PENDAHULAUAN Latar Belakang Tubuh membutuhkan iodin untuk pembentukan hormon tiroid yaitu tiroksin (T 4 ) dan triiodotironin (T 3 ). Kedua hormon ini sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia maupun hewan. Dalam proses tumbuh da n kembang, hormon tiroid berfungsi sebagai katalisator reaksireaksi oksidatif dan pengaturan kecepatan metabolisme di dalam tubuh dan sasarannya untuk sintesis protein. Kekurangan iodin dapat menimbulkan permasalahan kesehatan yang cukup serius seperti penurunan IQ (intelektual), bisu tuli, gangguan pertumbuhan fisik yang paling parah (kerdil atau cebol), peningkatan kematian bayi dan neonatal, hipotiroidisme, berkurangnya kemampuan reproduksi, dan gondok. Semakin tinggi tingkat kekurangan iodin maka makin banyak komplikasi atau gangguan yang ditimbulkan akibat kekurangan iodin (GAKI). Gangguan akibat kekurangan iodin (GAKI) sampai saat ini masih merupakan masalah gizi utama yang dijumpai pada berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia. Dalam kurun wa ktu lebih dari 20 tahun, pemerintah Indonesia telah melakukan program intervensi seperti suplementasi dan fortifikasi guna menanggulangi masalah yang dimaksud. Berdasarkan hasil monitoring melalui survei nasional gondok sejak tahun 1982 sampai tahun 2003 diperoleh informasi penurunan prevale nsi GAKI yang sangat signifikan, walaupun kenyataannya angka ini kembali meningkat dari 9.8% pada tahun 1998 menjadi 11.1% (Tabel 1). Berdasarkan daerah pemukiman ditemukan bahwa lebih dari 50% daerah pegunungan seperti daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua cenderung mengalami penurunan prevalensi yang sangat signifikan sampai pada tahun 2003 (DepKes dan Bappenas RI. 2003). Sejak tahun 1990 masalah kekurangan iodin lebih banyak ditemukan di daerah pesisir pantai seperti NTT, Maluku, dan Jawa Timur. Hal ini berarti bahwa daerah pegunungan telah berhasil menurunkan angka prevalensi GAKI dibanding daerah pesisir pantai.
2 Gambaran penurunan prevalensi ini sejalan dengan penurunan total goiter rate (TGR) secara nasional, tetapi bertolak belakang dengan gambaran prevalensi TGR di Provinsi Maluku yang justru meningkat dari 11.3% (1982) menjadi 28.2% (1990) dan 33.3% (1998) kemudian pada tahun 2003 turun menjadi 31.6% (DepKes RI, 2003). Tabel 1 Gambaran Prevalensi GAKI Tingkat Nasional Periode 1982-2003 No Tahun Evaluasi Prevalensi (%) 1 1980 37.7 2 1982 37.2 3 1990 27.7 4 1998 9.8 5 2003 11.1 Sumber : Departemen Kesehatan RI dan Bappenas RI (2003). tidak perlu Secara teoretis, tingkat prevalensi yang cukup tinggi tersebut seharusnya terjadi mengingat daerah Maluku sangat kaya dengan hasil laut sebagai sumber iodin alamiah, dan konsumsi iodin pada masyarakat tersebut diperkirakan dapat mencukupi atau sesuai dengan kebutuhan yang dianjurkan. Kenyataan tersebut berimplikasi pada suatu pertanyaan mengapa daerah Maluku mempunyai prevalensi GAKI yang cenderung meningkat setiap tahun. Zat goiterogenik merupakan salah satu kelompok zat makanan yang bersifat antitiroid. Dachlan dkk. (1997) menemukan bahwa penduduk di Pulau Seram (Provinsi Maluku) cukup banyak mengkonsumsi bahan pangan yang merupakan sumber goiterogenik kelompok tiourea. Sedangkan Picauly (1999) juga menemukan bahwa di Pulau Nusalaut (Provinsi Maluku) penduduknya cukup sering dan banyak mengkonsumsi bahan pangan sumber goiterogenik kelompok tiosianat seperti daun + umbi singkong, rebung, terung, dan daun pepaya. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan secara langsung peranan tiosianat dalam mengganggu fungsi iodin dalam tubuh melalui binatang percobaan tikus putih. Perumusan Masalah Hetzel dan Dunn (1989) mengatakan bahwa kekurangan iodin merupakan penyebab utama munculnya masalah GAKI selain faktor lingkungan yang sangat berpengaruh pada proses menetap dan berkembangnya kasus-kasus baru di
3 daerah endemik (Standburry dan Hetzel, 1980). Faktor lingkungan yang terpenting adalah agen-agen yang menimbulkan gondok atau goiterogenik. Temuan dari beberapa hasil observasi epidemiologi di daerah endemik GAKI Provinsi Maluku menyebutkan bahwa pola konsumsi masyarakat ternyata sangat bervariasi pada jenis dan jumlah pangan baik sumber tiosianat maupun sumber iodin. Di samping itu, kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang juga diketahui dapat mempengaruhi jumlah kandungan zat iodin dan tiosianat dalam bahan pangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian dapat mempengaruhi jumlah masukan iodin atau tiosianat ke dalam tubuh. Thaha dkk. (1997) dalam penelitian epidemiologi di Provinsi Maluku menemukan beberapa kasus menarik untuk dikaji. Sebagian besar responden (83.4%) di Pulau Seram Utara (daerah non-endemik GAKI) mempunyai urinary iodine excretion (UIE) relatif rendah (< 99.9 ìg/l) yaitu 90 ì g/l dan urinary thyocyanate excretion (UTE) sebesar 27.8 ìg/l. Pada daerah endemik GAKI (Pulau Seram Barat) ditemukan