BAB I PENDAHULUAN. penggunaan jasa notaris, telah dibentuk Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. untuk selanjutnya dalam penulisan ini disebut Undang-Undang Jabatan

BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 ayat (3). Hukum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut juga termasuk mengatur hal-hal yang diantaranya hubungan antar

BAB I PENDAHULUAN. pada tanggal 15 Januari Dalam Perubahan Undang-Undang Nomor 30

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban seseorang sebagai subjek hukum dalam masyarakat. 2 Hukum sebagai

BAB I PENDAHULUAN. perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Kepastian dan

BAB I PENDAHULUAN. jabatannya, Notaris berpegang teguh dan menjunjung tinggi martabat

BAB I PENDAHULUAN. untuk membuat akta otentik dan akta lainnya sesuai dengan undangundang

BAB I PENDAHULUAN. menjalankan strategi pembangunan hukum nasional. Profesionalitas dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum. 1. Hal itu

BAB I PENDAHULUAN. hlm Hartanti Sulihandari dan Nisya Rifiani, Prinsip-Prinsip Dasar Profesi Notaris, Dunia Cerdas, Jakarta Timur, 2013, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. jaminan akan kepastian hukum terhadap perbuatan dan tindakan sehari-hari,

BAB I PENDAHULUAN. dilengkapi dengan kewenangan hukum untuk memberi pelayanan umum. bukti yang sempurna berkenaan dengan perbuatan hukum di bidang

BAB III PERANAN NOTARIS DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN ADANYA SURAT KETERANGAN WARIS

BAB I PENDAHULUAN. dengan pemerintah. Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban dan

BAB I PENDAHULUAN. dengan perikatan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dan juga usaha

BAB I PENDAHULUAN. tugas, fungsi dan kewenangan Notaris. Mereka belum bisa membedakan tugas mana

PENDAHULUAN. R. Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat di Indonesia, Suatu Penjelasan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993 hlm. 23

BAB I PENDAHULUAN. hukum maupun perbuatan hukum yang terjadi, sudah barang tentu menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. mengatur hidup manusia dalam bermasyarakat. Didalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia adalah negara hukum, pernyataan tersebut diatur

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam setiap hubungan hukum kehidupan masyarakat, baik dalam

BAB I PENDAHULUAN. notaris merupakan pejabat umum yang mendapatkan delegasi kewenangan. yang tidak memihak dan penasehat hukum yang tidak ada cacatnya

BAB I PENDAHULUAN. bersamaan dengan berkembangnya perekonomian di Indonesia. Hal ini tentu saja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peranan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat sudah dikenal

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan sektor pelayanan jasa publik yang saat ini semakin berkembang,

BAB I PENDAHULUAN. otentik, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1868 KUHPerdata yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. bukti dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) saat ini, membuat masyarakat tidak

BAB I PENDAHULUAN. tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang

BAB I PENDAHULUAN. robot-robot mekanis yang bergerak dalam tanpa jiwa, karena lekatnya etika pada

BAB I PENDAHULUAN. profesional yang tergabung dalam komunitas tersebut menanggung amanah. yang berat atas kepercayaan yang diembankan kepadanya.

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432, Penjelasan umum.

BAB I PENDAHULUAN. maupun hukum tidak tertulis. Hukum yang diberlakukan selanjutnya akan

BAB I PENDAHULUAN. tertulis untuk berbagai kegiatan ekonomi dan sosial di masyarakat. Notaris

BAB I PENDAHULUAN. semakin berkembang dikarenakan berkembangnya globalisasi kehidupan. Segala

BAB I PENDAHULUAN. sosial, tidak akan lepas dari apa yang dinamakan dengan tanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kegiatannya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari tidak

a. Kepastian hari, tanggal, bulan, tahun dan pukul menghadap; b. Para pihak (siapa-orang) yang menghadap pada Notaris;

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. merupakan pilar-pilar utama dalam penegakan supremasi hukum dan atau. memberikan pelayanan bagi masyarakat dalam bidang hukum untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tinjauan yuridis..., Ravina Arabella Sabnani, FH UI, Universitas Indonesia

KEWENANGAN MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS TERKAIT ASPEK PIDANA DIBIDANG KENOTARIATAN

BAB I PENDAHULUAN. negara. Untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TANGGUNG JAWAB NOTARIS SETELAH PUTUSAN MK NO. 49/PUU-X/2012. Dinny Fauzan, Yunanto, Triyono. Perdata Agraria ABSTRAK

