2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rajungan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. : Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN METODE

PAPER TEKNIK PENANGKAPAN IKAN ALAT TANGKAP IKAN

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus)

TINJAUAN PUSTAKA. mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length) jauh lebih

BAB II DESKRIPSI (OBJEK PENELITIAN)

(Jaring Insang) Riza Rahman Hakim, S.Pi

BAB III BAHAN DAN METODE

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

TINJAUAN PUSTAKA. jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain jumlah mesh depth

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi Penangkapan 2.2 Alat Tangkap Perangkap ( Traps

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 1. No. 1, Desember 2010: 24-31

Lift Net & Traps. Ledhyane Ika Harlyan. Dept. of Fisheries Resources Utilization and Marine Science Fisheries Faculty, Brawijaya University 1

TINJAUAN PUSTAKA. jenis merupakan sumber ekonomi penting (Partosuwiryo, 2008).

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps

II. TINJAUAN PUSTAKA Penangkapan Ikan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penangkapan ikan adalah suatu usaha

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN LONTAR KABUPATEN SERANG BANTEN

Jl. Raya Jakarta Serang Km. 04 Pakupatan, Serang, Banten * ) Korespondensi: ABSTRAK

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga II TINJAUAN PUSTAKA. Genus Scylla mempunyai tiga spesies lain yaitu Scylla serata, S. oseanica dan S.

Jaring Angkat

KELOMPOK SASARAN. 1. Nelayan-nelayan yang telah mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam pengoperasian jaring trammel.

DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG

PERBEDAAN BOBOT DAN POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN PADA BUBU LIPAT DI DESA MAYANGAN, KABUPATEN SUBANG RACHMAD CAESARIO

I. PENDAHULUAN. Kepiting bakau (Scylla serrata) dapat dijumpai hampir di seluruh perairan pantai. Kepiting

Tingkah Laku Ikan Terhadap Alat Tangkap Statis. Oleh: Ririn Irnawati

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN ALAT TANGKAP JEBAK (BUBU LIPAT) TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI DESA SEMAT, JEPARA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat

LAMUN. Project Seagrass. projectseagrass.org

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia sebagai negara kepulauan terletak diantara samudera Pasifik dan

KATA PENGANTAR. Jakarta, Nopember Penyusun

STUDY ON THE PVC TRAP FOR ELL (Monopterus albus)

PENILAIAN UNIT USAHA PENANGKAPAN JARING RAJUNGAN DI TELUK BANTEN RIYANTI

AQUASAINS (Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan)

SUMBER DAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN TANGERANG

PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT (Effect of bait position on catch of collapsible pot)

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya hutan bakau yang membentang luas di

ANALISIS PERKIRAAN DAMPAK EKONOMI KEBIJAKAN MINIMUM LEGAL SIZE RAJUNGAN (Portunus pelagicus) TERHADAP NELAYAN DESA GEBANG MEKAR KABUPATEN CIREBON

Fishing target behavior against traps design

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3 METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BERDASARKAN PERBEDAAN KEDALAMAN PERAIRAN DENGAN JARING ARAD (Mini Trawl) DI PERAIRAN DEMAK

BAB III BAHAN DAN METODE

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN SIDAT DENGAN MENGGUNAKAN BUBU DI DAERAH ALIRAN SUNGAI POSO SULAWESI TENGAH

I. PENDAHULUAN. diakibatkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah munculnya penyakit yang

STUDI BIOLOGI KEPITING DI PERAIRAN TELUK DALAM DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepiting Bakau Klasifikasi kepiting bakau

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Perairan Indonesia. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak diantara samudera

II. Tinjuan Pustaka. A. Bulu Babi Tripneustes gratilla. 1. Klasifikasi dan ciri-ciri

Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net)

3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar

BEBERAPA JENIS PANCING (HANDLINE) IKAN PELAGIS BESAR YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PPI HAMADI (JAYAPURA)

ORDO DECAPODA. Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster

Pengenalan Jenis-jenis Kima Di Indonesia. Kima Lubang (Tridacna crosea)

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Perikanan Tangkap

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

PENGARUH WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Keong Macan Klasifikasi dan identifikasi

MENGAPA PRODUKSI KEPITING RAJUNGAN MENURUN DAN KEBIJAKAN APA YANG PERLU DILAKUKAN MENGANTISIPASINYA. Oleh. Wayan Kantun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelas : Crustacea. Ordo : Decapoda. Webster et al., (2004), menyatakan bahwa lobster merupakan udang air tawar

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

PERBEDAAN UMPAN DAN KEDALAMAN PERAIRAN PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perikanan Tangkap Kapal / Perahu

Bentuk baku konstruksi jaring insang dasar monofilamen bawal putih

KAPAL IKAN PURSE SEINE

Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net ) induk udang

BAB I PENDAHULUAN. Holothuroidea merupakan salah satu kelompok hewan yang berduri atau

Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan. serta ada yang berskala kecil(said dan lutan, 2001).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Udang adalah hewan kecil tak bertulang belakang (invertebrata) yang

UJI COBA DUA JENIS BUBU PENANGKAP KEONG MACAN DI PERAIRAN KARANG SERANG KABUPATEN TANGERANG

Ukuran Mata Jaring. Judul desain. Ukuran Utama Kapa; Gross Tonase; Nama Alat tangkap; Kode klasifikasi;

III. METODE PENELITIAN

Oleh : Mukhtar, A.Pi, M.Si

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

Transkripsi:

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rajungan Rajungan (Portunidae) merupakan salah satu famili seksi kepiting (Brachyura) yang banyak diperjualbelikan. Suku Portunidae memiliki enam subfamilia yaitu Portuninae, Podophthalminae, Carcinina, Polybiinae, Caphyrinae dan Catoptrinae. Kecuali Carcininae, kelima sub famili ini terdapat di perairan Indonesia (Moosa dan Juwana, 1996). Sistematika rajungan menurut Stephenson dan Chambel (1959) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Sub Kingdom : Eumetazoa Grade : Bilateria Divisi : Eucoelomata Section : Protostomia Filum : Antrhopoda Kelas : Crustacea Subkelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Sub Ordo : Reptantia Seksi : Branchyrhyncha Famili : Portunidae Sub Famili : Portunninae Genus : Portunus Spesies : Portunus pelagicus Moosa et al. (1980) menyebutkan bahwa di Indo Pasifik Barat, jenis kepiting dan rajungan diperkirakan ada 234 jenis, sedangkan di Indonesia ada sekitar 124 jenis. Empat jenis diantaranya dapat dimakan (edible crab) selain tubuhnya berukuran besar juga tidak menimbulkan keracunan, yaitu rajungan (Portunus pelagicus), kepiting bakau (Scylla serrata), rajungan bintang (Portunus

