BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik

BAB III LANDASAN TEORI

(Data Hasil Pengujian Agregat Dan Aspal)

METODOLOGI PENELITIAN. untuk campuran lapis aspal beton Asphalt Concrete Binder Course (AC-

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.

METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

METODOLOGI PENELITIAN

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

III. METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Berikut adalah diagram alir dari penelitian ini : MULAI. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. aspal keras produksi Pertamina. Hasil Pengujian aspal dapat dilihat pada Tabel 4.1

BAB IV HASIL ANALISA DAN DATA Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

Jurnal Sipil Statik Vol.3 No.4 April 2015 ( ) ISSN:

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

Gambar 4.1 Bagan alir penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO)

BAB III LANDASAN TEORI

Agus Fanani Setya Budi 1, Ferdinan Nikson Liem 2, Koilal Alokabel 3, Fanny Toelle 4

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV Metode Penelitian METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian

Sumber: Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 (Revisi 3)

BAB III METODE PENELITIAN

Gambar 4.1. Bagan Alir Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian pada penulisan ini merupakan serangkaian penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dipresentasikan pada gambar bagan alir, sedangkan kegiatan dari masing - masing

BAB III METODE PENELITIAN. perihal pengaruh panjang serabut kelapa sebagai bahan modifier pada campuran

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Agregat dari AMP Sinar Karya Cahaya (Laboratorium Transportasi FT-UNG, 2013)

BAB III LANDASAN TEORI

PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP KEDALAMAN ALUR RODA PADA CAMPURAN BETON ASPAL PANAS

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1.a. Bagan Alir Penelitian

STUDI PENGGUNAAN PASIR SERUYAN KABUPATEN SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH SEBAGAI CAMPURAN ASPAL BETON AC WC

HASIL DAN PEMBAHASAN

NASKAH SEMINAR INTISARI

PENGARUH VARIASI RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT PADA CAMPURAN BERASPAL PANAS JENIS LAPIS TIPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI GRADASI SENJANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. (AASHTO,1998) dan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan tahun 2010.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan. Pengujian Bahan

3. pasir pantai (Pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah), di Laboratorium Jalan Raya Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lataston atau Hot Rolled Sheet

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. Pada pembuatan aspal campuran panas asbuton dengan metode hot mix (AC

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. penetrasi, uji titik nyala, berat jenis, daktilitas dan titik lembek. Tabel 4.1 Hasil uji berat jenis Aspal pen 60/70

dahulu dilakukan pengujian/pemeriksaan terhadap sifat bahan. Hal ini dilakukan agar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DAFTAR ISI UNIVERSITAS MEDAN AREA

VARIASI AGREGAT LONJONG PADA AGREGAT KASAR TERHADAP KARAKTERISTIK LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) I Made Agus Ariawan 1 1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENGGUNAAN STEEL SLAG

BAB III METODE PENELITIAN. aspal dan bahan tambah sebagai filler berupa abu vulkanik.

Zeon PDF Driver Trial

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Yogyakarta dapat disimpulkan sebagai berikut : meningkat dan menurun terlihat jelas.

VARIASI AGREGAT LONJONG SEBAGAI AGREGAT KASAR TERHADAP KARAKTERISTIK LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) ABSTRAK

PEMERIKSAAN BAHAN SUSUN BETON

BAB IV PENGUJIAN JOB MIX FORMULA

Penelitian ini menggunakan tiga macam variasi jumlah tumbukan dan

BAB IV. HASIL dan ANALISA Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

III. METODOLOGI PENELITIAN. mendapatkan data. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, penelitian ini

Jurnal Sipil Statik Vol.3 No.12 Desember 2015 ( ) ISSN:

I Made Agus Ariawan 1 ABSTRAK 1. PENDAHULUAN. 2. METODE Asphalt Concrete - Binder Course (AC BC)

PEMANFAATAN MINYAK PELUMAS BEKAS PADA WARM MIX ASPHALT (WMA) UNTUK LAPIS PERKERASAN JALAN (AC-WC) DI KOTA PALANGKA RAYA (LANJUTAN STUDI SEBELUMNYA)

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia Fakultas

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH JUMLAH TUMBUKAN PEMADATAN BENDA UJI TERHADAP BESARAN MARSHALL CAMPURAN BERASPAL PANAS BERGRADASI MENERUS JENIS ASPHALT CONCRETE (AC)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. dengan variasi sekam padi dan semen sebagai filler, dapat disimpulkan sebagai

PENGARUH SUHU DAN DURASI TERENDAMNYA PERKERASAN BERASPAL PANAS TERHADAP STABILITAS DAN KELELEHAN (FLOW)

