IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan

Gambar 10. Peta Jakarta dan Teluk Jakarta

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

KATA PENGANTAR. Jakarta, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Saefullah NIP

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

Kimparswil Propinsi Bengkulu,1998). Penyebab terjadinya abrasi pantai selain disebabkan faktor alamiah, dikarenakan adanya kegiatan penambangan pasir

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor 09/PRT/M/2010 Tentang PEDOMAN PENGAMANAN PANTAI MENTERI PEKERJAAN UMUM,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan daerah pertemuan antara ekosistem darat, ekosistem laut dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA

PENDAHULUAN. lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07/PRT/M/2015 TENTANG PENGAMANAN PANTAI

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai fungsi produksi, perlindungan dan pelestarian alam. Luas hutan

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi DKI Jakarta terletak pada posisi Lintang Selatan dan Bujur

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

BAB I. Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang mencapai lebih dari

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

adalah untuk mengendalikan laju erosi (abrasi) pantai maka batas ke arah darat cukup sampai pada lahan pantai yang diperkirakan terkena abrasi,

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG SELATAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... I. PENDAHULUAN Latar Belakang...

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II DESKRIPSI TEMPAT WISATA Sejarah Taman Wisata Alam Mangrove Pantai Indah Kapuk. lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3Perubahan tutupan lahan Jakarta tahun 1989 dan 2002.

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis. dari luas Provinsi Jawa Barat dan terletak di antara Bujur Timur

BAB I PENDAHULUAN. sehingga laut dan pesisir pantai (coastal zone) merupakan lingkungan fisik yang

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

Sistematika Rancangan Peraturan Presiden tentang RencanaTata Ruang Pulau/Kepulauan dan RencanaTata Ruang Kawasan Strategis Nasional

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tabel 1.1 Luas Hutan Mangrove di Indonesia Tahun 2002 No Wilayah Luas (ha) Persen

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini

Gambar 6. Peta Kabupaten Karawang

BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN Uraian Umum

BAB II KONDISI UMUM LOKASI

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

TINJAUAN PUSTAKA. lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut

BAB I PENDAHULUAN km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih km 2 (Moosa et al

I. PENDAHULUAN. mangrove. Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan

I. PENDAHULUAN. Bandar Lampung sebagai kota pesisir, terletak pada posisi 5º20-5º31 LS

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

KONDISI TUTUPAN HUTAN PADA KAWASAN HUTAN EKOREGION KALIMANTAN

BAB I PENDAHULUAN. batas pasang surut air disebut tumbuhan mangrove.

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki beragam masalah

Gambar 13. Citra ALOS AVNIR

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Asahan secara geografis terletak pada ,2 LU dan ,4

3.1 Metode Identifikasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

19 Oktober Ema Umilia

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia

Transkripsi:

45 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan dataran rendah dan landai dengan ketinggian rata-rata 7 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi antara 5 o 19 12" LS sampai 6 o 23 54" LS dan 106 o 22 42" BT sampai 106 o 58 18" BT. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 171 Tahun 2007, luas wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah 7.639,83 km 2, terdiri dari daratan seluas 662,33 km 2, termasuk 110 pulau di Kepulauan Seribu, dan lautan seluas 6.997,50 km 2. Persentase luas daratan dan lautan adalah 8,67% luas daratan dan 91,33% luas lautan. Batas-batas wilayah Propinsi DKI Jakarta adalah: Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bekasi (Propinsi Jawa Barat). Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor (Propinsi Jawa Barat). Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (Propinsi Banten). Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 (lima) wilayah kotamadya dan satu kabupaten administratif, yakni: Kotamadya Jakarta Utara dengan luas 146,66 km 2, Jakarta Barat dengan luas 129,54 km 2, Jakarta Timur dengan luas 188,03 km 2, Jakarta Pusat dengan luas 48,13 km 2, dan Kotamadya Jakarta Selatan dengan luas 141,27 km 2, serta Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dengan luas 8,70 km 2. Adapun luas wilayah DKI Jakarta menurut kabupaten/kota disajikan dalam Gambar 11. Wilayah Jakarta Utara dengan luas daratan 146,66 km 2 mempunyai batas batas geografis sebagai berikut: Sebelah Utara dengan Laut Jawa Sebelah Timur berbatasan dengan Kali Bloncong dan Kali Ketapang Jakarta Sebelah Selatan berbatasan dengan Pedongkelan, Sungai Begog selokan Petukangan, Kali Cakung. Sebelah Barat berbatasan dengan Jembatan Tiga, Kali Muara Karang dan Kali Muara Angke.

