POLA MAKAN IKAN JURUNG (Tor soro) DI SUNGAI LOKOP KABUPATEN ACEH TIMUR Mawardi* dan Yusrizal Prodi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Samudra, Langsa *Email: mawardibio@yahoo.com Abstrak. Sungai Lokop merupakan salah satu sungai yang terdapat di Aceh Timur yang masih hidup spesies ikan Jurung (Tor soro) yang tergolong ikan endemik. Ikan Jurung (Tor soro) salah satu spesies ikan air tawar yang termasuk dalam daftar merah IUCN (IUCN Red List). keberadaan ikan-ikan tersebut kini dalam keadaan terancam oleh berbagai faktor diantaranya teknik penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan perubahan iklim global. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola makan ikan Jurung (Tor Soro) dan untuk mengetahui jenisjenis makanan yang dimakan oleh ikan Jurung (Tor soro) Sungai Lokop Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Volumetric yaitu pengukuran volume makanan yang terdapat dalam lambung ikan yang berisi makanan Ikan sampel diambil dari Sungai Lokop yang ditangkap pada pagi dan sore hari. Analisis isi lambung dengan menggunkan rumus Index Of Preponderance. Hasil penelitian dari 10 ekor ikan sampel yang ditemukan pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa ikan jurung tergolong hewan omnivora cenderung herbivora. Makanan utama terdiri dari kelas Bacillariophyceae (Bacteriastrum), Chlorophyceae (Oedogonium, Zygnema), dan Cyanophyceae (Gonatozygon). Makanan yang paling dominan ditemukan berupa fitoplankton, sedangkan insekta hanya ditemukan beberapa spesies saja. Dapat disimpulkan bahwa makanan utama Ikan Jurung (Tor soro) tergolong hewan omnivora cenderung herbivora. Kata kunci: Pola makan ikan jurung (Tor soro) sungai Lokop PENDAHULUAN Lokop merupakan daerah yang terdiri dari pegunungan dan pemukiman penduduk yang dialiri sungai Lokop yang terdapat di Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur dengan Letak geografis LU : 04 09'21,08 04 44'48,65 BT : 97 15'22,07-97 46'24,32. Luas wilayah 2165,66 Km², ketinggian (mdpl) 500 700 dari permukaan laut dan suhu rata-rata berkisar antara 25-29 C (BPS Aceh Timur 2015). Sungai Lokop salah satu sungai yang terletak di Aceh Timur, Sungai ini melintasi Dusun Munte, Kekabu, Desa Jering, Desa Lokop, Desa Sekualan, Desa Sunti, Desa Umah Taring, Desa Ujung Karang. Sungai Lokop merupakan sungai yang secara keseluruhan mempunyai panjang ± 80 km, yang mengalir dari hulu (Desa Jamat Kabupaten Aceh Tengah) sampai hilir (Simpang Jernih Kecamatan Simpang Jernih). Sungai Simpang Jernih hulunya dari Lesten Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues yang bermuara di Kuala Simpang (Camat Serbajadi, 2016). Sungai lokop merupakan salah satu sungai wilayah di Aceh Timur yang masih hidup beberapa spesies ikan anatara lain ikan gabus, ikan baung, ikan sepat dan ikan Jurung (Tor soro). Menurut hasil penelitian Muchlisin dan Azizah (2009) mencatat bahwa sekurang-kurangnya ada 114 spesies ikan air tawar dan payau hidup di perairan tawar Nanggroe Aceh Darussalam, angka ini diperkirakan masih jauh dibawah jumlah spesies ikan yang ada karena masih banyak sungai, rawa-rawa dan danau yang belum di explorasi bahkan dari jumlah tersebut, 15 species diantaranya memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain: Anguilla bicolor (Ileah), Anguilla mamormata (Ileah), Chanos chanos (muloh, brackishwater), Channa striata (bacei), Channa lucius (bujok), Clarias batrachus (sengko/mut), Clarias teijsmanni (semu), Clarias niefhofii (semu), Epinephelus tauvina (geurape muara, brackishwater), Neolissochilus spp (pedih/jurung), Rasbora tawarensis (depik), Tor soro (jurung), Tor tambra (Keureling), dan Tor tambroides (keureling). 339
