HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Konsumsi Pakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kelinci New Zealand White berasal dari Amerika. Menurut Tambunan dkk.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Kandungan Nutrien Silase dan Hay Daun Rami (%BK)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk. Domba Lokal memiliki bobot badan antara kg pada

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam jangka waktu tertentu. Tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat

HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kandungan Nutrien Daging pada Beberapa Ternak (per 100 gram daging) Protein (g) 21 19, ,5

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan kaidah-kaidah dalam standar peternakan organik. Pemeliharaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Onggok Terfermentasi Bacillus mycoides terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. Hasil analisis proksimat bahan pakan No Bahan Protein (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DA PEMBAHASA. Konsumsi Bahan Kering Ransum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Puyuh mengkonsumsi ransum guna memenuhi kebutuhan zat-zat untuk

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan waktu, pertambahan jumlah penduduk,

MATERI. Lokasi dan Waktu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu

TINJAUAN PUSTAKA Kelinci Pertumbuhan Kelinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4.

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Potensi Kambing sebagai Ternak Penghasil Daging

MATERI DAN METODE. Gambar 3. Domba yang Digunakan Dalam Penelitian

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kendala pada peternak disebabkan mahalnya harga bahan baku, sehingga

Gambar 6. Pemberian Obat Pada Domba Sumber : Dokumentasi Penelitian

PEMBAHASAN. Zat Makanan Ransum Kandungan zat makanan ransum yang diberikan selama penelitian ini secara lengkap tercantum pada Tabel 4.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap dalam ransum

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan 24 ekor Domba Garut jantan muda umur 8 bulan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan

METODE. Materi. Gambar 2. Contoh Domba yang Digunakan dalam Penelitian Foto: Nur adhadinia (2011)

TINJAUAN PUSTAKA. Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Ternak Domba. Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan

I. PENDAHULUAN. dan diusahakan sebagai usaha sampingan maupun usaha peternakan. Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE. Materi

BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN. Rataan kecernaan protein ransum puyuh yang mengandung tepung daun lamtoro dapat dilihat pada Tabel 7.

BAB I PENDAHULUAN. dapat mencapai 60%-80% dari biaya produksi (Rasyaf, 2003). Tinggi rendahnya

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar. Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tij FK = = = = p.r 3 x 6 18 JK(G) = JK(T) JK(P) = ,50 = ,50

TINJAUAN PUSTAKA. Broiler adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut ayam hasil

MATERI DAN METODE. Materi

I. PENDAHULUAN. Peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA Kelinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Imbangan Efisiensi Protein pada Kelinci Rex...Yanuar Adi Prasetyo W

BAB I PENDAHULUAN. banyak membutuhkan modal dan tidak memerlukan lahan yang luas serta sebagai

Keterangan: * = berbeda nyata (P<0,05)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rataan jumlah konsumsi pakan pada setiap perlakuan selama penelitian dapat. Perlakuan R1 R2 R3 R4 R5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan yaitu Domba Garut betina umur 9-10 bulan sebanyak

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing,

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelinci lokal dengan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum Tinggi dan rendahnya konsumsi ransum dapat diperoleh dari selisih antara jumlah pakan yang diberikan dengan sisa pakan (g/ekor/hari). Konsumsi ransum dihitung setiap hari selama penelitian. Pakan yang dikonsumsi sudah dikonversikan dalam bentuk bahan kering (total bahan kering dari hijauan dan pelet). Data rataan konsumsi dalam bahan kering ransum kelinci dapat dilihat pada Tabel 8 dibawah ini. Tabel 8. Rataan konsumsi ransum kelinci dalam bahan kering (BK) selama penelitian (g/ekor/hari) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan±sd P0A 61,53 63,41 64,83 64,96 254,73 63,68±1,60 P0B 64,84 64,74 67,25 64,12 260,95 65,24±1,38 P1 64,19 63,18 64,57 65,01 256,95 64,24±0,78 P2 61,21 62,12 62,36 62,61 248,29 62,07±0,61 P3 67,90 71,30 69,15 72,33 280,68 70,17±2,01 P4 63,88 70,13 67,33 68,35 269,68 67,42±2,63 Total 383,56 394,86 395,49 397,37 1571,29 Rataan 63,93 65,81 65,92 66,23 65,47 Dari Tabel 8 menunjukkan bahwa rataan konsumsi ransum tertinggi adalah P 3 sebesar 70,17±2,01 g/ekor/hari, kemudian diikuti oleh P 4 sebesar 67,42±2,63 g/ekor/hari, P 0B sebesar 65,24±1,38 g/ekor/hari, P 1 sebesar 64,24±0,78 g/ekor/hari, P 0A sebesar 63,68±1,60 g/ekor/hari dan rataan konsumsi paling rendah adalah P 2 sebesar 62,07±0,61 g/ekor/hari. Menurut NRC (1977), secara umum jumlah konsumsi bahan kering kelinci usia muda yaitu 112-173 g/ekor/hari. Rataan konsumsi yang diperoleh dalam

