BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) 9) terjadinya komplikasi pada mukosa.

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN KELUARGA DENGAN FREKUENSI DIARE DAN STATUS GIZI PADA BALITA DI DESA SEGIRI KECAMATAN PABELAN KABUPATEN SEMARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Abdullah, 2010).

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

BAB I PENDAHULUAN. variabel tertentu, atau perwujudan dari Nutriture dalam bentuk variabel

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient (Beck 2002 dalam Jafar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam faeces (Ngastiah, 1999). Menurut Suriadi (2001) yang encer atau cair. Sedangkan menurut Arief Mansjoer (2008) diare

BAB I PENDAHULUAN. yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun

BAB I PENDAHULUAN. sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada anak balita

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

BAB I PENDAHULUAN. prasarana kesehatan saja, namun juga dipengaruhi faktor ekonomi,

LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dari sepuluh kali sehari, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA. Anonimous, Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. (mordibity) dan angka kematian (mortality). ( Darmadi, 2008). Di negara


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian demam tifoid (Ma rufi, 2015). Demam Tifoid atau

TINJAUAN PUSTAKA. B. PENILAIAN STATUS GIZI Ukuran ukuran tubuh antropometri merupakan refleksi darik pengaruh 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KERANGKA ACUAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

BAB I PENDAHULUAN. Adanya kebutuhan fisiologis manusia seperti. mencakup kepemilikan jamban sebagai dari kebutuhan setiap anggota keluarga.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Warung Anak Sehat (WAS)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. pasien dewasa yang disebabkan diare atau gastroenteritis (Hasibuan, 2010).

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Makanan merupakan salah satu dari tiga unsur kebutuhan pokok manusia,

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

BAB 5 : PEMBAHASAN. penelitian Ginting (2011) di Puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat mendapatkan

PENGELOLAAN AIR LIMBAH KAKUS I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan oleh manusia biasanya dibuat melalui bertani, berkebun, ataupun

BAB I PENDAHULUAN. SDM yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh, kesehatan yang

Gambar lampiran 1: Tempat Pencucian Alat masak dan makan hanya satu bak

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare.

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. World Health

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikarenakan agar mudah mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Seiring

BAB 1 PENDAHULUAN. selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2007). dan balita. Di negara berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita

Studi Sanitasi Dan Pemeriksaan Angka Kuman Pada Usapan Peralatan Makan Di Rumah Makan Kompleks Pasar Sentral Kota Gorontalo Tahun 2012

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit diare masih merupakan masalah global dengan morbiditas dan

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. program pembangunan sanitasi pedesaan. Dari beberapa studi evaluasi terhadap

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Oleh : Januariska Dwi Yanottama Anggitasari J

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja (Manalu, Marsaulina,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Giardia intestinalis. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit diare akibat infeksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. lebih dalam sehari. Dengan kata lain, diare adalah buang air besar

BAB 1 PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Hal ini

HUBUNGAN SANITASI DASAR RUMAH DAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BENA NUSA TENGGARA TIMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengasuhan berasal dari kata asuh(to rear) yang mempunyai makna

BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada bayi dan balita. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan

JAMBAN SISTEM LEHER ANGSA

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan nasional dapat

I. PENDAHULUAN. bersifat endemis juga sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Status Gizi 1. Pengertian Status Gizi Status gizi merupakan gambaran keseimbangan antara kebutuhan akan zat-zat gizi dan penggunaannya dalam tubuh. Status gizi dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu konsumsi makanan dan keadaan kesehatan tubuh. Keduanya berkaitan dengan faktor lingkungan sosial atau ekonomi dan budaya ( Soekirman, 1990 ). 2. Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu, klinis, biokimia, biofisik dan antropometri. a. Penilaian Secara Klinis Penilaian secara klinis adalah penilaian yang mempelajari dan mengevaluasi tanda fisik yang ditimbulkan sebagai akibat gangguan kesehatan dan penyakit kurang gizi. b. Penilaian Secara Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urin, tinja, dan beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Penilaian keadaan gizi dengan cara ini, terutama di lapangan mengalami masalah khususnya teknis, fasilitas laboratorium serta biaya yang relatif mahal. c. Penilaian Secara Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi ( khusunya jaringan ) dan melihat perubahan struktur dan jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian epidemik. Pada penilaian secara biofisik cara yang digunakan misalnya tes adaptasi gelap.

