Perancangan Dan Simulasi Punctured Convolutional Encoder Dan Viterbi Decoder Dengan Code Rate 2/3 Menggunakan Raspberry Pi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Kemungkinan terjadinya pengiriman ulang file gambar akibat error, yaitu karena : noise,

BAB IV HASIL SIMULASI DAN ANALISIS

Analisis Kinerja Convolutional Coding dengan Viterbi Decoding pada Kanal Rayleigh Tipe Frequency Non-Selective Fading

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Convolutional Coding

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Kode Konvolusi pada Modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) Menggunakan WARP

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Linear Block Code

PEDOMAN PENGGUNAAN SIMULATOR PENYANDIAN DAN PENGAWASANDIAN SISTEM KOMUNIKASI BERBASIS PERANGKAT LUNAK VISUAL C#

SANDI PROTEKSI GALAT YANG TIDAK SAMA SECARA SERIAL BERDASARKAN MODULASI TRELLIS TERSANDI DENGAN KONSTELASI SINYAL ASK

ANALISIS UNJUK KERJA CODED OFDM MENGGUNAKAN KODE CONVOLUTIONAL PADA KANAL AWGN DAN RAYLEIGH FADING

RANCANG BANGUN RANGKAIAN CONVOLUTIONAL ENCODER DAN VITERBI DECODER MENGGUNAKAN DSK TMS320C6713 BERBASIS SIMULINK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Modulation. Channel. Demodulation. Gambar 1.1. Diagram Kotak Sistem Komunikasi Digital [1].

VISUALISASI KINERJA PENGKODEAN MENGGUNAKAN ALGORITMA VITERBI

KOREKSI KESALAHAN. Jumlah bit informasi = 2 k -k-1, dimana k adalah jumlah bit ceknya. a. KODE HAMMING

1. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Perbandingan rate kode konvolusi dan aplikasinya pada cdma

Analisa Kinerja Kode Konvolusi pada Sistem Successive Interference Cancellation Multiuser Detection CDMA dengan Modulasi QAM Berbasis Perangkat Lunak

Kode Sumber dan Kode Kanal

Implementasi Encoder dan decoder Hamming pada TMS320C6416T

BAB 3 MEKANISME PENGKODEAAN CONCATENATED VITERBI/REED-SOLOMON DAN TURBO

SIMULASI LOW DENSITY PARITY CHECK (LDPC) DENGAN STANDAR DVB-T2. Yusuf Kurniawan 1 Idham Hafizh 2. Abstrak

III. METODE PENELITIAN

ABSTRAK. sebesar 0,7 db.

Proteksi Kesalahan Berbeda Menggunakan Metode Rate Compatible Punctured Convolutional (RCPC) Codes Untuk Aplikasi Pengiriman Citra ABSTRAK

Visualisasi dan Analisa Kinerja Kode Konvolusi Pada Sistem MC-CDMA Dengan Modulasi QPSK Berbasis Perangkat Lunak

DESAIN ENCODER-DECODER BERBASIS ANGKA SEMBILAN UNTUK TRANSMISI INFORMASI DIGITAL

Visualisasi dan Analisa Kinerja Kode Konvolusi Pada Sistem MC-CDMA Dengan Modulasi QAM Berbasis Perangkat Lunak

Teknik Telekomunikasi - PJJ PENS Akatel Politeknik Negeri Elektro Surabaya Surabaya

IMPLEMENTASI PENGAWASANDIAN VITERBI DENGAN FIELD PROGRAMMABLE LOGIC ARRAY (FPGA)

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SIMULASI DETEKSI BIT ERROR MENGGUNAKAN METODE HAMMING CODE BERBASIS WEB

KOREKSI KESALAHAN PADA SISTEM DVB-T MENGGUNAKAN KODE REED-SOLOMON

SISTEM PENGKODEAN. IR. SIHAR PARLINGGOMAN PANJAITAN, MT Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara

BAB II DASAR TEORI. 7. Menuliskan kode karakter dimulai dari level paling atas sampai level paling bawah.

MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR SIMULASI PENYANDIAN KONVOLUSIONAL

ANALISIS ALGORITMA KODE KONVOLUSI DAN KODE BCH

LAPORAN TEKNIK PENGKODEAN ENCODER DAN DECODER KODE KONVOLUSI

REALISASI ERROR-CORRECTING BCH CODE MENGGUNAKAN PERANGKAT ENKODER BERBASIS ATMEGA8535 DAN DEKODER MENGGUNAKAN PROGRAM DELPHI

TUGAS AKHIR SIMULASI PENGKODEAN HAMMING UNTUK MENGHITUNG BIT ERROR RATE

Analisa Kinerja Kode Konvolusi pada Sistem Successive Interference Cancellation Multiuser Detection CDMA Dengan Modulasi QPSK Berbasis Perangkat Lunak

Deteksi dan Koreksi Error

Encoding dan Decoding Kode BCH (Bose Chaudhuri Hocquenghem) Untuk Transmisi Data

BAB III PEMODELAN MIMO OFDM DENGAN AMC

ANALISIS KINERJA MOBILE SATELLITE SERVICE (MSS) PADA FREKUENSI L-BAND DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. digital sebagai alat yang penting dalam teknologi saat ini menuntut adanya sistem

Ayu Rosyida Zain 1, Yoedy Moegiharto 2. Kampus ITS, Surabaya

DESAIN DAN ANALISIS PENDEKODE VITERBI MENGGUNAKAN SATU BUTTERFLY BERBASIS BAHASA VHDL

Analisa Kinerja Kode Konvolusi pada Sistem Successive Interference Cancellation Multiuser Detection CDMA Dengan Modulasi QPSK Berbasis Perangkat Lunak

8.0 Penyandian Sumber dan Penyandian Kanal

BAB II LANDASAN TEORI

BAB VI RANGKAIAN KOMBINASI

Desain dan Simulasi Encoder-Decoder Berbasis Angka Sembilan Untuk Transmisi Informasi Digital

1.2 Tujuan Penelitian 1. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun sirkit sebagai pembangkit gelombang sinus synthesizer berbasis mikrokontroler

ANALISA KINERJA OFDM MENGGUNAKAN TEKNIK PENGKODEAN HAMMING

BAB II PENGKODEAN. yang digunakan untuk melakukan hubungan komunikasi. Pada sistem komunikasi analog, sinyal

BAB I PENDAHULUAN. Sistem radio digital (Digital Audio Broadcasting, DAB, sekarang ini lazim

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

DETEKSI DAN KOREKSI MULTI BIT ERROR DENGAN PARTITION HAMMING CODE

BAB 2 LANDASAN TEORI

Simulasi MIMO-OFDM Pada Sistem Wireless LAN. Warta Qudri /

SIMULASI PENGIRIMAN DAN PENERIMAAN INFORMASI MENGGUNAKAN KODE BCH

PERANCANGAN DAN ANALISIS AUDIO WATERMARKING BERBASIS TEKNIK MODULASI DIGITAL DENGAN PENGKODEAN KONVOLUSI

SIMULASI KODE HAMMING, KODE BCH, DAN KODE REED-SOLOMON UNTUK OPTIMALISASI FORWARD ERROR CORRECTION

TUGAS AKHIR ANALISA PERFORMANSI PENGKODEAN REED SOLOMON DAN KONVOLUSIONAL PADA SINYAL VIDEO DI KANAL ADDITIVE WHITE GAUSSIAN NOISE (AWGN)

LAMPIRAN A LISTING PROGRAM

Block Coding KOMUNIKASI DATA OLEH : PUTU RUSDI ARIAWAN ( )

Makalah Teori Persandian

BAB II DASAR TEORI 2.1. Turbo Coding

SIMULASI KODE HAMMING, KODE BCH, DAN KODE REED-SOLOMON UNTUK OPTIMALISASI FORWARD ERROR CORRECTION

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi dari penelitian ini diskemakan dalam bentuk flowchart seperti tampak

KODE LEXICOGRAPHIC UNTUK MEMBANGUN KODE HAMMING (7, 4, 3) DAN PERLUASAN KODE GOLAY BINER (24, 12, 8)

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan kehidupan manusia dalam berbagai aspek kehidupan, telah memaksa mereka

Introduction to spread spectrum (SS) Alfin Hikmaturokhman,MT

DIKTAT MATA KULIAH KOMUNIKASI DATA BAB V DETEKSI DAN KOREKSI KESALAHAN

Sifat Dan Karakteristik Kode Reed Solomon Beserta Aplikasinya Pada Steganography

Deteksi dan Koreksi Error

Kuliah 5 Pemrosesan Sinyal Untuk Komunikasi Digital

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

ANALISA PERFORMA SUCCESSIVE INTERFERENCE CANCELLATION DALAM CONVOLUTIONAL CODE PADA SISTEM MULTICARRIER DS CDMA. Disusun Oleh: Nama : Rendy Santosa

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Pemancar dan Penerima Sistem MC-CDMA [1].

