BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan dasar berupa pangan, sandang dan papan memiliki berpengaruh yang erat terhadap kelangsungan hidup manusia. Salah satu kebutuhan dasar berupa papan sendiri secara umum diartikan sebagai tempat berlindung yang biasa disebut rumah/hunian yang merupakan kebutuhan hidup dan sarana untuk bersosialisasi dengan sesamanya untuk menciptakan tatanan hidup di masyarakat. Daya tarik aktivitas perkotaan dengan fasilitas yang lengkap dan tututan kehidupan yang semakin tinggi akan selalu menarik pergerakan penduduk dari kawasan sekitarnya maupun kawasan pedesaan untuk berpindah dan beraktivitas di kawasan perkotaan. Para pendatang (kaum urbanis) kebanyakan merupakan masyarakat dengan pendidikan rendah yang akhirnya tidak mampu memenuhi standar hidup perkotaan. Akibatnya kaum urbanis yang kebanyakan menjadi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut terpaksa harus puas tinggal dengan kaum marjinal lama di kota dan menempati permukiman kumuh. Sejumlah kajian memperkirakan jumlah penduduk perkotaan pada akhir 2025 akan mencapai mendekati 60% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Keadaan ini berpotensi memunculkan masalah seperti terbentuknya kawasan kumuh (slum area) dan backlog di perkotaan. Seperti halnya kota-kota berkembang di Indonesia, kota Solo tidak lepas dari kedua masalah tersebut. Berdasarkan fakta yang diberitakan oleh Solopos pada 23 Agustus 2014 menyatakan bahwa backlog atau kekurangan pasokan perumahan di Soloraya (Solo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali) mencapai 148.463 unit. Diprediksi backlog akan menjadi tidak terkontrol pada 2016 bila tidak segera ditangani dengan beroperasinya tol Solo - Semarang. 1 1 http://www.solopos.com/2014/08/23/properti-di-solo-soloraya-kekurangan-148-463-rumah- 529478, Diakses 13 Oktober 2014 1
Tabel 1.1 Kekurangan Rumah Backlog di Soloraya Kota/Kabupaten Backlog Rumah (unit) Solo 45.242 Sragen 5.648 Karanganyar 6.869 Wonogiri 2.541 Sukoharjo 37.992 Klaten 32.452 Boyolali 17.719 Total 148.463 Sumber: DPD REI Jateng Pada tabel 1.1 terlihat bahwa backlog yang ada di kota Solo merupakan yang terbanyak, yaitu sebanyak 45.242 unit. Salah satu upaya mengatasi masalah kekumuhan dan backlog adalah dengan membangun hunian secara vertikal sehingga penggunaan lahan lebih optimal. Didukung dengan pernyataan oleh Ketua Umum REI, Eddy Hussy yang menjelaskan bahwa ke depan, tren perumahan akan bergeser ke rumah vertikal. 2 Menurut Prayitno (2014:108-109) berdasarkan bentuknya, hunian vertikal dapat didefinisikan menjadi enam macam, yaitu: 1. Rumah sejahtera susun Bangunan bertingkat yang dibangun di sebidang tanah dan terbagi secara struktur horizontal dan vertikal. Bangunan terdiri atas satuan-satuan hunian yang dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, dilengkapi dengan fasilitas bersama berupa bagian, barang, dan tanah bersama. 2. Rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Memiliki definisi yang sama dengan Rumah sejahtera susun, hanya saja dibangun untuk disewakan. Bangunan ini memiliki lobi, koridor sirkulasi, dan fasilitas bersama. 2 http://www.solopos.com/2014/08/23/properti-di-solo-soloraya-kekurangan-148-463-rumah- 529478, Diakses 20 Oktober 2014 2
