IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian dan Terhadap Sifat sifat Kimia Tanah Penelitian ini mengevaluasi pengaruh pemberian amelioran bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan hara tanah meliputi parameter ph, C-Org, N- Total, P-tersedia, K, Na, Ca, dan Mg yang dapat dipertukarkan, serta KTK dan Al dd. Secara umum pemberian amelioran bahan humat dan atau abu terbang berpengaruh nyata meningkatkan kandungan hara tanah namun tidak ada interaksi antara kedua amelioran (Tabel 6-11). Nilai ph tanah Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap ph tanah disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Pengaruh bahan humat dan abu terbang terhadap parameter ph tanah P-I sengon P-I meranti P-II H0 4,62a 4,35 5,39 H1 4,68b 4,36 5,46 H2 4,68b 4,35 5,61 F0 4,58a 4,20a 5,41 F1 4,67b 4,35b 5,23 F2 4,72c 4,51c 5,71 Keterangan : P-I sengon : Percobaan I di rumah kaca dengan indikator tanaman sengon P-I meranti : Percobaan I di rumah kaca dengan indikator tanaman meranti P-II : Percobaan II di lahan bekas tambang dengan indikator tanaman sengon Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian bahan humat atau abu terbang berpengaruh nyata meningkatkan nilai ph tanah pada percobaan I tanaman sengon sedangkan pada percobaan I tanaman meranti hanya abu terbang saja yang berpengaruh nyata meningkatkan nilai ph. Pada dosis abu terbang F2 menunjukkan nilai ph tertinggi. Percobaan II tidak menunjukkan pengaruh nyata. Peningkatan nilai ph tanah oleh abu terbang disebabkan ph yang tinggi pada abu terbang.
Peningkatan ph tanah tidak terlalu besar dibandingkan kontrol (H 0 dan F 0 ), karena sifat tanah lahan bekas tambang di PT KPC mempunyai kandungan Al dd yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan buffering capacity yang tinggi. Pemberian abu terbang dosis maksimal pada tanah tersebut tidak menunjukkan peningkatan ph tanah yang tinggi. Kandungan C-Org dan N tanah Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan C-organik (C-org) dalam tanah disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan C-org dalam tanah P-I sengon P-I meranti P-II -------------------------------(%)------------------------------- Baha Humat H0 1,05 0,63a 1,20 H1 1,09 1,35b 1,02 H2 1,11 1,28b 1,30 F0 0,94a 1,09 1,07 F1 1,10b 0,98 1,09 F2 1,20b 1,18 1,37 Hasil analisis menunjukkan peningkatan C-org tanah dalam media polybag dengan indikator tanaman sengon nyata dipengaruhi oleh abu terbang saja (Tabel 7) sedangkan pada percobaan I tanaman meranti peningkatan C-org tanah nyata dipengaruhi oleh bahan humat. Pada percobaan percobaan II pemberian amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan C-org dalam tanah (Tabel 7). Kenaikan C-org tanah oleh penambahan abu terbang disebabkan adanya sisa kandungan C dalam abu terbang (1,84%) akibat pembakaran batubara yang tidak optimal. Kenaikan C-org oleh penambahan bahan humat disebabkan adanya kandungan C-org dalam bahan humat (10-13%). Lebih tingginya peningkatan C- org akibat bahan humat karena kadar C-org bahan humat lebih tinggi daripada abu terbang. Menurut Hwang (1991) komponen mineral utama abu terbang adalah aluminosilikat, besi oksida, silikat densitas rendah, dan sisa karbon, serta 27
kemungkinan adanya mineral mullite, sehingga kemungkinan masih ada sisa C dalam abu terbang. Hasil analisis pemberian amelioran terhadap peningkatan N tanah pada percobaan I tanaman sengon nyata dipengaruhi oleh abu terbang saja (Lampiran 6). Pada percobaan I tanaman meranti dan percobaan II, kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap N tanah (Lampiran 6). Secara umum kedua amelioran tidak memberikan sumbangan terhadap ketersediaan N dalam tanah. Kandungan P tersedia dalam tanah Tabel 8. Tabel 8 Pengaruh ameliorasi terhadap kandungan P-tersedia tanah disajikan pada Pengaruh bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan P-tersedia tanah P-I sengon P-I meranti P-II ------------------------------- (ppm) ------------------------------- H0 5,95ab 4,14 1,68 H1 5,14a 4,62 1,56 H2 7,18b 4,68 2,01 F0 5,48 3,99a 1,13a F1 5,99 4,56ab 1,63ab F2 6,81 4,88b 2,50b Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan P tersedia dipengaruhi secara nyata oleh bahan humat pada percobaan I tanaman sengon. Percobaan I tanaman meranti dan percobaan II, abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan P-tersedia (Tabel 8). Peningkatan kandungan P tersedia dalam tanah oleh penambahan abu terbang disebabkan adanya kandungan P dalam abu terbang. P-tersedia dalam abu terbang mencapai 48,8 ppm (Tabel 1). Pengaruh bahan humat dalam meningkatkan P tersedia dalam tanah adalah karena kemampuan bahan humat dalam menjerap Al dari ikatan Al-P sehingga ion P menjadi tersedia dalam tanah. Kation basa tanah yang dapat dipertukarkan (K, Na, Ca dan Mg) Pengaruh ameliorasi terhadap kandungan K dd, Na dd, Ca dd dan Mg dd dalam tanah disajikan pada Tabel 9 dan 10. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada 28
percobaan I tanaman sengon dan meranti, abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kandungan K dd dan Na dd (Tabel 9). Pada percobaan II, pemberian amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan K-tersedia dan Natersedia (Tabel 10). Peningkatan kandungan K dd dan Na dd dalam tanah diperoleh dari kandungan K dan Na dalam abu terbang. Pada percobaan I dan II, K dd dan Na dd dalam tanah lebih kecil daripada kandungan Ca dd dan Mg dd. Hal ini disebabkan sumbangan hara K dan Na lebih kecil daripada Ca dan Mg dalam abu terbang. Tabel 9 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan K dd, Na dd, Ca dd dan Mg dd tanah pada percobaan I N NH 4 OAc ph 7.0 (me/100 g) K dd Na dd Ca dd Mg dd P-I P-I P-I P-I P-I P-I P-I P-I sengon meranti sengon meranti sengon meranti sengon meranti H0 0,19 0,22 0,41 0,37 1,73b 0,86 0,17 0,51a H1 0,20 0,24 0,44 0,41 1,53a 0,89 0,16 0,68ab H2 0,20 0,24 0,44 0,44 2,17c 1,15 0,18 0,85b F0 0,17a 0,19a 0,35a 0,34a 1,57b 0,65a 0,15 0,52a F1 0,20b 0,23b 0,45b 0,42b 1,94c 0,93a 0,18 0,58a F2 0,23c 0,27c 0,49b 0,46b 1,2a 1,32b 0,18 0,94b Tabel 10 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap kandungan K dd, Na dd, Ca dd dan Mg dd tanah pada percobaan II K dd N NH 4 OAc ph 7.0 (me/100 g) Na dd Ca dd Mg dd H0 0,3 0,68 2,21 4,59a H1 0,31 0,73 2,64 5,13b H2 0,49 0,66 2,84 5,74c F0 0,3 0,63 2,45 4,76a F1 0,31 0,73 2,62 5,32b F2 0,49 0,71 2,62 5,39b Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa bahan humat atau abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kandungan Ca dd tanah pada percobaan I dengan tanaman sengon sedangkan pada percobaan I dengan tanaman meranti, 29
abu terbang berpengaruh nyata terhadap Ca dd. Pada percobaan II menunjukkan kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan Ca dd (Tabel 10). Pada percobaan I dengan tanaman sengon, kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan Mg dd (Tabel 9). Percobaan I dengan tanaman meranti dan percobaan II, kedua amelioran berpengaruh nyata terhadap peningkatan Mg dd (Tabel 9 dan 10). Peningkatan kandungan Ca dan Mg dalam tanah disumbangkan oleh adanya kandungan Ca dan Mg dalam abu terbang. Pengaruh bahan humat dalam meningkatkan kandungan Ca dan Mg dalam tanah terutama dalam menjerap Ca dan Mg. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Pengaruh ameliorasi terhadap nilai KTK tanah disajikan pada Tabel 11. Tabel 11 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap nilai KTK tanah KTK (N NH 4 OAc ph 7.0) P-I sengon P-I meranti P-II H0 7,81 9,22 9,21a H1 8,39 9,13 10,24b H2 9,22 10,89 11,27c F0 8,08 8,82 9,83 F1 8,61 9,75 10,2 F2 8,73 10,67 10,74 Tabel 11 menunjukkan bahwa bahan humat bepengaruh nyata terhadap peningkatan nilai KTK tanah pada percobaan II. Percobaan I pengaruhnya tidak nyata. Lebih tingginya KTK pada percobaan II karena nilai ph percobaan II lebih tinggi daripada percobaan I. Pengaruh bahan humat terhadap KTK tanah disebabkan oleh adanya gugus karboksil (-COOH) dan OH fenolat yang jika ion H terdisosiasi akan bermuatan negatif, sehingga mampu menarik kation-kation basa. Kandungan Al dd dalam tanah Hasil analisis lanjutan baik percobaan I dan II menunjukkan tidak ada pengaruh nyata pemberian kedua amelioran terhadap kandungan Al dd dalam tanah (Lampiran 15). Unsur Al dalam abu terbang tidak berbahaya jika masih dalam 30
