BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Ini Dia Si Pemakan Serangga

TINJAUAN PUSTAKA. kering pada daerah dengan ketinggian m bahkan ada yang hidup pada

BioLink Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan INVENTARISASI NEPENTHES DI TAPANULI SELATAN. Inventory of Nepenthes in Southern Tapanuli

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mahkota dewa memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa Boerl.,

I. PENDAHULUAN. Kantong semar merupakan tanaman hias yang tumbuh di beberapa hutan

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6. Panjang helaian daun. Daun diukur mulai dari pangkal hingga ujung daun. Notasi : 3. Pendek 5.Sedang 7. Panjang 7. Bentuk daun

METODE PENELITIAN. Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.Penelitian ini

HASIL. Gambar 1 Permukaan atas daun nilam Aceh. Gambar 2 Permukaan atas daun nilam Jawa.

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi

Inventarisasi Nepenthes spp. di Stasiun Penelitian Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung Kayong Utara

3. KARAKTERISTIK HABITAT PREFERENSI NEPENTHES GRACILIS KORTH. DI HUTAN KERANGAS

A. Struktur Akar dan Fungsinya

Perilaku Tumbuh Kantong Semar (Nepenthes mirabilis Druce) di Habitat Alaminya, Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam tangale yang terdapat di

Pengertian. Kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI KANTONG SEMAR (Nephentes sp.) DI KAMPUS UIN SUSKA RIAU

MIKORIZA pada Swietenia macrophylla KELOMPOK 5

II.TINJAUAN PUSTAKA. Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.)) merupakan salah satu anggota dari

LAPORAN PRAKTIKUM I KUNCI DETERMINASI KELAS DICOTYLEDONAE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN. 1. Deskripsi jenis Anggrek yang ditemukan di Hutan Pendidikan USU

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

BAB I PENDAHULUAN. hidup saling ketergantungan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan diciptakan oleh

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman

REAKSI PUTRI MALU TERHADAP RANGSANG

MATERI DAN METODE. Gambar 3.1.Lokasi Penelitian

CIRI KHUSUS MAKHLUK HIDUP DAN LINGKUNGAN HIDUPNYA

II. TINJAUAN PUSTAKA. keanekaragaman plasma nutfah. Satu diantara plasma nutfah yang banyak terdapat

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Lokasi Penelitian. B. Perancangan Penelitian. C. Teknik Penentuan Sampel. D. Jenis dan Sumber Data

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV

A : JHONI ILMU PENGETAHUAN ALAM IV IPA SD KELAS IV

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN. yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yaitu suatu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TUMBUHAN [ putri malu ] BIOLOG I. Ayu Fatmawati. Eko Bayu Manjako. Kevin Aryo Perdana. Rizky Nirwan Batubara. Yohanes Raymond Marvin.

Karena hal-hal diatas tersebut, kita harus mencari cara agar hewan dan tumbuhan tetap lestari. Caranya antara lain sebagai berikut.

TINJAUAN PUSTAKA Botani

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat

IDENTIFIKASI TUMBUHAN BAKUNGAN (Hymenocallis litthoralis) Oleh Nur Azizah NIM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

Badak Jawa Badak jawa

BAB II KAJIAN PUSTAKA jenis yang terbagi dalam 500 marga (Tjitrosoepomo, 1993: 258). Indonesia

Keanekaragaman Nepenthes di Suaka Alam Sulasih Talang - Sumatera Barat

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

II. TINJAUAN PUSTAKA. Propinsi Sumatera Utara, dan secara geografis terletak antara 98 o o 30 Bujur

Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang.

PENELITIAN EKOLOGI NEPENTHES DI LABORATORIUM ALAM HUTAN GAMBUT SABANGAU KERENG BANGKIRAI KALIMANTAN TENGAH

2.1 Tanaman Kantong Semar (Nepenthes spp. )

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai

Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Araucariales Araucariaceae Agathis Agathis dammara Warb.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan

Prinsip-Prinsip Ekologi. Faktor Biotik

I. PENDAHULUAN. Ekosistemnya dalam pasal 20 ayat 1 dan 2 serta Peraturan Pemerintah No. 77

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 7. CIRI KHUSUS HEWAN DAN TUMBUHANLatihan soal 7.1

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah Gambut. memungkinkan terjadinya proses pelapukan bahan organik secara sempurna

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

II. TINJAUAN PUSTAKA. daun-daun kecil. Kacang tanah kaya dengan lemak, protein, zat besi, vitamin E

No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan 1. Alkohol 70% Mencegah kerusakan akibat jamur dan serangga

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.))