Akhmad Bestari, Studi Penggunaan Pasir Pantai Bakau Sebagai Campuran Aspal Beton Jenis HOT

optimum pada KAO, tahap III dibuat model campuran beton aspal dengan limbah

Lampiran 1. Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar. 1/2" (gram)

PENGARUH UKURAN BUTIRAN MAKSIMUM 12,5 MM DAN 19 MM TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN AC-WC

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE BINDER COURSE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA. 1. Bina Marga Petunjuk Pelaksanaan Lapis Tipis Aspal Beton. Saringan Agregat Halus Dan Kasar, SNI ;SK SNI M-08-

PEMANFAATAN LIMBAH ABU SERBUK KAYU SEBAGAI MATERIAL PENGISI CAMPURAN LATASTON TIPE B

BAB IV METODE PENELITIAN

METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT HALUS

PENGARUH KEPADATAN MUTLAK TERHADAP KEKUATAN CAMPURAN ASPAL PADA LAPISAN PERMUKAAN HRS-WC

Hasil Pengujian Berat Jenis Agregat Kasar

Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus (Pasir) (SNI ) Berat Tertahan (gram)

Jurnal Sipil Statik Vol.4 No.12 Desember 2016 ( ) ISSN:

ANALISIS STABILITAS CAMPURAN BERASPAL PANAS MENGGUNAKAN SPESIFIKASI AC-WC

LAMPIRAN A HASIL PENGUJIAN AGREGAT

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK AGREGAT KASAR PULAU JAWA DENGAN AGREGAT LUAR PULAU JAWA DITINJAU DARI KEKUATAN CAMPURAN PERKERASAN LENTUR

Alik Ansyori Alamsyah Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang

PERBANDINGAN FILLER PASIR LAUT DENGAN ABU BATU PADA CAMPURAN PANAS ASPHALT TRADE BINDER UNTUK PERKERASAN LENTUR DENGAN LALU LINTAS TINGGI

BAB III DESAIN DAN METODE PENELITIAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

TINJAUAN VOID CAMPURAN ASPAL YANG DIPADATKAN MENGGUNAKAN ALAT PEMADAT ROLLER SLAB (APRS) DAN STAMPER

DAFTAR PUSTAKA. Abdullah.(1998):Pemanfaatan Asbuton untuk Lasbutag dan Latasbusir, Direktorat

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

Transkripsi:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan dalam bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil pengujian Marshall dapat disimpulkan bahwa sifat campuran beraspal terhadap penggunaan filler semen kupang dan filler abu batu sebagai pembandingya memberikan hasil : a) Nilai Stabilitas Marshall dengan pemakaian filler semen kupang memiliki nilai lebih tinggi dari pada campuran dengan menggunakan filler abu batu. Nilai stabilitas tertinggi terjadi pada kadar aspal 5,5 % yaitu (1624,04 kg), untuk filler abu batu (1452,26 kg). b) Pada keseluruhan kadar aspal nilai flow campuran dengan filler abu batu lebih tinggi dari pada campuran dengan menggunakan filler semen kupang. Nilai tertinggi pada filler abu batu sebesar 5,65 mm, sedangkan filler semen kupang 3,95 mm. c) Marshall Qoutient untuk kedua jenis filler, nilai tertinggi terjadi pada kadar aspal ( 5,5 %) yaitu sebesar 506,99 kg/mm untuk filler semen kupang dan 425,00 kg/mm untuk filler abu batu. Sedangkan pada keseluruhan kadar aspal filler semen kupang memenuhi nilai Marshall Qoutient yaitu disyaratkan minimum 250 kg/mm. Jika dibandingkan dengan filler abu batu pada kadar aspal tertinggi ( 7%) nilai terendah 202,36 kg/mm (dibawah batas spesifikasi yang disyaratkan). Hal ini menunjukan bahwa campuran Laston yang menggunakan filler abu batu cenderung lebih fleksibel dari pada campuran Laston yang menggunakan filler semen Kupang bersifat lebih kaku. d).filler semen kupang memiliki nilai rongga terisi aspal (VFB) lebih tinggi dibandingkan dengan filler abu batu, namun nilai rongga dalam agregat (VMA) lebih rendah. Sedangkan nilai rongga udara dalam campuran (VIM), untuk filler abu batu lebih tinggi dari pada filler semen kupang, atau filler abu batu daya serap terhadap aspal lebih tinggi dibandingkan filler semen kupang. 2. Kadar aspal optimum (KAO) untuk campuran dengan menggunakan filler abu batu lebih tinggi dari pada filler semen Kupang, yaiitu 5,90% untuk filler abu batu dan 5,70% untuk filler semen Kupang. Hal ini disebabkan karena perbedaan berat jenis pada kedua filler tersebut. Abu batu memiliki berat jenis yang lebih rendah