kondisi basa kuat dimana molekul Al 2 O 3 dalam kondisi stabil sehingga tidak mudah terserap oleh tanaman. Namun ion Al 3+ akan mudah terhidrolisis pada saat terjadi proses oksidasi berantai dan melepaskan H + sehingga ph tanah menjadi masam. Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa penambahan bahan humat dapat meningkatkan nilai KTK dan kandungan C-org tanah sedangkan penambahan abu terbang dapat meningkatkan ketersediaan hara C-org, P-tersedia, K dd, Na dd, Ca dd dan Mg dd dalam tanah. 4.2. Pengaruh Pemberian dan terhadap Pertumbuhan Tanaman Pengaruh pemberian amelioran terhadap pertumbuhan tanaman dievaluasi dalam hal tinggi tanaman, banyaknya percabangan akar, bobot kering daun. Pada tanaman sengon diukur bintil akar sedangkan pada tanaman meranti diukur panjang akar. Perubahan beda tinggi tanaman merupakan beda tinggi tanaman bulan ke-3 setelah perlakuan dengan tinggi tanaman awal. Jumlah bintil dan percabangan dihitung secara kualitatif (naik, tetap dan turun) karena sulit dihitung dengan kuantitatif. Dalam analisis lanjutan, data jumlah percabangan dan bintil akar diubah menjadi parameter kuantitatif untuk mempermudah perhitungan. Jumlah perkembangan naik diberi nilai 3, jumlah tetap diberi nilai 2, dan jumlah turun diberi nilai 1. Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap perubahan beda tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bintil akar dan bobot kering daun pada percobaan I tanaman sengon disajikan pada Tabel 12 dan 13. Tabel 12 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap beda tinggi tanaman, perkembangan cabang perakaran dan bobot kering daun pada percobaan I tanaman sengon Beda tinggi tanaman (cm) Percabangan akar Bobot kering daun (g/tanaman) H0 28,0a 2a (tetap) 5,274 H1 40,1b 2a (tetap) 5,706 H2 40,27b 3b (naik) 6,653 F0 29,2a 2a (tetap) 5,592 F1 33,4a 2b (tetap) 5,918 F2 45,7b 3b (naik) 6,122 31
Tabel 12 di atas menunjukkan bahwa bahan humat atau abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan beda tinggi dan cabang tanaman sengon pada percobaan I. Tabel 13 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap perkembangan bintil perakaran pada percobaan I tanaman sengon Bahan humat F0 F1 F2 H0 1a (turun) 1a (turun) 2ab (tetap) H1 1a (turun) 3cd (naik) 2bc (tetap) H2 2ab (tetap) 3d (naik) 3d (naik) Bahan humat dan abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan perkembangan jumlah bintil akar serta ada interaksi antara kedua amelioran tersebut (Tabel 13). Perlakuan H 2 F 2 dan H 2 F 1 memberikan hasil pertumbuhan bintil akar yang paling baik dibanding kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis bahan humat maksimal, baik dosis abu terbang F1 maupun F2 tetap memberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah bintil akar tanaman sengon. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah nilai ph tanah, ketersediaan hara dan faktor penghambat tumbuh (Leiwakabessy 1988). Korelasi antara ph, ketersediaan hara, dan Al dd dengan beda tinggi tanaman dan perakaran disajikan dalam Tabel 14. Tabel 14 Korelasi antara ph, ketersediaan hara, dan Al dd terhadap beda tinggi tanaman dan perakaran Korelasi antara Beda tinggi tanaman Jumlah Jumlah bintil akar cabang akar P tersedia 0,279 0,604 0,567 K dd 0,494 0,159 0,316 Ca dd 0,474 0,589 0,542 Mg dd 0,642 0,683* 0,747* ph 0,775* 0,617 0,778* Al dd -0,766* -0,836** -0,912** C-Org 0,644 0,760* 0,872** Keterangan : ** = korelasi signifikan pada taraf 99% * = korelasi signifikan pada taraf 95% 32
