23 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Vegetasi Tumbuhan Bawah Berdasarkan hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah pada 20 buah petak contoh di Arboretum PT Arara Abadi diperoleh jumlah tumbuhan bawah sebanyak 12 spesies yang termasuk ke dalam 4 famili. Seluruh spesies tumbuhan yang diperoleh disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Nama, famili dan habitus seluruh spesies yang dijumpai pada petak pengamatan vegetasi di Arboretum PT Arara Abadi No. Nama lokal Nama ilmiah Famili Habitus 1 Sianik/cantel Sorgum halepense Poaceae Rumput 2 Jampang pait Paspalum conjugatum Poaceae Rumput 3 Jukut pait Axonopus compressus Poaceae Rumput 4 Jukut jampang Eleusine indica Poaceae Rumput 5 Grinting Cynodon dactylon Poaceae Rumput 6 Ilalang Imperata cylindrica Poaceae Rumput 7 Rumput teki Cyperus rotundus Poaceae Rumput 8 Paku antu Asplenium salignum Polypodiaceae Perdu 9 Pakis andam Nephrolepis cordifolia Polypodiaceae Perdu 10 Paku resam Gleichenia microphylla Polypodiaceae Perdu 11 Rayutan Artemisia vulgaris Vitaceae Perdu 12 Pandan Pandanus sp. Pandanaceae Perdu Dari 4 famili yang diperoleh, diketahui famili dengan jumlah spesies terbesar adalah Poaceae yaitu sebanyak 7 spesies. Spesies yang paling banyak ditemukan dari famili ini adalah sianik/cantel (Sorgum halepense). Jumlah famili yang terkecil yaitu Vitaceae dan Pandanaceae berjumlah 1 spesies. Berdasarkan Tabel 4, spesies tumbuhan yang dijumpai terdiri dari habitus yang berbeda. Bentuk dari habitus tumbuhan tersebut yaitu berupa rumput dan perdu. Hasil persentase bentuk habitus pada tumbuhan yang dijumpai pada petak pengamatan vegetasi di Arboretum PT Arara Abadi disajikan pada Gambar 2.
24 Persentase habitus terbesar pada tumbuhan di petak pengamatan berupa rumput yang didominasi oleh spesies rumputrumputan sebesar 58,33%. Persentase terkecil berupa perdu yang di dominasi oleh spesies pakupakuan sebesar 41,67%. 41,67% 58,33% Rumput Perdu Gambar 2 Diagram persentase habitus spesies. Lokasi arboretum ini didominasi oleh spesies rumputrumputan karena sebagian besar lokasi pengikatan gajah berupa daerah rawa gambut. Daerah rawa gambut dengan tanah yang memiliki drainase yang buruk atau cukup basah. Sebagian besar tumbuhan rumput dapat hidup di berbagai kondisi daerah dan pada umumnya cocok hidup di daerah yang terbuka, lembab, dan basah (Sastrapraja dan Afriastini 1980) hal yang berbeda bila dibandingkan dengan spesies paku pakuan yang hidup sebagian besar pada daerah lembab hingga kering. 5.1.1 Kerapatan Kerapatan menyatakan jumlah individu suatu spesies di dalam suatu unit areal/ruang. Tingkatan kerapatan suatu spesies dalam komunitas menentukan struktur dari komunitas tersebut. Kerapatan spesies tumbuhan sebagai salah satu.indikator untuk menduga kepadatan spesies tumbuhan dari hasil analisis vegetasi Kerapatan yang paling tinggi ditunjukkan oleh spesies sianik/cantel (Sorgum halepense) dengan nilai kerapatan sebesar 175.500 ind/ha, sedangkan nilai kerapatan yang terkecil ditunjukan pada pandan (Pandanus sp..) sebesar 3.000 ind/ha. Kerapatan dari semua spesies tumbuhan yang ditemukan pada petak pengamatan disajikan dalam Lampiran 1.
