BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Sampah Sampah adalah limbah yang bersifat padat yang terdiri atas bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Standar Nasional Indonesia No. 19-3964-1994a). 2.2 Timbulan Sampah Timbulan sampah, adalah banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan di satu wilayah. Hal ini penting, karena untuk merencanakan jumlah peralatan yang diperlukan, merencanakan fasilitas TPA (Tchobanoglous et al, 1993), merencanakan rute pengumpulan dan merencanakan jumlah armada pengangkut. Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah timbulan sampah adalah pengukuran berat dan volume. Volume merupakan ukuran yang penting dalam penentuan kendaraan pengangkut sampah, karena jumlah muatan yang dapat dimuat oleh satu kendaraan dibatasi oleh volume. Menurut SNI, 19-3964-1994a, Berat dapat mengukur timbulan secara langung, dan apabila menggunakan volume sebagai metode penentuan, maka harus diperhatikan kembali derajat kepadatannya, atau berat spesifik sampah penyimpanan. 2.2.1 Definisi Timbulan Sampah Dikutip dari Standar Nasional Indonesia nomor 19-2454-2002 Tahun 2002, timbulan sampah ialah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume atau berat per kapita perhari, atau perluas bangunan, atau perpanjang jalan (SNI 19-2454-2002). 2.2.2 Sumber Timbulan Sampah Menurut SNI nomor 19-3983-1995, timbulan sampah terbagi atas dua bagian besar, yaitu sumber timbulan non-perumahan dan sumber timbulan perumahan. Dari dua sumber timbulan tersebut, dapat dibagi lagi menjadi: 4
a) Sumber sampah non-perumahan - Pasar - Toko - Sekolah - Kantor - Tempat ibadah - Hotel - Restoran - Industri - Jalan - Rumah sakit - Fasilitas umum lainnya b) Sumber sampah perumahan - Rumah non-permanen - Rumah semi permanen - Rumah permanen 2.2.3 Besar Timbulan Sampah Besar timbulan sampah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan klasifikasi kota dan komponen-komponen sumber sampah (SNI, 19-3983-1995 Tahun 1995). Standar besar timbulan dapat dilihat pada tabel 2.1 dan 2.2 Tabel 2.1 Besar Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota No. Satuan Klasifikasi Kota Volume (liter/orang/hari) Berat (kg/orang/hari) 1. Kota sedang 2,75 3,25 0,70 0,80 2. Kota kecil 2,5 2,75 0,625 0,70 Sumber: SNI,1995 5
Tabel 2.2 Besar Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber Sampah No. Komponen Sumber Sampah Satuan Volume (liter) Berat (kg) 1. Rumah permanen Per orang/hari 2,25-2,50 0,350-0,400 2. Rumah semi permanen Per orang/hari 2,00-2,25 0,300-0,350 3. Rumah non permanen Per orang/hari 1,75-2,00 0,250-0,300 4. Kantor Per pegawai/hari 0,50-0,75 0,025-0,100 5. Toko/ruko Per petugas/hari 2,50-3,00 0,150-0,350 6. Sekolah Per murid/hari 0,10-0,15 0,010-0,020 7. Jalan arteri sekunder Per meter/hari 0,10-0,15 0,020-0,100 8. Jalan kolektor sekunder Per meter/hari 0,10-0,15 0,010-0,050 9. Jalan lokal Per meter/hari 0,05-0,10 0,005-0,025 10. Pasar Per meter2/hari 0,20-0,60 0,10-0,30 Sumber: SNI,1995 2.2.4 Standar Timbulan Sampah Standar timbulan sampah atau bisa disebut juga dengan spesifikasi timbulan sampah adalah standar hasil timbulan yang diproduksi oleh sumber sampah. Standar ini disusun, oleh Badan Standar Nasional dengan maksud untuk memberikan kriteria perencanaan persampahan di kota kecil maupun sedang di Indonesia, dan untuk kota besar diharuskan melakukan pengukuran serta pengambilan contoh timbulan sampah (SNI, 19-3983-1995 Tahun 1995).. Adapun yang dimaksud dengan kota kecil dan kota sedang adalah: - Kota kecil yaitu kota yang memiliki jumlah penduduk kurang dari 100.000 jiwa - Kota sedang adalah kota yang memiliki jumlah penduduk berkirsaran 100.000 dan 500.000 jiwa - Kota besar yaitu kota yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 500.000 jiwa 6