sanguinolentus), rajungan karang (Charybdis feriatus), dan rajungan angin (Podopthalamus vigil). 2.1.1 Morfologi Rajungan (Portunus pelagicus) adalah sejenis kepiting renang atau swimming crab; disebut demikian karena memiliki sepasang kaki belakang yang berfungsi sebagai kaki renang, berbentuk seperti dayung. Karapasnya memiliki tekstur yang kasar, karapas melebar dan datar; sembilan gerigi disetiap sisinya; dan gigi terakhir dinyatakan sebagai tanduk. Karapasnya tersebut umumnya berbintik biru pada jantan dan berbintik coklat pada betina, tetapi intensitas dan corak dari pewarnaan karapas berubah-ubah pada tiap individu (Kailola et al. (1993) diacu dalam Kangas (2000)). Karapas pada Portunus pelagicus merupakan lapisan keras (skeleton) yang menutupi organ internal yang terdiri dari kepala, thorax dan insang. Pada bagian belakang terdapat bagian mulut dan abdomen. Insang merupakan struktur lunak yang terdapat di dalam karapas. Matanya yang menonjol di depan karapas berbentuk tangkai yang pendek (Museum Victoria, 2000). Moosa dan Juwana (1996) menyebutkan bahwa rajungan (Portunus pelagicus) memiliki sapit yang memanjang, kokoh, berduri-duri dan berusukrusuk, permukaan sebelah bawah licin. Tepi posterior dari merus berduri, tepi anterior berduri tajam tiga atau empat buah. Karpus mempunyai duri di bagian dalam dan di bagian luar permukaan sebelah atas dari propundus dihiasi dengan tiga buah garis biasanya bergranula, garis sebelah luar dan tengah berakhir masing-masing dengan sebuah duri. Hewan ini mencapai panjang 18 cm, sapitnya memanjang, kokoh, dan berduri-duri. Warna karapas pada rajungan jantan adalah kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan pada betina memiliki warna karapas kehijau-hijauan dengan bercak-bercak keputih-putihan agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa (Nontji, 1993). Rajungan mempunyai duri yang panjang yang keluar dari tiap sisi karapas, dan tentu saja Portunus pelagicus biasanya berwarna biru. Meskipun warnanya dapat berkisar dari coklat hingga biru atau bahkan ungu, jantan mempunyai capit yang lebih panjang daripada betina dan biasanya warnanya lebih biru. Rajungan 7

ini tidak takut untuk menggunakan capitnya untuk mempertahankan diri (Abyss, 2001). Beberapa ciri untuk membedakan jenis kelamin rajungan (Portunus pelagicus) adalah warna bintik, ukuran dan warna capit dan apron atau bentuk abdomen. Karapas betina berbintik warna abu-abu atau cokelat. Capitnya berwarna abu-abu atau cokelat dan lebih pendek dari jantan. Karapas jantan berwarna biru terang, dengan capit berwarna biru. Apron jantan berbentuk T. Pada betina muda yang belum dewasa, apron berbentuk segitiga atau triangular dan melapisi badan, sedangkan pada betina dewasa, apron ini membundar secara melebar atau hampir semi-circular dan bebas dari ventral cangkang (FishSA, 2000). Gambar 2 menunjukkan perbedaan karapas rajungan (Portunus pelagicus) jantan dan betina (Gardenia, 2002). (a) (b) Gambar 2 Rajungan (Portunus pelagicus) (a) jantan dan (b) betina 8

Menurut Thomson (1974), rajungan berwarna biru dan sangat indah. Rajungan memiliki sepasang capit panjang yang ramping dimana dapat menggigit hingga berdarah. Rajungan sedikitnya memiliki lima pasang kaki yang rata agar mereka dapat melintasi air dengan efisien. Portunus pelagicus adalah kepiting yang berenang dan mempunyai sepasang kaki renang yang dimodifikasi untuk mendayung. Karapasnya bertekstur kasar, karapasnya sangat lebar mempunyai proyeksi tertinggi di setiap sudutnya. Capit rajungan panjang dan ramping. Portunus pelagicus berubah warna dari coklat, biru sampai lembayung dengan batasan moulting (Abyss, 2001; Moosa dan Juwana, 1996; Sea-ex, 2001). Jenis rajungan yang umum dimakan (edible crab) ialah jenis-jenis yang termasuk cukup besar yaitu sub famili Portuninae dan Podopthalminae. Jenis-jenis lainnya walaupun dapat dimakan, tetapi berukuran kecil dan tidak memiliki daging yang berarti. Jenis-jenis rajungan yang terdapat di pasar-pasar Indonesia adalah rajungan (Portunus pelagicus). Jenis yang kurang umum tetapi masih sering dijumpai di pasar adalah rajungan bintang (Portunus sanguinolentus), rajungan angin (Podopthalamus vigil), rajungan karang (Charybdis feriatus) (Moosa et al., 1980; Nontji, 1993). Jenis-jenis lainnya yang berukuran cukup besar dan biasa dimakan, tetapi jarang dijumpai dipasar-pasar adalah Charybdis callanassa, Charybdis lucifera, Charybdis natatas, Charybdis tunicata, Thalamita crenata, Thalamita danae, Thalamita puguna, dan Thalamita spimmata (Moosa et al., 1980). Rajungan jantan memiliki abdomen yang sempit, berbentuk T pada sisi abdomen dan capit berwarna biru. Sedangkan rajungan betina yang belum matang memiliki bentuk abdomen V atau rajungan dewasa memiliki bentuk abdomen U (Blue Crab Identification, 2001). Pada hewan ini terlihat adanya perbedaan yang menyolok antara jantan dan betina. Jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dan capit yang lebih panjang dibandingkan dengan rajungan betina (Nontji, 1993). Gambar 3 menunjukan perbedaan antara abdomen rajungan jantan, betina dan saat betina bertelur (Mexfish, 1999). 9

(a) (b) (c) Gambar 3 Bentuk abdomen rajungan (a) jantan (b) betina (c) bertelur 10

