NI Luh Gde Sumardani
Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK-2016), Kuta, Bali, INDONESIA, 15-16 Desember 2016 xxxxx PERFORMANS REPRODUKSI BABI BALI JANTAN DI PROVINSI BALI SEBAGAI PLASMA NUTFAH ASLI BALI N.L.G. Sumardani 1, I.W. SUBERATA 1, N.M. ARTININGSIH 1, I.N. Ardika 2 1 Lab. Reproduksi Ternak; 2 Lab. Genetika Pemuliaan Ternak; Fakultas Peternakan Universitas Udayana Corresponding author: nlg_sumardani@unud.ac.id Pendahuluan Performans reproduksi memegang peranan penting dalam usaha pengembangan dan peningkatan produktivitas babi bali, tidak saja dititikberatkan pada ternak babi betina, tetapi juga pada ternak babi jantan, karena berhasil tidaknya suatu perkembangan populasi ataupun generasi baru, tergantung dari ada tidaknya perkawinan antara jantan dan betina. Pemilihan bibit pejantan yang memenuhi persyaratan, akan mempengaruhi keberhasilan suatu usaha peternakan. Performans reproduksi babi bali jantan yang meliputi ukuran testis dan kualitas semen, berkaitan erat dengan aktivitas dan kemampuan pejantan untuk mengawini sejumlah betina, memproduksi semen, dan tingginya fertilitas (Sihombing, 2006; Ningrum et al., 2008; Feradis, 2010). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui performans reproduksi babi bali jantan dalam kaitannya dengan pemilihan bibit pejantan yang baik dan memenuhi persyaratan, serta pengadaan bibit babi bali dan usaha pelestarian plasma nutfah asli Bali, dan juga usaha-usaha peningkatan populasi ternak babi bali. Selain itu, merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan usaha peningkatan produksi ternak babi bali sebagai salah satu plasma nutfah asli Bali. Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan mulai bulan April sampai September 2016. Penelitian ini menggunakan metode survei secara purposive random sampling dan pendekatan eksploratif, serta pemilihan lokasi penelitian berdasarkan waktu dan biaya penelitian. Variabel yang diamati meliputi: bobot badan, dimensi tubuh, dimensi testis, dan korelasinya. Hasil dan Pembahasan Babi bali secara genetik pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan babi ras impor. Diperlukan waktu 8-10 bulan untuk mencapai bobot badan 90-100 kg, sedangkan babi ras impor hanya 5-6 bulan. Tetapi kelebihannya, babi bali adalah babi yang tahan menderita, lebih hemat terhadap air, masih mampu bertahan hidup walaupun di beri pakan seadanya (Budaarsa, 2012). Dewasa kelamin babi bali calon pejantan pada umur 7-8 bulan, namun peternak mengawinkan pertama kali pejantan ini pada umur 9-10 bulan dengan alasan pada umur 7-8 bulan tersebut, kondisi fisik calon pejantan belum siap untuk mengawini betina, atau dengan kata lain calon pejantan belum dewasa tubuh dengan sempurna. 1 2 Gambar 1. Babi bali pejantan Gambar 2. Bibit babi bali jantan Ukuran tubuh babi bali secara umum lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh babi ras (Sudiastra dan Budaarsa, 2015). Pada penelitian ini, babi bali jantan lepas sapih mempunyai dimensi tubuh dan kondisi testis sebagi yang tercantum dalam Tabel 1. Tabel 1. Dimensi Tubuh dan Kondisi Testis Babi Bali Bibit Pejantan di Wilayah Kesimpulan Pemilihan bibit pejantan yang baik dan memenuhi persyaratan, dimensi tubuh dan testis, berkaitan erat dengan aktivitas dan produktivitas calon pejantan. Semakin tinggi dimensi tubuh dan testi calon pejantan, akan berpengaruh secara nyata pada performans reproduksi dari pejantan tersebut. Nusa Penida Dimensi tubuh Panjang badan riil (cm) Panjang kepala (cm) Panjang telinga (cm) Panjang ekor (cm) Panjang bulu punggung (cm) Lingkar dada (cm) Lingkar perut (cm) Lingkar pinggang (cm) Lebar testis kanan (cm) Lebar testis kiri (cm) Panjang testis kanan (cm) Panjang tetsis kiri (cm) Bobot badan (kg) Ucapan Terima Kasih Terimakasih kepada Universitas Udayana (Fakultas Peternakan UNUD) atas dana Hibah Unggulan Program Studi, sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik Daftar Pustaka Babi bali bibit pejantan umur 2 bulan Budaarsa, K. 2012. Babi Guling Bali. Dari Beternak, Kuliner hingga Sesaji. Penerbit Buku Arti. Denpasar. ISBN : 978-979-1145-69-5 Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung. Ningrum, A.P, Kustono, M. Hammam. 2008. Hubungan Antara Lingkar Skrotom dengan Produksi dan Kualitas Sperma Pejantan Simmental di Balai Inseminasi Buatan Ungaran Jawa Tengah. Buletin Peternakan Vol. 32(2): 85-90. Sihombing DTH. 2006. Ilmu Ternak Babi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Sudiastra, I. W. dan K. Budaarsa. 2015. Studi Ragam Eksterior dan Karakteristik Reproduksi Babi Bali. MIP Vol. 18 (3): 100-105 52 13 7 18 2 40 52 46 7,50 7,75 7,25 7,50 Pengukuran dimensi tubuh ternak berdasarkan metode rotation promax kapa 90 (Sampurna, et al. 2015) 7,0