Denpasar merupakan masuk kategori kota besar, karena memiliki jumlah penduduk lebih dari 500.000 jiwa, maka untuk mengetahui banyaknya jumlah timbulan sampahnya harus dilakukan pengukuran secara langsung. 2.2.5 Jenis Sampah Menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2008, sampah dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Sampah rumah tangga, sampah yang dihasilkan oleh kegiatan sehari-hari dari rumah tangga, tidak termasuk tinja,dan sampah spesifik lainnya. 2. Sampah sejenis rumah tangga, yaitu sampah yang berasal dari kawasan industri, kawasan komersial, kawasan khusus, fasilitas sosisal dan fasilitas lainnya. 3. Sampah spesifik, sampah yang meliputi: a. Sampah yang mengandung limbah berbahaya dan beracun. b. Sampah yang timbul akibat bencana. c. Puing bongkaran bangunan. d. Sampah yang timbul secara periodik. e. Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah. Selain itu Penggolongan Sampah dapat dibagi atas beberapa kriteria, yaitu asal, komposisi, bentuk, lokasi, proses terjadinya, sifat, dan jenis-jenisnya, yaitu: 1. Penggolongan sampah berdasarkan komposisinya. Pada suatu kegiatan mungkin akan menghasilkan jenis sampah yang sama, sehingga, komponen-komponen penyusunannya juga akan sama. Karena itu berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a. Sampah yang seragam. Sampah dari kegiatan industri pada umumnya termasuk golongan ini. Sampah dari kantor sering terdiri atas kertas, kertas karbon, karton, dan masih digolongkan dalam sampah yang seragam. b. Sampah yang tidak seragam (campuran), misalnya sampah yang berasal dari pasar atau sampah dari tempat-tempat umum. 2. Penggolongan sampah berdasarkan bentuknya. Sampah dari rumah makan pada umumnya merupakan sisa air pencuci, sisa makanan yang bentuknya berupa cairan atau seperti bubur. Sedangkan 7
beberapa pabrik menghasilkan sampah berupa gas, uap air, debu atau sampahsampah berbentuk padatan. Dengan demikian berdasarkan bentuknya ada dua macam sampah, yaitu: a. Sampah berbentuk padatan (solid), misalnya daun, kertas, karton, kaleng, plastik, dsb. b. Sampah berbentuk cairan (termasuk bubur), misalnya bekas air pencuci, bahan cairan yang tumpah. Limbah industri banyak juga yang berbentuk cair atau bubur, misalnya blotong (tetes) yaitu sampah dari pabrik tebu. 3. Penggolongan sampah berdasarkan lokasinya. Baik di kota maupun luar kota, banyak dijumpai sampah bertumpuk-tumpuk. Berdasarkan lokasi terdapatnya sampah, dapat dibedakan: a. Sampah kota (urban), yaitu sampah yang terkumpul di kota-kota besar. b. Sampah daerah, yaitu sampah yang terkumpul di luar perkotaan, misalnya di desa, permukiman, dan di daerah pantai. 4. Penggolongan sampah berdasarkan proses terjadinya. Berdasarkan atas proses terjadinya, dibedakan menjadi 2, yaitu: a. Sampah alami, adalah sampah yang terjadi karena proses alami, misalnya rontoknya daun-daun tanaman di pekarangan rumah. b. Sampah non-alami, adalah sampah yang terjadi karena kegiatan-kegiatan manusia. 5. Penggolongan sampah berdasarkan sifatnya. Terdapat dua macam sampah yang sifat-sifatnya berlainan, yaitu: a. Sampah organik, yang terdiri atas daun-daunan, kayu, kertas, karton, tulang, sisa makanan ternak, sayur dan buah. Sampah organik, dan oleh karenanya tersusun oleh unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Bahan-bahan ini mudah didegradasi oleh mikroba. b. Sampah anorganik, yang terdiri dari kaleng, plastik, besi dan logam-logam lainnya, gelas, mika, atau bahan-bahan yang tidak tersusun oleh senyawasenyawa organik. Sampah ini tidak didegradasi oleh mikroba. 8
2.3 Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah sebagai kontrol terhadap timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, proses dan pembuangan akhir sampah, dimana seluruh hal tersebut dikaitkan dengan prinsip-prinsip terbaik untuk kesehatan, ekonomi, konservasi, estetika lingkungan, keteknikan/enginering, dan juga sikap masyarakat. Dalam menentukan strategi pengelolaan sampah ini diperlukan informasi mengenai timbulan sampah, laju penimbunan sampah, serta komposisi dan karakteristik sampah. 2.3.1 Teknik operasional pengelolaan sampah Teknik operasional pengelolaan sampah merupakan sebuah proses kegiatan dalam mengelola sampah mulai dari pewadahan sampah, pengangkutan hingga pembuangan akhir yang bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan dari sumber. Persampahan. Pada Gambar 2.1 dapat dilihat Skema Teknik Operasional Pengelolaan TIMBULAN SAMPAH PEMILAHAN, PEWADAHAN, DAN PENGOLAHAN DI SUMBER PENGUMPULAN PEMINDAHAN PENGANGKUTAN PEMILAHAN DAN PENGOLAHAN PEMBUANGAN AKHIR Gambar 2.1 Diagram Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan Sumber: SNI 19-2454-2002 9