46 Gambar 11 Luas Wilayah propinsi DKI Jakarta menurut Kabupaten / Kota (BPS Jakarta 2009) Secara administratif, wilayah Jakarta Utara terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja, Cilincing dan Kecamatan Kelapa Gading. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Penjaringan disusul Kecamatan Cilincing. Luas wilayah Jakarta Utara menurut kecamatan disajikan dalam Tabel 17. Tabel 17 Luas wilayah menurut kecamatan di Jakarta Utara Kecamatan Luas (Km 2 ) % Kelurahan RW RT Penjaringan 45,41 30,96 5 63 764 Pademangan 11.92 8,13 3 34 408 Tanjung Priok 22,52 15,36 7 101 1,237 Koja 12,25 8,35 6 75 814 Cilincing 39,70 27,07 7 78 884 Kelapa Gading 14,87 10,14 3 54 569 TOTAL 146.66 31 405 4,676 Sumber : BPS Jakarta 2009

47 Wilayah pesisir teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis lintang 5 o 48 30 LS hingga 5 o 57 00 LS dan garis bujur 106 o 33 00 BT hingga 107 o 03 00 BT yang membentang dari Tanjung Pasir di bagian Barat hingga ke Tanjung Karawang di bagian Timur. Secara administrasi perairan laut Jakarta berbatasan dengan Kabupaten Bekasi di sebelah Timur dan Kabupaten Tangerang di sebelah Barat. Teluk seluas 285 km 2, dengan garis pantai sepanjang 35 km dan rata-rata kedalaman perairan 8,4 m yang menjadi tempat bermuaranya 9 (sembilan) buah sungai dan 2 (dua) buah kanal. Secara geologis, seluruh dataran terdiri dari endapan pleistocene yang terdapat pada ±50 m di bawah permukaan tanah. Bagian selatan terdiri atas lapisan alluvial, sedang dataran rendah pantai merentang ke bagian pedalaman sekitar 10 km. Dibawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua yang tidak tampak pada permukaan tanah karena tertimbun seluruhnya oleh endapan alluvial. Di wilayah bagian utara terdapat pada kedalaman 10-25 m, makin ke selatan permukaan keras semakin dangkal 8-15 m. Pada bagian tertentu juga terdapat lapisan permukaan tanah yang keras dengan kedalaman 40 m. Wilayah pesisir Teluk Jakarta merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang memiliki dinamika pemanfaatan yang sangat tinggi, mengingat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini berakibat pada terjadinya tekanan yang cukup besar terhadap kondisi lingkungan di sekitar teluk dan sepanjang wilayah pesisirnya. 4.2 Karakterisitik Ekosistem dan Sumberdaya Pesisir Pantura Jakarta Bentuk dan tipe(morfologi) pantai sangat tergantung pada letak/posisi geografis, topografi, substrat serta kondisi hidro-oseanografi di wilayah sekitarnya. Pantai Utara Jakarta termasuk dalam tipe pantai semi tertutup karena merupakan daerah teluk. Ekosistem pantai yang terdapat di pesisir dijumpai hutan mangrove di Kecamatan Penjaringan dan Cilincing yang jenis pantainya adalah landai. Ekosistem terumbu karang dan padang lamun tidak dijumpai di sepanjang pesisir karena kondisi perairan tidak jernih dan tingginya sedimen dari sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Kawasan Pesisir dan Laut Teluk Jakarta merupakan wilayah pesisir yang strategis sekaligus paling rentan terhadap perubahan, gangguan, dan pencemaran

