Prosiding Farmasi ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
Prosiding Farmasi ISSN:

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL...i HALAMAN SAMPUL...ii HALAMAN PENGESAHAN...iii HALAMAN PERNYATAAN...iv

IV. METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan A. PENENTUAN FORMULA LIPSTIK

(SIMPLEX LATTICE DESIGN)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian. asetat daun pandan wangi dengan variasi gelling agent yaitu karbopol-tea, CMC-

Optimasi Campuran Carbopol 941 dan HPMC dalam Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Daun Jambu Mete secara Simplex Lattice Design

OPTIMASI FORMULA TABLET EKSTRAK ETANOL KUBIS MERAH

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iii. HALAMAN PERNYATAAN... iv

Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi

DAFTAR ISI II METODOLOGI PENELITIAN III Alat dan bahan Alat Bahan Bakteri uji... 36

OPTIMASI FORMULA TABLET EKSTRAK ETANOL SALAM-SAMBILOTO MENGGUNAKAN PVP K-30 SEBAGAI PENGIKAT DAN CROSPOVIDONE SEBAGAI PENGHANCUR

OPTIMASI FORMULA TABLET HISAP EKSTRAK BUAH MAHKOTA DEWA

BAB III METODE PENELITIAN. salam dan uji antioksidan sediaan SNEDDS daun salam. Dalam penelitian

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

HENY DWI ARINI FAKULTAS FARMASI UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA

PENGGUNAAN KAOLIN PADA FORMULA SEDIAAN MASKER WAJAH EKSTRAK AIR KERING WORTEL (DAUCUS CAROTA L.) BENTUK CLAY

Determinasi tanaman pisang raja (Musa paradisiaca L.) dilakukan di. Universitas Sebelas Maret. Tujuan dari determinasi tanaman ini adalah untuk

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. (compression coating). Sekarang salut film enterik telah banyak dikembangkan. dan larut dalam usus halus (Lachman, et al., 1994).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ultra Violet/UV (λ nm), sinar tampak (λ nm) dan sinar

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmanni Nees ex Bl.) dan Formulasinya dalam Bentuk Sediaan Masker Gel Peel Off

FORMULASI GEL ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK UMBI WORTEL (Daucus carota L.) DENGAN MENGGUNAKAN AQUPEC HV- 505


OPTIMASI FORMULA TABLET EKSTRAK ETANOL SALAM- SAMBILOTO MENGGUNAKAN GELATIN SEBAGAI PENGIKAT DAN AMILUM JAGUNG SEBAGAI PENGHANCUR

OPTIMASI KONSENTRASI MAGNESIUM STEARAT, AEROSIL, DAN AMILUM MANIHOT

APLIKASI METODE RESPON SURFACE UNTUK OPTIMASI KUANTITAS SUSUT BOBOT BUAH MANGGIS. Abstrak

Formulasi Ekstrak Daun Kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) dalam Bentuk Gel Anti Acne

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Karakterisasi dan studi disolusi dispersi padat furosemida menggunakan polietilen glikol (PEG), talk dan PEG talk sebagai pembawa dispersi

(D.2) OPTIMASI KOMPOSISI PERLAKUAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESPONSE SURFACE. H. Sudartianto 3. Sri Winarni

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan Baku Ibuprofen

Lampiran 1. Surat keterangan hasil identifikasi tumbuhan jahe merah

FORMULASI LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA TASBIH (Canna hybrida L.) SEBAGAI PEWARNA

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Rika Widyapranata, Siti Aisiyah,Yunita Ayuningtyas Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi Jl. Let. Jen. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. laboratoris murni yang dilakukan secara in vitro. Yogyakarta dan bahan uji berupa ekstrak daun pare (Momordica charantia)

BAB III MATERI DAN METODE. Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian,

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: Vol. 7 No. 2 Februari 2015

BEBY YUNITA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pembuatan ekstrak buah A. comosusdan pembuatan hand sanitizerdilakukan

III. METODE PENELITIAN

Respon Vinir Mahoni Terhadap Perekat TUF Dari Ekstrak Serbuk Gergajian Kayu Merbau (Intsia Sp.)

UJI IRITASI DAN STABILITAS FISIKA KIMIA LIPSTIK DENGAN PEWARNA ALAMI EKSTRAK BUAH SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.

