LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR EFEKTIVITAS FEROMONE DAN ORYCNET DALAM PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) PADA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN KELAPA SAWIT DI AFDELING II KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV RONI FRANSISKO GINTING 12011401 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV Pada Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan EFEKTIVITAS FEROMONE DAN ORYCNET DALAM PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) PADA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN KELAPA SAWIT DI AFDELING II KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV RONI FRANSISKO GINTING 12011401 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN TUGAS AKHIR MAHASISWA STIPAP Nama : Roni Fransisko Ginting NIM : 12011401 Program Studi : Budidaya Perkebunan JudulTugasAkhir : EFEKTIVITAS FEROMONE DAN ORYCNET DALAM PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) PADA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN KELAPA SAWIT DI AFDELING II KEBUN GUNUNG BAYU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Ir. Nuraida, M.P. Saroha Manurung, SST., M.P. Mengetahui, Ketua Ka, PS BDP Wagino, S.P., M.P. Guntoro, S.P., M.P
Pembimbing Tugas Akhir : 1. Ir. Nuraida, M.P. 2. Saroha Manurung, SST., M.P. Tim Penguji : 1. Ir. WA. Tambunan, M.P. 2. Hardy Wijaya, S.P. Telah diuji pada 14 Oktober 2016
RINGKASAN Roni Fransisko Ginting, Efektivitas Feromone dan OrycNet Dalam Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) Pada Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit Di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PTPN IV. Penelitian ini telah dilaksanakan dibawah bimbingan Ibu Ir. Nuraida., M.P. dan Bapak Saroha Manurung, SST., M.P. Penelitian ini dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara IV yang berlangsung pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Feromone dan OrycNet Dalam Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) Pada Tanaman Belum Menghasilkan Di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PTPN IV. Rancangan penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PTPN IV. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun tanam 2014 dengan jumlah blok 27 blok dengan luas areal 475Ha. Dari hasil penelitan diketahui Bahwa pengendalian hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) di Afdeling II kebun Gunung Bayu Tahun 2015 dengan menggunakan Ferotrap dapat memerangkap 2530 ekor hama Kumbang Tanduk (40%) dengan rata rata 210 ekor hama Kumbang Tanduk yang terperangkap setiap bulan nya, sedangkan pengendalian menggunakan OrycNet dapat memerangkap 3798 ekor hama Kumbang Tanduk (60%) dengan Rata rata 316 ekor hama Kumbang Tanduk yang terperangkap setiap bulan nya. Jadi pengendalian hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) dengan aplikasi OrycNet sangat efektif dalam mengendalikan serangan hama Kumbang Tanduk, disebabkan OrycNet dapat Memerangkap sebanyak 3798 ekor hama Kumbang Tanduk dalam jangka waktu 1 Tahun, Kata Kunci : Efektivitas, Feromone, OrycNet, Oryctes rhinoceros, Kelapa Sawit. i
DAFTAR ISI RINGKASAN... DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... RIWAYAT HIDUP... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Urgensi Penelitian... 2 1.3. Tujuan Khusus... 2 1.4. Target Temuan... 2 1.5. Kontribusi... 2 Hal i BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1. Taksonomi Tanaman Kelapa Sawit... 3 2.2. Morfologi Tanaman Kelapa Sawit... 3 2.2.1 Bagian Vegetatif... 4 2.2.2. Bagian Generatif... 5 2.3. Morfologi dan Biologi Hama Kumbang Tanduk... 6 2.3.1. Telur... 6 2.3.2. Larva... 6 2.3.3. Prapupa... 7 2.3.4. Pupa... 7 2.3.5. Imago... 7 2.4. Tempat Berkembang Biak Hama Kumbang Tanduk... 8 2.5. Gejala Serangan Hama Kumbang Tanduk... 8 2.6. Pengendalian Hama Kumbang Tanduk... 10 2.6.1. Pengendalian Kimiawi... 10 2.6.2. Pengendalian Manual... 11 BAB 3 METODOLOGI... 13 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian... 13 3.2. Alat dan Bahan... 13 3.3. Metode Penelitian... 13 3.4. Pelaksanaan Penelitian... 13 3.5. Parameter Pengamatan... 14 ii iv vi vii viii ii
