BAB VI PERENCANAAN IPAL KOMUNAL

dokumen-dokumen yang mirip
Perencanaan Peningkatan Pelayanan Sanitasi di Kelurahan Pegirian Surabaya

Tugas Akhir RE

Perencanaan SPAL dan IPAL Komunal di Kabupaten Ngawi (Studi Kasus Perumahan Karangtengah Prandon, Perumahan Karangasri dan Kelurahan Karangtengah)

Perencanaan SPAL dan IPAL Komunal di Kabupaten Ngawi (Studi Kasus Perumahan Karangtengah Prandon, Perumahan Karangasri dan Kelurahan Karangtengah)

PERENCANAAN ULANG SISTEM PLAMBING DAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN DI MX MALL KOTA MALANG

TL-3230 SEWERAGE & DRAINAGE. Small Bore Sewer (Sistem Riol Ukuran Kecil)

Evaluasi Sistem Plambing dan Perencanaan Pengolahan Air Buangan Serta Perencanaan Sistem Pewadahan dan Pengumpulan Sampah Rumah Susun Urip Sumoharjo

DESAIN IPAL KOMUNAL UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN SANITASI DI DESA LUENGBARO, KABUPATEN NAGAN RAYA, ACEH

BAB III METODE PERENCANAAN

Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan II e-issn Padang, 19 Oktober 2016

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya

BAB 9 BOQ DAN RAB 9.1 BOQ SPAL

Seminar Tugas Akhir. Mahasiswa: Monica Dewi Dosen Pembimbing: Ir. Eddy S. Soedjono, Dipl.SE., MSc., PhD. JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN (JTL)

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik di Kecamatan Simokerto Kota Surabaya

Perencanaan Sistem Penyaluran dan Pengolahan Air Limbah Domestik Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik di Kecamatan Simokerto Kota Surabaya

PERENCANAAN DESAIN TANGKI SEPTIK KOMUNAL DI KAMPUNG CIHIRIS, DESA CISARUA KECAMATAN NANGGUNG, BOGOR

TL-3230 SEWERAGE & DRAINAGE. DETAIL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH SISTEM SETEMPAT (On site system 1)

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i. DAFTAR SINGKATAN... iii

DISUSUN OLEH TIKA INDRIANI ( ) DOSEN PEMBIMBING WELLY HERUMURTI, ST, MSc.

Pengelolaan Air Limbah Domestik

TATA CARA PERENCANAAN TANGKI SEPTIK DENGAN SISTEM RESAPAN

BUKU 1 PEDOMAN PERENCANAAN TEKNIS

PENDAHULUAN. Limbah domestik merupakan jumlah pencemar terbesar yang masuk ke perairan

Seluruh masyarakat Kota Tebing Tinggi. Hasil yang diharapkan 1 unit IPLT dibangun dan dapat beroperasi mulai tahun 2018 Rincian Kegiatan

EVALUASI SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH SKALA KOMUNITAS DI KELURAHAN TEMAS, KECAMATAN BATU, KOTA BATU

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM

KONSEP PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DOMESTIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI EKSPERIMENTAL PENGGUNAAN BETON RECYCLE SEBAGAI AGREGAT KASAR PADA BETON TERHADAP KUAT TARIK BELAH. DENGAN MUTU RENCANA f c = 25 MPa

BAB IV KONDISI MASYARAKAT SEKITAR IPAL KOMUNAL SENGKAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Instalasi air Bersih

GORONG-GORONG Anita Winarni Dwi Ratna Komala Novita Priatiningsih

Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter

jiwa/km2 dan jumlah KK sebanyak KK. Jogjakarta yang memiliki jaringan

Suatu kriteria yang dipakai Perancang sebagai pedoman untuk merancang

PERENCANAAN SISTEM PLAMBING PADA KERETA API SANCAKA SERTA STASIUN SURABAYA (GUBENG SEMUT)

KLASIFIKASI SISTEM PEMBUANGAN

Perancangan Saluran Berdasarkan Konsep Aliran Seragam

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Rumah Susun Tanah Merah Surabaya

Perencanaan Anaerobic Baffled Reactor (ABR) Sebagai Instalasi Pengolahan Greywater di Kecamatan Rungkut Kota Surabaya

