SEMIOTIC LOGICAL APPROACH

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah tersebut

Semiotika, Tanda dan Makna

SEMINAR PSIKOLOGI TERAPAN

BAB I PENDAHULUAN. Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk

NIM : D2C S1 Ilmu Komunikasi Fisip Undip. Semiotika

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui

BAB 1 PENDAHULUAN. film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terstruktur/rekonstruksi pada iklan Wardah Kosmetik versi Exclusive Series,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU (SIMBOL DAN BAHASA)

P 34 KEEFEKTIFAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH ANALISIS REAL I

BAB I PENDAHULUAN. Seni lukis ini memiliki keunikan tersendiri dalam pemaknaan karyanya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pendukung sehingga akan terlihat dengan jelas makna dari iklan tersebut.

PENDEKATAN OPEN-ENDED (MASALAH, PERTANYAAN DAN EVALUASI) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA. Agustinus Sroyer FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mendeskripsikan apa-apa yang berlaku saat ini. Didalamnya terdapat upaya

MENGEMBANGKAN PEMAHAMAN RELASIONAL SISWA MENGENAI LUAS BANGUN DATAR SEGIEMPAT DENGAN PENDEKATAN PMRI

BAB I PENDAHULUAN. intelektual. Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panji Faisal Muhamad, 2015

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. cerita yang penuh arti dan bermanfaat bagi audience yang melihatnya. Begitu juga

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peran yang sangat penting dalam rangka meningkatkan serta

Geometri Siswa SMP Ditinjau dari Kemampuan Matematika. (Surabaya: PPs UNESA, 2014), 1.

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan teknologi dan informasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Panji Wiraldy, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dhias Mei Artanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diutarakan oleh Dedy N Hidayat, sebagai berikut:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP dan LANDASAN TEORI. Tinjauan adalah pandangan atau pendapat sesudah melakukan

13Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Analisis semiotik, pisau analis semiotik, metode semiotika, semiotika dan komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING)

P 39 KEYAKINAN GURU TERHADAP MATEMATIKA DAN PROFESI

2016 PENGEMBANGAN MODEL DIKLAT INKUIRI BERJENJANG UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGI INKUIRI GURU IPA SMP

PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR)

PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK

BAB III METODE PENELITIAN. membahas konsep teoritik berbagai kelebihan dan kelemahannya. 19 Dan jenis

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran. Efektivitas itu sendiri menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Helen Martanilova, 2014

Pengembangan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa. Melalui Pembelajaran Matematika

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

PENDAHULUAN. Leli Nurlathifah, 2015

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diinginkan. Melalui paradigma seorang peneliti akan memiliki cara pandang yang

Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tidak pernah lepas dari segala bentuk aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari,

P 46 BERPIKIR KREATIF SISWA MEMBUAT KONEKSI MATEMATIS DALAM PEMECAHAN MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Representasi Matematis. solusi dari masalah yang sedang dihadapinya (NCTM, 2000).

ISSN: Quagga Volume 9 No.2 Juli 2017

Oleh : Lia Aulia Fachrial, M.Si

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MODEL GROUP MAPPING ACTIVITY (GMA) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA

ALFIAN NUR ANALISIS SEMIOTIKA FOTO HEADLINE PADA HARIAN PAGI RADAR BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan menjelaskan atau menganalisis

KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN JENJANG MAGISTER (S2) SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Putri Dewi Wulandari, 2013

Pengantar Psikologi Sosial. Pertemuan 1

BAB I PENDAHULUAN. B. Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengembangan kurikulum matematika pada dasarnya digunakan. sebagai tolok ukur dalam upaya pengembangan aspek pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. Matematika berasal dari bahasa Yunani adalah studi besaran, struktur,

PENDEKATAN PENELITIAN (Strategi Penelitian) KUALITATIF

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan data atau pun informasi untuk. syair lagu Insya Allah (Maherzain Feat Fadly).

