DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 3. Peta Resiko Banjir Rob Karena Pasang Surut

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis. dari luas Provinsi Jawa Barat dan terletak di antara Bujur Timur

METODE PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Tabel 4 Luas wilayah studi di RPH Tegal-Tangkil

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 16. Tabel 4. Luas Wilayah Desa Sedari Menurut Penggunaannya Tahun 2009

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Gambar 5. Peta Citra Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 4, Desember 2012: ISSN :

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR

PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan

Gambar 6. Peta Kabupaten Karawang

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Padang Cermin merupakan bagian dari Kabupaten Pesawaran, Secara

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH Bujur Timur dan Lintang Utara, dengan batas. Utara : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

adalah untuk mengendalikan laju erosi (abrasi) pantai maka batas ke arah darat cukup sampai pada lahan pantai yang diperkirakan terkena abrasi,

POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi

III. METODE PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Sejarah Desa Pulau Pahawang berawal dari datangnya Ki Nokoda tahun an

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Wilayah pesisir mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I. Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang mencapai lebih dari

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur. Wilayah

Kimparswil Propinsi Bengkulu,1998). Penyebab terjadinya abrasi pantai selain disebabkan faktor alamiah, dikarenakan adanya kegiatan penambangan pasir

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I - 1

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Wilayah

BAB VI DAMPAK KONVERSI MANGROVE DAN UPAYA REHABILITASINYA

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki beragam masalah

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

Bab III Karakteristik Desa Dabung

ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Asahan secara geografis terletak pada ,2 LU dan ,4

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan yang lain, yaitu masing-masing wilayah masih dipengaruhi oleh aktivitas

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia

KERUSAKAN MANGROVE SERTA KORELASINYA TERHADAP TINGKAT INTRUSI AIR LAUT (STUDI KASUS DI DESA PANTAI BAHAGIA KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI)

I. PENDAHULUAN. Menurut Mahi (2001 a), sampai saat ini belum ada definisi wilayah pesisir yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang wilayahnya disatukan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

EROSI MARIN SEBAGAI PENYEBAB KERUSAKAN LAHAN KEBUN DI KELURAHAN TAKOFI KOTA TERNATE

III. KEADAAN UMUM LOKASI

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

Gambar 2 Peta administrasi DAS Cisadane segmen hulu.

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI

BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

PENENTUAN LOKASI BALAI BENIH KEPITING BAKAU DI KABUPETAN INDRAGIRI HILIR. oleh:

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

BAB I PENDAHULUAN. batas pasang surut air disebut tumbuhan mangrove.

I. PENDAHULUAN. rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global yang

PENDAHULUAN Latar Belakang

Gambar 15 Mawar angin (a) dan histogram distribusi frekuensi (b) kecepatan angin dari angin bulanan rata-rata tahun

Transkripsi:

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Legonkulon berada di sebelah utara kota Subang dengan jarak ± 50 km, secara geografis terletak pada 107 o 44 BT sampai 107 o 51 BT dan 6 o 13 LS sampai 6 o 27 LS. Topografi wilayah, landai/dataran rendah dengan ketinggian antara 0-4 m diatas permukaan air laut, secara administratif dibatasi oleh : - Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Pamanukan - Sebelah Barat : Wilayah Kecamatan Blanakan - Sebelah Timur : Wilayah Kecamatan Pusakanagara dan - Sebelah Utara : Laut Jawa Kecamatan Legonkulon merupakan salah satu kecamatan dari dua puluh dua kecamatan yang ada di Kabupaten Subang dan merupakan satu kecamatan dari empat kecamatan yang berada di wilayah pesisir. Kecamatan ini memiliki delapan desa dan lima desa diantaranya merupakan desa yang berada di wilayah pantai dengan hutan mangrove terbaik di Kabupaten Subang. Dengan letak wilayah seperti itu maka Kecamatan Legonkulon merupakan salah satu Kecamatan yang mampu memasok kebutuahn ikan bagi masyarakat Subang maupun daerah lain sekitarnya. Gambar 4 Peta keberadaan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Subang (warna hijau) (DKP Kab Subang, 2003).