BAB IV DASAR PERENCANAAN

Evaluasi Dimensi Saluran Air Buangan Komunal Kampung Tegal Kawung RT 5 RW 8 Cipageran Kota Cimahi

STUDI SISTEM PENYALURAN AIR BUANGAN DI KECAMATAN BATU STUDY OF SEWERAGE SYSTEM IN BATU DISCTRICT

BAB III. METODE PENELITIAN. A. Pembuatan Alat Modifikasi Permeabilitas Lapangan Untuk Aplikasi di

Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Petunjuk Operasional IPAL Domestik PT. UCC BAB 5 SPESIFIKASI BANGUNAN IPAL DAN PERALATAN

STUDI PERMASALAHAN DRAINASE DAN SOLUSI AIR GENANGAN (BANJIR) DI JALAN KEMANG MANIS. Ahmad Syapawi

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Bagan Alir Rencana Penelitian

PERENCANAAN SISTIM PERPIPAAN AIR LIMBAH KAWASAN PEMUKIMAN PENDUDUK

Analisis Perencanaan dan Pengembangan Jaringan Distribusi Air Bersih di PDAM Tulungagung

Perencanaan Anaerobic Baffled Reactor (ABR) Sebagai Instalasi Pengolahan Greywater di Kecamatan Rungkut Kota Surabaya

BAB I PENDAHULUAN. Sewon untuk diolah agar memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan sebelum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

Perencanaan Sistem Penyaluran Air Limbah (SPAL) di Perumahan Mutiara Permai Kota Pekanabru

TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM

PERENCANAAN PENGOLAHAN LIMBAH DOMESTIK MENGGUNAKAN METODE ANAEROBIC BAFFLED REACTOR (STUDI KASUS: PERUMAHAN ROYAL SUMATRA, MEDAN)

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum Setiap manusia akan menimbulkan buangan baik cairan, padatan maupun

9. Dari gambar berikut, turunkan suatu rumus yang dikenal dengan rumus Darcy.

Deskripsi Program/ Kegiatan Sanitasi. Dinas PU Kabupaten Tapanuli Tengah

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PERENCANAAN IPLT SISTEM KOLAM

EVALUASI OPERASIONAL JARINGAN PIPA AIR LIMBAH KAWASAN SANUR, BALI

BAB VI KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK. hingga akhir pelaksanaan pekerjaan. Laporan ini berguna untuk mengetahui

BAB VIII RENCANA ANGGARAN BIAYA

TUGAS AKHIR. Disusun oleh : ARIF SETIAWAN NIM I PROGRAM STUDI DIII TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

58. Pada tail race masih terdapat kecelakaan air 1m/det serta besarnya K = 0,1. Hitung : 1) Hidrolik Losses!

STUDI EKSPERIMENTAL PENGGANTIAN SEBAGIAN AGREGAT KASAR MENGGUNAKAN PECAHAN KERAMIK PADA BETON

Evaluasi Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) di Kabupaten Kediri

#% $ #% &# ' # (#&!"# '!") $## *! % +#&!"# $ %!&!!&!'!! " (!) "

JENIS DAN KOMPONEN SPALD

BAB III RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN SANITASI

MASTERPLAN AIR LIMBAH KAWASAN BUKIT SEMARANG BARU (BSB) KOTA SEMARANG

Mekanika Fluida II. Tipe Saluran Terbuka Penampang Hidrolis Terbaik

-1- KETENTUAN TEKNIS SPAM BJP

PENGAWASAN BAB I PEMANTAUAN DAN EVALUASI SPALD

BAB IV OLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DAN DRAINASE

SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DAN DRAINASE

KAJIAN ULANG PERENCANAAN PIPA PESAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) WONOGIRI

Bab III HIDROLIKA. Sub Kompetensi. Memberikan pengetahuan tentang hubungan analisis hidrolika dalam perencanaan drainase

MODEL SAMBUNGAN DINDING PANEL DENGAN AGREGAT PECAHAN GENTENG

BAB VII PERHITUNGAN RINCI PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH UTAMA KOTA NIAMEY

Sambungan Persil. Sambungan persil adalah sambungan saluran air hujan dari rumah-rumah ke saluran air hujan yang berada di tepi jalan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

