PUNTIRAN. A. pengertian

dokumen-dokumen yang mirip
Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran

BAB II STUDI PUSTAKA

Respect, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 205. Torsi. Pertemuan - 7

a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari jari r lintasannya Gambar 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan. Sifat-sifat mekanik dari

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka

C. Momen Inersia dan Tenaga Kinetik Rotasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan

Tujuan Pembelajaran:

BAB I PENDAHULUAN. Dinding ( wall ) adalah suatu struktur padat yang membatasi dan melindungi

DEFORMASI BALOK SEDERHANA

Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN

GAYA GESER, MOMEN LENTUR, DAN TEGANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Perencanaan Interior 2. Perencanaan Gedung 3. Perencanaan Kapal

BAB I PENDAHULUAN. pesat yaitu selain awet dan kuat, berat yang lebih ringan Specific Strength yang

TEGANGAN DAN REGANGAN

STRUKTUR CANGKANG I. PENDAHULULUAN

PEGAS. Keberadaan pegas dalam suatu system mekanik, dapat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa fungsi pegas adalah:

Pertemuan V,VI III. Gaya Geser dan Momen Lentur

BAB II LANDASAN TEORI

Pertemuan IV II. Torsi

BAB 4 Tegangan dan Regangan pada Balok akibat Lentur, Gaya Normal dan Geser

TUGAS MAHASISWA TENTANG

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

Struktur Beton. Ir. H. Armeyn, MT. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil dan Geodesi Institut Teknologi Padang

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

l l Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial

FISIKA XI SMA 3

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Tumpuan Rol

BAB II DASAR TEORI. bahan pangan yang siap untuk dikonsumsi. Pengupasan memiliki tujuan yang

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput

Jenis Jenis Beban. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAHAN AJAR FISIKA KELAS XI IPA SEMESTER GENAP MATERI : DINAMIKA ROTASI

ANALISIS KOLOM BAJA WF MENURUT TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG ( SNI ) MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2002

Dinamika Rotasi, Statika dan Titik Berat 1 MOMEN GAYA DAN MOMEN INERSIA

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi

Pd M Ruang lingkup

III. TEGANGAN DALAM BALOK

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR

Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada

Macam-macam Tegangan dan Lambangnya

LENTUR PADA BALOK PERSEGI ANALISIS

VII. KOLOM Definisi Kolom Rumus Euler untuk Kolom. P n. [Kolom]

Tegangan Dalam Balok

Contoh Soal dan Pembahasan Dinamika Rotasi, Materi Fisika kelas 2 SMA. Pembahasan. a) percepatan gerak turunnya benda m.

D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Eksentrisitas dari pembebanan tekan pada kolom atau telapak pondasi

Jurnal Teknika Atw 1

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Mesin CNC turning

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI

STATIKA I. Reaksi Perletakan Struktur Statis Tertentu : Balok Sederhana dan Balok Majemuk/Gerbe ACEP HIDAYAT,ST,MT. Modul ke: Fakultas FTPD

momen inersia Energi kinetik dalam gerak rotasi momentum sudut (L)

A. Pendahuluan. Dalam cabang ilmu fisika kita mengenal MEKANIKA. Mekanika ini dibagi dalam 3 cabang ilmu yaitu :

Bab 6 Defleksi Elastik Balok

bermassa M = 300 kg disisi kanan papan sejauh mungkin tanpa papan terguling.. Jarak beban di letakkan di kanan penumpu adalah a m c m e.

Struktur Lipatan. Struktur Lipatan 1

FIsika DINAMIKA ROTASI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR MODUL 5 MOMEN INERSIA

MEKANIKA REKAYASA III

ANALISA BALOK SILANG DENGAN GRID ELEMEN PADA STRUKTUR JEMBATAN BAJA

BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.

dengan g adalah percepatan gravitasi bumi, yang nilainya pada permukaan bumi sekitar 9, 8 m/s².

