LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA

dokumen-dokumen yang mirip
GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

GLAUCOMA. Glukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE, INTRA, POST OPERASI HAEMOROIDEKTOMI DI RUANG DIVISI BEDAH SENTRAL RS. Dr.

Katarak adalah : kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur-angsur, penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM BANYUMAS. Oleh: Rizka Rahmaharyanti, S.

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS)

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

PROSES TERJADINYA MASALAH

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERPITUITARISME

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

BAB II TINJAUAN TEORI. Hipertensi didefinisikan sebagai kenaikan secara pasti tekanan darah arteri

Diagnosa banding MATA MERAH

BAB I PENDAHULUAN. Mata merupakan bagian pancaindera yang sangat penting dibanding

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

asuhan keperawatan Tinnitus

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

LAPORAN PENDAHULUAN. memperlihatkan iregularitas mukosa. gastritis dibagi menjadi 2 macam : Penyebab terjadinya Gastritis tergantung dari typenya :

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GUIDED IMAGERY TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI FRAKTUR DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

BAB 1 PENDAHULUAN. DM suatu penyakit dimana metabolisme glukosa yang tidak normal, yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

BAB I KONSEP DASAR. dalam kavum Pleura (Arif Mansjoer, 1999 : 484). Efusi Pleura adalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang

PATHWAY THALASEMIA. Mutasi DNA. Produksi rantai alfa dan beta Hb berkurang. Kelainan pada eritrosit. Pengikatan O 2 berkurang

KESEHATAN MATA DAN TELINGA

DAFTAR TABEL JUDUL. Distribusi frekuensi klien DM berdasarkan usia. Distribusi frekuensi klien DM berdasarkan jenis kelamin

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA OVARIUM DI RUANG B3 GYNEKOLOGI RS Dr. KARIADI SEMARANG

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

LAPORAN PENDAHULUAN Konsep kebutuhan mempertahankan suhu tubuh normal I.1 Definisi kebutuhan termoregulasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pada perkembangan zaman yang semakin berkembang khususnya

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Otak merupakan organ yang sangat vital bagi seluruh aktivitas dan fungsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. K DENGAN GANGGUAN SISTEM SENSORI VISUAL: PRE DAN POST OPERASI KATARAK DI RUANG FLAMBOYAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BOYOLALI

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutaan baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut World Health. (10,2%), age-macular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma (3,6%),

BAB I DEFENISI A. LATAR BELAKANG

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR. NIKEN ANDALASARI

C. Penyimpangan Tidur Kaji penyimpangan tidur seperti insomnia, somnambulisme, enuresis, narkolepsi, night terrors, mendengkur, dll

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan

BAB I PENDAHULUAN. Artritis reumatoid/rheumatoid Arthritis (RA) adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan penyebab utama kematian di. Indonesia (Sagita, 2013). Adapun stroke adalah penyakit

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. keperawatan kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea di RSUD

BAB I PENDAHULUAN. jaringan aktual dan potensial yang menyebabkan seseorang mencari. perawatan kesehatan ( Smeltzer & Bare, 2012).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR. Niken Andalasari

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri

PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA RUMAH SAKIT UMUM KELAS D KOJA Jl. Walang Permai No. 39 Jakarta Utara PANDUAN ASESMEN PASIEN TERMINAL

Jari-jari yang lain bersandar pada dahi dan pipi pasien. Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG MELATI 1 RSDM MOEWARDI SURAKARTA

Mahasiswa mampu: 3. Melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kateterisasi jantung

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

INDERA PENGLIHATAN (MATA)

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

VENTRIKEL SEPTAL DEFECT

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

Ditetapkan Tanggal Terbit

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Pembedahan merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan. cara invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

Profesi _Keperawatan Medikal Bedah_cempaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

MEKANISME KOPING BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG KEMOTERAPI RS URIP SUMOHARJO LAMPUNG

BAB I PENDAHULUAN. tuba falopi kemudian berimplantasi di endometrium. (Prawiroharjho, ketidakpuasan bagi ibu dan bayinya (Saifuddin. 2000).

