Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok

dokumen-dokumen yang mirip
KARAKTER SPASIAL BANGUNAN STASIUN KERETA API SOLO JEBRES

KARAKTER VISUAL BANGUNAN STASIUN KERETA API JEMBER

Elemen Pintu dan Jendela pada Stasiun Kereta Api Sidoarjo

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG

Tabel 4.2. Kesesuaianan Penerapan Langgam Arsitektur Palladian Pada Istana Kepresidenan Bogor.

KARAKTER SPASIAL DAN VISUAL PADA BANGUNAN GEDUNG JUANG 45 BEKASI JAWA BARAT

ANALISIS PERKEMBANGAN GAYA ARSITEKTUR PADA FASADE BANGUNAN STASIUN KERETA TANJUNG PRIUK. Rina Widayanti 1 Meyka Widyarsih 2

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KOLONIAL BELANDA SDN DITOTRUNAN 1 LUMAJANG

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KOLONIAL BELANDA RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN

PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU JATIM (EKS SOERABAIASCH HANDELSBLAD)

Elemen Arsitektural pada Fasad Rumah Dinas Pabrik Gula Kremboong Sidoarjo

Identitas Visual Bangunan Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi

KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center

Kriteria Desain Fasade Pembentuk Karakter Visual Bangunan Universitas Tanjungpura

Karakter Visual Bangunan Rumah Dinas Kolonial Belanda Pabrik Gula Jatiroto Lumajang

Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi

PELESTARIAN BANGUNAN KANTOR POS BESAR SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. sejak berabad-abad silam dan beberapa diantaranya sekarang sudah menjadi aset

PELESTARIAN BANGUNAN MASJID JAMIK SUMENEP

PELESTARIAN BANGUNAN MASJID TUO KAYU JAO DI SUMATERA BARAT

Karakteristik Spasial dan Visual Balai Kota Madiun (Eks Raadhuis te Madioen)

Pelestarian Bangunan Kolonial Belanda Kantor Gubernur Jawa Timur (Gouverneur Kantoor Van Oost Java)

TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN RUMAH KUNO DI DESA SEMPALWADAK KABUPATEN MALANG

PELESTARIAN BANGUNAN KOLONIAL BELANDA DI JALAN PEMUDA DEPOK

TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN RUMAH TINGGAL KOLONIAL DI NGAMARTO - LAWANG

BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep tersebut berawal dari tema utama yaitu Analogy pergerakan air laut, dimana tema

KOMPONEN PADA ELEMEN FASADE MASJID AGUNG JAMI MALANG PERIODE 1910, 1940, DAN 2016

BAB III KAJIAN LAPANGAN

Karakteristik Fasade Bangunan Kawasan Pasar Besar Kota Malang

A. GAMBAR ARSITEKTUR.

TATANAN ELEMEN VISUAL GEDUNG BALAI KIRTI YANG KONTEKSTUAL DI KOMPLEK CAGAR BUDAYA ISTANA BOGOR JURNAL ILMIAH

PELESTARIAN BANGUNAN STASIUN KERETA API KEDIRI

Sirkulasi Bangunan Rumah Tinggal Kampung Kauman Kota Malang

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. A. Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN. BAB V Kesimpulan dan Saran 126

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sumatera Utara memiliki beberapa Kesultanan pada masanya, yang

Architecture. Modern Aesthetic. Neoclassic Style Teks: Widya Prawira Foto: Bambang Purwanto. Home Diary #009 / 2015

PELESTARIAN BANGUNAN UTAMA EKS RUMAH DINAS RESIDEN KEDIRI

BAB VI KESIMPULAN. Rumah toko Cina Malabero Bengkulu yang dikelompokkan dalam

Kesimpulan dan Saran

Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar

SINTESIS LANGGAM ARSITEKTUR KOLONIAL PADA GEDUNG RESTAURAN HALLO SURABAYA DI SURABAYA

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009

Pengertian struktur. Macam-macam struktur. 1. Struktur Rangka. Pengertian :

BAB V KONSEP PERANCANGAN. tersebut juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai elemen arsitektural.