Evaluasi Kompleksitas Pendekodean MAP pada Kode BCH Berdasarkan Trellis Terbagi

PERANCANGAN SIMULASI PENGKODEAN HAMMING (7,4) UNTUK MENGHITUNG BIT ERROR RATE (BER) PADA BINARY SYMETRIC CHANNEL ABSTRAK

SIMULASI DETEKSI BIT ERROR MENGGUNAKAN METODE HAMMING CODE BERBASIS WEB SKRIPSI. Disusun Oleh: RIZQA GARDHA MAHENDRA NPM.

PENYANDIAN SUMBER DAN PENYANDIAN KANAL. Risanuri Hidayat

PERANCANGAN SIMULASI KOREKSI KESALAHAN DATA DENGAN METODA FEC PADA KOMPUTER BERBASIS VISUAL BASIC

Bit Error Rate pada Sistem MIMO MC-CDMA dengan Teknik Alamouti-STBC

ANALISIS UNJUK KERJA TEKNIK MIMO STBC PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING

Proses Decoding Kode Reed Muller Orde Pertama Menggunakan Transformasi Hadamard

BAB III PEMBAHASAN. Teori Pengkodean (Coding Theory) adalah ilmu tentang sifat-sifat kode

Analisis Nilai Bit Error Rate pada Turbo Convolutional Coding dan Turbo Block Coding

HAND OUT EK. 481 SISTEM TELEMETRI

APLIKASI KOMPRESI CITRA BERBASIS ROUGH FUZZY SET

BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN SIMULASI

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: ( Print) A-192

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN ALGORITMA VITERBI PADA PLATFORM LABVIEW

ANALISIS KINERJA TEKNIK DIFFERENTIAL SPACE-TIME BLOCK CODED PADA SISTEM KOMUNIKASI KOOPERATIF

Transkripsi:

Perancangan Dan Simulasi Punctured Convolutional Encoder Dan Viterbi Decoder Dengan Code Rate 2/3 Menggunakan Raspberry Pi Marjan Maulataufik 1, Hertog Nugroho 2 1,2 Politeknik Negeri Bandung Jalan Gegerkalong Hilir, Ciwaruga, Parongpong, Kab Bandung Barat, Jawa Barat 40559 marjanmaulataufik@gmail.com 1, hertog@polban.ac.id 2 Abstrak Convolutional encoder merupakan salah satu metoda teknik error control coding yang memiliki kekurangan, yaitu code rate yang rendah. Pada penelitian ini telah diimplementasikan pengembangan Convolutional encoder yaitu Punctured Convolutional encoder untuk menghasilkan code rate yang lebih tinggi, yaitu code rate 2/3. Punctured convolutional encoder dan viterbi decoder ini telah disimulasikan menggunakan serial komunikasi antara PC/laptop Raspberry PI. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa punctured convolution codes dengan decoder code rate 2/3 mampu mengoreksi kesalahan bit error untuk 35 bit. Dari evaluasi karakteristik puncture matrix dengan menggunakan generator polynomial 7 & 5, hanya puncture matrix [ 1 1 ] yg menghasilkan solusi yang tunggal, sedangkan pada evaluasi karakteristik puncture matrix dengan menggunakan generator polynomial 6 & 7, semua puncture matrix menghasilkan solusi yang tunggal. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu Punctured codes berhasil dibuat dengan code rate 2/3 yang dibangun dari code rate ½ menggunakan puncture matrix [ 1 1 ]. Kata kunci: Punctured Convolutional encoder, Viterbi Decoder, Code Rate, Puncture Matrix. 1. Pendahuluan Teknik Error control coding merupakan salah satu solusi untuk mengatasi/meminimalisir kesalahan yang terjadi pada kanal transmisi yang disebabkan oleh derau. Teknik error control coding dikenal juga sebagai error detection and correction yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan mengoreksi suatu error dengan merekonstruksinya kembali menjadi data semula (original data). Salah satu jenis Error control coding yaitu Forward Error Correction (FEC) codes atau error-correcting codes yang menggunakan bit bit tambahan (redundant) pada saat pengkodean untuk mengembalikan data semula. Salah satu metoda error-correcting codes yaitu convolutional codes dengan viterbi decoder untuk mendapatkan hasil yang optimal [2]. Convolution code diketahui sebagai salah satu kelas error-correcting yang cukup bagus. Ketika digunakan bersamaan dengan interleaving, mereka dapat memberikan proteksi yang sangat bagus untuk fading channels. Convolution codes biasa digunakan untuk transmisi yang kontinyu. Akan tetapi kode kode tersebut terbatas untuk code rate yang rendah, dikarenakan konstruksi decoder cukup kompleks jika untuk mencapai code rate yang tinggi [3]. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan code rate 2/3 dan pengaruh punctured codes terhadap koreksi error bit serta karakteristik puncture matrix pada viterbi decoder untuk code rate 2/3 dengan menggunakan generator polynomial [1 1 1] & [ 1] atau dalam bilangan oktal [7 & 5] dan generator polynomial [1 ] & [1 1 1] atau dalam bilangan oktal [6 & 7]. SENTER 2017, 15-16 Desember 2017, pp. 186~192 186

