Meliawati, Roza Elvyra, Yusfiati
|
|
|
- Verawati Tanuwidjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN LAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI DESA MENTULIK SUNGAI KAMPAR KIRI DAN DESA KOTA GARO SUNGAI TAPUNG PROVINSI RIAU Meliawati, Roza Elvyra, Yusfiati Mahasiswa Program S1 Biologi Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia ABSTRACT The study on stomach content of lais panjang lampung fish (Kryptopterus apogon) in Mentulik village of Kampar Kiri River and Kota Garo village of Tapung River was conducted from October 2013 to March This study aimed to observe the stomach content of lais fish which were categorized into main food, supplement food, and additional food, as well as to determine the ratio of the length of gut toward total body length. The method used in this study was a survey method. The analysis indicated that the food which had the highest value in index of preponderance in both stations based on the type of food and sex was those of animal debris. Furthermore, analysis on the ratio of the length of gut towards the total body length showed that the length of gut never exceed the total body length. Based on the analysis of index of preponderance and the ratio of the length of gut towards the total body length, lais panjang lampung fish (K. apogon) was considered carnivorous. Keywords: Kryptopterus apogon, Kampar Kiri River, Stomach content analysis, Tapung River. ABSTRAK Penelitian analisis isi lambung ikan lais panjang lampung (Kryptopterus apogon) di Desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan Desa Kota Garo sungai Tapung dilakukan pada bulan Oktober 2013 sampai Maret Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi lambung ikan lais yang terdiri dari makanan utama, makanan pelengkap, dan makanan tambahan yang dimakannya di kedua stasiun penelitian, juga untuk mengukur rasio panjang usus ikan lais terhadap panjang total tubuh. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode survei. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai index of preponderance tertinggi di kedua stasiun penelitian berdasarkan jenis makanan dan jenis kelamin adalah kelompok makanan debris hewan. Kemudian, hasil analisis dari JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
2 rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh menunjukkan bahwa panjang usus tidak pernah melebihi panjang total tubuh. Berdasarkan hasil analisis dari indeks of preponderance dan rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh, ikan lais panjang lampung (K. apogon) merupakan ikan karnivora. Kata kunci: Analisis isi lambung, Kryptopterus apogon, sungai Kampar Kiri, sungai Tapung PENDAHULUAN Sungai Kampar dan Sungai Tapung termasuk sungai paparan banjir yang dikenal dengan istilah floodplain river (Elvyra dan Yus, 2012). Pada sungai ini terdapat ikan endemik yang menjadi maskot Kota Pekanbaru, yaitu ikan lais atau ikan selais dalam bahasa melayu. Salah satunya adalah ikan lais panjang lampung (Kryptopterus apogon). K. apogon merupakan salah satu fauna endemik paparan banjir yang berpotensi di daerah Riau dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Populasi ikan K. apogon semakin lama semakin menurun. Hal ini disebabkan karena nelayan selalu menangkap ikan secara terusmenerus tanpa memperhatikan waktu pemijahan. Selain itu, juga disebabkan oleh berbagai aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Kampar dan sungai Tapung tersebut, seperti menjadikan sungai ini sebagai tempat MCK, pembuangan sampah industri rumah tangga, dan sebagainya. Sehingga mempengaruhi kondisi biotik perairan dan kemungkinan ketersediaan makanan ikan K. apogon di sungai ini menjadi terganggu dan terjadi pengurangan. Akibatnya, kehidupan ikan ini juga ikut terancam. Makanan alami ikan dalam suatu perairan cukup beragam baik dari golongan hewan, tumbuhan maupun organisme mati. Makanan alami yang diketahui dari ikan tersebut dapat menentukan pakan yang baik dan cocok bagi ikan ini. Dengan analisis isi lambung maka dapat dikaji hubungan antara komposisi pakan alami dalam lambung dengan habitatnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu meneliti analisis isi lambung ikan K. apogon dari dua sungai yang berbeda yaitu sungai Kampar dan sungai Tapung agar diketahui makanan alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi lambung ikan K. apogon yang terdiri dari makanan utama, makanan pelengkap dan makanan tambahan yang dimakan oleh ikan tersebut di desa Mentulik, sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo, sungai Tapung, Provinsi Riau, juga mengamati rasio panjang usus ikan lais terhadap panjang total tubuhnya. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
3 METODE PENELITIAN a. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Oktober 2013 sampai Maret 2014 dengan lokasi pengambilan sampel di desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo sungai Tapung, Provinsi Riau. Pengamatan analisis faktor fisika dan kimia perairan dilakukan di laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan. Sedangkan analisis isi lambung ikan lais dan parameter rasio panjang usus dilakukan di laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau, Pekanbaru. b. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan K. apogon, formalin 4%, aquades dan sampel air sungai. Alat-alat yang digunakan selama penelitian adalah alat bedah, botol film, gelas ukur, timbangan digital, penggaris, mikroskop, nampan, bak parafin, cawan petri, pipet tetes, pinset, kamera, kertas label, alat tulis, termometer air, turbidity meter, secchi disk, botol winkler dan kertas ph universal. c. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama 6 bulan sebanyak maksimal 60 ekor (30 jantan dan 30 betina) disetiap stasiun, sampai jumlah sampel terpenuhi. Sampel ikan K. apogon diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di kedua stasiun penelitian yaitu desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo sungai Tapung menggunakan alat tangkap berupa jaring, bubu atau lukah, dan sempirai. d. Prosedur Penelitian Ikan sampel diukur panjang total (PT) nya mulai dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor dengan satuan centimeter (cm), berat ikan diukur dengan satuan gram (g). Kemudian lebar bukaan mulutnya diukur juga menggunakan mistar. Perut ikan lais dibedah, dan diambil organ lambung dan ususnya. Ditentukan jenis kelamin ikan dengan melihat bentuk gonadnya. Kemudian panjang usus diukur dan dimasukkan ke dalam botol film yang berisi formalin 4%. Begitu pula dengan lambungnya, organ ini dimasukkan ke dalam botol film yang berisi formalin 4%, lalu sampel dianalisis. Analisis dilakukan dengan cara membedah lambung dan mengeluarkan isinya untuk diidentifikasi jenis dan jumlah makanannya. Isi lambung tersebut dikelompokkan berdasarkan jenisjenisnya. Sementara untuk pengukuran volume makanan ikan (ml) dilakukan dengan metode volumetrik. e. Analisis Data Dalam menganalisa jenis makanan yang dimakan oleh ikan K. apogon yaitu dengan menggunakan Index of Preponderance (IP) atau indeks Bagian Terbesar yang dikemukakan oleh Natarjan dan Jhingran dalam Effendie (1979) adalah : JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
4 Keterangan : IP = Index of Preponderance atau Indeks Bagian Terbesar Vi = Persentase volume satu jenis makanan Oi = Persentase frekuensi kejadian satu jenis makanan Vi Oi= Jumlah Vi Oi dari semua jenis makanan Persentase volume dinyatakan dengan cara menghitung volume makanan sejenis dibagi dengan volume makanan seluruhnya dengan menggunakan rumus : Persentase frekuensi kejadian dinyatakan dengan cara menghitung jumlah lambung yang berisi makanan sejenis dibagi dengan jumlah lambung yang berisi seluruhnya dengan rumus : Berdasarkan nilai IP yang diperoleh, maka pengelompokkan kebiasaan makanan ikan dapat dibedakan menjadi tiga macam, antara lain : IP > 40 % Sebagai makanan utama IP 4-40 % Sebagai makanan pelengkap IP < 4 % Sebagai makanan tambahan Pengukuran rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh ikan dilakukan untuk menentukan ikan termasuk pada golongan ikan herbivora, ikan karnivora atau ikan omnivora. Cara pengukurannya yaitu : Rasio Panjang Usus = PU/PT Keterangan : PU = Panjang usus PT = Panjang total tubuh HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Tangkapan Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Pada kedua stasiun penelitian ini sampel ikan yang diambil tiap bulan maksimal sebanyak 120 ekor dengan ukuran yang beragam dan dikelompokkan kedalam ukuran kecil, sedang hingga besar. Jumlah dan ukuran ikan yang tertangkap selama penelitian berbeda-beda pada tiap stasiun. Ikan yang ditangkap pada stasiun 1 seluruhnya berjumlah 264 ekor dengan 78 ekor jantan dan 186 ekor betina, sedangkan pada stasiun II di Desa Kota Garo ikan yang diperoleh sebanyak 323dengan jumlah 113 ekor jantan dan 210 ekor betina. Jumlah ikan yang didapatkan pada masing-masing stasiun tidak sama diduga karena kondisi perairannya yang berbeda dan dipengaruhi oleh musim selama penelitian berlangsung. Pada stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri ukuran ikan yang berhasil ditangkap berkisar antara 15,3 40,4 cm selama 6 bulan penelitian. Sementara pada stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung ukuran ikan yang berhasil didapatkan berkisar antara 15,1-37,5 cm. Ukuran ikan yang berhasil ditangkap sangat beragam sehingga dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
5 yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar. Pada stasiun I ikan yang paling banyak didapatkan berukuran sedang sebanyak 151 ekor, dengan kisaran panjang tubuh 24,6-30,7 cm, sedangkan ikan yang berukuran kecil berhasil didapatkan sebanyak 82 ekor dengan kisaran panjang tubuh 15,3 24,5 cm dan untuk ikan berukuran besar hanya sebanyak 31 ekor yang berhasil diperoleh dengan kisaran panjang tubuh 30,8-40,4 cm. Pada stasiun 2 ikan yang paling banyak tertangkap juga yang berukuran sedang yaitu sebanyak 222 ekor dengan kisaran panjang tubuh 21,4 27,6 cm, sementara untuk ikan berukuran kecil yang berhasil diperoleh sebanyak 23 ekor dengan panjang tubuh antara 15,1-21,3 cm dan ikan yang berukuran besar sebanyak 78 ekor dengan kisaran panjang tubuh 27,7 37,5 cm. Pada awal penelitian, permukaan perairan naik karena musim penghujan dan mengakibatkan aliran air dari badan sungai utama dengan anak anak sungai menyatu sehingga diduga membuat ikanikan jadi sulit ditangkap karena menyebar ke seluruh perairan yang tergenang untuk memijah dan mencari makan. Terutama pada Stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri jumlah ikan yang diperoleh lebih sedikit dari pada stasiun II di desa Kota Garo sungai Tapung juga karena nelayannya tidak mencari ikan saat permukaan perairan naik sehingga pada bulan tertentu ketersediaan ikan sampel penelitian ada yang kosong. Berbeda dengan stasiun II di Kota Garo, meskipun permukaan perairan naik aktivitas masyarakat setempat yang bekerja sebagai nelayan masih terus berlangsung sehingga ikan sampel yang dibutuhkan setiap bulan selalu tersedia. Pada akhir penelitian (awal musim kemarau), permukaaan perairan turun sehingga aliran air dari badan sungai utama dengan anak anak sungai sekitar jadi terputus. Hal ini menyebabkan ikan banyak terperangkap diperairan yang dalam dan masih tergenang sehingga diduga ikan-ikan tersebut lebih mudah tertangkap pada musim ini dari pada musim lainnya. Yuliani (2009) mengemukakan bahwa besarnya jumlah tangkapan ikan saat musim kemarau diduga karena pada musim tersebut volume air berkurang dan arus lebih lambat, serta ikan lebih banyak melakukan aktivitas sehingga peluang tertangkapnya lebih besar. b. Jenis Makanan Ikan Lais Panjang Lampung (K. apogon) yang Teridentifikasi Selama Penelitian Selama penelitian, lambung ikan yang tertangkap dalam keadaan berisi dan tidak ada yang kosong. Jenis makanan yang ditemukan pada lambung ikan K. apogon cukup bervariasi diantaranya adalah berbagai macam ikan, udang, arthropoda dan material yang tidak dapat dikenali lagi (unidentified). Pada Tabel 1 disajikan jenis makanan ikan K. apogon di kedua stasiun. Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa jenis makanan ikan K. apogon di kedua stasiun cukup bervariasi. Ikanikan yang dimakannya terdiri dari beberapa jenis, ada yg berasal dari Famili Cyprinidae seperti ikan Puntius sp dan ikan Rasbora sp, Famili Bagridae seperti ikan Mystus nemurus, Famili Siluridae dan Famili Osphronemidae seperti ikan Belontia hasselti. Sedangkan jenis makanan K. apogon lainnya adalah serangga (Arthropoda), udang JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