2.1.2 Habitat dan Penyebaran Moosa et al. (1980) menyebutkan bahwa Marga Portunus hidup pada beranekaragam habitat yaitu : dasar berpasir, pasir-lumpuran, lumpur-pasiran, pasir kasar dengan pecahan karang mati. Rajungan hidup di wilayah yang luas di pinggir pantai dan wilayah continental shelf, termasuk pasir, berlumpur atau berhabitat algae dan padang lamun dari zona intertidal (wilayah pasang surut) sampai perairan dengan kedalaman 50 m (Sea-ex, 2001 dan CIESM, 2000). Penyebaran rajungan (Portunus pelagicus) sangat luas. Hewan ini dapat hidup di berbagai ragam habitat mulai dari tambak, perairan pantai hingga perairan lepas pantai dengan kedalaman mencapai 60 m. Substrat dasar perairan berlumpur, berpasir, campuran lumpur dan pasir, beralga hingga padang lamun. Biasanya rajungan hidup di dasar perairan, tetapi sesekali dapat juga terlihat berada dekat permukaan atau kolom perairan pada malam hari saat mencari makan ataupun berenang dengan sengaja mengikuti arus (Nontji (1986); Moosa dan Juwana (1996); Williams (1982) dan Edgar (1990) diacu dalam Kangas (2000)). Gambar 4 menunjukkan siklus hidup rajungan menurut Kangas (2000). Gambar 4 Siklus hidup rajungan (Portunus pelagicus) Rajungan banyak terdapat di perairan Indonesia sampai perairan kepulaun Pasifik serta terdapat di sepanjang negara-negara Indo Pasifik Barat, Samudera Hindia, Asia Timur dan Tenggara (Singapura, Fhilipina, Jepang, Korea, China, 11

Teluk Benggala), Turki, Lebanon, Sicilia, Syiria, Cyprus, dan sekitar Australia (CIESM, 2000; Delsman dan de man, 1925). Rajungan jantan menyenangi perairan dengan salinitas rendah sehingga penyebarannya di sekitar perairan pantai yang dangkal. Sedangkan rajungan betina menyenangi perairan dengan salinitas lebih tinggi terutama untuk melakukan pemijahan, sehingga menyebar ke perairan yang lebih dalam dibanding jantan (Wharton, (1975), Rudiana (1989) diacu dalam Saedi (1997)). Hal ini diperkirakan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berubah. Perubahan salinitas dan suhu di suatu perairan mempengaruhi aktivitas dan keberadaan suatu biota (Gunarso, 1985). Tabel 1 Siklus perkembangan hidup dan habitat rajungan (Portunus pelagicus) Tahap Perkembangan Dewasa Lokasi Ukuran Keterangan Estuaria, teluk yang terlindungi dan perairan pantai sampai kedalaman 65 m (CEISM, 2000) 7=CW=9 cm, (Kumar et al., 2000 diacu dalam Suadela, 2004) 3,7 cm CL (Rousenfell, 1975 diacu dalam Solihin, 1993) Bertelur Daerah pesisir pantai dekat teluk (Thomson, 1974) Memijah Daerah pesisir pantai dekat teluk (Thomson, 1974) Larva Perairan terbuka (West Australian Government, 1997) CW = 0.48 mm Teluk terbuka lalu menuju muara dan berakhir disekitar Juvenil perairan estuaria (West Australian Government, 1997) Muda Estuaria (West Australian Government, 1997) Dimana : CW = Carapace Width, CL = Carapace Length CW antara 0.4 cm = CW = 1.0 cm Usia sekitar satu tahun Sifat planktonik Transisi dari plantonik menuju Benthik Benthik 2.1.3 Tingkah laku Rajungan (Portunus pelagicus) Tingkah laku rajungan (Portunus pelagicus) dipengaruhi oleh beberapa faktor alami dan buatan. Beberapa faktor alami diantaranya adalah perkembangan hidup, feeding habit, pengaruh siklus bulan dan reproduksi. Sedangkan faktor buatan yang mempengaruhi tingkah laku rajungan salah satunya adalah pengunaan umpan pada penangkapan rajungan dengan menggunakan crab pots. 12

Salah satu tingkah laku (behaviour) penting dari rajungan adalah perkembangan siklus hidupnya yang terjadi di beberapa tempat. Pada fase larva dan fase pemijahan, rajungan berada di laut terbuka (off-shore) dan fase juvenil sampai dewasa berada di perairan pantai (in-shore) yaitu muara dan estuaria (Kangas, 2000). Rajungan (Portunus pelagicus) adalah aktif tetapi saat tidak aktif, mereka mengubur diri dalam sedimen menyisakan mata, antena di permukaan dasar laut dan ruang insang terbuka (FishSA, 2000; Sea-ex, 2001). Rajungan akan melakukan pergerakan atau migrasi ke perairan yang lebih dalam sesuai umur, rajungan tersebut menyesuaikan diri pada suhu dan salinitas perairan (Nontji, 1993; Sea-ex, 2001). Anonim (1973) diacu dalam Muslim (2000) mengungkapkan bahwa pada umumnya udang dan kepiting berkeliaran pada waktu malam untuk mencari makan. Susilo (1993) menyebutkan bahwa perbedaan fase bulan memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkah laku rajungan (Portunus pelagicus), yaitu ruaya dan makan. Pada fase bulan gelap, cahaya bulan yang masuk ke dalam air relatif tidak ada, sehingga perairan menjadi gelap. Hal ini mengakibatkan rajungan tidak melakukan aktifitas ruaya, dan berkurangnya aktifitas pemangsaan. Hal tersebut ditunjukkan dengan perbedaan jumlah hasil tangkapan antara fase bulan gelap dengan bulan terang, dimana rajungan cenderung lebih banyak tertangkap saat fase bulan terang, sedangkan pada fase bulan gelap rajungan lebih sedikit tertangkap. Oleh sebab itu, waktu yang paling baik untuk menangkap binatang tersebut ialah malam hari saat fase bulan terang. Menurut Thomson (1974), dari hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium menunjukkan bahwa larva rajungan betina menghabiskan waktu sepanjang malam terkubur didalam pasir. Sedangkan larva jantan aktif berenang pada malam hari. Larva rajungan sama seperti udang bersifat planktonik dan berenang bebas mengikuti arus. Kepiting dalam pertumbuhannya perlu meluruhkan cangkang luar yang keras; proses ini disebut moulting. Sesaat sebelum moulting atau pergantian cangkang, kulit di bawah cangkang keras atau eksoskeleton mengeluarkan substansi yang memisahkan hubungan antara kepiting dan cangkangnya. Lapisan tipis dari cangkang baru dikeluarkan di bawah cangkang lama. Kepiting 13