dibandingkan filler semen kupang, sehingga mengakibatkan volume abu batu menjadi lebih besar, dimana filler abu batu membutuhkan aspal lebih banyak dibandingkan filler semen kupang. 5.2 Saran 1. Pada lalu lintas dengan beban kendaraan berat sebaiknya menggunakan campuran Laston (AC-WC) dengan filler semen Kupang yang mana lebih bisa menahan stabilitas yang tinggi dibandingkan dengan filler abu batu. Sedangkan Dalam memenuhi tingkat kenyamanan pengguna jalan dengan kondisi kendaraan ringan dan bebas dari genangan, penggunaan abu batu sebagai filler mempunyai kelenturan yang lebih baik dari filler semen Kupang yang cenderung lebih kaku. 2. Dalam penelitian selanjutnya disarankan perlu memperhatikan ketelitian dalam pembuatan benda uji seperti proporsi campuran, ketelitian pencampuran pemadatan dan pembacaan dalam Marshall agar mendapat angka yang lebih akurat. 3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan apabila meneruskan dan mengembangkan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum, 2010. Spesifikasi Bina Marga Revisi 2, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta Indonesia Dappa A, 2000, Pengaruh Bermacam macam Filler terhadap Karakteistik Campuran Lapis Aspal Beto, Skripsi Fakultas Teknik Jurusan Sipil UNWIRA Hidayat S, 2009, Semen Jenis dan Aplikasinya, Kawan Pustaka, Jakarta. Lake A, 2005, Pemanfaatan Semen sebagai Pengganti Filler dengan dan tanpa Penyetaraan Volume pada Campuran Hot-Mix, Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang. Kalogo E., 2003, Perancangan Perkerasan Jalan (Buku Ajar), Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang. Mulyono T, 2003, Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta. Standar Nasional Indonesia, Pengujian Campuran Beraspal dengan Alat Marshall (AASHTHO T 245 1978) Sukirman S.,2010, Perencanaan Tebal Struktur Perkerasan Lentur, Nova, Bandung. Sukirman S,2003, Beton Aspal Campuran Panas, Granit, Bandung.

LAMPIRAN I PEMERIKSAAN MATERIAL (SNI PENGUJIAN)

Pengujian Analisa Saringan/Gradasi (SNI 03 1968 1990) Maksud pemeriksaan ini adalah untuk menentukan pembagian butiran (gradasi) dari agregat kasar, agregat halus dan bahan pengisi (filler) dengan menggunakan saringan. 1. Peralatan a. Saringan ukuran ¾, ½, 3/8 No. 4, No. 8, No.16, No. 30, No. 50, No.100, No. 200. b. Timbangan dengan kapasitas 5 kg c. Alat pemisah contoh (quartering) d. Pan 2. Benda uji Benda uji adalah agregat kasar, agregat halus, dan bahan pengisi (filler) Hasil quartering. 3. Langkah langkah pemeriksaan a. Benda uji hasil quartering ditimbang untuk mendapatkan berat benda uji total. b. Cuci benda uji sampai bersih c. Masukkan benda uji ke dalam oven selama 24 jam d. Ayak benda uji dengan menggunakan saringan dimulai dari nomor saringan terbesar. e. Timbang benda uji yang tertahan di atas masing-masing saringan.

Pengujian Keausan Agregat (Abrasi) dengan Mesin Los Angeles (SNI 03 2417-1991) Maksud dari pengujian ini adalah untuk mengetahui angka keausan yang dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lolos saringan No. 12 1. Peralatan a. Saringan ukuran ¾, ½, 3/8 dan No. 12 b. Oven c. Timbangan dengan kapasitas 5 kg d. Los Angeles Abrasion Machine e. Pan 2. Benda uji Benda uji adalah agregat yang lolos saringan No. ¾, tertahan saringan No. ½ dan lolos saringan No. ½, tertahan saringan 3/8. 3. Langkah-langkah Pemeriksaan a. Benda uji yang ada dicuci sampai bersih kemudian dimasukkan ke dalam oven dan dibiarkan selama 24 jam. b. Setelah benda uji dikeluarkan dari dalam oven lalu dihampar agar suhu agregat menjadi dingin. c. Kedua kelompok benda uji tersebut ditimbang, masing-masing beratnya 2500 gram sehingga berat totalnya menjadi 5000 gram d. Buka tutup drum (Los Angeles Abrasion Machine) lalu masukkan benda uji yang sudah dipersiapkan tadi beserta bola baja ke dalam drum sebanyak 11 buah. e. Drum ditutup kembali dan hidupkan lampu power. f. Atur mesin untuk 500 putaran dan waktu diatur sehingga didapat 33 putaran per menit. Untuk kekurangan putaran digunakan counter lalu diputar lagi sebanyak kekurangannya. g. Pasang pan dibawah drum. Setelah diputar, tutup drum dibuka lalu diambil bola baja kemudian agregat tadi dituangkan ke dalam pan. h. Benda uji hasil di ayak dengan saringan No. 12. Benda uji yang tertahan No. 12 yang digunakan untuk langkah pengujian selanjutnya. i. Benda uji yang tertahan No. 12 dicuci sampai bersih. j. Masukkan benda uji ke dalam oven selama 24 jam. k. Benda uji dikeluarkan dari dalam oven lalu dihampar agar suhu benda uji menjadi dingin. l. Timbang benda uji tersebut kemudian hitung nilai keausan / abrasi.