DOKUMENTASI GEDUNG SBM DAN BPI ITB

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN GEREJA BLENDUK (GPIB IMMANUEL) SEMARANG

Analisa Karakter Fasade Bangunan. Kerangka Analisa Karakter Fasade Bangunan

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KANTOR BAKORWIL IV JATIM PAMEKASAN

Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya

SUMBU POLA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN KOTA BATU

Architecture. Home Diary #008 / 2015

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Karakter Visual Bangunan Utama Kompleks Asrama Inggrisan Kota Banyuwangi

DINDING DINDING BATU BUATAN

KLINIK ULTRAMODERN Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin

pada bangunan yang berkembang pada masa Mesir kuno, Yunani dan awal abad

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU

MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang. meningkatkan jumlah pengunjung/wisatawan

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung

BENTUKAN VISUAL ARSITEKTUR RUMAH SINOM DI KELURAHAN KERTOSARI PONOROGO

BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil Perancangan Tata Masa dalam tapak. mengambil objek Candi Jawa Timur (cagar budaya)sebagai rujukannya, untuk

Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta

BAB V HASIL RANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB III ANALISA. ±4000 org b. Debarkasi Penumpang

sekitarnya serta ketersediaannya yang belum optimal (pada perbatasan tertentu tidak terdapat elemen gate). d. Elemen nodes dan landmark yang

STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN STASIUN KA KOTA LAMA (DENGAN PERSANDINGAN STASIUN KA PASARTURI SURABAYA)

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA

Bangunan SPA ini terietak di Jl. Sunan Mantingan, Demaan, Jepara,

Komposisi Fasad Bangunan Kompleks Pusat Penelitian Perkebunan Pabrik Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan

JURNAL UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN HOTEL RESORT DI WISATA PANTAI ALAM INDAH. Disusun Oleh :

Observasi Citra Visual Rumah Tinggal

Gaya Kolonial pada Rumah Tinggal Keluarga Ko Som Ien dan Ko Kwat Ie di Magelang

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Omah Dhuwur Gallery merupakan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya

Gambar 5. 1 Citra ruang 1 Gambar 5. 2 Citra ruang 2 2. Lounge Lounge merupakan salah satu area dimana pengunjung dapat bersantai dan bersosialisasi de

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Penerapan Tema dasar Arsitektur Islam yang berwawasan lingkungan pada

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja

EGYPTIAN ARCHITECTURE

Karakteristik Spasial Area Masuk Utama pada Bangunan Stasiun (Studi Kasus: Stasiun-Stasiun di Wilayah Malang)

BAB V HASIL RANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. mengacu pada tema dasar yaitu high-tech architecture, dengan tujuh prinsip tema

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

MANAKALA GEDUNG BPI ITB UNJUK KEKUATAN

ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR

BAB III ELABORASI TEMA

Transkripsi:

Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok Alifah Laily Kurniati 1 dan Antariksa 2 1 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Email: alifahlaily@gmail.com; antariksa@ub.ac.id ABSTRAK Stasiun Tanjung Priok dibangun pada tahun 1914 sehingga karakter visual yang muncul pada bangunan dipengaruhi oleh gaya arsitektur art deco yang sedang berjaya di masa itu. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi bangunan Stasiun Tanjung Priok pada saat ini sehingga studi ini layak dilakukan. Keunikan yang muncul berupa bentuk dasar bangunan yang membentuk ziggurat, garis vertikal dan horizontal yang kuat mendominasi fasade bangunan, serta tambahan sisi melengkung dengan material beragam pada peron stasiun. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter visual yang terdapat pada bangunan, dengan pendekatan metode analisis deskriptif. Kata kunci: karakter visual, Stasiun Kereta Api Tanjung Priok, bangunan kolonial ABSTRACT Tanjung Priok station was built in 1914 so that visual character who appeared on buildings influenced by the art deco style of architecture that is being successful in that period. This has been the attraction for the Tanjung Priok Station building at this time so that the study is worth doing. The uniqueness of the basic form appear in the form of buildings that make up the ziggurat, vertical and horizontal lines of the facade of the building dominates the strong, as well as the curved side with additional diverse material on the platform of the station. This study aims to identify and analyze the visual character of the building, with an approach descriptive analysis of the method. Keywords: visual characters,tanjung Priok railway station, colonial building 1. Pendahuluan Pada awalnya wilayah Tanjung Priok sebagian besar berupa hutan dan rawa sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk mobilisasi perdagangan dan wisatawan eropa menuju Batavia Centrum (Jakarta Kota). Oleh karena itu Staats Spoorwegen memulai pembangunan Stasiun Tanjung Priok pada tahun 1914 bersamaan dengan Pengembangan kolam Pelabuhan Tanjung Priok II. Memiliki luas bangunan 3.768 m 2 membuat Stasiun Tanjung Priok memiliki 8 buah jalur kereta serta berbagai fasilitas penunjang seperti bar, ruang dansa, rumah sakit, serta penginapan khusus penumpang Belanda dan Eropa lainnya, terdapat juga ruang bawah tanah yang diperkirakan sebagai bunker. Karena dibangun pada awal abad ke-20, bangunan dipengaruhi oleh gaya

