BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERANCANGAN ALAT BANTU UNTUK MEMPERBAIKI POSTUR KERJA PADA AKTIVITAS PEMELITURAN DALAM PROSES FINISHING (Studi Kasus: Home Industry Waluyo Jati)

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Disusun Oleh: Roni Kurniawan ( ) Pembimbing: Dr. Ina Siti Hasanah, ST., MT.

Analisis Postur Kerja dengan Rapid Entire Body Assesment (REBA) di Industri Pengolahan Tempe

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tipe masalah ergonomi yang sering dijumpai ditempat kerja

BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, REBA, OWAS & QEC

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Analisis Risiko Manual Handling pada Pekerja PT. XYZ

ANALISA RESIKO MANUAL MATERIAL HANDLING PADA PEKERJA PENGGILINGAN PADI DI UD. CITRA TANI

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Metode dan Pengukuran Kerja

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA POSTUR KERJA TERHADAP AKTIVITAS MANUAL MATERIAL HANDLING MENGGUNAKAN METODE OWAS

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. Stasiun Kerja Bawahan. Stasiun Kerja Finishing. Gambar 1.1 Stasiun Kerja Pembuatan Sepatu

ANALISIS POSTUR KERJA DAN KELUHAN PEKERJA PADA AKTIVITAS PEMOTONGAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERIPIK

ANALISIS PERBAIKAN POSTUR KERJA DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI PADA HOME INDUSTRY JKS SNACK & CATERING DI SERANG-BANTEN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Peranan manusia sebagai sumber tenaga kerja pada industri

BAB I PENDAHULUAN. jasa produksi (Eko Nurmianto, 2008). Fasilitas kerja yang dirancang tidak

Mempelajari Proses Produksi Dan Postur Kerja Operator Pada Pemindahan Karung Pupuk Urea Bersubsidi Di PT Pupuk Kujang

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Postur kerja kurang ergonomis saat bekerja bersumber pada posisi kerja operator

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

Metode REBA Untuk Pencegahan Musculoskeletal Disorder Tenaga Kerja

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pekerja merupakan salah satu komponen yang perlu mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS RISIKO POSTUR KERJA DI CV. A CLASS SURAKARTA

ANALISIS POSTUR KERJA PADA TENAGA KERJA DENGAN METODE REBA AREA WORKSHOP PT X JAKARTA TIMUR

BAB 1 PENDAHULUAN. mendukung satu sama lain dari tiap-tiap bagian yang ada di dalamnya. Sistem

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB I PENDAHULUAN. Unit kerja menengah CV. Raya Sport merupakan usaha yang. memproduksi pakaian (konveksi). Pada kegiatan proses produksi ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

HUBUNGAN SIKAP KERJA DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA UNIT WEAVING DI PT DELTA MERLIN DUNIA TEXTILE IV BOYOLALI

BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGAJUAN... ii. HALAMAN PENGESAHAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL...

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: DESAIN ALAT BANTU PADA AKTIVITAS PENUANGAN MATERIAL KEDALAM MESIN PENCAMPUR DI PT ABC DENGAN METODE REBA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Novena Ayu Parasti, Chandra Dewi K., DM. Ratna Tungga Dewa

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

PERBAIKAN POSTUR KERJA PADA PROSES PENGIKIRAN WAJAN DI SP ALUMINIUM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. industri pengolahan air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merk dagang. keselamatan dan kesehatan akan aman dari gangguan.

RANCANG BANGUN MESIN PENGUPAS KULIT LADA TIPE TIRUS PUTARAN VERTIKAL BERDASARKAN METODE NORDIC BODY MAP (NBM) DAN PENDEKATAN ANTROPOMETRI

Evaluasi Postur Kerja Operator Pengangkatan Pada Distributor Minuman Kemasan ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. dengan program pengembangan dan pendayagunaan SDM tersebut, pemerintah juga memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan dan

Penyebab Buncis Ditolak Eksportir

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

ERGONOMI DESAIN MEJA DAN KURSI SISWA SEKOLAH DASAR

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Indonesia

PERANCANGAN STASIUN KERJA PEMBUATAN KULIT MOCHI DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V PEMBAHASAN. A. Analisis Postur Kerja Berdasarkan Metode REBA. area Die Casting dapat dijelaskan sebagai berikut:

MODUL 10 REBA. 1. Video postur kerja operator perakitan

BAB 1 PENDAHULUAN. menyatakan bahwa setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan pekerjaannya adalah keluhan musculoskeletal disorders(msds).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tabel 1.1 Gambar 1.1.