Pengujian Kadar Lumpur Agregat Halus (SNI 4428 1997) Maksud dari pengujian ini adalah untuk menentukan besarnya kadar lumpur yang terkandung dalam agregat halus. 1. Perlalatan a. Timbangan dengan kapasitas 5 kg b. Oven c. Pan 2. Benda uji Benda uji adalah agregat halus (pasir) 3. Langkah langkah pemeriksaan a. Benda uji diletakkan di dalam pan lalu dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam b. Keluarkan benda uji dari dalam oven lalu dinginkan c. Timbang benda uji d. Cuci benda uji sampai bersih kemudian masukkan benda uji ke dalam oven selama 24 jam. e. Keluarkan benda uji dari dari dalam oven lalu dinginkan. Setelah itu timbang kembali benda uji tersebut.

Pengujian Marshall (SNI 4428 1997) Maksud dari pengujian ini adalah untuk menentukan langsung besarnya nilai ketahanan (stabilitas) dan kelelehan plastis (flow) dari benda uji. Selain stabilitas dan kelelehan plastis, pengujian dengan metode marshall juga menghasilkan parameterparameter marshall seperti VIM, VMA, dan VFB 1. Peralatan a. Cetakan benda uji b. Mesin penumbuk c. Extruder (alat pengeluaran benda uji) d. Oven e. Pan f. Neraca ohaus g. Spatula h. Alat test Marshall yang dilengkapi dengan kepala penekan, arloji pengukur alir (flow) dan arloji pengukur tekan (stabilitas) i. Bak perendaman (water bath) j. Pengukur suhu k. Wajan dan sendok pengaduk untuk mencampur agregat dengan aspal l. Kompor 2. Benda uji Benda adalah agregat kasar, agregat halus, bahan pengisi dan aspal penetrasi 60/70. 3. Langkah-langkah pemeriksaan a. Timbang masing masing jenis agregat sebagai benda uji sesuai dengan proporsi yang ada kemudian masukkan dalam oven selama 24 jam b. Panaskan aspal dengan kompor dengan berkisar antara 150 o C hingga mencapai nilai kekentalan (viscositas) yang baik untuk pekerjaan pencampuran maupun pemadatan/penumbukan. c. Pencampuran dilakukan sebagai berikut : 1. Keluarkan agregat dari dalam oven dan masukkan ke dalam wajan yang telah ditimbang berat kosongnya. 2. Timbang berat wajan + agregat 3. Letakkan wajan yang telah terisi agregat di atas neraca ohaus dan tuang aspal yang dibutuhkan ke dalamnya. 4. Aduk cepat dengan suhu berkisar antara 149 o C - 154 o C yang disyaratkan sampai agregat terselimuti aspal secara merata. d. Pemadatan / penumbukan dilakukan sebagai berikut : 1. Siapkan mesin penumbuk beserta cetakan untuk benda uji

2. Letakkan cetakan benda uji pada landasan pemadat tahan dan letakkan selembar kertas ke dalam dasar cetakan (ukurannya sesuaikan dengan diameter cetakan) 3. Masukkan campuran yang telah dicampur rata ke dalam cetakan dan tusuktusuk dengan spatula yang sudah dipanaskan sebanyak 15 kali lalu tutup permukaan campuran dengan kertas. 4. Lakukan pemadatan dengan mesin penumbuk sebanyak 2 x 75 tumbukan. Harus diingat bahwa selama pemadatan berlangsung suhu yang ada berkisar antara 144 o C - 148 o C. 5. Setelah selesai penumbukan, angkat cetakan yang berisi benda uji dari mesin penumbuk. Keluarkan benda uji dari cetakan dengan menggunakan extruder dan simpan pada tempat yang rata permukaannya selama 24 jam. e. Setelah 24 jam, bersihkan benda uji dan ditimbang : 1. Berat kering 2. Berat dalam air 3. Berat kering permukaan f. Test Marshall dengan langkah sebagai berikut : 1. Panaskan air dalam water bath hingga mencapai suhu 60 o C. 2. Masukkan benda uji dalam water bath dan dan panaskan selama 30 menit 3. Setelah 30 menit, keluarkan benda uji dari water bath dan letakkan pada kepala penekan. Pasang kepala penekan pada alat Marshall 4. Pasang arloji pengukur alir (flow) pada alat test Marshall dan atur sehingga jarum penunjuknya tepat berada pada angka nol. Sementara itu tangkai arloji tetap dipegang. 5. Kepala penekan serta benda uji dinaikan hingga menyentuh alas cincin penguji dan atur arloji tekan (stabilitas) pada kedudukan angka nol. 6. Lakukan pengujian dengan memberikan beban pada benda uji dengan kecepatan tetap sampai tercapainya pembebanan maksimum (benda uji menjadi retak). Catat nilai pembebanan maksimum (stabilitas) yang dicapai dan nilai alir (flow) yang ditunjuk oleh arloji pengukur pada saat pembebanan maksimum tercapai.

METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT KASAR SNI 03-1969-1990 RUANG LINGKUP : Metode pengujian ini dilakukan pada tanah jenis agregat kasar, yaitu yang tertahan oleh saringan berdiameter 4,75 mm (saringan No. 4). RINGKASAN : Metode ini sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan berat jenis curah, berat jenis kering permukaan jenuh, berat jenis semu dan penyerapan dari agregat kasar. Tujuannya untuk memperoleh angka berat jenis tersebut dan angka penyerapan. Peralatan yang digunakan antara lain keranjang kawat No. 6 atau No. 8, tempat air, timbangan, oven, saringan No. 4. Benda uji adalah agregat yang tertahan oleh saringan berdiameter 4,75 mm (saringan No. 4), yang diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara penempatan, sebanyak kira-kira 5 kg. Prosedur pengujian meliputi tahapan sebagai berikut: cuci benda uji, keringkan dalam oven, kemudian dinginkan. Timbang dengan ketelitian 0,5 gr (Bk), rendam benda uji dalam air selama 24 jam. Selanjutnya keluarkan benda uji dari air lalu ditimbang benda uji kering permukaan jenuh (Bj), letakkan benda uji di dalam keranjang dan goncangkan batunya lalu tentukan beratnya di dalam air (Ba). Kemudian hitung berat jenis curah, berat jenis kering - permukaan jenuh, berat jenis semu, dan penyerapan dengan menggunakan rumus-rumus berikut: Berat Jenis curah = Bk / Bj Ba Berat jenis kering - permukaan jenuh = Bj / (B Ba) Berat jenis semu = Bk /(Bk Ba) Penyerapan = 100 ( Bj Bk) /Bk Bk : berat benda uji kering oven; B : berat benda uji kering oven permukaan jenuh; Bj: berat benda uji kering oven permukaan jenuh di dalam air; Hasil pengujian ini dapat digunakan dalam pekerjaan; penyelidikan quarry agregat; perencanaan campuran, pengendalian mutu beton, perencanaan campuran dan pengendalian mutu perkerasan jalan.

METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT HALUS SNI 03-1970-1990 RUANG LINGKUP : Metode pengujian ini dilakukan pada tanah jenis agregat halus yaitu lolos saringan No. 4 (4,75 mm). RINGKASAN : Metode ini sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan berat jenis curah, berat jenis kering permukaan Jenuh, berat jenis semu dan angka penyerapan dari agregat halus. Tujuannya untuk mendapatkan angka berat jenis tersebut dan angka penyerapan. Peralatan yang digunakan antara lain : timbangan, piknometer, saringan No. 4, oven, desikator, dll. Benda uji adalah agregat yang lolos saringan No. 4 (4,75 mm} diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara penempatan sebanyak 100 gr. Prosedur pengujian sebagai berikut: keringkan benda uji dalam oven selama 2 Jam, dinginkan kemudian rendam dalam air seiama (24 + 4) jam. Buang air perendam dan keringkan di udara panas sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh. Setelah tercapai kering permukaan jenuh masukkan 500 gr benda uji ke dalam piknometer, lalu rendam piknometer dalam air, kemudian tambahkan air sampai mencapai tanda batas. Timbang piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gram (Bt). Keluarkan benda uji, lalu keringkan dalam oven dan dinginkan dalam desikator, kemudian timbang (Bk).Tentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan suhu standar 250C (B). Hitung berat jenis curah, berat jenis kering permukaan jenuh, berat jenis semu, dan penyerapan dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut: Berat jenis curah = Bk / (B + 500 Bt) Berat jenis kering - permukaan jenuh = 500 / (B =+ 500 B) Berat jenis semu = B k /(B + Bk B t) Penyerapan =100 (500 Bk) /Bk Bk : berat benda uji kering oven; B : berat piknomneter berisi air; Bj : berat p[iknometer berisi benda uji dan air; Ba : berat berat benda uji kering oven permukaan jenuh.