arsitektur art deco yang menggunakan sentuhan arsitektur modern namun tetap memasukan unsur dekoratif di dalamnya. Keunikan dari karakter visual yang dimiliki bangunan Stasiun Tanjung priok dapat dilihat dari desain bangunannya yang berbentuk simetris dengan gaya arsitektur art deco yang berbentuk simpel dan geometris. Bidang dasar bangunan yang berupa persegi membentuk susunan kubus yang berundak menyerupai ziggurat seperti monumen yang dibangun pada masa Mesopotamia kuno. Bentuk persegi ini juga ditemukan pada bangunan yang membentuk bidang bukaan, kolom, dan jalusi. Permainan garis vertikal dan horizontal menjadi ciri ornamen langgam arsitektur art deco yang populer pada awal abad ke-20. Garis-garis tersebut terdiri dari garis-garis vertikal kolom-kolom, list atap yang horizontal, lubang-lubang berupa jalusi dan ballustrade pada selasar bangunan, lekukan dinding membentuk ceruk yang menyerupai jendela palsu yang berdampingan dengan jendela asli, serta kaca patri dan ornamen keramik sebagai elemen hias dinding stasiun. Kesan megah diperkuat oleh kolom-kolom besar dan kokoh pada bangunan utama, dan juga struktur rangka baja lengkung pada area peron. Oleh karena itu dilakukan studi yang didasari tujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi karakter visual yang terdapat pada bangunan guna mengetahui lebih dalam elemen pendukung dari karakter visual bangunan Stasiun Tanjung Priok. Tinjauan pustaka yang digunakan berupa teori mengenai elemen pembentuk karakter visual. 2. Metode Metode penelitian menggunakan pendekatan berupa metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis digunakan untuk mendeskripsikan hasil data yang didapat dari observasi lapangan. Variabel penelitian berupa karakter visual yang terdapat pada bangunan dengan indikator sebagai berikut. (Tabel 1) Tabel 1. Variabel Penelitian Kriteria Pengamatan Karakter visual Variabel Atap Dinding Pintu Jendela Kolom Plafon Komposisi visual bangunan Indikator Bentuk, material, warna, ornamen, peletakan, perubahan Simetri, proporsi, perulangan, hirarki, pusat perhatian 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Atap Atap bangunan terdiri dari tiga bagian yaitu atap drop off, atap bangunan, dan atap peron. Atap drop off berupa atap datar yang menggunakan material beton finishing cat putih. Atap bangunan pun berupa atap datar menggunakan material beton dengan finishing cat putih, perbedaanya adalah atap bangunan memiliki tambahan atap genteng kaca pada

bagian hall, ruang dansa, dan rumah sakit. Atap peron merupakan atap pelana bersusun bentang lebar dengan material kuda kuda baja dan penutup atap seng gelombang. Kombinasi antara atap datar dengan atap yang menggunakan bentuk lengkung bermaterial baja merupakan perpaduan yang memperkuat karakter arsitektur art deco pada bangunan. (Gambar 1) Keterangan: Atap drop off Atap bangunan Atap peron Drop Off Pintu Utama Atap pelana genteng kaca ruang dansa dan Gambar 1. Atap Stasiun Tanjung Priok View dari peron 3.2 Dinding Dinding pada bangunan terdiri dari dinding eksterior dan interior. Dinding eksterior adalah dinding yang membatasi ruang luar bangunan dengan ruang dalam, sekaligus menjadi fasade dari bangunan sendiri. Dinding eksterior stasiun Tanjung Priok terdiri dari dinding bangunan utama dan dinding ruang eks PPKA, keduanya memiliki ketebalan dinding 30 cm dengan finishing kamprot cat abu-abu dan plester aci cat putih. Terdapat pintu, jendela, serta kolom yang membentuk pola perulangan bentuk yang menjadi alur sirkulasi sekaligus elemen hias tambahan pada dinding eksterior. Pintu eksterior menggunakan jenis material baja, panel kayu, panel kayu kaca, dan pintu jendela, kemudian jendela eksterior menggunakan material kayu dan kaca, elemen pintu dan jendela membentuk bidang persegi dan dihiasi dengan list profil dinding yang membentuk entablature disekeliling kusen pintu, memperkaya ragam hias bangunan dengan ciri arsitektur art deco. Lalu terdapat kolom beton terdapat pada sisi depan, utara, dan selatan bangunan, membentuk arcade persegi panjang dengan penambahan jalusi bermotif geometri sederhana diatasnya, arcade ini berfungsi sebagai area transisi dari luar menuju teras dan sisi dalam bangunan. (Gambar 2)