SISTEM SANITASI DAN DRAINASI

PROFIL IPAL KOTA BANDA ACEH

KLASIFIKASI SISTEM PEMBUANGAN. Klasifikasi berdasarkan jenis air buangan:

Kata Kunci: Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja, RAB, Dimensi Hidrolis, Dimensi Struktur TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PERENCANAAN SISTEM PERPIPAAN AIR LIMBAH DENGAN METODE SELF CLEANSING DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

BAB VI PERENCANAAN TEKNIS

PEMANFAATAN DRUM PLASTIK BEKAS SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN SEPTIC TANK

Perancangan Ulang Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik dengan Proses Anaerobic Baffled Reactor dan Anaerobic Filter

1. INSTALASI SISTEM SANITASI DAN PLAMBING BANGUNAN

Transkripsi:

BAB VI PERENCANAAN IPAL KOMUNAL Perencanaan IPAL Komunal merupakan rencana dalam mengelola air limbah secara bersama (komunal) berdasarkan acuan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 16 Tahun 2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air limbah. Perencanaan meliputi perhitungan debit air limbah, perhitungan elevasi jalan, dan pengukuran lahan. 6.1 Debit air limbah Perhitungan debit air limbah dihitung berdasarkan jumlah KK, persentase layanan dan kebutuhan air bersih. Untuk mengetahui debit masing masing RT dapat dilihat tabel 6.1. Tabel 6.1 Debit air limbah RT Jumlah kk Jumlah jiwa Persentase layanan Kebutuhan air bersih (l/o/hari) Persentase air limbah (%) Q (m 3 /hari) Total 1 258 1032 20% 120 80% 19,81 2 105 420 30% 120 80% 12,10 3a 100 400 60% 120 80% 23,04 54,95 3b 100 400 40% 120 80% 15,36 15,36 4 83 332 45% 120 80% 14,34 14,34 Sumber : Olah data primer, 2016 Jumlah penduduk diperoleh dari pendataan penduduk oleh kepala RT, persentase pelayanan merupakan asumsi berdasarkan daerah yang diindikasikan tercemar oleh air limbah, kebutuhan air bersih didapatkan berdasarkan Tabel 3.1. Jumlah penduduk yang dilayani sebanyak 572 jiwa atau 143 KK, dengan debit yang dihasilkan sebanyak 54,95 m 3 /hari. Perhitungan debit berdasarkan jumlah

penduduk inilah yang digunakan nantinya dalam perhitungan unit pengolahan air limbah. 6.2 Jaringan perpipaan air limbah Sistem jaringan perpipaan yang diterapkan di kawasan Nitiprayan adalah sistem shallow bore sewerage. Shallow bore sewerage diterapkan untuk rumah yang memiliki telah memiliki tangki septik ataupun yang belum memiliki tangki septik. Jaringan perpipaan terdiri dari unit sambungan rumah (SR) dan unit jaringan air limbah. Pemeliharaan dan perawatan unit jaringan sambungan rumah merupakan tanggung jawab pemilik rumah, sedangkan unit jaringan air limbah merupakan tanggung jawab pengembang atau pengelola IPAL. Dalam menentukan jaringan perpipaan yang direncanakan, maka perlu diperhatikan hal hal berikut : a. Menentukan jalur pipa. b. Menentukan debit puncak dari jalur pipa air buangan dihitung berdasarkan debit yang melalui pipa sebelumnya. c. Menentukan nilai slope yang telah dihitung pada masing masing saluran. d. Tentukan d/d (perbedaan tinggi renang dengan diameter pipa). Penentuan d/d berdasarkan asumsi perpipaan yang diinginkan, nilai yang digunakan adalah 0,7. e. Menentukan nilai Qp/Qfull berdasarkan grafik, nilai Qp/Qfull yang diperoleh pada d/d 0,7 adalah 0,82. Lihat Gambar 6.1 Grafik saluran berbentuk lingkaran.

