PENDAHULUAN Latar Belakang Penerapan desentralisasi di Indonesia sejak tahun 1998 menuntut daerah untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki secara arif dan bijaksana agar peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Desentralisasi bagai dua keping mata uang yang bisa berdampak baik maupun buruk bagi kelangsungan hidup setiap wilayah di segala bidang, yang oleh karenanya harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan hasil yang diinginkan. Adanya otonomi daerah ternyata belum mampu dimanfaatkan oleh semua daerah untuk mengembangkan wilayahnya. Sebagian daerah masih terbuai dengan otonomi sehingga substansi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat semakin sulit direalisasikan dan bahkan malah mengakibatkan terjadinya disparitas wilayah. Fenomena disparitas wilayah memang sudah menjadi hal yang biasa dalam perkembangan suatu wilayah karena berbagai alasan. Disparitas tersebut tidak hanya terjadi pada lingkup negara, bahkan sampai pada wilayah provinsi atau unit yang lebih rendah sekalipun. Sering kali disparitas menjadi permasalahan yang serius bagi setiap wilayah karena berpotensi menimbulkan konflik finansial, sosial, atau hubungan yang saling memperlemah antar wilayah. Wilayah hinterland akan menjadi lemah karena eksploitasi sumber daya yang berlebihan, sementara wilayah inti juga dapat menjadi lemah karena faktor urbanisasi yang tinggi. Penyebab disparitas menurut Anwar (2005), terdiri dari beberapa hal yaitu 1) Perbedaan karakteristik limpahan sumberdaya alam (resource endowment); 2) Perbedaan demografi; 3) Perbedaan kemampuan sumberdaya manusia (human capital); 4) Perbedaan potensi lokasi; 5) Perbedaan dari aspek aksesibilitas dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan; dan 6) Perbedaan aspek potensi pasar. Berdasarkan faktor tersebut maka dalam suatu wilayah akan terdapat beberapa macam karakteristik wilayah ditinjau dari aspek kemajuannya, yaitu: 1) Wilayah maju; 2) Wilayah sedang berkembang; 3) Wilayah belum berkembang; dan 4) Wilayah tidak berkembang.
2 Perbedaan perkembangan wilayah akan membentuk suatu struktur wilayah yang berhirarki, dimana wilayah yang telah maju cenderung akan cepat berkembang menjadi pusat aktifitas baik perekonomian maupun pemerintahan. Wilayah yang sumber daya alamnya kurang mendukung akan relatif kurang berkembang dan cenderung menjadi wilayah hinterland. Keadaan ini dapat menjadi faktor pendorong bagi sumber daya manusia untuk bekerja ke wilayah yang lebih berkembang dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya sehingga akan semakin sulit bagi wilayah ini untuk berkembang karena telah mengalami kekurangan sumberdaya manusia. Perkembangan wilayah di Provinsi Sumatera Barat secara kasat mata mengindikasikan terdapat disparitas wilayah. Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terpisah dari kabupaten/kota lainnya merupakan wilayah yang sangat jauh tertinggal dibandingkan wilayah lainnya. Secara umum, wilayah yang berada di bagian Selatan dan Utara juga lebih tertinggal dibandingkan dengan wilayah yang berada di bagian Tengah. Perbedaan lain juga dapat dilihat dimana wilayah kota perkembangannya jauh lebih baik dari wilayah kabupaten. Indikator disparitas tersebut dapat dilihat dari infrastruktur jalan, fasilitas ekonomi, serta sarana dan prasarana sosial. Faktor fisik wilayah di Sumatera Barat yang beragam seperti topografi, tutupan lahan, dan kerentanan terhadap bencana turut mempengaruhi terjadinya disparitas tersebut. Beranjak dari fenomena tersebut, bahwa karakteristik potensi wilayah Sumatera Barat baik yang bersifat alami maupun buatan, merupakan salah satu unsur yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan upaya pengurangan disparitas pembangunan antar wilayah kabupaten/kota yang ada. Strategi pengembangan wilayah yang mempertimbangkan keterkaitan antara kondisi sosial ekonomi, potensi sumberdaya alam, dan ketersediaan prasarana, serta kondisi fisik wilayah diharapkan mampu mengatasi permasalahan disparitas antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Dengan demikian diharapkan akan tercipta pemerataan (equity), pertumbuhan (eficiency), dan keberlanjutan (sustainability) dalam pembangunan wilayah. Strategi yang tepat dalam pengembangan wilayah diharapkan mampu untuk mengurangi disparitas yang terjadi antar wilayah.