31 Luas Wilayah dan Keadaan Penduduk Kecamatan Legonkulon memiliki luas wilayah 4.641.685 ha yang terbagi menjadi delapan desa yaitu : Desa Legon Wetan 715.000 ha, Desa Bobos 397.655 ha, Desa Mayangan 513.850 ha, Anggasari 116.400 ha, Karang Mulya 367 ha, Pangarengan 286.000 ha, Tegalurung 1.638.610 ha dan Legonkulon 607.170 ha. (Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Subang 2003). Jumlah penduduk Kecamatan Legonkulon tahun 2003 mencapai 38.104 jiwa yang terdiri dari 19.096 laki-laki dan 19.008 perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 11.394 KK. Tingkat pendidikan masyarakat masih rata-rata di bawah SD dengan mata pencaharian Kepala Keluarga: 54,31% petani dan buruh tani, 32,11% pengelola dan penggarap tambak, 5,13% pedagang dan wirausaha serta, 1,56% bekerja di luar negeri dan 6,89% pegawai negeri. Karakteristik Fisik Perairan Pantai 1. Suhu dan Salinitas Perairan Suhu dan salinitas di wilayah perairan pantai berfluktuasi secara musiman yang dipengaruhi oleh dinamika perairan Laut Jawa. Secara umum fluktuasi suhu bulanan di Laut Jawa menunjukan adanya dua puncak maksimum sekitar 28,7 o C dan minimum pada suhu 27,5 o C. Puncak maksimum terjadi dalam periode musim peralihan ( bulan Mei dan Nopember), sedangkan puncak minimum terjadi bulan Agustus dan Februari (puncak musim Timur dan Barat). Rata-rata suhu bulanan 27,8 o C. Rerata salinitas bulanan di perairan Laut Jawa berkisar antara 31,5% sampai 33,7%, salinitas maksimum pertama (33,7%) dan kedua (33,3%) terjadi pada bulan September dan Nopember, sedangkan salinitas minimum pertama (31,8%) dan salinitas minimum kedua (31,3%) terjadi pada Pebruari dan Mei. Hasil pengukuran distribusi salinitas dibeberapa muara sungai di wilayah pantai Subang, berkisar antara 0,5 sampai 3,5 km, tergantung pada pengaruh kekuatan pasang surut dan kecepatan aliran arus sungai. Pengaruh salinitas terkecil terjadi di muara sungai Cipunagara dan terjauh pada aliran muara sungai Batang Kecil.

32 2. Bathimetri Perairan Perairan pantai Subang memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 20 m), dengan gradien kedalaman yang relatif landai. Untuk kedalaman kurang dari 5 m di sekitar Blanakan gradiennya sekitar 0,0027 demikian juga di sekitar Pusakanagara. Di perairan dengan kedalaman antara 5 10 m gradiennya antara 0,0006 (di Blanakan) sampai 0,0027 (di Pusakanagara). Ini menunjukkan bahwa pantai bagian barat lebih landai dari pada pantai dibagian timur. Wilayah pantai Blanakan yang berbentuk seperti teluk, memungkinkan terjadinya proses pengendapan sedimen dari sungai dar dari sedimen angkutan pantai menjadi lebih besar. Dari hasil observasi diperoleh bahwa tanah timbul akibat pengendapan ini mencapai 400 ha, yang berada disekitar muara sungai Blanakan. Sedangkan di wilayah timur pantai Subang, cenderung terjadi penggerusan garis pantai atau abrasi yang terjadi di wilayah pantai Pusakanagara dan beberapa wilayah di Mayangan (Legonkulon) yang berbentuk delta. Gambar 5 Peta Bathimetri di Perairan Subang(DKP Kab Subang, 2003)

33 3. Gelombang Perairan Gelombang memegang peranan yang penting dalam proses fisik di pantai dan umumnya gelombang yang terjadi di pantai dibangkitkan oleh angin. Hasil pengamatan gilombang yang dilakukan di pantai Mayangan Kecamatan Legonkulon dan pantai Ciasem, pada musim peralihan (bulan Mei) gelombang berkisar antara 4 m sampai 42 m dengan periode gelombang antara 2,0 sampai 6,5 detik. Arah rambatan gelombang yang dominan dari arah Utara dan Timur Laut. Gelombang tertinggi diperkirakan pada musim Barat yang mencapai 1 m. Arah arus gelombang dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6 Arah aliran gelombang dari Timur Laut di Perairan Subang (DKP Kab Subang, 2003). 4. Arus Perairan Pantai Pola arus perairan di pantai Subang secara umum mengikuti pola arus Laut Jawa, arus musiman sangat dominan di wilayah perairan ini. Antara bulan Mei dan September yang merupakan periode musim Timur, arus musim bergerak ke arah Barat dengan kecepatan maksimum sekitar 25 cm/det. Dari bulan Nopember sampai Maret arus musim mengalir kearah Timur dengan kecepatam maksimum sekitar 30 cm/det. Dalam bulan April dan Oktober arah arus musim berubah-ubah.