d. Penilaian Secara Antropometri Penilaian status gizi secara antropometri didasarkan atas penilaian keadaan fisik dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Untuk antropometri yang digunakan dalam penentuan status gizi di antaranya : berat badan, tinggi badan, lingkar dada, lingkar lengan atas, lingkar kepala, dan tebal lemak dibawah kulit. Dari semua ukuran itu yang paling sering digunakan adalah berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yaitu berat badan dibandingkan umur (BB/U), tinggi badan dibandingkan umur (TB/U), berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). (Supariasa, 2001) 3. Klassifikasi Status Gizi Klassifikasi status gizi menurut standar WHO-NCHS berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi adalah sebagai berikut : a. Gizi lebih > 2,0 SD b. Gizi baik -2,0 SD s/d 2,0 SD c. Gizi kurang < -2 SD s/d -3 SD d. Gizi buruk < -3,0 SD Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (2000). 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi : a. Secara langsung Timbulnya gizi kurang pada anak tidak hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga karena penyakit. Anak balita yang mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang diare, akhirnya dapat menderita kurang gizi. Demikian juga pada anak-anak yang makan tidak cukup baik, maka daya tahan tubuhnya dapat melemah (World Health Organization, 2000). b. Secara tidak langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung antara lain : ketahanan pangan keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya baik jumlah maupun nilai gizinya yang cukup baik.

Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan sebaik-baiknya secara fisik, mental, dan sosial. Pelayanan kesehatan lingkungan adalah tersedianya air bersih dan adanya sarana pembuangan kotoran (jamban) yang memenuhi syarat kesehatan. Ketiga faktor penyebab tidak langsung tersebut berkaitan dengan pendidikan, pengetahuan dan keterampilan keluarga. (WHO, 2000). B. Diare 1. Pengertian Diare Diare adalah suatu keadaan abnormal dari pengeluaran berak dengan frekuensi tiga kali atau lebih dengan melihat konsistensi lembek, cair dengan atau tanpa darah dan lendir dalam tinja (Depkes RI,1990). Penyakit diare dapat bersumber pada penyakit menular yang disebarkan oleh air. Penyakit ini hanya dapat menyebar apabila mikroba penyebabnya, seperti virus, bakteri dan protozoa dapat masuk dalam air yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Diare adalah penyakit yang menular erat kaitannya dengan masalah kebersihan, baik kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan. Kuman penyebab diare biasanya menyebar malalui fecal-oral antara lain melalui makanan/minuman yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan tinja penderita. Perilaku tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan terjadinya diare ( Andri, 2009 ). 2. Tanda dan Gejala Diare Tanda dan gejala anak menderita diare (Erlina, 2008) : a. Buang air besar encer atau cair 3 kali atau lebih dalam 24 jam. b. Tidak ada darah dalam BAB. 3. Cara Penularan Penyakit Diare

Penularan penyakit diare terjadi bila makanan atau minuman terkontaminasi tinja atau muntahan penderita diare. Penularan tersebut dapat melalui ( Roesani Azwar, dkk, 1996 ) : a) Tangan yang mengandung kuman yang berasal dari bekas kotoran manusia. b) Binatang pembawa kuman, seperti lalat atau kecoa yang membawa kuman dari kotoran atau muntahan penderita kemudian hinggap pada makanan yang dimakan orang lain. c) Air yang tercemar kotoran manusia. d) Tanah yang terdapat kotoran manusia, tanah merupakan tempat yang baik bagi kehidupan mikrobiologi sebelum berpindah pada manusia melalui debu yang hinggap pada makanan, tangan kotor, sayuran serta buah-buahan yang hendak dikonsumsi. 4. Cara Pencegahan dan Penanganan Diare ( Erlina, 2008 ) : a. Cara Pencegahan Diare - Pemberian hanya ASI saja pada bayi usia 0-6 bulan. - Mencuci tangan dengan sabun setelah berak dan sebelum memberi makanan anak. - Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya. - Pembuangan tinja anak ditempat yang benar. - Makanan dan minuman menggunakan air matang. b. Cara Penanganan Diare - Perbanyak pemberian minuman misalnya ASI, air matang, air sayur, dan oralit. - ASI tetap diberikan terutama pada bayi usia 0-6 bulan, dan untuk anak yang tidak menetek dengan pemberian makanan lunak tetap diteruskan. - Segera dibawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau bila ada tanda-tanda : Buang air besar encer berkali-kali. Muntah berulang-ulang. Rasa haus yang nyata. Demam.