25 5.1.2 Dominansi spesies tumbuhan Peranan suatuu jenis dalam komunitas dapat dilihat dari besarnya INP. Jenis yang memiliki nilai INP tertinggi merupakan jenis dominan. Berdasarkan indeks nilai pentingnya spesies tumbuhan yang ditemukan didominasi oleh sianik/cantel (Sorgum halepense) ) sebesar 45,71%. Nilai dominansi yang tinggi pada sianik/cantel menunjukkan bahwa spesies ini memiliki tingkat kesesuaian terhadap lingkungan yang lebih tinggi atau dapat memanfaatkan lingkungan yang ditempatinya secara efisien dari spesies yang lain dalam tempat yang sama. Nilai INP dari semua spesies tumbuhan yang ditemukan di plot pengukuran disajikan pada Gambar 3. Indeks Nilai 50 40 30 20 10 0 45,71 35,76 28,77 17,63 13,66 12,28 10,2510,01 9,27 9,27 6,,82 3,01 INP (%) Gambar 3 Indeks Nilai Penting spesies. 5.1.3 Keanekaragaman spesies Pada petak pengamatan didapat tumbuhan sebanyak 12 spesies. Nilai Indeks ShannonWiener atau Indeks Keanekaragaman (H ) sebesar 2,01 Menurut Soerianegara dan Indrawan (2005), nilai H diatas 3 menunjukkan keanekaragaman yang tinggi dan untuk nilai 13 dikatakan keanekaragaman sedang dan untuk nilai H kurang dari 1 keanekaragamannya rendah. Dengan demikian keanekaragaman spesies pada petak pengamatan tergolong sedang, perhitungan selengkapnya disajikan pada Lampiran 2.
26 5.2 Spesies dan Bagian Tumbuhan Pakan Gajah Sumatera Gajah merupakan satwa herbivora yang pakannya bersumber pada tumbuhtumbuhan yang meliputi daun, batang, kulit batang, umbut, akar, buah dan bunga (Ciszek 1999). Di habitat alaminnya gajah menjelajah hutan untuk mencari pakan guna memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan hasil analisis vegetasi diketahui terdapat 12 spesies tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai pakan gajah. Berdasarkan pengamatan terhadap bagian tumbuhan yang dimakan oleh gajah, gajah mengkonsumsi bagianbagian tertentu dari tumbuhan yang berupa batang, bunga, daun, dan akar. Bagian tumbuhan yang dimakan oleh gajah, baik yang dilihat secara langsung maupun tidak langsung disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Spesies pakan gajah sumatera dan bagian tumbuhan yang dimakan pada petak pengamatan vegetasi di Arboretum PT Arara Abadi No. Nama Lokal Bagian yang dimakan Batang Bunga Daun Akar 1 Cantel/Sianik v v v v 2 Jampang pait v v v v 3 Jukut pait v v v v 4 Jukut jampang v v v v 5 Grinting v v v v 6 Ilalang v v v v 7 Rumput teki v v v v 8 Paku antu v v 9 Pakis andam v v 10 Paku Resam v v 11 12 Rayutan/baru cina Pandan v v v v v Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa terdapat 7 spesies tumbuhan yang seluruh bagiannya dimakan oleh gajah, sebanyak 4 spesies tumbuhan hanya dimakan bagian batang dan daunnya, dan sebanyak 1 spesies tumbuhan yang dimakan bagian batang, bunga dan daunnya. Persentase bagian tumbuhan yang di makan disajikan pada Gambar 4.
27 8,33% 58,33% 33, 33% Batang + bunga + daun Batang + daun Seluruh Bagian Gambar 4 Diagram persentase bagian tumbuhan yang dimakan. Berdasarkan Gambar 4, sebagian besar gajah mengkonsumsi lebih dari satu bagian tumbuhan pakan. Bagian tumbuhan pakan yang paling banyak dikonsumsi oleg gajah yaitu seluruh bagian dengan persentase 58,33%, bagian batang + daun sebesar 33,33%, dan bagian batang + bunga + daun sebesar 8,33%. Gajah memakan rumput mulai dari bagian atas hingga bagian akar, setelah dibersihkan dari tanah dan lumpur dengan cara mengkibaskan rumput tersebut. Pemilihan bagian tumbuhan pakan dipengaruhi oleh tingkat kesukaan gajah dan dipengaruhi oleh musim (Sukumar 2003). 5.3 Palatabilitas Pakan Gajah Sumatera Berdasarkan hasil pengamatan palatabilitas pakan gajah, khususnya tumbuhan bawah dengan cara membuat 20 plot berukuran 1x1m 2 dari plot analisis vegetasi diperoleh spesies tumbuhan pakan sebanyak 12 spesies. Spesies tumbuhan pakan tersebut terdiri dari rumputrumputan dan pakupakuan. Diantara 12 spesies tersebut 4 spesies yang paling disukai oleh gajah yaitu sianik/cantel (Sorgum halepense), jampang pait (Paspalum conjugatum), jukut pait (Axonopus compressus), dan jukut jampang (Eleusina indica). Masingmasinpalatabilitas sebesar 1,00; 0,86; 0,67; dan 0,60 yang berarti spesies memiliki tingkatan disukai oleh gajah. Spesies yang kurang disukai oleh gajah yaitu rayutan (Artemisia vulgaris) ) dengan tingkatan palatabilitasnya sebesar 0,25. Nilai palatabilitas spesies tumbuhan yang dimakan oleh gajah di petak pengamatan selengkapnya disajikan pada Tabel 6.