Ikan Jurung (Tor soro) merupakan salah satu spesies ikan yang hidup di Sungai Lokop Kabupaten Aceh Timur. Ikan Jurung umumnya hidup pada perairan yang bersubstrat bebatuan. Ikan Jurung diketahui dapat tumbuh baik pada kondisi perairan dengan tipe substrat berbatu, kondisi air yang jernih, berkebutuhan oksigen tinggi, dan berarus dari sedang sampai deras (Wibowo, 2012). Ikan Jurung termasuk ke dalam famili Cyprinidae, ikan ini memiliki karakteristik khas berupa dua buah cuping di bibir bawah mulut, ukuran sirip anal yang lebih rendah daripada sirip punggung dan terdapat warna perak mengkilap di bagian punggung (Haryono dan Tjakrawidjaja, 2005). Jenis Ikan Jurung dikenal dengan beberapa nama lokal yaitu ikan Semah di Sumatera Selatan, ikan Kancera di Jawa Barat, ikan Garing di Sumatera Barat, ikan Silap di Kalimantan Barat, ikan Padak di Kalimantan Selatan serta ikan Jurung dan Garing di Sumatera Utara. Keberadaan Ikan Jurung di Sungai Lokop sudah terancam keberadaannya, karena intensitas penangkapan yang semakin tinggi, maka dikhawatirkan akan menyebabkan populasi ikan ini semakin terancam kelestariannya. Ikan Jurung merupakan ikan konsumsi air tawar yang memiliki harga ekonomi tinggi. Di Pulau Sumatra harga ikan Tor soro harganya mencapai Rp. 200-300 ribu/kg, dan di pulau Jawa mencapai 1 juta (Asun: 2011) dalam Qudus 2012. Terdapat beberapa alasan yang menjadikan ikan ini memiliki harga ekonomi yang tinggi diantaranya karena berat tubuhnya dapat mencapai 20 kg dan memiliki tekstur daging yang tebal dan empuk serta rasanya yang gurih (Qudus et al, 2012). Keberadaan ikan-ikan tersebut kini dalam keadaan terancam oleh berbagai faktor diantaranya adalah teknik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, perubahan iklim global, untuk tujuan hobi (ikan hias), kerusakan lingkungan, dan pencemaran yang dapat merusak ketersediaan pakan alami di daerah spesies ikan jurung tersebut. Ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan beberapa jenis ikan air tawar termasuk ikan Jurung. METODE Lokasi Penelitian Pengambilan sampel ikan Jurung (Tor soro) di Sungai Lokop Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 01 Januari 2017 sampai tanggal 01 Februari 2017. Identifikasi dan analisis isi lambung dilaksanakan di Laboratorium PMIPA Universitas Samudra. Pengambilan Sampel Sampel ikan jurung (Tor soro) di peroleh dari hasil tangkapan dengan menggunakan alat berupa pancing ikan di Sungai Lokop Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur. Ikan jurung dikumpulkan sebanyak 10 ekor yang terdiri dari 5 ekor ikan ditangkap pada pagi hari pukul 06.00 Wib sampai 08.00 Wib dan 5 ekor ikan ditangkap pada sore hari pukul 15.00 Wib sampai 17.00 Wib. Pengukuran Sampel Ikan Jurung (Tor soro) yang diperoleh di ukur panjang dan beratnya. Pengukuran panjang ikan Jurung dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor dengan satuan milimeter (mm), pengukuran berat ikan Jurung dengan satuan gram (g). kemudian ikan di bedah untuk di ambil lambungnya dimasukkan kedalam botol sampel. Lambung ikan di beri formalin (4%) sebanyak 4 tetes agar lambung dan isinya tetap awet. Sampel lambung ikan kemudian dibawa ke Laboratorium PMIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra. Pengambilan lambung ikan dilakukan dengan membedah bagian abdomen mulai dari anus kearah vertebrata hingga ke tulang operkulum. Lambung dimasukkan kedalam gelas ukur yang berisi 10 ml aquades, kemudian dicatat pertambahan volume aquades dalam gelas ukur. Lambung dimasukkan ke dalam cawan petri kemudian lambung diseksio dengan 340
gunting bedah untuk mengeluarkan isi lambung. Lambung dikeluarkan isinya kemudian di identifikasi jumlah dan jenis makanan, isi lambung tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis-jenisnya. lambung yang kosong dimasukkan kembali kedalam gelas ukur berisi 10 ml aquades dan dicatat pertambahan volume aquades tersebut. Hasil pengukuran volume lambung berisi dikurang dengan volume lambung kosong maka didapatlah volume makan ikan. Analisi lambung dilakukan dengan menggunakan metode volumetric (Adiyanda, 2014: 513). Analisis Data Untuk menganalisa pola makanan yang dimakan oleh ikan Jurung (Tor soro) yaitu dengan menggunakan Index of Preponderance atau indeks Bagian Terbesar yang dikemukakan oleh Natarjan dan Jhingran dalam