Tabel 14 diatas menunjukkan bahwa ph dan ketersediaan hara berkorelasi positif terhadap perubahan beda tinggi dan perakaran tanaman. Nilai ph dan ketersediaan C-org berpengaruh signifikan pada taraf 99% dan 95%. Menurut Lakitan (2007) perkembangan sistem percabangan akar akan lebih terangsang pada tempat-tempat dimana air dan unsur hara lebih tersedia. Perkembangan percabangan akar sampai pada bagian bulu-bulu akar diikuti dengan pertumbuhan bintil-bintil akar. Semakin bertambahnya Al dd dalam tanah menyebabkan pertumbuhan tinggi dan perakaran tanaman menurun, yang ditunjukkan dengan nilai korelasi negatif dan signifikan pada taraf 99% untuk perakaran tanaman dan 95% untuk beda tinggi tanaman. Reaksi tanah (ph) berkorelasi positif dan nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi dan perakaran tanaman (jumlah bintil dan cabang), terutama yang berkaitan dengan pengaruhnya terhadap ketersediaan unsur-unsur hara tertentu. Adanya Al dd dalam tanah dapat menyebabkan kerusakan fungsi tanaman terutama pada sistem perakaran. Tabel 14 menunjukkan bahwa sistem perakaran baik jumlah cabang dan bintil menurun dengan adanya penambahan Al dd dalam tanah. Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap perubahan beda tinggi, perkembangan akar dan bobot kering daun tanaman meranti disajikan pada Tabel 15. Tabel 15 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap beda tinggi tanaman, jumlah cabang perakaran, panjang akar dan bobot kering daun pada percobaan I tanaman meranti Beda tinggi tanaman (cm) Percabangan akar Panjang akar (cm) Bobot kering daun (g/tanaman) H0 21,61b 2 (tetap) 5,83 1,35 H1 17,45ab 3 (naik) 6,73 1,40 H2 14,40a 2 (tetap) 7,80 1,42 F0 11,93a 2 (tetap) 6,20 1,34 F1 23,82c 2 (tetap) 6,33 1,37 F2 17,71b 2 (tetap) 7,83 1,45 33
Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa bahan humat atau abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan beda tinggi tanaman meranti. Pada peningkatan dosis abu terbang dari kontrol (F0) ke F1 terjadi kenaikan tinggi tanaman kemudian turun pada F2 walau masih lebih tinggi dibandingkan kontrol sedangkan penambahan bahan humat menyebabkan penurunan tinggi tanaman. Kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan percabangan perakaran, panjang dan bobot kering daun (Tabel 15). Tanaman meranti mempunyai karakteristik fisiologis yang berbeda dengan jenis sengon. Tanaman meranti muda biasanya mempunyai sifat intoleran terhadap sinar matahari sehingga memiliki pertumbuhan vertikal yang lambat. Pada masa muda, meranti lebih banyak melakukan pertumbuhan akar dan daun. Tabel 15 menunjukkan bahwa penambahan bahan humat dan abu terbang dapat meningkatkan bobot kering daun. Pertumbuhan akar lebih banyak memanjang ke bawah untuk menunjang berdirinya pohon karena pohon meranti jika dewasa cenderung besar dan tinggi sehingga diperlukan penahan akar yang kuat. Pengaruh pemberian amelioran terhadap pertumbuhan tanaman sengon pada percobaan II disajikan dalam Tabel 16. Tabel 16 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap beda tinggi tanaman, perkembangan jumlah bintil dan cabang perakaran serta bobot kering daun pada percobaan II dengan tanaman sengon Beda tinggi tanaman (cm) Jumlah bintil akar Percabangan akar Bobot kering daun (g/tanaman) H0 2,57 2 (tetap) 2 (tetap) 0,729a H1 3,54 2 (tetap) 2 (tetap) 0,857a H2 3,76 2 (tetap) 2 (tetap) 1,638b F0 1,77 2 (tetap) 2 (tetap) 0,708 F1 4,24 2 (tetap) 2 (tetap) 0,883 F2 3,86 2 (tetap) 2 (tetap) 1,632 Tabel 16 menunjukkan bahwa kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap beda tinggi dan perkembangan perakaran (jumlah bintil dan cabang). Perkembangan bintil dan percabangan akar menunjukkan nilai tetap untuk semua 34
