HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat pada Tabel 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Karakteristik Kucing

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

BAB 1 PENDAHULUAN. negara berkembang, termasuk. Riskesdas, prevalensi anemia di Indonesia pada tahun 2007 adalah

BAB I PENDAHULUAN. lain. Salah satu fungsi darah adalah sebagai media transport didalam tubuh, volume darah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu keadaan klinis

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Darah merupakan media transportasi yang membawa nutrisi dari saluran

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan

BAB 1 : PENDAHULUAN. SDKI tahun 2007 yaitu 228 kematian per kelahiran hidup. (1)

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan gagalnya pertumbuhan,

BAB I PENDAHULUAN. namun tiap tiap kelompok mempunyai peredaran darah tertentu yang mempunyai anotomi

BAB I PENDAHULUAN. spermatozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Anemia merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia

I PENDAHULUAN. peternakan. Penggunaan limbah sisa pengolahan ini dilakukan untuk menghindari

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Jumlah Sel Darah Merah. dapat digunakan untuk menilai kondisi kesehatan ternak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibu hamil merupakan penentu generasi mendatang, selama periode kehamilan ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hemoglobin. Hemoglobin Burung Merpati Jantan dan Betina sebelum dan sesudah Dilatih Terbang

BAB I PENDAHULUAN. sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuabaet al., 2012).

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

TINJAUAN PUSTAKA. Guntoro (2002) menyatakan bahwa sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sistem Pakar adalah program AI yang menggabungkan basis pengetahuan

PENDAHULUAN. puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat

BAB I PENDAHULUAN. kurang dari angka normal sesuai dengan kelompok jenis kelamin dan umur.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang

BAB I PENDAHULUAN. Kasus anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma

BAB 1 : PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat ( Public Health Problem) adalah anemia gizi.

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak. perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja dalam masyarakat.

I. PENDAHULUAN. progresif. Proses ini dikenal dengan nama menua atau penuaan (aging). Ada

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Anemia adalah berkurangnya volume sel darah merah atau menurunnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia lanjut (Depkes RI, 2001). mineral. Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI 1998

ABSTRAK PERAN ERITROPOIETIN TERHADAP ANEMIA ( STUDI PUSTAKA)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. berbagai negara, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di. dibandingkan dengan laki-laki muda karena wanita sering mengalami

BAB I PENDAHULUAN. gangguan absorpsi. Zat gizi tersebut adalah besi, protein, vitamin B 6 yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. beriklim kering. Umumnya tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah berpasir yang

I. TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Profil Kecamatan Bangkinang Seberang, Kecamatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka mencapai Indonesia Sehat dilakukan. pembangunan di bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sapi Bali Sapi bali (Bibos sondaicus) merupakan hasil domestikasi banteng liar

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

BAB I PENDAHULUAN. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi

TINJAUAN PUSTAKA. Kelinci termasuk hewan yang memiliki sistem pencernaan monogastrik dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Sukoharjo yang beralamatkan di jalan Jenderal Sudirman

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan fisiknya dan perkembangan kecerdasannya juga terhambat.

BAB I PENDAHULUAN. generasi sebelumnya di negara ini. Masa remaja adalah masa peralihan usia

TOKSISITAS MERKURI (Hg) TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN, GAMBARAN DARAH DAN KERUSAKAN PADA IKAN NILA Oreochromis niloticus

Sistem Transportasi Manusia L/O/G/O

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Alam

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis yang diharapkan setiap pasangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam kedu termasuk ragam ayam kampung dari spesies Gallus gallus yang

HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KADAR FERRITIN PADA ANAK USIA 6 SAMPAI 24 BULAN DI PUSKESMAS KRATONAN SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Kekurangan zat gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, menurunnya produktifitas kerja dan

I. TINJAUAN PUSTAKA. plasma dan sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit), yang masing -masing

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Ternak sapi dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu Bos indicus

