BAB II KMIAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. (Undang-undang No.20 Tahun 2003: 1). Pendidikan erat kaitannya dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. proses (perbuatan) yang bertujuan untuk mengembangkan sesuatu. teruji, pengamatan yang seksama dan percobaan yang terkendali.

EKSPLORASI KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 9 SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini berkembang sangat cepat,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran reciprocal teaching pertama kali diterapkan oleh Brown

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan penting

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan

KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model Problem Based Learning dikembangkan oleh Barrows sejak tahun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013

Efektivitas Metode Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Generik Sains Siswa Kelas XI IA 2 SMA Negeri 8 Makassar

I. PENDAHULUAN. Pada hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dibangun atas dasar produk

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara umum belief diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan diri terhadap

KISI-KISI KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU BIDANG STUDI BIOLOGI

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan

PROFIL KEMAMPUAN GENERIK PERENCANAAN PERCOBAAN CALON GURU HASIL PEMBELAJARAN BERBASIS KEMAMPUAN GENERIK PADA PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai Standar. Kompetensi dan Kompetensi Dasar atau tujuan pembelajaran yang telah

Keterampilan Proses Sains. Makalah disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan IPA. oleh Litasari Aldila Aribowo ( )

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

II. TINJAUAN PUSTAKA. sains tersebut (Gallagher, 2007). Dengan demikian hasil belajar sains diharapkan

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. berperan langsung di dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh

TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA. menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan, dan dapat mencapai tujuan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penalaran menurut ensiklopedi Wikipedia adalah proses berpikir yang bertolak

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian tujuan pembelajaran yakni membentuk peserta didik sebagai pebelajar

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Eka Kartikawati,2013

PENGEMBANGAN ALAT PENILAIAN BERBASIS KETERAMPILAN GENERIK SAINS PADA PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

BAB I PENDAHULUAN. dalam mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang ada pada manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh

II. KAJIAN PUSTAKA. Efektivitas dalam bahasa Indonesia merujuk pada kata dasar efektif yang diartikan

Perbandingan Peningkatan Keterampilan Generik Sains Antara Model Inquiry Based Learning dengan Model Problem Based Learning

II. TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukan

BAB II KAJIAN TEORITIK

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Teori Belajar yang Melandasi Problem Based Learning

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. baik. Efektivitas berasal dari kata efektif. Dalam Kamus Besar Bahasa

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan

PENERAPAN MODEL ADVANCE ORGANIZER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN ANALOGI MATEMATIS SISWA SMP

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu

II. KERANGKA TEORETIS. 1. Pembelajaran berbasis masalah (Problem- Based Learning)

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengalaman langsung menggunakan eksperimen. Belajar harus bersifat menyelidiki

II. TINJAUAN PUSTAKA. Guna memahami apa itu kemampuan pemecahan masalah matematis dan pembelajaran

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan mutu pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI

II. KERANGKA TEORITIS. Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sains berasal dari natural science atau science saja yang sering disebut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan komposisi zat menggambarkan bagaimana partikel-partikel penyusun zat

I. PENDAHULUAN. dan kritis (Suherman dkk, 2003). Hal serupa juga disampaikan oleh Shadiq (2003)

BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan

II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses

2016 KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK

BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan. Proses pembelajaran di dalam kelas harus dapat menyiapkan siswa

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan konstruksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biologi berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata bios yang berarti

I. PENDAHULUAN. penyampaian informasi (transfer of knowledge) dari guru ke siswa. Padahal

Transkripsi:

5 BAB II KMIAN PUSTAKA 2.1 Kemampuan Generik. Kemampuan generik merupakan kemampuan intelektual hasil perpaduan atau interaksi kompleks antara pengetahuan dan keterampilan. Kemampuan tersebut tidak tergantung pada domain atau disiplin ilmu tetapi mengacu kepada "strategi kognitif" (Gibb,2002). Keterampilan atau kemampuan generik dikenal pula dengan sebutan kemampuan kunci, kemampuan inti (core skill/core ability), kemampuan essensial dan kemampuan dasar. Kemampuan generik ada yang spesifik berhubungan dengan pekerjaan dan ada yang relevan dengan aspek sosial. Kemampuan generik merupakan kemampuan yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang studi dan untuk memperolehnya dibutuhkan waktu upaya yang terus-menerus dan waktu yang relatif lama (Rahman dkk, 2010). Kemampuan generik dibangun oleh beberapa keterampilan. Jenis utama dari keterampilan generik adalah keterampilan berpikir, strategi kognitif dan keterampilan metakognitif. Keterampilan berpikir seperti teknik memecahkan masalah, strategi belajar seperti membuat mnemonik untuk membantu mengingat sesuatu, dan keterampilan metakognitif seperti memonitor atau merevisi teknik memecahkan masalah atau teknik membuat mnemonik (Moerwani dkk, 2001). Sedikitnya ada tiga bagian utama keterampilan generik. Komponen yang paling lazim adalah prosedur, prinsip, dan memorasi atau mengingat. Prosedur yaitu seperangkat langkah yang digunakan untuk melakukan keterampilan. Prinsip yaitu berkenaan dengan kemampuan memahami dan menerapkan konsep-konsep

