UPDATE MATERI PENATALAKSANAAN CORPUS ALIENUM PADA MATA

dokumen-dokumen yang mirip
BENDA ASING PADA MATA Apabila suatu benda asing masuk kedalam mata maka biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat. Beratnya kerusakan pada

TATALAKSANA TRAUMA PADA MATA No.Dokumen No. Revisi 00

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan

Author : Aulia Rahman, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau. Pekanbaru, Riau. Files of DrsMed FK UNRI (

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG LAPORAN KASUS CORPUS ALIENUM. Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

ENTROPION PADA KUCING

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam kandungan dan faktor keturunan(ilyas, 2006).

Katarak adalah : kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur-angsur, penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara)

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

Diagnosa banding MATA MERAH

BAB I PENDAHULUAN. kacamata. Penggunaan lensa kontak makin diminati karena tidak mengubah

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

Lakukan pemeriksaan visus, refraksi terbaik dan segmen anterior.anamnesis

MANUAL KETERAMPILAN KLINIK SISTEM INDRA KHUSUS - MATA. Diberikan Pada Mahasiswa Semester V Fakultas Kedokteran Unhas

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. mata pada usia usia produktif, terutama pada kelompok kelompok

BENDA ASING HIDUNG. Ramlan Sitompul DEPARTEMEN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Astigmatisma adalah kelainan refraksi yang mencegah berkas. Pada astigmatisma, mata menghasilkan suatu bayangan dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

Pemeriksaan Mata Dasar. Dr. Elvioza SpM Departemen Ilmu kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

PEMERIKSAAN KESEHATAN MATA

BAB I PENDAHULUAN. Mata merupakan bagian pancaindera yang sangat penting dibanding

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. trauma mata dari satu negara dengan negara lain berbeda dan bahkan di dalam. wilayah di negara yang sama pun bisa bervariasi.

BAB III CARA PEMERIKSAAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

Hipopion Marcelle Yulianne ( ) BAB I PENDAHULUAN. belakang adalah ruang yang lebih kecil yang terdapat diantara iris dan lensa.

PEMERIKSAAN MATA I. Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya sangat cepat. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia

Bagian-bagian yang melindungi mata: 1. Alis mata, berguna untuk menghindarkan masuknya keringat ke mata kita.

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

24 years old Male with Corneal Ulcer and Iris Prolapse Occuli Dextra

Standar Operasional Prosedur Untuk Kader Katarak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

BAB I PENDAHULUAN. yang paling efisien dan ekonomis untuk negara-negara berkembang seperti

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan

BAB 3 PENURUNAN KESADARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1. Apa Itu Mata? 2. Jelaskan Bagian-Bagian dari Mata beserta fungsinya! 3. Bagaimana Mata Bisa Bekerja?

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Lensa kontak merupakan suatu cangkang lengkung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Prosedur Refraksi adalah salah satu prosedur elektif

THT CHECKLIST PX.TELINGA

Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUNA NETRA NUR INDAH PANGASTUTI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

KESEHATAN MATA DAN TELINGA

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

BAB I KONSEP MEDIS. menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata (Syarfudin, 2006). Menurut Tamsuri (2004), ada 2 jenis trauma okuli, yaitu :

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

KMN Klinik Mata Nusantara

Harri Prawira Ezeddin. Ked

Dua minggu setelah operasi Jangan menggosok mata Pakai kacamata gelap (sunglasses) Lindungi mata dari debu dan kotoran

06/10/2011 PERADANGAN MATA (KONJUNGTIVITIS)

BAB I PENDAHULUAN. Keratitis ulseratif atau ulkus kornea adalah suatu kondisi inflamasi yang

Tatalaksana Miopia 1. Koreksi Miopia Tinggi dengan Penggunaan Kacamata Penggunaan kacamata untuk pasien miopia tinggi masih sangat penting.