memasukkan air agar terjadi pembelahan dalam cangkang lama pada bagian ujung dimana karapas menyatu dengan lapisan. Kepiting tersebut lalu memanjat ke belakang keluar dari cangkang lama. Kepiting harus berkembang dengan cepat untuk merenggangkan skleton baru yang mengkerut menjadi ukuran penuh sebelum mengeras. Setelah cangkang menyesuaikan terhadap ukuran barunya, kulit mengeluarkan substansi yang mengoksidasi dan mengeraskan cangkang baru, kepiting sangat rentan terhadap predasi dan akan lebih sering sembunyi (FishSA, 2000). Waktu untuk siklus reproduksi yang sempurna atau lengkap bermacammacam berdasarkan perubahan atau variasi temperatur tahunan. Pemijahan rajungan berlangsung sepanjang tahun di perairan tropik dan subtropik (Campbell & Fielder (1986) dan Potter et al. (1998) diacu dalam Kangas (2000)). 2.1.4 Ukuran Kedewasaan Rajungan (Portunus pelagicus) Rajungan menjadi dewasa sekitar usia satu tahun. Ukuran saat kematangan terjadi dapat berubah terhadap derajat garis lintang atau lokasi dan antar individu di lokasi manapun. Betina terkecil Portunus pelagicus yang telah diobservasi memiliki moult/pergantian kulit yang cukup umur di Peel-Harvey Estuary adalah 89 mm CW, sedangkan di Leschenault Estuary ukuran terkecil adalah 94 mm CW Smith (1982), Campbell & Fielder (1986), Sukumaran & Neelakantan (1996) dan Potter et al. (1998) diacu dalam Kangas (2000)). Karapas rajungan yang dapat berkembang hingga 21 cm dan mereka dapat berukuran hingga seberat 1 kg (Abyss, 2001). Rajungan di perairan Australia Selatan dikatakan legal jika panjangnya lebih dari 11 cm yang diukur dari sisi ke sisi pada dasar tulang punggung atau dasar duri. Batas ukuran sekarang digunakan di semua perairan. Selama pemijahan kemungkinan terdapat massa telur di bawah lapisan pada betina. Untuk memelihara spesies ini, rajungan yang masih ada telurnya dilindungi sepenuhnya di perairan Australia Selatan. Umumnya ukuran tersebut berumur 14 hingga 18 bulan. Rajungan pada ukuran tersebut telah matang secara seksual dan telah memproduksi setidaknya 2 kelompok telur untuk satu musim (Kangas, 2000). Rajungan mencapai dewasa kelamin pada panjang karapas sekitar 37 mm. Dengan demikian rajungan-rajungan tersebut telah mampu bereproduksi. Adapun 14

yang mempunyai nilai ekonomi setelah mempunyai lebar karapas antara 95-228 mm (Rounsenfell (1975) diacu dalam Solihin (1993)). Moosa dan Juwana (1996) menyebutkan di Queensland berdasarkan penelitian Williams dan Lee (1980), rajungan yang ditangkap dari perairan tersebut telah ditentukan memiliki ukuran tubuh minimum yaitu panjang karapas (CL) 3,7 cm. Batasan ukuran rajungan yang dianggap telah mencapai dewasa mempunyai beberapa pendapat, diantaranya adalah 9 cm CW dan 3,7 cm CL (Kumar et al. (2000) diacu dalam Suadela (2004) dan Rousenfell (1975) diacu dalam Solihin (1993)). 2.2 Alat Tangkap Rajungan 2.2.1 Jaring Insang Rajungan (Jaring Kejer) 2.2.1.1 Deskripsi Jaring Kejer Jaring kejer adalah salah satu alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang dan digunakan untuk menangkap rajungan (Portunnus sp) di perairan pantai. Menurut Martasuganda (2002), jaring kejer adalah alat tangkap yang juga disebut dengan jaring insang satu lembar atau dalam bahasa asingnya disebut dengan Gillnet. Martasuganda (2002) menyebutkan bahwa jaring insang yang ada di Indonesia terdiri dari jaring insang satu lembar atau single gillnet, jaring insang dua lembar atau double gillnet dan jaring insang tiga lembar atau trammel net. Penamaan dari ketiga jenis jaring ini bisa berbeda menurut daerah atau penamaannya disesuaikan dengan nama ikan yang akan dijadikan target tangkapan. Menurut Ayodhyoa (1981), pada umumnya yang dimaksud dengan gillnet adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pengertian jaring insang (gillnet) ialah suatu alat tangkap berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, ris atas, ris bawah (kadang tanpa ris bawah : sebagian dari jaring udang barong). Besar mata jaring bervariasi disesuaikan dengan sasaran yang akan ditangkap (ikan, udang). Ikan 15

yang tertangkap itu karena terjerat (gilled), pada bagian belakang lubang penutup insang (operculum) atau kurang lebih demikian, terbelit atau terpuntal (entangled) pada mata jaring terdiri dari satu lapis (gillnet), dua lapis, maupun tiga lapis (jaring kantong/ciker/tilek, trammel net ). Jaring ini terdiri dari satuan-satuan jaring yang biasa disebut tinting (pis). Dalam operasi penangkapan biasanya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu perangkat (unit) yang panjang (300-500 m), tergantung dari banyaknya tinting yang akan dioperasikan. Jaring insang termasuk alat tangkap selektif, besar mata jaring dapat disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap (Subani dan Barus, 1998). Berdasarkan klasifikasi alat penangkapan ikan, jaring kejer diklasifikasikan kedalam kelompok jaring insang tetap, yaitu jaring dasar. Secara umum jaring insang tetap termasuk kedalam alat jaring insang atau gillnet. Jaring kejer yang digunakan nelayan untuk menangkap rajungan termasuk kedalam golongan jaring puntal atau tangle net karena rajungan yang merupakan sasaran utama penangkapanya tertangkap dengan cara terpuntal atau terbelit bagian tubuhnya pada badan jaring atau entangled (Muslim, 2000). Menurut von Brandt (1984), jaring kejer termasuk kelompok alat tangkap tangle net, atau lebih spesifik singlewalled tangle net, karena rajungan yang merupakan sasaran utama penangkapanya tertangkap dengan cara terpuntal (entangled) bagian tubuhnya pada badan jaring. Martasuganda (2002), menyatakan bahwa jumlah pis disesuaikan dengan besar kapal, modal dan kemampuan nelayan yang mengoperasikannya, tetapi umumnya memakai 10-20 pis. Penurunan jaring (setting) dilakukan setelah matahari terbenam dengan cara diset menetap di dasar perairan selama 10-12 jam. Secara umum konstruksi jaring kejer ini terdiri dari badan jaring (webbing), tali ris atas atau bawah, pelampung (float), tali pelampung (float line), pemberat (sinker), tali pemberat (sinker line), tali selambar, pelampung tanda, dan pemberat tambahan (Wawancara dengan nelayan Gebang Kabupaten Cirebon, 2006). Badan jaring terbuat dari PA Monofilament berwarna transparan dengan nomor benang 20, ukuran mata jaring (mesh size) 3-3,5 inci dan jumlah mata ke arah tinggi jaring 6-7 mata. Perahu yang digunakan outboard engine berkekuatan 11-13,5 PK dengan bahan bakar solar. Nelayan jaring kejer berjumlah 2-3 orang 16

