BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum TK Purwanida I

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Data Demografi Responden Dalam penelitian ini yang datanya diambil pada bulan Agustus

FORMULIR PERMOHONAN PENELITIAN HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI BLUD PUSKESMAS KECAMATAN KEBON JERUK JAKARTA BARAT

Universitas Sumatra Utara

I. Identitas Informan Nama : Umur : Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan Pendidikan Terakhir : Tanggal Wawancara :

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. terpisah. Rentang sehat-sakit berasal dari sudut pandang medis. Rentang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

OLEH: IMA PUSPITA NIM:

BAB I PENDAHULUAN. diagnosa menderita kanker leher rahim (Groom,2007). Kanker leher rahim ini menduduki

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasanudin, No. 806 Salatiga, Jawa Tengah. Sesuai dengan SK

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Gambaran Umum Kecamatan Kao. Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara. Luas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan hasil dan pembahasan penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah. penelitian kuantitatif dengan tipe pendekatan model observasi

INFORMED CONSENT LEMBAR PERSETUJUAN KEIKUTSERTAAN DALAM PENELITIAN. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai Hubungan Persepsi Mutu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. (RSPAW) Salatiga, dengan alamat Jalan Hasanudin 806 Salatiga.

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. operasi melalui tiga fase yaitu pre operasi, intraoperasi dan post. kerja dan tanggung jawab mendukung keluarga.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Rumah Sakit ini

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PRAKATA... DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

GAMBARANKOPINGPADA PENDERITA TUBERKULOSISDALAM MENGHADAPI PENYAKITNYA di RUMAH SAKIT PARU dr. ARIO WIRAWAN SALATIGA SKRIPSI

No. Responden : Tanggal wawancara: Kuesioner Penelitian Gambaran Peran Keluarga Terhadap Penderita TBC di wilayah kerja Puskesmas Kota Datar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan. masyarakat di dunia tidak terkecuali di Indonesia.

HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN PENDERITA TB DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN TAHUN 2016

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lampiran 1. PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Koping Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

jenis penelitian deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran profil penderita

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner ini diuji validitas dan

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa.

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang

DATA DEMOGRAFI RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemui

BAB V PEMBAHASAN. a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

JADWAL TENTATIF PENELITIAN

LAMPIRAN I : PERTANYAAN PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Jalan, Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Jumlah seluruh

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN SEBAGAI RESPONDEN

Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak Geografis

BAB V. KESIMPULAN, DISKUSI, dan SARAN

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN KUESIONER. Nama responden : Jenis kelamin : Laki-laki (L)/ Perempuan (P) Usia responden. a) <40. b) c) >60

BAB III TINJAUAN KASUS. b. Usia : 51 tahun. d. Pekerjaan KK : Buruh lepas (sablonan) e. Alamat : Sambiroto 11 RT 05 RW 07

FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

LAMPIRAN LAMPIRAN 71

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang adalah Tuberkulosis Paru (TB paru) (Kemenkes, 2008). Mycobakterium Tuberculosis yang terutama menyerang paru (Kemenkes,

PENJELASAN PENELITIAN UNTUK BERPARTISIPASI SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar. manusia yang termasuk kedalam kebutuhan dasar dan juga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. memberikan gambaran yang jelas tentang gagal jantung. Pada studinya disebutkan

Lembar Persetujuan Menjadi Responden. Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang Analisis Faktor-faktor yang

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

DUKUNGAN DENGAN BEBAN KELUARGA MENGIKUTI REGIMEN TERAPEUTIK ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI HALUSINASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. gagal bisa juga berakibat buruk. Hal ini sangat tergantung kapan, bagaimana,

BAB I PENDAHULUAN. Bagi sebagian besar pasien, masuk rumah sakit karena sakitnya dan harus

49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Lhoksukon dan rumah pasien rawat jalan Puskesmas Lhoksukon.

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Perangkat untuk memperkirakan biaya yang dikeluarkan pasien

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Salatiga yang berletak di jalan Hasanuddin No.806, Kelurahan Ngawen,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran penyakit di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang promotif, pencegahan, dan pengobatan seharusnya

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. deskriminasi meningkatkan risiko terjadinya gangguan jiwa (Suliswati, 2005).