28 Tabel 6 Jenis pakan gajah dan tingkat palatabilitasnya di lokasi pengamatan Arboretum PT Arara Abadi No Nama Spesies Nama Ilmiah Palatabilitas 1 Sianik/cantel Sorgum helepense 1,00 2 Jampang pait Paspalum conjugatum 0,86 3 Jukut pait Axonopus compressus 0,67 4 Jukut jampang Eleusina indica 0,60 5 Grinting Cynodon dactylon 0,33 6 Ilalang Imperata cylindrica 0,50 7 Rumput teki Cyperus rotundus 0,33 8 Paku antu Asplenium saligum 0,33 9 Pakis andam Nephalepis cordifolia 0,33 10 Paku resam Gleichenia microphylla 0,50 11 Rayutan Artemisia vulgaris 0,25 12 Pandan Pandanus sp. 0,50 Menurut Adithya (2005) semakin tinggi tingkatan kesukaan satwa, makin tinggi pula potensi kegunaan pakan tersebut bagi satwa. Hal tersebut terjadi karena dengan tingkat kesukaan yang tinggi akan lebih memberikan kegunaan secara langsung bagi satwa bila dibandingkan dengan spesies yang tingkat kesukaannya lebih rendah walaupun spesies tersebut memiliki kegunaan yang cukup baik. Berdasarkan Tabel 6 terlihat bahwa Sianik/cantel (Sorgum halepense) yang paling tinggi tingkat palatabilitasnya merupakan spesies tumbuhan pakan yang paling tinggi pula tingkat kegunaannya bagi gajah. Variasi pakan biasanya tergantung pada musim yang berpengaruh terhadap ketersediaan pakan di habitat alaminya. Menurut Zahrah (2002) gajah banyak mengkonsumsi rumput dan perdu pada musim hujan, dimana jenisjenis tersebut melimpah, sedangkan pada musim kemarau gajah lebih menyukai daundaunan yang lebih segar, disaat rumput mengering. Hal ini sesuai dengan REI (1992) dalam Agustian (2007) gajah lebih menyukai 3050% rumput di musim hujan lebih banyak daripada di musim kemarau. Gajah sumatera di arboretum selain mengkonsumsi pakan alami berupa pakan hijauan juga mengkonsumsi pakan tambahan berupa pelepah kelapa yang diberikan tiga kali seminggu sebanyak ± 250 buah. Pelepah diperoleh dari desa
29 yang berada disekitar arboretum. Selain itu diberikan pakan tambahan lain berupa dedak dan jagung yang dicampur dengan gula merah. Pemberian pakan tambahan campuran dedak dilakukan sebulan sekali. Setiap bahan pakan, baik yang sengaja kita berikan kepada satwa maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsurunsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh satwa, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh satwa untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal (Menristek 2005). Kandungan kimia yang terdapat pada beberapa spesies hijauan pakan gajah disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Komposisi kimia dari beberapa hijauan yang dikonsumsi oleh satwa (komponen disajikan secara DM) Nama Spesies Hijauan Axonopus compressus Berat Kering (%) 27.10 Abu (%) 10.79 Protein Kasar (%) 10.07 Neutral Detergent Fibre (NDF) 74.58 Gross energy (MJ/kg DM) 15.95 Ca (%) 1.21 P (%) 0.31 Cynodon dactylon 25.68 2.72 11.16 67.00 14.20 Eleusine indica 25.70 10.84 13.42 73.19 15.50 0.71 0.30 Imperata clyndrica 32.10 7.87 8.57 85.35 Paspalum conjugatum 19.80 12.72 10.94 77.80 16.40 0.40 0.09 Cyperus rotundus 29.00 13.51 15.72 78.56 *Sorgum halepense 24.00 1,49 9,01 3,60 0.77 0.23 Sumber : Bakri et al. 1996 *Deptan 1990 Spesies hijauan pakan termasuk yang disukai gajah dengan nilai palatabilitas yang tinggi yaitu sianik/cantel (Sorgum halepense), jampang pait (Paspalum conjugatum), jukut pait (Axonopus compressus), dan jukut jampang (Eleusina indica). Berdasarkan Tabel 7, kandungan kimia yang dimiliki oleh spesies yang paling disukai oleh gajah yaitu Sorgum halapense menunjukkan