PRASASTI WINDIE ARINDRA

1. Formula sediaan salep dengan golongan basis salep hidrokarbon atau berlemak

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

BAB III METODE PENELITIAN

Agustiningsih. Achmad Wildan Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang. Mindaningsih Sekolah Menengah Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Neraca analitik, tabung maserasi, rotary evaporator, water bath,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGGUNAAN AVICEL PH 102/EMCOMPRESS SEBAGAI FILLER-BINDER

FORMULASI SEDIAAN BALSEM DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum SanctumLinn) DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI OBAT TRADISIONAL

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan penelitian ini adalah eksperimental

III. METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT C. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UJI STABILITAS FISIK DAN KIMIA SEDIAAN SIRUP RACIKAN

OPTIMASIKOMBINASI MATRIKSHIDROKSIPROPIL METILSELULOSA DAN NATRIUM ALGINAT UNTUK FORMULA TABLET KAPTOPRIL LEPAS LAMBAT SISTEM FLOATING SKRIPSI

OPTIMASI FORMULA TABLET ASAM MEFENAMAT MENGGUNAKAN METODE FACTORIAL DESIGN

PENENTUAN KONDISI PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN BUMBU RAWON INSTAN BUBUK DENGAN METODE TAGUCHI

ANALISIS PROKSIMAT CHIPS RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONII PADA SUHU PENGGORENGAN DAN LAMA PENGGORENGAN BERBEDA ABSTRAK

Optimalisasi Proses Isolasi Etil Parametoksisinamat (EPMS) Dari Rimpang Kencur dengan Variasi Proses dan Konsentrasi Pelarut

III BAHAN, ALAT, DAN METODE PENELITIAN

FAKULTAS FARMASI UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Mengandung Lendir Bekicot (Achatina Fulica Bowdich) sebagai Pelembab Kulit

Khasiatnya diketahui dari penuturan orang-orang tua atau dari pengalaman (Anonim, 2009). Salah satu tanaman yang telah terbukti berkhasiat sebagai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. identitas tanaman tersebut, apakah tanaman tersebut benar-benar tanaman yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

OPTIMASI FORMULA FAST DISINTEGRATING TABLET PIROKSIKAM DENGAN KOMBINASI BAHAN PENGHANCUR CROSPOVIDONE DAN BAHAN PENGISI MANITOL SKRIPSI

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK AKAR BANDOTAN (AGERATUM CONYZOIDES L.)

SKRIPSI UMI SALAMAH K Oleh :

PENGARUH PROSES PENCAMPURAN TERHADAP SIFAT FISIK SEDIAAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) COLD CREAM

SKRIPSI SANASHTRIA PRATIWI K Oleh :

METODOLOGI PENELITIAN

Percobaan pendahuluan dilakukan pada bulan Januari - Maret 2012 dan. pecobaan utama dilakukan pada bulan April Mei 2012 dengan tempat percobaan

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-234

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODE PENELITIAN. glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan dengan metode uji toleransi glukosa.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

PUBLIKASI ILMIAH. Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Farmasi Fakultas Farmasi.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2016 Mei 2017 di

OPTIMASI PELARUT ETANOL-AIR DALAM PROSES EKSTRAKSI HERBA PEGAGAN (Centella asiatica [L.] Urban) PADA SUHU TERUKUR

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. L.) yang diperoleh dari Pasar Sederhana, Kelurahan. Cipaganti, Kecamatan Coblong dan Pasar Ciroyom, Kelurahan Ciroyom,

Transkripsi:

Prosiding Farmasi ISSN: 2460-6472 Optimasi Formula Sediaan Lipbalm Ekstrak Karotenoid Umbi Wortel (Daucus carota L.) dengan Kombinasi Basis Beeswax dan Candelilla Wax Menggunakan Metode Simplex Lattice Design Optimization of Lipbalm Formulation Containing Carotenoid Extract of Daucus carota L. with Combination of Beeswax and Candelilla Wax Using Simplex Lattice Design 1 Ratu Galuh Chondrodewi Budi Pratami, 2 Amila Gadri, 3 Sani Ega Priani 1,2,3 Prodi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email: 1 ratugaluh.cbp@gmail.com, 2 amilagadriapt@gmail.com, 3 egapriani@gmail.com Abstract. The Simplex Lattice Design experimental design was employed to optimize the combination of beeswax and candelilla wax of lipbalm containing carotenoid extract from carrot (Daucus carota L.). Carotenoid not only a natural colorant which potentially developed from carrot (Daucus carota L.) but also a sun protector. This study aims to determine the combination of beeswax and candelilla wax providing optimal formula with desired physical properties. The quality of lipbalm is directly linked to the basic material used in the formulation. Physical properties of lipbalm are defined from the waxes base. Carotenoid was extracted from carrot dried powder using acetone : methanol mixture of 9,37 : 10 (v/v), while the ratio of the powder to solvent were 1:8,12 (g/ml) for 32,21 minutes. Physical properties of eight lipbalm formula with various base composition contained 5% carotenoid extract which is melting point, spreadibility and hedonic were studied. The optimum formula obtained by Simplex Lattice Design using software Design Expert (version 10.0.3, Stat-Ease Inc., Minneapolis, MN, USA). The optimum formula consist of 8,75% beeswax dan 6,25% candelilla wax. With respect to these factors, the 69,3 ± 0,3 melting point, 4,1 ± 0,3 spreadibility and 64,6 ± 2,2 hedonic response was observed. Keywords: lipbalm, Daucus carota L., simplex lattice design Abstrak. Desain eksperimental Simplex Lattice Design telah dilakukan untuk mengoptimasi kombinasi basis beeswax dan candelilla wax dari sediaan lipbalm yang mengandung ekstrak karotenoid. Karotenoid merupakan zat warna alami yang berasal dari umbi wortel (Daucus carota L.) serta berfungsi sebagai sunprotector. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kombinasi basis optimum beeswax dan candelilla wax yang menghasilkan sediaan lipbalm dengan sifat fisik yang dikehendaki. Kualitas suatu sediaan lipbalm sering dihubungkan dengan bahan dasar yang digunakan dalam formulasi. Sifat fisik lipbalm ditentukan dari basis wax. Serbuk kering umbi wortel (Daucus carota L.) diekstraksi menggunakan pelarut aseton dan metanol dengan perbandingan 9,37 : 10 (v/v) dengan perbandingan simplisia dan pelarut 1 : 8,12 (gr/ml) selama 32,21 menit. Delapan formula lipbalm mengandung 5% ekstrak karotenoid dengan variasi basis beeswax dan candelilla wax diuji sifat fisiknya meliputi titik leleh, daya sebar dan hedonik. Formula optimum diperoleh melalui pendekatan Simplex Lattice Design menggunakan software Design Expert (versi 10.0.3, Stat-Ease Inc., Minneapolis, MN, USA). Kemudian diperoleh komposisi kombinasi basis lipbalm yang mengandung beeswax sebesar 8,75% dan candelilla wax sebesar 6,25% dengan sifat fisiknya yaitu titik leleh sebesar 69,3 ± 0,3, daya sebar sebesar 4,1 ± 0,3 dan tingkat kesukaan sebesar 64,6 ± 2,2. Kata Kunci: lipbalm, Daucus carota L., simplex lattice design. A. Pendahuluan Formulasi sediaan farmasi, khususnya kosmetik mengandung banyak komponen penyusun. Untuk memformulasi sediaan farmasi, terutama kosmetik seringkali membutuhkan pendekatan trial dan error. Formulasi dengan pendekatan ini masih banyak digunakan hingga sekarang walaupun kurang efektif. Pendekatan ini memakan waktu, membutuhkan biaya dan tenaga yang besar serta tidak dapat diandalkan dalam menemukan formulasi terbaik. Salah satu metode optimasi yang sering digunakan untuk memperoleh formula yang optimum adalah SLD atau Simplex Lattice Design. Metode ini dapat digunakan untuk optimasi formula pada berbagai jumlah komposisi bahan yang berbeda sehingga menghasilkan formula optimum yang memiliki sifat-sifat fisik yang diharapkan. 550

