1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Masyarakat majemuk yang hidup bersama dalam satu wilayah terdiri dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tentunya sangat rentan dengan gesekan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik antar kelompok. Konflik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) adalah salah satu pemicu konflik yang paling efektif dalah kehidupan masyarakat majemuk, karena hal tersebut dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Konflik biasanya terjadi ketika antara satu kelompok dengan kelompok yang lain tidak dapat saling memahami budaya masing-masing dan merasa bahwa budaya yang ia miliki lebih unggul dibanding dengan budaya lain (etnosentrisme). Sifat masyarakat Indonesia yang heterogen atau multikultur ini sangat rentan terhadap kemungkinan terjadinya berbagai konflik antarbudaya. Dengan kata lain dapat dikatakan faktor perbedaan budaya, sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, pertentangan, perselisihan, pertikaian, peperangan, bahkan tidak mustahil juga menjadi pemicu dan pemegang peranan penting bagi munculnya konflik antar budaya tersebut. Konflik kelompok tertentu dalam masyarakat majemuk memberikan gambaran bahwa terdapat kegagalan dalam hubungan dan komunikasi antarbudayanya. Dalam masyarakat yang terbagi ke dalam kelompok berdasarkan identitas kultural akan sulit mencapai keterpaduan sosial. Sebab, masing-masing kelompok berada dalam lingkup pergaulan yang eksklusif sehingga relatif tidak intensif dalam melakukan komunikasi (antarbudaya) yang efektif. Komunikasi yang sebelumnya dimaksudkan untuk mengurangi kesalahpahaman budaya (cultural misunderstanding), justru cenderung berbalik menjadi penghindaran komunikasi (communication avoidance) diantara kebudayaan yang berbeda tersebut (Rahardjo 2005: 2). Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut mempengaruhi gaya komunikasi sehingga perbedaan budaya dapat menjadi sebuah rintangan dalam berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana dikemukakan Cangara dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Komunikasi, terdapat
2 rintangan budaya yang menjadi gangguan dalam berkomunikasi dimana rintangan budaya yang dimaksud adalah rintangan yang terjadi disebabkan adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi komunikasi (Cangara, 2008: 156). Stereotip-stereotip terhadap suku, etnis dan agama tertentu merupakan hambatan dalam membangun sebuah komunikasi antarbudaya yang efektif. Menurut Samovar & Porter stereotip adalah suatu persepsi atau kepercayaan yang dianut mengenai individu atau kelompok berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dahulu terbentuk (Mulyana, 2010: 218). Walter Lippman dalam bukunya Public Opinion (1922) secara ilmiah merumuskan dan menggambarkan stereotip sebagai Pictures in our heads atau gambaran-gambaran yang ada di kepala. Yang memiliki makna bahwa kita tidak melihat dulu lalu mendefinisikan, tetapi mendefinisikan dulu kemudian baru melihat. Kita diberitahu dunia sebelum melihatnya dan membayangkan kebanyakan hal sebelum mengalaminya. Secara sederhana stereotip merupakan salah satu mekanisme penyederhana untuk mengendalikan lingkungan, karena keadaan lingkungan yang sebenarnya terlalu luas, terlalu majemuk, dan bergerak terlalu cepat untuk bisa dikenali dengan langsung. Sedangkan stereotip etnis adalah kepercayaan yang dianut bersama oleh sebagian besar warga suatu golongan etnis tentang sifat-sifat khas dari berbagai golongan etnis, termasuk golongan etnis mereka sendiri. Stereotip itu sendiri terbentuk oleh kategori sosial yang merupakan upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, ketika individu menghadapi sekian banyak orang di sekitarnya, individu akan mencari persamaan-persamaan antara sejumlah orang tertentu dan mengelompokkan mereka ke dalam satu kategori. Namun pada praktiknya, kategori sosial ini justru mempengaruhi cara pandang seseorang yang sudah dimasukkan kedalam kelompok tersebut. Akibatnya timbul kesalahan-kesalahan dalam melakukan persepsi sosial karena seluruh individu dalam kategori sosial tertentu mempunyai sifat-sifat dari kelompoknya. Dari penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa stereotip dapat menjadi penghambat dalam proses komunikasi karena stereotip dapat menimbulkan penilaian negatif antar suku dan etnis.