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Setting Penelitian 4.1.1. Gambaran Umum Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga terletak di jalan Hasanuddin No. 806, Kelurahan Ngawen, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan mempunyai tugas pokok dan fungsi, yaitu sebagai rumah sakit khusus yang menyelenggarakan pelayanan terhadap penderita penyakit Paru. Dengan ini diharapkan Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga mampu berkembang menjadi rumah sakit, dengan cakupan wilayah yang lebih luas yaitu wilayah Jawa Tengah. 4.1.2. Proses Pelaksanaan Penelitian 4.1.2.1. Persiapan Penelitian Peneliti menyiapakan beberapa hal yang menunjang pelaksanaan penelitian. Peneliti terlebih dahulu menentukan karakteristik partisipan yang terdiagnosis awal TB Paru, 32

33 memiliki keluarga/tinggal bersama keluarga, pasien rawat jalan, bisa membaca dan menulis, dan bersedia menjadi partisipan. Peneliti mulai mempersiapkan berbagai surat untuk ijin penelitian pada tanggal 1 April 2013 dan mendapatkan ijin penelitian dari rumah sakit pada tanggal 10 April 2013. Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Januari 2014. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara. Peneliti menyiapkan panduan wawancara. Selain itu peneliti juga menyediakan informed consent yang berisi penjelasan penelitian dan surat persetujuan menjadi partisipan. Dalam proses wawancara, peneliti juga menggunakan alat perekam untuk merekam hasil wawancara serta alat tulis untuk mencatat hasil wawancara atau data-data tambahan dalam bentuk tertulis yang berasal dari partisipan. Penggunaan alat perekam dilakukan apabila mendapat ijin dari partisipan dan tidak keberatan.

34 4.1.2.2. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini mulai dilakukan pada tanggal 2 Januari 2014 setelah mendapat surat ijin dari Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Tabel 4.1. Kegiatan Penelitian Partisipan Waktu Tanggal Kegiatan 1 09.01 3 januari Mengucapkan salam 2 10.47 9 januari pada partisipan 3 10.34 10 januari Memberikan 4 09.35 20 januari penjelasan penelitian 5 10.53 27 januari Penandatanganan pada informed concent Melakukan wawancara Mengucapkan terima kasih kerena sudah meluangkan waktu untuk wawancara. Pada bulan Januari 2014 melakukan wawancara dengan partisipan di ruang poli TB Paru Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Sebelum melakukan wawancara

35 peneliti memberikan penjelasan kepada partisipan tujuan dari penelitian ini. Setelah partisipan menyetujui kemudian melakukan tanda tangan pada informed concent. Kemudian peneliti melakukan kontrak waktu untuk wawancara dan melakukan member check dengan partisipan. Selama proses penelitian, peneliti mengalami kesulitan dalam menggali perasaan partisipan. Beberapa partisipan menjawab pertanyaan secara singkat.

36 4.2. Hasil Penelitian 4.2.1. Gambaran Umum Partisipan Tabel 4. 2 Partisipan Nama Jenis kelamin Usia Pekerjaan Pendidikan Keterangan P 1 Bp. M Laki-laki 46 Swasta SMA Tinggal satu rumah bersama istri dan anak. P 2 Sdr. A Laki-laki 23 Swasta SMA Anak kedua dari tiga bersaudara, tinggal bersama kedua orang tua dan dua saudaranya. P 3 Ibu W Perempuan 34 Pedagang SMP Tinggal bersama suami dan dua anaknya. P 4 Bp. S Laki-laki 26 Guru Sarjana Tinggal bersama istri, anak, kedua orang tua, dan nenek. P 5 Sdr. K Laki-laki 19 Buruh SMP Anak pertama dari dua bersaudara dan tinggal bersama kedua orang tua.