Komplikasi Diabetes Mellitus Pada Kesehatan Gigi

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. 16

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

BAGIAN-BAGIAN MATA DAN SISTEM VISUAL KELENJAR LACRIMAL, AIR MATA, SISTEM PENGERINGAN LACRIMAL DENGAN PEMBULUH NASOLACRIMAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Luka Akibat Trauma Benda Tumpul a Luka Lecet (Abrasi)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

CLINICAL SCIENCE SESSION MIOPIA. Preseptor : Erwin Iskandar, dr., SpM(K)., Mkes.

BAB I PENDAHULUAN. Mata adalah system optic yang memfokuskan berkas cahaya pada foto

1. STRABISMUS (MATA JULING)

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

BAB 1 PENDAHULUAN. besar (Priatna,1997 dalam Carissa, 2012). Bengkel pengelasan merupakan salah satu

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri

Retina. Apakah RETINA itu?

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi

BAB I PENDAHULUAN. pasien datang berobat ke dokter mata. Penyebab mata berair adalah gangguan

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

BAB I PENDAHULUAN. pada mata sehingga sinar tidak difokuskan pada retina atau bintik kuning, tetapi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan dan

KLINIK MATA PANGKALAN BUN Dr.AGUS ARIYANTO,SpM

(Anterior surface Curvature) (Posterior surface Curvature)

Trauma Kimia pada Mata

BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

UPDATE MATERI PENATALAKSANAAN CORPUS ALIENUM PADA MATA Oleh : Titania Yuliska HET 17-XXVIII-400 Syihabbudin Hasan HET 17-XXVIII-409 Farina Angelia HET 17-XXVIII-410 Telah disetujui oleh pembimbing update materi Hippocrates Emergency Team Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Pembimbing prosedur tetap Nama Jabatan Tanda Tangan Dwiva Try Rakhmawati HET 13-XXIV-373 Budi Junio Hermawan HET 14-XXV-379 Pembimbing 1 Pembimbing 2

I. DEFINISI Corpus alienum merupakan istilah medis yang berarti benda asing. Corpus alienum merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering mengenai sklera, kornea, dan konjungtiva. Meskipun kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat serius. Apabila suatu corpus alienum masuk kedalam bola mata maka akan terjadi reaksi infeksi yang berat serta timbul kerusakan dari isi bola mata. Oleh karena itu, perlu segera dikeluarkan dengan cepat. Corpus alienum dipermukaan mata hanya menyebabkan sedikit atau tidak ada kerusakan, bila terbatas pada forniks konjungtiva, walaupun penyebab lain akan menyebabkan kerusakan akibat gesekan atau sifat kimiawinya. 2 II. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Benda asing yang masuk ke konjungtiva sebagian besar merupakan akibat dari kecelakaan yan terjadi selama melakukan aktivitas sehari-hari. Jenis benda asing yang paling banyak masuk kedalam mata adalah: 5 - Bulu mata - Serbuk gergaji - Kosmetik - Lensa kontak - Partikel logam - Pecahan kaca Benda yang masuk kedalam mata dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: 5 - Benda logam emas, perak, platina, timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga besi - Benda bukan logan batu, kaca, perselin, karbon, bahan tumbuhtumbuhan, pakaian, dan bulu mata. - Benda inert benda yang terdiri dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi pada mata, walaupun di beberapa kasus terdapat reaksi yang ringan dan tidak mengganggu fungsi mata seperti emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, dan plastik jenis tertentu.