30 kandungan kimia yang baik dengan kandungan protein kasar yang cukup sebesar 9,01% dan memiliki kandungan serat kasar (NDF) yang lebih rendah bila dibandingkan dengan spesies hijauan lain. Kandungan kimia yang terdapat pada sianik/cantel berupa abu (mineral total), protein kasar, NDF, gross energi, serta Ca, dan P yang merupakan mineral utama yang dibutuhkan. Berdasarkan kandungan yang dimiliki oleh Sorgum halepense spesies ini memiliki kandungan kimia yang dapat memenuhi kebutuhan gizi gajah. Jampang pait (Paspalum conjugatum), jukut pait (Axonopus compressus), dan jukut jampang (Eleusina indica) memiliki kandungan kimia yang cukup lengkap berupa abu, protein kasar, NDF, gross energi, serta Ca, dan P. Kandungan protein kasar pada masingmasing spesies menunjukkan nilai yang cukup tinggi yaitu sebesar diatas 10%, dengan nilai protein yang cukup tinggi, spesies tersebut dapat memenuhi kebutuhan protein bagi gajah. Spesies yang memiliki kandungan protein kasar paling rendah adalah spesies Imperata cylindrica. Selain itu spesies ini memiliki nilai kandungan serat kasar paling tinggi diantara spesies hijauan lain, hal ini menunjukan bahwa spesies Imperata cylindrica kurang dapat memenuhi kebutuhan gizi gajah. Kebutuhan energi akan meningkat seiring dengan pertambahan bobot badan. Tinggi rendahnya kebutuhan NDF dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bobot badan dan konsumsi pakan itu sendiri, jika pakan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan energinya maka lemak tubuh akan dirombak menjadi energi (Hartadi et al. 1993). Berdasarkan data palatabilitas pakan dan kandungan kimia pakan gajah di peroleh bahwa tingkat kesukaan gajah sangat berpengaruh dalam konsumsi gajah terhadap suatu spesies hijauan pakan. Walaupun suatu spesies pakan kandungan kimianya tinggi namun apabila gajah tidak menyukainya, maka spesies tersebut tidak akan memberikan manfaat dalam pemenuhan gizi pada gajah. Tumbuhan yang sangat disukai gajah belum tentu memiliki kandungan kimia yang baik namun pada penelitian ini terlihat bahwa tumbuhan sianik/cantel yang tingkat palatabel tinggi memiliki kandungan yang cukup baik untuk pemenuhan gizi gajah. Gajah merupakan satwa megaherbivor yang memiliki pakan yang sangat beragam sehingga gajah akan mengkonsumsi berbagai spesies hijauaqn lain selain