Perbaikan Postur Kerja Dengan Menggunakan Metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment) Di CV.XYZ

BAB I PENDAHULUAN. produksi, terutama perusahaan yang bersifat padat karya. Produktivitas tenaga kerja

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS

ANALISIS POSTUR KERJA PADA AKTIVITAS PENGANGKUTAN BUAH KELAPA SAWIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT (REBA)

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam beraktifitas membutuhkan suatu alat yang dirancang atau

BAB I PENDAHULUAN. PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk Bogasari Flour Mills adalah produsen

PERANCANGAN GERGAJI LOGAM DAN PETA KERJA UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini lebih dikonsentrasikan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Bahan baku batu bata adalah tanah liat atau tanah lempung yang telah

BAB I PENDAHULUAN. dalam kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) yang bergerak dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. kerja, modal, mesin dan peralatan dalam suatu lingkungan untuk menghasilkan

Transkripsi:

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL Bab ini berisi mengenai analisis dan interpretasi hasil berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Analisis dan interpretasi hasil bertujuan untuk menjelaskan hasil dari pengolahan data sehingga hasil penelitian menjadi lebih jelas. Analisis dilakukan terhadap postur kerja awal, hasil penelitian, dan analisis postur kerja operator setelah menggunakan rancangan. 5.1 Analisis Postur Kerja Awal Postur kerja awal sebelum diterapkan rancangan alat bantu menunjukkan operator melakukan sikap kerja yang kurang ergonomis saat melakukan proses kerja. Proses kerja finishing pemelituran terdiri dari beberapa rangkaian proses yang dilakukan secara berulang dan bergantian. Proses kerja tersebut terdiri dari proses pengampelasan, pemelituran, dan penggilapan. Proses kerja finishing pemelituran diawali dari proses pengampelasan dengan tujuan untuk memperhalus permukaan produk sebelum dilakukan proses pemelituran. Sikap kerja yang dilakukan operator saat melakukan proses pengampelasan dapat dilakukan dengan posisi berdiri maupun posisi duduk. Ketika posisi produk disandarkan pada bidang tegak maka pekerja melakukan proses kerja pengampelasan dengan posisi berdiri untuk menjangkau produk bagian atas lalu membungkuk untuk menjangkau produk bagian samping dan jongkok atau membungkuk untuk menjangkau produk bagian bawah. Ketika posisi produk diletakkan diatas lantai maka pekerja melakukan proses kerja pengampelasan dengan posisi duduk untuk menjangkau produk yang masih terjangkau lalu dengan posisi jongkok dan membungkuk untuk menjangkau bagian produk yang tidak terjangkau ketika dilakukan dengan posisi duduk. Setelah proses pengampelasan dilakukan proses selanjutnya yaitu proses pemelituran. commit to user V-1

Gambar 5.1 Postur Kerja Saat Melakukan Proses Kerja Pengampelasan Proses kerja pemelituran bertujuan untuk memberikan dasaran warna pada produk dengan mengoleskan bahan pelitur yang terdiri dari campuran spirtus, serlak, dan ongker pada produk menggunakan kuas. Sikap kerja saat melakukan pemelituran menunjukkan identifikasi yang tidak berbeda dengan sikap kerja saat melakukan proses pengampelasan. Terdapat permasalahan yang sama yaitu pekerja harus melakukan proses membungkuk dan jongkok untuk dapat menjangkau produk bagian samping dan bawah. Gambar 5.2 Postur Kerja Saat Melakukan Proses Kerja Pemelituran Proses finishing terakhir yaitu proses penggilapan. Proses penggilapan yaitu proses inti dari finishing pemelituran yang berfungsi untuk memunculkan warna pada produk. Proses penggilapan dilakukan dengan menggosokkan kain yang commit to user sebelumnya telah dicelupkan pada bahan nggilap yang terdiri dari campuran V-2