- Benda reaktif yaitu benda yang menimbulkan reaksi pada mata sehingga mengganggu fungsi mata seperti timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, kuningan, besi, tumbuh-tumbuhan, pakaian, dan bulu ulat. Faktor resiko terjadinya corpus alienum pada mata dapat berupa: 2 - Pekerja di bidang industri yang tidak memakai pelindung mata - Pekerja las - Pemotong keramik - Tukang kayu III. PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS A. Patofisiologi Benda asing dengan kecepatan tinggi akan menembus seluruh lapisan sklera atau kornea serta jaringan lain dalam bola mata kemudian bersarang dalam bola mata dan menimbulkan perforasi sehingga benda asing tersebut bersarang di dalam rongga orbita. Hal ini biasanya akan ditemukan suatu luka terbuka dan biasanya terjadi prolaps iris, lensa, maupun badan kaca. 3 Jika suatu benda masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi salah satu dari ketiga perubahan berikut : 2 1. Mechanical effect Benda asing masuk ke dalam bola mata menembus kornea ataupun sklera. Setelah benda itu menembus kornea maka beda akan ke dalam kamera okuli anterior dan mengendap ke dasar. Jika ukuran benda sangat kecil benda dapat mengendap di sudut bilik mata. Jika benda menembus lebih dalam lagi maka bisa menggakibatkan katarak dan trauma. Benda ini bisa juga tinggal di dalam corpus vitreus. Bila benda melekat di retina, akan terlihat sebagai bagian yang dikelilingi oleh eksudat yang berwarna putih serta adanya endapan sel-sel darah merah. Hingga akhirnya terjadi degenerasi retina. 2. Permulaan terjadinya proses infeksi

Dengan masuknya benda asing ke dalam bola mata kemungkinan akan timbul infeksi. Corpus alienum dan lensa merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman sehingga sering menimbulkan infeksi supuratif, khususnya infeksi kuman tetanus. 3. Terjadi perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses kimiawi (reaction of ocular tissue) Reaksi yang timbul bergantung pada jenis benda tersebut apakah inert atau reaktif. Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi yang mengakibatkan dilatasi pembuluh darah dan udem kelopak mata, konjungtiva, dan kornea. Sel darah putih juga ikut berperan dalam reaksi inflamasi yang mengakibatkan reaksi pada kamera okuli anterior dan terdapat infltrasi kornea. Jika tidak dihilangkan benda asing dapat menyebabkan infeksi dan nekrosis jaringan. Reaksi jaringan mata lainnya adalah: 2 - Siderosis Reaksi jaringan mata akibat penyebaran ion besi ke seluruh mata. Pada gambaran klinis tampak kornea berwarna kuning kecoklatan, bintik-bintik kebutaan pada lensa, dan iris berubah warna. - Kalkalosis Reaksi jaringan mata akibat pengendapan/deposisi ion tembaga di dalam jaringan mata. B. Gejala Klinis Jika terdapat benda asing pada mata, gejala-gejala yang dirasakan dapat berupa: 2 1. Adanya perasaan tidak nyaman 2. Adanya sensai benda asing pada mata 3. Air mata keluar berlebihan 4. Sensitif terhadap cahaya 5. Nyeri pada mata

6. Mata merah Beratnya kerusakan pada organ di dalam bola mata dipengaruhi oleh: 5 1. Besarnya corpus alienum 2. Kecepatan masuknya 3. Ada tidaknya terjadi infeksi 4. Jenis benda asing IV. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, maupun konfirmasi diagnosis memerlukan pemeriksaan fisik yang cermat, dan pemeriksaan penunjang. 2 A. Anamnesa Untuk menentukan ada tidaknya benda asing serta lokasinya di dalam mata, perlu ditanyakan riwayat terjadinya trauma. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan serta letak dari benda asing tersebut. 2 Keluhan rasa tidak enak atau penglihatan kabur pada satu mata dengan riwayat benturan antara logam dengan kogam, ledakan atau cidera proyektil berkecepatan tinggi seharusnya memberikan kecurigaan adanya benda asing intraokular. 2 B. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik yang ditemukan adalah : 2 - Visus normal atau menurun - Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Flare positif - Benda asing positif - Defek epitel positif - Flourescein positif C. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan keadaan mata akibat trauma Benda asing pada mata terutama kornea dan konjungtiva harus dikeluarkan. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik

diperlukan suatu lampu dengan penerangan yang baik (sentolop) dan kaca pembesar (loupe), pemeriksaan yang lebih baik lagi adalah menggunakan lamp untuk mempermudah pengeluaran karena memberikan pembesaran dan visualisasi yang adekuat. Setelah pengeluaran, kerusakan pada kornea ataupun konjungtiva harus dievaluasi. Pemberian siklopegik dan antibiotik topikal dilakukan pada sebagian kasus. Bila pada konjungtiva bulni, sklera, kornea tidak tampak benda asing atau luka perforasi, selalu harus dicari kemungkinan adanya benda asing pada forniks dan konjungtiva palpebra. Untuk hal ini kelopak mata harus dibuka dan dilipat keluar. 2 2. Pemeriksaan dengan oftalmoskop Dengan oftalmoskop dapat diperiksa keadaan badan kaca dan retina sehingga dapat juga dilihat bila ada benda asing di badan kaca dan retina. Pemeriksaan funduskopi sebaiknya segera dilakukan karena bila lensa terkena, maka lensa akan menjadi keruh secara perlahan-lahan sehingga memberikan kesukaran untuk melihat jaringan di belakang lensa. Oftalmoskop dapat meramalkan prognosis fungsi penglihatan. 2 3. Pemeriksaan radiologi Setiap luka perforasi, selalu harus dilakukan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi ini akan memperlihatkan bentuk atau besar benda asing yang terletak intraokuler. Pemeriksaan yang paling sederhana untuk menentukan ada tidaknya benda asing yang radioopaque di dalam mata adalah melakukan Plane X-Ray. 2 Apabila dengan cara ini dapat dipastikan ada benda asing radioopaque di dalam orbita, maka tahap berikutnya adalah menentukan apakah benda asing tersebut intraokuler atau ekstraokuler. Untuk hal-hal ini dibutuhkan teknik-teknik khusus, seperti metode Sweet, metode Comberg, dengan menggunakan lensa kontak. Bila benda asing itu bukan radioopaque dibutuhkan pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan letaknya, yaitu: 2

- Metode Sweet Digunakan alat bantu lokalisir dan film tunnel. Keuntungan dari metode Sweet ini adalah: - Gambaran berupa 3 dimensi - Bila benda asing lebih dari satu - Metode Comberg Alat yang digunakan: lensa kontak, dipasang 4 marker dari masing-masing sudut 90 yang menunjukkan garis horizontal dan vertikal. Keuntungan dari metode Comberg adalah: - Teliti - Bisa melihat lebih dari satu benda asing. Dengan pemeriksaan CT-scan orbita dapat diketahui benda tersebut apakah pada bilik mata depan, lensa, segmen posterior, retina, retrobulbar, ekstraokuler, atau ekstra orbital. V. TATALAKSANA PRA RUMAH SAKIT Mata yang sakit ditetesi dengan anesteti tetes. Benda yang lunak biasanya hanya menempel saja dipermukaan mata, sehingga mengeluarkannya cukup dengan kapas steril maupun cotton tip. Benda yang keras biasanya mengakibatkan suatu luka. Untuk mengeluarkannya memakai jarum suntik secara hati-hati untuk menghindari kemungkinan perforasi. 3 Perintahkan kepada pasien untuk tetap menghadap kesatu titik, tanpa melihat ketitik yang lainnya. Setelah benda asing dikeluarkan, mata dibilas terlebih dulu dengan larutan garam fisiologis hingga bersih. Kemudian mata diberikan tetes midriatik ringan berupa skopolamin 0,25% atau homatropin 2%. Setelah benda asing dikeluarkan, mata harus diberikan salep antibiotik dan ditutup untuk proses re-epitalisasi yang berlangsung selama 1 sampai 3 hari. Luka harus diperiksa setiap hari untuk mencari tanda-tanda infeksi sampai luka sembuh sempurna. 3 Cara pengeluaran benda asing dapat dilakukan dengan cara, yaitu 2 : A. Jalan Anterior Pemilihan jalan anterior hanya boleh apabila:

- Benda asing tersebut berada di bilik mata depan dan dapat dilihat, dapat dilakukan melalui luka perforasi atau melalui insisi korneasklera didaerah limbus apabila benda berada di sudut bilik mata depan. - Benda asing di segmen posterior yang desertai kerusakan lensa dan perforasi kornea yang besar, dikeluarkan melalui luka perforasi kornea. Jalan anterior merupakan kontraindikasi apabila lensa masih utuh. B. Jalan Posterior 1. Melalui pars plana (4-7mm) dari limbus Keuntungan dari jalur ini adalah retina melekat kuat pada tempat ini, sehingga bahaya ablasi kecil. 2. Melalui tempat di mana benda asing berada, jalan ini ditempuh bila benda asing berada di retina. VI. KOMPLIKASI Komplikasi meliputi abrasi kornea, ulkus kornea, konjungtivitis, infeksi okular dalam, jaringan parut, benda asing yang tertahan dalam mata, dan kerusakan kornea permanen bahkan kebutaan. 2 Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran posisi, kedalaman, dan efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian sentral di mana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka dapat mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai mata merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup dalam. 1,4,5 Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media refraksi yang berarti prognosis bagi pasien adalah baik. 1,4,5 VII. RUJUKAN Indikasi rujukan adalah: 6 - Benda asing sulit dikeluarkan

- Terbentuk formasi rust ring pada kornea - Ada tanda tanda perforasi pada bola mata - Ada tanda pembentukan ulkus kornea seperti kabur pada defek, noda pada tes fluoresensi bertahan >72 jam - Defek pada bagian sentral kornea - Hyphema - Kerusakan kornea difus - Laserasi kornea atau sklera - Udem kelopak mata - Bentuk pupil abnormal VIII. ALGORITMA PENATALAKSANAAN Korban/Pasien dengan corpus alienum pada mata Corpus alienum intraokular Corpus Alienum Superficial Corpus Alienum superficial yang dalam Rujuk Cottontipped aplplicator atau jarum 30 gauge Non toksik, kecil,tidak nyeri, tidak menggangu visualisasi Toksik, dan cenderung mengakibatkan infeksi Diangkat tapi tidak diberi antibiotik Diangkat dan diberikan antibiotik Gambar 1. Algoritma penatalaksanaan corpus alienum pada mata

IX. DO DON T DO Anestesi topikal bagian mata yang terkena benda asing Keluarkan benda dengan irigasi mata menggunakan NaCl 0,9 % Keluarkan benda dengan cottontipped aplicator atau jarum 30 jika tidak keluar menggunakan irigasi Berikan antibiotik topikal setelah benda asing tersebut dicabut Reevaluasi setiap 24 jam untuk melihat apakah ada tanda-tanda komplikasi atau tidak DON T Setelah korpus alienum pada mata tercabut pasien tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor tanpa pelindung mata Menggosok mata yang sakit

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim, 2008. Trauma Mata. Diakses dari: http://www.rsmyap.com/component/option,com_frontpage/itemid,1/ tanggal 21 April 2017 pukul 15.00. 2. Permata Iva Dewi. Corpus Alienum Pada Mata. Referat Fakultas Kedokteran Baiturrahmah.2016.pp 14-21. 3. Rachmadianty Melinda. Benda Asing Konjungtiva. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.2015. 4. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum. Widya Medika Jakarta.2010. 5. Bashour M., 2008.Corneal Foreign Body. Diakses dari : http://emedicine.medscape.com/article/1195581-overview tanggal 21 April 2017 pukul 15.00. 6. Sekar, Novia, Elsa. Ilmu Kesehatan Mata(Corpus Alienum).Fakultas Kedokteran UNS.2014.