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah belajar sebenarnya telah lama dikenal. Namun sebenarnya apa belajar itu,

BAB II MODEL PEMBELAJARAN NOVICK DAN HASIL BELAJAR

Strategic Management and The Philosophy of Science : The case for a constructivist methodology

BAB I PENDAHULUAN. mengidentifikasi dan berhadapan dengan masalah-masalah yang timbul.

BAB III METODELOGI PENELITIAN. terstruktur/rekonstruksi pada iklan Cocacola Versi Live Positively disini peneliti

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arif Abdul Haqq, 2013

METODOLOGI PENELITIAN

Pembelajaran Matematika dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis Siswa SMA

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran matermatika yang dilakukan di Indonesia kira-kira seperti yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pendekatan Pembelajaran Multiple Representations. umum berdasarkan cakupan teoritik tertentu. Pendekatan pembelajaran

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD. Pembelajaran matematika pada tingkat SD berbeda dengan pembelajaran

Semiotik Pragmatik C.S.Peirce dan Kajian Budaya

BAB I PENDAHULUAN. sosial, teknologi, maupun ekonomi (United Nations:1997). Marzano, et al (1988)

Transkripsi:

SEMIOTIC LOGICAL APPROACH P 40 Ifada Novikasari STAIN Purwokerto Ifa_da@yahoo.com Abstrak Semiotic awal mulanya digunakan untuk studi pola yang dapat diobservasi dari gejala fisiologis dalam penyakit tertentu. Hippocrates (460-377 SM) penemu pengetahuan medis, telah mengetahui cara bahwa seseorang dalam budaya tertentu akan menunjukkan dan menghubungkan pengetahuan tentang gejala dalam penyakit sebagai dasar dalam memberikan diagnosis yang tepat dan kemudian merumuskan ramalan yang cocok. Semiotic Logical Approach (SLA) dipahami sebagai bentuk teoritis-praktis (eksperimen-formal), bertujuan memberikan alat untuk analisis, deskripsi, dan pengaturan dari situasi problematik atau fenomena dari suatu kealamiahan didaktik matematis dari perspektif yang didasarkan pada semiotik, logika dan model kompetensi (semiosis) dan mengambil satu masalah dari pendidikan matematika, kajian kesulitan dan kesalahan siswa dalam pembelajaran matematika sebagai referensi. Kata kunci: SLA A. PENDAHULUAN Istilah semiotic muncul sebagai usaha dokter dunia barat untuk memahami bagaimana interaksi antara badan dan operasi pikiran terdapat dalam domain budaya tertentu. Semitotic awal mulanya digunakan untuk studi pola yang dapat diobservasi dari gejala fisiologis dalam penyakit tertentu. Hippocrates (460-377 SM) penemu pengetahuan medis, telah mengetahui cara bahwa seseorang dalam budaya tertentu akan menunjukkan dan menghubungkan pengetahuan tentang gejala dalam penyakit sebagai dasar dalam memberikan diagnosis yang tepat dan kemudian merumuskan ramalan yang cocok. Setelah Hippocrates penggunaan istilah semeiosis merujuk pada representasi budaya dari tanda gejala yang akan dimaknai (Sebeok, 2001: xii). Fenomena yang membedakan bentuk hidup dari objek mati merupakan semiosis. Hal ini dapat didefinisikan secara ssederhana dengan kapasitas naluri dari semua organisme untuk menghasilkan dan memahami signs atau tanda-tanda. Tanda merupakan suatu bentuk fisik yang telah dibayangkan atau dibuat secara eksternal (melalui beberapa media fisik) yang menyatakan objek, kejadian, perasaan dsb, dikenal sebagai referent atau acuan untuk kelas objek, kejadian, perasaan dsb yang serupa (atau berhubungan), dikenal sebagai domain acuan. Dalam kehidupan manusia, tanda-tanda memiliki banyak fungsi karena dapat membantu orang untuk mengenal corak sesuatu; tindakan mereka sebagai petunjuk untuk memprediksikan atau perencanaan untuk mengambil tindakan; mereka menjalankannya sebagai percontohan dari jenis fenomena tertentu; dan daftar yang dapat terus dan terus terjadi (Sebeok, 2001: 3). Semiotic muncul dari studi ilmiah dari gejala fisiologis dari penyakit atau keadaan fisik tertentu. Hippocrates (460-377 SM), merupakan penemu pengetahuan barat, yang membentuk semiotic sebagai cabang medis untuk studi gejala. Studi tentang sign dalam istilah bukan medis menjadi target filsuf pada masa Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles mendefinisikan sign memiliki tiga dimensi: (1) bagian fisik dari sign itu sendiri (misal, suara yang menandakan kucing); (2) rujukan meminta perhatian (misal kategori tertentu mamalia kucing), dan (3) Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema Penguatan Peran Matematika dan Pendidikan Matematika untuk Indonesia yang Lebih Baik" pada tanggal 9 November 2013 di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

