SISTEM MONETER INTERNASIONAL
Sejarah sistem Moneter Internasional 1. Zaman Emas (1876-1913): penggunaan emas sebagai standar alat tukar Standar emas pada dasarnya menetapkan nilai tukar mata uang negara berdasarkan emas, misal Pemerintah Inggris bersedia membeli/menjual 4,2472/ons emas, sedangkan Amerika $ 20,67/ons emas sehingga dapat ditetapkan nilai kurs dollar-poundsterling sbb: $ 20,67/ons emas = $ 4,867/ 4,2472/ons emas Karena nilai emas terhadap barang lain tidak banyak berubah dlm jk panjang maka stabilitas nilai uang dan kurs mata uang tidak banyak berfluktuasi
2.Periode perang dunia (1914-1944) - Sewaktu terjadinya Perang Dunia I, standar emas hancur, meskipun ada beberapa negara yang masih mempertahankannya (Amerika, Inggris dan Perancis). - Peperangan menyebabkan pengangguran sehingga ada kecenderungan negara melakukan devaluasi untuk menjaga daya saing perdagangan mereka yaitu menurunkan nilai mata uang untuk meningkatkan ekspor dan menurunkan impor sehingga terjadi perang perdagangan. - Situasi seperti ini mendorong negara negara maju untuk mencari sistem pertukaran yang baru dan stabil. - Pertemuan di Bretton Woods, New Hampshire,USA (1944) menghasilkan pembentukan IMF dan IBRD (World Bank) untuk melaksanakan sistem pertukaran yang baru
3. Periode Kurs Tetap (1945-1973) Hasil pertemuan di Bretton Woods memutuskan 1. Semua negara menetapkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan emas, tetapi tidak diharuskan memenuhi konvertibilitas mata uang mereka dalam emas. Hanya dollar saja yang bisa ditukar menjadi emas dengan nilai $ 35/ons emas. Dengan demikian, mata uang negara lain ditetapkan secara tidak langsung berdasarkan dollar US. Contoh: Mark Jerman ditetapkan DM 140/ons emas sehingga nilai kurs Dollar-Mark adalah $ 35/DM 140 atau $0,25/DM 2. Negara anggota diminta menjaga kursnya dalam batas 1% (naik atau turun) dari nilai par dan bersedia melakukan intervensi untuk menjaga kurs tersebut 3. IMF bersedia membantu negara anggotanya dalam menjaga kurs mata uangnya & setiap negara hrs menerapkan kebijakan moneternya dgn ketat untuk stabilkan kurs mata uang dunia.
Ilustrasi: - Bila suatu negara tidak disiplin (melonggarkan kebijakan moneternya dengan mencetak uang) maka akan menimbulkan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan negara lain. - Barang didalam negeri relatif lebih mahal dibandingkan barang yang sama di luar negeri sehigga meningkatkan import dan menurunkan ekspor, yang selanjutnya menciptakan neraca pembayaran yang defisit. - Kurs mata uang negara tsb akan menurun (supply mata uang tersebut di pasar keuangan meningkat). Untuk mengembalikan kurs ke kurs semula, bank sentral negara tsb harus melakukan intervensi dengan membeli kelebihan uangnya di pasar uang dengan persediaan emas. Supply uang berkurang, kurs kembali menguat, tetapi persediaan emas semakin berkurang sehingga negara berpikir dua kali untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
4.Pasca Bretton Woods (1973) s/d sekarang - Pelaksanaan keputusan di Bretton Woods memaksa USA menjaga mata uang dunia dengan tetap mempertahankan kurs dollar emas $ 35/ons. - Ketika USA lebih mementingkan kepentingan dalam negerinya, USA melakukan kebijakan moneter yang longgar sehingga inflasi meningkat dan terjadi neraca pembayaran yang defisit. Nilai dollar turun sehingga banyak negara cenderung menukarkan dollarnya dengan emas. USA kehilangan banyak cadangan emasnya. USA memutuskan untuk keluar dari perjanjian Bretton Woods. - Karena USA tidak dapat diharapkan untuk menjaga kestabilan dollar maka kurs mata uang dunia diambangkan terhadap dollar (floating system)
Sistem Moneter yang Ideal Sampai saat ini belum ada model atau sistem moneter yang bisa menjamin stabilitas kurs Sistem moneter yang ideal harus memenuhi syarat: - Sistem tersebut harus kredibel (dapat dipercaya) - Sistem tersebut harus memiliki mekanisme stabilitas harga yang otomatis ( pasar keuangan cukup efisien, artinya informasi harus dapat mengalir kepasar dengan sempurna sehingga pasar akan langsung mengadakan penyesuaian) Sistem moneter yang ideal akan menghasilkan mata uang dengan karakter sbb: - Nilai yang stabil sehingga mempermudah transaksi - Bisa dipertukarkan dengan mudah - Di support oleh kebijakan moneter yang independen
Sistem penetapan kurs Mekanisme penentuan kurs ada beberapa kelompok: 1. Mengambang bebas (free float) Berdasarkan sistem ini, kurs mata uang dibiarkan mengambang bebas, tergantung kekuatan pasar. Pasar akan mengevaluasi kurs mata uang negara ybs berdasarkan tingkat inflasi, pertumbuhan tingkat ekonomi, tingkat pengangguran. Bila harapan terhadap faktor-faktor tersebut berubah maka harga kurs akan berubah pula. Dalam sistem ini, ketidakpastian kurs cukup tinggi 2. Managed float (dirty float) Dalam sistem ini, Bank Sentral berperan dalam menentukan tingkat kurs tertentu yang ideal dan kemudian membiarkan kurs berfluktuasi dalam batas- batas tertentu dari kurs ideal yang ditetapkan tersebut. Bank Sentral akan melakukan intervensi bila kurs yg terjadi diluar batasan yg sdh ditetapkan.