Arcade dengan jalusi pada tampak depan bangunan Pintu dan jendela eksterior tampak Gambar 2. Dinding Eksterior Stasiun Tanjung Priok Dinding interior stasiun Tanjung Priok secara keseluruhan menggunakan finishing aci dengan cat putih serta dinding kamprot dengan cat abu abu. Rata rata ruang pada stasiun Tanjung Priok memiliki ketinggian berskala monumental karena berkisar antara 8-15 meter, dinding tertinggi terdapat lobby dengan ketinggian 9 meter kemudian hall penumpang yang ketinggiannya mencapai 15 meter. Pada beberapa ruang dinding interior memiliki elemen estetika tambahan seperti hall dan lobby yang menggunakan batu alam sebagai lapisan dinding, ruang dansa dan bar menggunakan lapisan kayu jati, dan rumah sakit menggunakan tegel keramik. (Gambar 3) 3.3 Pintu Gambar 3. Dinding Interior Stasiun Tanjung Priok Pintu bangunan terdiri dari beragam jenis material dan tersebar pada sisi eksterior maupun interior stasiun. Keberagaman tersebut dilengkapi dengan kesatuan berupa dominasi garis vertikal horizontal serta bidang persegi yang menjadi estetika tambahan per elemennya serta memperkuat karakter arsitektur art deco pada bangunan.(gambar 4)

Pintu baja Pintu panel kayu Pintu panel kayu kaca Pintu jendela Gambar 4. Material Pintu Stasiun Tanjung Priok 3.4 Jendela Jendela stasiun Tanjung Priok menggunakan material kusen kayu dan bidang bukaan kaca. Satu tipe jendela yang terdapat pada hampir seluruh ruang pada stasiun Tanjung Priok baik eksterior maupun interior, jendela tersebut berupa tiga buah jendela berukuran 0,6x2,17 meter yang tergabung menjadi satu kesatuan, dengan total dimensi 2,2x2,17 meter termasuk jarak antar perulangan jendela. Terdapat pula jendela yang hanya terletak pada interior bangunan yaitu jendela loket yang terdapat pada lobby. (Gambar 5) Jendela yang terdapat pada seluruh ruang di bangunan Jendela bar Jendela pintu masuk utara Jendela loket Gambar 5. Jendela Eksisting Stasiun Tanjung Priok 3.5 Kolom Kolom pada bangunan menggunakan dua jenis material, kolom beton dan baja. Kolom beton eksterior terdapat pada area drop off dan selasar, sedangkan kolom beton interior terdapat pada hall dan bar. Kolom dengan material baja terdapat pada peron dan ruang tunggu, terdiri dari cor beton berbentuk prisma trapesium setinggi 75 cm yang bersambung dengan kuda kuda atap peron bentang lebar 34,5 meter dan dengan kolom baja serupa di seberang peron. (Gambar 6)