Makan/minum sedikit. C. Jamban Jamban adalah sarana pembuangan kotoran manusia yang menjamin kesehatan dan tidak mencemari lingkungan. Tempat pembuangan kotoran manusia merupakan hal yang sangat penting, dan harus selalu bersih, mudah dibersihkan, cukup cahaya dan cukup ventilasi, harus rapat sehingga terjamin rasa aman bagi pemiliknya, dan jaraknya cukup jauh dari sumber air (Indan Entjan, 2000). Syarat-syarat jamban sehat yang memenuhi aturan kesehatan menurut Ehlers dan stel ( Indan Entjang, 2000 ) adalah : a. Tanah permukaan tidak boleh terkontaminasi. b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur. c. Tidak boleh terjadi kontaminasi air permukaan. d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat atau hewan lain. e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin. f. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang. g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal. - Macam-macam Jamban ( Indan Entjang, 2000 ) : a. Jamban cubluk/cemplung. Tempat jongkok berada langsung di atas lubang penampungan kotoran dilengkapi tutup. Keuntungan dari jenis jamban cubluk : (1). Dapat dibuat dengan biaya murah. (2). Dapat dibuat di setiap tempat di dunia. b. Aqua-privy ( cubluk berair) Adalah jamban yang terdiri atas bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan excreta. Proses pembusukannya sama seperti hasil pembusukan faeces dalam air kali. Untuk jamban ini agar berfungsi dengan baik, perlu pemasukan air setiap hari, baik sedang

dipergunakan atau tidak. Bila airnya penuh dapat dialirkan ke sisitem lain misalnya sumur resapan. c. Angsa trine ( leher angsa ). Adalah jamban yang closetnya berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini gunanya sebagai sumbat sehingga bau busuk dari cubluk tidak tercium di ruangan rumah kakus. Bila dipakai, faecesnya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ketempat penampungannya. Keuntungannya : - Baik untuk masyarakat kota karena memenuhi syarat keindahan. - Dapat ditempatkan di dalam rumah karena tidak bau sehingga pamakainnya lebih praktis. - Aman untuk anak-anak. d. Overhung latrine ( jamban empang ). Adalah jamban yang dibangun di atas empang, sungai ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang biasanya dipakai untuk makanan ikan. Kerugian : Faeces mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat di dalamnya dapat tersebar kemanamana dengan air yang dapat menimbulkan wabah. e. Kakus kimia. Merupakan instalasi pembuangan tinja yang efisien dan memenuhi semua kriteria jamban saniter tersebut di atas. Faeces ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didensifeksi. Sebagai pembersih tidak dipergunakan air, tetapi dengan kertas ( toilet paper ). Wagner dan Lenox (Soeparman, 2001) mengelompokkan teknik pembuangan tinja ke dalam dua kategori, yakni teknik yang menggunakan sistem jamban ( privy method ) dan teknik yang menggunakan sistem aliran air ( water carried method ). Teknik pembuangan tinja dengan sistem jamban ada dua kelompok yaitu : (1). Teknik yang menggunakan jamban tipe utama. (2). Teknik yang menggunakan jamban tipe yang kurang dianjurkan. Teknik yang