31 sianik/cantel dengan demikian gajah dapat memenuhi kebutuhan gizinya dari spesies tersebut. 5.4 Potensi Biomassa Hijauan Pakan Gajah Sumatera Pengukuran biomassa hijauan bahan pakan gajah dilakukan di lokasi masingmasing gajah diikat. Hasil penimbangan spesies tumbuhan pakan gajah disajikan pada Tabel 8 dan 9. Berdasarkan tabel tersebut diperoleh biomassa hijauan basah total sebesar 8,68 ton/ha dan berat kering total sebesar 2,68 ton/ha. Tabel 8 Berat basah pakan gajah pada petak pengamatan di Arboretum PT Arara Abadi Nama Spesies Nama Ilmiah Famili Berat Basah (ton/ha) Bunga Akar Batang Daun Sianik/cantel Sorgum helepense Poaceae 0,12 0,13 0,78 0,95 Jampang pait Paspalum conjugatum Poaceae 0,03 0,17 0,25 0,14 Jukut pait Axonopus compressus Poaceae 0,00 0,35 0,71 0,98 Grinting Cynodon dactylon Poaceae 0,00 0,02 0,09 0,30 Ilalang Imperata cylindrica Poaceae 0,00 0,06 0,45 0,65 Pakis andam Nephralepis cordifolia Polypodiaceae 0,00 0,02 0,29 0,07 Paku antu Asplenium salignum Polypodiaceae 0,00 0,02 0,15 0,11 Paku resam Gleichenia microphylla Polypodiaceae 0,00 0,00 0,30 0,15 Rayutan Artemisia vulgaris Vitaceae 0,01 0,02 0,38 0,20 Rumput teki Cyperus rotundus Poaceae 0,04 0,15 0,10 0,05 Jukut jampang Eleusine indica Poaceae 0,00 0,06 0,16 0,22 Total masingmasing bagian 0,20 1,00 3,66 3,82 Total berat basah = 8,68 ton/ha
32 Tabel 9 Berat kering pakan gajah pada petak pengamatan di Arboretum PT Arara Abadi Nama Spesies Nama Ilmiah Famili Berat Kering (ton/ha) Bunga Akar Batang Daun Sianik/cantel Sorgum helepense Poaceae 0,05 0,02 0,26 0,17 Jampang pait Paspalum conjugatum Poaceae 0,00 0,03 0,06 0,05 Jukut pait Axonopus compressus Poaceae 0,00 0,11 0,40 0,16 Grinting Cynodon dactylon Poaceae 0,00 0,00 0,01 0,04 Ilalang Imperata cylindrica Poaceae 0,00 0,01 0,25 0,37 Pakis andam Nephralepis cordifolia Polypodiaceae 0,00 0,00 0,12 0,02 Paku antu Asplenium salignum Polypodiaceae 0,00 0,00 0,06 0,01 Paku resam Gleichenia microphylla Polypodiaceae 0,00 0,00 0,01 0,05 Rayutan Artemisia vulgaris Vitaceae 0,00 0,01 0,09 0,04 Rumput teki Cyperus rotundus Poaceae 0,00 0,05 0,05 0,03 Jukut jampang Eleusine indica Poaceae 0,00 0,01 0,07 0,07 Total masingmasing bagian 0,05 0,24 1,38 1,01 Total barat kering = 2,68 ton/ha 5.5 Daya Dukung Habitat Gajah Sumatera Ketersediaan pakan di Arboretum PT Arara Abadi diperkirakan berdasar berat hijauan basah yang diperoleh pada saat pengukuran biomassa. Adapun berat basah hijauan pakan total keseluruhan pada lokasi pengamatan yaitu sebesar 8,68 ton/ha. Menurut McIlroy 1976 rumput daerah tropika ratarata membutuhkan waktu untuk dapat di panen selama 6 minggu (42 hari) untuk menghasilkan protein kasar yang tinggi, dengan demikian ketersediaan hijauan basah sebesar 8,68 ton/ha/42hari atau 0,21 ton/ha/hari. Ketersediaan diseluruh lokasi, dengan luasan 80 ha menggunakan properuse untuk kawasan arboretum adalah 60% karena merupakan daerah yang datar dan bergelombang (kemiringan 05 0 ), sehingga ketersediaan hijauan basah sebesar 0,21 ton/ha/hari x (60% x 80 ha) = 10,08 ton/hari untuk 80 ha. Menurut Leckagul dan McNeely (1977) Gajah di alam mengkonsumsi makanan sebanyak 250 kg/hari/ekor dengan berat 3.0004.000 kg. Berdasarkan berat ratarata gajah di arboretum 2800 kg atau 2,80 ton, maka kebutuhan pakan perharinya sebesar 10% x 2800 = 280 kg/hari/ekor atau 0,28 ton/hari/ekor.