memunculkan makna (apakah acuan melibatkan secara psikologis dan sosial). Ketiga dimensi dilakukan secara bersamaan, misalkan merupakan hal yang tidak mungkin berpikir pada kata kucing (tanda vokal dibuat dalam suara kucing) tanpa berpikir pada saat yang bersamaan tentang tipe mamalia yang dirujuk (mamalia kucing), dan tanpa mengalami pemaknaan secara pribadi dan sosial mengeni acuan tersebut (Sebeok, 2001: 4). Fakta menunjukkan bahwa teori linguistik dan filsafat kekinian muncul dari matematika logis dan metamatematika. Pengaruh dari formal logis ini pada teori linguistik sejajar dengan adopsi sejumlah linguistik dalam praktik matematika. Hal ini sering menghasilkan konsep bahasa sebagai kalkulus atau sistem formal yang sebanding sistem dari formal logis (Merrell, 1997: x). John Locke (1632-1704) seorang filsuf yang menyusun prinsip empirisme, mengenalkan studi formal dari tanda-tanda dalam filosofi untuk memahami keterkaitan antara representasi dan pengetahuan. Selanjutnya ahli bahasa swedia Ferdinan de Saussure (1857-1913) dan filsuf Amerika Charles S. Pierce (1839-1914) memberikan dasar untuk membatasi suatu bidang penyelidikan otonom yang berusahan untuk memahami struktur yang mendasari dalam menghasilkan dan diinterpretasi dari tanda-tanda. Dasar pemikiran yang memandu secara terstrultur, semiotic, adalah fakta bahwa pola berulang yang mencirikan tanda yang mencerminkan struktur bawaan daln komposisi sensorik, emosional dan intelektual dari jiwa dan fisik manusia. Hal ini dapat menjelaskan mengapa bentuk ekspresi yang dikreasi manusia dapat secara naluri direspon dengan makna dan mudah dipahami oleh masyarakat lintas budaya (Sebeok, 2001:5). Ahli linguistik Saussure memberikan istilah semiology (istilah Eropa) merupakan pengetahuan yang memepelajari peran tanda-tanda sebagai bagaian dari kehidupan sosial. Filsuf Peirce bidang kajiannya disebut semeiotic atau semiotic (istilah bahasa Inggris) merupakan formal doctrine of signs atau ajaran formal dari tanda-tanda yang berkaitam dengan logika. Namun pada masa sekarang kedua istilah tersebut lebih dikenal semiotic (Chandler, 2007: 3). Semiotic merupakan ilmu pengetahuan, dengan bagian tersendiri dari temuan dan teori, dan merupakan suatu teknik untuk mempelajari segala sesuatu yang menghasilkan tanda-tanda (Sebeok, 2001: 5). Menurut Deely (1990: 3) semiotic merupakan kesempatan unik yang terbuka dalam perkembangan keseharian manusia dari ajaran mengenai tanda-tanda. Semiotic untuk pertama kalinya terletak dalam jangkauan kita, selanjutnya hanya memberikan sesuatu yang kita pahami dari tanda dan hal ini merupakan fungsi penting hingga mencapai keseluruhan konstruksi tanda. Menurut Chandler (2007:2) semiotic melibatkan studi yang tidak hanya merujuk pada signs atau tanda-tanda dalam ucapan keseharian, tetapi sesuatu yang merupakan singkatan dari sesuatu yang lain. Semiotic dapat berarti tanda-tanda yang diambil dari kata, gambar, suara, bahasa tubuh dan objek. Semiotikawan saat ini mempelajari bagaimana pemaknaan dibuat dan bagaimana realitas direpresentasikan. Semiotic adalah teori realitas dan pengetahuan bahwa seseorang dapat memiliki fenomena melalui tanda-tanda yang merupakan satu-satunya cara yang tersedia. Kesimpulan semiotik yang muncul dari analisis tanda berupa tanda yang dapat diamati dan ekspresi nyata dari penyimpulan, yang dinyatakan oleh Pierce sebagai teori logis (semiotik) yang memiliki tiga referensi yang saling berkaitan (Socas & Hernández, 2013). B. PEMBAHASAN Menurut Whannel (Chandler, 2007:10) semiotic memberitahu kita hal yang sudah kita tahu di mana dalam bahasa tidak akan pernah dimengerti. Pengetahuan yang dilibatkan dalam semiotic diantaranya adalah linguistik, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, literatur, aesthetic dan teori media, psikoanalisis dan ahli pendidikan. Pierce memformulasikan model tanda, semiotic dan taksonomi tanda. Pierce memberikan model triadic yang terdiri dari (Chandler, 2007: 29): 1. Representamen: bentuk di mana tanda diambil (belum tentu bersifat materi, meskipun biasanya ditafsirkan seperti itu) disebutkan oleh beberapa teori sign vehicle. Yogyakarta, 9 November 2013 MP - 322