spirtus dan serlak ke seluruh permukaan produk. Hasil produk yang baik akan diperoleh ketika produk diberikan perlakuan proses penggilapan dengan waktu yang lama. Postur kerja yang dilakukan saat melakukan proses penggilapan menunjukkan identifikasi yang tidak berbeda dengan proses sebelumnya yaitu harus membungkuk dan jongkok untuk dapat melakukan proses pada bagian produk samping dan bawah. Proses penggilapan ini merupakan proses yang membutuhkan waktu paling lama. Hal ini menunjukkan bahwa postur kerja secara tidak ergonomis dilakukan dalam range waktu yang cukup lama. Ketika pekerja melakukan proses kerja dengan postur kerja yang tidak ergonomis maka akan muncul beberapa dampak dari ketidaknyamanan kerja seperti pekerja mudah lelah dan dapat menyebabkan cedera kerja seperti musculoskeletal disorders. Gambar 5.3 Postur Kerja Saat Melakukan Proses Kerja Penggilapan Ketidaknyamanan kerja digunakan sebagai pertimbangan proses kerja perlu dilakukan perbaikan. Ketidaknyamanan kerja juga ditunjukkan berdasarkan penilaian kuesioner Nordic Body Map yang menunjukkan adanya keluhan di 13 titik segmen tubuh. Adanya keluhan pada beberapa segmen tubuh ini merupakan akumulasi dari dampak proses kerja secara tidak ergonomis yang dilakukan ketika melakukan proses finishing pemelituran. Proses kerja yang dilakukan pada rangkaian proses finishing pemelituran sebagian besar dilakukan dengan postur kerja tidak ergonomis yaitu membungkuk dan jongkok. Hal ini terjadi karena pekerja harus menyesuaikan dengan produk yang akan dilakukan proses. Prinsip kerja yang diterapkan pada proses kerja tersebut kurang tepat. Pekerja harus commit to user menyesuaikan produk atau pekerjaannya merupakan hal yang bertentangan V-3

dengan kaidah ergonomi. Kaidah ergonomi menyatakan bahwa pekerjaan yang baik adalah sesuai prinsip fitting the job to the man rather than man to the job yang berarti bahwa pekerjaan yang baik yaitu pekerjaan yang menyesuaikan pekerjaan pada manusianya bukan manusia yang harus menyesuaikan pada pekerjaannya. Pada proses finishing pemelituran, ketika produk diposisikan bersandar pada bidang tegak maupun ketika produk diposisikan mendatar di atas lantai sering kali pekerja menambahkan balok kayu pada bagian dasar produk. Hal ini dilakukan dengan tujuan memposisikan balok kayu sebagai tatakan untuk menyangga produk agar posisi produk dapat lebih tinggi. Meninggikan posisi produk dengan tatakan menunjukkan bahwa pekerja merasa kurang nyaman sehingga perlu menambah sesuatu untuk membuat proses menjadi lebih nyaman. Dengan tambahan balok kayu tersebut maka dapat lebih mendekatkan jangkauan produk dengan tangan saat dilakukan proses kerja sehingga pekerja akan merasa lebih nyaman. Meskipun begitu pekerja masih tetap harus melakukan postur kerja tidak ergonomis. Pekerja harus melakukan proses kerja dengan membungkuk maupun jongkok untuk melakukan proses pada produk bagian samping dan bawah. Untuk itu dilakukan penilaian postur kerja dengan menggunakan metode REBA untuk mengetahui tingkat resiko dan langkah apa yang harus dilakukan. Penilaian postur kerja dilakukan terhadap beberapa postur kerja yang dilakukan saat melakukan proses kerja finishing pemelituran. Penilaian dilakukan pada pekerja ketika melakukan postur kerja yang paling ekstrim ketika melakukan proses kerja finishing pemelituran. Didapatkan 3 posisi paling ekstrim yang dibagi kedalam 3 rangkaian proses yaitu ketika proses pengampelasan dengan posisi produk disandarkan pada bidang tegak, proses pengampelasan dengan posisi produk diletakkan diatas lantai, dan proses penggilapan dengan posisi produk disandarkan pada bidang tegak. Penilaian terhadap ketiga proses tersebut dipilih karena proses tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama ketika proses pengerjaan padahal sebagaimana diketahui proses kerja yang dilakukan tidak ergonomis. Proses pengampelasan dengan posisi produk disandarkan pada bidang tegak dilakukan penilaian dengan menggunakan commit to metode user REBA saat pekerja melakukan V-4