3 Perumusan Masalah Provinsi Sumatera Barat yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera memiliki luas 42.297,30 km 2 atau setara dengan 2,17 persen luas Indonesia, memiliki topografi yang sangat bervariasi mulai dari dataran rendah di pantai hingga dataran tinggi di pegunungan. Secara administratif, wilayah Sumatera Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara di sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Bengkulu, sebelah Barat dengan Samudera Indonesia, dan sebelah Timur dengan Provinsi Riau. Jumlah daerah tingkat II di Sumatera Barat sampai tahun 2010 adalah sembilan belas kabupaten/kota dengan dua belas kabupaten dan tujuh kota dimana Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Pariaman, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan wilayah hasil pemekaran pasca otonomi daerah. Letak Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat yang relatif di tengah dan dikelilingi kabupaten/kota yang lain seyogyanya akan memudahkan untuk melakukan pembangunan secara lebih merata dengan menggunakan sistem hirarki antara inti dan hinterland. Seperti yang termuat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat 2009 2029, Kota Padang merupakan satu satunya Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang akan dikembangkan menjadi kawasan Metropolitan di Sumatera Barat atau wilayah lain yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), belum mampu secara maksimal meningkatkan daerah hinterland-nya untuk berkembang menjadi lebih baik. Gambaran makro perekonomian antara wilayah di Provinsi Sumatera Barat berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memperlihatkan distribusi yang tidak merata. Daerah yang memiliki PDRB paling dominan adalah Kota Padang (31,05 persen) sementara daerah lain yang memiliki PDRB di atas ratarata provinsi adalah Kabupaten Limo Puluh Koto (7,07 persen), Kabupaten Pasaman Barat (6,67 persen), Kabupaten Solok (5,46 persen), Kabupaten Tanah Datar (6,61 persen), Kabupaten Padang Pariaman (6,44 persen) dan Kabupaten Agam (7,74 persen) sementara untuk daerah lain berada di bawah rata-rata provinsi (5,26 persen) (BPS Sumatera Barat, 2009).
4 Data lain seperti sarana dan prasarana wilayah, juga menunjukkan terjadi ketimpangan antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Kondisi jaringan jalan tidak terdistribusi secara proporsional, dimana wilayah perkotaan memiliki rasio yang jauh lebih tinggi dibandingkan daerah kabupaten. Rasio panjang jalan per luas wilayah di Kota Bukittinggi mencapai 712,797 persen, sementara di Kabupaten Kepulauan Mentawai hanya 11,360 persen (RTRW Sumatera Barat 2009 2024). Beberapa wilayah masih ada yang belum dilalui jalan negara, bahkan Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak memiliki jalan provinsi. Sarana perekonomian dan fasilitas sosial lainnya juga tidak tersebar secara merata karena hanya berada pada wilayah perkotaan. Sarana perekonomian seperti bank, hanya terkonsentrasi pada beberapa kota utama seperti Kota Padang dan Kota Bukittingi. Fasilitas sosial seperti sekolah, di Kota Padang terdapat 82 jumlah SMA sederajat, sementara di Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Pasaman yang lebih luas wilayahnya hanya terdapat sekitar belasan SMA sederajat dan di Kabupaten Kepulauan Mentawai hanya ada lima SMA sederajat (BPS Sumatera Barat, 2009). Perbedaan faktor alam juga ikut meningkatkan terjadinya ketidakmerataan di Provinsi Sumatera Barat, seperti luas wilayah yang memiliki hutan lindung, dimana Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan hampir setengah wilayahnya memiliki kawasan lindung, sementara Kota Pariaman dan Kota Padang Panjang hampir tidak ditemui kawasan yang berfungsi sebagai hutan lindung (BPS Sumatera Barat, 2009). Potensi bencana yang besar di Sumatera Barat menjadi suatu permasalahan yang serius dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan. Secara umum perbedaan PDRB dan data sarana prasarana wilayah di atas memperlihatkan bahwa terdapat ketimpangan antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya sebagai kabupaten yang baru dimekarkan pasca tahun 1999 mempunyai nilai PDRB 1.066 miliar rupiah jauh di bawah rata-rata provinsi 3.612 miliar rupiah (BPS Sumatera Barat, 2009). Hal ini mengindikasikan bahwa potensi yang dimiliki belum mampu dieksploitasi secara maksimal atau memang wilayah tersebut tidak memiliki sumber daya yang cukup
5 untuk mengembangkan wilayahnya. Sementara Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung, dan Kabupaten Pasaman yang berada pada wilayah perbatasan juga memiliki nilai PDRB di bawah rata-rata provinsi. Dengan melihat kondisi di atas, serta dalam upaya mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dan menciptakan pemerataan di Provinsi Sumatera Barat, maka perlu dilakukan analisis dan identifikasi tingkat disparitas pembangunan antar wilayah dan faktor-faktor penyebab terjadinya disparitas tersebut, terutama dari aspek ekonomi, kondisi biofisik wilayah, ketersediaan sarana dan prasarana (sumberdaya buatan), dan indikator lainnya (Gambar 1). Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan perumusan masalah penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menentukan besarnya tingkat disparitas perekonomian antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. 2. Mengetahui tingkat perkembangan dan karakteristik dari wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. 3. Mengidentifikasi sektor unggulan yang dimiliki oleh setiap kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. 4. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. 5. Merumuskan strategi pengembangan wilayah untuk mengatasi masalah disparitas yang dapat diterapkan. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan dalam perumusan atau penyusunan kebijakan perencanaan pembangunan wilayah untuk mengurangi tingkat disparitas pembangunan wilayah di Provinsi Sumatera Barat.
6 Kerangka Pemikiran Otonomi Daerah Strategi Pengembangan Wilayah Prov. Sumbar Terjadinya Disparitas Wilayah Kondisi Prov. Sumbar saat ini PDRB tidak Merata Sarana dan Prasarana Sosial Ekonomi tidak merata Biofisik Wilayah Beragam Implikasi Kebijakan sosial politik Hubungan antar wilayah saling memperlemah Inefesiensi Terjadinya konflik Pemekaran Wilayah Menarik diteliti dan perlu pemecahan Identifikasi tingkat disparitas antar wilayah Identifikasi tingkat hirarki dan perkembangan wilayah Mempelajari karakteristik Biofisik Tipologi Wilayah Faktor Penyebab Disparitas Wilayah Strategi Pengembangan Wilayah Gambar 1. Kerangka Pemikiran