48 oleh manusia. Strategis karena Teluk Jakarta merupakan pintu gerbang utama aktivitas ekonomi kelautan di Indonesia, khususnya untuk wilayah bagian barat. Namun dikatakan paling rentan karena daerah ini merupakan penyangga bagi ekosistem daratan Jakarta yang demikian tinggi aktivitas manusianya. Kerentanan Teluk Jakarta juga disebabkan oleh terus meningkatnya kebutuhan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir untuk kegiatan pariwisata, industri, dan permukiman. Habitat pesisir memiliki peranan penting bagi perlindungan daratan pesisir dari berbagai gangguan eksternal. Semakin luas habitat pesisir semakin besar pula perlindungan terhadap daratan pantai. Habitat pesisir disepanjang pesisir Pantai Utara Jakarta hanya dijumpai ekosistem mangrove dan dalam jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan panjang garis pantai dan luas daratannya. Habitat pesisir ini selain memiliki fungsi perlindungan fisik terhadap daratan, juga memiliki fungsi ekologis dan ekonomis yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat disekitar pesisir Jakarta. Perbandingan luas habitat pesisir dengan luas daratan Jakarta utara adalah sangat kecil. 4.2.1 Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove di wilayah Jakarta Utara yang tercatat seluas ± 192,35 ha, masing-masing di Suaka Margasatwa Muara Angke ± 25,23 ha, TWA Angke Kapuk ± 99,82 ha, Hutan Lindung Angke ± 50,8 ha dan hutan mangrove Marunda ± 16,5 ha, kondisinya saat ini diperkirakan seluruhnya hanya tersisa ± 42,05 ha (21,86%) dengan rincian SM. Muara Angke ± 10,1 ha, TWA Angke Kapuk ± 9,98 ha, hutan lindung Angke ± 20,32 ha dan hutan mangrove Marunda ± 1,65 ha (Dephut 2002). Luasan mangrove disajikan dalam Tabel 18. Tabel 18 Luasan Ekosistem mangrove di wilayah Jakarta Utara. Lokasi Luas (ha) Luas saat ini (ha) Kerapatan (Pohon/ha) SM Muara Angke 25,02 10,10 120-200 TWA Angke Kapuk 99,82 9,98 300-500 Hutan Lindung Angke 44,76 20,32 250-500 Hutan Mangrove Marunda 16,50 1,65 100-200 Total 192,35 42,05 Sumber : Dephut 2002

49 Taman Wisata Alam Angke Kapuk terletak di wilayah Kotamadya Jakarta Utara, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk adalah salah satu kawasan konservasi alam yang berekosistem mangrove. Areal seluas 99,82 ha ini memiliki vegetasi utama berupa pepohonan mangrove atau yang sering disebut pepohonan bakau. Saat itu terjadi perambahan hutan mangrove dan perubahan fungsi kawasan secara ilegal (antara lain pengusahaan penambakan ikan dan pemukiman). Banyaknya perubahan fungsi lahan di Pantai Utara Jakarta yang sangat mengkhawatirkan membuat kawasan ini menjadi satu-satunya areal hijau yang masih dapat dikembangkan untuk kepentingan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Kawasan ini telah direhabilitasi seluas 40 hektar dan ditanami kembali oleh berbagai pepohonan mangrove. Suaka margasatwa ini terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk. Tekanan berat terhadap kawasan mangrove di DKI Jakarta, lebih cenderung disebabkan karena perambahan, dan alihfungsi kawasan terutama untuk kepentingan tambak ikan. Terdegradasinya kawasan mangrove di DKI Jakarta disebabkan oleh tumbuh berkembangnya pusat-pusat kegiatan aktivitas manusia. Aspek kegiatan tersebut, antara lain meliputi: (a) pengembangan permukimam, seperti kawasan Pantai Indah kapuk, (b) pembangunan fasilitas rekreasi, dan (c) pemanfaatan lahan pasang surut untuk kepentingan budidaya pertambakan. Kawasan mangrove di Teluk Jakarta, keadaannya telah terganggu dan tidak mampu lagi mendukung keseimbangan lingkungan dan sumber pendapatan para nelayan disekitarnya. Ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai penyangga sempadan pantai sudah tidak lagi efektif peranan dan fungsinya karena ketebalannya terbatas dengan kondisi kerapatan jarang (120 pohon/ha), padahal kerapatan pada kawasan mangrove normal tercatat 900-1.400 pohon/ha. Berkurangnya populasi mangrove juga berakibat pada meningkatnya laju abrasi daerah pantai, meningkatnya laju intrusi air laut serta berkurangnya masukan unsur hara bagi biota perairan. Di pantai Marunda, abrasi sangat kuat terjadi hampir sepanjang tahun dan telah berlangsung cukup lama. Beberapa rumah penduduk telah hilang ditelan laut, luas kawasan berkurang dengan cepat. Saat ini di Pantai Marunda, mangrove hanya dijumpai dalam jumlah relatif kecil.