2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah Menurut SNI nomor 19-2454 - 2002 Tahun 2002 dijelaskan ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengolahan sampah, diantaranya: 1. Karakteristik lingkungan dan sosial ekonomi; 2. Kepadatan dan penyebaran penduduk; 3. Timbulan dan karakteristik sampah; 4. Budaya sikap dan perilaku masyarakat; 5. Jarak dari sumber ke tempat pembuangan akhir sampah; 6. Rencana tata ruang dan pengembangan kota; 7. Sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan akhir sampah; 8. Biaya yang tersedia; 9. Peraturan daerah setempat. 2.3.3 Faktor penentu kualitas operasional pelayanan Beberapa faktor yang mempengaruhi operasional pelayanan adalah sebagai berikut: 1. Tipe kota 2. Frekuensi pelayanan 3. Sampah terangkut dari lingkungan 4. Jenis peralatan dan jumlahnya 5. Restribusi 6. Peran aktif masyarakat 7. Timbulan sampah 8. K3 (kesehatan, keamanan, dan keselamatan) 2.3.4 Frekuensi pelayanan Berdasarkan hasil penentuan skala kepentingan daerah pelayanan, frekuensi pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut: 1. Pelayanan intensif antara lain: untuk jalan protokol, pusat kota, dan daerah komersil. 10
2. Pelayanan menengah antara lain: untuk kawasan permukiman teratur. 3. Pelayanan rendah antara lain: untuk daerah pinggiran kota. 2.4 Teknik Operasional Dalam penentuan pemilihan teknik operasional yang akan digunakan, diperlukan beberapa faktor, yaitu faktor kondisi topografi, lingkungan daerah pelayanan, kondisi sosial, ekonomi, partisipasi masyarakat, jumlah, dan jenis timbulan sampah. Berdasarkan SNI 19-2454 - 2002, ada beberapa tahapan yang akan dilalui sampah sebelum sampah tersebut sampai di TPA. Adapun tahapantahapan tersebut diantaranya: 2.4.1 Tahap pewadahan sampah Pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara yang lakukan oleh penghasil sampah. Aktivitas ini menggunakan tempat sampah atau kantong plastik yang besarnya disesuaikan dengan tingkat volume sampah yang dihasilkan oleh masing-masing sumber sampah. Pola pewadahan sampah dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Pewadahan individual adalah proses penampungan sampah sementara dalam suatu wadah khusus untuk dan dari sampah individu. 2. Pewadahan komunal adalah proses penampungan sampah sementara dalam suatu wadah bersama baik dari berbagai sumber maupun sumber umum. 2.4.2 Tahap Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu, baik dengan pengangkutan langsung maupun tidak langsung (SNI, No. 19-2454-2002 Tahun 2002). Pola pengumpulan sampah berdasarkan SNI No. 19-2454-2002 Tahun 2002 adalah: 1. Pola individual langsung (door to door) adalah kegiatan pengambilan sampah dari rumah-rumah/sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat 11
pembuangan akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan, sesuai dengan gambar 2.2, dengan persyaratan sebagai berikut: a. Kondisi topografi bergelombang (>15-40%), hanya alat pengumpul mesin yang dapat beroperasi. b. Kondisi jalan yang cukup lebar dan tidak mengganggu pemakai jalan lainnya. c. Kondisi dan jumlah alat memadai. d. Jumlah timbulan sampah > 0,3 m 3 /hari. e.. Bagi penghuni. yang. beroperasi. di jalan protokol........ TPA. eteran Gambar 2.2 Pola Individual Langsung (Sumber: SNI 19-2454-2002) : Sumber timbulan sampah pewadahan individual. K gan untuk gambar 2.2: : Gerakan alat pengangkut. : Gerakan alat pengumpul. 2. Pola individual tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari sumber-sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir, sesuai dengan gambar 2.3, dengan persyaratan sebagai berikut: a. Bagi daerah yang partisipasi masyarakatnya pasif, lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. b. Bagi kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%) dapat menggunakan alat pengumpul non-mesin (gerobak, becak). c. Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung. d. Kondisi lebar gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu 12
pamakai jalan lainnya. e. Harus ada organisasi pengumpulan sampah 13