proses kerja dengan postur membungkuk serta miring kesamping. Berdasarkan penilaian REBA diperoleh nilai final REBA score 9. Berdasarkan nilai final REBA score tersebut maka dapat diketahui bahwa postur kerja tersebut tergolong kedalam level resiko yang tergolong tinggi (high risk) dengan level tindakan 3 yang berarti perlu segera dilakukan perbaikan. Proses pengampelasan dengan posisi produk diletakkan diatas lantai dilakukan penilaian dengan menggunakan metode REBA saat pekerja melakukan proses kerja dengan postur jongkok serta miring kesamping. Berdasarkan penilaian REBA diperoleh nilai final REBA score 10. Berdasarkan nilai final REBA score tersebut maka dapat diketahui bahwa postur kerja tersebut tergolong kedalam level resiko yang tergolong tinggi (high risk) dengan level tindakan 3 yang berarti perlu segera dilakukan perbaikan. Proses penggilapan dengan posisi produk disandarkan pada bidang tegak dilakukan penilaian dengan menggunakan metode REBA saat pekerja melakukan proses kerja dengan postur membungkuk serta miring kesamping. Berdasarkan penilaian REBA diperoleh nilai final REBA score 10. Berdasarkan nilai final REBA score tersebut maka dapat diketahui bahwa postu kerja tersebut tergolong kedalam level resiko yang tergolong tinggi (high risk) dengan level tindakan 3 yang berarti perlu segera dilakukan perbaikan. Penilaian terhadap ketiga postur kerja pada rangkaian proses kerja finishing pemelituran menunjukkan hasil yang sama yaitu tergolong kedalam level resiko yang tinggi (high risk). Penilaian dilakukan pada postur kerja paling ekstrim yang dilakukan oleh pekerja ketika melakukan proses kerja. Postur kerja ini dilakukan oleh pekerja dalam jangka waktu yang lama. Padahal sebagaimana diketahui proses kerja pada finishing pemelituran ini sebagian besar dilakukan dengan sikap kerja yang tidak ergonomis yaitu membungkuk dan jongkok, apalagi ditambah dengan posisi batang tubuh yang harus miring ketika melakukan proses kerja menambah level resiko yang ditimbulkan. Ketika pekerja melakukan pekerjaan dengan sikap kerja yang kurang nyaman maka akan menyebabkan kelelahan dan keluhan nyeri. Berdasarkan penilaian metode REBA ketiga postur kerja yang dinilai pada rangkaian proses kerja finishing pemelituran termasuk kedalam level tindakan 3 yaitu perlu segera dilakukan commit perbaikan. to user V-5