6 (Macrobranchium sp) dan debris hewan. Potongan potongan hewan yang terdapat didalam lambung K. apogon dapat diidentifikasi dengan baik sampai ke tingkat spesies dan ada juga yang tidak dapat diidentifikasi. Potongan hewan yang tidak dapat teridentifikasi tersebut dikelompokkan ke dalam debris hewan. Hasil penelitian Saputra (2013) tentang komposisi makanan ikan selais danau (Ompok hypophthalmus) terdiri dari ikan Puntius sp, debris hewan, Periplaneta sp (Arthropoda) serta arthropoda yang lain. Jenis makanan ikan K. apogon yang ditemukan selama penelitian hampir mirip dengan ikan selais danau (O. hypophthalmus). Persamaan jenis makanan yang didapatkan diduga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan yang sama di stasiun penelitian mengingat bahwa salah satu stasiun penelitian Saputra (2013) yaitu di Kota Garo sama. Jenis makanan yang disukai ikan itu tergantung dari ukuran tubuh dan umurnya (Mudjiman, 1995). Ikan ukuran kecil dan besar tidak selalu menyukai jenis makanan yang sama. Ikan kecil memakan jenis makanan yang sesuai dengan lebar bukaan mulutnya yang kecil untuk pertumbuhan. Sementara ikan ukuran besar memakan jenis makanan yang lebih besar sesuai dengan bukaan mulutnya untuk persiapan pemijahan. Menurut Welcomme (2001), jenis makanan yang dimakan oleh ikan tergantung pada ketersediaan jenis makanan di alam, dan juga adaptasi fisiologis salah satunya adalah panjang usus. Berdasarkan jenis makanan yang telah teridentifikasi dari lambung K. apogon dapat dilihat bahwa ikan ini termasuk dalam kelompok karnivora. Jenis makanannya terdiri dari beberapa macam hewan mulai dari ikan, arthropoda bahkan udang. Tetapi pada stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri jenis makanan ikan Belontia hasselti dan arthropoda tidak ditemukan, sedangkan pada stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung terdapat ikan dan atrhropoda tersebut, sementara untuk jenis makanan yang lain samasama ditemukan di tiap stasiun. Hal tersebut disebabkan karena pada stasiun I di desa Mentulik keberadaan ikan Belontia hasselti memang tidak begitu banyak sehingga kemungkinan ditemukannya jenis makanan ini cukup kecil. Sementara tidak ditemukannya jenis makanan arthropoda diduga karena disekitar sungai Kampar Kiri di desa Mentulik tidak terdapat tumbuhtumbuhan yang secara alami bisa menyediakan tempat tinggal bagi arthropoda. Oleh sebab itu jenis makanan ini tidak ditemukan pada stasiun 1. Menurut warga setempat yang tinggal didesa Mentulik dalam sesi wawancara yaitu beberapa jenis ikan yang banyak ditemukan pada sungai tersebut adalah ikan lais, ikan baung (Mystus nemurus), ikan pantau (Rasbora sp), ikan kapiek (Puntius sp) dan ikan kelabau. Penjelasan tersebut sejalan dengan pernyataan Effendie (2002) yang mengemukakan bahwa kebiasaan makanan ikan secara alami tergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
7 Tabel 1. Jenis makanan yang ditemukan dalam lambung ikan K. apogon pada stasiun penelitian. No Kelompok makanan Jenis makanan 1 Ikan Puntius sp Ikan-ikan kecil utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 2 Ikan Rasbora sp Ikan utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 3 Ikan Mystus nemurus Anakan ikan yang masih dapat diidentifikasi 4 Ikan lais jenis lain Anakan ikan yang masih dapat diidentifikasi 5 Ikan Belontia hasselti Ikan kecil utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 6 Arthropoda Serangga dan potongan-potongan serangga 7 Udang Udang dan potongan-potongan udang 8 Debris hewan Sisa-sisa makanan berupa potongan hewan dan material yang tidak dapat diidentifikasi c. Nilai Index of Preponderance (Indeks Bagian Terbesar) Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Nilai index bagian terbesar atau Index of Preponderance (IP) digunakan untuk mengetahui jenis makanan terbanyak yang dijumpai pada lambung ikan. Dengan begitu dapat diduga jenis makanan utama, makanan pelengkap serta makanan tambahan pada ikan tersebut. Nilai Index of Preponderance (IP) ikan K. apogon dikedua stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Nilai persentase IP terbesar pada stasiun I desa Mentulik Kampar Kiri terdapat kelompok makanan debris hewan yaitu 97,37 %. Kemudian pada urutan kedua adalah kelompok makanan ikan lais jenis lain dengan nilai persentase sebesar 0,88 %. Urutan ketiga dan keempat adalah kelompok makanan Mystus nemurus dan Rasbora sp dengan persentase 0,82 % dan 0,59 %. Sementara untuk urutan kelima dan keenam memiliki nilai persentase terkecil yaitu sebesar 0,31 % dan 0,001 %. Berdasarkan hasil persentase IP tertinggi yang didapat, kelompok makanan debris hewan adalah makanan utama dari ikan K. apogon. Namun bukan berarti kelompok makanan debris hewan ini merupakan makanan utama yang sebenarnya. Besarnya nilai IP pada jenis makanan ini diduga karena saat dilakukan pengamatan analisis isi lambung, yang ditemukan jenis makanannya dalam keadaan tidak utuh dan sudah hancur sehingga sulit untuk diidentifikasi, jadi dikelompokkan ke dalam jenis makanan debris hewan. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
8 Puntius sp Puntius sp 97,37 % Rasbora sp Mystus nemurus Ikan lais lain Udang Debris hewan 89,63 % Rasbora sp Mystus nemurus Belontia hasselti Ikan lais lain Arthropoda Udang Debris hewan Gambar 1. Diagram lingkaran nilai Index of Preponderance makanan ikan K. apogon di Stasiun penelitian. (a) Nilai IP di stasiun I desa Mentulik sungai Kampar Kiri. (b) Nilai IP di stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung Kelompok makanan debris hewan pada stasiun II desa Kota Garo Tapung memiliki persentase terbesar yaitu sebesar 89,63 %. Kelompok makanan yang memiliki persentase IP terbesar kedua setelah debris hewan adalah ikan Puntius sp dengan nilai 8,36 %, sedangkan untuk kelompok makanan urutan ketiga adalah ikan lais jenis lain dengan persentase sebesar 1,28 %. Kemudian untuk kelompok makanan urutan keempat dan kelima adalah jenis makanan Mystus nemurus dan Rasbora sp dengan hasil persentase sebesar 0,41 % dan 0,24 %. Kelompok makanan urutan keenam dan ketujuh adalah arthropoda dan udang dengan nilai persentase 0,03 % dan 0,02 %. Selanjutnya, untuk kelompok makanan yang memiliki persentase IP terkecil adalah jenis makanan Belontia hasselti yaitu 0,006 %. d. Nilai Index of Preponderance (Indeks Bagian Terbesar) Berdasarkan Jenis Kelamin Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Hasil pengamatan jenis makanan ikan K. apogon berdasarkan jenis kelamin di kedua stasiun penelitian menunjukkan bahwa kelompok makanan debris hewan yang mendominasi. Nilai IP (Index of Preponderance) makanan ikan lais panjang lampung (K. apogon) jantan dan betina pada kedua stasiun dapat dilihat pada Gambar 2. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