TPA................ Gambar 2.3 Pola Individual tidak langsung (Sumber: SNI 19-2454-2002). eteran : Sumber timbulan sampah pewadahan individual. K gan untuk gambar 2.3: : Lokasi Pemindahan. : Gerakan alat pengangkut. : Gerakan alat pengumpul. 3. Pola komunal langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masingmasing titik komunal dan diangkut ke lokasi pembuangan akhir, sesuai dengan gambar 2.4, dengan persyaratan sebagai berikut: a. Bila alat angkut terbatas. b. Bila kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah. c. Alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual (kondisi daerah berbukit, gang/jalan sempit). d. Peran serta masyarakat tinggi. e. Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengangkut (truk). f. Untuk permukiman tidak teratur. 14
TPA Gambar 2.4 Pola komunal langsung. (Sumber: SNI 19-2454-2002) terang : Sumber timbulan sampah pewadahan individual. Ke an untuk gambar 2.4: : Pewadahan Komunal. : Gerakan alat pengangkut. : Gerakan alat pengumpul. : Gerakan penduduk ke arah komunal. 4. Pola komunal tidak langsung adalah kegiatan pengambilan sampah dari masing-masing titik pewadahan komunal ke lokasi pemindahan untuk diangkut selanjutnya ke tempat pembuangan akhir, sesuai dengan gambar 2.5, dengan persyaratan sebagai berikut: a. Peran serta masyarakat tinggi. b. Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. c. Wadah komunal di tempatkan sesuai dengan kebutuhan dan lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengumpul. d. Tempat dengan kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%) dapat menggunakan alat pengumpul non-mesin (gerobak, becak), bagi kondisi topografi > 5% dapat menggunakan cara lain seperti pikulan, kontainer kecil beroda dan karung. 15
e. Kondisi/lebar gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. 16
f. Harus ada organisasi pengumpulan sampah. TPA Gambar 2.5 Pola Komunal Tidak Langsung. (Sumber: SNI 19-2454-2002) Sumber timbulan sampah pewadahan individual. eranga Ket n untuk gambar 2.5: : Pewadahan Komunal. : Lokasi Pemindahan. : Gerakan alat pengangkut. : Gerakan alat pengumpul. : Gerakan penduduk ke arah komunal 5. Pola penyapuan jalan adalah kegiatan pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan, khususnya untuk jalan protokol, lapangan parkir, lapangan rumput dan lain-lain. Hasil penyapuan diangkut ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke TPA, penanganan dilakukan berbeda untuk setiap daerah sesuai fungsi daerah yang dilayani, seperti gambar 2.6. 17
TPA 18
Gambar 2.6 Pola Penyapuan Jalan (Sumber: SNI 19-2454-2002). K eteran gan untuk gambar 2.6: : Sumber timbulan sampah pewadahan individual. : Pewadahan Komunal. : Gerakan alat pengangkut. : Gerakan alat pengumpul. 19
17 Gambar 2.7 Jenis Jenis Pola Pengumpulan Sampah (Sumber : SNI 19-2454-2002)
2.4.3 Pemindahan Sampah Pemindahan sampah adalah proses kegiatan memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tipe pemindahan (transfer) ditampilkan dalam tabel 2.3. Tabel 2.3 Tipe Pemindahan (Transfer) No. Uraian Transfer Depo Transfer Depo Transfer Depo Tipe I Tipe II Tipe III 1 Luas > 200 m 2 60 m 2 200 m 2 10 m 2 20 m 2 lahan 2. Fungsi tempat pertemuan tempat tempat peralatan pengumpul pertemuan pertemuan dan pengangkutan peralatan gerobak dan sebelum pengumpul kontainer (6- pemindahan. dan 10 m 3 ). tempat penyimpanan pengangkutan lokasi atau kebersihan. sebelum penempatan bengkel sederhana. pemindahan. kontainer kantor wilayah tempat parkir komunal (1-10 /pengendali. gerobak. m 3 ). tempat pemilahan. tempat tempat pemilahan. pengomposan. 3. Daerah pemakai baik sekali untuk daerah yang mudah mendapat lahan. - daerah yang sulit mendapat lahan yang kosong dan daerah protokol. Sumber: Standar Nasional Indonesia Nomor 19-2454-2002 18