37 4.2.2. Kategori Hasil Wawancara Tabel 4. 3 Partisipan Tingkat Kecemasan Respon Kecemasan Keterangan P 1 Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: Persepsi tentang penyakit luas Tidak merasa gagal Mengingat kembali informasi tentang kesembuhan Terlihat tenang Merasa percaya diri bahwa penyakitnya dapat disembuhkan Emosional: tidak ada respon Sedang Fisik: tidak ada respon Kognitif: tidak ada respon Emosional: Cemas akan kemungkinan penularan Merasa tidak nyaman Menyendirikan alat makan dan menggunakan masker di dalam rumah Berat Fisik: gemetar Kognitif: tidak ada respon Emosional: tidak ada respon P 1 (8-11), (20-24), (37-38), (44-57), (67-71, 77) P 1 (34-37), (65-66), (58-62) P 1 (43-44)

38 P 2 Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: Tidak merasa gagal Persepsi tentang penyakit luas Merasa percaya diri bahwa penyakitnya dapat disembuhkan Mengingat kembali informasi tentang kesembuhan Terlihat tenang Emosional: tidak ada respon Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: tidak ada respon Emosianal: Cemas akan penularan Merasa kaget saat dinyatakan TB Paru Tenang Merasa tidak nyaman P 3 Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: Memperhatikan tentang pencegahan penularan Mengingat kembali informasi tentang kesembuhan Persepsi tentang penyakit luas Terlihat tenang Emosional: tidak ada respon Sedang Fisik: tidak ada respon Kognitif: tidak ada respon Emosional: P 2 (12-15), (18-19), (24-27), (33-36), (66-67), (72-73), (76-78) P 2 (23-24), (39-40), (43-46), (54-55), (58-62), (81-83) P 3 (17-18), (21-25), (28-30), (34-39), (42-44), (63-68) P 3 (6-8), (16-20), (42-51), (56-58), (71-75), (77-81)

39 Cemas akan penularan Merasa takut dan terkejut saat terdiagnosis Merasa tidak nyaman Menyendirikan peralatan makan dan minum Berat Fisik: gemetar Kognitif: tidak ada respon Emosional: tidak ada respon P 4 Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: Mempertimbangkan informasi yang diberikan Memperhatikan tentang pencegahan penularan Emosional: tidak ada respon Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: tidak ada respon Emosional: Cemas akan penularan Merasa kaget dan takut akan penyakitnya Merasa tidak nyaman Menyendirikan peralatan makan dan minum P 5 Ringan Fisik: tidak ada respon Kognitif: Persepsi tentang penyakit luas Tidak merasa gagal Mempertimbangkan informasi yang disampaikan Terlihat tenang Emosional: tidak ada respon P 3 (55-59) P 4 (17-22), (33-35), (58-63) P 4 (28-29, 32), (39-46), (49-54) P 4 (16-17), (26-28), (41-43), (47-50), (67-73)

40 Ringan Berat Fisik: tidak ada respon Kognitif: tidak ada respon Emosional: Cemas akan penularan Merasa takut dan kaget akan penyakitnya Merasa tidak nyaman Menyendirikan peralatan makan dan minum Fisik: gemetar Kognitif: tidak ada respon Emosional: tidak ada respon P 4 (25-26), (33-36), (39-40), (46-47), (94-97) P 4 (91-93)

4.2.3. Hasil Data Dukung 4.2.3.1. Data pendukung observasi partisipan Berdasarkan Observasi yang dilakukan pada saat wawancara, partisipan 1, 2, 4, dan 5 tidak menunjukkan ekspresi bahwa partisipan sedang cemas, karena pada saat wawancara ekspresi terlihat datar dan tenang. Sedangkan pada partisipan 3 saat dilakukan wawancara menunjukkan ekspresi menangis, karena merasa takut dan khawatir dengan apa yang terjadi. 4.2.4. Deskripsi Hasil Analisa 4.2.4.1. Partisipan 1 Partisipan 1 tidak merasa terbebani saat terdiagnosis awal TB Paru, karena tahu bahwa penyakitnya dapat disembuhkan. Namun demikian partisipan tetap merasa khawatir akan kemungkinan menularkan penyakitnya ke anggota keluarga. Saya ndak merasa terbebani, waktu saya terkena TB Paru. Iya mungkin karena bisa disembuhkan dan saya juga melakukan pengobatan. Iya saya khawatir kalau menularkan ke keluarga. Jadi, dari piring, gelas, sendok, saya sendirikan. Saya meladeni diri saya sendiri supaya keluarga tidak tertular 41