BAB 4 PEMBAHASAN... 15 4.1. Informasi Kebun... 15 4.1.1. Sejarah Kebun... 15 4.1.2. Tofografi... 15 4.1.3. Luas Areal... 16 4.1.4. Curah Hujan... 17 4.2. Efektivitas Pngendalian Hama Kumbang Tanduk Dengan Menggunakan Feromone dan OrycNet... 19 4.2.1. Pengendalian Menggunakan Feromone (Ferotrap)... 19 4.2.2. Pengendalian Menggunakan OrycNet (Jaring)... 20 4.2.3. Kriteria Tingkat Serangan Hama Kumbang Tanduk. 20 4.3. Data Sensus Serangan Hama Kumbang Tanduk... 21 4.4. Perbandingan Biaya Pengaplikasian Feromone dan OrycNet... 24 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN... 26 5.1. Kesimpulan... 26 5.2. Saran... 26 DAFTAR PUSTAKA... 27 LAMPIRAN... 29 iii
KATA PENGANTAR Segala Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Tugas akhir ini berisikan tentang Efektivitas Feromone dan OrycNet Dalam Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) Pada Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit Di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PTPN IV. Selama dalam penyusunan Tugas Akhir ini banyak kendala kendala yang penulis temui, namun dengan adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, Akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Maka dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Wagino, S.P., M.P. Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan Medan 2. Ibu Ir. Nuraida., M.P. Selaku pembimbing I yang selama ini telah memberikan waktunya di sela sela kesibukan nya untuk membimbing dan memberikan masukan bagi penulis didalam menyelesaikan tugas akhir ini. 3. Bapak Saroha Manurung SST., M.P. Selaku pembimbing II yang selama ini telah memberikan waktunya disela sela kesibukan nya untuk membimbing dan memberikan masukan bagi penulis didalam menyelesaikan tugas akhir ini. 4. Bapak Guntoro, S.P., M.P. Selaku ketua program studi BDP, kepada seluruh dosen dan staf STIPAP yang telah membantu untuk kelancaran proses studi penulis.. 5. PT. Perkebunan Nusantara IV, khususnya Afdeling II Kebun Gunung Bayu yang telah memberikan izin kepada penullis untuk melakukan penelitian tugas akhir ini serta kepada bapak Manager, bapak Asisten Kepala, bapak iv
Asisten dan Krani yang telah membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. 6. Teristimewa kepada Ayahanda Aiptu Alat Ginting, dan Ibunda Dermawan br Sianturi, atas doa serta dukungan baik materi dan moril yang tidak terkira yang telah diberikan selama ini kepada penulis. Kepada kakanda Sri Ukurta Ginting, Ade Hendrawan Ginting yang selalu memotivasi penulis didalam kehidupan sehari-hari. 7. Terkhusus buat Kekasih Shanty Marini Silaban atas Dukungan serta Motivasi yang diberikan selama ini kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. 8. Seluruh teman teman STIPAP angkatan 2012 khususnya BDP-C, Kesuksesan menyertai kita bersama. 9. Terima kasih pada sahabat saya Ananda Boas Siregar, Binsar Lukas Paciolo Ompusunggu,Egianto Tarigan, Hermansyah Siregar, Joni Bambang Verynanda Purba, Rowinner Siregar, Satria Sembiring, yang banyak membantu dan menjadi sahabat baik saya. Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam membantu penyusunan tugas akhir ini dari awal hingga akhir. Semoga tugas akhir ini memberikan mamfaat seperti apa yang diharapkan dan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa Memberkati segala usaha kita. Medan, Nopember 2016 Penulis v