5.2 Analisis Hasil Penelitian Analisis terhadap hasil penelitian terdiri dari analisis hasil rancangan, analisis material dan bahan, serta analisis biaya. Analisis hasil penelitian dijelaskan secara rinci pada sub subbab berikut. 5.2.1 Analisis Hasil Rancangan Hasil rancangan alat bantu proses finishing pemelituran merupakan suatu produk inovatif terobosan baru yang dirancang sebagai implementasi dari harapan pekerja menanggapi keluhan yang dirasakan saat melaksanakan proses kerja. Pada umumnya proses finishing pemelituran yang terdiri dari berbagai rangkaian proses dari pengampelasan, pemelituran, hingga penggilapan dilakukan dengan menyandarkan produk pada bidang tegak atau hanya diletakkan diatas lantai dengan menambahkan balok sebagai tatakan. Pekerja harus menyesuaikan dengan produk yang akan dilakukan proses kerja, secara otomatis tubuh harus menyesuaikan dengan postur kerja yang ada. Sebagaimana diketahui pada proses kerja tersebut ketika pekerja harus menjangkau pada bagian samping atau bawah produk harus dilakukan dengan postur kerja jongkok dan membungkuk. Banyak penelitian yang telah mengkaji bahwa postur kerja yang dilakukan dengan cara jongkok dan membungkuk merupakan postur kerja yang tidak ergonomis dan harus dihindari karena dapat menyebabkan musculoskelatal disorder dan dampak buruk lainnya. Dengan menggunakan alat bantu yang telah dirancang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pekerja akan kenyamanan ketika melakukan proses finishing pemelituran karena dengan alat ini dapat memperbaiki postur kerja yang awalnya harus dilakukan dengan jongkok dan membungkuk dapat dilakukan dengan posisi berdiri. Analisis sensitivitas diperlukan untuk mengetahui beban maksimal yang mampu ditumpu oleh hasil rancangan alat bantu tersebut. Berdasarkan perhitungan stabilitas guling (overturning stability) diperoleh nilai gaya beban terfaktor paling besar adalah 163,91 N sedangkan nilai kuat tekan nominal komponen struktur adalah 1119,2 N sehingga dapat ditetapkan bahwa faktor aman adalah 6. Dengan nilai faktor aman 6 maka dapat diketahui bahwa beban yang mampu diterima atau ditumpu oleh hasil rancangan alat bantu bisa 6X lipat dari beban pada umumnya 20 kg menjadi commit maksimal to user 120 kg. V-6

5.2.2 Analisis Material dan Bahan Bahan yang digunakan untuk membuat hasil rancangan secara keseluruhan menggunakan material besi. Material besi dipilih karena kekuatannya yang dapat menopang dan mendukung proses pengoperasian alat bantu. Alat bantu ini dioperasikan untuk produk yang terbuat dari kayu sehingga produk pasti memiliki massa yang cukup berat. Untuk itulah material besi dipilih agar mampu menopang produk dengan kuat. Fasilitas kerja berupa hasil rancangan alat bantu ini memiliki berat sekitar 53 kg. Berat ini merupakan berat bersih alat bantu tanpa produk yang diletakkan diatasnya. Pada bagian komponen dasar diberikan tambahan roda sebagai value added agar alat bantu mudah untuk dipindahkan sesuai kebutuhan. Roda pada alat bantu difungsikan untuk memberikan kemudahan dalam manual handling. Roda yang digunakan dilengkapi dengan komponen pengunci sehingga dapat menjaga atau mempertahankan posisi alat bantu saat dioperasikan. Pada bagian sisi dalam komponen pencekam ditambahkan material karet dengan tujuan untuk menjaga produk dari lecet serta agar lebih kencang (tidak licin) saat produk dicekam. Proses finishing rancangan alat bantu berupa pengecatan pada material besi. Alat bantu akan sering digunakan di luar ruangan sehingga sering terpapar sinar matahari. Bahan cat yang digunakan sebagai finishing yaitu menggunakan bahan hammerton. Bahan ini dipilih karena memiliki kualitas yang baik dalam menjaga material besi dari sinar matahari. Selain itu pengecatan dilakukan untuk menjaga material besi agar tetap awet dan terhindar dari karat. 5.2.3 Analisis Perhitungan Teknik Analisis terhadap perhitungan teknik perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan rancangan alat bantu fasilitas kerja yang dibuat. Perhitungan teknik yang dilakukan meliputi gaya pada rangka, kekuatan tahanan tekan, dan ketahanan guling. Sebelum dilakukan perhitungan teknik dilakukan pendataan terlebih dahulu untuk massa komponen pendukung alat, massa total yang harus ditumpu, gaya tekan alat, gaya proses, panjang L1, dan panjang L2 yang digunakan untuk mempermudah dalam commit proses to user perhitungan teknik. Gaya tekan alat V-7