3. Apartemen servis Apartemen sewa yang dilengkapi dengan servis harian meliputi servis kebersihan, di dalam unit ataupun di koridor dan ruang fasilitas bersama. Kebersihan dalam unit termasuk kebersihan dan penggantian perlengkapan di dalam ruangan, seperti kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. 4. Kondominium Bangunan bertingkat banyak di atas sebidang lahan dan terbagi secara struktur horizontal dan vertikal. Fasilitas bersama termasuk tanah, dimiliki secara proporsi kepemilikan bersama. 5. Kondotel Proyek kondominium yang menjual unit strata-title -nya kepada investor. Proyek kondominium kemudian dioperasikan sebagai sebuah hotel oleh operator hotel yang sudah ditunjuk pengembang. Dengan tingkat hunian dan harga kamar yang dicapai sewaktu operasional, investor dijanjikan mencapai level pengembalian investasi tertentu untuk jangkauan waktu tertentu pada masa awal operasi serta pembagian keuntungan dari proyek hotel setelah dikurangi biaya operasionalnya. 6. Superblok Suatu proyek multiguna yang terdiri dari fungsi perkantoran, hunian, hotel, pusat perbelanjaan, dan ruko yang terbangun oleh beberapa hunian vertikal. Berdasarkan klasifikasi di atas, rumah sejahtera susun dan rumah susun sederhana sewa merupakan hunian vertikal yang dapat diaplikasikan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan untuk meremajakan permukiman kumuh di perkotaan. Konsep pembangunan rumah susun pada hakikatnya dimaksudkan untuk mengatasi masalah kualitas lingkungan yang semakin menurun maupun untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan dalam kota. (Yeh, 1975:186; Hassan, 1997:32). 3 Hal ini juga akan mengatasi masalah pemborosan terhadap 3 http://studyandlearningnow.blogspot.com/2013/06/tinjauan-tentang-rumah-susun.html, Diakses 13 Oktober 2014 3
waktu, biaya, lingkungan karena pencemaran dan sosial karena tersitanya waktu untuk bersosialisasi. Bersumber dari Solopos 16 April 2014, hanya dalam tempo sebulan, peminat rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Mojosongo meningkat 100%. Saat ini rusunawa tersebut telah diincar 200 kepala keluarga (KK). Menurut penuturan Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, kebutuhan rusunawa di Solo dinilai masih perlu ditingkatkan. Melihat peminat yang mendaftar saat ini masih banyak yang harus menunggu realisasi pembangunan rumah susun lagi maka pihaknya berencana mengajukan pembangunan rusunawa di wilayah Pajang dan Banjarsari. 4 Maka dari itu dipilihlah untuk membangun rumah susun di kota Solo. Kota Solo dengan masyarakatnya yang ramah, didominasi oleh suku Jawa yang memiliki budaya keakraban dan kebersamaan tinggi yang termasuk dalam nilai-nilai lokal pada kampung. Banyak nilai-nilai lokal kampung yang positif dan harus dilestarikan namun dengan berubahnya tren hunian menjadi vertikal banyak dari nilai-nilai tersebut mulai hilang dan membuat penghuninya memiliki sifat individualis yang tinggi. Berubahnya tren hunian menjadi vertikal seharusnya dapat tetap melestarikan nilai-nilai tersebut sebab kampung sendiri merupakan asal-muasal suatu komunitas masyarakat yang dapat dikatakan membangun negeri ini, Indonesia. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana merancang hunian yang layak untuk MBR berupa Rusun untuk meremajakan kawasan kumuh di kota Solo terutama di kawasan semanggi 2. Meningkatnya kebutuhan hunian dan kurangnya lahan permukiman sehingga munculnya backlog di kota Solo 3. Bagaimana merancang rusun dengan menerapkan nilai-nilai lokal yang dapat mengakomodasi kebutuhan perumahan MBR di Kota Solo. 4 http://www.solopos.com/2014/04/16/rumah-susun-di-solo-peminat-rusunawa-mojosongotembus-200-kk-502612, Diakses 14 Oktober 2014 4