2. Interpretant: bukan seoarang penerjemah tetapi makna yang diperoleh dari tanda. 3. Objek: sesuatu di luar tanda yang dirujuk, dapat mengacu pada suatu ide. Pierce berpendapat bahwa semua pengalaman melalui tanda. Tipe Tanda-tanda Terdapat 6 tipe utama tanda yang telah disusun dan diselidiki semiotic, yaitu (Sebeok, 2001: 8-).: 1. Symptom merupakan refleks dari struktur anatomi. Istilah symptom seringkali diperluas secara kiasan merujuk pada fenomena intelektual, emosional dan sosial yang merupakan hasil dari penyebab yang dianggap analog dengan proses fisik. Misalkan, perilaku mereka merupakan symptom atau gejala dari jaman kita. 2. Signal merupakan penanda yang bertindak sebagai pengatur yang memunculkan atau menghambat beberapa aksi atau reaksi. Sistem signal dapat juga dibuat untuk tujuan sosial biasa, misalkan lampu peringatan, sinyal kereta api, dsb. 3. Icons merupakan tanda yang dibuat untuk menyerupai, simulasi atau meniru sesuatu yang dirujuk dalam bentuk lain. 4. Index merupakan tanda yang merujuk pada sesuatu atau seseorang dalam istilah keberadaananya atau lokasi dalam waktu atau ruang, atau dalam hubungan dengan sesuatu atau seseorang yang lain. 5. Symbol merupakan tanda yang menunjukkan cara sebarang atau biasa. Kebanyakan semiotikawan setuju bahwa penyimbolan merupakan sejumlah representasi manusia yang memungkinkan manusia merefleksikan dunia terpisah dari situasi stimulus-respon. 6. Name merupakan tanda untuk mengidentifikasi dalam beragam cara. Semiotic Logical Approach (SLA) dipahami sebagai bentuk teoritis-praktis (eksperimen-formal), bertujuan memberikan alat untuk analisis, deskripsi, dan pengaturan dari situasi problematik atau fenomena dari suatu kealamiahan didaktik matematis dari perspektif yang didasarkan pada semiotik, logika dan model kompetensi (semiosis) dan mengambil satu masalah dari pendidikan matematika, kajian kesulitan dan kesalahan siswa dalam pembelajaran matematika sebagai referensi. Aspek logis dan semiotik dari SLA menggunakan fenomenologi Peirce sebagai referensi (Socas & Hernández, 2013). Peirce, mengawali dari logika yang dipahami sebagai ilmu bahasa, menjelaskan perkembangan ilmu tentang tanda dan makna yang disebut semiotik yang dapat digunakan untuk menganalisis, dalam konstruksi semiotik, fenomena logika yang berbeda, matematika, fisika, dan psikologi, fenomenologi inilah yang digunakan dalam SLA (Socas & Hernández, 2013). Semiotik adalah teori realitas dan pengetahuan bahwa seseorang dapat memiliki fenomena melalui tanda-tanda yang merupakan satu-satunya cara yang tersedia. Kesimpulan semiotik yang muncul dari analisis tanda berupa tanda yang dapat diamati dan ekspresi nyata dari penyimpulan, yang dinyatakan oleh Pierce sebagai teori logis (semiotik) yang memiliki tiga referensi yang saling berkaitan. Pierce memformulasikannya berupa model dari tanda, semeiotic dan taksonomi tanda, Pierce memberikan model triadic (tiga-bagian). Oleh karena itu, jika tujuannya adalah untuk mempelajari setiap fenomena (situasi masalah) yang merupakan titik awal dalam SLA, ini akan selalu dianalisis dari konteks tertentu dan melalui tiga referensi yang didefinisikan sebagai fungsi semiotik primer atau dasar yang ditentukan oleh referensi tanda, objek, dan makana. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui konsep representasi sebagai penentu referensi semiosis tersebut. oleh karena itu, representasi adalah tanda bahwa (Socas & Hernández, 2013): 1) Memiliki karakteristik tertentu yang tepat (konteks) 2) Menetapkan hubungan dari dua kelompok (dyadic) dengan pemaknaan 3) Menetapkan hubungan dari tiga kelompok (triadic) dengan pemaknaan melalui objek, Terkait dengan sistem pendidikan SLA menggunakan diagram Begle tentang matematika sekolah sebagai referensi, yang menunjukkan hubungan timbal balik antara komponen yang berbeda dalam proses pelatihan dan membantu kebutuhan untuk mengatur pandangan dan perspektif di bidang pengajaran/pembelajaran matematika sekolah. Untuk Yogyakarta, 9 November 2013 MP - 323