33 Kebutuhan untuk seluruh gajah di arboretum sebesar 8 x 0,28 ton/hari/ekor = 2,24 ton/hari untuk 8 ekor gajah. Berdasarkan hasil perhitungan ketersediaan pakan dan kebutuhan pakan gajah di arboretum, dapat dilihat bahwa arboretum telah mampu menyediakan kebutuhan gajah berupa hijauan basah dengan nilai ketersediaan hijauan pakan yang lebih besar dari nilai kebutuhan pakan gajah, sehingga arboretum telah mampu menyediakan pakan untuk seluruh gajah bahkan berlebih sebesar 8,17 ton/hari untuk seluruh luasan. Daya dukung pakan di arboretum pada musim hujan adalah (ketersediaan x pu)/kebutuhan = (10,08 ton/hari/80ha x 60%)/0,28 ton/hari/ekor = 21 ekor untuk luasan 80 ha. 5.6 Karakteristik Lokasi Sumber Pakan Gajah Gajah merupakan satwa yang spesies pakannya cukup beranekaragam dari variasi spesies tumbuhan berupa liana, rumput, palem, rotan, semak belukar, hingga tumbuhan berkayu dan dengan variasi bagianbagian tumbuhan yang dimakannya, seperti buah, bunga, daun, kulit, daun, bahkan akarnya. Hal tersebut menunjukkan lokasi pakan gajah pun bervariasi dari semak belukar, padang rumput, hingga hutan primer. Gajah akan lebih banyak melakukan aktifitas makan pada lokasi yang ketersediaan pakannya tinggi. Dengan demikian gajah senantiasa melakukan penjelajahan untuk mencari pakan dengan wilayah jelajah yang cukup luas. Berdasarkan hasil pengamatan, setiap gajah memiliki lokasi tempat pengikatan yang berbedabeda. Lokasi sumber pakan gajah sebagian besar berbentuk rawa dengan spesies tumbuhan yang cukup melimpah yaitu perdu dan jenisjenis rerumputan. Lokasi pengikatan berada di sekitar arboretum di sepanjang sempadan sungai. Tempat pengikatan berbatasan dengan HTI PT Arara Abadi sehingga banyak dijumpai tegakan akasia dan eukaliptus Gajah jantan bernama Nando dan Sebanga mamiliki lokasi ikatan yang sangat terbatas. Hal ini dikarenakan statusnya dalam keadaan terancam oleh perburuan liar di sekitar arboretum, sehingga lokasi tempat kedua gajah ini diikat hanya sekitar kandang gajah atau camp gajah demi keamanan. Hal ini mengakibatkan keterbatasan pakan bagi kedua gajah tersebut karena jumlah pakan
34 yang berada di lokasi tersebut sangat kurang bila bila dibandingkan dengan gajah gajah betina yang diikatkan di daerah rawa dan sekitar arboretum. Pada Gambar 5 disajikan lokasi pengikatan yang dijadikan lokasi pakan bagi gajah. Untuk lokasi pakan di sekitar arboretum arboretum dan daerah sempadan sungai bagi gajah betina dan anaknya (5a) dan lokasi pakan gajah disekitar kandang gajah bagi gajah jantan (5b). (a) (b) Gambar 5 Lokasi pakan gajah betina (a) dan Lokasi pakan gajah jantan (b). Pada musim hujan gajah akan lebih banyak beraktifitas di lokasi rawa dan daerah riparian karena di lokasi tersebut akan melimpah jenisjenis rumput segar, sedangkan pada musim kemarau gajah mengkonsumsi daundaunan, rotan dan jenisjenis tumbuhan berkayu lain. Pada Pada musim kemarau ini gajah akan menggunakan lokasi pakan pada tipe vegetasi hutan, yaitu daerah sekitar arboretum dan HTI karena terdapat berbagai jenis tumbuhan pakan gajah yang lain berupa pohon. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian tentang gajah di India oleh Sukumar (1985) dalam Zahrah (2002). 5.7 Permasalahan Gajah Sumatera di Arboretum Permasalahan yang telah terjadi di arboretum yaitu kegiatan perburuan gajah yang dilakukan oleh pemburu gading yang telah meracuni 2 gajah jantan yang terdapat di arboretum bernama Tongli dan Jakir. Kedua gajah tersebut diracun dan mati pada pertengahan tahun 2009.