1.3. Tujuan dan Sasaran 1. Merancang rusun yang layak bagi MBR dan untuk mengatasi masalah permukiman kumuh di kota Solo 2. Mengatasi backlog yang terjadi di kota Solo dengan membangun Rusun 3. Mencoba merancang sebuah Rusun dengan menerapkan nilai-nilai lokal kampung yang dapat mengakomodasi kebutuhan perumahan MBR di Kota Solo. 1.4. Lingkup Pembahasan Lingkup pembahasan menitikberatkan pada berbagai hal perencanaan dan perancangan Rusun yang menerapkan nilai-nilai lokal kampung dengan sasaran penghuni masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Solo. Adapun hal-hal di luar ilmu Arsitektur akan dibahas seperlunya sepanjang masih berkaitan dan mendukung masalah utama. 1.5. Metode Pembahasan A. Pengumpulan Data 1. Data Literatur Data didapatkan dari studi literatur dari berbagai sumber seperti buku, koran, internet, serta media lain yang terkait dengan topik yang dibahas dan pendekatannya. Data ini digunakan sebagai panduan untuk mengobservasi data lapangan dan memperkuat tema yang diangkat. 2. Data Lapangan Data lapangan merupakan data yang didapatkan dari lokasi terpilih. Data tersebut berisi data-data faktual kondisi site beserta permasalahan dan potensi yang dapat dikembangkan. 5
B. Analisis Perencanaan dan Perancangan Analisis perencanaan dan perancangan merupakan metode yang digunakan untuk menganalisa data yang telah didapat berdasarkan acuan dari data literatur dan data dari lapangan. Analisis ini bertujuan untuk meninjau lebih lanjut tentang potensi dan permasalahan sehingga dapat dihasilkan kesimpulan guna penyusunan konsep. C. Perumusan Konsep Perancangan Setelah analisis data, perumusan konsep merupakan tahap akhir untuk menghasilkan rancangan garis besar awal secara sistematis. 1.6. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan Bab ini berisi tentang latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika penulisan, dan keaslian penulisan. BAB II Tinjauan Pustaka dan Preseden Bab ini berisi tentang studi literatur yang diperlukan dan berhubungan dengan tema yang akan dibahas. Bab ini terdiri dari pembahasan mengenai rumah susun (rusun), pengertian permukiman kumuh, pengertian kampung, dan preseden yang digunakan. BAB III Tinjauan Lokasi dan Site Bab ini berisi tentang studi literatur yang diperlukan dan berhubungan dengan tapak yang digunakan. Bab ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mengenai kota lokasi tapak berada dan bagian kedua mengenai kecamatannya. BAB IV Analisis Perencanaan dan Perancangan Bab ini berisi tentang pembahasan mengenai analisis lokasi terpilih serta penerapan nilai-nilai kampung yang nantinya akan menjadi panduan dalam pembuatan konsep perancangan rusun. 6
BAB V Konsep Perancangan Bab ini berisi tentang konsep-konsep perencanaan dan perancangan rusun yang menerapkan nilai-nilai lokal kampung bagi MBR di kota Solo. 1.7. Keaslian Penulisan Penulisan tugas akhir dengan judul RUMAH SUSUN SEMANGGI, SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN NILAI-NILAI LOKAL PADA KAMPUNG belum pernah diusung oleh mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM sebelumnya. Namun, terdapat sejumlah preseden penulisan tugas akhir mahasiswa sebelumnya yang digunakan sebagai referensi. Berikut ini merupakan judul penulisan tugas akhir dan penulisnya: 1. Kampung Susun di Yogyakarta dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan Oleh Abdul Razak Noval (02/157288/TK/27293), tahun 2008 2. Rumah Susun Serangan Dengan Konsep Kampung Vertikal Ekologis Oleh Shinta Rakhmawati (06/192954/TK/31350), tahun 2011 3. Rusunawa Kerkov di Purwodiningratan dengan Pendekatan Green Architecture untuk Mewujudkan Tema Solo Masa Depan Bercermin Solo Masa Lalu Oleh Ita Dwijayanti (07/252321/TK/32849), tahun 2011 7