Gambar 6.1 Hydraulik untuk saluran sewerage berbentuk lingkaran f. Tentukan nilai Q full Sumber : Punmia,B.C. 2013 g. Menentukan nilai n berdasarkan pipa yang digunakan, lihat Tabel 6.2 untuk mengetahui koefisien kekasaran saluran. No Tabel 6.2 Koefisien kekasaran saluran Jenis Saluran Koefisien Kekasaran Manning (n) 1 Pipa besi tanpa lapisan 0.012-0.015 1.1 Dengan lapisan semen 0.012-0.013 1.2 Pipa berlapis gelas 0.011-0.017 2 Pipa asbestos semen 0.010-0.015 3 Saluran pasangan batu bata 0.012-0.017 4 Pipa beton 0.012-0.016 5 Pipa baja spiral & pipa kelingan 0.013-0.017 6 Pipa plastik halus ( PVC) 0.002-0.012 7 Pipa tanah liat (Vitrified clay) 0.011-0.015 Sumber : Draft pedoman jaringan perpipaan air limbah, 2014

6.2.1 Slope saluran Slope saluran merupakan kemiringan dari saluran yang akan dipasang pipa dari sambungan rumah ke IPAL. Slope saluran berfungsi untuk mengetahui kecepatan aliran air di dalam pipa, sistem yang digunakan pada perencanaan jaringan adalah sistem gravitasi sehingga memerlukan kemiringan lahan dan perpipaan saat akan digali atau direncanakan. Untuk mengetahui kemiringan dari masing-masing saluran dapat dilihat Tabel 6.2 No Saluran Tabel 6.3 Slope saluran Lo (m) Elevasi Muka Tanah Dari Ke Awal Akhir 1 A6 A1 75,68 110 110,954-0,013 2 A1 A2 127,77 110,954 109,506 0,0113 3 A2 A3 20,92 109,506 109,281 0,0108 4 A3 A4 42,77 109,281 108,991 0,0068 5 A4 A5 49,28 108,991 109,472-0,01 6 A5 A6 73,63 109,472 110-0,007 7 A5 A7 55,75 109,472 108,633 0,015 8 A7 A8 94,55 108,633 108,102 0,0056 9 A8 A9 139,77 108,102 108,051 0,0004 10 A9 A10 189,17 108,051 107,841 0,0011 11 A10 A11 47,08 107,841 107,508 0,0071 12 A11 A12 53,58 107,508 107,018 0,0091 13 A3 T1 52,97 109,281 107,826 0,0275 14 A4 T2 59,75 108,102 107,361 0,0124 15 A7 T3 75,48 108,633 107,023 0,0213 16 A8 T4 23,01 108,102 107,001 0,0479 17 A9 T5 54,67 108,051 106,556 0,0274 18 A10 T6 58,53 107,841 106,169 0,0286 19 A11 T7 60,78 107,508 106,749 0,0125 20 T1 T2 24,40 107,826 107,361 0,0191 21 T2 T3 76,22 107,361 107,023 0,0044 22 T3 T4 40,95 107,023 107,001 0,0005 23 T4 T5 36,93 107,001 106,556 0,0121 24 T5 T6 53,69 106,556 106,169 0,0072 25 T6 T7 49,77 106,169 106,749-0,012 Sumber : Olah data primer, 2016 So

Slope saluran dimulai dari adanya notasi, jarak atau panjang saluran dan elevasi muka tanah awal maupun akhir. Pengukuran kemiringan saluran dapat menggunakan GPS, meteran, dan juga theodolite. Pada notasi A9 A10 merupakan saluran yang mempunyai jarak terjauh (terpanjang) yaitu sebesar 189,17m dengan elevasi muka tanah awal 108,051m dan muka tanah akhir 107,841m, serta mempunyai kemiringan 0,0011m/m. Nilai dari slope berfungsi untuk mengetahui dimensi pipa dan kedalaman galian tanah. 6.2.2 Debit saluran Debit saluran air limbah merupakan banyaknya air limbah yang dihasilkan berdasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh perpipaan air limbah. Perhitungan debit air limbah berdasarkan perhitungan kebutuhan pemakaian air bersih. Pemakaian air bersih perorang sebesar 120 l/hari, dengan persentase air limbah yang dihasilkan tiap orang sebesar 80% dari pemakaian air bersih. Pada perhitungan debit air limbah mempunyai nilai faktor puncak berkisar 3,5 4. Faktor puncak pada perhitungan saluran merupakan nilai dari koefisien jenis pipa pembawa air limbah Selain itu, untuk mengetahui debit juga dapat dihitung melalui jalur pelayanan perpiaan air limbah yang nantinya dari jalur tersebut air limbah akan diolah di unit IPAL. Pelayanan perpipaan pada jaringan air limbah berupa sambungan rumah (SR), dari sambungan rumah warga air limbah dialirkan ke pipa utama yang nantinya akumulasi dari setiap SR berdasarkan persentase layanan akan diolah di unit IPAL. Selama air limbah mengalir menuju ke IPAL terdapat juga manhole dimana manhole ini bertujuan untuk menginspeksi jaringan apabila terjadi penyumbatan dengan ukuran minimal manhole berdiameter 60 cm. Perawatan dari SR merupakan tanggungjawab pemilik rumah, sedangkan perawatan manhole dan unit IPAL menjadi tanggung jawab pengelola yaitu masyarakat Kampung Nitiprayan. Debit pada masing masing saluran terdapat dilihat pada Tabel 6.3.

