A. Jenis dan Rancangan Penelitian BAB III METODA PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah studi korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antar variabel (Nursalam, 2003). Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan berupa pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2002). B. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2003). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Setiabudhi Semarang kelas X dan kelas XI yang berjumlah orang siswa. Sampel adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu yang disebut dengan teknik sampling (Arikunto, 2003). Sampel pada penelitian ini dikelompokkan dalam dua strata, yaitu kelas X dan XI, dengan penentuan proporsi masing-masing strata berdasarkan prosentase jumlah siswa kelas X dan XI, setelah didapatkan jumlah sampel secara proporsional, pengambilan sampel setiap strata dilakukan dengan cara random sampling dan memperhatikan proporsi pada masing-masing kelas (Prasetyo & Jannah, 2005). Sampel pada penelitian ini adalah siswa SMA Setiabudhi Semarang yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003). Kriteria inklusinya adalah: Siswa SMA Setiabudhi Semarang kelas X dan kelas XI, dan bersedia menjadi responden. 2. Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai sebab (Nursalam, 2003). Kriteria eksklusinya adalah: Siswa yang tidak hadir disekolah saat pengambilan data. Adapun pengambilan jumlah sampel dengan menggunakan tekhnik pengambilan sampel dari Notoatmodjo (2002) sebagai berikut : n = N 1 + N (d 2 ) Dimana : N : Besar populasi n : Besar sampel d : Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,05 2 ) n = 1 + (0,05 2 ) = 172,7 dibulatkan menjadi 173 orang Jadi sampel yang diambil sebesar 173 responden.
Kelas X terdiri dari empat kelas dan kelas XI juga terdiri dari empat kelas jadi total jumlah kelas dari kelas X dan kelas XI ada delapan kelas. Adapun pembagian jumlah sampel dari masing-masing kelas, sebagai berikut : 32 Kelas X.1 = x 173 = 18 33 Kelas X.2 = x 173 = 19 34 Kelas X.3 = x 173 = 19 33 Kelas X.4 = x 173 = 19 35 Kelas XI.IA = x 173 = 20 47 Kelas XI.IS.1 = x 173 = 27 46 Kelas XI.IS.2 = x 173 = 26 44 Kelas XI.IS.3 = x 173 = 25 Jumlah = 173 + C. Definisi Operasional
1. Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) a. Definisi Pengetahuan yang dimiliki oleh remaja tentang PMS, meliputi : pengertian, jenis-jenis, cara penularan, tanda dan gejala, penyebab, akibat, dan pencegahan PMS. b. Alat Ukur Pengukuran dilakukan dengan kuesioner yang terdiri dari 20 pertanyaan. Pertanyaan dengan jawaban benar dan salah. Diukur dengan skor 1 untuk jawaban benar dan 0 untuuk jawaban salah. c. Hasil Ukur Skor tertinggi : 20 Skor terendah : 0 Dengan kriteria tingkat pengetahuan : tertinggi - terendah 20 0 3 3 = 6,66 dibulatkan menjadi 7 Baik, jika skor > 14 Cukup, jika skor antara 8-14, dan Kurang, jika skor 0-7 d. Skala : Ordinal. 2. Sikap Remaja Tentang Hubungan Seks Pranikah
a. Definisi b. Alat Ukur Pendapat siswa tentang hubungan seks pranikah. Pengukuran dilakukan dengan kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan. Dengan jawaban sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS), dan tidak setuju (TS). c. Hasil Ukur Skor tertinggi : 60 Skor terendah : 15 Dengan kriteria sikap : Baik, jika skor 39 Tidak baik, jika skor 38 d. Skala : Nominal D. Metode Pengumpulan Data 1. Alat dan Bahan Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan mengedarkan daftar pertanyaan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, dan jawaban (Notoatmodjo, 2003). Kuesioner dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu kuesioner A dan B. a. Pengetahuan remaja tentang PMS
Kuesioner A mengenai pengetahuan remaja tentang PMS. Yang terdiri dari 20 soal dan diadopsi dari Nurlaila (2008) dengan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan Penyakit Menular Seksual dengan sikap seksual pranikah pada mahasiswa semester 2 Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang. Kriteria hasil, jika menjawab benar skor 1, dan jika menjawab salah skor 0. Dengan kategori: pengetahuan baik jika skor > 14, pengetahuan cukup jika skor 8-14, dan pengetahuan kurang jika skor 0-7. b. Sikap remaja tentang hubungan seks pranikah Kuesioner B mengetahui sikap remaja tentang hubungan seks pranikah yang terdiri dari 15 pertanyaan dan diadopsi dari Nurlaila (2008) dengan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan Penyakit Menular Seksual dengan sikap seksual pranikah pada mahasiswa semester 2 Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang. Kriteria hasil, untuk pertanyaan positif jika menjawab sangat setuju skor 4, jika menjawab setuju skor 3, jika menjawab kurang setuju skor 2, dan jika menjawab tidak setuju skor 1. Sedangkan untuk pertanyaan negatif jika menjawab sangat setuju skor 1, jika menjawab setuju skor 2, jika menjawab kurang setuju skor 3, dan jika menjawab tidak setuju skor 4. Dengan kategori: sikap baik jika skor 39 dan sikap tidak baik jika skor 38. 