yaitu terdiri dari 1 orang sebagai juri mudi dan 1-2 orang sebagai petawur (Wawancara dengan nelayan Gebang Mekar Kabupaten Cirebon, 2006). Konstruksi dari jaring kejer menurut Martasuganda (2002), hanya terdiri dari satu lembar jaring (badan jaring) dimana ukuran matanya adalah sama. Pada bagian bawah dilengkapi dengan pemberat. 1. Badan Jaring Badan PA Monofilament d.02 mm, besar mata jaring (mesh size) 8,89 cm (3,5 inci), jumlah mata ke arah tinggi jaring 6-7 mata dan jumlah mata dalam satu meter ke arah panjang jaring 16,5 mata. 2. Panjang Jaring Panjang jaring dalam satu tinting (pis) untuk bagian tali ris atas adalah 40-50 m dan untuk bagian tali ris bawah adalah 42-52 m. 2.2.1.2 Metode Pengoperasian Jaring Kejer Jaring kejer dalam pengoperasiannya dibawah (diset) di dasar perairan, yang sasaran utama penangkapan adalah rajungan dan ikan-ikan dasar. Cara pengoperasian jaring kejer ini disamping didirikan secara tegak lurus atau kurang lebih demikian dapat juga diatur begitu rupa yang seakan-akan menutup permukaan dasar atau dihamparkan pada dasar perairan (Subani dan Barus, 1998). Pemasangan jaring kejer secara umum adalah dipasang melintang terhadap arah arus dengan tujuan menghadang arah ikan dan diharapkan ikan-ikan tersebut menabrak jaring serta tejerat dan terpuntal atau entangled pada tubuh jaring. Oleh karena itu, warna jaring sebaiknya disesuaikan dengan warna perairan tempat jaring kejer dioperasikan (Sadhori,1985). Ayodhyoa (1981) menyatakan bahwa warna jaring di dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman dari perairan, tranparansi, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain. Selain itu setiap warna memiliki derajat terlihat atau visibilitas yang berbeda bagi ikan, yang dapat menjadikan jaring seperti suatu benda penghalang atau penghadang. Dengan demikian, kemungkinan terlihatnya jaring pada siang hari lebih besar dibandingkan pada malam hari, sehingga sebaiknya warna jaring tidak kontras terhadap warna air maupun warna dasar perairan. 17

2.2.1.3 Penelitian-Penelitian Tentang Jaring Kejer Penelitian sebelumnya (Muslim (2000), Nurhakim (2001), Gardenia (2002), Effendie (2002), Miskiya (2003), Suadela (2004), Ansharullah (2004), Firmansyah (2004) dan Setiyawan (2004)) sudah mendeskripsikan data ukuran rajungan yang tertangkap, yaitu lebar karapas dan panjang karapas pada masingmasing penelitian (Tabel 2). Tabel 2 Ukuran panjang dan lebar karapas rajungan (Portunus pelagicus) pada mesh size berbeda Peneliti Muslim (2000) Nurhakim (2001) Gardenia (2002) Effendi (2002) Miskiya (2003) Suadela (2004) Ansharullah (2004) Firmansyah (2004) Setiyawan (2004) Mesh Size (inci/cm) Panjang Karapas (cm) Kisaran Lebar Karapas (cm) Kisaran Dominan Panjang Karapas (cm) Lebar Karapas (cm) 3 inci (7.5 cm) 2.30 7.50 7.00 15.90 4.60 5.10 12.00 12.90 4.5 inci (11.25 cm) 9.00 17.00 3.5 inci J = 4.00 8.00 8.50 15.90 4.60 5.10 10.30 11.30 (8.75) B = 4.00 7.00 8.50 13.00 4.60 5.10 9.30 10.00 3 4 inci 4.30 6.60 8.40 15.20 4.60 4.80 9.30 10.10 3.5 inci (8.75) 2.30 7.50 7.00 15.90 2.30 2.80 7.00 7.90 3.5 inci J = 2.37 7.46 7.33 18.40 5.00 5.59 11.20 12.49 (8.75) B = 4.20 7.85 6.15 15.31 5.00 5.59 11.20 12.49 3.5 inci (8.75) 4.00 6.50 8.00 15.00 = 3.70 > 11.00 3.5 inci (8.75) 4.00 6.50 8.00 15.00 = 3.70 = 11.00 3.5 inci (8.75) 4.00 6.50 8.00 15.00 4.00 6.50 > 11.00 2.2.2 Bubu 2.2.2.1 Deskripsi Bubu Lipat (Wadong) Bubu adalah perangkap yang digunakan untuk menangkap ikan, bubu mempunyai pintu dan badan yang dirancang sedemikian rupa sehingga bila ikan masuk ke bubu melalui pintu tersebut tidak akan dapat keluar lagi. Alat tangkap bubu dapat dipergunakan untuk menangkap ikan demersal dan pelagis di perairan teritorial Indonesia dan perairan ZEEI Samudera Hindia dan ZEEI Samudera Pasifik. Ikan-ikan yang tertangkap pada operasi alat tangkap bubu ini adalah jenis- 18