187 2. Metode Penelitian Gambar 1. Ilustrasi sistem Punctured Convolutinal Encoder dan Viterbi Decoder. Sistem yang telah dibangun dibagi menjadi 2 bagian, seperti yg terlihat pada gambar 1, yang menggambarkan sebuah sistem menghubungkan 2 perangkat dengan menggunakan mode komunikasi serial. Gambar 2 menjelaskan rincian masing-masing perangkat. Perangkat A digunakan untuk proses enkoding dan mengirimkan data ke perangkat B, disaat yang sama perangkat B melakukan looping secara kontinyu untuk menerima data dari perangkat A. Punctured convolutional encoder dirancang pada perangkat A dengan merancang terlebih dahulu sebuah convolutional encoder kemudian dilakukan puncturing sesuai code rate yang diinginkan, selanjutnya error diberikan secara acak yang kemudian ditransmisikan. Viterbi decoder dirancang pada perangkat B, kemudian dilakukan proses decoding dengan menampilkan proses algoritma Viterbi secara animasi hingga didapat hasil dan selanjutnya dibandingkan dengan input pada perangkat A. Gambar 2. Blok diagram sistem Punctured Convolutional Encoder dan Viterbi Decoder. Berikut uraian dari masing masing blok: Convolutional encoder, pengkodean input dengan rate ½ dan generator polynomial [7 5] dan [6 7]. Puncture, input yang telah terkodekan dilakukan proses puncturing atau membuang bit berdasarkan puncture matrix untuk menghasilkan code rate 2/3. Error Generator, pembangkit bit error yang dimasukkan dalam bit input yang telah terkodekan secara acak.

188 Viterbi decoder, teknik untuk melakukan decoding dari bit yang telah terkodekan menggunakan convolutional encoder salah satunya menggunakan algoritma Viterbi. Algoritma viterbi diterapkan pada decoder dengan memanfaatkan trellis diagram dari convolution codes. [4] 2.1 Perencanaan konfigurasi punctured convolutional encoder Pemilihan parameter untuk konfigurasi enkoder didasarkan kepada beberapa pertimbangan mengacu kepada kebutuhan yang akan digunakan. Parameter yang digunakan untuk perancangan punctured convolutional encoder adalah membangun code rate 2/3 dari code rate ½ dengan menggunakan constraint length 3, Generator Polynomial 7 & 5 seperti diperlihatkan pada gambar 3. Gambar 3. Rangkaian Punctured convolutional encoder dengan G[7 5]. dan Generator Polynomial 6 & 7, seperti diperlihatkan pada gambar 4. Gambar 4. Rangkaian Punctured Convolutional encoder dengan G[6 7]. dengan puncture matrix berikut: [ 1 1 1 ], [0 ], [1 ], dan [1 0 1 1 1 1 1 ] atau dalam bentuk implementasinya: P1 = [1 1], [0 1], [], dan [1 1]. P2 = [0 1], [1 1], [1 1], dan []. Dalam artian, bit 1 merepresentasikan bahwa bit input yang terkonvolusi (codewords) diteruskan menjadi sebuah output, sedangkan bit 0 berarti codewords dibuang (punctured). Berdasarkan puncture matrix diatas, untuk setiap matrix dilakukan perhitungan secara manual proses puncturing dengan bit bit input yang memiliki jumlah yang bervariasi. Jumlah bit input yang diuji disajikan pada tabel 1.