9 a b 95,37 % 98,29 % c d 96,73 % 81,68 % Puntius sp Rasbora sp Mystus nemurus Belontia hasselti Ikan lais lain Arthropoda Udang Debris hewan Gambar 2. Diagram lingkaran nilai Index of Preponderance makanan ikan K. apogon dengan perbedaan jenis kelamin, (a) Jantan Desa Mentulik, (b) Betina Desa Mentulik, (c) Jantan Desa Kota Garo dan (d) Betina Desa Kota Garo. Berdasarkan nilai IP yang didapatkan, diketahui bahwa kelompok makanan debris hewan selalu menjadi peringkat pertama terbanyak dan terbesar yang dijumpai dalam lambung ikan K. apogon jantan dan betina di kedua stasiun penelitian. Kemudian urutan kelompok makanan terbesar kedua pada stasiun 1 untuk ikan jantan adalah Puntius sp dengan persentase IP sebesar 2,35 % dan untuk ikan betina yaitu kelompok makanan ikan lais jenis lain dengan nilai persentase sebesar energi sehingga lebih banyak makan dengan volume yang lebih besar daripada ikan jantan untuk persiapan 0,74 %. Sementara kelompok makanan terbesar urutan kedua untuk ikan jantan dan betina pada stasiun II sama yaitu jenis makanan Puntius sp dengan hasil persentase IP sebesar 2,44 % dan 14, 84 %. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa jenis makanan yang dimakan ikan jantan dan betina dari kedua stasiun ada yang sama dan ada yang tidak. Hal itu diduga karena adanya perbedaan dalam kebutuhan energi pada ikan jantan dan betina. Ikan betina biasanya lebih banyak membutuhkan dalam proses pemijahan. Akan tetapi, karena jenis makanan yang dimakan ikan betina maupun jantan lebih banyak JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
10 yang hancur maka sulit untuk membuktikan jenis makanan yang paling disukai. Menurut Welcomme (1979), setiap ikan memiliki pola kebiasaan atau tingkah laku yang berbeda untuk mempertahankan hidupnya. Pola tingkah laku ikan K. apogon yaitu selalu memakan dan menelan mangsa yang secara utuh tanpa harus mencabiknya dahulu. e. Rasio Panjang Usus Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Hasil pengukuran panjang usus ikan K. apogon terhadap panjang total tubuhnya menunjukkan bahwa ikan sampel memang merupakan ikan karnivora. Selama 6 bulan penelitian ukuran rasio panjang ususnya yang tidak pernah melebihi panjang total tubuh dan makanan yang dimakannya berupa ikan-ikan atau hewan lain yang lebih kecil dari tubuhnya. Oleh karena itu dalam proses pencernaannya tidak membutuhkan waktu yang lama seperti ikan herbivora sehingga ususnya berukuran lebih pendek. Hal ini berbeda dengan ikan buntal pisang di daerah estuarin perairan sungai Ibu Mandah yang beradaptasi terhadap lingkungan perairan disekitarnya. Ikan ini beradaptasi sesuai dengan jenis makanan yang tersedia disana sehingga yang awalnya merupakan ikan karnivora menjadi ikan omnivora, yang ditandai dengan penambahan terhadap panjang ususnya (Yusfiati, 2006). Nikolsky (1963) menyatakan bahwa panjang usus relatif untuk ikan karnivora < 1, untuk ikan omnivora antara 1 3, sedangkan untuk ikan herbivora > 3. Menurut Kramer dan Bryant (1995), kisaran panjang usus untuk ikan karnivora adalah 0,5-2,4 kali panjang tubuhnya, ikan omnivora 0,8-5 kali panjang tubuhnya, dan ikan herbivora memiliki panjang usus antara 2-21 kali panjang tubuhnya. Umumnya ikan karnivora memiliki gigi yang runcing, usus yang relatif pendek, memakan daging atau hewan, dinding ususnya tebal dan tapis insang yang tidak rapat. KESIMPULAN Jenis makanan ikan K. apogon yang teridentifikasi pada kedua stasiun selama penelitian ada 8 yaitu Puntius sp, Rasbora sp, Mystus nemurus, ikan lais jenis lain, Belontia hasselti, arthropoda, udang dan debris hewan. Hasil persentase IP terbesar pada ikan K. apogon berdasarkan jenis makanan yang diperoleh perstasiun dan jenis kelamin didominasi oleh kelompok makanan debris hewan karena proses pencernaan di dalam lambungnya sudah mulai berjalan. Rasio panjang usus ikan K. apogon tidak pernah melebihi panjang tubuhnya dan termasuk ke dalam kelompok ikan karnivora. DAFTAR PUSTAKA Effendie, M. I Biologi Perikanan. Yogyakarta. Yayasan Pustaka Nusantara. Elvyra, R dan Yus, Y Ikan Lais Dan Sungai Paparan Banjir Di Provinsi Riau. Pekanbaru. UR Press Pekanbaru. Kottelat, M., Whitten, A. J., Kartikasari, S. N. and Wirdjoatmodjo, S Freshwater fishes of JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
11 western Indonesia and Sulawesi. Jakarta. Periplus edition (HK) in collaboration with the environment Rep. of Indonesia. Kramer, DL. and MJ. Bryant Intestine lenght in the fishes of a tropical stream : 1. Ontogenetic allometry, 2. relation to diet the long and short of a convoluted issue. Environ. Bioi. Fish 42: Mudjiman A Makanan ikan. Jakarta. Penebar Swadaya. Nikolsky, G.V The Ecology of Fishes. New York. Academic Press. Saputa, I.I Analisis Isi Lambung Ikan Selais Danau (Ompok hypophthalmus, Bleeker 1846) Di Sungai Tapung Hilir Provinsi Riau. Pekanbaru. FMIPA Universitas Riau. Sudirman dan A, Iwan Mina Padi : Budidaya Ikan Bersama Padi. Jakarta. Penebar Swadaya. Welcome R.L Fisheries ecology of floodplain rivers. London. Longman Group Limited. Welcomme, R.L Inland Fisheries, ecology and managenent. Iowa USA. Blackwell Science Company. Yuliani W Kebiasaan makanan ikan tilan (Mastacembelus erythrotaenia, Bleeker 1850) di Sungai Musi, Sumatera Selatan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Yusfiati Anatomi Saluran Pencernaan Ikan Buntal Pisang (Tetraodon lunaris). Bogor. Tesis IPB. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN HIDUNG BUDAK Ceratoglanis scleronema (Bleeker 1862) DI DESA MENTULIK SUNGAI KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN HIDUNG BUDAK Ceratoglanis scleronema (Bleeker 1862) DI DESA MENTULIK SUNGAI KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU Christina Elisabeth 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Program S1 Biologi