melakukan hal ini, ada dua bagian yang harus dibedakan, yaitu sistem makro pendidikan yaitu disiplin ilmu dan lembaga atau orang yang terlibat dalam sistem pendidikan, dan sistem mikro pendidikan yang terdiri dari tiga referensi atau unsur dasar: pengetahuan matematis (matematika), siswa dan guru, serta hubungan mereka dalam konteks yang ditentukan oleh komponen: sosial, budaya, dan kelembagaan, yang ditunjukkan pada gambar berikut (Socas & Hernández, 2013): Gambar 1. Unsur Sistem Mikro Pendidikan Terdapat hubungan yang penting, yaitu: Hubungan 1: diantara pengetahuan matematis dan siswa disebut pembelajaran matematika sekolah sebagai suatu perubahan konseptual Hubungan 2: diantara pengetahuan matematis dan guru, disebut adaptasi materi kurikulum matematika untuk diajarkan Hubungan 3: diantara pengetahuan matematis dan guru dengan siswa disebut interaksi Dengan demikian, ketiga unsur dan tiga hubungan penting dikontekstualisasikan dalam tiga komponen penentuan konteks proses pembelajaran dalam sistem pengatura, sehingga mencirikan enam materi inti yang merupakan bagian dari pengetahuan professional guru matematika. Selain yang sudah disebutkan sebelumya tiga hubungan, yaitu terdapat pengetahuan matematis sebagai ilmu, pengetahuan kurikulum matematika dan kurikulum matematika dari tahap pendidikan. Dalam kerangka ini, hal tersebut merupakan kesulitan, hambatan dan kesalahan yang siswa miliki atau buat dalam konstruksi pengetahuan matematika. SLA mengatur tiga model kompetensi: Kompetensi Matematika Formal (KMF), Kompetensi Kognitif (KK) dan Kompetensi Mengajar (KM), yang merupakan referensi untuk mendefinisikan Semiosis General yang merencanakan dan mengatur penelitian dalam sistem mikro pendidikan (Socas & Hernández, 2013). Model Kompetensi Matematika Formal (KMF) dapat digunakan untuk menggambarkan bidang konseptual dari objek matematika pada level tematik di mana keduanya mempertimbangkan fungsi dan fenomenologi. Model Kompetensi Kognitif (KK) merupakan referensi kedua dan memperhatikan penjelasan model kompetensi formal matematika sebelumnya, mengacu pada fungsi kognitif khusus siswa ketika mereka menggunakan objek matematika pertanyaan dan aspek stuktural pembelajaran. Model Kompetensi Mengajar (KM) acuan ketiga, dan juga mempertimbangkan aspek yang telah disebutkan sebelumnya KFM dan KK dan menggambarkan tindakan dari subjek yang terlibat, proses komunikasi, mediator, situasi, konteks yang terjadi dalam pendidikan. Yogyakarta, 9 November 2013 MP - 324