189 Tabel 1. Bit bit input acak yang akan diuji. Jumlah Bit Input 2 10 5 10011 8 01100001 11 10010111110 25 1110 0010 1010 011100001 35 001101 1010 0100 1110 0001 1110 0100 010 2.2 Perancangan punctured convolutional encoder Subsistem perangkat A merupakan punctured convolutional encoder yang disimulasikan pada perangkat PC/Laptop dengan sebuah aplikasi yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman Python yang bertujuan untuk melakukan pengkodean bit input serta menyisipkan bit error lalu dikirimkan melalui port serial. Perancangan aplikasi yang mensimulasikan punctured convolutional encoder direpresentasikan dalam flowchart (Gambar 5). Gambar 5. Flowchart Punctured Convolutional encoder. 2.2 Perancangan viterbi decoder Perancangan untuk viterbi decoder dilakukan pada perangkat B dengan tujuan menerima data dari perangkat A melalui serial komunikasi dan diimplementasikan menggunakan perangkat Raspberry PI. Pada subsistem ini, puncture matrix yang digunakan pada bagian encoder digunakan kembali untuk menghasilkan output yang selaras. Proses decoding pada program di perangkat B, disimulasikan dalam bentuk sebuah animasi yang menggambarkan trellis diagram hingga mendapatkan jalur yang sesuai dan mendapatkan hasil yang sama dengan perhitungan secara empiris. Gambar 6 memperlhatkan flowchart dari proses dekodernya.

190 Gambar 6. Flowchart Viterbi Decoder. 3. Hasil dan analisis 3.1 Hasil pengujian sistem Pengujian puncture matrix dilakukan pada masing masing generator polynomial untuk mendapatkan puncture matrix yang paling baik. Pengujian puncture matrix dibuktikan secara empiris berdasarkan teori yang telah dikemukakan pada pendahuluan, hasil dari pengujian puncture matrix pada masing-masing generator polynomial diringkas dan disajikan pada tabel 2. Tabel 2 Hasil pengujian puncture matrix dengan G[7 5]. Puncture Matrix Hasil [ 1 1 Hamming distance tidak didapatkan 0 1 ] pada awal proses decoding (Tidak optimal) [ 0 1 1 1 ] Memiliki 2 jalur dengan hamming distance terkecil yang sama (ambigu). [ 1 1 ] Memiliki 2 jalur dengan hamming distance terkecil yang sama (ambigu). [ 1 1 ] Benar Untuk hasil pengujian puncture matrix dengan G[6 7], semua konfigurasi puncture matrix pada proses decoding mendapatkan hasil yang sama benar atau sesuai dengan input. Pengujian punctured codes dilakukan dengan menggunakan puncture matrix yang paling baik berdasarkan hasil pengujian sebelumnya. Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat keberhasilan dalam mengoreksi kesalahan berdasarkan jumlah input, hasil dari pengujian ini disajikan pada tabel 3 dengan indikasi warna merah yaitu bit yang tidak terkoreksi.