Transkripsi:

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA 1. KONSEP DASAR A. Pengertian Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(sidarta Ilyas,2000) Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996) Jadi, Glaukoma adalah kelompok penyakit mata yang disebabkan oleh tingginya tekanan bola mata sehingga menyebabkan rusaknya saraf optik yang membentuk bagianbagian retina retina dibelakang bola mata. Saraf optik menyambung jaringan-jaringan penerima cahaya (retina) dengan bagian dari otak yang memproses informasi pengelihatan B. Etiologi Bilik anterior dan bilik posterior mata terisi oleh cairan encer yang disebut humor aqueus. Bila dalam keadaaan normal, cairan ini dihasilkan didalam bilik posterior, melewati pupil masuk kedalam bilik anterior lalu mengalir dari mata melalui suatu saluran. Jika aliran cairan ini terganggu (biasanya karena penyumbatan yang menghalangi keluarnya cairan dari bilik anterior), maka akan terjadi peningkatan tekanan. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah kesaraf optikus berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. C. Patofisiologi TIO ditentukan oleh kecepatan produksi Aqueos humor dan aliran keluar Aqueos humor dari mata.tio normal adalah 10-21 mmhg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran Aqueos humor. Aqueos humor diproduksi

didalam badan siliar dan mengalir keluar melalui kanal Schelmn kedalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan siliar atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar Aqueos humor melalui kamera occuli anterior(coa). Peningkatan TIO > 23 mmhg memerlukan evaluasi yang seksama. Peningkatan TIO mengurangi aliran darah ke saraf optik dan retina. Iskemia menyebakan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap.kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan sarf optik serta retina adalah irreversible dan hal ini bersifat permanen. Tanpa penanganan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan.hilangnya pengelihatan ditandai dengan adanya titik buta pada lapang pandang

D. Pathway Usia > 40 th DM Kortikosteroid Jangka Panjang Miopia Trauma mata Obstruksi Jaringan Trabekuler Peningkatan tekanan Vitreus Hambatan Pengaliran Cairan Humor Aqueous Pergerakan Iris Kedepan Nyeri TIO Meningkat Glaukoma TIO Meningkat Gangguan Saraf Optik Tindakan Operasi Gangguan Persepsi Sensori Penglihatan Perubahan Penglihatan Perifer Ansietas Kurang Pengetahuan Kebutaan

E. Manifestasi Klinis 1) Glaukoma primer a) Glaukoma sudut terbuka Kerusakan visus yang serius Lapang pandang mengecil dengan maca-macam skottoma yang khas Perjalanan penyakit progresif lambat b) Glaukoma sudut tertutup Nyeri hebat didalam dan sekitar mata Timbulnya halo/pelangi disekitar cahaya Pandangan kabur Sakit kepala Mual, muntah Kedinginan Demam baahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang sangat sedemikian kuatnya keluhan mata ( gangguan penglihatan, fotofobia dan lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien. 2) Glaukoma sekunder Pembesaran bola mata Gangguan lapang pandang Nyeri didalam mata 3) Glaukoma kongential Gangguan penglihatan