2. Cara pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan pada siswa SMA Setiabudhi Semarang dari kelas X sampai kelas XI, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Setelah memperoleh surat ijin penelitian dari FIKKES Unimus no: 61/UNIMUS.G.4/AK/2009, peneliti meminta ijin kepada Dinas Pendidikan kota Semarang. 2. Setelah mendapatkan surat ijin penelitian dari Dinas Pendidikan kota Semarang no: 070/082, peneliti meminta ijin kepada kepala sekolah SMA Setiabudhi Semarang untuk melakukan penelitian. 3. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah SMA Setiabudhi Semarang, peneliti menentukan jumlah responden dari masing-masing kelas sesuai dengan proporsinya. 4. Dengan dibantu oleh satu orang guru BK peneliti masuk ke setiap kelas untuk menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian. 5. Setelah memahami tujuan penelitian, peneliti menentukan responden dengan cara mengundi nomer absen setiap siswa sehingga didapatkan responden sesuai dengan proporsi dari masing-masing kelas. 6. Responden yang sudah terpilih diminta untuk mengisi lembar persetujuan menjadi responden. 7. Setelah responden menandatangani lembar persetujuan, peneliti mempersilahkan responden memasuki kelas yang sudah ditentukan untuk pengisian kuesioner. 8. Peneliti membagikan lembar kuesioner ketiap-tiap kelas dan mempersilahkan responden mengisi kuesioner dengan petunjuk pengisian.
9. Peneliti tetap berada ditempat penelitian untuk menunggu kuesioner yang telah diisi untuk dikembalikan lagi ke peneliti. 10. Peneliti mengumpulkan kembali kuesioner yang telah diisi dan diperiksa kembali kelengkapan jawaban dari responden agar apabila ada jawaban yang kurang lengkap peneliti dapat meminta responden untuk melengkapinya kembali. 3. Uji Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas Uji validitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan keakuratan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2006). Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (Content Validity) yaitu validitas yang diestimasi dengan pengujian terhadap isi tes menggunakan koefisien korelasi Product Moment (Sugiyono, 2005). Hasil penghitungan tiap-tiap item dibandingkan dengan total nilai product moment, apabila hasil uji dari tiap item pertanyaan ternyata signifikan (p value < 0,05) atau r hitung > r tabel maka item pertanyaan tersebut valid dan dapat digunakan, namun apabila tidak signifikan (p value > 0,05) atau r hitung < r tabel maka item pertanyaan dinyatakan tidak valid (Notoatmodjo, 2003). Dari hasil uji validitas yang dilakukan terhadap 30 orang siswa (diluar responden) SMA Setiabudhi Semarang pada tanggal 18 Juni 2009 diperoleh
hasil r hitung > dari r tabel dengan nilai r hitung tertinggi untuk pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual (PMS) adalah 0,643 dan terendah 0,389 dan nilai r hitung tertinggi untuk sikap remaja tentang hubungan seks pranikah adalah 0,726 dan terendah 0,372 dengan nilai r tabel 0,361 (0,05). Berdasarkan hasil tersebut diatas maka instrumen dikatakan valid. b. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan telah reliabel (Notoatmidjo, 2002). Suatu alat ukur dikatakan reliabel bila alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama (Notoatmodjo, 2002). Untuk menguji reliabilitas kuesioner digunakan rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (Sugiyono, 2005). Menurut Azwar (2006) besar kecilnya reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas (r xx ) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas, sedangkan koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 berarti reliabilitasnya semakin rendah (Azwar, 2006). Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap 30 orang siswa (diluar responden) SMA Setiabudhi Semarang pada tanggal 18 Juni 2009 diperoleh hasil untuk pengetahuan remaja tentang PMS nilai alfanya 0,8367 dan untuk sikap remaja tentang hubungan seks pranikah hasil nilai alfanya 0,7804. Berdasarkan hasil uji tersebut nilai Alpha keduanya mendekati nilai 1,0 dengan demikian kedua variabel dikatakan reliabel.
E. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Metode Pengolahan Data Pada penelitian ini data akan diolah melalui tahap sebagai berikut (Arikunto, 2003) : a. Mengedit (Editing) Melakukan pengecekan ulang data yang telah diperoleh dalam formulir observasi yang telah tersedia, diantaranya kelengkapan identitas pengisian, lembar kuesioner, dan kelengkapan pengisian. b. Mengkode (Coding) Dilakukan dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa angka, sehingga memudahkan proses pemasukan data di komputer untuk kuesioner A jika jawaban benar kodenya 1 dan jawaban salah kodenya 0, sedangkan kuesioner B untuk pertanyaan positif Sangat setuju: kodenya 4, Setuju: kodenya 3, Kurang setuju: kodenya 2, Tidak setuju:
kodenya 1. Untuk pertanyaan negatife Sangat setuju: kodenya 1, Setuju: kodenya 2, Kurang setuju: kodenya 3, Tidak setuju: kodenya 4. c. Memasukkan data (Data Entering) Data yang didapat dari penelitian kemudian dimasukkan kedalam komputer dengan program SPSS 11.0. d. Tabulasi (Tabulating) Data dimasukkan kedalam tabel sesuai dengan pernyataan karakteristik responden agar mudah di baca. 2. Analisa Data Data yang terkumpul akan di analisa secara deskriptif korelasi, data yang dianalisa secara deskriptif dalam bentuk, yaitu : a. Analisa Univariat Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Analisis yang menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan mempresentasikan pengetahuan remaja tentang penyakit menular seksual dan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah (Notoatmodjo, 2002). b. Analisa Bivariat Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan dependen dengan menggunakan uji statistik (Hidayat, 2003).
Untuk menganalisis hubungan antara skala ordinal dan nominal atau variabel kategorik dan kategorik menggunakan uji Chi Square (X 2 ) (Sugiyono, 2007). Untuk dapat membuat keputusan tentang hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka berlaku ketentuan bila X 2 hitung X 2 tabel atau p value < 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang PMS dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah, dan apabila X 2 hitung < X 2 tabel atau p value > 0,05 maka Ho diterima, artinya tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang PMS dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah (Sugiyono, 2007). F. Etika Penelitian Menurut Notoatmodjo (2003) masalah etika dalam penelitian keperawatan dapat meliputi : 1. Informed Concent (persetujuan) Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (Informed Concent). Informed Concent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Concent adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya, jika subjek bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden. 2. Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan diri responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden tetapi cukup dengan memberikan kode nomor atau inisial nama. 3. Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti (Hidayat, 2003). Menurut Hidayat (2003) kerahasiaan mengacu pada tanggung jawab untuk melindungi semua data yang dikumpulkan. Seluruh informasi yang diberikan oleh responden dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian, dan jika sudah tidak dibutuhkan lagi, maka seluruh data akan dimusnahkan setelah 5 tahun berlakunya waktu penelitian (Hidayat, 2003).