatkan penekanan atau pembobotan pada piksel piksel yang lebih dekat dengan titik pusat jendela. Dengan demikian pengaruh piksel piksel tetangga akan berbeda sesuai dengan letaknya terhadap titik di mana gradient dihitung. Gradient adalah hasil pengukuran perubahan dalam sebuah fungsi intensitas, dan sebuah citra dapat dipandang sebagai kumpulan beberapa fungsi intensitas kontinyu dari citra. Operator sobel menggukakan fungsi f(x,y) untuk warna gambar red, green, dan blue. Gradient x dan y dirumuskan dengan dua vektor a (Rx, Gx, Bx) dan b (Ry, Gy, By) dimana Rxdinotasikan sebagai gradient pada posisi horizontal R [5]. a = (Rx)² + (Gx)² + (Bx)² b = (Ry)² + (Gy)² + (By)² a. b = Rx. Ry + Gx. Gy + Bx. By Sudut antara a dan b : cos(a, b) = a.b a. b 6

θ = arccos[cos(a, a. b b) ] = arccos [ a. b ] Hasil dari operator sobel yakni vektor dan magnitude yang kemudian dikuantisai menjadi 18 bin. Sehingga pada tahap ini akan dihasilkan 18 fitur orientasi tepi. Berikut adalah contoh hasil deteksi orientasi tepi menggunakan operator sobel. Gambar Asli Gambar Hasil Sobel Gambar 2. 1 Hasil Deteksi Tepi Menggunakan Operator Sobel 2.3.2 Ekstraksi Fitur Warna [5] Warna memberikan informasi yang sangat berguna untuk mendeteksi sebuah objek. Ruang warna RGB merupakan teknik yang paling umum digunakan dalam dunia digital processing. Ekstraksi fitur pada penelitian ini dilakukan menggunakan ruang warna RGB untuk membagi warna dari suatu citra menjadi komponen warna RGB dan dikuantisasi menjadi 64 warna. Setiap nilai dari komponen RGB masing - masing dikuantisasi menjadi 4 bin. Sehingga akan menghasilkan 64 warna yang diperoleh dari 4x4x4 = 64 bin. Sehingga nilai dari komponen R, G, dan B antara 0-63. Fitur ini yang akan digunakan untuk proses selanjutnya bersama dengan fitur orientasi tepi. 2.3.3 Deteksi texton JulesZ mengemukakan ide dasar MTH berasal dari teori texton. Untuk mendeteksi struktur mikro dari suatu gambar MTH menggunakan empat jenis texton [6]. Jenis texton yang digunakan dapat dilihat pada gambar 2.2. Pada penelitian ini, untuk mendeteksi texton menggunakan ukuran 2x2 grid yang ditandai dengan v1, v2, v3, dan v4. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan perbedaan tekstur, karena gradient texton hanya memiliki batas tekstur [5]. Jumlah texton yang ada berdasarkan pada nilai kuantisasi. Texton akan bekerja dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah melalui dua pixel. Texton terdeteksi jika terdapat dua 7

pixel yang sama, maka grid tersebut dapat dikatakan sebagai texton. Empat jenis texton tersebut akan menghasilkan histogram fitur warna dan histogram fitur tepi. Contoh, jika deteksi texton dilakukan menggunakan jenis texton T1 pada gambar RGB yang telah dikuantisasi, maka jika terdapat grid yang cocok dengan T1 dan nilai R yang telah dikuantisasi dari deteksi pixel adalah 10, maka komponen R dengan nilai 10 ditambahkan ke dalam bentuk histogram. Total jumlah dari setiap komponen dengan sebuah nilai particular disimpan sebagai histogram dan digunakan sebagai fitur texton. Gambar 2. 2 Empat Jenis Texton MTH, (a) 2x2 grid; (b) T1; (c) T2; (d) T3; (e) T4 4 2 2 1 5 4 4 2 2 1 5 4 T3 0 0 2 0 0 0 1 3 5 2 3 4 1 3 5 2 3 4 0 0 0 2 0 0 3 5 1 5 5 2 3 5 1 5 5 2 T4 T2 0 5 0 0 5 0 5 1 2 2 5 3 5 1 2 2 5 3 5 0 0 0 5 0 5 3 1 3 4 4 5 3 1 3 4 4 T2 T1 0 0 1 0 4 4 2 3 1 1 2 5 2 3 1 1 2 5 0 0 1 0 0 0 Gambar asli Deteksi Texton Jenis Texton Gambar Texton Gambar 2. 3 Ilustrasi Proses Deteksi Texton MTH Penambahan 2 texton dilakukan pada metode Multi Texton Co-Occurrence Descriptor untuk mencegah hilangnya informasi sehingga texton akan bekerja di bagian bawah horisontal dan kanan vertikal [7]. Texton T5 dan T6 seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.4 adalah texton tambahan yang digunakan pada metode MTCD yang terdiri dari 6 jenis texton. 8