F. Penatalaksanaan 1) Terapi Medikamentosa Tujuannya adalah menurunkan TIO (Tekanan Intra Okuler) terutama dengan mengguakan obat sistemik (obat yang mempengaruhi tubuh a) Obat Sistemik Asetazolamida, obat yang menghambat enzim karbonik anhidrase yang akan mengakibatkan diuresis dan menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60%, menurunkan tekanan bola mata. Pada permulaan pemberian akan terjadi hipokalemia sementara. Dapat memberikan efek samping hilangnya kalium tubuh parastesi, anoreksia, diarea, hipokalemia, batu ginjal dan myopia sementara. Agen hiperosmotik. Macam obat yang tersedia dalam bentuk obat minum adalah glycerol dan isosorbide sedangkan dalam bentuk intravena adalah manitol. Obat ini diberikan jika TIO sangat tinggi atau ketika acetazolamide sudah tidak efektif lagi. b) Obat Tetes Mata Lokal Penyekat beta. Macam obat yang tersedia adalah timolol, betaxolol, levobunolol, carteolol, dan metipranolol. Digunakan 2x sehari, berguna untuk menurunkan TIO. Steroid (prednison). Digunakan 4x sehari, berguna sebagai dekongestan mata. Diberikan sekitar 30-40 menit setelah terapi sistemik. 2) Terapi Bedah a) Iridektomi perifer. Digunakan untuk membuat saluran dari bilik mata belakang dan depan karena telah terdapat hambatan dalam pengaliran humor akueus. Hal ini hanya dapat dilakukan jika sudut yang tertutup sebanyak 50%. b) Trabekulotomi (Bedah drainase). Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% atau gagal dengan iridektomi.

G. Pemeriksaan Penunjang 1) Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau 2) vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. 3) Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan. 4) Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi 5) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,pak 6) Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM. 7) Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus macula dan pembuluh darah retina. 8) Tonometri : Adalah alat untuk mengukurtekanan intra okuler, nilai mencurigakan apabila berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg. (normal 12-25 mmhg). Tonometri dibedakan menjadi dua antara lain (Sidharta Ilyas, 2004) : Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma. 9) Pemeriksaan lampu-slit. : Lampu-slit digunakan unutk mengevaluasi oftalmik yaitu memperbesar kornea, sclera dan kornea inferior sehingga memberikan pandangan oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus. 10) Perimetri : Kerusakan nervus optikus memberikan gangguan lapang pandangan yang khas pada glaukoma. Secara sederhana, lapang pandangan dapat diperiksa dengan tes konfrontasi. 11) Pemeriksaan Ultrasonografi..: Ultrasonografi dalai gelombang suara yang dapat digunakan untuk mengukur dimensi dan struktur okuler.

2. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Data Umum a. Identitas klien, meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, agama. b. Keluhan utama, meliputi apa yang menjadi alasan utama klien masuk ke RS. Biasanya klien akan mengeluhkan nyeri di sekitar atau di dalam bola mata. c. Riwayat Kesehatan Sekarang : meliputi apa-apa saja gejala yang dialami klien saat ini sehingga menganggu aktivitas klien itu sendiri. d. Riwayat Kesehatan Dahulu : meliputi penyakit apa saja yang pernah dialami klien sebelumnya, baik itu yang berhubungan dengan penyakit yang dideritanya ataupun tidak. e. Riwayat Kesehatan Keluarga : meliputi riwayat penyakit yang pernah dialami anggota keluarga. f. Pemeriksaan Fisik 1) Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan lebih dalam. Pada glaucoma akut primer, kamera anterior dangkal, akues humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris. 2) Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap. 3) Pemeriksaan fisik melalui inspeksi untuk mengetahui adanya inflamasi mata, sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya. Sedangkan dengan palpasi untuk memeriksa mata yang mengalami peningkatan TIO, terasa lebih keras dibanding mata yang lain. 4) Uji diagnostik menggunakan tonometri, pada keadaan kronik atau open angle didapat nilai 22-32 mmhg, sedangkan keadaan akut atau angle closure 30 mmhg. Uji dengan menggunakan gonioskopi akan didapat sudut normal pada glaukoma kronik. Pada stadium lanjut, jika telah timbul goniosinekia (perlengketan pinggir iris pada kornea/trabekula) maka sudut dapat tertutup.