35 Kejadian tersebut mengakibatkan kedua gajah jantan lain yang masih hidup diawasi secara intensif, dengan melakukan penjagaan yang ketat. Penjagaan ini dilakukan tim keamanan PT Arara Abadi yang dilakukan oleh dua orang security selama 24 jam. Kondisi keterancaman bagi gajah jantan di arboretum menyebabkan pengelola memberlakukan kebijakan agar kedua gajah jantan tersebut tidak diperkenankan untuk diikat di dalam hutan dengan lokasi yang jauh dari kandang gajah, namun kegiatan ini memberikan dampak yang tidak baik untuk kedua gajah tersebut yaitu dengan jumlah pakan dan keanekaragaman pakannya terbatas hanya disekitar lokasi tersebut. 5.8 Desain Pengelolaan Pakan Gajah Sumatera di Arboretum PT Arara Abadi Desain pengelolaan pakan gajah sumatera yang direkomendasikan di arboretum, disusun berdasarkan data mengenai pakan gajah, baik berupa jenis tumbuhan pakan, bagianbagian tumbuhan yang dimakan, tingkat kesukaan gajah atau palatabilitas pakan gajah, biomassa pakan gajah, serta ketersediaan dan kebutuhan pakan gajah. Berdasarkan hasil analisis vegetasi diperoleh 12 spesies yang didominasi oleh sianik/cantel (Sorgum halepense) dengan nilai kerapatan sebesar 175.500 ind/ha dan INP sebesar 45,71% yang merupakan nilai tertinggi dari seluruh spesies tumbuhan. 12 spesies dari seluruh tumbuhan tersebut berpotensi sebagai pakan gajah. Bagian tumbuhan pakan yang paling banyak dimakan gajah yaitu seluruh bagian dengan persentase 58,33%. Berdasarkan hasil pengamatan palatabilitas pakan gajah sumatera diperolah 12 spesies merupakan tumbuhan yang disukai gajah. Adapun tumbuhan yang paling disukai diantaranya yaitu sianik/cantel (Sorgum halepense), jampang pait (Paspalum conjugatum), jukut pait (Axonopus compressus), dan jukut jampang (Eleusina indica). Ketersediaan pakan di Arboretum PT Arara Abaadi sebesar 10,08 ton/hari dan kebutuhan untuk seluruh gajah di arboretum 2,24 ton/hari untuk 8 ekor gajah, sehingga arboretum telah mampu mencukupi kebutuhan untuk gajah bahkan berlebih. Data yang telah diuraikan diatas menunjukkan potensi pakan yang sudah baik, terlihat dari jumlah jenis yang banyak tersedia merupakan jenis yang disukai
36 oleh gajah karena tinggi rendahnya potensi tumbuhan pakan ditentukan oleh banyak sedikitnya tumbuhan yang dimakan atau disukai. Tumbuhan yang banyak dimakan oleh gajah dengan kelimpahan yang tinggi maka akan mengakibatkan potensi tumbuhan pakan yang tinggi pula. Tempat ikatan gajah tersebut, selain digunakan sebagai tempat mencari pakan, juga digunakan untuk tempat minum, tempat mengasin, tempat beristirahat. Hal ini dikarenakan tempat pengikatan gajah terletak disepanjang sempadan sungai yang memiliki kelimpahan pakan yang cukup tinggi. Ketersediaan pakan gajah yang ada di lokasi ini sudah dapat dikatakan baik bahkan berlebih. Desain pengelolaan pakan gajah sumatera yang dapat dilakukan diantaranya yaitu 1) kegiatan mempertahankan keberadaan tumbuhan pakan, 2) pengelolaan lokasi pengikatan gajah, 3) peningkatan perlindungan dan pengamanan lokasi pakan gajah, 4) melakukan sistem rotasi pengikatan gajah, dan 5) pengawetan hijauan pakan gajah pada musim hujan. 1. Mempertahankan keberadaan tumbuhan pakan Mempertahankan keberadaan tumbuhan pakan dapat dilakukan dengan cara pemeliharaan dan pemantauan tumbuhan pakan secara teratur. Tumbuhan pakan yang dipelihara dan dipantau merupakan tumbuhan pakan yang disukai oleh gajah. Kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara penyiangan dan pemupukan tumbuhan pakan. Tumbuhan pakan gajah disiangi dari gangguan tumbuhan liar yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan tersebut. Pemupukan tumbuhan pakan dilakukan agar tumbuhan subur. Pemupukan ini dilakukan secara teratur. Pemupukan yang intensif dilakukan pada lokasi pengikatan yang kondisi tumbuhannya kurang subur. Pelaksanaan pemupukan dapat menggunakan pupuk alami atau pupuk kandang. Hal ini dapat menggunakan kotoran gajah itu sendiri. Penggunaan pupuk dari kotoran gajah selain mempermudah perolehan juga dapat menghemat pembiayaan pemeliharaan. Kegiatan lain dalam mempertahankan keberadaan tumbuhan pakan yaitu pemantauan. Pemantauan dilakukan secara rutin untuk memantai keadaan tumbuhan pakan agar tetap tersedia dengan kualitas dan kuantitas yang cukup