3.6 Plafon Kolom drop off Kolom selasar Kolom ruang bar Kolom baja peron Gambar 6. Kolom Eksisting Stasiun Tanjung Priok Plafon pada bangunan stasiun Tanjung Priok masih menggunakan plafon asli dengan material kayu yang mengekspos struktur balok dari bangunan. Sebagian kondisi plafon masih bagus, namun banyak pada beberapa ruang, terdapat yang bocor dan berjamur seperti ruang transisi bar dan ruang PKD. (Gambar 7) 3.7 Komposisi visual bangunan 3.7.1 Simetri Plafon lobby Plafon ruang PKD Plafon ruang transisi bar yang berjamur Gambar 7. Kondisi Eksisting Plafon Stasiun Tanjung Priok Simetri yang ditemukan pada bangunan adalah simetri bilateral dan asimetris. Simetri bilateral terdapat pada tampak depan dan belakang bangunan yang membentuk bidang yang sama persis antara kedua sisinya jika ditarik garis sumbu simetri pada bagian tengah. Kemudian simetri asimetris terdapat pada tampak utara dan selatan bangunan, karena sisi kanan dan kiri dari tampak utara dan selatan tidak membentuk kesamaan. (Gambar 8 dan Gambar 9)

Gambar 8. Simetri Bilateral Tampak Depan Stasiun Tanjung Priok Tampak depan Gambar 9. Simetri Bilateral Tampak Utara Stasiun Tanjung Priok Tampak utara 3.7.2 Proporsi Proporsi yang didapat berdasarkan skala manusia terhadap bangunan adalah skala monumental karena perbandingan ketinggian antara bangunan dan rata-rata tinggi manusia adalah 1:9,8. Kemudian hasil perhitungan proporsi dari perbandingan panjang dan lebar pada tampak depan bangunan adalah 1:4,5. (Gambar 10 dan Gambar 11) Proporsi berdasarkan skala manusia adalah 1:9,8 17,3 m 11,5 m Gambar 10. Proporsi Bangunan Berdasarkan Skala Manusia 5,6 m 1,75 Proporsi berdasarkan tinggi dan lebar depan adalah 1:4,5 17,3 m 77,72 m Gambar 11. Proporsi Bangunan Berdasarkan Perbandingan Panjang Lebar

3.7.3 Perulangan Perulangan yang terdapat fasade bangunan adalah perulangan jarak dan bentuk. Perulangan bentuk terdiri dari jendela, pintu, kolom, dan jalusi, yang juga menciptakan perulangan jarak berdasarkan irama yang terbentuk dari pola penyusunan bentuk. (Gambar 12) Tampak depan Gambar 12. Pola Perulangan Pada Tampak Depan Stasiun Tanjung Priok 3.7.4 Hirarki dan Pusat Perhatian A BBB A C C C C A D D D A C C C C A BBB A Pada fasade stasiun Tanjung Priok, hirarki dan pusat perhatian terletak pada sisi tengah pada tampak depan bangunan yang terdiri dari area drop off, lobby, dan hall yang membentuk bidang persegi besar ditengah bangunan. Pada serial vision dari jalan taman stasiun Tanjung Priok menuju bangunan, bidang tersebut pun menjadi point of view karena dimensinya yang paling besar dan bentuknya yang menyerupai ziggurat berbeda dari bangunan disekitar. (Gambar 13 dan Gambar 14) Persegi panjang membujur horizontal identik Bentuk persegi panjang membujur secara vertikal menciptakan bentuk dan dimensi yang berbeda dari bentuk sekitarnya Gambar 13. Hirarki Pada Stasiun Tanjung Priok

Pusat perhatian terbentuk dari peletakannya yang berada di tengah bangunan dan dimensi yang berbeda 4. Kesimpulan Gambar 14. Pusat Perhatian Pada Stasiun Tanjung Priok Karakter visual stasiun Tanjung Priok ditandai dengan warna bangunan yang didominasi oleh warna putih serta ukuran bangunan yang berskala monumental dengan perbandingan terhadap skala manusia yaitu 1:9,8 dan menjadi citra kawasan pada kawasan sekitar stasiun Tanjung Priok. Hasil analisis yang dilakukan pada bangunan menunjukkan bahwa seluruh elemen pendukung karakter visual menjadi ciri khas yang memperkuat karakter asli bangunan yang menggunakan gaya arsitektur art deco. Daftar Pustaka Widayanti, R., & Widyarsih, M. (Desember 2012). Analisis Perkembangan Gaya Arsitektur Pada Bangunan Stasiun Tanjung Priuk. Desain & Konstruksi. Prameswari, Tri Ajeng;, Antariksa; Suryani, Noviani. (2017). Karakter Visual Bangunan Kolonial Belanda Kantor Gubernur Jawa Timur (Gouverneur Kantoor Van Oost Java). Arsitektur e-journal Volume 10 Nomor 1, 12-22.