jenis ikan demersal (bubu dasar), dan ikan-ikan pelagis (bubu apung/hanyut) (Direktorat Sarana Perikanan Tangkap, 2003). Menurut (Subani dan Barus, 1998), bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal di kalangan nelayan, variasi bentuknya banyak sekali, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model dan bentuk sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti : sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainnya. Perangkap adalah alat tangkap yang umumnya berbentuk kurungan. Ikan dapat masuk dengan mudah tanpa adanya paksaan, tetapi ikan tersebut akan sukar keluar karena terhalang oleh pintu masuknya yang berbentuk corong (non-return device) (von Brandt, 1984). Bubu adalah alat tangkap yang cara pengoperasiannya bersifat pasif, yaitu dengan cara menarik perhatian ikan agar masuk kedalamnya. Prinsip penangkapan ikan mengunakan bubu adalah membuat ikan dapat masuk dan tidak dapat keluar dari bubu (Sainsbury, 1996). Menurut Martasuganda (2003), bentuk bubu sangat beraneka ragam, ada yang berbentuk segiempat, trapesium, silinder, lonjong, bulat setengah lingkaran, persegi panjang atau bentuk lainnya, bentuk bubu biasanya disesuaikan dengan ikan yang akan dijadikan target tangkapan, tetapi meskipun yang dijadikan target tangkapan sama, terkadang bentuk bubu yang dipakai bisa juga berbeda tergantung pada kebiasaan atau pengetahuan nelayan yang mengoperasikannya. Berbeda dengan alat tangkap yang terbuat dari jaring seperti pukat cincin, trawl, jaring insang, set net dan alat tangkap lainnya. Bentuk bubu tidak ada keseragaman diantara nelayan di satu daerah dengan nelayan di daerah lainnya termasuk bubu di satu negara dengan negara lainnya. Alat tangkap ini dibuat dalam bentuk empat persegi panjang, biasanya dilengkapi dengan suatu katup yang didesain agar ikan mudah untuk masuk, tetapi sulit keluar. Pada umumnya bubu dibuat dari bahan bambu yang dianyam, tetapi pada saat ini sering digunakan bahan jaring. Bubu dapat digunakan dengan atau tanpa umpan (Umali dan Warfel, 1949). Secara garis besar komponen bubu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : badan (body), mulut (funnel) dan pintu. Bubu biasa terbuat dari bahan anyaman bambu, 19

anyaman rotan, atau anyaman kawat. Bentuk bubu sangat bervariasi, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk sendiri-sendiri (Subani dan Barus, 1998). Konstruksi atau struktur alat tangkap bubu menurut Direktorat Sarana Perikanan Tangkap (2003), terdiri atas : 1. Rangka besi atau bahan lainnya yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan bentuk bubu yang digunakan (kotak persegi, kotak empat persegi panjang, oval, silinder, bulat dan lain-lain). 2. Mulut atau jendela adalah tempat masuknya ikan kedalam bubu yang diberi corong jaring, sehingga bila ikan masuk kedalamnya tidak dapat keluar lagi. 3. Net webbing adalah jaring multifilament dari bahan PA yang berfungsi sebagai pembungkus (pembentuk) dari rangka sehingga rangka tersebut berbentuk bubu yang diinginkan. 4. Tali penarik adalah tali PE yang diikatkan pada bagian atas bubu yang berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan bubu ke dalam air. Menurut Martasuganda (2003), memberikan penjelasan bahwa secara umum konstruksi bubu terdiri dari rangka, badan dan pintu masuk, kemudian ada juga yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung umpan sebagai tempat untuk menyimpan umpan. Rangka bubu ada yang tersebut dari lempengan besi, besi behel, bambu, kayu atau bahan lainnya. Sedangkan badan bubu ada yang terbuat dari anyaman kawat, jaring, waring, anyaman bambu atau bahan lainnya yang bisa dijadikan sebagai badan bubu. Untuk kantung umpan kebanyakan bahannya memakai kawat kasa. Selain itu, ada juga jenis bubu yang bahannya memakai bekas cangkang kerang, keramik, potongan bambu atau potongan paralon. Alasan utama dari pemakaian bubu di suatu daerah penangkapan. Menurut Martasuganda (2003) adalah kemungkinan disebabkan karena beberapa pertimbangan seperti : 1. Adanya larangan mengoperasikan alat tangkap selain bubu 2. Topografi daerah penangkapan yang tidak mendukung 3. Kedalaman daerah penangkapan yang tidak memungkinkan alat tangkap lain untuk dioperasikan 20

4. Biaya pembuatan alat tangkap murah 5. Pembuatan dan pengoperasian alat tangkap tergolong mudah 6. Hasil tangkapan dalam keadaan hidup 7. Kualitas hasil tangkapan bagus 8. Hasil tangkapan umumnya bernilai ekonomis tinggi dan 9. Pertimbangan lainnya Berdasarkan cara pengoperasiannya, bubu dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu bubu dasar atau ground fishpot, bubu apung atau floating fishpot dan bubu hanyut atau drifting fishpot (Subani dan Barus, 1998). Bubu dasar dapat dioperasikan dengan dua cara, yaitu dipasang secara terpisah, setiap satu bubu dengan bubu satu tali pelampung atau single trap; dan beberapa bubu dirangkai menjadi satu dengan menggunakan tali utama, disebut mainline traps. Salah satu masalah yang dihadapi oleh perikanan bubu antara lain ghost fishing. Hal ini dapat terjadi ketika bubu tertinggal pada suatu perairan. Bubu yang tertinggal tersebut masih dapat berfungsi sebagai pemikat ikan atau udang. Ikan yang tertangkap akan mati dengan sendirinya menjadi umpan ikan yang lebih besar lagi. Bila hal ini terjadi terus, produktivitas perikanan di perairan tersebut berkurang. Menurut Martasuganda (2003), kejadian ghost fishing bisa dicegah sekecil mungkin dengan cara yaitu, pada waktu penyambungan tali temali dikerjakan seteliti mungkin dan sebaik mungkin untuk mencegah pemotongan dari tangan usil dan terpotong secara tidak sengaja oleh baling-baling kapal lain, jumlah pemakaian bubu dibatasi agar mencegah banyak bubu yang hilang, bubu memakai bahan tertentu (bahan organik) dan tidak memakai bahan plastik atau metal. Bubu lipat yang digunakan oleh nelayan Gebang Mekar dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini. Ukuran bubu lipat (wadong) yang biasa digunakan untuk lama waktu 3 hari dalam 1 kali trip adalah P x L x T = 52 cm x 33 cm x 20 cm. 21