6 tertentu untuk menuntun kapan dan bagaimana suatu langkah atau prosedur (pendekatan) dilakukan. Memorasi yaitu mengingat urutan langkah-langkah (Rahman dkk, 2010). Menurut Careers Advisory Board The University of Western Australia dalam Gibb (2002) menyatakan perkuliahan-perkuliahan pada umumnya tidak mengembangkan kemampuan-kemampuan generik secara maksimal. Kurikulum di perguruan tinggi haruslah didesain untuk memberikan kesempatan mahasiswa untuk meluaskan dan mengembangkan keterampilan generik mereka. Keterampilan generik yang dimaksud meliputi kemampuan: komunikasi oral, komunikasi melalui tulisan, belajar keterampilan dan prosedur baru, bekerja dalam kelompok, membuat keputusan, memecahkan masalah, mengadaptasikan pengetahuan pada situasi baru, bekerja dengan pengawasan minimum, memahami implikasi-implikasi etika dan sosial/budaya keputusan, pertanyaan yang menerima kebijakan, membuka ide-ide dan kemungkinan-kemungkinan baru, berpikir dan beralasan logis, berpikir kreatif, analisis, dan membuat keputusan yang matang dan bertanggung jawab secara moral, sosial dan praktis (Rahman dkk, 2008). Brotosiswoyo (2001) menguraikan deskripsi beberapa kemampuan generik dalam pembelajaran sains sebagai berikut : a. Pengamatan langsung Sains merupakan ilmu tentang gejala alam dan perilaku alam sepanjang dapat diamati oleh manusia. Pengamatan (observation) merupakan bagian yang amat penting dalam pengajaran sains. Keterampilan dalam mengamati dapat meliputi mengenal nama dari objek yang diamati, mengenal sifat, warna, bentuk, ukuran, bau, rasa, tekstur, termasuk membandingkan secara kualitatif/kuantitatif

7 objek atau sifat, mengenal dan menggambarkan hasil suatu interaksi, menggunakan instrumen sederhana sebagai alat bantu indera, mengenal dan menggambar sifat yang tampak dari fenomena atau peristiwa. b. Pengamatan tak langsung Pengamatan tak langsung merupakan pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung misalnya pengamatan terhadap objek-objek yang tak dapat dilihat dengan karat mata, tidak dapat didengar, tidak dapat disentuh atau segala sesuatu yang tidak dapat dirasakan indera kita. Keterbatasan indera pengamatan menyebabkan gejala atau fenomena alam tidak dapat diamati secara langsung, sehingga diperlukan suatu peralatan atau sifat dan gejala yang menunjukkan perilaku fenomena tersebut. Peralatan tersebut diantaranya seperti mikroskop, termometer, penakar hujan, stop watch, kompas diperlukan sebagai alat bantu panca indera. c. Kesadaran akan skala besaran (Sense of scale) Sains banyak melibatkan objek yang terentang dalam skala ruang ukuran dari yang sangat besar (jagat raya), sampai yang sangat kecil (elektron)., baik menyangkut jarak maupun dalam hal jumlah benda. Sel hidup misalnya berukuran sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Molekul jauh lebih kecil sehingga dengan mikroskop elektron kita dapat melihatnya. Skala untuk ukuran benda yang dilihat dengan mikroskop dinyatakan dengan perbesaran. d. Bahasa simbolik Tidak seluruh gejala-gejala alam dapat diungkapkan dengan bahasa seharihari khususnya yang diungkapkan secara kuantitatif. Sifat kuantitatif dari gejala itu memerlukan pengungkapan secara simbolik. Dengan mengungkapkan dalam