perlakuan. Bahan humat berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot kering daun (Tabel 16). 4.3. Pengaruh Pemberian dan Terhadap Serapan Daun Tanaman Bahan sampel yang diambil untuk analisis serapan daun tanaman adalah seluruh daun tanaman kecuali kuncup daun muda. Jika ketersediaan unsur hara esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan tanaman, maka tanaman akan terganggu metabolismenya yang secara visual dapat terlihat dari penyimpanganpenyimpangan pada pertumbuhannya. Pengaruh ameliorasi terhadap serapan daun tanaman sengon pada percobaan I disajikan pada Tabel 17, 18 dan 19. Tabel 17 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan N daun tanaman sengon pada percobaan I F0 F1 F2 ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 134,21abc 134,02abc 201,92cd H1 132,03abc 108,58ab 80,06a H2 142,43abc 174,22bc 253,67d Tabel 18 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan Ca daun tanaman sengon pada percobaan I F0 F1 F2 ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 16,68ab 19,74ab 26,54bcd H1 22,30ab 21,24ab 14,04a H2 24,15abc 35,67d 33,49cd Pada percobaan I tanaman sengon, kedua amelioran berpengaruh nyata terhadap serapan N, Ca dan Mg daun tanaman dan kedua amelioran saling interaksi (Tabel 17, 18 dan 19). Tabel 17 menunjukkan bahwa serapan N daun tanaman tertinggi pada perlakuan H 2 F 2 dan terendah pada perlakuan H 1 F 2. Tabel 18 menunjukkan bahwa serapan Ca daun tanaman tertinggi pada perlakuan H 2 F 1 35
dan terendah pada perlakuan H 1 F 2 dan tidak berbeda dengan H 2 F 2. Tabel 19 menunjukkan bahwa serapan Mg daun tanaman tertinggi pada perlakuan H 2 F 2 dan terendah pada perlakuan H 0 F 1. Namun kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap serapan P dan K daun tanaman (Lampiran 29 dan 30). Tabel 19 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan Mg daun tanaman sengon pada percobaan I F0 F1 F2 ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 13,24ab 6,08a 11,91ab H1 9,10ab 14,82ab 13,45ab H2 15,64b 7,28ab 30,42c Pengaruh pemberian amelioran terhadap serapan daun tanaman meranti pada percobaan I disajikan pada Tabel 20 dan 21. Tabel 20 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan N, K dan Mg daun tanaman meranti pada percobaan I N K Mg ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 33,51a 7,47a 1,42a H1 47,07b 10,49b 1,85ab H2 23,69a 11,06b 2,49b F0 32,07 8,79 1,49a F1 36,34 10,01 1,83ab F2 35,87 10,23 2,44b Tabel 21 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan Ca daun tanaman meranti pada percobaan I F0 F1 F2 ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 3,60a 3,02ab 3,00ab H1 5,20c 8,51d 9,44d H2 4,63bc 4,77bc 5,63c 36
Tabel 20 menunjukkan bahwa bahan humat berpengaruh nyata terhadap serapan N dan K daun tanaman meranti. Bahan humat atau abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan serapan Mg daun tanaman meranti namun tidak saling berinteraksi. Tabel 21 menunjukkan bahwa kedua amelioran berpengaruh nyata dan saling berinteraksi terhadap peningkatan serapan Ca daun tanaman meranti. Serapan Ca daun tanaman meranti tertinggi adalah pada perlakuan H 1 F 2 dan H 1 F 1 dan terendah pada H 0 F 0. Kedua amelioran tidak berpengaruh nyata terhadap serapan P daun tanaman meranti. Pengaruh ameliorasi terhadap serapan daun tanaman sengon pada percobaan II disajikan pada Tabel 22 dan 23. Tabel 22 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan N, P, K dan Ca daun tanaman sengon pada percobaan II N P K Ca ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 34,26 2,133a 10,58a 0,83a H1 33,91 2,425a 12,12a 1,10a H2 46,52 3,8733b 23,86b 1,88b F0 38,20ab 2,553 10,96a 0,63a F1 25,10a 2,387 10,90a 1,40b F2 51,38b 3,487 24,72b 1,77b Tabel 23 Pengaruh pemberian bahan humat dan abu terbang terhadap serapan Mg daun tanaman sengon pada percobaan II F0 F1 F2 ---------------------mg/tanaman--------------------- H0 0,28a 0,93a 4,52b H1 0,78a 1,16a 4,64b H2 4,17b 4,00b 4,02b Tabel 22 di atas menunjukkan bahwa abu terbang (F2) berpengaruh nyata terhadap peningkatan serapan N daun tanaman sengon dibandingkan F1. Bahan humat (H 2 ) berpengaruh nyata terhadap peningkatan serapan P daun tanaman sengon. Bahan humat (H 2 ) atau abu terbang (F 2 ) berpengaruh nyata terhadap peningkatan serapan K dan Ca daun tanaman sengon namun tidak ada interaksi 37