34 Pengukuran arus perairan di wilayah pantai Subang menunjukkan bahwa di perairan pantai Mayangan arus pasang berkisar antara 1,4 31,5 cm/det mengalir dominan kearah Barat, dan arus surut berkisar antara 0,7 28,1 cm/det yang mengalir dominan ke arah Barat. Di lokasi pantai Ciasem arus pasang berkisar antara 1,5 30,7 cm/det yang dominan ke arah Barat, sedang arus surut berkisar anatar 1,9 33,5 cm/det dominan ke arah Barat. Kondisi dan Penyebaran Hutan Mangrove di Kecamatan Legonkulon Kecamatan Legonkulon merupakan satu-satunya kecamatan dengan hutan mangrove terbaik di Kabupaten Subang. Hutan mangrove di Kecamatan Legonkulon tersebar di 5 desa dengan kondisi yang beragam dan luasan yang bervariatif. Secara kualitatif kondisi hutan mangrove terbaik ada di Desa Tegalurung, kondisi sedang ada di Desa Anggasari dan Desa Legon Wetan, sedangkan kondisi rusak ada di Desa Mayangan dan Desa Pangarengan. Penilaian kondisi ini didasarkan pada kebijakan Perum Perhutani yang menetapkan bahwa jarak antar tanaman pokok dihutan mangrove adalah 5m x 5m, jarak tanam ini sudah mengalami perubahan dari aturan sebelumnya yaitu 3m x 3m. Tabel 2 Penyebaran hutan mangrove di Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang (DKP Subang, 2003) No Desa Luas Hutan (ha) Keterangan 1 Pangerengan 1.158,54 Kurang baik 2 Mayangan 285,80 Kurang baik 3 Tegalurung 407,65 Baik 4 Anggasari 633,45 Sedang 5 Legon Wetan 304,45 Sedang Jumla h 2.789,89 Kondisi hutan ini pengaruhnya sangat dirasakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di daerah sekitarnya. Sebagai contoh kondisi hutan mangrove yang

35 rusak di Desa Pangarengan, mengakibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sulit mendapatkan air tawar, mengalami gangguan nyamuk yang begitu banyak sepanjang tahun. Sebaliknya wilayah yang kondisi hutan mangronvenya baik, masyarakat tidak mengalami kesulitan tersebut seperti masyarakat yang tinggal di Kampung Muara, Desa Tegalurung, walaupun mereka bertempat tinggal hanya beberapa meter dari batas pantai. a b c d Gambar 7 (a). Pemukiman baru di RT 11, Desa Pangarengan dengan hutan yang rusak masyarakat tidak dapat menikmati air tawar. (b, c dan d) Pemukiman di Kampung Muara, Desa Tegalurung, walaupun jaraknya dekat dengan laut tetapi masyarakat masih bisa mendapatkan air tawar.

36 Pemanfaatan Hutan Mangrove Sebagai Tambak (Mangrove Aquaculture) Pemanfaatan areal pertambakan di Kabupaten Subang hingga saat ini telah mencapai 83% atau 8.254,28 ha dari potensi yang ada. Berdasarkan kepemilikan, areal ini terbagi menjadi tanah Milik, tanah Timbul dan tanah Perhutani. Tabel 3 Alokasi Tambak di Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang (DKP Subang, 2003). No Nama Desa Milik(ha) Status Tanah Timbul(ha) Perhutani(ha) Jumlah(ha) 1 Pangarengan 42,5 250,0 703,3 995,8 2 Legon Wetan 205,0 200,0 217,0 622,0 3 Mayangan 120,0 376,1 496,1 4 Tegalurung 369,7 200,0 185,2 781,9 5 Anggasari 52,3 100,0 827,4 979,7 Luas Total 789,5 750,0 2309,0 3875,5 Selain sistem tambak, masyarakat pesisir Kabupaten Subang melakukan budidaya ikan di areal milik Perhutani dengan sistem Sylvofisheries. Dalam sistem ini tambak yang digunakan untuk budidaya dibuat dengan pola empang parit yaitu tambak yang dibuat berupa parit yang mengelilingi hutan bakau, dengan luas parit 20% dari luas anak petak. Luas anak petak berkisar anatar 0,3 sampai 3 ha, dengan luas garapan yang berbeda untuk masing-masing petambak. Pada umumnya luas garapan 2 ha bagi setiap penggarap. Untuk memperoleh lahan, setiap petambak diikat dengan suatu perjanjian kerjasama dengan Perum Perhutani Unit III yang berisikan hak dan kewajiban penggarap. Hak bagi petambak adalah pengelolaan tambak beserta hasilnya, sedangkan kewajiban petambak adalah membayar sewa lahan sebesar Rp 115.000 Hak pengelolaan ini dapat dialihkan pada pihak lain, dan kebanyakan hak pengelolaan ini diturunkan kepada anaknya. Pemanfaatan Mangrove dengan sistem tumpang sari ini sebagian kecil sudah dimulai sejak tahun 1968 dan dilakukan pada seluruh areal hutan mangrove pada tahun 1986.