8 bahasa simbolik, persoalan dapat menjadi lebih singkat, persis, dan mudah dimengerti. Kemampuan generik bahasa simbolik meliputi kemampuan memahami rumus, memahami informasi dari grafik, tabel, atau gambar, memahami simbol, menyatakan suatu besaran secara kuantitatif dan sebagai alat untuk mengungkapkan hukum-hukum alam. e. Inferensi logika (Konsistensi logika) Inferensi dalam proses sains diartikan sebagai kegiatan menyimpulkan/menduga menggunakan logika untuk membuat kesimpulan dari apa yang diobservasi atau dari data yang diberikan. Oleh karena itu, inferensi logika adalah kemampuan generik sains agar dapat mengambi I kesimpulan baru sebagai akibat logis dari hukum-hukum terdahulu tanpa harus melakukan percobaan baru. Sebagai contoh ketika merumuskan peristiwa erosi dan pelapukan batuan, faktor-faktor yang mempengaruhi efek rumah kaca, peta langit atau pengamatan langit malam. f. Kerangka Logika Taat Azas (Logical Self Consistency) Dalam sains aturan-aturan alam yang diungkapkan memiliki sifat taat azas secara logika (logically self consistency). Kemampuan generik dalam kerangka logika ini merupakan kemampuan untuk berpikir secara sistematis yang didasarkan pada keteraturan fenomena. g. Hubungan sebab akibat Sains bukan hanya kumpulan ilustrasi gejala alam yang terpisah, tetapi diyakini bahwa gejala-gejala alam saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat. Kemampuan generik sains hubungan sebab akibat ini muncul sebagai akibat adanya keyakinan bahwa gejala-gejala alam saling berkaitan dalam suatu pola

9 sebab akibat yang dapat dipahami dengan penalaran. Misalnya terjadinya kecacatan Sindrom Down yang diakibatkan karena kelebihan jumlah kromosom autosom 21. h. Pemodelan Pemodelan adalah upaya penyederhanaan tentang sesuatu yang diharapkan dapat membantu memahaminya secara lebih baik. Kemampuan generik ini meliputi kemampuan membuat grafik atau kemampuan mengubah grafik ke dalam bentuk kata-kata, kemampuan membuat tabel dan menyusun data kedalam tabel atau menguraikan data dari tabel ke dalam bentuk kata-kata, kemampuan membuat gambar atau diagram alir tentang suatu prosedur misalnya prosedur praktikum. i. Mengembangkan Konsep Tidak semua gejala alam dapat dipahami dan dijelaskan dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Untuk itu perlu dibangun suatu pengertian yang disebut konsep. Misalnya konsep cuaca, atmosfer, energi, batuan, gaya, medan dan sebagainya. Dewasa ini istilah-istilah tersebut telah memasyarakat. Oleh karena itu perlu adanya kemampuan membedakan maksud istilah tersebut dalam teori dengan pengertian sehari-hari. Menurut Widodo (2009) menyatakan bahwa banyak diantara gejala alam tidak dapat dipahami dengan menggunakan bahasa sehari-hari sehingga sulit untuk menggambarkan kondisi nyata gejala tersebut. Untuk itu perlu suatu pola untuk menganalogikan gejala-gejala yang abstrak tersebut. Maka selain sembilan indikator kemampuan generik di atas ditambahkan satu kemampuan generik yaitu

10 abstraksi. Untuk mendukung tercapainya kemampuan-kemampuan generik perlu ditentukan beberapa indikator yang dijabarkan dalam Tabel 1. Tabel 1. Indikator Kemampuan Generik menurut Brotosiswoyo dalam Widodo (2009) Kemampuan No Generik 1 Pengamatan langsung 2 Pengamatan tidak langsung 3 Kesadaran akan skala besaran (Sense of scale) 4 Bahasa simbolik Indikator a. Menggunakan sebanyak mungkin indera dalam mengamati percobaan/fenomena alam b. Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan atau fenomena alam c. Mencari perbedaan dan persamaan a. Menggunakan alata ukur sebagai alat bantu indera dalam mengamati percobaan/gejala alam b. Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan fisika atau fenomena alam c. Mencari perbedaan dan persamaan Menyadari obyek-obyek alam dan kepekaan yang tinggi terhadap skala numerik sebagai besaran/ukuran skala mikroskopis ataupun makroskop is a. Memahami simbol, lambang, dan isti lah b. Memahami makna kuantitatif satuan dan besaran dari persamaan c. Menggunakan aturan matematis untuk memecahkan masalah/fenomena gejala alam d. Membaca suatu grafik/diagram, tabel, serta tanda matematis 5 Inferensi logika (Konsistensi logika) 6 Kerangka logika taat azas (Logical self consistency) Mencari hubungan logis antara dua aturan a. Memahami aturan-aturan b. Berargumentasi berdasarkan aturan c. Menjelaskan masalah berdasarkan aturan d. Nlenarik kesimpulan dari suatu gejala berdasarkan aturan/hukum-hukum