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan

BAB I PENDAHULUAN. asap dan ditelan, terserap dalam darah, dan dibawa mencapai otak, penangkap pada otak akan mengeluarkan dopamine, yang menimbulkan

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi

HASIL DAN PEMBAHASAN

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e

Transkripsi:

16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit (Sel Darah Merah) Profil parameter eritrosit yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit kucing kampung (Felis domestica) ditampilkan pada Tabel 2. Jumlah eritrosit semua kucing kampung percobaan bervariasi diantara individu, yaitu berkisar antara 5.10-9.22 x10 6 /µl, dengan rataan sebesar 7.00 1.30 x10 6 /µl. Tabel 2 Rataan jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit pada kucing kampung (Felis domestica). Kode Hewan Jenis Kelamin Jumlah Eritrosit (10 6 /µl) Hemoglobin (g/dl) Hematokrit (%) 1 6.80 8.60 24.00 2 6.51 8.30 32.00 3 5.10 8.80 25.00 4 6.10 8.50 32.00 5 6.20 8.40 28.00 6 8.50 11.80 39.00 7 9.22 11.00 33.00 8 6.42 8.20 30.00 9 5.60 8.40 27.00 10 8.15 11.50 31.00 11 8.52 12.20 37.00 12 6.84 10.30 36.00 Rata-rata SD 7.00 1.30 9.66 1.56 31.16 4.68 Kisaran 5.10-9.22 8.20-12.20 24.00-39.00 Referensi *) 5.00 10.00 8.00 15.00 24.00 45.00 *) Jain (1993) Jumlah eritrosit pada kucing normal menurut Jain (1993) berkisar antara 5.00 10.00 10 6 /µl. Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah eritrosit tertinggi yaitu 9.22 x10 6 /µl, dan terendah adalah 5.10 x10 6 /µl. Secara umum jumlah eritrosit pada kucing kampung yang diamati masih berada pada interval normal menurut Jain (1993).

17 Tabel 3 Rataan jumlah eritrosit (10 6 /µl) pada kucing kampung (Felis domestica) jantan dan betina. Kode Jumlah Eritrosit (10 6 /µl) Hewan Betina Jantan 1 6.80 6.42 2 6.51 5.60 3 5.10 8.15 4 6.10 8.52 5 6.20 6.84 6 8.50 7 9.22 Rata-rata SD 1.04 7.57 1.52 Tabel 3 memperlihatkan perbandingan jumlah eritrosit pada kucing kampung (Felis domestica) jantan dan betina. Jika diamati berdasarkan jenis kelamin, rataan jumlah eritrosit pada kucing kampung jantan lebih tinggi dibandingkan dengan kucing kampung betina. Rataan jumlah eritrosit pada kucing kampung jantan adalah 7.57 1.52 x10 6 /µl (kisaran 5.60-8.52 x10 6 /µl), sedangkan pada kucing kampung betina 6.58 1.04 x10 6 /µl (kisaran 5.10-9.22 x 10 6 /µl). Rataan jumlah eritrosit pada kucing kampung jantan normal menurut Triastuti (2006), yang melakukan penelitian terhadap kucing kampung yang dipelihara, adalah 6.32 1.91x10 6 /µl, dan pada kucing kampung betina yaitu 6.02 2.20 x10 6 /µl. Jumlah eritrosit pada percobaan ini menunjukkan hasil yang hampir sama bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triastuti (2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit di dalam sirkulasi darah meliputi faktor fisiologis dan patologis. Beberapa faktor fisiologis diantaranya jenis kelamin, umur, kondisi kebuntingan, laktasi, dan tempat ketinggian (Riswan 2003; Jain 1993). Faktor yang bersifat patologis yang juga mempengaruhi jumlah eritrosit diantaranya hemoragi, hemolisis, gangguan sumsum tulang, penyakit akibat virus (mis Feline Leukemia virus), gangguan hormonal, gagal ginjal kronis, infeksi parasit kronis, dan defisiensi nutrisi pembentuk hemoglobin (Dorland 1998; Stockham dan Scott 2008). Biasanya ditandai dengan menurunnya salah satu parameter eritrosit di dalam sirkulasi darah (Meyer dan Harvey 2004).