37 Pemanfaatan hutan mangrove sebagai tambak tumpangsari di Kecamatan Legonkulon merupakan salah satu alternatif untuk tetap menjaga kelestarian hutan mangrove di wilayah tersebut, pelaksanaanya mengacu pada aturan Perum Perhutani yaitu jarak antar tanaman 3x3 meter, dan lebar parit 3 meter. Tetapi kenyataan di lokasi terdapat berbagai pola tambak tumpang sari sistem empang parit dilihat dari jarak antar tanaman maupun lebar parit. Berdasarkan lebar parit, terdapat pola dengan lebar parit 3 meter, 4 meter, 5 meter bahkan lebih. a b c d e f Gambar 8 Tambak sitem empang parit berbagai pola yang ada di Kecamatan Legonkulon : (a) tambak pola 80:20, (b)tambak pola 70:30, (c) tambak pola 60:40, (d) tambak pola 50:50 dan (e, f) tambak dengan pola tanpa hutan. (Oktober 2005, pada saat air surut).

38 Ancaman Kerusakan Ekosistem Mangrove Kerusakan ekosistem mangrove di Kec amatan Legonkulon, Kabupaten Subang, Jawa Barat disebabkan karena menurunnya kualitas maupun kuantitas hutan mangrove di daerah tersebut. Penurunan kualitas hutan mangrove di wilayah ini dimungkinkan karena banyaknya buangan limbah rumah tangga dan residu pestisida dari areal persawahan yang saluran utamanya menyatu dengan saluran utama tambak dalam hutan mangrove. Hal ini terlihat dengan adanya kotoran dari limbah rumah tangga berupa plastik, kayu, pelepah pisang, bonggol pisang dan lainya yang menyangkut disaluran serta pohon mangrove. Air berwarna hitam yang mengalir disepanjang saluran juga merupakan ancaman penurunan kualitas hutan mangrove di wilayah ini. Karena air limbah tersebut banyak mengandung bahan beracun bagi tumbuhan serta dapat merusak kualitas air yang mengalir menuju hutan mangrove. a b c d Gambar 9 (a). Saluran air dari pemukiman penduduk, ( b). Saluran air dari sawah menuju muara, (c). Hutan mangrove terdekat dengan saluran air dari rumah tangga, (d). Hutan mangrove terdekat dengan saluran sawah.

39 Sedangkan penurunan kuantitas hutan mangrove di wilayah ini dimungkinkan karena adanya pemenuhan kebutuhan kayu bakar dan pemukiman terutama nelayan pendatang dari daerah lain. Hal ini terlihat dari aktivitas masyarakat yang banyak mengambil kayu bakar di areal hutan mangrove. Penurunan kuatitas ini akan dipercepat dengan tingginya harga minyak tanah di daerah pesisir. Di Desa Pangarengan harga minyak tanah mencapai Rp 3.500/lt dan ini sangat berat dirasakan oleh masyarakat. Akibatnya hutan mangrove terdekat dengan pemukiman mengalami kerusakan yang serius. a b c d Gambar 10 (a dan b) aktivitas manusia yang berpengaruh terhadap penurunan kuantitas hutan mangrove. (c dan d) hutan mangrove yang mengalami kerusakan akibat aktivitas masyarakat. Untuk menekan Kerusakan ekosistem mangrove yang disebabkan adanya penurunan kuantitas hutan mangrove. Pemerintah Kabupaten Subang melalui Dinas Perkebunan dan Kehutanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan sedang

40 melakukan pembinaan petani tambak di Daerah Pesisir Kabupaten Subang, dengan kegiatan pembibitan dan penanaman tanaman bakau (Rhizophora. Spp.) pada areal tambak milik masyarakat. a b c Gambar 11 Upaya konservasi hutan mangrove yang sedang dilaksanakan di Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang ( Oktober, 2005 ) (a). Buah bakau yang telah dikumpulkan petani, (b). Areal pembibitan bakau di Desa Pangarengan, (c). Penanaman bakau di areal tambak petani.