Pada glaukoma akut ketika TIO meningkat, sudut COA akan tertutup, sedang pada waktu TIO normal sudutnya sempit. 2. Pengkajian Pola FungsionaL Gordon a. POLA PERSEPSI DAN MANAJEMEN KESEHATAN Persepsi terhadap penyakit ; tanyakan bagaimana persepsi klien menjaga kesehatannya. Bagaimana klien memandang penyakit glaukoma, bagaimana kepatuhannya terhadap pengobatan. Perlu ditanyakan pada klien, apakah klien mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit DM, hipertensi, dan gangguan sistem vaskuler, serta riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor, dan pernah terpancar radiasi. b. POLA NUTRISI/METABOLISME Tanyakan menu makan pagi, siang dan malam Tanyakan berapa gelas air yang diminum dalam sehari Tanyakan bagaimana proses penyembuhan luka ( cepat / lambat ) Bagaimana nafsu makan klien Tanyakan apakah ada kesulitan dan keluhan yang mempengaruhi makan dan nafsu makan Tanyakan juga apakah ada penurunan BB dalam 6 bulan terakhir Biasanya pada klien yang mengalami glaukoma klien akan mengeluhkan mual muntah c. POLA ELIMINASI Kaji kebiasaan defekasi Berapa kali defekasi dalam sehari, jumlah, konsistensi, bau, warna dan karekteristik BAB Kaji kebiasaan miksi Berapa kali miksi dalam sehari, jumlah, warna, dan apakah ada ada kesulitan/nyeri ketika miksi serta apakah menggunakan alat bantu untuk miksi

Klien dengan glaukoma, biasanya tidak memiliki gangguan pada pola eliminasi, kecuali pada pasien yang mempunyai penyakit glukoma tipe sekunder (DM, hipertensi). d. POLA AKTIVITAS/LATIHAN Menggambarkan pola aktivitass dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi Tanyakan bagaimana kegiatan sehari-hari dan olahraga (gunakan table gorden) Aktivitas apa saja yang dilakukan klien di waktu senggang Kaji apakah klien mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri dada. Data bisa didapatkan dengan mewawancara klien langsung atau keluarganya ( perhatikan respon verbal dan non verbal klien ) Kaji kekuatan tonus otot Penyakit glaukoma biasanya akan mengganggu aktivitas klien sehari-hari. Karena, klien mengalami mata kabur dan sakit ketika terkena cahaya matahari. e. POLA ISTIRAHAT TIDUR Tanyakan berapa lama tidur di malam hari, apakah tidur efektif Tanyakan juga apakah klien punya kebiasaan sebelum tidur Penyakit glaukoma biasanya akan mengganggu pola tidur dan istirahat klien sehari-hari karena klien mengalami sakit kepala dan nyeri hebat sehingga pola tidur klien tidak normal. f. POLA KOGNITIF-PERSEPSI Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, penciuman. Persepsi nyeri, bahasa dan memori Status mentalbicara : - apakah klien bisa bicara dengan normal/ tak jelas/gugup Kemampuan berkomunikasi dan kemampuan memahami serta keterampilan interaksi

Kaji juga anxietas klien terkait penyakitnya dan derajatnya Pendengaran : DBN / tidak Peglihatan :DBN / tidak Apakah ada nyeri : akut/ kronik. Tanyakan lokasi nyeri dan intensitas nyeri Bagaimana penatalaksaan nyeri, apa yang dilakukan klien untuk mengurangi nyeri saat nyeri terjadi Apakah klien mengalami insensitivitass terhadap panas/dingin/nyeri Klien dengan glaukoma pasti mengalami gangguan pada indera penglihatan. Pola pikir klien juga terganggu tapi masih dalam tahap yang biasa. g. POLA PERSEPSI DIRI-KONSEP DIRI Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan, harga diri, gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri Kaji bagaimana klien menggambar dirinya sendiri, apakah ada hal yang membuaatnya mengubah gambaran terhadap diri Tanyakan apa hal yang paling sering menjadi pikiran klien, apakah klien sering merasa marah, cemas, depresi, takut, suruh klien menggambarkannya. Pada klien dengan glaukoma, biasanya terjadi gangguan pada konsep diri karena mata klien mengalami gangguan sehingga kemungkinan klien tidak PD dalam kesehariannya. Tapi, pada kasus klien tidak mengalami gangguan pada persepsi dan konsep diri. h. POLA PERAN HUBUNGAN Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga lainnya. Tanyakan pekerjaan dan status pekerjaan klien Tanyakan juga system pendukung misalnya istri,suami, anak maupun cucu dll Tanyakan bagaimana keadaan keuangan sejak klien sakit. Bagaimana dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik Tanyakan juga apakah klien aktif dalam kegiatan social