2.4.4 Pengangkutan sampah Pengangkutan sampah adalah proses memindahkan sarnpah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah menuju ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Menurut Standar Nasional Indoesia 19-2454 2002, pengangkutan sampah dibagi menjadi 3 pola pengangkutan, yaitu: 1. Pengangkutan sampah dengan sistem pengumpulan individu langsung (door to door), yaitu: a. Truk pengangkut sampah dari pool menuju titik sumber sarnpah pertama untuk mengambil sampah; b. Selanjutnya mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya; c. Selanjutnya diangkut ke TPA sampah; d. Setelah pengosongan di TPA, truk menuju ke lokasi sumber sampah berikutnya Sampah terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan. Pada gambar 2.8 adalah tahapan kegiatan dari pola pengangkutan sampah sistem individual langsung. Dump Truck Tong/Bin Compactor Truck TPA Gambar 2.8 Pola Pengangkutan Sampah Sistem Individual Langsung (Sumber : SNI 19-2454-2002) 2. Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di transfer depo tipe I dan II, pada pola ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Kendaraan pengangkut sampah keluar dari pool langsung menuju lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah ke TPA. b. Dari kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk pengambilan pada rute berikutnya. Pool Kendaraan Transfer depo Tipe I dan II TPA Gambar 2.9 Pola Pengangkutan Sistem Transfer Depo (Sumber: SNI 19-2454-2002) 19
Keterangan untuk gambar 2.9 Pengangkutan sampah Kembali ke transfer depo untuk ritasi berikutnya 3. Pengumpulan sampah dengan sistem kontainer transfer depo tipe (III). Pola pengangkutan sampah ini dapat dibagi menjadi 4 pola pengangkutan: (1) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 1. Tahapan kegiatan dari sistem pengosongan container adalah sebagai berikut: 1. Kendaraan dari pool bergerak menuju lokasi kontainer pertama yang berisi penuh sampah. 2. Kendaraan membawa kontainer isi dari lokasi awal kontainer pertama menuju ke TPA. 3. Setelah isi kontainer dikeluarkan, kontainer yang sudah kosong dikembalikan ke tempat semula. 4. Kendaraan menuju lokasi kontainer yang berisi sampah berikutnya. 5. Kembali kendaran membawa kontainer yang berisi sampah ke TPA. 6. Setelah isi kontainer dikeluarkan, kontainer yang sudah kosong dikembalikan ke tempat semula. 7. Proses ini terus berlangsung hingga semua kontainer yang berisi sampah dikosongkan dan dikembalikan ke tempat asal semula kontainer. 8. Kendaran kembali ke pool. 20
POOL 1 ISI KOSONG A B A B A B 4 7 5 8 6 9 3 2 TPA Gambar 2.10 Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 1 Keterangan gambar 2.10: A = Kontainer isi B = Kontainer kosong = Pengangkutan sampah (2) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara II Tahapan kegiatan dari sistem pengosongan container adalah sebagai berikut: 1. Kendaraan dari pool menuju ke lokasi kontainer isi sampah pertama. 2. Kendaraan membawa kontainer yang berisi sampah pertama ke TPA. 3. Dari TPA Kendaraan membawa kontainer kosong menuju lokasi kedua untuk menukar kontainer kosong dengan container isi. 4. Kendaraan membawa kontainer isi sampah kedua ke TPA. 5. Dari TPA Kendaraan membawa kontainer kosong menuju lokasi ketiga untuk menukar kontainer kosong dengan container isi. 6. Kendaraan membawa kontainer isi ketiga ke TPA. 7. Kendaraan dari TPA dengan kontainer kosong menuju lokasi pertama untuk menurunkan kontainer kosong, kemudian kembali ke pool. 21
Kosong Isi POOL B A B A B A 7 1 2 6 4 3 5 TPA Gambar 2.11 Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara II 6 A Keterangan gambar 2.11: = Kontainer isi B = Kontainer kosong =Kembali ke transfer depo untuk ritasi berikutnya = Pengangkutan sampah (3) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara III, Adapun tahapan kegiatannya: 1. Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju ke lokasi kontainer isi pertama untuk mengganti / mengambil kontainer kosong dengan kontainer isi. 2. Kendaraan membawa kontainer isi pertama ke TPA. 3. Kendaraan dari TPA membawa kontainer kosong ke lokasi kedua untuk mengganti/menukar kontainer kosong dengan kontainer isi 4. Kendaraan membawa kontainer isi kedua ke TPA. 5. Kendaraan dari TPA membawa kontainer kosong ke lokasi ketiga untuk mengganti/menukar kontainer kosong dengan kontainer isi 6. Kendaraan membawa kontainer isi ketiga ke TPA. 7. Kendaraan dari TPA kembali ke pool. 22