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN) disebutkan bahwa y

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah mempunyai peran paling pokok dalam setiap perbuatan-perbuatan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN. hukum menjamin adanya kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. menentukan bahwa dalam menjalankan tugas jabatannya, seorang

BAB I PENDAHULUAN. hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakatnya. 1

BAB IV PENUTUP. ditarik kesimpulan sebagai berikut bahwa: a. Pertimbangan Hukum Hakim terhadap Tanggung Jawab Notaris/PPAT

BAB I PENDAHULUAN. Notaris sebagai pejabat umum, sekaligus sebuah profesi, posisinya

BAB I PENDAHULUAN. untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada warga. organ pemerintah yang melaksanakan tugas dan kewenangannya agar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian. Negara Indonesia adalah negara hukum. Semua Warga Negara

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 49/PUU-X/2012 Tentang Persetujuan Majelis Pengawas Daerah Terkait Proses Peradilan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JABATAN NOTARIS

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS PASCA BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak atau

BAB I PENDAHULUAN. akan disebut dengan UUJNP, sedangkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Penerapan pasal..., Ita Zaleha Saptaria, FH UI, ), hlm. 13.

BAB I PENDAHULUAN. hukum diungkapkan dengan sebuah asas hukum yang sangat terkenal dalam ilmu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Negara Indonesia adalah negara hukum,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di dalam. kerjasama yang mengikat antara dua individu atau lebih.

BAB 1 PENDAHULUAN. perbankan, pertanahan, kegiatan sosial, pasar modal, dan untuk kepastian

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 117/PUU-XII/2014 Bukti Permulaan untuk Menetapkan Sebagai Tersangka dan Melakukan Penahanan

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil,

BAB I PENDAHULUAN. jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, pertama-tama memerlukan

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD)

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Notaris sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan

B A B V P E N U T U P

BAB I PENDAHULUAN. hukum. Tulisan tersebut dapat dibedakan antara surat otentik dan surat dibawah

BAB I PENDAHULUAN. unsur yang diatur dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 1. Dibuat dalam bentuk ketentuan Undang-Undang;

BAB I PENDAHULUAN. hukum adalah kehendak untuk bersikap adil (recht ist wille zur gerechttigkeit).

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

BAB I PENDAHULUAN. termasuk bidang hukum, mengingat urgensi yang tidak bisa dilepaskan. melegalkan perubahan-perubahan yang terjadi.

Lex et Societatis, Vol. III/No. 7/Ags/2015. PROSES PENYIDIKAN TERHADAP PELANGGARAN DALAM PEMBUATAN AKTA OLEH NOTARIS 1 Oleh: Gian Semet 2

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan budaya manusia yang telah mencapai taraf yang luar biasa. Di

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK TERHADAP TERSANGKA DI TINGKAT PENYIDIKAN OLEH KEPOLISIAN

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

PERANAN DAN FUNGSI MAJELIS PENGAWAS WILAYAH TERHADAP PELAKSANAAN TUGAS JABATAN NOTARIS RUSLAN / D

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambaha

BAB I PENDAHULUAN. hubungan dengan manusia lainnya karena ingin selalu hidup dalam. kebersamaan dengan sesamanya. Kebersamaannya akan berlangsung baik

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah berdirinya Negara Indonesia, para Foundingfathers (para pendiri

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kehidupan sehari-harinya melakukan kegiatan sehari-hari

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG BANTUAN HUKUM UNTUK MASYARAKAT MISKIN

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris 2

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasal 1 ayat (3) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan jasa notaris, telah dibentuk Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Undang-undang Jabatan Notaris (selanjutnya disingkat UUJN). UUJN tersebut diundangkan pada tanggal 6 Oktober 2003. Lalu UUJN tersebut mengalami perubahan pada tanggal 23 Maret 2013 menjadi Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. UUJN yang baru ini diharapkan lebih baik dari peraturan perundangan yang digantikannya, sehingga dapat memberikan perlindungan hukum baik kepada masyarakat maupun kepada notaris. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik sejauh pembuatan akta otentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. 1 Jabatan notaris sebagaimana diatur dalam UUJN merupakan jabatan kepercayaan. Artinya notaris mempunyai tugas dan peranan seperti pejabat pemerintah pada umumnya yaitu melakukan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pembuatan surat-surat dan akta. Asas kepercayaan itulah yang menjadi dasar kewenangan notaris dalam pembuatan akta, yang mana oleh 1 Pasal 1 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