18 Rendahnya atau menurunnya salah satu dari parameter eritrosit, yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi Hb, dan nilai hematokrit, dalam sirkulasi darah dibawah nilai interval normal disebut anemia. Anemia merupakan kondisi patologis akibat menurunnya kapasitas angkut O 2. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan gejala klinis. Biasanya muncul sebagai respons sekunder akibat adanya penyakit atau gangguan fungsi organ. Keadaan anemia merupakan salah satu gangguan respon eritrosit yang paling sering dijumpai pada hewan anjing dan kucing (Jain 1993). Anemia dapat ditemukan pada kondisi kebuntingan dan menyusui, karena pada kondisi tersebut zat besi banyak dialihkan ke fetus maupun ke anak pada saat proses menyusui (Riswan 2003). Suplai zat besi pada saat bunting dialihkan pada fetus untuk pembentukan sel darah merah (Tumbelaka et al. 2005). Anemia juga dapat terjadi pada kasus hemolisis dan hemoragi (Dorland 1998). Menurut Dorland (1998), pada kasus hemoragi, apabila terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan jumlah eritrosit berkurang secara drastis. Berdasarkan jenis kelamin (Tabel 3), rataan jumlah eritrosit baik pada kucing kampung jantan maupun betina, masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah eritrosit pada kucing kampung jantan lebih tinggi dibandingkan dengan kucing kampung betina. Jumlah eritrosit dalam sirkulasi darah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya jenis kelamin (Jain 1993). Jumlah eritrosit pada kucing jantan sedikit lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kucing betina (Schalm 2010). Hormon kelamin jantan diketahui dapat meningkatkan produksi eritropoietin (Spence dan Mason 1987), sedangkan estrogen yang merupakan hormon kelamin betina diketahui dapat menekan produksi eritropoietin (Spence dan Mason 1987). Eritropoietin merupakan hormon yang merangsang proses pembentukan eritrosit (eritropoiesis) (Dorland 1998). Jumlah eritrosit dapat pula dipengaruhi oleh nutrisi dalam pakan seperti zat besi, Cu, vitamin dan asam amino (Frandson 1992). Defisiensi vitamin B 12 dan asam folat dapat menyebabkan kegagalan proses eritropoiesis, sehingga produksi eritrosit menurun, dan jumlah eritrosit dalam sirkulasi darah menjadi rendah

19 (Guyton dan Hall 1997). Menurut jain (1993), jumlah eritrosit mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan umur, dan pada umur satu tahun mencapai nilai yang stabil. Jumlah eritrosit pada saat kelahiran hampir 12 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah eritrosit pada hewan dewasa (Schalm 1986). Guyton dan Hall (1997) berpendapat bahwa kadar oksigen di daerah dataran tinggi sangat rendah. Adanya hipoksia jaringan akan merangsang diproduksinya eritropoietin sehingga produksi eritrosit meningkat. Hasil pengamatan secara umum menunjukkan bahwa rataan jumlah eritrosit pada kucing kampung masih berada dalam nilai interval normal. Pengamatan secara individu juga menunjukkan bahwa ke-12 ekor kucing kampung memiliki jumlah eritrosit yang masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993). Konsentrasi Hemoglobin (Hb) Rataan konsentrasi Hb pada kucing kampung dapat dilihat pada Tabel 2. Rataan konsentrasi Hb yang diperoleh adalah 9.66 g/dl (kisaran 8.20-12.20 g/dl). Menurut Jain (1993), rataan konsentrasi Hb pada kucing normal adalah 11.00 g/dl (dengan kisaran antara 8.00 15.00 g/dl), sedangkan menurut Muir et al. (1995) berkisar antara 8.50 16.00 g/dl. Tabel 3 menunjukkan bahwa konsentrasi Hb tertinggi sebesar 12.20 g/dl dan terendah 8.20 g/dl. Dengan demikian, secara umum konsentrasi Hb pada ke-12 ekor kucing kampung yang tidak dipelihara masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993) dan Muir et al. (1995). Jika diamati berdasarkan jenis kelamin, konsentrasi Hb pada kucing kampung jantan memiliki rataan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kucing kampung betina (Tabel 4). Rataan konsentrasi Hb kucing kampung betina yaitu 9.30 1.46 g/dl (kisaran 8.30 11.80 g/dl), sedangkan rataan konsentrasi Hb pada kucing kampung jantan 10.18 1.52 g/dl (kisaran 8.20-12.20 g/dl). Menurut Triastuti (2006), konsentrasi Hb pada kucing kampung jantan sebesar 9.74 4.28 g/dl, dan pada kucing kampung betina 9.67 4.24 g/dl. Konsentrasi Hb pada percobaan ini menunjukkan hasil yang hampir sama bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triastuti (2006).

