BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkatnya jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat kearah protein hewani telah meningkatkan kebutuhan akan daging sapi. Program swasembada daging sapi adalah bagian tak terpisahkan dari program revitalisasi pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan yang dicanangkan Presiden Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005. Targetnya, memenuhi kebutuhan minimal protein hewani asal daging 10,1 kg per kapita, yang saat ini baru dicapai sekitar 8 kg per kapita. Sedangkan kontribusi daging sapi baru mencapai 1,84 kg per kapita (2007). Dari program tersebut diharapkan kontribusi dari daging sapi akan mencapai sekitar 2 kg per kapita pada 2010. Menurut data dari Direktorat Jenderal Peternakan (2009), Indonesia dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 mencapai 230 juta jiwa, total permintaan daging sapi mencapai kurang lebih 400 ribu ton. Jumlah ini dipenuhi dari pemotongan ternak dalam negeri sebesar 330 ribu ton (setara dengan 2,2 juta ekor sapi) dan daging impor 70 ribu ton. Angka ini terus meningkat, bahkan menurut penelitian Kariyasa (2005), selama 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan permintaan 1,78 persen per tahun, sementara produksi daging sapi hanya bisa meningkat 0,002 persen per tahun. Diberlakukannya perdagangan bebas, dalam bidang peternakan disatu sisi merupakan peluang dan disisi lain sekaligus juga merupakan sebuah tantangan bagi peternak-peternak Indonesia. Dari aspek produksi hal tersebut sangat tergantung kepada harga sarana produksi, seperti pakan dan harga komoditas peternakan dan efisiensi produksi. Biaya produksi diduga akan naik, tergantung kepada komponen impor bahan baku industri pakan dan obat hewan serta bibit unggul. Sementara itu, harga produk peternakan diduga akan turun, sehingga peternakan dihadapkan pada persaingan terbuka dengan negara-negara produsen lebih maju yang tentunya sudah efisien dalam biaya produksi. Sumatera Utara dengan jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 13.042.317 jiwa dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,57 persen per tahun (BPS Sumut, 2008) memiliki tingkat konsumsi daging sapi pada tahun 2008 baru mencapai 0,99 kg per kapita dengan pertumbuhan konsumsi 17.82 persen (Dinas Peternakan Sumatera Utara, 2008). Angka ini masih jauh dari angka rata-rata konsumsi nasional sebesar 1,84 kg per kapita
(2007). Total produksi daging sapi di Sumatera Utara pada tahun 2008 adalah 12.957,96 ton dengan pertumbuhan rata-rata 46.40 persen per tahun. Tahun 2008 tercatat jumlah pemasukan sapi ke Sumatera Utara adalah 66.000 ekor dengan tingkat pemotongan ternak mencapai 69.000 ekor. Peran ternak potong lokal hanya mampu memenuhi 3.000 ekor (5%) dari total pemotongan (Sembiring, 2009). Hasil penelitian Siregar (2009) menyebutkan bahwa pertumbuhan sapi potong di Sumatera utara berjalan sangat lambat, yaitu rata-rata sebesar 0,24 persen per tahun, sedangkan jumlah pemotongan mencapai 21,24 persen. Kekurangan ini biasanya ditutupi dari pemasukan propinsi lain (Lampung) dan impor dari Australia yang mencapai 50 ribu ekor per tahun. Potensi sumber daya peternakan yang dimiliki wilayah Propinsi Sumatera Utara sebenarnya sangatlah besar, antara lain dari sisi penyediaan pakan yang dapat tersedianya bahan baku dari limbah pertanian dan perkebunan. Hasil laporan Siregar (2009), salah satu potensi Sumatera Utara yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan sapi potong adalah hasil samping perkebunan berupa bungkil inti sawit, serat sawit, pelepah daun sawit, lumpur sawit, tepung umbut sawit, pod kakao, pucuk tebu, dan molases. Selanjutnya disebutkan bahwa dengan areal luas perkebunan kelapa sawit sebesar lebih dari 1 juta hektar, potensi hasil samping perkebunan ini dapat menampung pengembangan sapi potong lebih dari 800 ribu ekor sapi per tahun. Angka ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pemotongan yang 69.000 ekor per tahun. Peningkatan kontribusi daging sapi sebagai sumber protein hewani ini dapat didekati dari sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, rendahnya permintaan daging sapi dapat diduga karena bagi sebagian penduduk masih menganggap konsumsi mewah, sehingga permintaannya hanya pada hari-hari tertentu saja (hari besar keagamaan). Tingginya harga daging sapi dan rendahnya daya beli masyarakat (rendahnya pendapatan per kapita) diperkirakan juga menjadi faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan daging sapi. Harga daging ayam, harga ikan dan harga telur yang relatif lebih murah juga mempengaruhi konsumen dalam mengganti jenis sumber proteinnya. Mahalnya harga sapi bakalan impor maupun lokal dan rendahnya daya beli masyarakat menjadi penyebab tidak berkembangnya usaha ternak (inelastis) dilihat dari sisi penawaran, Padahal, jika hanya mengandalkan produksi peternakan rakyat akan sangat
sulit dilakukan efisiensi produksi. Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam memacu produksi ternak dalam negeri seperti : pengembangan pakan ternak, peningkatan mutu bibit melalui program inseminasi buatan dan embrio transfer serta dan program pemberantasan penyakit ternak. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. Bagaimana usaha peternakan sapi di Sumatera Utara sebagai sumber produksi daging?, 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan daging sapi?, 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penawaran daging sapi?, 4. Bagaimana elastisitas (respon) harga terhadap permintaan daging sapi?, 5. Bagaimana elastisitas (respon) pendapatan masyarakat terhadap permintaan daging sapi?, 6. Bagaimana elastisitas (respon) silang antara daging ayam dengan daging sapi?, 7. Bagaimana elastisitas (respon) harga terhadap penawaran daging sapi?. a. Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah : 1. Menerangkan usaha peternakan sapi di Sumatera Utara sebagai sumber produksi daging, 2. Menguraikan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan daging sapi, 3. Menguraikan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penawaran daging sapi, 4. Menerangkan elastisitas (respon) harga terhadap permintaan daging sapi, 5. Menerangkan elastisitas (respon) pendapatan masyarakat terhadap permintaan daging sapi, 6. Menerangkan elastisitas (respon) silang antara daging ayam dengan daging sapi, 7. Menerangkan elastisitas (respon) harga terhadap penawaran daging sapi. 1.3. Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi pelaku usaha peternakan memberikan informasi dalam rangka meningkatkan hasil penjualan/penerimaan melalui strategi kebijakan harga jual daging sapi,
2. Bagi pemerintah daerah dapat menjadi rujukan dalam menentukan kebijakan dalam bidang penyediaan daging sapi. 1.4. Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. Usaha peternakan sapi di Sumatera Utara sebagai sumber produksi daging masih didominasi oleh peternakan rakyat. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan daging sapi adalah : harga daging sapi, harga daging ayam, harga telur, harga ikan, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penawaran daging sapi adalah : harga daging sapi, harga sapi hidup, jumlah populasi sapi, jumlah impor sapi, jumlah impor daging sapi dan jumlah sapi yang di inseminasi. 4. Elastisitas (respon) harga terhadap permintaan daging sapi adalah negatif. 5. Elastisitas (respon) pendapatan masyarakat terhadap permintaan daging sapi adalah positif. 6. Elastisitas (respon) silang antara daging ayam dengan daging sapi adalah negatif. 7. Elastisitas (respon) harga terhadap penawaran daging sapi adalah positif.
1.5. Kerangka Pemikiran Sektor Pertanian Subsektor Peternakan Peternakan Sapi Potong Daging Sapi Jumlah Permintaan Jumlah Penawaran Faktor yang mempengaruhi : 1.Harga daging sapi 2.Harga daging ayam 3.Harga telur 4.Harga ikan 5.Pendapatan per kapita 6.Jumlah penduduk Faktor yang mempengaruhi : 1.Harga daging sapi 2.Harga sapi hidup 3.Jumlah populasi sapi 4.Jumlah impor sapi 5.Jumlah import daging sapi 6.Jumlah sapi yang di inseminasi Analisis regresi linier berganda Analisis elastisitas Implikasi kebijakan Gambar 1. Alur kerangka berpikir keterangan: = Fokus Penelitian