merupakan gaya yang harus ditumpu oleh rangka penyangga sebagai efek dari proses kerja yang dilakukan. Sedangkan gaya proses merupakan gaya yang dihasilkan dari proses kerja yang dilakukan. Pada perhitungan ini dipilih gaya pada proses kerja pengampelasan. Gaya pada proses pengampelasan dipilih dengan pertimbangan gaya ini memiliki nilai gaya yang paling besar dibandingkan dengan kedua proses lainnya. Proses pengukuran gaya pada proses pengampelasan dilakukan dengan mengukur kekuatan tekan pekerja dengan menggunakan alat ukur beban. Dari hasil yang diperoleh tersebut kemudian dikalikan dengan percepatan gravitasi sebesar 9,8 m/s 2 sehingga diperoleh nilai gaya proses sebesar 12 N. Perhitungan gaya pada rangka dilakukan untuk mengetahui seberapa besar gaya yang terjadi pada masing-masing rangka penyangga alat bantu, sehingga dapat diketahui pula nilai F1, F2, maupun F3 serta gaya yang terjadi pada rangka tersebut termasuk kedalam gaya tekan atau gaya tarik. Dengan begitu dapat digunakan sebagai pertimbangan pemilihan bahan yang lebih kuat untuk diimplementasikan pada rangka. Perhitungan teknik gaya pada rangka dilakukan dalam 2 posisi baik saat alat bantu memposisikan bidang kerja horisontal maupun vertikal. Perhitungan teknik kekuatan tahanan tekan digunakan untuk memvalidasi apakah alat bantu hasil rancangan kuat untuk menahan beban yang ada. Berdasarkan perhitungan dapat diketahui bahwa alat bantu yang dihasilkan mampu menahan tekanan beban yang ada sehingga alat bantu dinyatakan aman untuk digunakan. Berdasarkan perhitungan nilai kuat tekan nominal komponen struktur selalu menunjukan nilai yang lebih besar daripada nilai beban terfaktor. Hal inilah yang dijadikan sebagai acuan bahwa alat bantu hasil rancangan memiliki kekuatan tahan tekan yang cukup untuk menahan beban yang ada. Nilai kuat tekan nominal komponen struktur dan nilai beban terfaktor memiliki range nilai yang cukup besar yang berarti menunjukkan adanya kelebihan material yang digunakan sehingga dapat dijadikan pertimbangan pada penelitian selanjutnya untuk melakukan pemilihan material bahan yang lebih tepat. Perhitungan teknik kekuatan tahanan tekan alat dilakukan pada 2 posisi yaitu saat alat memposisikan bidang kerja horisontal maupun vertikal. commit to user V-8

Perhitungan teknik ketahanan guling digunakan untuk memvalidasi apakah alat bantu hasil rancangan dapat stabil atau dapat mempertahankan posisinya ketika proses sedang dilakukan dengan penerapan beberapa gaya yang ditujukan pada alat. Berdasarkan perhitungan teknik dapat diketahui bahwa alat bantu hasil rancangan memiliki kekuatan untuk menjaga kestabilan alat yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai berat sesungguhnya yang lebih besar dibandingkan dengan nilai berat hitungan. Perhitungan teknik kekuatan tiap roda digunakan untuk mengetahui seberapa besar beban yang harus ditumpu pada masing-masing roda. Perhitungan ini digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih material roda yang akan digunakan sehingga roda yang dipilih untuk penumpu alat mampu untuk menahan beban yang ditimbulkan oleh alat saat dioperasikan. Dengan begitu tingkat keamanan alat bantu hasil rancangan juga dapat lebih baik. 5.2.4 Analisis Biaya Biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan hasil rancangan alat bantu adalah sebesar Rp 1.477.750,-. Biaya tersebut terdiri dari biaya pembelian material dan biaya tenaga kerja. Harga yang dibutuhkan mencapai Rp 1.477.750,- karena masih diproduksi satuan dan masih banyak memerlukan banyak penyesuaian. Harga tersebut dapat ditekan ketika nantinya fasilitas kerja hasil perancangan diproduksi secara massal. 5.3 Analisis Terkait Validasi NBM Terhadap Pekerja Baru Validasi terhadap hasil Nordic Body Map (NBM) perlu dilakukan untuk mengetahui apakah hasil Nordic Body Map (NBM) yang diambil dari 2 pekerja sudah valid untuk dilakukan pengolahan data pada proses selanjutnya. Berdasarkan kuesioner Nordic Body Map (NBM) diperoleh hasil yang menunjukkan adanya keluhan pada 13 segmen tubuh diantaranya leher bawah, bahu kiri, bahu kanan, pinggang, lengan bawah kanan, pergelangan tangan kanan, tangan kanan, lutut kiri, lutut kanan, pergelangan kaki kiri, pergelangan kaki kanan, punggung, dan pantat (buttock). Adanya keluhan pada 13 segmen tubuh ini muncul karena proses kerja finishing commit to pemelituran user dilakukan dengan postur V-9