20 Tabel 4 Rataan konsentrasi hemoglobin (g/dl) pada kucing kampung (Felis domestica) jantan dan betina. Kode Konsentrasi Hemoglobin (g/dl) Hewan Betina Jantan 1 8.60 8.20 2 8.30 8.40 3 8.80 11.50 4 8.50 12.20 5 8.40 10.30 6 11.80 7 11.00 Rata-rata SD 9.30 1.46 10.18 1.52 Rataan konsentrasi Hb pada kucing kampung jantan hasil pengamatan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kucing kampung betina. Menurut Guyton dan Hall (1997), konsentrasi Hb dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya jenis kelamin, nutrisi, ras, umur, musim, waktu pengambilan sampel, metode penelitian dan antikoagulan yang dipakai dalam penelitian (Guyton dan Hall 1997; Mbassa dan Poulsen 1993). Menurut Spence dan Mason (1987), hormon kelamin jantan diketahui dapat merangsang produksi eritropoietin (Swenson 1997). Konsentrasi Hb yang rendah dapat ditemukan pada beberapa kasus seperti defisiensi zat besi, infeksi kronis, inflamasi, malnutrisi, thalassemia minor (Andrews 1999). Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi konsentrasi Hb diantaranya kecukupan zat besi dalam tubuh (Gunadi 2008). Zat besi dibutuhkan dalam produksi hemoglobin, sehingga anemia akibat defisiensi besi akan menyebabkan terbentuknya ukuran eritrosit yang lebih kecil dengan kandungan Hb yang rendah (Gunadi 2008). Zat besi juga berperan dalam sintesis Hb dalam eritrosit dan mioglobin dalam sel otot (Riswan 2003). Zat besi dibutuhkan dalam sintesis heme sehingga dapat mempengaruhi konsentrasi Hb (Meyer dan Harvey 2004). Menurut Cunningham (2002), meningkatnya konsentrasi Hb (dari konsentrasi yang rendah) dapat menyebabkan kemampuan membawa oksigen ke dalam jaringan lebih baik dan eksresi karbondioksida lebih efisien sehinggga keadaan dan fungsi sel membaik (Guyton dan Hall 1997).

