BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Oleh: Desy Amalia Candrakusuma Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

BAB III METODE PENELITIAN. Inspektorat Kabupaten/Kota Magelang dan Pegawai SKPD di lingkungan. berkaitan dengan efektivitas audit internal.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Rancangan penelitian diperlukan agar penelitian yang dilakukan dapat

BAB III METODE PENELITIAN. Timur. Subjek dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak yang melaporkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. daerah sebagai variabel independen dan kinerja pemerintah daerah sebagai

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Bantul. Sampel yang akan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah pejabat struktural SKPD yang terlibat pada

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Perguruan Tinggi swasta yang ada di Yogyakarta. Pengambilan sampel

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. perusahaan manufaktur skala besar dan sedang di Semarang. 3.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengumpulan Sampel

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Bab III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. variabel. Yang menjadi objek penelitian ini adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang

BAB IV METODA PENELITIAN. disimpulkan dan diberikan saran. Suatu desain penelitian menyatakan struktur

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan sistem informasi akuntansi terkomputerisasi.

BAB III METODE PENELITIAN. variabel-variabel yang diduga mampu memprediksi minat mahasiswa untuk

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini adalah penelitian survey yang berupa penelitian penjelasan dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menjadi sampel dalam penelitian mengenai pengaruh harga, kualitas produk, citra merek

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Sleman yang

BAB III METODE PENELITIAN. di Inspektorat Kabupaten/Kota dan Provinsi di Lampung yang mendapatkan opini Wajar

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian pengujian hipotesis (hyphotesis testing

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif adalah sebagai penelitian yang menekankan pada pengujian teori-teori

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. (KAP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah yang telah terdaftar

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang bekerja pada

BAB III METODE PENELITIAN. objektif, valid, dan reliabel tentang suatu hal (variabel tertentu). Subjek adalah

BAB III METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODA PENELITIAN. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah manajer dan staf yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Populasi pada penelitian ini adalah Unit Satuan Kerja Rumah Sakit PKU

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. perpajakan, kepatuhan wajib pajak dan kinerja penerimaan pajak. Sumber data

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan dengan menggunakan kuisioner. Kuisioner berisi tentang persepsi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Daerah (SKPD) yang ada di pemerintah kabupaten/kota se-provinsi Lampung.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel. adalah keputusan pembelian sepeda motor yamaha (Y)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. uji instrumen penelitian, analisis data dan pembahasan. Statistik deskriptif data,

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN. orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan

BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian kuantitatif yaitu metode

BAB III. METODE PENELITIAN. meneliti hubungan dua variabel atau lebih. Penelitian ini menguji pengaruh sikap,

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. kerumitan. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah sistem e-filling, sedangkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dengan karakteristik masalah yang berupa hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III. Metode Penelitian. penilitian terdiri dari variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III. penelitiannya berupa angka-angka dan analisisnya menggunakan metode statistik.

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

39 BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian dapat berupa tempat atau lokasi dilaksanakannya penelitian. Penelitian dilaksanakan di Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen. Subyek penelitian terdiri dari populasi dan sampel penelitian yang relevan dengan tujuan penelitian. Populasi merupakan sekumpulan elemen atau unsur yang dijadikan sebagai obyek dan obyek tersebut dapat dijadikan sebagai penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pejabat struktural eselon tingkat tiga dan tingkat empat pada dinas dan badan SKPD Kabupaten Sragen yang terdiri dari sekretariat/sekertaris, kepala bidang/bagian, tingkat kepala, serta kepala subbidang/subbagian. Pejabat struktural eselon tingkat tiga dan tingkat empat pada dinas dan badan SKPD Kabupaten Sragen yang terdiri dari sekretariat/sekertaris, kepala bidang/bagian, tingkat kepala, serta kepala subbidang/subbagian berjumlah 180. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari pejabat struktural eselon tingkat tiga dan tingkat empat pada dinas dan badan SKPD Kabupaten Sragen yang terdiri dari sekretariat/sekertaris, kepala bidang/bagian, tingkat kepala, serta kepala subbidang/subbagian. B. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan data penelitian yang diperoleh secara langsung dari 39