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lawe Sigala gala pada tanggal 06 Januari 1994. Penulis merupakan putra dari Ayahanda Aiptu Alat Ginting dan Ibunda Dermawan Br Sianturi, dan merupakan Anak kedua dari tiga bersaudara. Pada Tahun 2000 penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar SDN 112166 AekNabara dan Lulus Pada Tahun 2006. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Bilah Hulu dan lulus pada tahun 2009, kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas SMA Swasta AekNabara pada tahun 2009 dan lulus pada Tahun 2012. Selama perkuliahan Penulis telah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebanyak dua Kali dan Program Pengabdian Masyarakat (PPM) sebanyak satu kali. Pada tahun 2014, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan I (PKL I) di Afdeling III Kebun Sei Kopas PT. Perkebunan Nusantara IV selama 5 minggu untuk Komoditi Kelapa Sawit, dianjutkan Di Afdeling III Kebun Merbau selatan PT. Perkebunan Nusantara III selama Tiga Minggu untuk komoditi Karet., Pada tahun 2015 Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan II (PKL II) Di PT. SURYA AGROLIKA REKSA Kebun Sei Basau Pekanbaru,Riau. Pada tahun 2016 penulis melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat di Desa Laut Tador kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. vi
DAFTAR TABEL No Judul Hal 2.1. Siklus Hidup Kumbang Tanduk (O. rhinoceros)... 8 4.1. Informasi Luas Areal Kebun Gunung Bayu... 16 4.2. Informasi Afdeling II Kebun Gunung Bayu... 17 4.3. Curah Hujan PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Gunung Bayu... 17 4.4. Rekapitulasi Serangan Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros)... 21 4.5. Rekapitulasi Hama Kumbang Tanduk Yang Terperangkap Pada Ferotrap dan OrycNet... 22 4.6. Data Analisa Biaya Aplikasi Feromone dan OrycNet... 24 4.7. Analisa Biaya Aplikasi Feromone dan OrycNet... 25 vii
DAFTAR GAMBAR No Judul Hal 4.1. Rata-rata Curah Hujan Kebun Gunung Bayu... 18 4.2. Rata-rata Hujan Kebun Gunung Bayu... 19 4.3. Perbandingan Hama Yang Terperangkap Pada Ferotrap dan OrycNet... 23 viii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa Sawit adalah tanaman perkebunan atau tanaman industri berupa pohon batang lurus dari family palmae. Tanaman tropis yang berasal dari amerika ini dikenal sebagai penghasil minyak. Brazil dipercaya sebagai tempat pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar di Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan (Hartanto, 2011). Budidaya tanaman Kelapa Sawit pada saat ini mengalami masalah yang cukup sulit yaitu adanya gangguan hama dan penyakit. Hama utama yang menyerang Kelapa Sawit dan sangat merugikan khususnya diareal tanaman ulang yaitu hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) (Azhari, 2013). Serangan Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) cukup membahayakan pada tanaman belum menghasilkan karena jika sampai mengenai titik tumbuhnya maka akan muncul penyakit busuk dan menyebabkan kematian pada tanaman Kelapa Sawit tersebut. Kumbang Tanduk banyak menimbulkan kerusakan pada areal TBM yang baru ditanam hingga berumur 2-3 tahun. Kumbang dewasa (imago) masuk kedaerah titik tumbuh (pupus) dengan membuat lubang pada pangkal pelepah daun muda yang masih lunak (Hartanto, 2011). Hama dan penyakit adalah salah satu faktor penting yang harus di perhatikan dalam pembudidayaan Kelapa Sawit. Akibat yang di turunkan sangat besar, seperti penurunan produksi, bahkan kematian tanaman. Hama dan penyakit dapat menyerang tanaman Kelapa Sawit mulai dari pembibitan hingga tanaman mengasilkan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan serangga Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) (Fauzi, 2014). 1