nilai UIE sangat rendah (< 50 ìg/l ), yaitu 49.2 ì g/l dengan nilai UTE sebesar 23.2 ìg/l. Kasus di Pulau Seram Barat sama seperti yang dialami oleh masyarakat di Wilayah Sudan, Belgia, dan Malawi, yang mempunyai nilai UIE sangat rendah dan nilai UTE yang tinggi (Elnour et al., 2000 dan Hector et al., 1993). Kasus yang terjadi di Pulau Seram Barat merupakan suatu fenomena yang sudah sangat lazim dijumpai di daerah-daerah endemik GAKI, te tapi sangat tidak lazim terjadi di daerah non-endemik GAKI. Fenomena yang kontroversialterjadi di Pulau Banda (endemik GAKI) dan Pulau Buru (non-endemik GAKI) di Provinsi Maluku. Kedua daerah tersebut mempunyai tingkat endemisitas yang berbeda namun mempunyai nilai UIE yang rendah dan nilai UTE tinggi, masing-masing sebesar 66.4 ìg/l dan 41.3 ì g/l (Pulau Banda) dan sebesar 59 ìg/l dan 46.1 ì g/l (Pulau Buru). Dengan demikian, terlihat bahwa tiosianat merupakan variabel pengganggu sekaligus menjadi faktor risiko penting terjadinya endemisitas GAKI di daerah Maluku. Dugaan ini diperkuat dengan nilai rasio UIE/UTE yang mencapai nilai 1.3 untuk Pulau Buru (daerah non-endemik GAKI) dan 1.6 untuk
4 Pulau Banda (daerah endemik GAKI). Delange et al. (1994) mengatakan bahwa makin kecil (< 3) nilai rasio ini semakin tinggi tingkat endemisitas suatu daerah. Taurog et al. (1947) dan Salter et al. (1945) mengatakan bahwa tiosianat yang diperoleh dari bahan makanan dapat berperan antagonis dengan iodin dalam tubuh, di antaranya dalam menghambat proses transport aktif iodin menuju kelenjar tiroid dan mempengaruhi konsentrasi iodin eksratiroidal dalam jaringan serta proses sintesis hormon tiroid. Hal serupa disampaikan juga oleh Lang (1933) yang menyebutkan bahwa tiosianat dapat menghambat penyerapan iodin oleh kelenjar tiroid dan mengikat iodin organik (monoiodotironine / MIT dan diiodotironine / DIT) yang berada pada setiap sel sehingga menyebabkan persaingan yang berat antara tiosianat dan tiroksin serum yang terikat pada protein. Berdasarkan paparan di atas beberapa permasalahan utama yang dapat disimpulkan untuk mengetahui secara jelas peranan tiosianat dalam dinamika iodin adalah : 1. Adakah perubahan dinamika iodin akibat keberadaan tiosianat (yang diberikan dalam bentuk KCN) dalam tubuh tikus? 2. Berapakah jumlah masukan tiosianat (KCN) yang dianggap berpengaruh pada dinamika iodin dalam tubuh tikus? 3. Adakah pengaruh tiosianat (KCN) pada dinamika iodin dalam tubuh tikus yang diberikan pada ransum yang difortifikasi KIO 3? 4. Adakah hubungan antara pemberian dosis KCN dan perubahan dinamika iodin dalam tubuh tikus? 5. Bagaimanakah dampak fisiologis kekurangan iodin yang timbul akibat pemberian tiosianat (KCN) pada tubuh tikus? Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujua n yang akan dicapai secara umum adalah mempelajari seberapa besar peranan tiosianat dalam mempengaruhi dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin.
5 Tujuan Khusus Secara khusus beberapa tujuan yang akan dicapai adalah : 1. Mengetahui peranan tiosianat (KCN) dalam dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin. 2. Mengetahui pengaruh dosis KCN yang diberikan pada tikus terhadap kecepatan terjadinya perubahan dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin. 3. Mengetahui peranan fortifikan KIO 3 dalam dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin. 4. Mengetahui hubungan antara dosis KCN dalam ransum dan perubahan dinamika iodin dalam tubuh tikus. 5. Mengidentifikasi dampak fisiologis kekurangan iodin akibat peranan tiosianat pada tubuh tikus. Hipotesis Penelitian Secara umum hipotesis penelitian adalah tiosianat berperan dalam perubahan dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin. Secara khusus beberapa hal yang dihipotesiskan antara lain : 1. Asupan KCN yang lebih tinggi dari pada asupan iodin akan menyebabkan perubahan dinamika iodin dalam tubuh tikus. 2. Jumlah asupan KCN tinggi tetapi diikuti dengan pemberian ransum yang difortifikasi iodin (KIO3) dapat mengembalikan dinamika iodin dalam tubuh tikus pada kondisi normal. 3. Pemberian KCN dan fortifikasi KIO3 dalam ransum tikus dapat mempengaruhi dinamika iodin dalam tubuh tikus. 4. Perubahan fisiologis pada tubuh tikus yang kekurangan iodin terjadi akibat keberadaan tiosianat dalam tubuh tikus.
6 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam bentuk : 1. Menjelaskan peranan zat goiterogenik kelompok tiosianat (KCN) dalam menghambat mekanisme distribusi atau dinamika iodin dalam tubuh tikus yang kekurangan iodin dan tidak kekurangan iodin. 2. Membuktikan hipotesis bahwa faktor yang diduga turut berperan dalam tingginya tingkat prevalensi GAKI di Maluku adalah faktor lingkungan yang salah satunya adalah zat goiterogenik kelompok tiosianat (KCN). 3. Memberikan jawaban terhadap salah satu penyebab tingginya prevalensi daerah endemik di daerah endemik wilayah pantai Endemic Coastal Goiter.