Gambar 2. 4 Enam Jenis Texton MTCD 2.4 Klasifikasi Klasifikasi merupakan suatu metode untuk mengelompokkan sebuah objek ke dalam kelompok atau kelas tertentu. Berbagai kasus yang berkaitan dengan pengelompokan objek dapat diselesaikan lebih mudah dengan menerapkan teknik teknik klasifikasi [8]. Klasifikasi data terdiri dari 2 langkah proses. Pertama adalah learning (fase training), dimana algoritma klasifikasi dibuat untuk menganalisa data training lalu direpresentasikan dalam bentuk rule klasifikasi. Proses kedua adalah klasifikasi, dimana data tes digunakan untuk memperkirakan akurasi dari rule klasifikasi [9]. 2.5 Support Vector Machine (SVM) Support Vector Machine (SVM) merupakan sistem pembelajaran yang menggunakan ruang hipotesis berupa fungsi-fungsi linier dalam sebuah ruang fitur berdimensi tinggi yang dilatih dengan algoritma pembelajaran berdasarkan pada teori optimasi dengan mengimplementasikan learning bias yang berasal dari teori pembelajaran statistik [1]. SVM melakukan suatu teknik untuk menemukan fungsi pemisah untuk memisahkan dua set data dari dua kelas yang berbeda. Tujuan dari SVM adalah untuk memisahkan suatu objek dalam dua kelas pada input space dengan mencari garis pemisah (hyperplane). Hyperplane terbaik didapat dengan mengukur margin hyperplane tersebut dan mencari titik maksimalnya. Margin adalah jarak antara hyperplane tersebut dengan pattern terdekat dari masing masing class. Pattern yang paling dekat ini disebut support vector. Ketika kedua class dapat dipisahkan dengan baik, maka SVM akan menghasilkan margin yang kecil dan support vector yang sedikit [10]. Pada dasarnya SVM bekerja dengan prinsip linier classifier, yaitu kasus klasifikasi yang dapat dipisahkan secara linier. Untuk dapat bekerja pada kasus non linier, kemudian dikembangkan dengan menggunakan konsep kernel pada ruang kerja berdimensi tinggi. Klasifikasi SVM dibagi menjadi dua jenis yaitu [10]: 9

SVM pada Linearly Separable Data Linearly Separable Data adalah data yang dapat dipisahkan secara linier. Gambar 2. 5 Hyperplane (Bidang Pemisah) SVM pada Non Linearly Separable Data Klasifikasi data yang tidak dapat dipisahkan secara linier adalah dengan mentransformasikan data ke dalam dimensi feature space sehingga dapat dipisahkan secara linier pada feature space. Gambar 2. 6 Transformasi Vektor Input Ke Feature Space 2.6 KNN K-Nearest Neighbor merupakan algoritma supervised learning dimana output dari suatu data baru diklasifikasikan berdasarkan kelompok mayoritas dari k buah tetangga terdekat. Tujuan dari algoritma ini adalah mengelompokkan data baru berdasarkan atribut dan data training [8]. KNN dilakukan dengan mencari kelompok k objek dalam data training yang paling dekat (mirip) dengan objek pada data baru atau data testing. Algoritma K- Nearest Neighbor adalah sebuah metode untuk melakukan klasifikasi terhadap objek berdasarkan data pembelajaran yang jaraknya paling dekat dengan objek tersebut [11]. Algoritma KNN menentukan nilai jarak pada pengujian data testing dengan data training berdasarkan nilai terkecil dari nilai ketetanggaan terdekat. Untuk mempermudah penjelasan berikut adalah diagram alir algoritma KNN: 10