Optimasi Formula Sediaan Lipbalm Ekstrak 551 Penggunaan studi optimasi dengan SLD mempunyai keuntungan relatif sederhana dibandingkan dengan model optimasi yang lainnya (Amstrong & James, 1996; Bolton, 1997). Pada penelitian ini akan dikembangkan formulasi sediaan lipbalm yang mengandung pewarna alami ekstrak karotenoid dari umbi wortel dengan metode optimasi formula menggunakan Simplex Lattice Design. Penambahan ekstrak karotenoid pada sediaan lipbalm selain untuk memberikan warna, berfungsi sebagai sunprotector sehingga dapat melindungi bibir dari kerusakan akibat sinar UV-A dan UV-B (Stahl, 2004). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi formula basis lipbalm terbaik dari kombinasi candelilla wax dan beeswax serta mengetahui pengaruh setiap komponen basis terhadap sifat fisik lipbalm. B. Landasan Teori Wortel (Daucus carota L) termasuk jenis tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak (perdu) yang tumbuh tegak dengan ketinggian antara 30 cm 100 cm atau lebih, tergantung jenis dan varietasnya. Wortel digolongkan sebagai tanaman semusim karena hanya berproduksi satu kali dan kemudian mati. Tanaman wortel berumur pendek, yakni berkisar antara 70 120 hari, tergantung varietasnya. Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan pengobatan, umbi wortel juga dapat digunakan untuk keperluan kosmetik, yakni untuk merawat kecantikan wajah dan kulit. Karotenoid dalam umbi wortel bermanfaat untuk menjaga kelembapan kulit, melembutkan kulit dan memperlambat timbulnya kerutan pada wajah sehingga wajah selalu tampak berseri (Cahyono, 2002). Lipbalm adalah sediaan yang diaplikasikan pada bibir untuk mencegah kering dan melindungi dari efek lingkungan yang buruk. Namun, ada beberapa perbedaan antara lipstik dan lipbalm terutama fungsinya, lipstik digunakan untuk memberikan warna pada bibir sedangkan lipbalm berfungsi memberikan perlindungan. Dari segi formula, formula lipstik lebih kompleks dibandingkan lipbalm (Fernandes et al, 2013). Prinsip dasar simplex lattice design adalah untuk mengetahui profil efek dari kombinasi komposisi bahan yang berbeda terhadap suatu parameter dimana terdapat dua variabel bebas A dan B. Hubungan antara respon dan komponen dapat digambarkan dengan rumus sebagai berikut: Y = a [A] + b [B] + ab [A][B] Y : respon a, b, ab : koefisien yang didapat dari percobaan [A][B] : fraksi (bagian) komponen dengan persyaratan : 0 [A] 1; 0 [B] 0 1 Nilai respon yang didapat disubstitusikan ke dalam persamaan di atas, agar diperoleh nilai koefisien a, b dan ab. Jika nilai koefisien sudah diketahui, maka dapat ditentukan nilai Y (respon) sehingga didapatjan gambaran profilnya dari variasi kedua komponen tersebut (Armstrong dan James, 1996). C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada penelitian ini digunakan umbi wortel yang diperoleh dari perkebunan Pacet, Mojokerto. Determinasi tanaman dilakukan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung. Determinasi dilakukan dengan membandingkan sampel tanaman dengan literatur yang bertujuan untuk memastikan dan meyakinkan bahwa sampel tanaman yang digunakan adalah benar Daucus carota L. Hasil determinasi menyatakan bahwa tanaman yang digunakan pada penelitian ini benar umbi Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2016-2017

552 Ratu Galuh Chondrodewi Budi Pratami, et al. wortel (Daucus carota L.). Umbi wortel yang diperoleh dicuci, diiris kemudian dikeringkan di dalam lemari pengering pada suhu 50 C selama ±17 jam. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga didapatkan simplisia yang tidak mudah rusak. Selanjutnya dilakukan pengecilan ukuran simplisia menggunakan blender kemudian diayak menggunakan mesh ukuran 60. Serbuk wortel yang diperoleh diekstraksi secara homogenisasi menggunakan pelarut aseton dan metanol dengan perbandingan 9,37 : 10 (v/v) dengan perbandingan simplisia dan pelarut 1 : 8,12 (gr/ml) selama 32,21 menit. Tahapan selanjutnya adalah pemekatan ekstrak yang dilakukan menggunakan rotary vacuum evaporator pada suhu 50 C selama 15 menit. Rotary vacuum evaporator dapat menguapkan aseton dan metanol di bawah titik didihnya dikarenakan adanya vakum yang dapat menurunkan tekanan uap pelarut sehingga titik didihnya pun akan menurun. Rendemen ekstrak pekat yang diperoleh sebanyak 14,62% Tahapan awal percobaan adalah menentukan formula optimum dengan metode Simplex Lattice Design menggunakan software Design Expert (versi 10.0.3, Stat-Ease Inc., Minneapolis, MN, USA) dan diperoleh delapan formula dengan konsentrasi kombinasi basis beeswax dan candelilla wax yang bervariasi yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Formula Sediaan Lipbalm Bahan Formula (% ) F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 Beeswax 10 7.5 5 5 8.75 10 6.25 7.5 Candelilla wax 5 7.5 10 10 6.25 5 8.75 7.5 Castor oil 65 65 65 65 65 65 65 65 Shea butter 14.9 14.9 14.9 14.9 14.9 14.9 14.9 14.9 Tokoferol 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 Essence vanilla 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes Ekstrak karotenoid 5 5 5 5 5 5 5 5 Kedelapan formula lipbalm yang telah dibuat kemudiaan diukur profil reponnya meliputi titik leleh, daya sebar dan hedonik yang bertujuan untuk memperoleh persamaan polinomial yang akan digunakan untuk memprediksi pengaruh dari tiap variabel bebas, yaitu beeswax dan candelilla wax atau interaksi antara keduanya. Hasil pengukuran profil respon dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Pengukuran Profil Respon Profil Respon Formula Titik leleh ( C) Daya sebar Total respon kesukaan F1 68,30 3,00 59,00 F2 70,30 4,00 59,00 F3 72,30 1,00 50,00 F4 71,67 1,00 45,00 F5 69,33 4,00 66,00 F6 68,00 4,00 64,00 F7 70,67 4,00 66,00 F8 70,00 4,00 62,00 *Nilai respon maksimal 100 Volume 3, No.2, Tahun 2017