menggunakan jamban tipe utama yang paling memenuhi kelima persyaratan tersebut di atas adalah : Jamban leher angsa. Teknik yang menggunakan jamban tipe yang kurang dianjurkan : Jamban empang, jamban cubluk, jamban cubluk berair dan kakus kimia. Tipe jamban ini kurang dianjurkan penggunaannya karena berbagai resiko pencemaran dan penularan penyakit yang dapat ditimbulkannya. - Bangunan kakus yang memenuhi syarat kesehatan (Depkes RI, 1999) : Harus tertutup, dalam arti bangunan tersebut terlindungi dari pandangan orang lain, terlindung dari panas atau hujan. Bangunan kakus ditempatkan pada lokasi yang tidak sampai menggangu pandangan, tidak menimbulkan bau, serta tidak menjadi tempat hidupnya berbagai macam binatang. Bangunan kakus mempunyai lantai kuat, mempunyi tempat berpijak yang kuat, yang terutama harus dipenuhi jika mendirikan kakus model cemplung. Mempunyai lubang closet yang kemudian melalui saluran tertentu dialirkan pada sumur rembesan. D. Hubungan Jamban dengan Diare Yang dimaksud kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (faeces) dan air seni (urine). Pembuangan kotoran manusia dimaksudkan tempat pembuangan tinja dan urine, yang pada umumnya disebut latrine (jamban atau kakus). (Djabu, 1991). Diare dapat disebabkan melalui pembuangan kotoran manusia yang kurang baik dan pada umumnya penyakit tersebut merupakan penyakit yang disebabkan air tercemar ( water borne diseases ) yang menyerang saluran pencernaan, antara lain diare yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Penyakit diare dapat ditularkan secara langsung atau tidak langsung baik karena cara pembuangan kotoran manusia yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan maupun melalui air yang terkontaminasi kotoran manusia. Pembuangan kotoran manusia apabila tidak dikelola dengan baik

sering kali mencemari air bersih sehingga air tersebut dapat sebagai media penyebaran penyakit. Hubungan kepemilikan jamban dan penggunaan sarana air bersih merupakan salah satu upaya menurunkan jumlah kasus diare, karena air yang terkontaminasi tinja menjadi salah satu media bakteri dalam penyebaran penyakit diare. ( Azwar, 1996). E. Hubungan Status Gizi dengan Diare Status gizi selain dipengaruhi oleh berbagai jenis penyakit seperti diare, infeksi saluran pernafasan, konsumsi makanan juga dipengaruhi oleh sanitasi meliputi jamban, sarana air bersih, saluran pembuangan air limbah dan kondisi rumah. Kesehatan lingkungan juga merupakan faktor yang akan mempengaruhi status gizi. Keadaan lingkungan yang kurang baik memungkinkan terjadinya berbagai penyakit antara lain diare dan infeksi saluran pernafasan. Seseorang yang kurang zat gizi akan mudah terserang penyakit dan pertumbuhan akan terganggu. (Supariasa, 2001). Penyakit diare merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kematian terutama pada bayi dan balita. Pada balita saat rawan terkena penyakit diare yaitu pada saat penyapihan yang biasanya terjadi pada usia 6-24 bulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi diare adalah yang berkaitan dengan proses penyapihan, status gizi, dan kebersihan lingkungan. (http://www.gizi.net/makalah.doc). Anak yang menderita gizi kurang mudah terkena penyakit infeksi khususnya diare dan penyakit saluran pernafasan. Masing-masing keadaan tersebut dapat mendorong dan memperburuk keadaan. Proses tersebut akan menimbulkan kesakitan yang semakin memburuk dan dapat menyebabkan kematian. (Notoatmodjo, 1997). Dalam keadaan gizi baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan terhadap penyakit infeksi dan jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi menjadi turun, sehingga dapat memperburuk status gizi. (Aritonang, 1996). Scrimshaw et.al menyatakan bahwa ada hubungan erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi, dan juga infeksi seperti diare akan

mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan meliputi (Supariasa, 2001) : a. Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit. b. Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat penyakit diare, mual/muntah dan perdarahan yang terus menerus. c. Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh. F. Kerangka Teori Jamban - Ketersediaan Jamban - Jenis jamban - Kriteria/syarat jamban Tingkat Pengetahuan - Bahaya Diare - Penyebab Diare - Cara Penularan - Cara Pencegahan - Persyaratan sarana BAB Status Gizi Balita Penyakit Diare Konsumsi Makanan Sarana Air Bersih Penyakit Infeksi Kondisi Rumah Pengolahan Air - Suhu kematangan - Cara pengolahan - Cara penyimpanan Badan Air - Jarak Badan Air - Sumber Badan Air

Sumber : Modifikasi WHO, 2000, Direktorat Gizi Masyarakat Depkes RI, 2002. G. Kerangka Konsep Kepemilikan Jamban Status Gizi Balita Kejadian Diare Balita H. Hipotesis 1. Ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita. 2. Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian diare pada balita.