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SELAIS DANAU (Ompok hypophthalmus, Bleeker 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SELAIS DANAU (Ompok hypophthalmus, Bleeker 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU I.I. Saputra 1, R. Elvyra 2, Yusfiati 2 [email protected]. 1 Mahasiswa Program Studi
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENGARAT (Belodontichthys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG PROVINSI RIAU. Devika Aprilyn 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENGARAT (Belodontichthys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG PROVINSI RIAU Devika Aprilyn 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Biologi 2 Dosen Zoologi
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN TAPAH (Wallago leeri) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK DAN SUNGAI KANDIS DESA KARYA INDAH KECAMATAN TAPUNG
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN TAPAH (Wallago leeri) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK DAN SUNGAI KANDIS DESA KARYA INDAH KECAMATAN TAPUNG S.K. Sari 1, R. Elvyra 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Biologi FMIPA-UR
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK KECAMATAN RUMBAI PESISIR PROVINSI RIAU
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK KECAMATAN RUMBAI PESISIR PROVINSI RIAU I.M. Sinaga 1, Titrawani 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA-UR 2 Dosen
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Suaka Margasatwa Muara Angke yang di
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di Suaka Margasatwa Muara Angke yang di tumbuhi mangrove pada bulan Februari 2013. Analisis organ pencernaan
METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Pengambilan Data
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2011-April 2012 yang meliputi survei, pengambilan data dan analisis di laboratorium. Pengambilan data dilakukan pada
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENANGIN (Eleutheronema tetradactylum Shaw) DI PERAIRAN DUMAI
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENANGIN (Eleutheronema tetradactylum Shaw) DI PERAIRAN DUMAI Titrawani 1*, Roza Elvyra 1 dan Ririk Ulfitri Sawalia 2 1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
15 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Organ Pencernaan Ikan Kuniran Ikan kuniran merupakan salah satu jenis ikan demersal. Ikan kuniran juga merupakan ikan karnivora. Ikan kuniran memiliki sungut pada bagian
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari April hingga September
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari April hingga September 2013. Pengambilan sampel dilakukan di sepanjang Way Tulang Bawang dengan 4 titik
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SENGARAT (Belodontichtys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU ABSTRACT
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SENGARAT (Belodontichtys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU Yustiny Andaliza Hasibuan 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Biologi 2 Dosen
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 4(1) :22-26 (2016) ISSN :
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 4(1) :22-26 (2016) ISSN : 2303-2960 PENDUGAAN UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD IKAN SENGGARINGAN (Mystus negriceps) DI SUNGAI KLAWING, PURBALINGGA JAWA TENGAH Benny Heltonika
3. METODE PENELITIAN
3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PPI Muara Angke, Jakarta Utara dari bulan Januaribulan Maret 2010. Analisis aspek reproduksi dilakukan di Fakultas Perikanan
ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL HIJAU (Tetraodon nigroviridis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS
ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL HIJAU (Tetraodon nigroviridis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS Ade Suryani¹, Yusfiati², Roza Elvyra² ¹Mahasiswa Program Studi S1 Biologi
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN HIDUNG BUDAK (Ceratoglanis scleronema Bleeker, 1862) DI SUNGAI MENTULIK, KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN HIDUNG BUDAK (Ceratoglanis scleronema Bleeker, 1862) DI SUNGAI MENTULIK, KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU Sri Damayanti Pasaribu¹, Roza Elvyra², Yusfiati² ¹Mahasiswa Program Studi
3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan
12 digital dengan sensifitas 0,0001 gram digunakan untuk menimbang bobot total dan berat gonad ikan, kantong plastik digunakan untuk membungkus ikan yang telah ditangkap dan dimasukan kedalam cool box,
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2013 di Sungai
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2013 di Sungai Tulang Bawang. Pengambilan sampel dilakukan satu kali dalam satu bulan, dan dilakukan
ASPEK REPRODUKSI IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU
ASPEK REPRODUKSI IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU Melly Hayana 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Biologi 2 Dosen Zoologi
3 METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan lokasi
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan lokasi Penelitian makanan dan reproduksi ikan tilan dilakukan selama tujuh bulan yang dimulai dari bulan Desember 2007- Juli 2008. Sampling dan observasi lapangan dilakukan
III. METODOLOGI. Bawang, Provinsi Lampung selama 6 bulan dimulai dari bulan April 2013 hingga
III. METODOLOGI A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di perairan Way Tulang Bawang, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung selama 6 bulan dimulai dari bulan April 2013 hingga September 2013.
3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi Penelitian
3 METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan selama empat bulan dari Oktober 2011 hingga Januari 2012 di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat (Gambar 3). Pengambilan
Stomach Content Analysis of Mystacoleucus padangensis in Waters Naborsahan River and Toba Lake, Tobasa Regency, North Sumatra Province.