penelitian ini tidak lebih tinggi ataupun lebih rendah yaitu 63,93 g/ekor/hari hingga 66,23 g/ekor/hari atau 447,51 g/ekor/minggu hingga 463,61 g/ekor/mingu jika dibandingkan dengan konsumsi ransum menurut Hariadi et all. (1983), yang menggunakan objek kelinci jantan yang diberi ransum mengandung tepung daun lamtoro diperoleh konsumsi ransum berkisar 430-551 (g/ekor/minggu). Pada perlakuan P 2 (ransum 20% ampas kelapa fermentasi A. niger) pada Tabel 8 diatas, konsumsi rendah meskipun sudah difermentasi dengan Aspergillus niger. Hal disebabkan karena konsumsi ransum dipengaruhi oleh kondisi ternak itu sendiri dan kondisi lingkungan pada saat pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartadisastra (1994) yang menyatakan bahwa tinggi rendahnya konsumsi pakan dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu lingkungan dan faktor internal atau kondisi ternak sendiri yang meliputi temperatur lingkungan, palatabilitas, status fisiologi yaitu umur, jenis kelamin dan kondisi tubuh, konsentrasi nutrien, bentuk pakan, bobot tubuh dan produksi. Hal ini juga didukung oleh Blakely and Bade (1998), yang menyatakan bahwa jumlah pakan kelinci tiap harinya bervariasi berdasarkan ukuran atau besarnya kelinci serta tahapan atau tingkatan produksinya. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ransum perlakuan dengan perbedaan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan level yang berbeda menyebabkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) pada tingkat konsumsi kelinci rex. Terdapat kecenderungan peningkatan konsumsi ransum dengan penambahan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape. Mengetahui informasi perlakuan yang terbaik dalam konsumsi ransum dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9. Uji ortogonal kontras terhadap konsumsi ransum SK db JK KT Fhit F tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 168,78618 33,757236 12,35** 2,77 4,25 P 0A P 0B vs 1 12,26140 12,26140 4,49* 4,41 8,28 P 1 P 2 P 3 P4 P 0A vs P0B 1 4,83605 4,83605 1,77 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P4 1 127,23840 127,23840 46,56** 4,41 8,28 P 1 vs P2 1 9,35281 9,35281 3,42 4,41 8,28 P 3 vs P4 1 15,09751 15,09751 5,52* 4,41 8,28 Galat 18 49,19080 2,7328222 Total 23 217,97698 Ket : * : berbeda nyata; ** : berbeda sangat nyata; : tidak berbeda nyata Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras pada Tabel 9 diatas menunjukkan bahwa penambahan tepung ampas kelapa fermentasi dalam pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap konsumsi ransum daripada ampas kelapa yang tidak difermentasi. Hal ini disebabkan karena tepung ampas kelapa yang difermentasi sangat disukai oleh ternak karena aroma yang harum spesifik yang dikeluarkan oleh ampas kelapa fermentasi sehingga menambah palatabilitas ransum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (1997), yang menyatakan bahwa pakan yang difermentasi cukup palatabel dan disukai ternak. Fermentasi menghasilkan produk dengan rasa, aroma dan tekstur yang lebih disukai oleh ternak. Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras pada Tabel 9 diatas menunjukkan bahwa ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata dengan ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger terhadap konsumsi ransum. Hal ini disebabkan karena palatabilitas terhadap ransum yang difermentasi dengan ragi tape tinggi, aroma