50 Setidaknya 831 ha hutan bakau di Pantai Utara Jakarta telah direklamasi menjadi kawasan perumahan elit (Pantai Indah Kapuk). Pantai Indah Kapuk merupakan sebuah perumahan eliter yang berdiri di atas lahan seluas 800 ha di daerah Pantai Utara Jakarta. Digagas pada tahun 1990 dan berdiri di atas lahan reklamasi. Dikembangkan dibawah bendera PT. Mandara Permai menguasai 1.163 ha lahan hasil reklamasi ini yang selain dijadikan perumahan elite, juga dijadikan padang golf. Hilangnya kawasan hutan bakau di Pantai Utara Jakarta menyebabkan terjadinya hal-hal berikut: Meningkatnya intrusi air lau ke daratan, Menyebabkan semakin parahnya banjir di Jakarta dari waktu ke waktu. Yang paling menjadi masalah adalah ketika banjir sampai melanda Jalan Tol Soedyatmo (tol bandara) pada km 26 28 dengan ketinggian air hingga mencapai 1,5 m. Proyek reklamasi Pantura membentang sepanjang ± 32 km dari sebelah timur perbatasan Cilincing dengan Kabupaten Bekasi sampai dengan sebelah barat perbatasan Penjaringan dengan Kabupaten Tangerang. Proyek ini melakukan penimbunan pantai pada kedalaman hingga 8 m dan lebar 2 km dari bibir pantai. Selain terciptanya perubahan dan kerusakan lingkungan, di bagian wilayah hulu juga ikut andil dalam memperburuk kondisi kawasan pantai. Berbagai bentuk masukan bahan padatan sedimen (erosi), bahan cemaran baik yang bersumber dari industri maupun rumah tangga merupakan salah satu faktor penyebab pendangkalan pantai dan kerusakan ekosistem mangrove. Perambahan dan perombakan kawasan mangrove oleh masyarakat sebagai wahana tambak, merupakan salah satu faktor penyebab hilangnya kawasan mangrove. Salah satu bukti yang cukup menonjol hasil inventarisasi kawasan mangrove di sekitar Cagar Budaya Pitung Jakarta Utara pada tahun 1998 tercatat 8,5 ha, dengan kondisi kawasan yang masih relatif baik ditinjau dari habitat dan kehadiran jenisnya. Namun demikian hasil evaluasi tahun 2000, kawasan seluas tersebut telah berubah total menjadi hamparan pertambakan.