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda merupakan tanaman herba aquatic yang termasuk dalam keluarga

KEANEKARAGAMAN KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) DI PULAU BATAM. DIVERSITY OF PITCHER PLANT (Nepenthes spp) IN BATAM ISLAND

TINJAUAN PUSTAKA. antara cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim.

1. Ciri Khusus pada Hewan

BAB I PENDAHULUAN. semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya,

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Morfologi Tanaman Pisang ( Musa spp.) 2.2. Tanaman Pisang ( Musa spp.)

PENGENALAN VARIETAS LADA, PALA, dan CENGKEH. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat November 2015

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas

Lili paris ( Chlorophytum comosum Landep (Barleria prionitis L.) Soka(

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DESKRIPSI TANAMAN. Acriopsis javanica Reinw.

TINJAUAN PUSTAKA. Di Indonesia tanaman seledri sudah dikenal sejak lama dan sekarang

ANALISIS MORFOMETRIK KANTONG SEMAR (Nepenthes) DI KAWASAN CAGAR ALAM LEMBAH HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT E-JURNAL

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) berasal dari benua Amerika Selatan,

TINJAUAN PUSTAKA. Mansur (2006) menyebutkan bahwa Nepenthes ini berbeda dengan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

GEOGRAFI REGIONAL ASIA VEGETASI ASIA PENGAJAR DEWI SUSILONINGTYAS DEP GEOGRAFI FMIPA UI

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Nepenthes spp. Nepenthes spp. pertama kali dikenalkan oleh J. P Breyne pada tahun 1689 di Indonesia. Kantung semar dikenal sebagai tumbuhan yang unik dan merupakan bentuk tumbuhan berbunga yang tidak umum dijumpai. Tumbuhan ini sebenarnya tidak memiliki bunga yang memikat, tetapi variasi warna dan bentuk dari kantung-kantung yang dimilikinya menjadikan kantung semar memiliki keindahan yang khas (Hernawati, 2001). Sebutan untuk tumbuhan ini berbeda antara satu daerah dengan yang lain. Di Sumatera diketahui beberapa nama seperti gendi kre, kantong monyet, cerekcerek, saluang antu, kuran-kuran, cawan-cawan, katidiang baruak, katang-katang, kumbuak-kumbuak, katekong beruk, kuburan lanceng, galo-galo antu, tahul-tahul, dan lain sebagainya. Umumnya di Indonesia Nepenthes spp. dikenal dengan sebutan kantong semar (Hernawati & Akhriadi, 2006). Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari ujung daunnya. Kemampuannya yang unik menjadikan Nepenthes spp. sebagai tanaman hias eksotis di berbagai negara seperti Jepang, Eropa, Amerika, dan Australia. Di Indonesia justru tidak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya. Selain kemampuannya dalam menjebak serangga, keunikan lain dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantungnya (Witarto, 2006). Kantung bernektar pada Nepenthes spp. secara ekologis berfungsi sebagai perangkap serangga, beberapa reptil, dan hewan kecil lainnya. Hewan yang terperangkap kemudian diproses secara kimiawi oleh mikroorganisme dekomposer yang mendiami cairan yang berada di dalam kantung dan enzim pencernaan yang dimilikinya. Proses dekomposisi tersebut menyediakan beberapa nutrisi penting seperti nitrat dan fosfat yang mungkin tidak tersedia dan tidak dapat diperoleh Nepenthes spp. secara optimal dari lingkungannya (Frazier, 2000)

4 Hutan hujan tropis menjadi pusat distribusi dan keanekaragaman jenis Nepenthes. Nepenthes tersebar luas di Malesia, tetapi ada beberapa jenis-jenis yang terisolasi di Madagaskar, Selandia Baru, Cina, Sri Lanka, Kepulauan Solomon, dan India (Cheek & Jebb, 2013). Nepenthes merupakan satu-satunya genus yang termasuk ke dalam famili Nepenthaceae. Menurut Damayanti et al. (2011) sekitar 93 jenis terdapat di dunia pada tahun 2009. Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman Nepenthes paling tinggi di dunia, 64 jenis terdapat di Indonesia (Mansur, 2006). Wistuba et al. (2007) menyatakan, beberapa ahli berpendapat bahwa Sumatera merupakan pusat persebaran Nepenthes. Di Sumatera ditemukan 36 jenis Nepenthes diikuti oleh Borneo sebanyak 34 jenis. Sehingga Sumatera merupakan pulau yang memiliki keanekaragaman Nepenthes tertinggi. Diperkirakan akan ditemukan lebih banyak jenis Nepenthes di pulau ini (Akhriadi et al., 2009). 2.2 Habitat Nepenthes spp. Nepenthes spp. hidup di tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Nepenthes spp. bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, pinggiran danau, pantai, dan padang savana. Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, Nepenthes spp. dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: Nepenthes dataran rendah, menengah, dan dataran tinggi. Karakter dan sifat Nepenthes spp. berbeda pada tiap habitat. Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas, Nepenthes spp. beradaptasi dengan daun yang tebal untuk menekan penguapan air dari daun. Sementara Nepenthes spp. di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m (Azwar, 2002). 2.3 Morfologi Nepenthes spp. Tumbuhan Nepenthes spp. merupakan herba atau semak, epifit hingga liana tahunan. Anakan dan tumbuhan yang belum dewasa daunnya tersusun dalam bentuk roset akar yang dilengkapi dengan tendril pada setiap ujungnya. Sebagian