Beberapa bentuk intervensi Bank Sentral a. Menstabilkan fluktuasi harian untuk menjaga stabilitas harga kurs agar perubahan kurs cukup teratur, tidak terlalu tajam (Bank Sentral tidak melawan pasar) b. Menunda kurs, artinya Bank Sentral melakukan intervensi dengan tujuan mencegah atau mengurangi fluktuasi jangka pendek yang cukup tajam, yang diakibatkan oleh kejadian yang sifatnya sementara (Bank Sentral tidak melawan pasar) c. Kurs tetap secara tidak resmi Melalui intevensi ini, Bank Sentral melawan pasar dengan menetapkan (secara tidak resmi) kurs mata uangnya. Intervensi ditujukan untuk menghilangkan pergerakan kurs yang menguat atau melemah. Bank Sentral tidak mengumumkan kurs tetapnya untuk menyelamatkan transaksi perdagangan internasionalnya. Bank Sentral Jepang pernah menolak apresiasi yen karena akan melemahkan ekspornya.
Lanjutan.. 3. Perjanjian zona target tertentu Melalui perjanjian ini, beberapa negara sepakat untuk menentukan kurs mata uangnya secara bersama dalam wilayah kurs tertentu, misal European Currency Unit (Euro) merupakan mata uang gabungan yang terdiri dari mata uang negara anggota. Negara anggota berjanji untuk membatasi fluktuasi kurs dalam batas 15%. Jika kurs melewati batas atas atau bawah, Bank Sentral negara ybs akan melakukan intervensi 4. Dikaitkan dengan mata uang lain Ada negara yang mengaitkan nilai mata uangnya terhadap mata uang lainnya, misal ada sekitar 20 negara yang mengaitkan nilai mata uangnya terhadap dollar, termasuk Timor Leste
Lanjutan.. 5. Dikaitkan dengan kelompok mata uang tertentu Ada sekitar 21 negara mengaitkan mata uangnya terhadap kelompok mata uang lainnya, yang biasanya terdiri dari mata uang partner dagang yang penting. Dengan kelompok seperti ini, nilai mata uang cenderung lebih stabil. Contoh : ada negara yang mengaitkan mata uangnya terhadap Special Drawing Right (SDR), mata uang ciptaan International Monetary Fund yaitu lembaga keuangan internasional yang didirikan untuk membantu negara anggotanya dalam mempertahankan nilai kurs atas tekanan musiman, siklus atau kejadian random lainnya 6. Dikaitkan dengan indikator tertentu Chili dan Nikaragua mengaitkan mata uangnya terhadap kurs riil efektif (memasukkan inflasi) terhadap partner dagang mereka yang penting.
Lanjutan.. 7.Sistem kurs tetap Dengan sistem ini, Bank Sentral menetapkan kurs tertentu secara resmi. Bank Sentral akan melakukan intervensi untuk menjaga nilai kurs yang sudah ditetapkan (sistem Bretton Woods) melalui devaluasi atau revaluasi. Umumnya, devaluasi merupakan cara yang terakhir setelah cara yang lebih ringan tidak berhasil misal a. Pinjaman asing untuk atasi defisit b. Pengetatan kebijakan ekonomi (pengurangan pengeluaran pemerintah dan peningkatan pajak). c. Pembatasan aliran modal keluar