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

plat lengkung atau plat lipat yang tebalnya kecil dibandingkan dengan dimensi

BAB I PENDAHULUAN. apartemen, perkantoran, sekolahan dan rumah sakit, ataupun untuk penggunaan ganda

a home base to excellence Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : TSP 306 Batang Tekan Pertemuan - 4

BAB I PENDAHULUAN. analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan mengubah suatu profil baja standard menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

Torsi sekeliling A dari kedua sayap adalah sama dengan torsi yang ditimbulkan oleh beban Q y yang melalui shear centre, maka:

VARIASI BAHAN MATERIAL DAN UKURAN DIAMETER POROS DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENGUJIAN PUNTIR

BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan

BAB 3 DINAMIKA ROTASI DAN KESETIMBANGAN BENDA TEGAR

DAFTAR NOTASI. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

II. GAYA GESER DAN MOMEN LENTUR

2- ELEMEN STRUKTUR KOMPOSIT

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Prinsip Statika Keseimbangan (Meriam& Kraige, 1986)

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

Gambar 7.1 Sebuah benda bergerak dalam lingkaran yang pusatnya terletak pada garis lurus

MAKALAH MOMEN INERSIA

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembahasan hasil penelitian ini secara umum dibagi menjadi lima bagian yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mesin atau peralatan serta komponenkomponenya pasti menerima beban operasional dan beban lingkungan dalam melakukan fungsinya.

ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR BANGUNAN

Kuliah ke-6. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:

DAFTAR NOTASI. Luas penampang tiang pancang (mm²). Luas tulangan tarik non prategang (mm²). Luas tulangan tekan non prategang (mm²).

Pertemuan I, II I. Gaya dan Konstruksi

menahan gaya yang bekerja. Beton ditujukan untuk menahan tekan dan baja

xxv = Kekuatan momen nominal untuk lentur terhadap sumbu y untuk aksial tekan yang nol = Momen puntir arah y

BAB 10 GELOMBANG BUNYI DALAM ZAT PADAT ISOTROPIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

sejauh mungkin dari sumbu netral. Ini berarti bahwa momen inersianya

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

BAB II DASAR TEORI. sangat penting, yaitu untuk menghilangkan kulit atau penutup luar buah atau

Transkripsi:

PUNTIRAN A. pengertian Puntiran adalah suatu pembebanan yang penting. Sebagai contoh, kekuatan puntir menjadi permasalahan pada poros-poros, karena elemen deformasi plastik secara teori adalah slip (geseran) pada bidang slip, modulus kekakuan adalah konstanta yang penting, yang diperoleh dari pengujian puntir (dalam banyak kasus). Deformasi puntiran tidak menunjukkan tegangan uniform pada potongan lintang seperti halnya pada deformasi lenturan. Untuk mendapat deformasi puntiran dengan tegangan yang uniform perlu dipergunakan batang uji berupa silinder tipis. Gambar. Batang Silindris dengan Beban Puntiran Patahan karena puntiran dari bahan getas terlihat pada arah kekuatan tarik, yaitu pada 45 C terhadap sumber puntiran, sedangkan bagi bahan yang liat patahan terjadi pada sudut tegak lurus terhadap sumbu puntiran setelah gaya pada arah sumbu terjadi dengan deformasi yang besar, dari hal tersebut sangat mudah menentukan keliatan dan kegetasan.

Puntiran dapat terjadi secara murni atau bersamaan dengan beban aksial, momen lentur dan gaya lintang. Puntiran murni dapat terjadi misalnya pada batang-batang poros mesin. Batang-batang ini kebanyakan berpenampang lingkaran. Sedangkan pada struktur bangunan, misalnya puntiran terjadi pada balok pinggir atau balok luifel, kolom pada bangunan gedung akibat pembebanan horisontal, jembatan lengkung dan lain sebagainya. Batang-batang ini biasanya berpenampang persegi, T, I atau box. Gambar 5.1 memperlihatkan contoh batang-batang yang mengalami puntiran. Sekarang kita tinjau sebuah batang prismatis berpenampang lingkaran masiv yang menerima puntiran yang saling berlawanan arah pada kedua ujungnya, seperti diperlihatkan pada Gambar 5.2. Akibat puntiran, penampang akan berputar terhadap sumbu longitudinal batang. Puntiran ini menyebabkan salah satu ujung batang berputar terhadap Iainnya.

Sebelum membahas tentang tegangan-tegangan akibat puntiran tersebut, ada beberapa asumsi khususnya untuk batang yang homogen berpenampang Iingkaran atau tabung, yaitu: Potongan datar yang tegak lurus terhadap sumbu batang akan tetap datar setelah mengalami puntiran. Akibat lanjut dan asumsi ini adalah tidak akan terjadi regangan geser pada bidang-yang sejajar dan melalui sumbu batang. Adanya puntiran, potongan datar ini akan tetap rigid, sehingga regangan geser berbanding lurus dengan jaraknya dan sumbu batang. Gambar. Batang berpenampang lingkaran menenma puntiran