Tiga asumsi dasar dari SLA di sini adalah: analisis konten matematika. Analisis didaktis, dan pengaturan kurikulum. Analsis didaktis dan pengaturan kurikulum merupakan konsep bahwa SLA menggunakan karakteristik pengetahuan konten matematika dari sudut pandang professional. Analisis didaktis memungkinkan pemahaman akan masalah professional, sementara organisasi kurikulum merupakan rencana pengembangannya (Socas & Hernández, 2013). Gambar 2. Proposal untuk Pelatihan Guru Matematika C. SIMPULAN Semiotik adalah teori realitas dan pengetahuan bahwa seseorang dapat memiliki fenomena melalui tanda-tanda yang merupakan satu-satunya cara yang tersedia. Kesimpulan semiotik yang muncul dari analisis tanda berupa tanda yang dapat diamati dan ekspresi nyata dari penyimpulan, yang dinyatakan oleh Pierce sebagai teori logis (semiotik) yang memiliki tiga referensi yang saling berkaitan. Semiotic Logical Approach (SLA) dipahami sebagai bentuk teoritis-praktis (eksperimen-formal), bertujuan memberikan alat untuk analisis, deskripsi, dan pengaturan dari situasi problematik atau fenomena dari suatu kealamiahan didaktik matematis dari perspektif yang didasarkan pada semiotik, logika dan model kompetensi (semiosis) dan mengambil satu masalah dari pendidikan matematika, kajian kesulitan dan kesalahan siswa dalam pembelajaran matematika sebagai referensi. D. DAFTAR PUSTAKA Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics 2nd. USA: Routledge Deeley, John. (1990). Basics of Semiotics. USA: Indiana University Press. Merrell, Floyd. (1997). Pierce, Signs and Meaning. Canada: University of Toronto Press Sebeok, Thomas, A. (2001). Signs: An Introduction to Semiotics 2nd. Canada: University of Toronto Press. Shulman, Lee S. (1987). Knowledge and Teaching Foundations of the New Reform. Harvard Educational Review, Vol. 57, No.1, pp.1-21. Yogyakarta, 9 November 2013 MP - 325

Socaz, M., Hernández, J. (2013). Mathematical Problem Solving in Training Elementary Teachers from a Semiotic Logical Approach. The Mathematics Enthusiast, ISSN 1551-3440, Vol. 10, nos.1&2, pp.191-218. Wiley, Norbert. (1994). The Semiotic Self. Oxford: Blackwell Publishers. Yogyakarta, 9 November 2013 MP - 326