antara kedua amelioran. Tabel 23 menunjukkan bahwa kedua amelioran berpengaruh nyata dan saling berinteraksi terhadap serapan Mg daun tanaman sengon. Pada percobaan II, serapan Mg daun tanaman sengon tertinggi pada perlakuan H 1 F 2, tidak berbeda dengan perlakuan H 2 F 0, H 2 F 1, dan H 2 F 2 sedangkan terendah pada perlakuan H 0 F 0 tetapi tidak berbeda dengan H 0 F 1, H 1 F 0, dan H 1 F 1. Rata-rata kandungan hara, ph dan KTK tanah yang dipengaruhi oleh amelioran pada masing-masing percobaan disajikan dalam Tabel 24. Tabel 24 Rata-rata peningkatan kation basa-basa, nilai ph dan KTK tanah masing-masing percobaan yang dipengaruhi amelioran No Sifat Kimia Tanah P-I P-I Tanah Awal Sengon Meranti P-II Pengaruh 1 ph 4,20 4,70 4,58 5,71 2 C-Org (%) 0,40 1,14 1,47 1,37 /Bahan Humat 3 P (ppm) 4,10 6,49 4,89 2,49 Kation Basa (me/100g) 4 K dd 0,13 0,23 0,29 0,32 5 Na dd 0,26 0,46 0,44 0,71 6 Mg dd 0,68 0,20 1,94 5,39 7 Ca dd 4,70 2,01 1,58 2,62 8 KTK (me/100g) 7,22 8,76 12,10 11,27 9 Al dd (me/100g) 0,48 2,10 2,10 0,41 Rata-rata serapan hara tanaman masing-masing percobaan yang dipengaruhi amelioran disajikan pada Tabel 25. Tabel 25 Rata-rata serapan N, P, K, Ca, Mg masing-masing percobaan yang dipengaruhi amelioran Percobaan Serapan Daun Tanaman (mg/tanaman) N P K Ca Mg Serapan dipengaruhi P-I sengon 178,551 18,560 137,901 21,581 14,936 P-I meranti 34,937 3,080 10,520 4,765 1,890 P-II 38,654 3,380 18,996 1,379 3,653 Serapan dipengaruhi P-I sengon 190,14 17,27 133,41 28,53 14,01 P-I meranti 31,90 3,16 10,38 5,11 1,83 P-II 34,49 3,00 18,11 1,42 3,39 Serapan dari perlakuan H2F2 P-I sengon 253,673 21,698 163,170 25,900 21,630 P-I meranti 20,446 2,734 9,746 4,112 2,004 P-II 43,880 3,906 25,067 1,947 4,567 Keterangan: yang bercetak tebal yang dipengaruhi secara nyata 38
Rata-rata beda tinggi, perakaran dan bobot kering daun tanaman masingmasing percobaan yang dipengaruhi oleh amelioran disajikan pada Tabel 26. Tabel 26 Rata-rata beda tinggi tanaman, perakaran dan bobot kering daun tanaman masing-masing percobaan yang dipengaruhi amelioran Percobaan Beda tinggi tanaman (cm) Jumlah bintil akar Jumlah cabang akar Bobot kering daun (g) H2 F2 H2 F2 H2 F2 H2 F2 P-I sengon 40,21 45,71 Naik Naik Naik Naik 6,653 6,122 P-I meranti 14,40 17,71 - - Tetap Tetap 1,420 1,450 P-II 3,76 3,86 Tetap Tetap Tetap Tetap 1,638 1,632 Tabel 24 di atas menunjukkan bahwa pemberian abu terbang dapat meningkatkan nilai ph tanah terutama pada lahan bekas tambang. Pada media polybag, peningkatan ph tidak terlalu tinggi dibanding lahan bekas tambang disebabkan karena Al dd pada percobaan I lebih besar daripada percobaan II sehingga Al dd sebagai buffer dalam mempertahankan peningkatan ph tanah. Al dd yang tinggi akan menyumbangkan ion Al 3+ dalam tanah yang jika terhidrolisis dapat melepaskan ion H + sehingga nilai ph menjadi turun. Buffer ph pada percobaan I lebih besar daripada percobaan II disebabkan oleh tingginya Al dd. Konsentrasi P dalam percobaan I lebih besar daripada percobaan II disebabkan karena adanya retensi ion P oleh Al atau Fe dalam tanah sehingga tidak mudah tersedia oleh tanah dan tanaman. Faktor retensi P dipengaruhi oleh adanya adsorpsi oleh oksida atau hidrus oksida Al atau Fe dan kadar liat. Tanah pada lahan bekas tambang mempunyai kandungan liat lebih tinggi (37,81%) dibanding dengan tanah di polybag (23,65%). Dengan kadar liat yang semakin tinggi, daya retensi P semakin besar. Menurut Leiwakabessy (1988) fosfat dalam jumlah yang cukup akan memperbesar pertumbuhan akar. Hasil penelitian mendukung pernyataan Leiwakabessy (1988) bahwa pada tanah-tanah dengan kandungan P tersedia cukup besar (percobaan I) terjadi perkembangan perakaran yang cukup pesat dibanding pada tanaman sengon percobaan II (Tabel 12 dan 16). Tabel 25 menunjukkan bahwa serapan P daun tanaman sengon pada percobaan I lebih besar daripada percobaan II. 39