KOSONG ISI B A B A B A POOL 1 7 2 4 3 5 TPA 6 Gambar 2.12 Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara III Keterangan pada gambar 2.12: A = Kontainer isi B = Kontainer kosong = Pengangkutan sampa Jumlah dan Waktu ritasi yang dapat dilakukan kendaraan sampah per hari dapat dihitung dengan persamaan (Tchobanoglous,Theisen,Vigil,1993): T HCS dimana: T HCS = P HCS + S + h (2.1) = Waktu per trip dari sistem kontainer bergerak (jam/trip) P HCS = Waktu menuju lokasi berikut setelah meletakkan kontainer kosong di lokasi sebelumnya, waktu mengambil kontainer penuh dan waktu mengembalikan kontainer kosong S = Waktu terpakai di lokasi untuk menunggu dan membongkar sampah di TPA, jam/trip h = waktu perjalanan menuju TPA dari lokasi kontainer Untuk hauled container system nilai P HCS dan S relativ konstan, tetapi waktu perjalanan dari TPS ke TPA tergantung pada jarak dan kecepatan yang ditempuh oleh kendaraan. Nilai h dapat ditentukan dari persamaan berikut: h = a + (b.x) (2.2) dimana: 23
h = hauled time konstan (jam/trip) a,b = konstanta, bersifat empiris, a (jam/trip) dan b (jam/km) x = jarak rata-rata lokasi kontainer/tps ke TPA, km/trip Tabel 2.4 Konstanta empiris waktu angkut a dan b No. Batas kecepatan a B km/jam mil/jam jam/trip jam/km jam/mil 1. 88 55 0,016 0,011 0,018 2. 72 45 0,022 0,014 0,022 3. 56 35 0,034 0,018 0,029 4. 40 25 0,050 0,025 0,040 Sumber: Tchobanoglous, 1993 Dengan demikian didapat persamaan: T HCS = P HCS + S + a +(b.x)...(2.3) Waktu pick up per trip (P HCS ) untuk hauled container system dirumuskan sebagai berikut: P HCS = pc + uc + dbc (2.4) dimana: pc = waktu meletakkan sampah dari truk (jam/trip) uc = waktu mengangkut sampah ke truk (jam/trip) dbc = waktu tempuh antara kontainer (jam/trip) Jumlah trip per hari: Nd = { H (1 W ) ( t 1 t 2 ) } / T Hcs...(2.5) dimana: Nd = jumlah trip (trip/hari) H = waktu kerja per hari (jam/hari) W = faktor waktu non produktif ( waktu untuk checking pagi dan sore, perbaikan dan hal tak terduga lainnya diperkirakan ) t 1 t 2 = waktu dari pool ke lokasi pertama (jam) = waktu dari lokasi terakhir ke pool (jam) 24
(4) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer tetap, biasanya untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk pemadat atau dump truk atau truk biasa. Adapun tahapannya sebagai berikut: 1. kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah di dalam container dituangkan ke dalam truk compactor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong 2. kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh. untuk kemudian langsung ke TPA 3. `demikian seterusnya sampai pada rit terakhir Gambar 2.13 Pola pengangkutan dengan sistem kontainer tetap Keterangan gamabar 2.13: = Kontainer isi = Kontainer kosong = Pengangkutan sampa = meletakan kembali kontainer = rute kendaraan 2.5 Jenis Kendaraan Pengangkut Sampah Kendaraan pengangkutan sampah adalah kendaraan pengumpul sampah dan mengangkut sampah dari tempat pengumpulan sampah menuju ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Di berbagai negara kendaraan pengangkut sampah 25
mempunyai standar bentuk konstruksi, ukuran, dan cara kerja yang berbeda. Oleh karena itu, berdasarkan penggeraknya, kendaraan pengangkut sampah dapat digolongkan menjadi dua. Yaitu kendaraan konvesional atau kendaraan tradisional yang digerakkan dengan tenaga manusia atau hewan, seperti gerobak sampah dan becak sampah. Sadangkan yang kedua adalah kendaraan modern atau kendaraan yang digerakkan dengan motor atau mesin seperti arm-roll truck. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap dari masing-masing jenis kendaraan pengangkut sampah. 2.5.1 Gerobak Gerobak adalah alat pengangkut sampah yang menggunakan tenaga manusia untuk menariknya. Terdapat berbagai macam bentuk dan volume gerobak pengangkut sampah. Volume gerobak 0,8 m 3 sampai dengan 1,5 m 3. Umumnya gerobak terbuat dari bahan plat besi, namun ada juga yang terbuat dari kayu dan papan. Gerobak dioperasikan sampai dengan 200 kepala keluarga (KK). Jumlah rit gerobak bervariasi antara 1-4 rit/hari, tergantung jarak perjalanan pengumpulan sampah. 2.5.2 Mobil Angkutan Bak Terbuka (Pick Up) Mobil pick up adalah sejenis kendaraan bak terbuka yang digunakan untuk mengumpulkan dan mengangkut sampah. Kendaraan jenis ini tidak dilengkapi dengan peralatan hidrolik sehingga proses pembongkaran sampah di TPA berlangsung secara manual. Konstruksi bak kendaraan jenis ini biasanya terbuat dari plat besi dengan volume pengangkutanya antara 1,5 sampai 2 m 3. Banyak keunggulan yang dimiliki oleh mobil pick up, mobil jenis ini mampu melewati jalan-jalan sempit dan biaya operasinya lebih rendah dibandingkan dengan dump truck. Maka dari itu banyak pengelola sampah swasta yang menggunakan mobil pick up untuk mengumpulkan dan mengangkut sampah. 