Gambar 5 Konstruksi alat tangkap bubu lipat (Wadong) 2.2.2.2 Metode Pengoperasian Bubu Lipat (Wadong) Metode pengoperasian untuk semua jenis bubu menurut Martasuganda (2003), pada umumnya hampir sama yaitu disamping di daerah penangkapan yang sudah diperkirakan banyak hidup ikan (ikan dasar, rajungan, udang, keong, lindung, cumi-cumi, gurita atau habitat perairan lainnya yang bisa ditangkap dengan bubu) yang akan dijadikan target tangkapan. Pemasangan bubu ada yang dipasang satu demi satu (pemasangan sistem tunggal), ada juga yang dipasang secara berantai (pemasangan sistem rawai). Waktu pemasangan setting dan pengangkatan hauling ada yang dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari, sore hari, sebelum matahari terbenam atau malam hari tergantung dari nelayan yang mengoperasikannya. Lama perendaman bubu di perairan ada yang hanya direndam beberapa jam, ada yang direndam satu malam, ada juga yang direndam sampai 3 hari tiga malam dan bahkan ada yang direndam sampai 7 hari 7 malam. Subani dan Barus (1998), menyatakan bahwa dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu ukuran besar), bisa ganda (umumnya untuk bubu ukuran kecil atau sedang) yang dalam pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan bubu tersebut. Tempat pemasangan bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan, untuk memudahkan mengetahui tempattempat dimana bubu dipasang, maka dilengkapi dengan pelampung melalui tali panjang yang dihubungkan dengan bubu tersebut. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan 2-3 hari setelah bubu dipasang, kadang bahkan beberapa hari setelah dipasang. 22

Bubu lipat (wadong) yang dioperasikan oleh nelayan Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon, rata-rata lamanya perendaman bubu di perairan berkisar 3-5 jam dengan pemasangan berantai (sistem rawai). Jenis umpan yang dipakai adalah ikan petek dan ikan rucah dengan ukuran 5 cm (Wawancara nelayan Gebang Mekar Kabupaten Cirebon, 2006). Alat tangkap bubu sifatnya pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang akan dijadikan target tangkapan mau memasuki bubu. Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam ada yang memakai umpan hidup, ikan rucah atau jenis umpan lainnya. Penempatan umpan didalam bubu pada umumnya diletakkan di tengah-tengah bubu baik di bagian bawah, tengah atau di bagian atas dari bubu dengan cara diikat atau digantung dengan atau tanpa pembungkus umpan (Martasuganda, 2003). Monintja dan Martasuganda (1990) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ikan karang dan udang terperangkap ke dalam bubu yaitu karena tertarik oleh bau umpan, untuk tempat istirahat sewaktu ikan bermigrasi, karena sifat thigmotaxis dari ikan itu sendiri. Sifat thigmotaxis adalah sifat ikan yang selalu ingin mengetahui suatu benda asing yang ada di sekitarnya, sehingga cenderung untuk menyentuhkan diri pada benda tersebut. Sedangkan menurut Larger et al. (1977), reaksi ikan mendekati bubu disebabkan oleh respon ikan tersebut untuk mencari tempat berlindung. Menurut IMA (2001) diacu dalam Widyaningsih (2004), untuk mengetahui berapa ikan yang telah terperangkap, nelayan harus mengangkat bubu ke permukaan atau nelayan menyelam. Keuntungan bubu adalah ikan tertangkap hidup-hidup dan hanya ikan-ikan jenis tertentu saja yang tertangkap (tergantung besar pintu dan ukuran mata jaring). Menurut Tiyosa (1979), fluktuasi hasil tangkapan bubu terjadi karena : 1. Migrasi dan perubahan harian, musiman maupun tahunan dari kelompok ikan; 2. Keragaman ikan di dalam populasi; 3. Tepat tidaknya penentuan tempat pemasangan bubu, karena alat tangkap jenis ini bersifat pasif dan menetap. 23

2.2.2.3 Penelitian-Penelitian Tentang Bubu Lipat (Wadong) Alat tangkap bubu lipat (wadong) belum banyak diteliti. Penelitian yang ada hanya Agatri (2005). Penelitian sebelumnya yaitu sudah mendeskripsikan data ukuran rajungan yang tertangkap, yaitu lebar karapas dan panjang karapas pada masing-masing penelitian (Tabel 3). Tabel 3 Ukuran panjang dan lebar karapas rajungan (Portunus pelagicus) hasil tangkapan bubu lipat Peneliti Agatri (2005) Ukuran Bubu (cm) 51X32X21 Panjang Karapas (cm) Kisaran Lebar Karapas (cm) Kisaran Dominan Panjang Karapas (cm) Lebar Karapas (cm) J = 3.81 6.49 9.50 14.00 5.51 5.84 11.78 12.34 B = 2.98 6.35 9.30 13.80 5.56 5.98 12.15 12.71 Hasil penelitian Rustandi (2005) yang dilakukan di PPI Citemu Kabupaten Cirebon menyatakan bahwa lama perendaman 2, 3, 4 dan 5 jam tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan rajungan. Sementara itu hasil penelitian Kusnadi (2005) di PPI Citemu Kabupaten Cirebon, didapat hasil untuk bubu lipat memiliki nilai B/C ratio >1 artinya menguntungkan sedangkan jaring kejer memiliki nilai B/C ratio <1 yang artinya merugi, kedua alat tangkap ini dibandingkan dengan skala usaha yang sama yaitu bubu lipat 150 buah dan jaring kejer 90 tinting. Sementara itu hasil tangkapan rajungan bubu lipat sebanyak 64,39% dan jaring kejer 53,87%. 2.3 Daerah Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan (fishing ground) didefinisikan sebagai suatu daerah atau wilayah perairan, baik perairan tawar, laut maupun lautan (samudera) yang menjadi sasaran atau tujuan penangkapan, karena di daerah ini diharapkan dapat tertangkap ikan dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya (Nugroho, 2001). Martasuganda (2002), juga menjelaskan daerah penangkapan untuk jaring kejer adalah daerah penangkapan yang sebelumnya sudah diketahui adanya keberadaan rajungan. Biasanya di perairan yang dangkal (5-10 m), datar dengan dasar perairan lumpur bercampur pasir. Sangat cocok di perairan yang sekitarnya banyak ditumbuhi mangrove. 24