Gambar 2. 7 Algoritma K-Nearest Neighbor Algoritma metode KNN bekerja berdasarkan pada jarak terpendek dari objek query ke data training untuk menentukan jumlah k-neighbor pointnya. Setelah mendapatkan k-neighbor point, kemudian diambil mayoritas dari k-neighbor point untuk dijadikan prediksi dari objek query. Objek query yang didapatkan kemudian akan dihitung jaraknya dengan masing masing training sample dan kemudian diambil sejumlah k-neighbor point yang paling dekat dengan objek query. Proses perhitungan jarak dilakukan dengan menggunakan Euclidean Distance. Untuk mendefinisikan jarak antara dua titik yaitu titik pada data training (x) dan titik pada data testing (y) maka digunakan rumus Euclidean, seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut [11]: D(x, y) = n k 1 ( x k Y k ) 2 Dengan D adalah jarak antara titik pada data training x dan titik data testing y yang akan diklasifikasi, dimana x=x1, x2,, xi dan y=y1, y2,, yi dan I mempresentasikan nilai atribut serta n merupakan dimensi atribut. 11

Langkah langkah untuk menghitung metode algoritma K-Nearest Neighbor: 1. Menentukan Parameter K (Jumlah tetangga paling dekat). 2. Menghitung kuadrat jarak Euclidean (query instance) masing masing objek terhadap data sampel yang diberikan. 3. Kemudian mengurutkan objek objek tersebut ke dalam kelompok yang mempunyai jarak Euclidean terkecil. 4. Mengumpulkan kategori Y (Klasifikasi Nearest Neighbor). 5. Dengan menggunakankategori Nearest Neighbor yang paling mayoritas maka dapat diprediksi nilai queri instance yang telah dihitung. 2.7 PHP MyAdmin [12] PHP (Personal Home Page Tools) adalah skrip bersifat server-side yang ditambahkan ke dalam HTML. Skrip ini akan membuat suatu aplikasi dapat diintegrasikan ke dalam HTML sehingga suatu halaman web tidak lagi bersifat statis, namun menjadi bersifat dinamis. Sifat server-side berarti pengerjaan skrip dilakukan di server, baru kemudian hasilnya dikirimkan ke browser. HTML (Hipertext Markup Language) memungkinkan seorang desain web menjadi lebih mudah dalam mendesain web. HTML dikenal sebagai standar Bahasa yang digunakan untuk menampilkan dokumen web. 2.8 Phonegap PhoneGap adalah sebuah platform HTML 5 yang memungkinkan pengembang melakukan teknologi berbasis web (HTML, CSS, dan JavaScript) untuk membuat aplikasi mobile asli (native) (Sumber : http://phonegap.com/about). Phonegap menggunakan standar berbasis teknologi web unutk menjembatani aplikasi web dan perangkat mobile. Aplikasi ini disebut sebagai hybrid application yang diciptakan untuk mempermudah mobile development. Cara kerja phonegap adalah dengan mengubah web application package menjadi native application, aplikasi yang dibuat (install) langsung di dalam device dengan menggunakan Bahasa pemrograman untuk membuat aplikasi tersebut. Pengguna melakukan interaksi dengan aplikasi tersebut dalam bentuk tampilan web view [13]. 12

Untuk memahami pemangunan aplikasi menggunakan framework ini dapat dilihat pada Arsitektur Phonegap seperti berikut : Gambar 2. 8 Arsitektur Phonegap 13