2.5.3 Truk Datar Truk datar adalah truk pengangkut sampah tanpa dilengkapi peralatan hidrolik, Sehingga proses pembongkaran sampah di TPA berlangsung secara manual. Truk datar hampir mirip dengan pick up, bedanya konstruksi bak truk datar biasanya terbuat dari kayu yang mudah diperbaiki dan murah, dapat 26
mengangkut sampah 8-10 m 3. Bagian atas terbuka dan selama pengangkutan ditutup dengan jaring plastik agar sampah tidak berjatuhan. 2.5.4 Truk Hidrolik (Dump Truck) Dump truck adalah truk dengan bak terbuat dari plat besi/baja yang bisa ditumpahkan dengan alat hidrolik. Dapat mengangkut sampah sampai dengan 8 m 3. Pemuatan sampah di tempat pembuangan sementara lebih lama dibandingkan dengan arm-roll truck, karna dikerjakan dengan manual, tetapi pembongkaran di tempat pembuangan akhir lebih cepat dibandingkan dengan truk datar. Dump truck jauh lebih murah dibandingkan dengan arm roll truck, tetapi lebih mahal dibandingkan dengan truk datar. Jumlah rit yang dapat ditempuh dump truck dihitung berdasarkan jarak menuju TPA. Untuk jarak dibawah 20 km jumlah rit maksimal sebanyak 4 kali, dan 2-3 rit untuk jarak antara 30-40 km. Namun perhitungan ini juga tergantung dengan waktu memuat sampah. 2.5.5 Truk Lengan Tarik Hidrolik (Arm-Roll Truck) Arm roll truck adalah truk chasis yang dilengkapi dengan lengan tarik hidrolik untuk mengangkat kontainer. Kontainer yang dibawa oleh arm roll truck dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan volumenya, yaitu kontainer bervolume 6 m 3 dan kontainer 8 m 3. Arm roll truck relatif efektif dan efisien untuk mengangkut kontainer sampah karena waktu memuat dan membongkar sampah lebih singkat dibandingkan dengan alat pengangkut sampah yang lainnya sehingga harganya pun jauh lebih mahal. Jumlah rit arm roll truck dihitung sebanyak 6 kali sehari untuk jarak dibawah 20 km, dan 3-4 rit untuk jarak 30-40 km. 2.6 Analisis Tingkat Pelayanan Pengangkutan sampah Yang dimaksud dengan sistem pengankutan sampah adalah sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah secara keseluruhan. Metode sistem pengankutan barang tidak jauh beda dengan sistem angkutan barang atau sistem angkutan manusia. Indikator yang di gunakan untuk mengukur tingkat pelayanan pengangkutan sampah adalah rasio sampah terangkut, kecepatan perjalanan kecepatan memuat sampah, rasio tenaga kerja dan indeks efisiensi ppengangkutan. 27
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menganalisis tingkat pelayanan pengangkutan sampah adalah: a. Jumlah penduduk dan jaumlah timbulan sampah orang per hari. b. Volume sampah c. Jarak perjalan mengangkut sampah d. Waktu perjalan mengangkut sampah e. Waktu memuat sampah f. Jenis, dan jumlah rit kendaraan pengankut sampah g. Jumlah tenaga kerja 2.6.1 Rasio sampah terangkut Rasio sampah terangkut adalah perbandingan antara jumlah sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut ke TPA dengan jumlah sampah yang dihasilkan salam satu daerah tertentu. Untuk daerah yang digunakan dalam penelitian ini adalah daerah Kecamatan Denpasar Utara. Dalam menghitung rasio sampah terangkut, digunakan persamaan berikut ini: RS T = VSt... (2.6) VS dengan: RS T = Rasio sampah yang terangkut VSt = Volume sampah yang terangkut ( M 3 ) VS = Volume sampah yang dihasilkan pada satu daerah Jika, RS T < 1 maka dibutuhkan kendaraan/jumlah rit (supply) tampahan RS T = 1 maka volume yang terangkut dan yang dihasilkan seimbang RS T > maka sistem perangkutanya tidak efisien 2.6.2 Kecepatan perjalanan Kecepatan perjalanan adalah kecepatan rata-rata kendaraan pengumpulan dan pengangkutan sampah. Nilai ini diperoleh dari perbandigan jarak perjalanan dan waktu perjalanan. Bila nilai kecepatan semakin besar maka semakin tinggi pola pengumpulan/pengankutan dan kendaraan. Persamaan yang digunakan adalah: 28