B. Puntiran Poros Berpenampang Lingkaran. Akibatpuntiranmurnipadaporosberpenampanglingkaranadalahtimbulnyate gangangesermurnidalambahan.bilaporosdibagimenjadiduabagianolehbidang transversal khayal, akanterlihatbahwapermukaan-permukaan pada kedua pihak daribidan gini cenderung berputar, relatif yang dianggap terdiri dari lapisanlapisan tipis transversal yang jumlahnya tak terhingga, masing-masing relative berputar sedikit terhadap lapisan berikutnya bila torsi diberikan, akibatnya poros akan terpuntir. Pergerakan angular salah satuujung relative terhadap yang lain disebut sudut puntiran. Tegangan puntir disebabkan oleh momen puntir yang bekerja pada penampang batang. Dalam menganalisa tegangan puntir, momen torsi yang biasanya dinyatakan dalam vektor rotasi diubah menjadi vektor translasi dengan menggunakan aturan tangan kanan. Lipatan jari tangan menunjukkan arah vektor rotasi dan jari jempol menunjukkan vektor translasi.

Seperti halnya gaya aksial, tegangan puntir muncul (momen puntir ada) bila batang tersebut dipotong. Metode irisan tetap digunakan untuk mendapatkan momen puntir dalam, sehingga tegangan puntir dapat dicari. Momen puntir dalam ini yang akan mengimbangi momen puntir luas sehingga bagian struktur tetap dalam kondisi seimbang. Gambar 2.3 Poros yang mengalami Puntiran Untuk mencari hubungan antara momen puntir dalam dengan tegangan pada penampang batang bulat, perlu dibuatkan asumsi sbb: 1. Potongan normal tetap di bidang datar sebelum maupun sesudah puntiran. 2. Regangan geser berbanding lurus terhadap sumbu pusat. 3. Potongan normal tetapberbentukbulatselamapuntiran. 4. Batangdibebanimomenpuntirdalambidangtegaklurussumbubatang. 5. Teganganpuntirtidakmelebihibatasproporsional. 6. Tegangan geser berubah sebanding dengan regangan linear.

C. Hal-hal yang Mempengaruhi Kekuatan Material Terhadap Puntiran a. Panjang batang, semakin panjang batang yang dikenai beban puntir maka puntiran akan semakin besar b. Sifat-sifat material antara lain modulus geser, struktur material, dan jenis material. c. Luas penampang batang atau material dimana gaya puntir bekerja. d. Bentuk penampang batang yang dikenai puntiran. e. Arah gaya puntir pada batang

CONTOH SOAL d. Tegangan puntir / putar (Torsional stress) Terjadi di sepanjang struktur material elemen mesin yang dikenai momen puntir (M P ) atau torsi ( T ), akibat fungsinya dalam meneruskan daya putar ( P ). Besarnya tegangan yang terjadi ( P ) akan mencapai maksimum pada sisi terluar benda (dengan radius r ), terutama pada bagian ujung benda yang dijepit / ditahan (sejarak L dari titik tumpuan gaya). Sebaliknya, menjadi nol ( 0 ) pada sumbu benda dan pada titik tumpuan gaya. Hal ini dikarenakan, geseran pada struktur material benda searah radial (sudut geser ), bertambah besar sesuai dengan pertambahan jarak. Gambar : P maks. r P = 0 P maks M P = T Dengan demikian persamaan umum untuk tegangan puntir, adalah : M P / I P = P / r = G. / L Dimana : I P = Inersia polar, yang menyatakan kekuatan bentuk penampang bulat dalam menahan gaya putar atau torsi. = I xx + I yy = 64. d 4 + 64. d 4

= 32. d 4 I xx dan I yy = inersia benda pada sumbu x dan sumbu y. G = modulus geser / kekakuan (rigidity) material benda. Menyatakan sifat kekakuan material dalam menerima pembebanan puntir Dari persamaan umum tegangan puntir, akan diperoleh dua persamaan berikut : - Persamaan puntir berdasarkan kekuatan bahan : Dari : T I P = P d 2 T. 32 d 4 = P d 2 T = 16. P. d 3 - Persamaan puntir berdasarkan kekakuan bahan Adalah : T. 32 d 4 = G. L Untuk poros yang berlobang : - I P = maka 32. (d l 4 - d d 4 ), dengan r = d l 2 T = P. 32. (d l 4 - d d 4 ). 2 d l T = 16. P. d l 3 (1 k 4 ), dimana : k = d d d l

CONTOH- CONTOH SOAL TEGANGAN PUNTIR (PUTAR) : 1. Untuk pembebanan putar / puntir pada perancangan poros pejal ( tidak berlobang )

2. Untuk pembebanan putar / puntir pada perancangan poros berlobang (Hollow Shaft) :