40 sumbernya. Data penelitian ini diperoleh secara langsung dari SKPD Kabupaten Sragen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang didalamnya berisi pertanyaan mengenai komitmen organisasi, sistem pengendalian intern pemerintah, akuntabilitas publik, partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah. C. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel didasarkan pada metode purposive sampling. Purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Kriteria-kriteria dalam penentuan sampel untuk penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1. Pejabat struktural eselon tingkat tiga dan eselon tingkat empat yang terdiri dari sekretariat/sekertaris, kepala bidang/bagian, tingkat kepala, serta kepala subbidang/subbagian dari badan dan dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen. 2. Pejabat struktural memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 3. Pejabat struktural yang bekerja lama bekerja minimal yaitu 6 tahun lamanya. D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan diberikan kepada responden untuk menelusuri data sesuai dengan permasalahan dalam penelitian. Kuesioner yang sudah terstruktur dibagikan kepada responden

41 secara langsung yang dimaksudkan untuk mengisi identitas responden dan untuk mengisi daftar pertanyaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan komitmen organisasi, sistem pengendalian intern pemerintah, akuntabilitas publik, partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah. E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel dependen dalam penelitian ini merupakan kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah. Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari komitmen organisasi, sistem pengendalian intern pemerintah, akuntabilitas publik, partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran. 1. Variabel Dependen a. Kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah Sujarweni (2015) menyatakan bahwa kinerja adalah suatu prestasi yang berhasil dicapai dari pelaksanaan kegiatan dengan tujuan untuk mencapai sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi. Kinerja manajerial dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan manajer dalam melakukan segala hal yang berhubungan dengan aktivitas manajemen yang meliputi perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staf, negosiasi dan perwakilan (Putri, 2013). Variabel kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Putri (2013) dan kuesioner tersebut terdiri dari delapan pertanyaan

42 mengenai perencanaan, investigasi, pengkoordinasiaan, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negosiasi dan perwakilan. Masingmasing diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS). 2. Variabel Independen a. Komitmen organisasi Robbins (2008) menyatakan bahwa komitmen organisasi merupakan tingkat sejauh mana seorang manajer memihak dan mengutamakan kepentingan suatu organisasinya dibandingkan dengan kepentingan pribadi yang bertujuan untuk memelihara keanggotaan dalam suatu organisasi. Komitmen organisasi juga merupakan tingkat sejauh mana seorang manajer akan berbuat sesuatu untuk menunjang keberhasilan organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Variabel komitmen organisasi menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Putri (2013) dan kuesioner tersebut terdiri dari tujuh butir pertanyaan mengenai komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, komitmen normatif. Masing-masing diukur dengan

43 menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya komitmen organisasi. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS). b. Sistem pengendalian intern pemerintah Afrida (2013) menyatakan bahwa sistem pengendalian intern terdiri dari kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan kepastian dan keyakinan bagi manajemen bahwa tujuan dan sasaran organisasi telah tercapai. Aren, dkk (2008) menyatakan bahwa SPIP (Sistem Pengendalian Intern Pemerintah) merupakan suatu proses yang dirancang oleh manajemen pemerintah untuk mendukung dalam pencapaian tujuan organisasi atau pemerintah. Variabel sistem pengendalian intern pemerintah menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Putri (2013) dan kuesioner tersebut terdiri dari dua puluh butir pertanyaan mengenai lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, serta informasi dan komunikasi. Masing-masing diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya sistem

44 pengendalian intern pemerintah. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS). c. Akuntabilitas publik Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa akuntabilitas publik merupakan suatu kewajiban pihak agent memberikan pertanggungjawaban, mengungkapkan, menyajikan dan melaporkan semua kegiatan dan aktivitas yang terjadi kepada pihak principal yang mempunyai wewenang serta hak untuk meminta pertanggungjawaban. Variabel akuntabilitas publik diukur dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Putri (2013) dan kuesioner tersebut terdiri dari sembilan pertanyaan mengenai akuntabilitas kebijakan, akuntabilitas program, akuntabilitas proses, akuntabilitas hukum. Masing-masing diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya akuntabilitas publik. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS).