Jalur Pipa 1 Sumber : Olah data primer, 2016 Tabel 6.4 Debit saluran perpipaan air limbah Dari tabel 6.3 debit saluran perpipaan air limbah diatas pada jalur perpipaan notasi A2-A6 didapatkan debit air bersih sebesar 4,2 m 3 /hari dengan rata-rata air buangan untuk 7 SR dengan kapasitas 1 SR 5 orang sebesar 3,36 m 3 /hari serta debit puncak sebesar 13,44 m 3 /hari. Debit saluran pada Tabel 6.3 merupakan debit saluran yang nantinya akan disambungkan ke unit pengolahan air limbah yang direncanakan. Sambungan rumah yang dimaksud merupakan saluran air limbah yang berasal dari perpipaan pipa kloset (black water) dan pipa non-kloset (greywater). Sumber limbah debit air bersih (m 3 /hari) 6.2.3 Dimensi saluran dan kedalaman galian Dimensi saluran merupakan ukuran dari saluran yang akan direncanakan pada kedalaman galian tanah terntentu berdasarkan perhitungan debit dan slope yang telah di dapatkan. Dimensi saluran dan kedalaman galian saluran dapat dilihat pada Tabel 6.5 dan Tabel 6.6 debit rata-rata air buangan (m 3 /hari) 2 3 4 = 3 x 0.8 debit puncak air buangan (m 3 /hari) 5 = 4 x fp A1 A6 7 SR 7 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,2 3,36 3,36 x 4 = 13,44 A1 A2 11 SR 11 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 6,6 5,28 5,28 x 4 = 21,12 A2 A3 Jalur 21,12 A3 A4 3 SR 3 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 1,8 1,44 1,44 x 4 = 26,88 A4 A5 5 SR 5 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 3 2,4 2,4 x 4 = 36,48 A3 T1 5 SR 5 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 3 2,4 2,4 A6 A5 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,8 3,84 17,28 T1 T2 2 SR 2 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 1,2 0,96 6,24 A5 A7 10 SR 10 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 6 4,8 22,08 A4 T2 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,8 3,84 3,84 A7 T3 5 SR 5 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 3 2,4 2,4 T2 T3 2 SR 2 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 1,2 0,96 8,64 A7 A8 10 SR 10 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 6 4,8 26,88 A8 T4 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,8 3,84 3,84 T3 T4 6 SR 6 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 3,6 2,88 12,48 T4 T5 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3/ org.hari 4,8 3,84 47,04 A8 A9 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,8 3,84 30,72 A9 T5 8 SR 8 SR x 5 org/sr x 0,12 m 3 /org.hari 4,8 3,84 34,56 T5 IPAL 81,6