pakan yang lebih disukai ternak, kondisi fisik ternak selama pemeliharaan serta keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi konsumsi dari ternak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Piliang (2000), yang menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, bobot badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan. Pertambahan Bobot Badan Pertambahan bobot badan dapat diketahui berdasarkan selisih antara penimbangan bobot akhir dengan penimbangan bobot badan awal yang dihitung setiap minggu. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil rataan bobot badan kelinci selama penelitian seperti yang tertera pada Tabel 10 dibawah. Tabel 10. Rataan pertambahan bobot badan kelinci selama penelitian (g/ekor/hari) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan±sd P0A 11,68 17,63 17,32 16,13 62,75 15,69±2,75 P0B 17,50 15,50 17,48 15,59 66,07 16,52±1,12 P1 15,82 18,66 19,30 15,63 69,41 17,35±1,90 P2 15,05 14,71 14,02 17,14 60,93 15,23±1,34 P3 19,73 21,43 19,79 21,96 82,91 20,73±1,14 P4 14,04 20,21 19,66 20,57 74,48 18,62±3,08 Total 93,82 108,14 107,57 107,02 416,55 Rataan 15,64 18,02 17,93 17,84 17,36 Tabel 10 diatas menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan bobot badan tertinggi adalah P 3 sebesar 20,73±1,14 g/ekor/hari, kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan P 4 sebesar 18,62±3,08 gram/ekor/hari, P 1 sebesar 17,35±1,90 g/ekor/hari, P 0B sebesar 16,52±1,12 g/ekor/hari, P 0A sebesar 15,69±2,75 g/ekor/hari dan pertambahan bobot badan terendah pada perlakuan P 2 sebesar 15,23±1,34 g/ekor/hari.

Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh dari penelitian ini adalah 17,36 g/ekor/hari. Hasil ini lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan oleh Sari (2010), dengan menggunakan kulit nenas dalam ransum serta menggunakan objek kelinci jenis new zealand white jantan menghasilkan rataan pertambahan bobot badan sebesar 11,69 g/ekor/hari. Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukan bahwa ransum perlakuan dengan perbedaan ampas kelapa yang difermentasi dengan dua fermentor menyebabkann perbedaan yang nyata (P<0,05) pada tingkat pertambahan bobot badan kelinci. Mengetahui informasi perlakuan terbaik dapat dilihat pada uji ortogonal kontras pada Tabel 11 dibawah. Tabe 11. Uji ortogonal kontras terhadap pertambahan bobot badan SK db JK KT Fhit F tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 83,85293 16,77058 4,03* 2,77 4,25 P 0A P 0B vs 1 18,82507 18,82507 4,52* 4,41 8,28 P 1 P 2 P 3 P4 P 0A vs P0B 1 1,36951 1,36951 0,33 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P4 1 45,76522 45,76522 10,99** 4,41 8,28 P 1 vs P2 1 9,01001 9,01001 2,16 4,41 8,28 P 3 vs P4 1 8,88311 8,88311 2,13 4,41 8,28 Galat 18 74,98942 4,16607 Total 23 158,84236 Ket : * : berbeda nyata; ** : berbeda sangat nyata; : tidak berbeda nyata Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras pada Tabel 11 diatas diketahui bahwa pakan yang difermentasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan kelinci daripada pakan yang tidak difermentasi. Hal ini disebabkan karena konsumsimya yang tinggi dan daya cernanya terhadap pakan yang diberikan juga tinggi. Kelinci yang memiliki tingkat palatabilitas tinggi dapat mengkonsumsi lebih banyak bahan kering sehingga pertambahan bobot badannya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winarno et al. (1980)