5 besar daun dalam roset membentuk kantung yang membulat dan lonjong dengan dua sayap yang terletak di depan tabung. Tumbuhan dewasa Nepenthes spp. tumbuh memanjat pada tumbuhan lain. Akar Nepenthes spp. merupakan akar tunggang sebagaimana tumbuhan dikotil lainnya. Perakaran tumbuh dari pangkal batang, memanjang, dengan akar-akar sekunder di sekitarnya dan terbenam sekitar 10 cm dari permukaan tanah (Clarke, 2001). Batang Nepenthes memiliki beberapa variasi bentuk, biasanya bulat, elips, dan bersegi dengan pangkal daun terkadang melekat pada batang. Nepenthes memiliki internodus. Internodus pada roset lebih pendek jika dibandingkan pada jenis yang memanjat. Pada beberapa jenis Nepenthes juga memiliki rambutrambut halus pada ujung batang (Hernawati & Akhriadi, 2006). Batang Nepenthes spp. termasuk batang memanjat (scandens), yaitu batangnya tumbuh ke atas dengan menggunakan penunjang hingga mencapai 20 m. Pada saat memanjat batang menggunakan alat khusus untuk berpegangan, berupa sulur daun. Diameter batangpun sangat kecil yaitu antara 3-30 mm dengan warna bervariasi yaitu hijau, merah, serta ungu tua (Clarke, 2001). daun Nepenthes spp. rata-rata lanset (lanceolatus), bulat telur (ovatus), bangun sudip (spathulatus), dan lonjong (oblongus). Nepenthes spp. kadang-kadang memiliki tangkai daun dan terkadang bersifat sesil. Permukaan daun licin dan terkadang memiliki rambut. Tepi daun bervariasi, ada yang rata, bergelombang, dan bergerigi. Pertulangan daun umumnya sejajar dan melengkung atau kadang menyirip. Duduk daun tersebar, berseling, dan melekat setengah memeluk batang. Dari ujung daun muncul kantung dengan bermacam-macam bentuk tergantung jenisnya (Purwanto, 2007). Kantung merupakan ciri terpenting dalam identifikasi Nepenthes. Pada setiap jenis Nepenthes terdapat perbedaan bentuk dan warna kantung pada setiap fase hidupnya. Mulai dari saat tumbuhan berupa kecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa. Beberapa ciri morfologi kantung yang perlu diperhatikan dalam identifikasi adalah bentuk dari kantung, sayap pada kantung, mulut kantung, bibir dan gigi kantung, penutup kantung dan juga taji (Hernawati & Akhriadi, 2006). Kantung Nepenthes spp. terdiri dari beberapa bagian yang dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini:

6 1 8 2 3 4 5 6 7 Keterangan: 1. Taji 2. Kelenjar nektar 3. Penutup 4. Ujung tambahan 5. Sulur 6. Bibir 7. Sayap 8. Zona berlilin 9. Zona pencernaan 9 Gambar 2.1 Morfologi Kantung Nepenthes spp. (Sumber: Phillipps & Lamb, 1996). Keberadaan taji (spur) pada kantung Nepenthes spp. baik bentuk dan banyaknya gerigi pada taji sering dijadikan sebagai kunci identifikasi jenis. Hanya satu jenis dari tumbuhan ini yang tidak memiliki taji, yaitu N. Ephippiata. Pada N. lowii struktur ini hampir hilang karena mengalami rudimenter. Bagian yang terdapat dipermukaan bawah penutup tersebut sering disebut juga kepala (boss) atau terbalik (keel). Bagian ini merupakan daerah pembentukan dan konsentrasi nektar yang kadang bisa membasahi keseluruhan bagian penutup. Nektar ini bisa selalu ada atau kadang tidak ada tergantung pada jenisnya (Clarke, 2001). Lid atau operkulum merupakan penutup kantung yang menaungi material di dalamnya dari curahan hujan atau incaran hewan pemakan bangkai seperti burung dan binatang kecil, tetapi tidak selalu demikian. dan ukuran penutup merupakan karakter yang sangat perlu diperhatikan dalam membedakan dua atau lebih jenis yang cenderung memiliki bentuk dan warna kantung yang mirip. dan ukuran penutup yang umumnya bulat ini sangat penting fungsinya sebagai pelindung material yang ada di dalam kantung (ICPS, 2003).