Klien dengan glaukoma biasanya akan sedikit terganggu dalam berhubungan dengan orang lain ketika ada gangguan pada matanya yang mengakibatkan klien malu berhubungan de ngan orang lain. Biasanya klien dengan glaukoma akan sedikit mengalami gangguan dalam melakukan perannya i. POLA KOPING-TOLERANSI STRESS Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress dan menggunakan system pendukung Tanyakan apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam beberapa bulan terakhir Tanyakan apa yang dilakukan klien dalam menghadapi masalah yang dihadapi, apakah efektif?apakah klien suka berbagi maslah/curhat pada keluarga / orang lain Tanyakan apakah klien termasuk orang yang santai atau mudah panik Tanyakan juga apakah klien ada menggunakan obat dalam menghadapi stress Biasanya klien dengan glaukoma akan sedikit stress dengan penyakit yang dideritanya karena ini berkaitan dengan konsep dirinya dimana klien mengalami penyakit yang mengganggu organ penglihatannya. j. POLA REPRODUKSI/ SEKSUALITAS Bagaimana kehidupan seksual klien, apakah aktif/pasif Jika klien wanita kaji siklus menstruasinya Tanyakan apakah ada kesulitan saat melakukan hubungan intim berhubungan penyakitnya, misalnya klien merasa sesak nafas atau batuk hebat saat melakukan hubungan intim Biasanya klien tidak terlalu mengalami gangguan dengan pola reproduksi seksualitas. Akan tetapi, pencurahan kasih sayang dalam keluarga akan terganggu ketika anggota keluarga tidak menerima salah seorang dari mereka yang mengalami penyakit mata.

k. POLA KEYAKINAN-NILAI Menggambarkan spiritualitas, nilai, system kepercayaan dan tujuan dalam hidup Kaji tujuan, cita-cita dan rencana klien pada masa yang akan datang. Apakah agama ikut berpengaruh, apakah agama merupakan hal penting dalam hidup Klien akan mengalami gangguan ketika menjalankan aktivitas ibadah seharihari karena klien mengalami sakit mata dan sakit kepala yang akan mengganggu ibadahnya. B. Diagnosa Keperawatan Pre Operasi 1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO 2. Penurunan persepsi sensori visual / penglihatan berhubungan dengan serabut saraf oleh karena peningkatan TIO. 3. Cemas berhubungan dengan Penurunan ketajaman penglihatan, Kurang pengetahuan tentang prosedur pembedahan 4. Resiko cedera b/d penurunan lapang pandang Post operasi 1. Nyeri berhubungan dengan post tuberkulectomi iriodektomi 2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka insisi operasi

C. Rencana Tindakan No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional Keperawatan Hasil 1. Nyeri b.d Setelah dilakukan a. Kaji tipe, intensitas, a. Mengenal berat peningkatan tindakan dan lokasi nyeri ringannya nyeri dan TIO keperawatan selama menentukan terapi 1 x 24 jam b. Pantau derajat nyeri b. Untuk diharapakan nyeri mata setiap 30 mentit mengidentifikasi hilang/ berkurang selama masa akut kemajuan atau dengan Kriteria penyimpanan dari Hasil: hasil yang Klien dapat diharapkan. mengidentifikasi c. Pertahankan istirahat c. Mengurangi penyebab nyeri di tempat tidur dalam rangsangan terhadap Klien ruangan yang tenang syaraf sensori dan menyebutkan dan gelap dengan mengurangi TIO faktor-faktor kepala ditinggikan yang dapat 30 atau dalam posisi meningkatkan nyaman nyeri d. Berikan lingkungan d. Stress dan sinar Klien mampu yang nyaman menimbulkan TIO melakukan yang mencetuskan tindakan untuk nyeri mengurangi e. Anjurkan tehnik e. Keadaan rileks dapat nyeri. relaksasi. mengurangi nyeri. f. Kolaborasi tentang f. untuk mengurangi pemberian analgesic nyeri 2. Penurunan Setelah dilakukan a. Kaji dan catat a. Menentukan