yang menyatakan bahwa bahan pakan yang mengalami fermentasi biasanya mempunyai nilai nutrisi yang lebih tinggi daripada bahan asalnya antara lain meningkat protein kasarnya dan menurun kandungan serat kasarnya. Hal ini disebabkan karena mikrobia bersifat memecah komponen-komponen yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna, tetapi juga mensintesa beberapa vitamin seperti riboflavin, vitamin B12 dan provitamin A. Pertambahan bobot badan yang tinggi juga dipengaruhi oleh terjadinya dua kali fermentasi baik dalam pakan maupun fermentasi dalam caecum kelinci yang dikeluarkan dalam bentuk feses lembek yang dimakan kembali oleh kelinci yang menyebabkan kecernaan pakannya tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anon (2011), yang menyatakan bahwa kelinci termasuk kedalam autocoprophagy, yaitu kelinci membuang feses dari saluran pencernaannya dalam 2 bentuk, feses kering keras dan juga feses lembek berlendir dikeluarkan pada malam hari dan pagi hari. Feses yang lembek berlendir inilah yang dimakan kembali oleh kelinci langsung dari duburnya, ini dilakukan untuk memanfaatkan protein, serat kasar tumbuhan, vitamin yang terkandung dalam feses. Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras pada Tabel 11 diatas menunjukkan bahwa pakan yang difermentasi dengan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan bobot badan daripada pakan yang difermentasi dengan Aspergillus niger. Hal ini disebabkan oleh konsumsi ransum yang rendah dan daya cerrnanya yang kurang terhadap pakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartadisastra (1997), yang menyatakan bahwa bobot badan ternak biasanya berbanding lurus dengan tingkat dari konsumsi pakannya.

Hal itu berarti bahwa konsumsi pakan akan memberikan gambaran nutrien yang didapat oleh ternak sehingga mempengaruhi pertambahan bobot badan ternak. Rendahnya pertambahan bobot badan juga disebabkan oleh kualitas dan kuantitas bahan pakan yang yang ada dalam ransum dan juga keadaan ternak pada saat pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fiberty (2002), yang menyatakan bahwa kualitas pakan tergantung pada komposisi nutrisi yang terkandung didalamnya terutama terhadap bahan kering, protein kasar, serat kasar, lemak kasar dan tingkat kecernaan. Hal ini didukung juga oleh Ali dan Badriyah (2010), yang menyatakan bahwa kebutuhan nutrien bagi ternak tergantung dari jenis ternak, umur, bobot badan, fase tumbuh, produksi serta lingkungan pemeliharaan. Semakin besar bobot badan, produksi dan pertumbuhan cepat maka kebutuhan nutrien lebih banyak. Menurut Rizqiani (2011) menyatakan bobot awal kelinci mempengaruhi bobot hidup kelinci, karena ketika bobot awalnya lebih tinggi maka memungkinkan hasil bobot akhirnya lebih tinggi juga. Konversi Ransum Konversi ransum pada penelitian ini dihitung dalam bentuk bahan kering dengan cara membandingkan banyak jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dicapai setiap minggu. Rataan konversi ransum selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 12 dibawah. Tabel 12. Rataan konversi ransum kelinci selama penelitian Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 Total Rataan±sd P0A 5,27 3,60 3,74 4,03 16,64 4,16±0,76 P0B 3,71 4,18 3,85 4,11 15,84 3,96±0,22 P1 4,06 3,39 3,34 4,16 14,95 3,74±0,43 P2 4,07 4,22 4,45 3,65 16,39 4,10±0,34 P3 3,44 3,33 3,50 3,29 13,56 3,39±0,09 P4 4,55 3,47 3,42 3,32 14,77 3,69±0,58