21 Hasil pengamatan secara umum menunjukkan bahwa rataan konsentrasi Hb pada kucing kampung masih berada dalam nilai interval normal. Pengamatan secara individu juga menunjukkan hasil yang sama, dimana ke-12 ekor kucing kampung memiliki konsentrasi hemoglobin yang masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993). Nilai Hematokrit Nilai hematokrit menggambarkan persentase eritrosit dalam volume darah (Dorland 1998). Berkurangnya plasma darah membuat persentase sel darah terhadap cairannya meningkat, berbanding lurus dengan nilai hematokrit yang dihasilkan (Tumbelaka et al. 2005). Rataan nilai hematokrit pada semua kucing yang diperoleh pada penelitian ini adalah 31.16±4.68 % (kisaran 24-39%). Menurut Jain (1993), rataan nilai hematokrit pada kucing normal adalah 34.50 % dengan kisaran 24.00 45.00%. Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai hematokrit hasil pengamatan terhadap 12 ekor kucing kampung yang tidak dipelihara masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993). Rataan nilai hematokrit yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5. Rataan nilai hematokrit kucing kampung jantan lebih tinggi dibandingkan dengan kucing kampung betina. Rataan nilai hematokrit pada kucing kampung jantan sebesar 32.00 4.48 % dengan kisaran 27.00 37.00 %, sedangkan pada kucing kampung betina adalah 30.58 5.14 % dengan kisaran 24.00 39.00 %. Menurut Triastuti (2006), nilai hematokrit pada kucing kampung jantan sebesar 26.50 10.55 % dan pada kucing kampung betina 25.84 10.83 %. Rataan nilai hematokrit kucing kampung jantan dan betina hasil pengamatan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang diperoleh Triastuti (2006).

22 Tabel 5 Rataan nilai hematokrit (%) pada kucing kampung (Felis domestica) jantan dan betina. Kode Nilai Hematokrit (%) Hewan Betina Jantan 1 24.00 30.00 2 32.00 27.00 3 25.00 31.00 4 32.00 37.00 5 28.00 36.00 6 39.00 7 33.00 Rata-rata SD 30.58 5.14 32.00 4.48 Banyak faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit. Menurut Foster (2009), nilai hematokrit yang tinggi dapat dijumpai pada hewan yang mengalami dehidrasi, berada pada dataran tinggi, dan pada lingkungan yang rendah oksigen. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi nilai hematokrit yaitu jenis kelamin, status nutrisi, keadaan hipoksia dan ukuran eritrosit (Swenson 1997). Aktivitas yang tinggi dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan melalui penguapan (keringat), urinasi dan pernapasan. Kondisi kekurangan cairan tersebut menyebabkan tubuh akan merespon dengan mengambil cairan vaskular melalui proses homeostasis untuk memenuhi kebutuhan terhadap cairan tubuh sehingga konsentrasi darah dalam vaskular meningkat. Menurut Frandson (1992), nilai hematokrit yang tinggi dapat mengindikasikan terjadinya dehidrasi pada hewan tersebut. Dehidrasi merupakan suatu keadaan dimana keseimbangan cairan tubuh terganggu karena hilangnya cairan tubuh baik cairan intraseluler maupun ekstraseluler tanpa diimbangi dengan konsumsi cairan yang cukup. Peningkatan jumlah eritrosit berbanding lurus dengan peningkatan nilai hematokrit (Guyton dan Hall 1997). Menurut Spence dan Mason (1987), kucing jantan cenderung memiliki jumlah eritrosit lebih tinggi dibandingkan dengan kucing betina karena pengaruh hormon kelamin jantan. Secara umum, rataan nilai hematokrit pada kucing kampung hasil pengamatan (Tabel 2) masih berada dalam interval normal. Pengamatan secara individu juga menunjukkan hasil yang sama, dimana ke-12 ekor kucing kampung

23 memiliki nilai hematokrit yang masih berada dalam nilai interval normal menurut Jain (1993). Hasil pengamatan terhadap ketiga parameter eritrosit, yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi Hb, dan nilai hematokrit yang masih berada dalam nilai interval normal menunjukkan bahwa ke-12 ekor kucing kampung yang diamati tidak terindikasi anemia atau polisitemia. Hasil pemeriksaan fisik terhadap keadaan umum kucing yang meliputi frekuensi nafas, frekuensi pulsus, suhu tubuh, dan selaput lendir mendukung temuan ini.