Pengendalian hama Kumbang Tanduk tidak terlepas dari tujuan perusahaan yaitu untuk meningkatkan kualitas produktivitas kelapa baik TBM maupun TM dikelola dengan seefektif dan seefisien mungkin. (Azhari, 2013). 1.2. Urgensi Penelitian Budidaya tanaman Kelapa Sawit sering kali mengalami masalah gangguan serangan hama O. rhinoceros. Pengaruh dari serangan tersebut mengakibatkan produktivitas tanaman Kelapa Sawit mengalami penurunan. Dalam penelitian ini penulis mengamati Efektivitas Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) dengan Kimiawi (Feromone) dan Manual (OrycNet) pada areal tanaman belum menghasilkan di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV. 1.3. Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Feromone dan OrycNet untuk mengendalikan hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) pada areal tanaman belum menghasilkan di Afdeling II Kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV. 1.4. Target Temuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang cara pegendalian hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) yang lebih efektif. 1.5. Kontribusi Hasil pengamatan ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memilih penggunaan cara pengendalian hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) yang efektif pada tanaman Kelapa Sawit. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taksonomi Tanaman Kelapa Sawit Kelapa Sawit merupakan tanaman jangka panjang. Kelapa Sawit yang dibudidayakan mencapai ketinggian 15-18 m, namun demikian Kelapa Sawit liar dapat mencapai 30 m tingginya. Seperti palma yang lain, akar tanaman sawit adalah akar serabut. Akar tanaman Kelapa Sawit tumbuh mengarah kebawah dan ke samping. Pertumbuhan kebawah di batasi oleh permukaan air tanah dan pertumbuhan ke samping hampir sejajar dengan permukaan tanah. Batang Kelapa Sawit berbentuk silinder, sampai dengan umur 12 tahun batang masih tertutup oleh sisa pelepah yang di tunas, sehingga memberi kesan lebih besar. Ukuran batang bervariasi antara 30 cm 60 cm tergantung kondisi lingkungan. Pertumbuhan memanjang antara 30 60 cm pertahun. Batang antara lain berfungsi sebagai tempat penimbunan nutrisi tanaman Kelapa Sawit tersebut. Daun Kelapa Sawit adalah daun majemuk, terdiri atas pelepah yang panjangnya antara 7 9 meter. Jumlah anak daun setiap pelepah antara 250 400 helai. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Pada tanah yang subur dan tanah yang optimal, kuncup cepat membuka sehingga lebih cepat dan efektif menjalankan fungsinya sebagai tempat fotosintesis (Vademecum 1998). Keanekaragaman dan jumlah populasi di suatu tempat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu umur tanaman, keadaan cuaca dan keadaan habitat di sekitar tanaman. 2.2. Morfologi Tanaman Kelapa Sawit Tanaman Kelapa Sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif Kelapa Sawit meliputi akar, 3
batang, dan daun, sedangkan generatif yang merupakan alat perkembangbiakan terdiri dari bunga dan buah (Fauzi dkk, 2007). 2.2.1. Bagian Vegetatif a. Akar Kelapa Sawit merupakan tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Akar tanaman Kelapa Sawit berbuku, ujungnya runcing dan berwarna putih atau kekuningan. Tanaman Kelapa Sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh kebawah dan kesamping membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan kuarter. Akar primer tumbuh kebawah didalam tanah sampai permukaan air tanah. Akar sekunder, tertier dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju kelapisan atas atau ketempat yang banyak mengandung zat hara. b. Batang Kelapa Sawit merupakan tanaman monokotil yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang berfungsi sebagai penyangga tajuk serta menyimpan dan mengangkut bahan makanan. Batang Kelapa Sawit berbentuk selinder dengan diameter 20-75 cm. Pertambahan tinggi batang terlihat jelas setelah tanaman berumur 4 tahun. Tinggi batang bertambah 25-45 cm/tahun. Jika kondisi lingkungan sesuai tinggi batang sampai mencapai 100 cm/tahun. Tinggi maksimum tanaman perkebunan antara 15-18 m, sedangkan yang di alam mencapai 30 m. Pertumbuhan batang tergantung pada jenis tanaman, kesuburan tanah dan iklim setempat. c. Daun Daun kelapa Sawit mirip kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap dan bertulang sejajar. Daun-daun membentuk satu pelepah yang panjangnya mencapai lebih dari 7,5-9 m. Jumlah anak daun di setiap pelepah berkisar antara 250-400 helai. Pada tanah yang subur, daun cepat 4