Abu terbang berpengaruh nyata terhadap peningkatan ketersediaan basabasa yang dapat dipertukarkan dalam tanah seperti K, Na, Ca dan Mg. Ketersediaan K dd, Ca dd dan Mg dd pada tanah di dalam polybag percobaan I tanaman sengon tampak lebih rendah daripada tanah lahan bekas tambang pada percobaan II bahkan dibandingkan dengan tanah dalam polybag percobaan I tanaman meranti (Tabel 24). Tanaman sengon pada percobaan I lebih banyak melakukan penyerapan hara K, Ca dan Mg sehingga ketersediaan hara di dalam tanah lebih rendah (Tabel 25). Ketersediaan Ca dalam tanah lebih besar daripada K namun serapan Ca lebih kecil dibanding K karena hara K lebih banyak dibutuhkan oleh tanaman sengon sehingga serapannya lebih besar. Salah satu fungsi hara K adalah sebagai katalisator metabolisme pada proses fotosintesa dan respirasi. Tabel 25 menunjukkan bahwa tanaman sengon memiliki kemampuan menyerap hara lebih banyak dibanding tanaman meranti. Disamping itu, tanaman sengon pada media polybag mempunyai serapan hara lebih besar daripada tanaman sengon pada lahan bekas tambang. Serapan hara tanaman sangat tergantung dari kemampuan akar tanaman untuk menyerap hara dan ketersediaan hara dalam tanah. Ketersediaan hara pada percobaan I dan II dengan indikator tanaman sengon tidak banyak berbeda sehingga kemungkinan faktor kemampuan perakaran dalam menyerap hara menjadi faktor utama. Pada lahan bekas tambang yang melalui proses backfilling menggunakan alat berat menyebabkan terjadinya pemadatan tanah sehingga kurangnya ruang dalam tanah untuk udara dan sistem perakaran. Penyebaran perakaran menjadi terhambat dengan adanya pemadatan tanah. Pada tanah polybag, stuktur tanah diubah karena adanya proses pencampuran homogen dengan amelioran sehingga tanah cukup memberikan ruang bagi perakaran untuk berkembang. Tabel 26 menunjukkan bahwa perkembangan perakaran tanaman sengon pada media polybag (percobaan I) lebih baik daripada percobaan II sehingga kemampuan menyerap hara tanaman sengon pada percobaan I lebih baik pada percobaan II. Serapan tanaman meranti lebih kecil daripada sengon disebabkan karena sifat fisiologis tanaman meranti yang tumbuh lambat pada waktu muda sehingga berpengaruh terhadap berkurangnya aktivitas penyerapan hara tanaman. Karakteristik perakaran tanaman meranti yang 40
tidak berkembang dan menyebar seperti halnya tanaman sengon berpengaruh dalam proses penyerapan hara tanaman. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yang paling utama adalah faktor bukan biotik (suhu, kelembaban nisbi, energi cahaya, atmosfir, struktur tanah dan susunan udara tanah, serta reaksi tanah) dan faktor biotik (ketersediaan hara dan adanya zat-zat penghambat tumbuh). Tabel 26 di atas menunjukkan bahwa terdapat kenaikan beda tinggi tanaman sengon (percobaan I dan II) dan tanaman meranti (percobaan I) dibandingkan kontrol. Perkembangan beda tinggi tanaman sengon pada percobaan I lebih baik daripada percobaan II kemungkinan disebabkan karena serapan hara tanaman sengon pada percobaan I lebih besar daripada serapan hara tanaman sengon pada percobaan II (Tabel 25). Serapan hara yang lebih besar dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk melakukan aktivitas biologisnya seperti fotosintesis dan respirasi sehingga dapat dihasilkan lebih banyak zat-zat pembentuk tanaman terutama untuk menunjang tinggi tanaman dan perakaran tanaman sengon.tanaman meranti mempunyai karakteristik yang berbeda dengan tanaman sengon. Tanaman meranti mempunyai sifat intoleran pada waktu mudanya sehingga pertumbuhan tinggi tanaman tidak banyak berbeda dengan kontrol. 