Optimasi Formula Sediaan Lipbalm Ekstrak 553 Titik leleh menunjukkan ketahanan lipbalm terhadap suhu. Suatu sediaan lipbalm harus mempunyai titik leleh yang ideal yaitu antara 68-75 C (Gouvea, 1993) sehingga tidak meleleh apabila disimpan pada suhu ruang dan tetap mempertahankan bentuknya selama proses distribusi, penyimpanan dan pemakaian. Setelah dilakukan pengujian titik leleh terhadap delapan formula lipbalm, kemudian nilai titik leleh dianalisis secara statistik menggunakan software Design Expert sehingga diperoleh persamaan SLD sebagai berikut: Y = 68,22 (A) + 71,72 (B)...(1) Y = Respon titik leleh A = Beeswax B = Candelilla wax Model matematika yang diperoleh merupakan persamaan linier. Persamaan (1) menunjukkan bahwa beeswax dan candelilla wax dapat meningkatkan titik leleh lipbalm, hal ini ditunjukkan dengan koefisien yang bernilai positif. Candelilla wax memiliki nilai koefisien yang lebih tinggi dibanding beeswax sehingga dapat disimpulkan candelilla wax memiliki efek dominan dalam meningkatkan titik leleh lipbalm. Hal ini sesuai dengan literatur dimana disebutkan bahwa candelilla wax memiliki titik leleh yang tinggi sehingga kerap digunakan untuk meningkatkan titik leleh sediaan lipbalm (Singh et al, 2015). Daya sebar menunjukkan seberapa baik keseragaman suatu lipbalm untuk membentuk lapisan pelindung, membuat warna yang terdispersi homogen serta tidak pecah, rusak atau terfragmentasi pada proses pengaplikasian. Semakin besar skalanya maka semakin baik pula daya sebar suatu lipbalm. Setelah dilakukan pengujian daya sebar terhadap delapan formula lipbalm, nilai daya sebar dianalisis secara statistik menggunakan software Design Expert sehingga diperoleh persamaan SLD sebagai berikut: Y = 3,40 (A) + 1,17 (B) + 7,69 (AB)...(2) Y = Respon daya sebar A = Beeswax B = Candelilla wax Pada respon daya sebar ini digunakan persamaan kuadratik karena data yang diperoleh tidak dapat dideskripsikan menggunakan persamaan linier sehingga perlu dikembangkan menjadi persamaan kuadratik. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa beeswax, candelilla wax dan kombinasi keduanya dapat meningkatkan daya sebar lipbalm, hal ini ditunjukkan dengan koefisien yang bernilai positif. Interaksi beeswax dan candelilla wax memiliki nilai koefisien yang lebih tinggi dibanding beeswax dan candelilla wax tunggal sehingga dapat disimpulkan bahwa interaksi beeswax dan candelilla wax memiliki efek dominan dalam meningkatkan daya sebar lipbalm. Uji hedonik atau uji kesukaan bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan atau penerimaan responden terhadap sediaan lipbalm yang telah dibuat. Pengujian ini dilakukan terhadap 20 orang responden wanita berusia 18-22 tahun yang sudah pernah atau sering menggunakan lipbalm. Parameter penilaian responden yang diamati meliputi kenyamanan dan kemudahan lipbalm saat dioleskan. Berdasarkan analisis dengan Simplex Lattice Design, diperoleh persamaan sebagai berikut: Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2016-2017