11 terdahulu 7 Hubungan sebab akibat Pemodelan a. Menyatakan hubungan antar dua variabel atau lebih dalam suatu gejala alam tertentu b. Memperkirakan penyebab gejala alam a. Mengungkapkan fenomena/masalah dalam bentuk diagram alir, grafik dan tabel b. Mengungkap fenomena dalam bentuk rumusan c. Mengajukan alternatif penyelesaian masalah 9 Mengembangkan konsep Menambah konsep baru 10 Abstraksi a. Menggambarkan atau menganalogikan (Sudarmin,2007) konsep atau peristiwa yang abstrak ke dalam bentuk kehidupan nyata seharihari b. Membuat visual animasi-animasi dari peristiwa mikroskopik yang bersifat abstrak 2.2. Pentingnya Kemampuan Generik Pada Mata Kuliah Genetika dan Evolusi Genetika dan Evolusi merupakan salah satu mata kuliah keahlian berkarya pada Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau dengan jumlah 'credit 4 SKS (3 SKS teori dan I SKS praktikum). Mata kuliah Genetika dan Evolusi mempelajari tentang pembelahan meiosis, Hukum Mendel I dan II, alel ganda dan gen ganda, determinasi seks dan gen terpaut seks, pautan dan pindah silang, struktur kimiawi materi genetik, mutasi, evolusi, teori dan bukti evolusi, penyebab evolusi, dan hukum Hardy-Weinberg. Secara umum pada mata kuliah Genetika dan Evolusi dipelajari proses mulai dari peristiwa pembentukan garnet hingga proses bagaimana suatu sifat atau kelainan dapat diturunkan dari induk

12 kepada keturunan, hingga bagaimana kelainan-kelainan yang diwariskan dan pengaruh lingkungan akan menyebabkan evolusi dalam suatu populasi. Materi Genetika dan Evolusi memiliki banyak istilah dan konsep-konsep yang harus dipahami secara mendalam agar memudahkan mengingat dan menghubungkannya dengan konsep lain apabila diperlukan. Kebiasaan mahasiswa yang cenderung menguasai materi dengan cara menghafal akan melupakan makna dari suatu konsep sehingga mahasiswa mudah lupa ketika ditanya mengenai materi yang telah lalu. Pada semester ini materi Genetika dan Evolusi dirancang untuk memaksimalkan kemampuan generik mahasiswa yang meliputi keterampilan berfikir, strategi belajar dan keterampilan metakognitif. Sehingga membekali mahasiswa untuk mengasah kemampuan berfikir tingkat tinggi, kreativitas dan strategi belajar yang efektif. Kemampuan generik tersebut antara lain inferensi logika, materi yang disampaikan pada mata kuliah Genetika dan Evolusi merupakan materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dengan adanya keterkaitan ini maka diharapkan mahasiswa dapat menarik informasi penting yang dipelajari menghubungkannya dengan kejadian yang dapat di amati dalam lingkungan sehari-hari. Indikator yang kedua yaitu pemodelan, pada materi genetika dan evolusi banyak digunakan konsep-konsep biologi yang memiliki persamaan dan perbedaan. Untuk mempermudah memahami konsep-konsep tersebut perlu dilakukan spesifikasi, sehingga mudah untuk membedakan maupun mengaitkan antara konsep satu dengan lainnya. Indikator yang ketiga yaitu bahasa simbolik, materi biologi salah satunya genetika dan evolusi memiliki gejala ataupun peristiwa alam yang tidak dapat diungkapkan dalam bahasa komunikasi sehari-hari terutama yang bersifat kuantitatif. Untuk itu diperlukan adanya istilah,