45 d. Partisipasi anggaran Partisipasi anggaran adalah keikut sertaan, keterlibatan dan pengaruh manajer tingkat bawahan serta manajer tingkat menengah dalam proses penyusunan anggaran (Chong et.al, 2002). Partisipasi anggaran juga dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas kinerja manajerial pada satuan kerja perngkat daerah. Variabel partisipasi anggaran diukur dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Haryadi (2012) dan kuesioner tersebut terdiri dari lima pertanyaan mengenai keterlibatan dan pengaruh terhadap anggaran. Masing-masing diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya partisipasi anggaran. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS). e. Kejelasan sasaran anggaran Kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggung jawab (Sari dkk, 2014). Kejelasan sasaran anggaran dapat meningkatkan kinerja manajerial pada pemerintah daerah karena

46 dalam menyusun anggaran manajerial pemerintah harus menyusun sesuai dengan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Variabel kejelasan sasaran anggaran diukur dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Putra (2013) dan kuesioner tersebut berisi tujuh pertanyaan mengenai tujuan, kinerja, sasaran, jangka waktu, sasaran prioritas, tingkat kesulitan, koordinasi. Masing-masing diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala likert 1-5 dipakai dengan tujuan untuk mengukur respon dari responden. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan semakin tingginya kejelasan sasaran anggaran. Skala tersebut menunjukkan, yaitu: 1) Sangat tidak setuju (STS), 2) Tidak setuju (TS), 3) Kurang Setuju (KS), 4) Setuju (S), 5) Sangat setuju (SS). F. Uji Kualitas Instrumen dan Data 1. Uji Validitas Uji validitas dipakai untuk membantu dalam mengukur valid atau tidak validnya kuesioner. Ghozali (2011) menyatakan bahwa suatu kuesioner akan dikatakan valid jika pertanyaan yang ada pada kuesioner tersebut bisa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dapat diukur oleh kuesioner tersebut. Nazarudin dan Basuki (2015) menyatakan bahwa instrumen penelitian akan dinyatakan valid apabila KMO>0,5 dan mempunyai loading factor > 0,4.

47 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas merupakan seberapa jauh hasil pengukuran akan dapat dipercaya. Ghozali (2011) menyatakan bahwa uji reliabilitas dapat digunakan untuk menentukan apakah kuesioner dapat dipakai dalam beberapa kali pengukuran terhadap kelompok yang sama dengan memperoleh hasil yang relatif sama selama aspek yang diukur dalam diri subyek tidak berubah. Nazarudin dan Basuki (2015) menyatakan bahwa instrumen penelitian akan dikatakan reliabel apabila nilai cronbach alpha telah memenuhi karakteristik, yaitu sebagai berikut: a. Apabila alpha < 0,50 maka dapat dikatakan bahwa reliabilitas rendah b. Apabila alpha antara 0,50 0,70 maka dapat dikatakan bahwa reliabilitas moderat c. Apabila alpha antara 0,70 0,90 maka dapat dikatakan bahwa reliabilitas tinggi d. Apabila alpha > 0,90 maka dapat dikatakan bahwa reliabilitas sempurna 3. Statitik Deskriptif Statistik deskriptif dapat digunakan untuk memberikan deskripsi atau gambaran suatu data yang dapat dilihat dari nilai maksimum, minimum, rata-rata, sum, range dan standar deviasi. Dalam penelitan ini variabel yang digunakan adalah kinerja manajerial, komitmen organisasi, sistem