42 4.2.4.2. Partisipan 2 Partisipan 2 cenderung merasa penyakitnya ini membebani dan khawatir, bila aktivitas akan memperparah penyakitnya. Selain itu partisipan juga merasa khawatir menularkan penyakitnya ke anggota keluarga. Kalau beraktivitas itu seperti ada yang membebani, kayak mau aktivitas berat itu takut kalau penyakitnya kambuh jadi merasa terbebani Iya rasa khawatir tetep ada, apalagi sakitnya bisa menular 4.2.4.3. Partisipan 3 Partisipan 3 merasa penyakitnya ini mengerikan, dan juga membebani. Rasa khawatir menularkan penyakitnya ke anggota keluarga tetap ada, walaupun sudah melakukan pencegahan dengan cara menyendirikan alat makan. Iya mengerikan sekali, katanya bisa sampai meninggal. Saya takut, karena anak saya masih kecil Iya terus terang saya terbebani, kalau dirumah itu saya tulang punggung keluarga Khawatir itu ada, kalau nanti anak saya tertular. Selama saya sakit ini makan dan minum saya sendirikan, demi keluarga supaya tidak tertular

43 4.2.4.4. Partisipan 4 Penyakit TB Paru ini membuat partisipan 4 merasa khawatir dan terbebani. Partisipan merasakan kekhawatiran menularkan pada anggota keluarga dan harus menjaga jarak dengan anggota keluarga, terutama anaknya yang masih kecil. Iya khawatir, takut juga karena TB Paru ini kan penyakitnya parah ya, untuk kesembuhannya lama, menular juga Iya kalau terbebani ada, terutama ini mengingat minum obat tiap hari Iya khawatir, ini peralatan makan saya sendirikan. Trus sekarang saya minum juga saya sendirikan, kalau dulukan minum juga barengan. Apalagi sama anak, dulukan sering nyium-nyium tapi sekarang ndak pernah soalnya masih bayi 4.2.4.5. Partisipan 5 Partisipan 5 merasa terbebani saat terdiagnosis awal TB Paru, selain itu partisipan juga merasa khawatir menularkan ke anggota keluarganya. Iya sebenarnya terbebani, tapi ya saya buat santai saja. Kalau banyak pikiran nanti malah ndak sembuh-sembuh, malah nambah penyakit Iya pasti merasa khawatir, takut kalau keluarga tertular. Biar saya saja yang sakit, kalau keluarga jangan sampai

44 4.3. Uji Keabsahan Data 4.3.1. Member Check Partisipan 1 Member Check pada partisipan 1 dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2014 yaitu diruang tunggu Poli TB. Peneliti menunjukkan hasil wawancara dengan partisipan, partisipan setuju dengan hasil wawancara yang sudah ditunjukkan tersebut. Karena menurut partisipan hasil wawancara sudah sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh peneliti. Partisipan juga memberikan saran agar dilakukan sosialisasi tentang TB Paru kepada masyarakat. 4.3.2. Member Check Partisipan 2 Member Check pada partisipan 2 dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2014 yaitu diruang tunggu Poli TB. Peneliti menunjukkan hasil dari wawancara dengan partisipan, partisipan setuju dengan hasil wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Tidak ada hasil wawancara yang dikoreksi oleh partisipan. 4.3.3. Member Check Partisipan 3 Member Check pada partisipan 3 dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2014 yaitu diruang tunggu Poli TB. Peneliti menunjukkan hasil wawancara dengan

45 partisipan agar koreksi, dan partisipan menyetujui hasil wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya. 4.3.4. Member Check Partisipan 4 Member Check pada partisipan 4 dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2014 yaitu diruang tunggu Poli TB. Peneliti menunjukkan hasil wawancara dengan partisipan agar dikoreksi. Partisipan menyetujui hasil wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya, tidak ada yang dikoreksi oleh partisipan dari hasil wawancara. 4.3.5. Member Check Partisipan 5 Member Check pada partisipan 5 dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2014 yaitu, diruang tunggu Poli TB. Peneliti menunjukkan hasil wawancara dengan partisipan agar dikoreksi, tetapi tidak ada yang dikoreksi oleh partisipan. Partisipan menyetujui hasil wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya dan tidak ada yang ditambahkan lagi.