13 gambar maupun simbol untuk menyatakan kondisi tersebut. Indikator yang keempat yaitu hukum sebab akibat, materi dalam genetika dan evolusi selalu timbul karena adanya faktor atau gejala yang memunculkan gejala-gejala baru. Di dalam mempermudah memahami suatu gejala, mahasiswa hendaknya mampu menerapkan adanya hukum sebab akibat antara berbagai faktor atau gejala dan gejala yang ditimbulkannya. Indikator yang kelima yaitu abstraksi, dalam materi Genetika dan Evolusi banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi secara alami di alam maupun di dalam tubuh manusia dalam bentuk proses. Melalui abstraksi, peristiwa-peristiwa yang tidak dapat di amati oleh manusia akan dapat dipahami dengan menggambarkan atau menganalogikan konsep ke dalam kehidupan nyata sehari hari. Kemampuan-kemampuan ini akan mendukung mahasiswa dalam menghadapi kehidupan dan pekerjaannya kelak sebagai guru. 2.3. Model Pembelajaran Problem Based-Learning (PBL) Problem Based-Learning (PBL) dikembangkan oleh Barrows sejak tahun 1970. Ciri pembelajaran ini berfokus pada penyajian masalah kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian penelitian atau investigasi berdasarkan tiori, konsep, prinsip yang dipelajarinya dari berbagai bidang ilmu (Subagio dkk, 2006). Peran guru yang lebih lazim dalam PBL adalah sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berfikir dan memecahkan masalah berdasarkan kemampuan dan keinginan mereka sendiri (Sudarman, 2007). Dalam PBL terdapat lima asumsi dari permasalahan yang diberikan:

14 1. Permasalahan sebagi pemandu: dalam hal ini permasalahan menjadi acuan konkrit yang harus diperhatikan siswa. Permasalahan menjadi kerangka berfikir bagi siswa dalam mengerjakan tugas. 2. Permasalahan sebagai kesatuan alat evalusi: dalam hal ini permasalahan disajikan kepada siswa setelah tugas-tugas dan penjelasan diberikan. Tujuan utamanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diperoleh dalam memecahkan masalah. 3. Permasalahan sebagai contoh: permasalahan adalah salah satu contoh dan bagian dari bahan belajar siswa. Permasalahan yang digunakan untuk menggambarkan tiori, konsep, atau prinsip dan dibahas dalam diskusi antara guru dan siswa. 4. Permasalahan sebagai sarana untuk menfasilitasi terjadinya proses: dalam hal ini fokusnya pada kemampuan berpikir kritis dalam hubungannya dengan permasalahan. Permasalahan digunakan untuk melatih siswa berpikir kritis dan bernalar. 5. Permasalahan sebagai stimulasi dalam aktivitas belajar: keterampilan tidak selalu diajarkan oleh guru, tetapi ditemukan dan dikembangkan sendiri oleh siswa melalui aktivitas pemecah masalah. Keterampilan yang dimaksud meliputi keterampilan fisik maupun analitik (Subagio dkk, 2006) Dalam PBL salah satu cara untuk mengembangkan tujuan adalah menyatakan segala sesuatu yang harus dimiliki oleh para siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam hal pengetahuan (berkaitan dengan kandungan

15 mata pelajaran), keterampilan (berkaitan dengan kemampuan siswa mulai dari mengajukan pertanyaan, menyusun esai, searching basis data, dan presentasi makalah), dan sikap berkaitan dengan pemikiran kritis, keaktifan mendengar, sikap terhadap pembelajaran, dan respek terhadap argumentasi siswa lain (Sudarman, 2007). Mata pelajaran yang diselenggarakan dengan model PBL dalam pelaksanaannya akan mengikuti lima langkah PBL. Lima langkah tersebut adalah (1) Konsep dasar (Basic Concept), (2) Pendefenisian masalah (Defening the Problem), (3) Pembelajaran mandiri (Self Learning), (4) Penukaran pengetahuan (Exchange Knowledge), dan (5) Penilaian (Assessment). Menurut Subagio dkk (2006) pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang diawali dengan orientasi siswa pada masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisa kerja siswa. Kelima langkah tersebut disajikan dalam tabel 2 berikut: Tabel 2. Tahap-Tahap dalam Model Problem Based-Learning (PBL) Tahap Tahap-1 Orientasi siswa kepada masalah Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Kegiatan guru n Menjelaskan tuj uan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecah masalah yang dipilih n Membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikankan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

16 Tahap-4 Mengembangkan dan menyaj ikan hasil karya Tahap-5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah n Membantu dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, simulasi, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya n Membantu siswa untuk melaksanakan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan (Subagio dkk,2006) 2.4. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan generik mahasiswa biologi pada makuliah Genetika dan Evolusi.