membuka sehingga mangkin efektif melakukan fungsinya sebagai tempat melakukannya peroses fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Luas permukaan daun akan berinteraksi dengan tingkat produktifitas tanaman. Semakin luas permukaan atau semakin banyak jumlah daun maka produksi akan meningkat karena proses fotosintesis akan berjalan dengan baik. 2.2.2. Bagian Generatif a. Bunga Kelapa Sawit merupakan tanaman berumah satu artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga terdiri dari batang poros dan cabangcabang meruncing yang di sebut spikelet. Jumlah spikelet dalam rangkaian dapat mencapai 200 buah. Batang poros bunga jantan lebih panjang dibandingkan bunga betina, tetapi jumlah spikeletnya hampir sama. b. Buah Buah disebut juga fruktus. Pada umumnya tanaman Kelapa Sawit yang tumbuh baik dan subur sudah dapat menghasilkan buah serta siap dipanen pertama pada umur sekitar 3,5 tahun jika dihitung mulai dari penanaman biji kecambah di pembibitan. Namun, jika dihitung mulai penanaman di lapangan maka tananaman berbuah dan siap panen pada umur 2,5 tahun. Secara anatomi, bagian-bagian buah tanaman Kelapa Sawit adalah sebagai berikut: 1. Perikaprium, terdiri dari: a) Epikaprium yaitu kulit buah yang keras dan licin. b) Mesokarpium yaitu daging buah yang berserabut dan mengandung minyak CPO (Crude Palm Oil). 2. Biji, mempunyai bagian yaitu: a) Endokarprium yaitu kulit biji atau tempurung yang berwarna hitam dan keras. 5
b) Endosperm yaitu daging buah (inti atau kernel) yang merupakan penghasil minyak inti sawit PKO (Palm Kernel Oil). Lembaga atau embrio merupakan bakal tanaman. (Tim PS, 2002) 2.3. Morfologi dan Biologi Hama Kumbang Tanduk (0. rhinoceros) 2.3.1. Telur Telur berwarna putih, dengan diameter sekitar 3 mm diletakkan pada tengah gumpalan serbuk atau material. Pada awalnya telur berbentuk oval tetapi mulai membulat sekitar satu minggu setelah peletakan, dan akan menetas sekitar 11-13 hari (Wood, 1968). Pada tandan kosong yang belumm terdekomposisi sempurna (baru diletakkan di lapangan) biasanya di jumpai telur dan larva saja (Rahayuwati, 2012). 2.3.2. Larva Larva hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) yang sering disebut gendon atau uret berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut kerut melengkung membentuk setengah lingkaran seperti huruf C dengan panjang sekitar 60-100 mm (Ooi, 1998) dalam (Susanto dkk, 2012). Kepala keras dilengkapi dengan rahang yang kuat. Tengkorak coklat gelap dengan sejumlah lubang disekelilingnya. Tempat pernafasan memiliki jumlah lubang maksimum 40-80 atau lebih yang berbentuk oval disekeliling toraks (Susanto dkk, 2012). Larva berkembang pada kayu lapuk, kompos dan pada hampir semua bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan dengan kelembaban yang cukup seperti rumpukan batang Kelapa Sawit dan tandan kosong Kelapa Sawit sebagai mulsa. Stadia larva O. rhinoceros terdiri dari 3 instar, instar I berlangsung selama 10-21 hari, instar II berlangsung selama 12-21 hari, instar III berlangsung selama 60-165 hari. Larva Oryctes kemudian berubah menjadi prepupa dan selanjutnya menjadi pupa (Susanto dkk, 2012). 6