554 Ratu Galuh Chondrodewi Budi Pratami, et al. Y = 61,50(A) + 47,50(B) + 24,00(AB) 37,33 AB(A-B) + 149,33AB(A-B) 2...(3) Y = Respon hedonik A = Beeswax B = Candelilla wax Persamaan (3) yang diperoleh dari software merupakan persamaan model kuartik. Pada respon hedonik ini digunakan persamaan kuartik karena data yang diperoleh tidak dapat dideskripsikan menggunakan persamaan linier, kuadratik atau kubik sehingga perlu dikembangkan menjadi persamaan kuartik. Beeswax dan candelilla wax masing-masing menunjukkan koefisien positif, begitu pula dengan kombinasi beeswax dan candelilla wax sedangkan interaksi yang lebih kompleks antara beeswax dan candelilla wax dengan melibatkan selisih beeswax dan candelilla wax menghasilkan respon negatif. Selisih kuadrat beeswax dan candelilla wax menghasilkan respon positif. Beeswax memiliki nilai koefisien yang lebih tinggi dibanding candelillla wax sehingga dapat disimpulkan beeswax memiliki efek dominan dalam meningkatkan terhadap respon hedonik Optimasi dilakukan untuk memperoleh kombinasi optimum beeswax (A) dan candelilla wax (B) untuk memformulasi sediaan lipbalm dengan kriteria yang diinginkan. Adapun kriteria yang ingin dicapai berupa target respon (goal), antara lain: target (titik atau target yang hendak dicapai), in range (dalam batasan atau limit tertentu), maximize (maksimal atau batas atas dari limit), minimize (minimum atau batas bawah dari limit) dan equal to. Derajat kepentingan berkisar antara satu (+) hingga lima (+++++). Semakin tinggi derajat kepentingan suatu respon, semakin tinggi prioritas respon tersebut dalam pemenuhan kriteria yang akan dicapai. Data optimasi formula optimum disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Data Optimasi Formula Optimum Lipbalm Menggunakan Software Design Expert Nama Goal Lower limit Upper limit Importance A : Beeswax In range 5 10 +++ B : Candelilla wax In range 5 10 +++ Titik leleh ( C) In range 68 72 ++++ Daya sebar Maximize 1 4 ++++ Hedonik (%) Maximize 45 66 +++++ Tabel 4. Komposisi dan Prediksi Sifat Fisik Formula Optimum No. Beeswax (% ) Candelilla wax (% ) Titik leleh ( C) Daya sebar Hedonik Desirability 1 8.75 6.25 69.1446 4.281 66 0.916 2 7 8 70.714 3.589 64.151 0.783 Setelah semua respon dimasukkan ke dalam software, maka dihasilkan beberapa solusi berupa variasi komposisi bahan dengan nilai desirability yang bervariasi pula serta prediksi nilai respon berdasarkan kriteria yang dikehendaki. Masing-masing solusi memiliki nilai desirability antara 0-1. Pemilihan formula yang paling optimal adalah berdasarkan nilai desirability yang paling mendekati satu. Nilai desirability menunjukkan kemungkinan atau kecenderungan hasil atau respon yang akan dicapai sesuai dengan target optimasi yang dikehendaki. Pada penelitian ini, didapatkan dua Volume 3, No.2, Tahun 2017