4.4.Prospek dan Sebagai Bahan humat dan abu terbang merupakan alternatif bahan daur ulang yang dapat digunakan sebagai amelioran bagi peningkatan kualitas tanah. Bahan humat yang digunakan merupakan ekstrak dari batubara jenis lignit yang biasanya berwarna coklat yang merupakan batubara muda menurut istilah geologi. Batubara jenis lignit diekstrak menjadi bahan humat cair yang mengandung antara lain asam humat, asam fulfat dan humin. Abu terbang merupakan sisa pembakaran batubara dalam tungku yang biasanya berbentuk debu-debu halus. Peranan bahan humat dan abu terbang sebagai alternatif ameliorasi dalam penelitian ini memperlihatkan peran positif meskipun pada beberapa parameter tidak menunjukkan interaksi antara keduanya dalam meningkatkan kualitas tanah dan tanaman. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan pemanfaatan batubara jenis lignit untuk dijadikan bahan humat cair antara lain: 41
a. memperbaiki kualitas tanah lokasi tambang, b. menciptakan lapangan kerja baru pengolahan lignit menjadi pupuk humat cair. Indonesia memiliki potensi batubara yang sangat besar selain China, USA dan Brazil. Sumberdaya batubara diperkirakan mencapai 104,156 milyar ton dan cadangan terkira mencapai 13,18 milyar ton (Kementerian ESDM 2009). Dengan kualitas batubara yang baik dan jumlah yang besar maka batubara dapat menjadi sumber energi listrik bagi Indonesia. Dari pembakaran batubara dihasilkan sekitar 5% polutan padat yang berupa abu (fly ash dan bottom ash). Pembakaran batubara memberikan hasil berupa bottom ash sebesar lebih kurang 10-20% dan abu terbang sekitar 80-90%. Tahun 1999, peranan batubara dalam penyediaan energi nasional baru mencapai sekitar 12% dan diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 39,6% sehingga diperkirakan kenaikan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik per tahun mencapai rata-rata 3%. Jika memakai data tahun 2009 (Lampiran 33), hasil pembakaran batubara dari pembangkit tenaga listrik sebesar 32.987.810 ton diperkirakan akan menghasilkan polutan (fly ash dan bottom ash) sekitar 1.649.390,5 ton sehingga abu terbang yang dihasilkan adalah sekitar 1.319.512,4 ton. Prediksi sampai tahun 2020 adalah produksi abu terbang akan mencapai 14.968.438,33 ton. Dengan semakin bertambahnya jumlah abu terbang hasil pembakaran tentunya sangat menyulitkan dalam penempatan abu terbang tersebut. Dampak yang ada adalah beban lingkungan semakin berat dan perlu diantisipasi dengan pemakaian teknologi batubara bersih dan pemanfaatan secara optimal dari abu terbang. Salah satu penanganan lingkungan yang sekarang sedang diterapkan adalah dengan memanfaatkan limbah abu terbang untuk keperluan bahan bangunan teknik sipil. Hasil pemanfaatan tersebut belum dapat dimasyarakatkan secara optimal, karena keterbatasan teknologi dan penetapan abu terbang menjadi limbah B3 oleh KLH berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 85 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pemanfaatan abu terbang sebagai amelioran masih belum banyak dilakukan. Dengan adanya kendala dalam penempatan abu terbang dan dampaknya terhadap lingkungan maka diperlukan pemanfaatan yang bersih dan aman. Karakteristik abu terbang dalam menyediakan unsur-unsur seperti P, K, Na, Ca, 42
dan Mg serta nilai ph yang cukup tinggi maka direkomendasikan untuk menggunakan abu terbang menjadi amelioran. Dengan jumlah pemakaian batubara khususnya untuk pembangkit tenaga listrik yang mencapai 32,987 juta ton maka abu terbang yang dapat dihasilkan setiap tahunnya mencapai 1,319 juta ton. Dengan asumsi dosis pemberian abu terbang yang direkomendasikan untuk penanaman tanaman budidaya reklamasi mencapai 80 ton ha -1 maka setiap tahun produksi abu terbang dari pembangkit tenaga listrik dapat digunakan sebagai ameliorasi pada areal seluas 26.000 hektar. Keuntungan yang dapat diperoleh antara lain: a. mengurangi penyediaan tempat penyimpanan abu terbang, b. mengurangi dampak lingkungan akibat penyimpanan abu terbang yang tidak dimanfaatkan, c. memperbaiki sifat tanah terutama meningkatkan nilai ph dan tambahan hara bagi tanah, d. meningkatkan pertumbuhan tanaman reklamasi. 43