51 4.2.2 Ekosistem Padang Lamun Dilokasi kajian di sepanjang Pantai Utara Jakarta, kondisi ekosistem padang lamun sangat kurang bahkan bisa dikatakan tidak ada. Tutupan lamun miskin karena kualitas perairan yang tercemar dan akibat adanya reklamasi pantai. Dimensi daya adaptasi pada pengukuran dan skor penilaian parameter tutupan lamun berada pada skor 1 (satu). Beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan padang lamun antara lain pencemaran oleh limbah industri, limbah rumah tangga, pembuangan sampah organik, pengerukan pasir dan reklamasi pantai. 4.2.3 Ekosistem Terumbu Karang Dari hasil pengamatan dan studi literatur terkait dengan data ekosistem terumbu karang yang dianalisis mencakup luasan (sebaran habitat) dan persentasi tutupan karang hidup. Analisis sebaran ekosistem terumbu karang dilakukan dengan menggunakan analisis sistem informasi geografis. Berdasarkan interpretasi citra, ekosistem terumbu karang dijumpai di kepulauan Seribu yang merupakan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu hasil pemekaran dari Kotamadya Jakarta Utara sebagai induk. Dilokasi kajian di sepanjang Pantai Utara Jakarta tidak ditemukan adanya ekosistem terumbu karang sehingga tutupan karang hidup bisa dikatakan sangat rendah atau tidak ada. Dimensi daya adaptasi pada pengukuran dan skor penilaian parameter tutupan karang hidup berada pada skor 1 (satu). Ekosistem terumbu karang tidak berkembang baik di perairan Teluk Jakarta. Hal ini disebabkan oleh tingginya pencemaran dan suspensi padatan terlarut (sedimen) sehingga terumbu karang tidak dapat tumbuh dengan baik. 4.2.4 Sumberdaya Pesisir Pantura Jakarta Berdasarkan hasil penafsiran dari citra satelit ALOS tahun 2006 melalui penerapan elemen-elemen penafsiran yang dikombinasikan dengan prosedur eliminasi dalam proses identifikasi dan pengecekan dengan kompilasi data digital dan hard copy peta Rupa Bumi Bakosurtanal, diperoleh beberapa kelas utama pada daerah pengamatan (area of interest/aoi) pada citra satelit kawasan pesisir

52 Teluk Jakarta yakni: 1) Vegetasi alami; 2) Tanaman budidaya; 3) Lahan termanfaatkan (non vegetasi); 4) Lahan terbuka; dan 5) Tubuh/badan air. Menurut Amri K et al. (2008) menyatakan bahwa kawasan pesisir bagian barat Teluk Jakarta terdiri dari berbagai jenis pemanfaatan lahan mulai dari kegiatan pemukiman, perikanan budidaya tambak, pemancingan, kawasan konservasi hutan lindung/suaka marga satwa, pelabuhan pendaratan ikan (TPI), pelelangan, industri perikanan dan industri non perikanan, sarana transportasi (jalan) dan lalu lintas kapal. Pada lokasi tertentu masih dijumpai adanya jenisjenis vegetasi (belukar dan tanaman keras) maupun vegetasi mangrove. Populasi mangrove didominasi oleh tanaman bakau (Rhyzopora) dan apiapi (Avicennia marina). Keberadaan dan kondisinya sudah dalam kondisi mengkhawatirkan, dimana populasi mangrove yang ada sudah banyak yang berkurang dengan kegiatan pembukaan dan pemanfaatan lahan pesisir. Hampir semua populasi mangrove yang ada di wilayah pesisir Teluk Jakarta tumbuh di perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 1 meter dan sebagian lainnya berada pada lokasi pertambakan udang/ikan. Pada lokasi pantai tertentu terjadi penuruan kualitas pantai akibat abrasi/erosi, pembukaan lahan secara berlebihan, tumpukan sampah, sedimentasi yang mengakibatkan kekeruhan berlebihan pada badan air (muara sungai). Vegetasi alami yang umum ditemui pada wilayah pesisir Teluk Jakarta adalah vegetasi hutan pantai dataran rendah yang umumnya didominasi ekosistem mangrove, semak, semak-belukar, dan semak rawa. Pada kawasan pantai yang tidak terkena genangan air dapat ditemukan tanaman/kebun kelapa, disamping itu juga ditemukan keberadaan hutan kota pada lokasi-lokasi tertentu. Tanaman budidaya tidak dikenali secara khusus karena umumnya terdeteksi secara tercampur (mixing) dengan pemukiman sehingga dalam analisa ini dikelompokkan kedalam kelompok perkebunan mix pemukiman. Lahan termanfaatkan dari pengamatan citra dapat dibedakan antara lahan pemukiman sebagai daerah hunian dan kawasan industri yang terpola atau terpusat pada suatu wilayah tertentu. Disamping itu, lahan termanfaatkan juga bisa diidentifikasi sebagai lahan untuk reklamasi pantai, lahan sawah pasang surut, lahan tambak budidaya ikan maupun udang. Pemanfaatan lainnya lahan pada lokasi