1 Stomach Content Analysis of Mystacoleucus padangensis in Waters Naborsahan River and Toba Lake, Tobasa Regency, North Sumatra Province By : Wahyu Budiharti 1) ; Chaidir P Pulungan 2) ; Ridwan Manda Putra
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Prosedur Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Oktober 2008. Pengambilan sampel dilakukan di sungai Klawing Kebupaten Purbalingga Jawa Tengah (Lampiran 1). Analisis
PENGAMATAN FEKUNDITAS IKAN MOTAN (Thynnichthys polylepis) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DARI WADUK KOTO PANJANG, PROVINSI RIAU
PENGAMATAN FEKUNDITAS IKAN MOTAN (Thynnichthys polylepis) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DARI WADUK KOTO PANJANG, PROVINSI RIAU Burnawi Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Mariana-Palembang
Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian Sumber Dinas Hidro-Oseanografi (2004)
12 3. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini merupakan program penelitian terpadu bagian Manajemen Sumberdaya Perikanan yang dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Oktober
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014. Pengambilan sampel dilakukan di Rawa Bawang Latak, Desa Ujung
Indeks Gonad Somatik Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr.) Yang Masuk Ke Muara Sungai Sekitar Danau Singkarak
Indeks Gonad Somatik Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr.) Yang Masuk Ke Muara Sungai Sekitar Danau Singkarak ENDRI JUNAIDI, ENGGAR PATRIONO, FIFI SASTRA Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Sriwijaya,
KEPADATAN POPULASI IKAN JURUNG (Tor sp.) DI SUNGAI BAHOROK KABUPATEN LANGKAT
KEPADATAN POPULASI IKAN JURUNG (Tor sp.) DI SUNGAI BAHOROK KABUPATEN LANGKAT Hesti Wahyuningsih Abstract A study on the population density of fish of Jurung (Tor sp.) at Bahorok River in Langkat, North
3. METODE PENELITIAN. Gambar 3. Peta daerah penangkapan ikan kuniran di perairan Selat Sunda Sumber: Peta Hidro Oseanografi (2004)
12 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-September 2011 dengan waktu pengambilan contoh setiap satu bulan sekali. Lokasi pengambilan ikan contoh
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2006, Agustus 2006 Januari 2007 dan Juli 2007 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dengan sumber air berasal dari
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) VII (1): ISSN:
121 Full Paper KEBIASAAN MAKAN DAN MUSIM PEMIJAHAN IKAN LAIS (Criptopterus sp.) DI SUAKA PERIKANAN SUNGAI SAMBUJUR, KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN FEEDING HABIT AND SPAWNING SEASON OF LAIS
KEBIASAAN MAKAN DAN HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN GULAMO KEKEN (Johnius belangerii) DI ESTUARI SUNGAI MUSI
KEBIASAAN MAKAN DAN HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN GULAMO KEKEN (Johnius belangerii) DI ESTUARI SUNGAI MUSI ABSTRAK Eko Prianto dan Ni Komang Suryati Peneliti pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum, MarianaPalembang
3. METODE PENELITIAN
10 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian adalah di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Ikan yang didaratkan di PPP Labuan ini umumnya berasal
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan dimulai dari bulan Agustus 2011
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan dimulai dari bulan Agustus 2011 hingga April 2012. Pengambilan sampel dilakukan di Rawa Bawang Juyeuw, DAS Tulang
Fudoh Nurhidayah, Moh. Mustakim dan S. Alexander Samson
STUDI KEBIASAAN MAKANAN IKAN BELIDA (Notopterus notopterus) DI PERAIRAN MAHAKAM TENGAH (DANAU SEMAYANG DAN DANAU MELINTANG) KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA (Food Habits of Belida (Notopterus notopterus) in
ASPEK REPRODUKSI IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V) Di SUNGAI TALANG KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM
ASPEK REPRODUKSI IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V) Di SUNGAI TALANG KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM Oleh : Rido Eka Putra 0910016111008 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma)
11 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Ikan contoh diambil dari TPI Kalibaru mulai dari bulan Agustus sampai dengan bulan November 2010 yang merupakan hasil tangkapan nelayan Teluk Jakarta
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia ABSTRACT
TEKNIK ISOLASI DAN ELEKTROFORESIS DNA TOTAL PADA Kryptopterus apogon (Bleeker 1851) DARI SUNGAI KAMPAR KIRI DAN TAPUNG HILIR KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU Dede Aryani Novitasari 1,Roza Elvyra 2, Dewi
STUDI MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN BUJUK (Channa lucius CV) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI TAPUNG KIRI, KAMPAR RIAU
STUDI MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN BUJUK (Channa lucius CV) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI TAPUNG KIRI, KAMPAR RIAU A study of food types and feeding habit of Channa lucius CV in the flood plane areas of
3. METODE PENELITIAN
11 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu pengambilan contoh ikan dan analisis kebiasaan makanan. Pengambilan contoh dilakukan selama enam bulan
TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan Baung menurut Kottelat dkk.,(1993) adalah sebagai. Nama Sinonim :Hemibagrus nemurus, Macrones nemurus
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologis Ikan Baung berikut: Klasifikasi ikan Baung menurut Kottelat dkk.,(1993) adalah sebagai Kingdom Filum Kelas Sub kelas Ordo Sub ordo Family Genus Spesies : Animalia
3. METODE PENELITIAN
9 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Ikan contoh diambil dari TPI Kali Baru mulai dari bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan November 2010 yang merupakan hasil tangkapan nelayan di
II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842)
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Palau Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Octinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Osteochilus Spesies : Osteochilus vittatus
LIRENTA MASARI BR HALOHO C SKRIPSI
KEBIASAAN MAKANAN IKAN BETOK (Anabas testudineus) DI DAERAH RAWA BANJIRAN SUNGAI MAHAKAM, KEC. KOTA BANGUN, KAB. KUTAI KERTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR LIRENTA MASARI BR HALOHO C24104034 SKRIPSI DEPARTEMEN
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Lais (Ompok hypopthalmus) yang Tertangkap di Rawa Banjiran Sungai Rungan Kalimantan Tengah
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Lais (Ompok hypopthalmus) yang Tertangkap di Rawa Banjiran Sungai Rungan Kalimantan Tengah Gonad Maturity Level of Catfish Ompok hypopthalmus Caught in A Flooding Swamp Area
Keragaman ikan di Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan
Keragaman ikan di Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan Jifi Abu Ammar, Muhammad Mukhlis Kamal, Sulistiono Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat
3. METODE PENELITIAN
14 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada di perairan berlumpur Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan intensitas penangkapan
3. METODE PENELITIAN
13 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di perairan Cirebon yang merupakan wilayah penangkapan kerang darah. Lokasi pengambilan contoh dilakukan pada dua lokasi yang
3. METODE PENELITIAN
16 3. METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Pola reproduksi ikan swanggi (Priacanthus tayenus) pada penelitian ini adalah tinjauan mengenai sebagian aspek reproduksi yaitu pendugaan ukuran pertama
PRESENTASE JENIS MAKANAN DALAM LAMBUNG IKAN LAIS (Ompok hypopthalmus) DI RAWA SUNGAI RUNGAN, KOTA PALANGKA RAYA
1 PRESENTASE JENIS MAKANAN DALAM LAMBUNG IKAN LAIS (Ompok hypopthalmus) DI RAWA SUNGAI RUNGAN, KOTA PALANGKA RAYA (Feed Type Percentage In The Stomach of Fish Lais (Ompok hypophthalmus) In Rungan Swamp
MORFOMETRI DAN KOMPOSISI ISI LAMBUNG IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) YANG DIDARATKAN DI PANTAI PRIGI JAWA TIMUR
MORFOMETRI DAN KOMPOSISI ISI LAMBUNG IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) YANG DIDARATKAN DI PANTAI PRIGI JAWA TIMUR Adina Feti Nuraini *), Adi Santoso, Sri Redjeki Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas
2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi
4 2.2. Morfologi Ikan Tambakan (H. temminckii) Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri
JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman Online di :
JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman 73-80 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/maquares ASPEK REPRODUKSI IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN
EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN Silka Tria Rezeki 1), Irwandy Syofyan 2), Isnaniah 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa
JENIS - JENIS IKAN SELAIS (Pisces: Siluridae) DI SUNGAI KUMU KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU
JENIS - JENIS IKAN SELAIS (Pisces: Siluridae) DI SUNGAI KUMU KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU Devi Nurusdianita Sari *), Arief Anthonius Purnama 1), Filza Yulina Ade 2) 1&2) Program Studi Pendidikan
2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T
No.714, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN KP. Larangan. Pengeluaran. Ikan. Ke Luar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/PERMEN-KP/2014 TENTANG LARANGAN
KEBIASAAN MAKANAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) di Sungai Bingai Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara
KEBIASAAN MAKANAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) di Sungai Bingai Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara Food Habit of Baung Fish (Mystus nemurus C.V) in Bingai River Binjai City, North Sumatera Province
Kajian Aspek Reproduksi Ikan Lais Ompok hypophthalmus di Sungai Kampar, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau
Jurnal Natur Indonesia 12(2), April 2010: 117-123 ISSN 1410-9379, Keputusan Akreditasi No 65a/DIKTI/Kep./2008 Reproduksi Ompok hypophthalmus 117 Kajian Aspek Reproduksi Ikan Lais Ompok hypophthalmus di
KEANEKARAGAMAN IKAN SUNGAI LAHEI BERDASARKAN ALAT TANGKAP IKAN OLEH MASYARAKAT DESA LAHEI KABUPATEN BARITO UTARA
Jurnal Pendidikan Hayati ISSN : 2443-3608 Vol.3 No.1 (2017) : 7-11 KEANEKARAGAMAN IKAN SUNGAI LAHEI BERDASARKAN ALAT TANGKAP IKAN OLEH MASYARAKAT DESA LAHEI KABUPATEN BARITO UTARA Mada Ellyana 1, Bayu
- Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh. spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai
12 - Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh Kryptopterus spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai Indragiri dianalisis secara multivariat dengan
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LEMEDUK (Barbodes schwanenfeldii) DI SUNGAI BELUMAI KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA
ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LEMEDUK (Barbodes schwanenfeldii) DI SUNGAI BELUMAI KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA The Aspects of Reproductive Biology of Lemeduk Fish (Barbodes schwanenfeldii)
MORFOMETRIK IKAN SELAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI SUNGAI KAMPAR KIRI DAN SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU
MORFOMETRIK IKAN SELAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI SUNGAI KAMPAR KIRI DAN SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU Fitriyani Mariska, Yusfiati, Roza Elvyra Mahasiswa Program Studi S Biologi Dosen Bidang
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG DAN SUNGAI SIAK
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG DAN SUNGAI SIAK 1 Riri Anggraini Putri, 2 Roza Elvyra, 2 Yusfiati 1 Mahasiswa Program S1 Biologi
ANALISIS ISI USUS IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) PADA PERAIRAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA
ANALISIS ISI USUS IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) PADA PERAIRAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA Gut Contents Analysis of Tembang Fish (Sardinella fimbriata) at Labu Beach Waterway
BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2014.
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2014. Pengambilan sampel ikan wader dilakukan di 5 Kecamatan yang ada di Kabupaten
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Pesisir Teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis bujur 106⁰33 00 BT hingga 107⁰03 00 BT dan garis lintang 5⁰48
STUDI ASPEK REPRODUKSI IKAN BAUNG (Mystus nemurus Cuvier Valenciennes) DI SUNGAI BINGAI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA
1 STUDI ASPEK REPRODUKSI IKAN BAUNG (Mystus nemurus Cuvier Valenciennes) DI SUNGAI BINGAI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA The Studied of Fish Reproduction Baung (Mystus nemurus Cuvier Valenciennes)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan sebuah teluk di perairan Laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Terletak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai dingin dan
ANALISIS KELEMBAGAAN PEMASARAN DAN MARGIN TATANIAGA HASIL PERIKANAN TANGKAP DIDESA BULUH CINA KECAMATAN SIAK HULU KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU By
ANALISIS KELEMBAGAAN PEMASARAN DAN MARGIN TATANIAGA HASIL PERIKANAN TANGKAP DIDESA BULUH CINA KECAMATAN SIAK HULU KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU By Dani Ramizan 1) Eni Yulinda 2) Lamun Bathara 3) ABSTRAC
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir memiliki lebar maksimal 20 meter dan kedalaman maksimal 10 meter.