3 Keberhasilan komunikasi antarbudaya sangat diperlukan bagi masyarakat yang mendiami kota-kota besar di Indonesia. Tingginya tingkat perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketergantungan ekonomi dan mobilitas antar negara menjadikan Medan sebagai kota yang didiami berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Kesalapahaman antarbudaya yang ditimbulkan oleh stereotip bisa saja terjadi dalam hidup bermasyarakat di kota-kota besar jika anggota masyarakat tidak dapat memahami satu sama lain mengenai budaya kelompok lain. Kota Medan merupakan salah satu kota besar yang saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat dari berbagai aspek. Terletak dibagian barat Indonesia yang sekaligus merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan sejak zaman dahulu telah menjadi kota perdagangan serta pendidikan yang memiliki peranan penting di Pulau Sumatera. Selain didiami oleh beberapa masyarakat Etnis Pribumi dari berbagai suku, ada pula perantau dari berbagai daerah datang ke Kota Medan, entah itu untuk berdagang, bekerja, maupun belajar. Hal ini merupakan bukti bahwa Medan adalah sebuah kota besar dan sekaligus menandakan bahwa Kota Medan adalah kota multikultur. Sampai saat ini Kota Medan masih menjadi primadona bagi masyarakat lokal maupun mancanegara. Sebagai pusat ekonomi, hiburan dan pendidikan, tentunya hal tersebut menjadi daya tarik bagi kelompok masyarakat yang bukan berasal dari Medan untuk menetap. Tak heran jika Kota Medan memiliki masyarakat dengan latar belakang etnis, suku dan agama yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dengan adanya perkampungan etnis atau suku tertentu yang ada di Medan salah satunya ialah Kampung Madras (dulunya disebut Kampung Keling) dimana terdapat etnis Pribumi, India dan Tionghoa yang menempati daerah itu. Etnis Pribumi sendiri merupakan kelompok etnis yang mempunyai daerah mereka sendiri. Masyarakat Indonesia terbagi dalam dua golongan besar yaitu golongan Etnis Pribumi dan Etnis Pendatang (Eropa, India, Cina, dsb). Golongan Pribumi dapat didefinisikan sebagai golongan mayarakat yang berasal dari seluruh suku atau campuran dari suku-suku asli di wilayah kedaulatan Republik Indonesia. (Damayanti, 2011: 27). Berdasarkan pengertian mengenai etnis Pribumi di atas dapat disimpulkan bahwa etnis Pribumi di kota Medan adalah
4 kelompok etnis yang bukan berasal dari keturunan negara lain yang berdomisili di Kota Medan. Istilah keling di Sumatera Utara digunakan untuk menyebut orang India yang identik dengan kulit gelap, khususnya masyarakat Tamil dan julukan ini cenderung memiliki konotasi negatif. Padahal sebenarnya istilah kata keling ini digunakan untuk orang Jawa yang berasal dari kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Namun orang Belanda membuat kesalahan pengucapan kata Kalingga sehingga menjadi kata keling. Hal ini juga berdampak pada penyebutan nama daerah yang sampai saat ini merupakan salah satu pusat kebudayaan dan pengembangan Etnis Tamil yaitu Kampung Keling. (Sinar, 2001: 2). Salah satu hal yang membuat kawasan Kampung Madras dikenal hingga ke mancanegara adalah karena harmonisasi dan toleransi diantara beberapa etnis yang tinggal di daerah tersebut dan juga dikarenakan banyaknya mayoritas Etnis India Tamil yang sejak dahulu kala telah bermukim disana. Etnis India Tamil sendiri merupakan salah satu suku yang berasal dari India. Menurut sejarahnya, mereka adalah pendatang yang pada awalnya bekerja sebagai kuli di perkebunan Deli. Mereka pertama kali dibawa masuk ke Indonesia oleh pemerintah Belanda pada abad ke 19, mereka umumnya dibawa sebagai pekerja pada sejumlah perkebunan di Kota Medan. Etnis Tamil yang masuk ke Indonesia kebanyakan dipekerjakan di perusahaan perkebunan Belanda yang bernama Deli Maatschappij atau dalam bahasa indonesia dikenal dengan Tembakau Deli. Sebagian besar dari mereka berasal dari India bagian selatan, namun tidak sedikit pula yang berasal dari India bagian utara (Sinar, 2001: 1). Etnis Tamil tidak hanya tersebar di Sumatera Utara, tetapi juga mereka banyak menetap di Jakarta dan di Sigli, Aceh. Kebanyakan dari masyarakat Tamil beragama Hindu, namun tidak sedikit pula yang beragama Islam dan Kristen. Sebagian besar Etnis Tamil yang ada di Medan bermukim di kawasan kampung Madras. Kawasan yang terletak di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia ini dihuni oleh beberapa etnis dengan kultur yang berbeda. Hal ini membuat proses interaksi komunikasi antar budaya berlangsung secara inklusif dan intens diantara beberapa budaya tersebut.
5 Adanya pemikiran etnosentrisme, stereotip dan prasangka negatif yang masih berkembang sampai saat ini dapat menjadi potensi pemicu terjadinya konflik antar kelompok etnis dan suku di Kota Medan. Stereotip dan prasangka merupakan konsep yang saling terkait dan lazimnya terjadi bersama-sama. Seseorang yang mempunyai stereotip terhadap suatu kelompok juga cenderung mempunyai prasangka mengenai kelompok tersebut. Patut dicatat bahwa baik stereotip ataupun prasangka, keduanya merupakan sesuatu yang dipelajari. Kedua hal tersebut juga mempunyai hubungan erat dan saling berpengaruh terhadap keberlangsungan interaksi komunikasi antar budaya. Berkembangnya stereotip (negatif) bisa menjadi potensi yang menghambat dalam komunikasi antarbudaya Etnis Pribumi dengan Etnis India Tamil maupun dengan suku lainnya khususnya ketika mereka berada dalam satu ruang lingkup masyarakat yang sama. Stereotip tersebut bisa saja menjadi penilaian negatif antara kedua etnis sehingga dikawatirkan akan mengarah pada sikap dan perilaku negatif diantara kedua etnis tersebut. Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan tentang bagaimana dampak stereotip terhadap keberlangsungan interaksi komunikasi antar budaya antara Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil, maka penulis tertarik untuk mengetahui dan melihat apa saja sterotip yang berkembang diantara Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil dalam konteks interaksi komunikasi antar budaya diantara kedua budaya tersebut. 1.2 Fokus Masalah Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan bahwa fokus masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Stereotip Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui stereotip yang berkembang pada Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan.
6 b. Untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk stereotip pada Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan. c. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung terjalinnya hubungan harmonis antara Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan sampai saat ini. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah : a. Secara Akademis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk memperkaya pengetahuan maupun sebagai referensi dalam bidang Ilmu Komunikasi khususnya bagi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. b. Secara Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan pada bidang kajian komunikasi antarbudaya yang selama ini telah dipelajari peneliti selama menjadi mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. c. Secara Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang bagaimana stereotip yang berkembang pada Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil di Kel. Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan sehingga dapat meminimalisir terjadinya kesalahpahaman dan disintegrasi sosial diantara kedua etnis tersebut. Serta penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan berkenaan dengan penelitian ini.