2.3.3. Prapupa Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari (Susanto dkk, 2012). 2.3.4. Pupa Larva O. rhinoceros membuat kokon saat akan memasuki fase pupa dan akan terus berada didalamnya sampai menjadi imago. Imago masih akan berada dalam kokon selama 17-22 hari sampai sklerotsi selesai. Kokon dapat melakukan stridulasi jika dilakukan gangguan. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan pada larva lain agar tidak mengganggu pupa tersebut. Kokon pun terbuat dari serat-serat tandan kosong yang dijalin menjadi lonjong. Kokon biasanya dijumpai pada tandan kosong yang sudah terdekomposisi sempurna (Rahayuwati dkk, 2002). Periode antara berhentinya makan sampai menjadi pupa adalah 6 hari, dan periode pupa berlangsung antara 14-49 hari, rata rata 20 hari. Periode pupa pada umumnya berlangsung didalam kokon tetapi bisa terjadi didalam tumbuh tumbuhan yang busuk atau bahkan batang Kelapa Sawit yang busuk yang mana masih berdiri. Kepompong berada di dalam suatu sel atau kepompong terdiri atas kokon dan penggumpalan bekas pengeratan atau ketika berada didalam serabut batang, panjangnya adalah 40-52 mm, berwarna kuning kecoklatan dan jika jantan terdapat terompet/tandan pada atas kepala (Lever, 1969). 2.3.5. Imago Imago O. rhinoceros mempunyai panjang 30-57 mm, dan lebar 14-21 mm, imago jantan lebih kecil dari imago betina. O. rhinoceros betina mempunyai bulu tebal pada bagian ujung abdomennya, sedangkan yang jantan tidak berbulu, O. rhinoceros hanya terbang dalam jarak yang dekat apabila lingkungannya cocok, dan makanan cukup. Akan tetapi bila makanan kurang baik Kumbang Tanduk bisa terbang sampai sejauh 10 km. Pada 7
masa akhir ini imago membutuhkan waktu selama 90-138 (Lubis, 2008). Untuk lebih jelas siklus hidup Kumbang Tanduk dapat dilihat pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Siklus Hidup Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Fase Waktu (Hari) Telur 8 10 Instar Pertama 10 21 Instar Kedua 12 21 Instar Ketiga 60 165 Prapupa 8 13 Pupa 17 28 Dewasa Betina 274 Dewasa Jantan 192 Total 115 260 2.4. Tempat Berkembang Biak Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Menurut Susanto dkk, (2012) tempat berkembang biak Kumbang Tanduk (O. rhinoceros), yaitu : 1. Rumpukan batang Kelapa Sawit di areal replanting. 2. Rumpukan batang Kelapa Sawit yang telah dicacah. 3. Tanaman yang masih berdiri pada system underplanting, untuk peletakan telur. 4. Larva berkembang biak sangat baik pada tandan kosong yang ada di gawangan. 2.5. Gejala Serangan Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Menurut Lubis (2008) Kumbang ini menimbulkan kerusakan pada tanaman muda dan tanaman tua. Kumbang membuat lubang pada pangkal pelepah daun muda terutama pada daun pupus, makin muda bibit yang dipakai semakin mudah kumbang masuk kedalam. Hama O. rhinoceros menyebabkan kerusakan dengan cara melubangi tanaman, begitu juga tanda serangan terlihat pada bekas lubang gerekan pada pangkal batang. Selanjutnya mengakibatkan pelepah daun muda putus dan membusuk kering. Sedangkan menurut Prawirosukarto dkk (2003) mengatakan, dengan 8
dilakukan nya pemberian mulsa tandan Kelapa Sawit menyebabkan masalah hama ini sekarang juga dijumpai pada areal yang mennghasilkan. Hama O. rhinoceros ini dapat merusak pertumbuhan tanaman dan dapat mengakibatkan tanaman mati. Hama ini biasanya berkembang pada tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan, yang banyak di jumpai pada kedua areal tersebut. Kumbang dewasa akan menggerek pucuk kelapa sawit. Gerakan tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman, dan jika sampai merusak titik tumbuh akan dapat mematikan tanaman. Pada areal peremajaan Kelapa Sawit, serangan Kumbang Tanduk dapat mengakibatkan tertundanya masa produksi Kelapa Sawit sampai satu tahun, dan tanaman yang mati mencapai 25%. Akhir-akhir ini, serangan Kumbang Tanduk juga dilaporkan terjadi pada tanaman tua ini diakibatkan pengaplikasian mulsa tandan kosong Kelapa Sawit yang tidak tepat. Hama O. rhinoceros hinggap pada pelepah daun yang agak muda, kemudian mulai menggerek kearah titik tumbuh Kelapa Sawit. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4,2 cm dalam sehari. Pucuk kelapa sawit yang terserang, apabila nantinya membuka pelepah daunnya akan terlihat seperti kipas atau bentuk lain yang tidak normal (Prawirosukarto dkk, 2003). Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), gejala serangan hama O. rhinoceros pada tanaman Kelapa Sawit antara lain : 1. Tunas dipembibitan menjadi kering karena gerekan. 2. Areal TBM menjadi sasaran utama hama O. rhinoceros dengan pelepah pelepah muda mengering diantara daun-daun tua yang masih hijau dan berbentuk kipas. 3. Adanya lubang bekas gerekan hama O. rhinoceros pada bagian pangkal. Menurut sudarmono (2011), kategori kerusakan yang disebabkan oleh hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) adalah sebagai berikut : 9
Ringan Sedang Berat = Tanaman digerek, pucuk belum rusak. = Tanaman digerek, pucuk rusak tetapi tumbuh lagi. = Tanaman digerek, pucuk tidak tumbuh dan perlu disisip. 2.6. Pengendalian Hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Teknik pengendalian O. rhinoceros yang umum dilaksanakan adalah dengan pengelolaan tanaman penutup tanah, sistem pembakaran, sistem pencacahan batang, pengutipan Kumbang dan larva, secara kimiawi dan manual. Semua metode pengendalian di aplikasikan secara tunggal maupun terpadu menunjukkan keterbatasan dalam skala besar. Paket yang dilaksanakan dalam pengendalian Kumbang Tanduk, biasanya terdiri dari manual, biologi, dan kimiawi. Metode manual terdiri dari pengutipan larva dan Kumbang dari sisa tanaman, secara kimiawi meliputi penggunaan insektisida. 2.6.1. Pengendalian Secara Kimiawi (Feromone) Feromone adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual pada jantan maupun betina (wikipedia). Upaya terkini dalam mengendalikan Kumbang Tanduk adalah secara kimiawi dengan menggunakan perangkap feromone. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) saat ini telah berhasil mensintesa feromone agregat untuk menarik Kumbang jantan maupun betina. Feromone agregat ini berguna sebagai alat kendali populasi hama dan sebagai perangkap massal. Rekomendasi untuk perangkap massal adalah meletakkan satu perangkap untuk 2 hektare. penggunaan feromone ini lebih menghemat dibanding dengan karbofuran dan manual. Pada populasi Kumbang yang tinggi, aplikasi feromone diterapkan satu perangkap untuk satu hektare (Azhari, 2013). Feromon adalah zat kimia yang berasal dari endokrin dan digunakan oleh mahluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok dan untuk membantu proses reproduksi. Feromon merupakan senyawa yang dilepas oleh salah satu jenis serangga yang dapat mempengaruhi serangga 10
lain yang sejenis dengan adanya tanggapan fisiologi tertentu. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies). Secara umum, proses perkawinan serangga dipengaruhi oleh seks feromon yang diproduksi oleh serangga betina untuk menarik serangga jantan (Allison dan Carde 2007). Hal ini dapat dimanfaatkan untuk pengendalian serangga hama, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu sebagai perangkap masal, mengganggu perkawinan (matting distruption) dan bila feromon sebagai atraktan dikombinasikan dengan insektisida dapat bersifat sebagai pembunuh (attracticide) (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2007). Seks feromon dapat juga dimanfaatkan sebagai : 1. Alat monitor keberadaan dan perkembangan populasi serangga hama di lapangan, 2. Untuk penangkapan massal serangga jantan dan 3. Membantu proses penyebaran entomopatogen (Jackson 1992 dalam Permana dan Rostaman 2006). Berdasarkan data yang ada, penggunaan seks feromon telah sukses mengendalikan beberapa jenis serangga hama. Hal ini dapat diasumsikan, bahwa penggunaan feromon dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengendalian serangga hama yang potensial, karena mempunyai beberapa keunggulan seperti dapat diaplikasikan dengan taktik pengendalian non toksik/pengendalian biologi, mengurangi penggunaan insektisida, sehingga teknologi dan strategi aplikasi feromon ke depan sangat prospektif (Samudra 2006). Keistimewaan penggunaan seks feromon adalah kemampuannya untuk menarik serangga dalam jumlah yang sangat besar. 