46 4.4. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kecemasan pada pasien yang terdiagnosis awal Tuberkulosis Paru terhadap penularan ke anggota keluarga di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Videbeck (2001) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Kecemasan menyebabkan respon kognitif, psikomotor, dan fisiologis yang tidak nyaman. Menurut Peplau dalam Videbeck (2008) ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat, dan panik. Dari hasil analisis dapat dilihat dan diketahui bahwa saat terdiagnosis awal TB Paru, pada ke 5 partisipan ini mengalami respon fisik, respon kognitif, dan respon emosional pada tingkat kecemasan yang berbeda. Hal ini terkait dengan kemungkinan penularan terhadap anggota keluarga dan saat partisipan terdiagnosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manifestasi kecemasan pada respon fisik berbeda-beda. Pada partisipan 1, 3, 5 menunjukkan respon tingkat kecemasan yang berat, yaitu gemetar karena merasa takut dan khawatir dengan penyakitnya. Partisipan 2 dan 4 juga merasa takut dan khawatir tetapi tidak menunjukkan respon fisik seperti gemetar. Berdasarkan hasil wawancara, ke 5 partisipan mengetahui

47 tentang penyakit TB Paru. Tetapi setelah terdiagnosis awal TB Paru, partisipan merasa takut dan tidak percaya menderita TB Paru. Hal ini dikarenakan dalam riwayat penyakit keluarga tidak ada yang menderita TB Paru maupun merokok. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Priest (dalam Eva dan Kuncoro, 2006) yang menyatakan bahwa situasi pada diri individu yang belum siap menghadapi kenyataan mempengaruhi kecemasan. Partisipan 1, 2, 3, 4, 5 mengalami respon kognitif tingkat kecemasan yang ringan. Berdasarkan teori Stuart & Sundeen, 2000 mengatakan bahwa ketidaktahuan dapat menyebabkan kecemasan dan pengetahuan dapat digunakan untuk mengatasi masalah. Hal ini sebanding dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan yaitu, ke 5 partisipan sudah memiliki pengetahuan untuk pencegahan penularan penyakit, dengan menyendirikan peralatan makan dan minum. Hal ini menunjukkan bahwa partisipan memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengatasi masalah penularan penyakit terhadap anggota keluarga. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan 2, 4, dan 5 memiliki respon emosional tingkat kecemasan yang ringan. Sedangkan kecemasan sedang dialami oleh partisipan 1 dan 3. Ke 5 partisipan tersebut merasa khawatir jika menularkan penyakitnya ke anggota

48 keluarga. Selain itu partisipan juga merasa terbebani karena aktivitasnya menjadi terganggu, misalnya takut melakukan aktivitas yang berat karena akan menyebabkan kambuhnya penyakit, serta harus minum obat setiap hari. Seluruh partisipan memiliki mekanisme koping yang baik. Setelah partisipan terdiagnosis awal TB Paru, partisipan tidak langsung putus asa, tetapi berupaya melakukan pengobatan dan merasa yakin bahwa akan mendapat kesembuhan. Kondisi ini seperti yang diungkapkan oleh Stuart & Sundeen, 2000 bahwa kelelahan fisik dan penyakit dapat menurunkan mekanisme pertahanan alami seseorang. 4.5. Keterbatasan Penelitian Dari awal penulisan skripsi berupa proposal sampai penelitian, ada beberapa kekurangan dan keterbatasan peneliti. Keterbatasan peneliti dalam mencari partisipan yang bersamaan saat partisipan terdiagnosis awal TB Paru. Peneliti juga tidak dapat melihat langsung respon kecemasan partisipan saat terdiagnosis awal TB Paru.