Effendi (1979: 14) dengan rumus sebagai berikut: Vi x Oi IP = Σ Vi x Oi x 100% Persentase volume dinyatakan dengan cara menghitung volume makanan sejenis per volume makanan seluruhnya dengan rumus: Volume makan sejenis Vi = volume seluruh jenis x 100% Untuk persentase frekuensi kejadian dinyatakan dengan cara menghitung jumlah lambung yang berisi makanan sejenis perjumlah lambung yang berisi seluruhnya dengan rumus: jumlah lambung yang berisi satu jenis makanan Oi = x 100% jumlah seluruh lambung yang berisi makanan Keterangan : IP = Index of Preponderance atau Indeks Bagian Terbesar Vi = Persentase volume satu jenis makanan Oi = Persentase frekuensi kejadian satu jenis makanan Dengan ketentuan: IP > 40 % sebagai makanan utama IP 4-40 % sebagai makanan pelengkap IP < 4 % sebagai makanan tambahan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pola makan Ikan Jurung (Tor soro) yang terdapat di Sungai Lokop Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur yang dianalisis menggunakan Indeks of Preponderance (IP) menunjukkan bahwa hewan omnivora cenderung herbivora. Pola makan ikan Jurung disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel. 1 dapat kita lihat bahwa ikan jurung (Tor soro) dapat dikelompokkan kedalam ikan omnivora cenderung herbivora dengan makanan utama dari kelas Bacillariophyceae (Bacteriastrum), Chlorophyceae (Oedogonium, Zygnema), dan Cyanophyceae (Gonatozygon). Makanan yang paling dominan ditemukan berupa fitoplankton, sedangkan insekta hanya ditemukan beberapa spesies saja. Dilihat dari variasi makanan yang dikonsumsi ikan jurung di Sungai Lokop maka ikan jurung termasuk kedalam kelompok euryphagic, yaitu ikan yang memanfaatkan bermacammacam organisme makanan. Perbedaan dari konsumsi makanan ini diduga karena perbedaan selera makan dan kebutuhan nutrisi ikan jurung. faktor-faktor yang menentukan suatu spesies ikan akan memakan suatu organisme adalah ukuran 341
makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan, dan selera ikan terhadap makanan (Effendie, 1997). Tabel 1. Pola Makan Ikan Jurung di Sungai Lokop No Jenis Makanan Vi PAGI Oi IP Vi SORE Oi IP I Kelas Bacillariophyceae 1 Bacteriastrum sp 8,33 60,00 58.14* 6.33 60.00 49.97* 2 Cymbella 7,14 40,00 33.22** 2.53 20.00 6.66** 3 Pinnularia sp 5,95 80,00 55.37* 3.80 40.00 19.99** II Kelas Chlorophyceae 4 Cladophora 7,14 40,00 33.22** 5.06 40.00 26.65** 5 Microspora sp 5,95 60,00 41.53* 6.33 40.00 33.31** 6 Oedogonium sp 7,14 60,00 49.83* 10.13 60.00 79.95 7 Pandarina sp 5,95 60,00 41.53* 1.27 20.00 3.33*** 8 Zygnema 8,33 80,00 77.52* 8.86 60.00 69.95* III Kelas Cyanophyceae 9 Gonatozygon sp 8,33 100,0 96.9* 13.92 100.0 183.21* 10 Spirulia 3,57 40,00 16.61** 5.06 60.00 39.97** IV Kelas Xanthophyceae 0,00 11 Tribonema 4,76 40,00 22.15** 2.53 40.00 13.32** 12 Vaucheria 2,38 20,00 5.54** 11.39 80.00 119.92* V Kelas insecta 13 Kaki Belalang 9,52 40,00 44.3* 10.13 60.00 79.95* 14 Kaki serangga 5,95 40,00 27.69** 3.80 20.00 9.99** 15 Larva serangga 2,38 20,00 5.54** 1.27 20.00 3.33*** 16 Semut Rangrang 3,57 40,00 16.61** 3.80 20.00 9.99** 17 serangga tawon 3,57 40,00 16.61** 3.80 20.00 9.99** Jumlah 100,0 860,0 100.0 760.0 Keterangan: * = makanan utama; ** = makanan pelengkap; *** = makanan tambahan Hasil pada Tabel. 1 menunjukkan makanan utama ikan jurung terdapat pada kelas Cyanophyceae dan hasil pengamatan plankton memperlihatkan kelas Cyanophyceae merupakan kelas yang memiliki nilai kelimpahan tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan pakan alami ikan jurung di sungai Lokop melimpah. Ibrahim et al (2006) menyatakan kebiasaan makanan dari suatu jenis ikan berkaitan dengan kondisi ekologi perairannya. Sedangkan menurut Lagler (1977) jenis-jenis makanan yang dimakan suatu spesies ikan biasanya tergantung pada kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, ukuran dan umur ikan, musim serta habitat hidupnya. Hal ini menunjukkan ikan Jurung memanfaatkan sumber makanan yang paling melimpah di perairan sebagai makanan utamanya