191 2 = 10 5 = 10011 8 = 01100001 Input 11 = 10010111110 25 = 1110 0010 1010 011101 00001 35 = 001101 1010 0100 1110 0001 1110 0100 010 Tabel 3. Hasil pengujian punctured codes terhadap error. Bit error 0 10 1 2 11 0 10011 1 10011 2 11011 0 01100001 1100001 2 01100101 0 10010111110 1 10010111110 2 11101111110 Output 0 1110001010100111010100001 1 1110001010100111010100001 2 0001001010100111010100001 0 00110101101001001110000111100100010 0110101101001001110000111100100010 2 00110101101001001110000111100100010 3.2 Analisa Berdasarkan hasil pengujian puncture matrix, dengan menggunakan generator polynomial 7 & 5 masing masing puncture matrix memiliki respon yang berbeda terhadap hasil proses decoding sehingga untuk pengujian punctured codes terhadap error digunakan puncture matrix yang paling baik yaitu [ 1 1 ]. Sedangkan dengan menggunakan generator matrix 6 & 7, semua konfigurasi puncture matrix memiliki respon yang sama dan membuktikan bahwa kombinasi generator polynomial yang paling bagus untuk constraint length 3 yaitu 6 & 7 sesuai dengan penelitian J. Busgang [9]. Berdasarkan hasil tabel 3 pengujian punctured codes terhadap error, decoder tidak mampu melakukan pengkoreksian error terhadap codewords yang dihasilkan oleh punctured encoder dikarenakan pada dasarnya punctured codes tidak digunakan untuk error-control akan tetapi digunakan untuk meningkatkan code rate, tetapi untuk jumlah bit input yang cukup banyak decoder masih mampu untuk mengoreksi kesalahan pada code rate 2/3 dikarenakan bit error dapat terjadi pada bit redundant. Sedangkan untuk error-control, digunakan convolution codes maka dari itu punctured codes digunakan dalam Rate-Compatible Punctured Convolution (RCPC) yang ketika dalam kondisi kanal terburuk maka menggunakan code rate ½ yang artinya membentuk convolution codes, sedangkan dalam kondisi kanal yang baik, maka akan menggunakan code rate yang lebih tinggi dengan menggunakan punctured codes.

192 4. Kesimpulan a. Punctured codes berhasil dibuat dengan code rate 2/3 yang dibangun dari code rate ½ menggunakan puncture matrix[ 1 1 ]. Dengan keberhasilan ini maka kecepatan dalam pengkodean (code rate) bit input menjadi lebih cepat dibandingkan dengan convolutional codes konvensional. b. Puncture matrix yang digunakan yaitu [ 1 1 ] dengan generator polynomial 6 & 7 dikarenakan respon decoder terhadap puncture matrix lainnya tidak menghasilkan solusi yang tunggal, yaitu solusi yang tidak dapat dijustifikasi sebagai hasil akhir. c. Decoder mampu mengoreksi codewords yang memiliki error bit 1 dan 2 untuk jumlah bit input 35 pada code rate 2/3 karena bit error ada kemungkinan terjadi pada bit redundant. Daftar Pustaka [1] DTC NetConnect, "GANGGUAN PADA SISTEM TRANSMISI SINYAL DATA," DTC NetConnect, [Online]. Available: http://www.dtcnetconnect.com/amp/index.php/ blogs/305-gangguan-pada-sistem-transmisi-sinyal-data. [Accessed 2 August 2017]. [2] Wikipedia, "Error detection and correction," Wikimedia Foundation, Inc., 17 June 2017. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/error_detection_and_correction. [Accessed 4 July 2017] [3] G. Nagarajan, "Error Control Using RCPC Codes," 2007. [Online]. Available: http://shodhganga.inflibnet.ac.in/bitstream/10603/1261/14/14_cahpter%204.pdf. [Accessed 15 07 2017] [4] M. A. Jabbar, "Rancang Bangun Rangkaian Convolutional Encoder dan Viterbi Decoder," Universitas Indonesia, Depok, 2008 [5] B. A. Kuncoro, "Analisis Kinerja Convolutional Coding dengan Viterbi Decoding pada," Insitut Teknologi Bandung, Bandung, 2008. [6] N. N. Indaryanto, Implementasi Enkoder dan Dekoder Kode Konvolusi menggunakan TMS 320VC33-150, Bandung: Politeknik Negeri Bandung, 2007. [7] Wikipedia, "Forward error correction," Wikimedia Foundation, Inc., 27 June 2017. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/forward_error_correction. [Accessed 5 July 2017] [8] Wikipedia, "Convolutional code," Wikimedia Foundation, Inc., 20 February 2017. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/convolutional_code. [Accessed 5 July 2017]. [9] C. Langton, Coding and decoding with Convolutional Codes, www.complextoreal.com, 1999, p. July.