48 pengendalian intern pemerintah, akuntabilitas publik, partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran 4. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan dalam model regresi dan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan pelanggaran asumsi klasik (Putri, 2013). Uji asumsi klasik yang mendasari model regresi pada penelitian ini, yaitu uji normalitas data, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Penentuan dari setiap uji asumsi klasik adalah sebagai berikut: a. Uji normalitas data Uji normalitas data dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan mengetahui apakah dalam model regresi variabel residual atau pengganggu berdistribusi normal ataupun tidak berdistribusi normal (Ghozali, 2011). Ghozali (2011) menyatakan bahwa uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-smirnov. Nazarudin dan Basuki (2015) menyatakan bahwa jika hasil analisis nilai sig > alpha 0,05 maka model regresi dikatakan berdistribusi normal. b. Uji multikolinearitas Uji multikolinearitas dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan mengetahui ada atau tidaknya korelasi antar variabel bebas atau independen dalam model regresi (Ghozali, 2011). Deteksi adanya multikolinearitas atau tidak adanya multikolinearitas didalam suatu

49 model regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance (tolerance value) dan VIF (Variance Inflation Factor). Ghozali (2011) menyatakan bahwa jika hasil analisis menunjukkan hasil tolerance value > 0,10 dan VIF < 10 maka model regresi dikatakan tidak mengalami multikolinearitas. c. Uji heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan mengetahui apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual pengamatan satu ke pengamatan lainnya (Ghozali, 2011). Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat menggunakan uji glejser dengan cara meregresi nilai absolut residual sebagai variabel dependen dengan berbagai variabel independen yang ada. Ghozali (2011) menyatakan bahwa jika hasil analisis menunjukkan hasil nilai sig untuk semua variabel pada masing-masing persamaan > alpha 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengalami heteroskodesitas. G. Uji Hipotesis dan Analisis Data 1. Model Analisis Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen. Model ini terdiri dari lima variabel independen yaitu komitmen organisasi, sistem pengendalian intern pemerintah, akuntabilitas publik, partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran

50 anggaran serta satu variabel dependen yaitu kinerja manajerial pada satuan kerja perangkat daerah. Persamaan regresi berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + β5 X5+ ε Keterangan: Y = Kinerja Manajerial pada Satuan Kerja Perangkat Daerah α = Konstanta β1 = Koefisien regresi variabel komitmen organisasi β2 = Koefisien regresi variabel sistem pengendalian intern pemerintah β3 = Koefisien regresi variabel akuntabilitas publik β4 = Koefisien regresi variabel partisipasi anggaran β5 = Koefisien regresi variabel kejelasan sasaran anggaran X1 = Komitmen organisasi X2 = Sistem pengendalian intern pemerintah X3 = Akuntabilitas publik X4 = Partisipasi anggaran X5 = Kejelasan sasaran anggaran ε = Error of estimation 2. Uji Hipotesis a. Uji signifikan simultan (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk menguji dan mengetahui apakah terdapat pengaruh secara bersama-sama variabel independen terhadap variabel dependen. Jika hasil analisis menunjukkan hasil nilai sig f < alpha 0,05 maka terdapat pengaruh secara bersamasama variabel independen terhadap variabel dependen. b. Uji signifikan parsial (Uji t) Nazarudin dan Basuki (2015) menyatakan bahwa uji t dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing

51 variabel independen terhadap dependen. Kriteria hipotesis dinyatakan diterima apabila: 1) Nilai sig < alpha 0,05 2) Koefisien regresi searah dengan hipotesis c. Uji koefisien determinasi (Adjusted R Square) Nilai koefisien determinasi dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat kebenaran prediksi dari pengujian regresi yang dilakukan. Nilai adjusted R square dapat menunjukkan tingkat kemampuan model regresi dalam menjelaskan variabilitas variabel terikat atau dependen. Besarnya koefisien determinasi dari 0 sampai 1. Apabila hasil analisis diketahui semakin mendekati 0 maka semakin kecil kemampuan menjelaskan. Sebaliknya, Apabila hasil analisis diketahui semakin mendekati 1 maka semakin besar kemampuan menjelaskan variabel independen terhadap variabel dependen.