dan diduga ikan Jurung pada pagi hari menyukai makanan pada kelas Cyanophyceae karena makanan ini ditemukan hampir pada seluruh ikan sampel. Ikan jurung yang ditemukan di sungai Lokop memiliki makanan utama berupa Kelas Bacillariophyceae, Kelas Chlorophyceae, Kelas Cyanophyceae, Kelas Xanthophyceae, dan Kelas insecta. Sedangkan penelitian lain pada ikan genus Tor yang dilakukan Adjie (2009) di DAS Kapuas menyatakan bahwa ikan Semah (Tor spp.) memiliki makanan utama berupa lumut, makanan pelengkap berupa potongan buah-buahan dan makanan tambahan berupa fito-zooplankton dan cacing nematode. 342
Hasil ini sesuai dengan pernyataan Sawaliyah (2007), perbedaan tempat atau daerah dapat berbeda konsumsi makanannya baik jenis maupun jumlahnya. Bahwa perbedaan strategi makanan ditentukan kebiasaan dalam memanfaatkan, memilih makanan dan ketersediaan makanan di perairan, jenis kelamin dan perbedaan aktivitas (Situmorang et al, 2013) dalam Nullah 2015. Temperatur air dari ungai Lokop berkisar 21-23 C, temperatur tertinggi ditemukan pada sore hari. Temperatur suatu perairan sangat mempengaruhi keberadaan ikan, temperatur air yang tidak cocok, misalnya terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Berubahnya temperatur suatu badan air, besar pengaruhnya terhadap komunitas akuatik (Suin,2002). Pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi sungai (Barus, 2004). Perbedaan temperatur pada kelima stasiun penelitian karena perbedaan waktu pengukuran serta kondisi cuaca saat pengukuran dilakukan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap pola makan Ikan Jurung (Tor soro) yang terdapat di Sungai Lokop Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur, ikan jurung tergolong hewan omnivora cenderung herbivora. Makanan utama terdiri dari kelas Bacillariophyceae (Bacteriastrum), Chlorophyceae (Oedogonium, Zygnema), dan Cyanophyceae (Gonatozygon). Makanan yang paling dominan ditemukan berupa fitoplankton, sedangkan insekta hanya ditemukan beberapa spesies saja. DAFTAR PUSTAKA Adiyanda.R., Roza.E., dan Yusfiati. 2014. Analisis Isi Lambung Ikan Lais Janggut (Kryptopterus limpok, bleeker 1852) Di Sungai Tapung Hilir Propinsi Riau. JOM Fmipa Vol 1 (2): 511-524 Adjie, S. 2009. Sebaran dan Kebiasaan Makan Beberapa Jenis Ikan di DAS Kapuas Kalimantan Barat. Seminar Nasional Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Cetakan ke-2 UGM Press. Yogyakarta. BPS. 2015. Aceh Timur Dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 159. Haryonodan A.H. Tjakrawidjaja. 2005. Pengenalan Jenis Ikan Tambra yang Bernilai Komersial Tinggi dan Telah Rawan Punah untuk Mendukung Domestikasinya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: 15. Haryono. 2006. Aspek biologi ikan tambra (Tor tambroides Blkr.) yang eksotik dan langka sebagai dasar domestikasi. Biodiversitas. 7(2): 195-198. Ibrahim, A. J., R. Saleh, Hasriani. 2006. Aspek Kebiasaan Makanan Ikan Kurisi Bali (Pristipmoi desmultidens, Day 1871) yang Tertangkap Di Perairan Derawan dan Sekitarnya. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo. Tarakan. Lagler, K. F., J. E. Bardach, R. R. Miller. and D. M. Passino. 1977. Ichthyology. John Wiley and Sons, Inc. New York. 505 p. Muchlisin, Z.A. 2011. Analisis Kebijakan Introduksi Spesies Ikan Asing Di Perairan Umum Daratan Provinsi Aceh. J. Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol. 1(1): 79-89 343
Nullah, A.Q., Pindi, P., Ani, S. 2015. Kebiasaan Makan Ikan Garing (Tor tambra) di Sungai Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. E-Jurnal. Universitas Sumatera Utara: 1-13. Qudus, R.R. Walim, L. dan Rosidah. 2012. Pengaruh Padat Penebaran Yang Berbeda Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Tor soro (Torsoro). Jurnal Perikanan Dan Kelautan. Vol 3(4): 254-260. Suin, N. M. 2002. MetodeEkologi. UniversitasAndalas, Padang. Wibowo A. 2012. Keragaman genetik ikan semah (Tor tambroides Blekker 1854) di Sungai Manna, Bengkulu dan Sungai Semanka, Lampung. Bawal (ID). 4(2):105-112. 344