7 Ujung tambahan (filiform appendage) merupakan juluran sempit memanjang yang bergantungan di ujung penutup hanya dimiliki oleh beberapa jenis. nya yang khas tersebut penting dalam identifikasi. Bibir (lip) dan gerigi pada bibir (peristome) merupakan bagian yang paling menarik dari kantung Nepenthes spp. nya melingkar dan sering bergerigi, bervariasi dari ukuran yang sangat kecil dan tidak jelas hingga yang sangat lebar dan tampak dengan jelas. Gerigi pada bibir merupakan bagian yang licin namun menarik perhatian serangga karena selain warnanya yang mencolok, bagian ini bernektar berasal dari glandular crest yang berada tepat di atasnya (Purwanto, 2007). Zona berlilin (waxy zone) berada dibagian kantung sebelah dalam. Warna antara sisi sebelah luar dan sisi sebelah dalam bisa sangat jauh berbeda. Perbedaan warna antara bagian luar dan dalam ini diduga untuk lebih menarik perhatian serangga. Zona pencernaan merupakan daerah dekomposisi yang mengandung cairan sarat mikroorganisme dekomposer. Hewan atau serangga yang terjebak jarang yang dapat keluar dari zona ini. Sayap (wing) dimiliki oleh semua kantung Nepenthes spp. pada kantung anakan atau kantung rosetnya yang berfungsi seperti tangga untuk membantu serangga naik hingga ke mulut kantong. Sulur daun (tendril) adalah bagian yang menghubungkan antara kantung dengan helaian daun. Nepenthes memiliki variasi bentuk yang menarik, begitu juga dengan ukuran dan warna kantungnya. Warna dasar kantung Nepenthes selalu hijau, seringkali juga berwarna merah membentuk variasi warna yang sesuai (Phillipps & Lamb, 1996). Pada umumnya Nepenthes memiliki tiga bentuk kantung yang berbeda meski dalam satu individu, ketiga kantung tersebut dikenal dengan nama: kantung roset, yaitu kantung yang keluar dari daun ujung roset. Kantung bawah, yaitu kantung yang keluar dari daun yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah dan biasanya menyentuh permukaan tanah serta memiliki sayap. Kantung atas, yaitu kantung berbentuk corong, pinggang, atau silinder dan tidak memiliki sayap. Ciri lainnya adalah ujung sulur berada di bawah kantung. Secara keseluruhan, semua jenis Nepenthes memiliki lima bentuk kantung yaitu bentuk tempayan, bulat telur/oval, silinder, corong, dan pinggang. kantung tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2 (Mansur, 2006).

8 tempayan telur silinder corong pinggang Gambar 2.2 Kantung Nepenthes spp. (Sumber: Mansur, 2006). Bunga jantan dan betina terpisah, masing-masing berada pada tumbuhan yang berbeda (dioecious), majemuk, regularis, berbentuk tandan atau malai, terminal ataupun aksilar. Bunga jantan memiliki perbungaan yang lebih panjang jika dibandingkan dengan bunga betina. Buah kapsul (fusiformis), berlokus dan memiliki banyak biji (Lauffenburger & Walker, 2000). 2.4 Manfaat Nepenthes spp. Keindahan kantung yang dimiliki oleh Nepenthes spp. menjadikan jenisjenis tersebut berpeluang besar untuk dikomersilkan sebagai tanaman hias. Mansur (2006) mengemukakan selain sebagai tanaman hias, cairan dalam kantung muda yang masih menutup dapat digunakan sebagai pelepas dahaga, obat mata, obat batuk, dan mengobati kulit yang terbakar. Sedangkan menurut Mulyani (2004) rebusan akarnya dapat digunakan sebagai obat sakit perut dan demam. Pemanfaatan Nepenthes spp. oleh masyarakat lokal sangat beragam. Contohnya saja di kawasan Suaka Alam Air Putih N. ampullaria dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai pembungkus godah (sejenis kue dari beras). Nepenthes rafflesiana oleh masyarakat suku Dairi dimanfaatkan untuk memasak nasi karena ukurannya cukup besar. Sedangkan di Tamiang Layang yang batang Nepenthes yang panjang menyerupai tali biasa digunakan untuk tali pengikat dan cukup kuat (Sari, 2009).