persepsi tindakan ketajaman penglihatan kemampuan visual sensori visual keperawatan selama b. Kaji tingkat deskripsi b. Memberikan / penglihatan 1 x 24 jam fugnsional terhadap keakuratan terhadap b.d serabut diharapakan penglihatan dan penglihatan dan saraf oleh peningkatan perwatan perawatan karena persepsi sensori c. Sesuaikan lingkungan c. Meningkatkan self peningkatan dapat berkurang dengan kemampuan care dan mengurangi TIO dengan Kriteria penglihatan ketergantungan Hasil: d. Kaji jumlah dan tipe d. Meningkatkan Klien dapat rangsangan yang dpat rangsangan pada meneteskan obat diterima klien waktu kemampuan mata dengan penglihatabn menurun benar e. Observasi TTV e. Mengetahui kondisi Kooperatif dan perkembangan dalam tindakan klien secara dini Menyadari f. Kolaborasi dengan tim f. Untuk mempercepat hilangnya medis dalam proses penyembuhan pengelihatan pemberian terapi secara permanen Tidak terjadi penurunan visus lebih lanjut 3. Cemas b.d Setelah dilakukan a. Hati-hati penyampaian a. Jika klien belum siap Penurunan tindakan hilangnya penglihtan akan menambah ketajaman keperawatan selama secara permanen kecemasan penglihatan, 1 x 24 jam b. Berikan kesempatan b. Mengekspresikan Kurang diharapakan Cemas klien perasaan membantu pengetahuan klien dapat mengekspresikan Kx mengidentifikasi tentang berkurang dengan tentang kondisinya sumber cemas prosedur Kriteria Hasil: c. Pertahankan kondisi c. Rileks dapat

pembedahan Berkurangnya yang rileks menurunkan cemas perasaan gugup d. Observasi TTV d. Untuk mengetahui Posisi tubuh TTV dan rileks perkembangannya Mengungkapkan e. Siapkan bel ditempat e. Dengan memberikan pemahaman tidur dan instruksikan perhatian akan tentang rencana klien memberikan menambah tindakan tanda bila mohon kepercayaan klien bantuan f. Kolaborasi dengan tim f. Diharapkan dapat medis dalam mempercepat proses pemberian terapi penyembuhan 4. Resiko cedera Setelah dilakukan a. Orietasikan klien a. Mengurangi b/d penurunan tindakan terhadap lingkungan kecelakaan atau cidera lapang keperawatan selama ketika tiba. pandang 1 x 24 jam b. Lakukan modifikasi b. Menimalkan tingkat diharapakan Klien lingkungan untuk cidera yang berasal tidak mengalami meindahkan semua dari gangguan ini cedera dengan bahaya: Kriteria Hasil: Singkirkan Klien mampu rintangan pada mendemontrasi tempar lalu lalang kan tentang Sungkirkan kewaspadaan gulungan dari kaki kecemasan Singkirkan Klien meminta barang-barang bantuan petugas yang mungkin saat memenuhi dapat mencederai kebutuhan. klien. c. Serahkan benda- c. Mengurangi resiko benda termasuk bel terjatuh

pemanggil, alat bantu ambulasi kepada klien d. Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan rumah terhadap bahaya yang mungkin terjadi. d. Mempertahankan yang aman setelah pulang.

DAFTAR PUSTAKA Smeltzer, Suzanne. C, Bare, Brenda. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol. 3. Jakarta: EGC Doengoes, Marylinn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. jakarta: EGC Price, Sylvia. A. 1995. Patofisiolog: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4 buku II. Jakarta: EGC