2.6.2. Pengendalian Secara Manual Jaring Ikan (OrycNet) Pengendalian Kumbang Tanduk secara manual merupakan upaya yang dilakukan perkebunan Kelapa Sawit berfungsi untuk mengurangi populasi Kumbang Tanduk secara mekanis dan ramah lingkungan dibandingkan 11
dengan penggunaan kimiawi. Pengendalian dengan jaring ikan yaitu perlakuan dengan menggunakan jaring yang dipasang menyelimuti tanaman dan bagian-bagian yang rawan terhadap serangan Kumbang Tanduk. OrycNet adalah sebuah cara pengendalian hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) dengan menggunakan jaring. Adapun cara pemasangan OrycNet dilapangan yaitu 1. Pemasangan OrycNet dilakukan dengan melilitkan jaring berukuran panjang x lebar (50 cm x 25 cm ) diantara pelepah dengan cara melingkar. 2. Pastikan OrycNet terpasang secara merata dan kendur sehingga tidak ada ruang terbuka untuk hama O. rhinoceros masuk 3. Kemudian letakkan OrycNet diatas Titik Tumbuh secara merata sehingga tanaman akan terlindungi walaupun O. rhinoceros menyerang dari ujung daun. Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk mencegah masuknya hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) kedalam pangkal batang tanaman Kelapa Sawit belum menghasilkan, Adapun kelebihan metode ini mampu membunuh Kumbang Tanduk secara tidak langsung, karena Kumbang Tanduk yang terjaring kelelahan ketika terperangkap didalam jaring tersebut, serta dapat menghindari hama lain (Hama tikus) yang mencoba masuk kepangkal batang. Metode ini memiliki kelemahan karena jaring tidak dapat bertahan lama,itu disebabkan cuaca serta ketika tanaman kelapa sawit memasuki masa kastrasi pelepah sudah membuka mengakibatkan jaring akan robek, serta memerlukan biaya/anggaran. 12
BAB 3 METODOLOGI 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan di laksanakan di Afdeling II kebun Gunung Bayu PT. Perkebunan Nusantara IV kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2016 sampai dengan Agustus 2016. 3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah : a. Jaring (OrycNet) yang terbuat dari benang berukuran panjang x lebar (50 cm x 25 cm) dililitkan pada ketiak pelepah daun muda secara melingkar b. Gunting digunakan untuk memotong jaring. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Feromone. 3.3. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif yaitu pengambilan data sekunder perusahaan mengenai intensitas serangan Kumbang Tanduk serta melakukan pengamatan langsung penggunaan atau pemasangan perangkap jaring ikan dan feromone. 3.4. Pelaksanaan Penelitian Penelitian Dilaksanakan dengan cara yaitu : 1. Survei langsung ke lokasi penelitian pada tanaman belum menghasilkan 2. Mengambil Data serangan hama O. rhinoceros 3. Pemasangan Ferotrap Feromone Pemerangkapan Kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromone sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam jerigen air 20 liter. dilubangi 2 buah dengan 13
diameter 15 cm. Pada dasar jerigen di buat jaring OrycNet agar O. rhinoceros yang jatuh kedalam tidak terbang, dan dibuat lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 2.5 m dan dipasang didalam areal Kelapa Sawit. 4. Pemasangan Perangkap OrycNet 3.5. Parameter Pengamatan 1. Intensitas Serangan Dengan mengumpulkan data hasil sensus Hama 2. Jumlah Populasi Hama Kumbang Tanduk 3. Data Curah Hujan 14
15