53 pengamatan yang memiliki luasan yang cukup besar adalah bandara (air port), lapangan terbuka, lapangan golf, dan taman rekreasi yang terdapat di kawasan tertentu. Khusus untuk badan air (water body) dengan mudah dapat dibedakan antara laut, danau, sungai maupun rawa. Dari hasil penelitian Amri et al. (2006) menyatakan bahwa analisa tutupan lahan hasil interpretasi citra satelit ALOS Teluk Jakarta tahun 2006, ditetapkan atau ditemukan beberapa kelas penutupan lahan seperti tersebut di atas dengan luasan masing-masing kategori tutupan lahan seperti tertera pada Tabel 19, sementara sebaran spasialnya disajikan dalam peta Gambar 12. Tabel 19 Persentase luasan masing-masing tutupan lahan dari daerah penelitian pesisir Teluk Jakarta No Penutupan lahan Luas (Ha) Persentase (%) 1 Awan 638,82 0,31 2 Bandara 1.731,18 0,83 3 Danau 196,48 0,09 4 Hutan Kota 59,94 0,03 5 Hutan Pantai 93,37 0,05 6 Kawasan Industri 3.699,08 1,78 7 Kebun kelapa 38,95 0,02 8 Lahan kosong 689,26 0,33 9 Lapangan golf 102,30 0,05 10 Laut 129.119,05 62,25 11 Mangrove 958,81 0,46 12 Pemukiman 20.723,91 9,99 13 Perkebunan mix pemukiman 10.036,20 4,84 14 Reklamasi pantai 15,38 0,01 15 Sawah 27.051,13 13,04 16 Semak 153,43 0,07 17 Semak rawa 186,19 0,09 18 Semak belukar 199,86 0,10 19 Sungai 402,54 0,19 20 Taman monas 85,41 0,04 21 Taman rekreasi 317,84 0,15 22 Tambak 10.934,28 5,27 Jumlah 207.433,20 100 Sumber: Amri et al. 2008

54 Gambar 12 Penggunaan lahan sumberdaya pesisir Teluk Jakarta dan sekitarnya (Amri et al. 2008) Dari Tabel 18 di atas terlihat persentase dan luasan masing-masing tutupan lahan yang luasnya sangat bervariasi, sementara dari Gambar 12 terlihat penyebaran spasial kelas penutupan lahan tersebut. Kelas laut (perairan) mendominasi luasan mencapai 62,2% dari total keseluruhan luas area pengamatan. Pemanfaatan lahan berupa sawah menempati urutan utama dalam pemanfaatan lahan pesisir Teluk Jakarta yang mencapai 13%, diikuti oleh pemukiman (9,99%), tambak (ikan maupun udang) sekitar 5,27% dan industri (1,78%). Khusus di daerah pantai, luasan hutan pantai dan mangrove yang terdeteksi di sepanjang Teluk Jakarta masing-masing tercatat 93,37 ha (0,045%) dan 958,81 ha (0,642%). Secara umum terlihat bahwa tipe penutupan lahan di pesisir Teluk Jakarta yang paling dominan umumnya untuk kegiatan perikanan budidaya tambak ikan/udang, pelabuhan pendaratan ikan/tpi, pasar ikan, industri perikanan