Optimasi Formula Sediaan Lipbalm Ekstrak 555 solusi dengan nilai desirability sebesar 0,916 dan 0,783, maka dipilih solusi dengan nilai desirability yang paling tinggi atau yang paling mendekati satu yatu 0,916. Prediksi sifat fisik formula optimum dari solusi tersebut disajikan pada Tabel 4. Verifikasi formula bertujuan untuk menguji kebenaran solusi formula yang diperoleh melalui Simplex Lattice Design dengan cara membuat kembali lipbalm menggunakan metode yang sama dengan saat orientasi penentuan formula optimum. Hasil verifikasi kemudian dianalisis secara statistik. Pengujian secara statistik bertujuan untuk mengetahui beda rata-rata hasil penelitian dengan data prediksi. Hasil verifikasi disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Verifikasi dan Analisis Statistik Sifat Fisik Formula Optimum Profil Respon Hasil Uji Hasil Prediksi Signifikansi Kesimpulan Titik leleh ( C) 69.3±0.3 69.1446 0.08 Tidak berbeda bermakna Daya sebar 4.1±0.3 4.28105 0.103 Tidak berbeda bermakna Hedonik (% ) 64.6±2.2 66 0.077 Tidak berbeda bermakna Pada penelitian ini, data pengujian titik leleh, daya sebar dan hedonik terdistribusi normal sehingga dilakukan uji lanjutan yaitu uji-t satu sampel. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Liliefors. Jika nilai signifikansi uji t-satu sampel lebih dari 0,05 maka hasil uji sifat fisik formula optimum lipbalm tidak berbeda bermakna dengan nilai prediksi software. Sebaliknya, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka maka hasil uji sifat fisik formula optimum lipbalm tidak berbeda bermakna dengan nilai prediksi software. Berdasarkan hasil analisis statistik, diperoleh nilai signifikansi untuk ketiga respon yaitu lebih dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai uji sifat fisik yang sebenarnya yang dilakukan dengan nilai prediksi dari software pada taraf signifikansi 5% adalah tidak berbeda bermakna, maka nilai prediksi dari software benar dan dapat dipercaya. Hasil evaluasi organoleptis dan homogenitas lipbalm yang telah dioptimasi disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Uji Organoleptis dan Homogenitas Sediaan Pengujian Organoleptis : Warna Bau Bentuk Homogenitas Hasil Oranye Bau vanilla Bulat Homogen Warna oranye yang dihasilkan lipbalm disebabkan karena penambahan ekstrak karotenoid umbi wortel yang berwarna oranye. Formula tersebut memiliki bau vanilla karena adanya penambahan essence vanilla pada proses formulasi sehingga bau khas ekstrak dan bau khas basis tertutupi. Pada uji homogenitas, sediaan lipbalm membentuk sususnan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar sehingga dapat disimpulkan sediaan tersebut homogen. D. Kesimpulan Berdasarkan hasil optimasi menggunakan Simplex Lattice Design, komposisi kombinasi beeswax dan candelilla wax yang menghasilkan formula optimum adalah 8,75 % beeswax dan 6,25% candelilla wax Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2016-2017

556 Ratu Galuh Chondrodewi Budi Pratami, et al. Pada pengujian titik leleh komponen yang paling mempengaruhi titik leleh adalah candelilla wax. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien yang lebihtinggi yaitu 71,92. Pada pengujian daya sebar, interaksi antara kedua komponen yaitu beeswax dan candelilla wax mempunyai pengaruh yang dominan terhadap daya sebar sediaan lipbalm yang ditunjukkan dengan koefisien bernilai 7,69. Pada uji hedonik komponen yang paling dominan mempengaruhi titik leleh adalah beeswax yang ditunjukkan dengan koefien bernilai 61,50. E. Saran Dari hasil penelitian diketahui bahwa metode Simplex Lattice Design dapat diandalkan dalam menentukan formula optimum, maka penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan metode optimasi lainnya seperti D-Optimal Design atau Simplex Vertices Design. Daftar Pustaka Amstrong, N, A., and James, K.C. (1996). Pharmaceutical Experimental Design and Interpretation, Taylor and Francis Ltd, London. Bolton, S. (1997). Pharmaceutical Statistics: Practical and Clinical Applications, Informa Healthcare, New York. Cahyono, Bambang (2002). Wortel, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Dornboos, D.A., Huisman, R., Van Kamp H.V., Weyland, J.W., Lerk, C.F and Bolhuis, G.K. (1984). Development and Optimization of Pharmaceutical Formulations Using a Simplex Lattice Design, Pharmaceutisch Weekblad Scientific Edition, Vol. 6. Elsner, P., Maibach, H.I. (2000). Cosmeticals Drug vs Cosmetics, Vol.23, Marcel Dekker, Inc, New York. Fernandes, A.R., Dario, M.F., Pinto, C.A.S.O., Baby, A.R., Velasco, M.V.R. (2013). Stability Evaluation of Organic Lip Balm, Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences, Vol. 49, No. 2. Stahl, W., Sies, H. (2004). Bioactivity and Protective Effects of Natural Carotenoids, Biochimica et Biophysica Acta, Vol. 1740, No. 2005. Volume 3, No.2, Tahun 2017