Jp v =... (2.7) Wp dengan: v = Kecepatan rata-rata perjlanan (km/jam) Jp =jarak perjalanan ( km ) WM= Waktu perjalanan (jam) 2.6.3 Kecepatan Memuat Sampah Kecepatan memuat sampah (loading time) ialah kecepatan rata-rata memuat sampah ke kendaraan pengumpul dan pengangkut sampah. Nilai ini di peroleh dari perbandingan volume bak kendaraan dengan waktu memuat sampah. Semakin besar nilai kecepatan memuat sampah, maka semakin tinggi efiensi pola dan kendaraan pengangkutan dan pengupulan. Persamaan rumus yang digunakan sebagai berikut: v m = VB WM dengan:... (2.8) v m = Kecepatan rata-rata memuat sampah (m 3 /jam) VB= Volume bak/ kontainer ( M 3 ) WM= Waktu memuat sampah (jam) 2.6.4 Rasio Tenaga Kerja Rasio tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja dalam satu kendaraan dengan kapasitas kontainer/bak kedaraan yang digunakan. Semakin kecil nilai rasio tenaga kerja berarti semakin tinggi tingkat efisiensi pola pengankutan dan kendaraan. Rumus persamaan yang digunakan adalah: RTK = dengan: NTK VB... (2.9) RTK = Rasio Tenaga Kerja (orang/m 3 ) VB = Volume bak/ kontainer ( M 3 ) NTK = Jumlah Tenaga Kerja dalam satu kendaraan (orang) 29
2.6.5 Estimasi Kebutuhan Jumlah Perangkat Sampah Untuk memperkirakan jumlah kendaraan dan jenis perangkutan sampah dilakukan perhitungan berdasarkan dengan jumlah timbulan sampah per daerah dibagi dengan perkalian antara volume kontainer/bak dan jumlah rit kendaraan. Rumus persamaan yang digunakan untuk estimasi kebutuhan jumlah perangkat sampah adalah: NK = dengan: NK VS NRK.VB... (2.10) = Jumlah kendaraan (unit) VS = Volume sampah ( m 3 ) NRK =Jumlah rit kendaraan dalam satu hari VB = Volume bak/ kontainer ( m 3 ) 2.6.6 Metode pengambilan sampel Sebelum melakukan pengambilan sampel, dilakukan perhitungan dengan metode standar dari SNI 19-3954-1994, yang bertujuan agar kita mengetahui berapa sampel yang kita jadikan rata-rata timbulan sampah perharinya. Ada pun rumus persamaannya sebagai berikut: Jumlah sampel. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan jumlah sebagai berikut 1. Jumlah sampel jiwa dan KK dihitung berdasarkan persamaan 2.11 dan 2.12 S = Cd Dimana:.(2.11) S : jumlah sampel ( jiwa ) Cd : Koefisien Perumahan Dengan Ps : Populasi ( Jiwa ) (Sumber: SNI 19-3954-1994) Koefisien kota besar = 1 Koefisien kota kecil sampai sedang = 0.5 30
K = (2.12) Dimana: K: Jumlah sampel (KK) N: Jumlah jiwa per keluarga 2. Jumlah timbulan dari perumahan sebagai berikut: - Sampel dari perumahan semi permanen = (S 1 xk)keluarga - Samapel dari perumahan permanen = (S 2 x K)keluarga - Samapel dari perumahan non-permanen = (S 3 x K)keluarga Dimana: S 1 = proporsi jumlah KK semi permanen (%) S 2 = proporsi jumlah KK permanen (%) S 3 = proporsi jumlah KK non-permanen (%) (Sumber: SNI 19-3954-1994) 3. Perhitungan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini dikarenakan agar kita dapat mempredikisi jumlah sampah yang diproduksi oleh penduduk yang tumbuh. Perhitungan pertumbuhan penduduk dapat dihitung dengan menggunakan dua cara, sebagai berikut: - Laju pertumbuhan penduduk eksponensial Laju pertumbuhan penduduk yang menggunakan asumsi bahwa pertumbuhan penduduk berlangsung terus-menerus akibat adanya kelahiran dan kematian di setiap waktu. Dengan rumus: P t = P o e rt (2.13) Atau r= In( ) (2.14) dimana: Pt = Jumlah penduduk pada Tahun t Po = Jumlah penduduk pada Tahun dasar t = jangka waktu r = laju pertumbuhan penduduk e = bilangan eksponensial yang besarnya 2,718281828 31
- Laju pertumbuhan penduduk geometrik Laju pertumbuhan penduduk menggunakan asumsi bahwa laju pertumbuhan penduduk sama setiap Tahunnya. Dengan rumus: (2.15) Atau ( ) (2.16) Dimanan = jumlah penduduk pada Tahun t = jumlah penduduk pada Tahun dasar t = jangka waktu r = laju pertumbuhan penduduk (google, rumus pertumbuhan penduduk) Jumlah sampel timbulan sampah dari non perumahan dihitung berdasarkan Rumus 2.17 S = Cd Ts (2.17) (Sumber: SNI 19-3954-1994) dengan: S : jumlah sampel masing-masing sumber sampah non perumahan Cd : koefisien non perumahan koefisien kota besar (jumlah penduduk > 500.000 jiwa) = 1 koefisien kota sedang (jumlah penduduk 100.000-500.000 jiwa)= 0,5 koefisien kota kecil (jumlah penduduk < 100.000 jiwa) = 0,5 Ts : jumlah sumber non perumahan 32
33