LAMPIRAN II HASIL PENGUJIAN DENGAN MENGGUNAKAN FILLER SEMEN KUPANG

Bahan 1. Batu Pecah 3/4" Ex. Bipolo 2. Batu Pecah 1/2" Ex. Bipolo 3. Abu Batu Ex. Bipolo 4. Pasir Alam Ex. Bipolo 5 Aspal Pen.60/70 Ex. Pertamina 6 Filler (Semen Kupang) Komposisi NO KOMPONEN SATUAN PROPORSI SPESIFIKASI KETERANGAN 1 Batu Pecah 3/4" % 15.088 - Tidak disyaratkan 2 Batu Pecah 1/2" % 37.720 - Tidak disyaratkan 3 Abu Batu % 30.176 - Tidak disyaratkan 4 Pasir Alam % 9.430-15 5 Filler % 1.886-2 Sifat-Sifat NO SIFAT-SIFAT SATUAN HASIL SPESIFIKASI KETERANGAN 1 Kadar Aspal Total % 5.70 - Tidak disyaratkan 2 Berat Jenis Maksimum Campuran (Gmm) - 2.38 - Tidak disyaratkan 3 Berat Jenis Aspal - 1.030 - Tidak disyaratkan 4 Berat Jenis Bulk Agregat - 2.581 - Tidak disyaratkan 5 Proporsi Agregat % 94.30 - Tidak disyaratkan 6 Penyerapan Aspal % 0.037 Max 1.2 Memenuhi 7 Kadar Aspal Efektif % 5.663 4,3 Memenuhi 8 Berat Jenis Contoh Camp. Padat (Gmb) - 2.290 - Tidak disyaratkan 9 Stabilitas Marshall Kg 1575.41 Min 800 Memenuhi 10 Kelelehan Marshall mm 3.240 Min 3 Memenuhi 11 Marshall Quotient kg/mm 484.46 Min 250 Memenuhi 12 Rongga dalam campuran (VIM) % 3.75 3,5-5,0 Memenuhi 13 Rongga dalam agregat (VMA) % 16.35 Min 15 Memenuhi 14 Rongga terisi aspal (VFB) % 77.15 Min 65 Memenuhi

FORMULIR No. Formulir Terbitan/Revisi Tanggal Revisi PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DINAS PEKERJAAN UMUM BIDANG BINA PROGRAM DAN BINA TEKNIK JL. W.J. LALAMENTIK NO.20 Telp. (0380) 826553,838149,824009,833645 - Kupang KOMPOSISI CAMPURAN ASPAL Halaman 1 dari 1 Nama Judul Penelitian Jenis Campuran : Randy Rihi Nawa : Karakteristik Campuran Lapis Aspal Beton (Laston) Asphalt Concrete - Wearing Course (AC -WC) Dengan Menggunakan Filler Semen Kupang (Suatu Perbandingan dengan Filler Abu Batu ) : Campuran Laston (AC-WC Gradasi Kasar) U R A I A N NILAI SATUAN Proporsi Fraksi Kasar (CA) 65.55 % Proporsi Fraksi Halus (FA) 28.03 % Proporsi Fraksi Bahan Pengisi (FF) 6.41 % Nilai Konstanta (K) ditetapkan 1.00 Perkiraan Kadar Aspal (Pb) 5.71 % Rumus : Pb = 0.035(CA) + 0.045(MA) + 0.18(FF) + K KOMPONEN KOMPOSISI KADAR ASPAL RENCANA (%) AGREGAT 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 (a) BATU PECAH 3/4 16.00% 15.28 15.20 15.12 15.04 14.96 14.88 (b) BATU PECAH 1/2 40.00% 38.20 38.00 37.80 37.60 37.40 37.20 (c) ABU BATU 32.00% 30.56 30.40 30.24 30.08 29.92 29.76 (d) PASIR ALAM 10.00% 9.55 9.50 9.45 9.40 9.35 9.30 (e) FILLER (Semen) 2.00% 1.91 1.90 1.89 1.88 1.87 1.86 TOTAL AGG CAMPURAN (%) 100% 95.5 95.0 94.5 94.0 93.5 93.0 TOTAL CAMPURAN (%) 100 100 100 100 100 100 KOMPOSISI CAMPURAN BERAT TIMBANGAN (Gr) KADAR ASPAL RENCANA % 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 (a) BATU PECAH 3/4 Gram 183.4 182.4 181.4 180.5 179.5 178.6 (b) BATU PECAH 1/2 Gram 458.4 456.0 453.6 451.2 448.8 446.4 (c) ABU BATU Gram 366.7 364.8 362.9 361.0 359.0 357.1 (d) PASIR ALAM Gram 114.6 114.0 113.4 112.8 112.2 111.6 (e) FILLER (Semen) 22.9 22.8 22.7 22.6 22.4 22.3 BERAT AGREGAT CAMPURAN (Gr) 1146.0 1140.0 1134.0 1128.0 1122.0 1116.0 BERAT ASPAL (Gr) 54.0 60.0 66.0 72.0 78.0 84.0 BERAT RENCANA TOTAL CAMPURAN (Gr) 1200.0 1200.0 1200.0 1200.0 1200.0 1200.0