37 baik. Pemantauan diharapkan dievaluasi secara berkala guna tercapainya keberhasilan kegiatan pengelolaan tersebut. 2. Pengelolaan lokasi pengikatan gajah Lokasi pengikatan ditentukan dari jumlah spesies tumbuhan pakan yang disukainya tinggi. Lokasi tersebut dipilih dengan jumlah ketersediaan pakan yang tinggi pula. Lokasi pengikatan terletak tidak jauh dengan sumber air. Tempat lokasi pakan yang ditentukan tidak berdekatan antara lokasi satu gajah dengan gajah lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari persaingan pakan dan menghindari pengurangan pakan secara tidak merata. Lokasi dengan jumlah dan kualitas spesies tumbhan pakan yang kurang, khususnya di lokasi Nando dan Sebanga diberi pakan tambahan berupa pakan alami yang disukai oleh gajah yang diambil dari lokasi pakan yang ketersediaannya tinggi. Pemberian pakan alami ini sangat bermanfaat untuk dapat memenuhi kebutuhan kedua gajah tersebut. Pemberian pakan dilakukan secara rutin setiap hari. 3. Peningkatan perlindungan dan pengamanan lokasi pakan Kegiatan yang dapat dilakukan untuk perlindungan dan keamanan lokasi pakan dengan cara penjagaan lokasi. Penjagaan dapat dilakukan dengan cara patroli secara rutin untuk dapat mengurangi kegiatan pemburuan liar dan dapat memantau apabila terjadi bencana alam seperti, banjir dan kebakaran hutan. Selain itu, dapat dibuat pospos jaga yang letaknya tidak jauh dengan tempat pengikatan gajah (hanya dilakukan pada tempat pengikatan gajah Nando dan Sebanga karena status keterancaman), pos diletakkan di tempat yang tidak menggangu aktivitas gajah. 4. Pengaturan sistem pengikatan Sistem pengikatan yang dimaksud yaitu pemindahan dari tempat ikatan yang satu ke tempat ikatan yang lain (sistem rotasi). Pemindahan pengikatan gajah dilakukan secara rutin, dua hari sekali. Di tempat pengikatan yang baru perlu diperhatikan jenis pakan yang ketersediaannya cukup, sehingga pakan yang ada di
38 arboretum dapat didistribusikan secara merata kepada seluruh gajah. Perlu diperhatikan pula tingkat pertumbuhan hijauan tempat ikatan untuk dapat kembali dilakukan pengikatan tersebut dengan memindahkan secara berkala. 5. Pengawetan hijauan pakan gajah pada musim hujan Musim sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pakan bagi gajah. Pada musim kemarau terjadi penurunan jumlah hijauan pakan, khususnya rumput dan pakupakuan sehingga penyediaannya berkurang. Sebaliknya pada musim hujan, keberadaan hijauan pakan gajah meningkat tajam sehingga persediaannya melimpah. Oleh karena itu, kegiatan pengawetan pakan gajah pada musim hujan merupakan salah satu alternatif sebagai pemasok kebutuhan pakan sepanjang tahun. Gajah menyukai hijauan pakan dalam bentuk segar sehingga pengawetan pakan yang dapat digunakan yaitu dengan teknologi pembuatan silase. Silase adalah hijauan pakan ternak yang diawetkan dengan cara peragian atau fermentasi asam laktat. Bahan hijauan yang cocok untuk dijadikan silase yaitu tanaman yang resiko kebusukannya lebih kecil, yang memiliki daun lebar, fisiknya agak kasar, ditanam pada lahan yang subur, dan dipotong menjelang berbunga. Salah satu spesies yang baik untuk dijadikan silase yaitu sianik/cantel (Sorgum halepense) (Siregar 1996).