Daerah penangkapan untuk alat tangkap bubu dijelaskan oleh Matrasuganda (2003) adalah untuk ikan demersal pada umumnya yang harus selalu mempertimbangkan faktor oseanografi, kelimpahan plankton dan faktor lainnya yang berhubungan. Penentuan daerah penangkapan untuk mengoperasikan bubu boleh dikatakan sangat sedikit sekali dipengaruhi oleh faktor oseanografi, sehingga dalam menentukan daerah penangkapan tidak terlalu rumit. Hal terpenting dalam menentukan daerah penangkapan adalah diketahuinya keberadaan ikan dasar, rajungan atau udang sebelum operasi penangkapan dilakukan. Keberadaan ikan dasar, rajungan atau udang bisa dideteksi dengan fish fineder, berdasarkan kepada data hasil tangkapan sebelumnya di suatu lokasi atau informasi daerah penangkapan dari instansi terkait maupun berdasarkan pada catatan mengenai keberadaan ikan dasar, kepiting atau udang di daerah penangkapan. 2.4 Hasil Tangkapan Hasil tangkapan utama untuk alat tangkap bubu lipat (wadong) dan jaring kejer adalah rajungan (Portunnus sp), namun pada kenyataannya tertangkap beberapa jenis ikan dasar (demersal) lain, baik yang hidup di perairan pantai, lepas pantai maupun yang hidup diperairan laut dalam. Hasil tangkapan yang umumnya dijadikan target tangkapan bubu adalah ikan dasar, udang (Penaeus sp), rajungan (Portunnus pelagicus), keong (Babylonia sp), cumi-cumi (Loligo sp) atau gurita (Octopus sp) baik yang hidup di perairan pantai, lepas pantai maupun yang hidup di perairan laut dalam (Martasuganda, 2003). 2.5 Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu usaha perubahan dari suatu yang dinilai kurang kepada sesuatu yang dinilai baik ataupun dari suatu yang sudah baik menjadi lebih baik. Dengan kata lain pengembangan adalah suatu proses yang menuju pada suatu kemajuan. Usaha perikanan tangkap adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh ikan di perairan dalam keadaan tidak dibudidayakan dengan maupun tanpa alat 25

tangkap, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk menampung, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah, dan mengawetkan (Alhidayat, 2002). Menurut Bahari (1989), pengembangan usaha perikanan merupakan suatu proses atau kegiatan manusia untuk meningkatkan pendapatan nelayan melalui penerapan teknologi yang lebih baik. Untuk menerapkan teknologi yang lebih baik, dapat dilakukan seleksi teknologi yang meliputi aspek bio-tecnico-socioeconomic. Menurut Haluan dan Nurani (1988), dan empat aspek yang yang harus dipenuhi suatu jenis teknologi penangkapan ikan yang akan dikembangkan, yaitu (1) Secara biologi tidak merusak atau menggangu kelestarian sumberdaya; (2) Secara teknis efektif digunakan; (3) Secara sosial dapat diterima oleh nelayan dan (4) Secara ekonomi bersifat menguntungkan. Satu aspek tambahan yang tidak dapat diabaikan yaitu adanya izin dari pemerintah (kebijakan atau peraturan pemerintah). Menurut Kesteven (1973) pengembangan usaha perikanan harus mempertimbangkan aspek aspek bio-technico-socio-economic-approach. Oleh karena itu ada empat aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan suatu jenis alat tangkap ikan, yaitu : 1. Aspek biologi, alat tangkap tersebut tidak merusak atau menggangu kelestarian sumberadaya. 2. Aspek teknis, alat tangkap yang digunakan efektif untuk menangkap ikan. 3. Aspek sosial, dapat diterima oleh masyarakat nelayan. 4. Aspek ekonomi, usaha tersebut bersifat menguntungkan. Apabila pengembangan perikanan di suatu wilayah perairan ditekankan pada perluasan kesempatan kerja, maka menurut Monintja (1987), teknologi yang perlu dikembangkan adalah jenis unit penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap banyak tenaga kerja, dengan pendapatan per nelayan memadai. Selanjutnya menurut Monintja (1987), dalam kaitannya dengan penyediaan protein untuk masyarakat Indonesia, maka dipilih unit penangkapan ikan yang memiliki produktifitas unit serta produktifitas nelayan pertahun yang tinggi, namun masih dapat dipertanggungjawabkan secara biologis dan ekonomis. 26

Pengembangan usaha perikanan tangkap di Indonesia perlu diarahkan agar dapat menunjang tujuan-tujuan pembangunan umum perikanan, seperti yang tergambar dari misi Departemen Kelautan dan Perikanan. Berikut syarat-syarat pengembangan usaha perikanan tangkap : 1. Meningkatkan kesejahteraan nelayan; 2. Meningkatkan jumlah produksi dalam rangka penyediaan sumber protein hewani; 3. Mendapatkan jenis ikan komoditi ekspor atau jenis ikan yang biasa diekspor; 4. Menciptakan lapangan kerja; 5. Tidak merusak kelestarian sumberdaya ikan. Intensifikasi untuk meningkatkan produksi di bidang perikanan pada dasarnya adalah penerapan teknologi modern pada sarana dan teknik teknik yang dipakai, termasuk alat penangkapan ikan, perahu atau kapal dan alat bantu lainnya yang disesuaikan dengan kondisi masing masing tempat. Namun, tidak semua moderenisasi dapat menghasilkan peningkatan produksi, demikian pula bila tercapai peningkatan produksi, belum tentu menghasilkan peningkatan pendapatan bersih (net income) nelayan. Oleh karena itu, penggunaan teknik teknik penangkapan ikan yang baru harus didahului dengan penelitian dan percobaan secara intensif dengan hasil yang meyakinkan (Wisudo et al., 1996). Upaya pengelolaaan dan pengembangan perikanan laut di masa datang memang akan terasa lebih berat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun dengan pemanfaatan IPTEK, akan mampu mengatasi keterbatasan sumberdaya melalui suatu langkah yang rasional untuk mendapatkan manfaat yang optimal dan berkelanjutan. Langkah pengelolaan dan pengembangan tersebut juga harus mempertimbangkan aspek biologi, teknis, sosial budaya dan ekonomi (Barus et al., 1991). Kusumastanto (1984) diacu dalam Ihsan (2000), mengemukakan bahwa hal hal yang perlu dipertimbangkan dalam rencana pengembangan perikanan tangkap adalah : 1) Adanya musim penangkapan ikan yang berbeda sepanjang tahun 2) Adanya beberapa jenis perikanan tangkap dengan mengkombinasikannya dengan alat tangkap lain 27

3) Adanya tingkat teknologi tertentu untuk setiap jenis usaha perikanan tangkap 4) Adanya harga korbanan dan harga hasil tangkapan dari setiap jenis perikanan tangkap 5) Terbatasnya trip penangkapan yang dapat dilakukan setiap tahunnya 6) Terbatasnya kemampuan nelayan untuk membiayai usahanya dan melakukan investasi dalam unit perikanan tangkap yang dilakukan 7) Terbatasnya tenaga kerja yang mengoperasikan unit penangkapan yang diusahakan. 28