Jalur Tabel 6.5 Dimensi saluran Debit Puncak d/d Qfull Slope Slope Diameter Diameter Qfull Vfull Q/Qfull n tanah Saluran (m) m 3 /hari m 3 /s asumsi m 3 /s digunakan m 3 /s m 3 /s A1 A6 13,44 0,000156 0,7 0,82 0,000190 0,012 0,01261 0,01261 0,029 0,1 0,00502 0,63994 A1 A2 21,12 0,000244 0,7 0,82 0,000298 0,012 0,01133 0,01133 0,035 0,1 0,00476 0,60665 A2 A3 21,12 0,000244 0,7 0,82 0,000298 0,012 0,01079 0,01079 0,036 0,1 0,00465 0,59182 A3 A4 26,88 0,000311 0,7 0,82 0,000379 0,012 0,00677 0,00677 0,043 0,1 0,00368 0,46884 A4 A5 36,48 0,000422 0,7 0,82 0,000515 0,012-0,0098 0,00485 0,051 0,15 0,00918 0,51987 A3 T1 2,4 0,000028 0,7 0,82 0,000034 0,012 0,02746 0,02746 0,013 0,1 0,00741 0,94434 A6 A5 17,28 0,000200 0,7 0,82 0,000244 0,012 0,00717 0,00717 0,036 0,15 0,01117 0,6325 T1 T2 6,24 0,000072 0,7 0,82 0,000088 0,012 0,01907 0,01907 0,020 0,1 0,00618 0,78697 A5 A7 22,08 0,000256 0,7 0,82 0,000312 0,012 0,01505 0,01505 0,034 0,15 0,01618 0,9162 A4 T2 3,84 0,000044 0,7 0,82 0,000054 0,012 0,01241 0,01241 0,018 0,1 0,00498 0,63477 A7 T3 2,4 0,000028 0,7 0,82 0,000034 0,012 0,02133 0,02133 0,014 0,1 0,00653 0,83228 T2 T3 8,64 0,000100 0,7 0,82 0,000122 0,012 0,00443 0,00443 0,030 0,1 0,00298 0,37927 A7 A8 26,88 0,000311 0,7 0,82 0,000379 0,012 0,00562 0,00562 0,044 0,15 0,00989 0,55968 A8 T4 3,84 0,000044 0,7 0,82 0,000054 0,012 0,04785 0,04785 0,014 0,1 0,00979 1,24658 T3 T4 12,48 0,000144 0,7 0,82 0,000176 0,012 0,00054 0,00054 0,051 0,2 0,0066 0,21005 T4 T5 47,04 0,000544 0,7 0,82 0,000664 0,012 0,01206 0,01206 0,047 0,2 0,0312 0,9937 A8 A9 30,72 0,0003556 0,7 0,82 0,000434 0,012 0,00036 0,00036 0,078 0,2 0,00541 0,17238 A9 T5 34,56 0,0004 0,7 0,82 0,000488 0,012 0,02736 0,02736 0,036 0,2 0,04699 1,49659 T5 IPAL 81,6 0,0009444 0,7 0,82 0,001152 0,012 0,00719 0,00719 0,064 0,2 0,02409 0,76733 Sumber : Olah data primer, 2016

Hasil pengukuran jalan dapat dilihat pada lampiran perhitungan jalan dan lahan. Notasi untuk jalan utama adalah A dan notasi T untuk jalan tikungan (gang) ialah T. Pada pengukuran menggunakan theodolite yang perlu di perhatikan adalah tinggi alat, pembacaan rambu (batas atas dan batas bawah), serta koordinat X dan Y yang dapat dilihat pada monitor theodolite. 6.4 Pengukuran kontur lahan Kontur lahan merupakan tinggi rendahnya permukaan tanah yang ada di lokasi perencanaan, dimana kontur lahan nantinya berfungsi dalam peletakkan dan pembangunan unit dari IPAL komunal. Lahan yang direncanakan IPAL adalah lahan 2, karena telah memenuhi kriteria penilaian lahan. Lahan 2 merupakan lahan milik kas desa, sehingga untuk perizinan pembangunan IPAL komunal dapat diajukan kepada kepala desa. Pengukuran lahan juga menggunakan theodolite sebagai alat ukur dan GPS sebagai alat penentuan koordinat. Dalam pengolahan air limbah, lahan digunakan untuk merencanakan IPAL yang dilengkapi dengan lapangan basket sebagai fasilitas olahraga untuk warga Kampung Nitiprayan. Hasil pengukuran lahan terlampir pada lampiran perhitungan jalan dan lahan. 6.5 Perhitungan unit Perhitungan unit menggunakan worksheet dari buku dewats, dimana perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui dimensi dari unit yang akan direncanakan IPAL komunal, yang berdasarkan kriteria desain dari masing masing unit. Perhitungan detail unit dapat dilihat pada lampiran perhitungan dewats. Unit yang direncanakan berupa unit Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dan unit wetland. Perhitungan unit ABR dapat dilihat pada Tabel 6.7, sedangkan perhitungan unit wetland dapat dilihat pada Tabel 6.8.