Total 25,09 22,18 22,30 22,57 92,14 Rataan 4,18 3,70 3,72 3,76 3,84 Dari Tabel 12 diatas menunjukkan bahwa rataan konversi ransum tertinggi adalah P 0A sebesar 4,16±0,76, kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan P 2 sebesar 4,10±0,34, P 0B sebesar 3,96±0,22, P 1 sebesar 3,74±0,43,P 4 sebesar 3,69±0,58, dan rataan konversi ransum yang terendah adalah kelinci yang diberi perlakuan P 3 yaitu sebesar 3,39±0,09. Berdasarkan hasil analisis keragaman menunjukkan menunjukkan bahwakonversi ransum menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Semakin tinggi nilai konversi ransum maka semakin kurang efisien ternak tersebut mengubah ransum menjadi daging. Kandungan nutrisi pada ransum perlakuan menyebabkan konversi yang rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sarwono (1996), yang menyatakan bahwa baik atau tidak mutu pakan ditentukan oleh keseimbangan zat gizi pada pakan yang dibutuhkan oleh tubuh ternak. Ternak akan mengkonsumsi pakan secara berlebihan untuk mencukupi kekurangan zat yang diperlukan apabila pakan kekurangan salah satu zat gizinya. Mengetahui informasi perlakuan terbaik dalam konversi ransum dapat dilihat pada Tabel 13 dibawah. Tabel 13. Uji ortogonal kontras terhadap konversi ransum SK db JK KT Fhit F tabel 0,05 0,01 Perlakuan 5 1,67687 0,33537 1,58 2,77 4,25 P 0A P 0B vs 1 0,58963 0,58963 2,78 4,41 8,28 P 1 P 2 P 3 P4 P 0A vs P0B 1 0,07801 0,07801 0,37 4,41 8,28 P 1 P 2 vs P 3 P4 1 0,57002 0,57002 2,69 4,41 8,28 P 1 vs P2 1 0,25920 0,25920 1,22 4,41 8,28 P 3 vs P4 1 0,18000 0,18000 0,85 4,41 8,28 Galat 18 3,81202 0,21177 Total 23 5,48889 Ket : * : berbeda nyata; ** : berbeda sangat nyata; : tidak berbeda nyata

Pada perlakuaan P 3 (ransum10% ampas kelapa fermentasi ragi tape), rendahnya konversi pakan disebabkan oleh konsumsi pakan yang tinggi dan pertambahan bobot badan yang tinggi pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Campbell dan Lasley (1985) yang menyatakan bahwa konversi ransum tergantung kepada : (1) kemampuan ternak untukmencerna zat makanan, (2) kebutuhan ternak akan energi dan protein untukpertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya, (3) jumlah makanan yanghilang melalui metabolisme dan kerja yang tidak produktif dan (4) tipe makananyang dikonsumsi, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi ransumadalah genetik, umur, berat badan, tingkat konsumsi makanan, pertambahan bobotbadan perhari, palatabilitas dan hormon. Hal ini didukung oleh Lubis (1993), yang menyatakan bahwa konversi ransum sangat dipengaruhi oleh kondisi ternak, daya cerna, jenis kelamin, bangsa, kualitas dan kualitas ransum dan faktor lingkungan. Pada perlakuan P0A(ransum dengan penambahan 10 % ampas kelapa tanpa fermentasi), tingginya konversi pakan disebabkan karena konsumsi dan pertambahan bobot badan yang rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyid (2009), yang menyatakan bahwa rataan konversi pakan yang tinggi disebabkan oleh rataan konsumsi yang rendah yang menyebabkan bobot badan yang rendah.

Rekapitulasi Hasil Penelitian Data hasil penelitian yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada gambar berikut ini. 80,00 70,00 60,00 63,68 65,24 64,24 62,07 70,17 67,42 50,00 40,00 30,00 20,00 15,69 16,52 17,35 15,23 20,73 18,62 10,00 0,00 4,16 3,96 3,74 4,10 3,39 3,69 P0A P0B P1 P2 P3 P4 Konsumsi PBB Konversi P 0A : Ransum 10% tepungampas kelapa tanpa fermentasi; P 0B : Ransum 20% ampas tepungkelapa tanpa fermentasi; P 1 : Ransum 10% tepungampas kelapa fermentasi Aspergillus. niger; P 2 : Ransum 20% tepungampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P 3 : Ransum 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape; P 4 : Ransum 20% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape. Gambar 10. Histogram rekapitulasi hasil penelitian Gambar diatas menunjukkan masing-masing peubah penelitian setiap perlakuan. Rekapitulasi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan P 3 terbaik pada masing-masing peubah penelitian. Pertambahan bobot badan

terendah terdapat pada perlakuan P 2 dan konversi ransum yang tertingggi terdapat pada perlakuan P 0A. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penggunaan tepung ampas kelapa (Cocos nucifera L.) yang difermentasi dapat digunakan sebagai pakan alternatif dalam ransum kelinci rexkarena akan meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi ransum. Perlakuan terbaik terdapat pada ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi dengan ragi tape pada level 10% Saran Disarankan agar menggunakan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape sebagai bahan pakan untuk ternak kelinci rex sampai level 10%.