membungkuk dan jongkok. Keluhan rasa sakit sekali muncul pada 3 segmen tubuh yaitu pinggang, lutut kiri, dan kanan disebabkan karena proses kerja dilakukan dengan posisi berdiri-membungkuk-jongkok kembali berdiri lagi dan seterusnya dilakukan secara berulang dalam jangka waktu yang lama. Pekerja 2 menunjukkan keluhan pada 13 segmen tubuh yang telah disebutkan tersebut, sedangkan untuk pekerja 1 menunjukkan keluhan pada 11 segemen tubuh yang sama ditunjukkan pada pekerja 2 bedanya hanya pada leher bawah dan lengan bawah kanan tidak dirasakan keluhan pada pekerja 1. Selanjutnya dilakukan validasi terhadap pekerja baru yang melakukan proses kerja finishing pemelituran selama 1 minggu dengan range waktu setiap harinya selama 3 jam. Hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada pekerja baru menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan hasil Nordic Body Map (NBM) pada 2 pekerja sebelumnya hanya saja pada pekerja baru tersebut terdapat 14 segmen tubuh yang dirasakan mengalami keluhan diantaranya leher bawah, bahu kiri, bahu kanan, pinggang, lengan bawah kanan, pergelangan tangan kanan, tangan kanan, lutut kiri, lutut kanan, pergelangan kaki kiri, pergelangan kaki kanan, punggung, pantat (buttock) dan siku kanan. Perbedaan yang ditunjukkan yaitu pada pekerja baru segmen tubuh siku kanan mengalami keluhan sedangkan pada 2 pekerja sebelumnya tidak megalami keluhan. Hal ini menunjukkan bahwa hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada 2 operator proses kerja finishing pemelituran valid untuk dilakukan proses pengolahan pada tahapan selanjutnya. Adanya keluhan pada segmen tubuh siku kanan muncul karena sebagian besar proses kerja finishing pemelituran memanfaatkan kerja dari tangan kanan. Pekerja baru belum terbiasa dengan proses kerja yang harus dilakukan sehingga keluhan rasa sakit muncul pada segmen tubuh tersebut. 5.4 Analisis Postur Kerja Setelah Menggunakan Rancangan Postur kerja yang dilakukan pekerja setelah menggunakan rancangan dalam proses kerjanya menunjukkan adanya perbaikan postur kerja. Sebelumnya proses kerja finishing pemelituran dilakukan dengan cara berdiri untuk melakukan proses bagian atas produk lalu membungkuk dan miring untuk melakukan proses bagian sisi samping produk dan jongkok commit untuk melakukan to user proses bagian bawah produk. V-10