FORMULIR No. Formulir Terbitan/Revisi Tanggal Revisi PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DINAS PEKERJAAN UMUM BIDANG BINA PROGRAM DAN BINA TEKNIK JL. W.J. LALAMENTIK NO.20 Telp. (0380) 826553,838149,824009,833645 - Kupang PENGUJIAN BERAT JENIS CAMPURAN MAKSIMUM (GMM) Halaman 1 dari 1 Nama : Randy Rihi Nawa Judul Penelitian : Karakteristik Campuran Lapis Aspal Beton (Laston) Asphalt Concrete - Wearing Course (AC -WC) Dengan Menggunakan Filler Semen Kupang (Suatu Perbandingan dengan Filler Abu Batu ) Jenis Campuran : Campuran Laston (AC-WC Gradasi Kasar) Metode Uji : SNI 03-6893-2002 Uraian Satuan Nomor contoh 1 2 3 Berat fiqnometer + benda uji A gr 2710.00 2720.00 Berat fiqnometer B gr 1521.00 1521.00 Berat benda uji A - B = C gr 1189.00 1199.00 Berat fiqnometer + air D gr 3756.00 3756.00 Berat piqnometer + air + benda uji E gr 4449.00 4448.00 Berat Jenis C C + D - E F gr/cc 2.397 2.365 Suhu Air G C 27 27 Koreksi Suhu H C 0.999 0.999 Berat Jenis (F x H) gr/cc 2.395 2.363 Rata-rata 2.379

FORMULIR No. Formulir Terbitan/Revisi Tanggal Revisi PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DINAS PEKERJAAN UMUM BIDANG BINA PROGRAM DAN BINA TEKNIK JL. W.J. LALAMENTIK NO.20 Telp. (0380) 826553,838149,824009,833645 - Kupang PERHITUNGAN BERAT JENIS GABUNGAN Halaman 1 dari 1 Nama : Randy Rihi Nawa Judul Penelitian : Karakteristik Campuran Lapis Aspal Beton (Laston) Asphalt Concrete - Wearing Course (AC -WC) Dengan Menggunakan Filler Semen Kupang (Suatu Perbandingan dengan Filler Abu Batu ) Jenis Campuran : Campuran Laston (AC-WC Gradasi Kasar) KOMPONEN PROPORSI AGREGAT BERAT JENIS BULK AGREGAT BERAT JENIS BULK AGREGAT GABUNGAN (a) BATU PECAH 3/4" 16% 2.615 6.118 (b) BATU PECAH 1/2" 40% 2.547 15.707 (c) ABU BATU 32% 2.580 12.402 (d) PASIR ALAM 10% 2.576 3.882 (e) SEMEN (FILLER) 2% 3.150 0.635 Berat Jenis Agregat 100% 38.74 2.581