Keywords: Kampar rivers, Ompok sp, relative growth, Siak rivers
Jurnal Peran PERTUMBUHAN RELATIF IKAN SELAIS (Ompok sp) YANG TERTANGKAP DI SUNGAI KAMPAR DAN SUNGAI SIAK, RIAU Ridwan Manda Putra 1), Windarti 1) dan Yanti 1) 1) Fakultas Peran dan Ilmu Kelautan Universitas
MATERI DAN METODE PENELITIAN
8 II. MATERI DAN METODE PENELITIAN 1. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian 1.1. Materi Penelitian 1.1.1. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan betutu yang tertangkap, sampel
ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL MAS (Tetraodon fluviatilis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS, RIAU
ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL MAS (Tetraodon fluviatilis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS, RIAU Nining Puji Lestari¹, Yusfiati², Roza Elvyra² ¹Mahasiswa Program S1 Biologi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai merupakan suatu perairan yang airnya berasal dari air tanah dan air hujan, yang mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran tersebut dapat
METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013
18 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014 agar dapat mengetahui pola pemijahan. Pengambilan sampel dilakukan
I. PENDAHULUAN. tengah dan selatan wilayah Tulang Bawang Provinsi Lampung (BPS Kabupaten
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Way Tulang Bawang merupakan salah satu sungai yang mengalir dari bagian tengah dan selatan wilayah Tulang Bawang Provinsi Lampung (BPS Kabupaten Tulang Bawang, 2010). Sungai
Gambar 3. Karakter morfometrik dan meristik Kryptopterus spp. yang diukur
6 memiliki jari-jari bercabang, jumlah jari-jari sirip ini ditentukan sebanyak jumlah jari-jari bercabang ditambah dua. Sedangkan pada sirip punggung ditentukan sebanyak jumlah jari-jari bercabang ditambah
STUDI KOMPOSISI MAKANAN IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) DI RAWA TERGENANG DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK HADI SYAHPUTRA
STUDI KOMPOSISI MAKANAN IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) DI RAWA TERGENANG DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK HADI SYAHPUTRA 090302006 PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
STRUKTUR INSANG IKAN Ompok hypophthalmus (Bleeker 1846) DARI PERAIRAN SUNGAI SIAK KOTA PEKANBARU
STRUKTUR INSANG IKAN Ompok hypophthalmus (Bleeker 1846) DARI PERAIRAN SUNGAI SIAK KOTA PEKANBARU Dwi Indrayani, Yusfiati, Roza Elvyra Mahasiswa Program S1 Biologi FMIPA-UR Bidang Zoologi Jurusan Biologi
ANALISIS HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN HIMMEN (Glossogobius sp) DI DANAU SENTANI KABUPATEN JAYAPURA ABSTRAK
ANALISIS HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN HIMMEN (Glossogobius sp) DI DANAU SENTANI KABUPATEN JAYAPURA Annita Sari 1 1 Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan Uniyap ABSTRAK Ikan
SIKLUS REPRODUKSI TAHUNAN IKAN RINGAN, TIGER FISH (Datnioides quadrifasciatus) DI LINGKUNGAN BUDIDAYA AKUARIUM DAN BAK
417 Siklus reproduksi tahunan ikan ringan... (Lili Solichah) SIKLUS REPRODUKSI TAHUNAN IKAN RINGAN, TIGER FISH (Datnioides quadrifasciatus) DI LINGKUNGAN BUDIDAYA AKUARIUM DAN BAK ABSTRAK Lili Solichah,
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG SS Oleh: Ennike Gusti Rahmi 1), Ramadhan Sumarmin 2), Armein Lusi
KAJIAN ISI LAMBUNG DAN PERTUMBUHAN IKAN LAIS (Cryptopterus lais) DI WAY KIRI, TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG ABSTRAK
e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume V No 1 Oktober 2016 ISSN: 2302-3600 KAJIAN ISI LAMBUNG DAN PERTUMBUHAN IKAN LAIS (Cryptopterus lais) DI WAY KIRI, TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG Putri
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Kebiasaaan Jenis Makanan Index Stomach Content (ISC) Hasil perhitungan indek kepenuhan isi lambung (ISC) per-tkg dapat dilihat pada Gambar 3, untuk nilai ISC dapat dilihat pada
POLA PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN KUNIRAN Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) DI PERAIRAN LAMPUNG ABSTRAK
e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume V No 1 Oktober 2016 ISSN: 2302-3600 POLA PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN KUNIRAN Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) DI PERAIRAN LAMPUNG Puji Lestari
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi
3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis 2.1.1. Klasifikasi Menurut klasifikasi Bleeker, sistematika ikan selanget (Gambar 1) adalah sebagai berikut (www.aseanbiodiversity.org) :
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tembakang Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy, hidup pada habitat danau atau sungai dan lebih menyukai air yang bergerak lambat dengan vegetasi
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
12 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jumlah dan Sebaran Panjang Ikan Kuro Jumlah ikan kuro yang tertangkap selama penelitian berjumlah 147 ekor. Kisaran panjang dan bobot ikan yang tertangkap adalah 142-254 mm
PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN
PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN Hadiah Witarani Puspa 1), T. Ersti Yulika Sari 2), Irwandy Syofyan 2) Email : [email protected]
Beberapa contoh air, plankton, makrozoobentos, substrat, tanaman air dan ikan yang perlu dianalisis dibawa ke laboratorium untuk dianalisis Dari
RINGKASAN SUWARNI. 94233. HUBUNGAN KELOMPOK UKURAN PANJANG IKAN BELOSOH (Glossogobircs giuris) DENGAN KARASTERISTIK HABITAT DI DANAU TEMPE, KABUPATEN WAJO, SULAWESI SELATAN. Di bawah bimbingan Dr. Ir.
3. METODE PENELITIAN
21 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Situ IPB yang terletak di dalam Kampus IPB Dramaga, Bogor. Situ IPB secara geografis terletak pada koordinat 106 0 34-106 0 44 BT dan
KAJIAN MAKANAN DAN KAITANNYA DENGAN REPRODUKSI IKAN SENGGARINGAN (Mystus nigriceps) DI SUNGAI KLAWING PURBALINGGA JAWA TENGAH BENNY HELTONIKA
KAJIAN MAKANAN DAN KAITANNYA DENGAN REPRODUKSI IKAN SENGGARINGAN (Mystus nigriceps) DI SUNGAI KLAWING PURBALINGGA JAWA TENGAH BENNY HELTONIKA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN
Naskah Publikasi TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN WADER. (Rasbora argyrotaenia) DI SEKITAR MATA AIR PONGGOK KLATEN JAWA TENGAH
Naskah Publikasi TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN WADER (Rasbora argyrotaenia) DI SEKITAR MATA AIR PONGGOK KLATEN JAWA TENGAH SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sains
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Alami Ikan Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Fungsi utama
METODE. Waktu dan Tempat Penelitian
17 METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Suaka Margasatwa Muara Angke, Penjaringan Jakarta Utara, pada bulan Februari 2012 sampai April 2012. Stasiun pengambilan contoh ikan merupakan