Setelah menerapkan rancangan alat bantu maka terjadi perubahan sistem proses kerja yang bermanfaat pula pada perbaikan postur kerja yang dilakukan. Dengan menggunakan alat bantu maka pekerja tidak perlu melakukan proses kerja dengan membungkuk maupun jongkok untuk dapat melakukan proses pada bagian samping dan bawah melainkan hanya perlu memutar frame yang dapat memposisikan produk yang awalnya berada disisi bagian bawah diputar menjadi sisi bagian atas. Proses kerja setelah menerapkan rancangan alat bantu dilakukan dengan posisi postur kerja berdiri tanpa harus membungkuk dan jongkok. Rancangan alat bantu ini dirancang untuk dapat mengurangi atau menghindari postur kerja membungkuk dan jongkok yang dilakukan oleh pekerja karena postur kerja tersebut merupakan postur kerja yang tidak ergonomis untuk dilakukan (Hariyono dkk., 2010) serta dapat berdampak buruk bagi kesehatan pekerja apabila dilakukan secara terus menerus tanpa ada perbaikan. Berikut adalah tabel yang menunjukkan adanya perbaikan postur kerja setelah menerapkan alat bantu: Tabel 5.1 Perbandingan Postur Kerja Sebelum dan Setelah Menggunakan Rancan gan Alat Bantu Sikap Kerja Sebelum Proses kerja Mengampelas Memelitur Menggilap Setelah Berdasarkan penilaian postur kerja dengan menggunakan metode REBA maka diperoleh hasil yang menunjukkan commit to adanya user penurunan level resiko pada V-11

penilaian postur kerja sebelum dan setelah diterapkan rancangan alat bantu pada proses kerja. Sebelum diterapkan rancangan alat bantu diperoleh nilai REBA Score sebesar 9-10 yang menunjukkan bahwa postur kerja yang dilakukan tergolong ke dalam level resiko tinggi (high risk) dengan level tindakan 3 yaitu perlu dilakukan perbaikan segera. Sedangkan setelah menggunakan rancangan alat bantu pada proses kerja diperoleh nilai REBA Score sebesar 2-3 yang menunjukkan bahwa postur kerja yang dilakukan setelah menggunakan rancangan alat bantu tergolong kedalam level resiko rendah (low risk) dengan level tindakan 1. Penurunan level resiko diperoleh karena setelah menerapkan rancangan alat bantu, postur kerja membungkuk dan jongkok dapat dihilangkan dan diganti dengan postur kerja berdiri. Dengan adanya penurunan level resiko yang ditunjukkan setelah diterapkannya alat bantu maka menunjukkan bahwa intervensi ergonomi yang tepat diterapkan pada proses perancangan alat bantu. Postur kerja membungkuk dan jongkok ini termasuk postur kerja yang tidak ergonomis sehingga postur kerja tersebut menyumbang nilai yang cukup besar pada level resiko sehingga digolongkan kedalam level resiko yang tinggi (high risk). Tabel 5.2 Perbandingan Penilaian Postur Kerja Sebelum dan Setelah Menggunakan Rancangan Alat Bantu Level Sikap Kerja REBA Score Level Resiko Tindakan Jongkok atau Sebelum 9 10 High risk 3 membungkuk Berdiri dengan tumpuan 2 Setelah 2 3 Low risk 1 kaki tegak Dari segi kesehatan, postur kerja membungkuk dan jongkok juga memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan apabila dilakukan secara terus menerus (Hariyono dkk., 2010). Suatu pekerjaan yang mengharuskan melakukan postur kerja membungkuk sangat terkait dengan tingginya low back disorders (LBDs) (Fathallah dkk., 2004). Postur kerja jongkok telah dinilai sebagai postur penuh tekanan oleh para ahli ergonomis, dilaporkan dapat menyebabkan kompresi pada saraf peroneal (Karhu dkk., 1977). Dilaporkan juga dapat menyebabkan kompresi pada saraf tibialis posterior (Joubert, 1972). Postur kerja yang dilakukan dengan commit to user posisi jongkok telah dikaitkan dengan kompresi pada saraf plantar (Aguayo, V-12

1975) dan telah terbukti meningkatkan bone-on-bone dan tekanan kompresi pada lutut (Ariel, 1974). The National Institute for Occupational Safety and Health melaporkan bahwa sikap kerja tidak alamiah memiliki hubungan yang kuat sebabakibat dari cedera musculoskeletal (Bernard, 1997). Untuk itulah sikap kerja tidak alamiah seperti membungkuk dan jongkok yang dilakukan pada proses kerja harus dikurangi atau dihindari. commit to user V-13