FORMULIR No. Formulir Terbitan/Revisi Tanggal Revisi PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DINAS PEKERJAAN UMUM BIDANG BINA PROGRAM DAN BINA TEKNIK JL. W.J. LALAMENTIK NO.20 Telp. (0380) 826553,838149,824009,833645 - Kupang PENGUJIAN CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL Halaman 1 dari 1 Nama : Randy Rihi Nawa Judul Penelitian : Karakteristik Campuran Lapis Aspal Beton (Laston) Metode Uji : SNI 06-2489-1991 Asphalt Concrete - Wearing Course (AC -WC) semen Dengan Menggunakan Filler Semen Kupang (Suatu Perbandingan dengan Filler Abu Batu ) Jenis Campuran : Campuran Laston (AC-WC Gradasi Kasar) Kal. Prov. Ring (Kg) 12.03 No. a b c d e f g h i j k l m n o p q r 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4.5 4.5 4.5 5.0 5.0 5.0 5.5 5.5 5.5 6.0 6.0 6.0 6.5 6.5 6.5 7.0 7.0 7.0 1192.40 1190.10 1187.30 1187.70 1190.35 1190.20 1184.20 1183.73 1189.28 1173.62 1168.75 1173.22 1174.39 1176.67 1174.06 1185.18 1188.26 1187.01 1194.11 1195.22 1190.44 1191.13 1197.55 1193.01 1185.27 1185.18 1194.45 1177.35 1189.53 1176.73 1177.43 1179.59 1178.31 1188.62 1191.06 1191.33 668.73 672.06 669.29 671.38 674.67 671.95 667.69 668.05 674.49 669.79 671.68 669.12 662.40 662.48 665.23 668.17 668.71 669.85 525.38 523.16 521.15 519.75 522.88 521.06 517.58 517.13 519.96 507.56 517.85 507.61 515.03 517.11 513.08 520.45 522.35 521.48 2.270 2.275 2.419 2.419 16.03 15.83 6.19 5.97 61.38 62.28 100 98 2.278 2.419 15.71 5.83 62.87 97 1166.9 1166.9 2.70 432.2 4.50 7.94 2.274 2.419 15.85 6.00 62.18 1151.2 2.72 423.8 4.48 7.89 2.285 2.402 15.89 4.88 69.30 114 1371.4 1371.4 3.00 457.1 4.96 8.80 2.277 2.284 2.402 2.402 16.21 15.93 5.24 4.92 67.69 69.12 117 117 1203.0 1178.9 1407.5 1407.5 1154.9 1131.8 1407.5 1407.5 2.282 2.402 16.01 5.01 68.70 1395.5 3.08 452.7 4.98 8.82 2.288 2.289 2.287 2.386 2.386 2.386 16.23 16.19 16.26 4.09 4.05 4.12 74.78 75.00 74.64 134 136 135 1612.0 1636.1 1624.1 1612.0 1636.1 1624.1 2.75 2.70 3.10 3.15 3.20 3.19 3.22 420.0 419.2 454.0 446.8 503.8 512.9 504.4 4.46 4.46 4.96 5.00 5.46 5.46 5.50 2.288 2.386 16.23 4.09 74.81 1624.1 3.20 507.0 5.48 9.76 2.312 2.257 2.311 2.369 2.369 2.369 15.79 17.81 15.83 2.40 4.74 2.44 84.81 73.40 84.57 128 130 129 1539.8 1563.9 1551.9 1539.8 1563.9 1551.9 3.20 3.30 3.40 481.2 473.9 456.4 5.96 5.96 6.00 7.87 7.87 8.80 8.86 9.74 9.74 9.80 10.69 10.69 2.293 2.369 16.47 3.19 80.93 1551.9 3.30 470.5 5.98 10.71 2.280 2.275 2.288 2.353 2.353 2.353 17.40 17.57 17.11 3.09 3.29 2.75 82.26 81.28 83.95 113 113 115 1359.4 1359.4 1383.5 1359.4 1359.4 1383.5 3.40 3.50 3.70 399.8 388.4 373.9 6.47 6.47 6.50 10.75 11.64 11.64 2.281 2.353 17.36 3.04 82.50 1367.4 3.53 387.4 6.48 11.67 2.277 2.275 2.337 2.337 17.95 18.04 2.55 2.65 85.80 85.30 98 99 2.276 2.337 17.98 2.59 85.59 99 1191.0 1191.0 4.00 297.7 7.00 12.68 2.276 2.337 17.99 2.60 85.56 1187.0 3.95 300.5 6.98 12.63 G mm * : 2.379 Ka G mm : 5.71 Bj. agregat bulk : 2.581 Bj. agregat eff. : 2.584 Bj. aspal : 1.030 Abs. Aspal : 0.037 1178.9 1191.0 1178.9 1191.0 3.90 3.95 302.3 301.5 6.97 6.97 11.71 12.61 12.61

LAMPIRAN III Dokumentasi Penelitian

Lokasi Stockpile Bipolo PT.Hutama Mitra Nusantara Pengambilan Material pada Stockpile dengan cara System Random Sampling Pemisahan Material dengan Cara Quartering

Pengujian Keausan Agregat (Abrasi) dengan Mesin Los Angeless Perendaman Material dalam Air Penimbangan Agregat Kasar dalam Air untuk Pengujian Berat Jenis

Penghamparan Agregat Kasar hingga Kondisi Kering Permukaan Jenuh (SSD) Pemasukan Agregat ke dalam Oven Pemeriksaan Kondisi SSD pada Agregat dengan menggunakan Kerucut Terpancung

Pengujian Berat Jenis Agregat Pengujian Analisa Saringan Agregat Persiapan Campuran Agregat

Pencampuran Agregat dengan Aspal (Benda Uji) Pemadatan Benda Uji Pengeluaran Benda Uji dari Cetakan menggunakan Extruder

Benda Uji AC-WC Perendaman Benda Uji menggunakan Water Bath Pengujian Marshall