2 undang-undang diberi kekuatan sempurna, sepanjang tidak dibuktikan sebaliknya. Selain itu seorang notaris dalam menjalankan jabatannya harus amanah, jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, menjaga sikap, tingkah laku, dan menjalankan kewajiban sesuai dengan kode etik profesi kehormatan, martabat sebagai notaris, serta merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatannya. Dalam pelaksanaan tugas jabatan, seorang notaris telah diberikan rambu-rambu melalui perangkat peraturan perundang-undangan dan kode etik profesi. Oleh karena itu pemangku jabatan notaris diwajibkan mengucapkan sumpah atau janji, dan sebagai konsekuensinya seorang notaris harus bertanggungjawab secara hukum, moral, maupun etika, baik kepada negara maupun kepada masyarakat terhadap akta-akta yang dibuatnya. yaitu: 2 Sumpah atau janji tersebut mengandung dua hal yang harus kita pahami, 1. Secara Vertikal Wajib Bertanggung Jawab Kepada Tuhan Secara vertikal kita wajib bertanggung jawab kepada Tuhan karena sumpah atau janji yang diucapkan berdasarkan agama masing-masing. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya dalam bentuk yang dikehendaki Tuhan. 2 Habib Adjie, 2009, Meneropong Khazanah Notaris dan PPAT Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 5.

3 2. Secara Horisontal Bertanggung Jawab kepada Negara dan Masyarakat. Artinya, negara telah memberi kepercayaan kepada notaris untuk menjalankan sebagian tugas negara dalam bidang hukum perdata, yaitu dalam pembuatan alat bukti berupa akta yang mempunyai kekuatan pembuktian sempurna dan kepada masyarakat yang telah percaya bahwa notaris mampu memformulasikan kehendaknya ke dalam bentuk akta notaris, dan percaya bahwa notaris mampu menyimpan (merahasiakan) segala keterangan atau ucapan yang diberikan di hadapan notaris. Dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Jabatan Notaris mengenai sumpah atau janji notaris ditegaskan:... bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam keterangan jabatan saya... Dalam Pasal 16 ayat (1) huruf e Undang-undang Jabatan Notaris disebutkan bahwa notaris berkewajiban: Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain. Jabatan kepercayaan tersebut yang diberikan oleh pemerintah dan masyarakat terkadang terjadi pelanggaran dan mengabaikan tugas serta wewenang yang seharusnya dilakukan oleh notaris dalam melakukan tugas dan jabatannya, baik itu pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan UUJN maupun pelanggaran terhadap Etika Profesi Notaris atau Kode Etik Notaris.

4 Apabila seorang notaris tidak dapat memberikan pelayanan yang profesional kepada masyarakat, maka akan ada pihak-pihak yang dirugikan akibat dari kesalahan dan kelalaian yang telah diperbuat oleh notaris tersebut. Notaris merupakan suatu pekerjaan dengan keahlian khusus, menuntut pengetahuan luas, serta tanggungjawab yang berat untuk melayani kepentingan umum. Hal ini mengingat karena notaris diangkat oleh pemerintah, maka oleh sebab itu notaris dengan kesadarannya dituntut memiliki kesadaran moral yang tinggi dalam melaksanakan jabatannya, dan tetap berpegang teguh pada perundang-undangan yang berlaku serta senantiasa mengingat dan melaksanakan sumpah jabatan etika jabatannya, karena dengan menjaga martabatnya sebagai notaris, maka hal tersebut sama juga dengan menjaga martabat dan kewibawaan pemerintah. Realitas empirik menunjukkan bahwa banyak notaris yang tersangkut masalah hukum sehingga harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Hal ini disebabkan notaris yang bersangkutan tidak tunduk kepada kode etik profesi notaris maupun aturan hukum yang berlaku. Bahkan, sampai terlibat dalam perbuatan tindak pidana. Hal ini tentunya merusak citra baik notaris sebagai salah satu profesi terhormat (officium nobile). Kelalaian notaris dalam hal pelanggaran kode etik dan jabatan notaris dapat diproses dan ditindak melalaui jalur hukum. Dalam rangka proses penegakan hukum tersebut, seringkali notaris harus dipanggil oleh aparat penegak hukum. Baik berkedudukan sebagai saksi, tersangka maupun terdakwa. Selama ini dalam proses itu, prosedur yang harus

5 dilakukan oleh aparat penegak hukum tunduk kepada ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-undang No. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN) yang lama menyatakan bahwa: Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah berwenang: a. Mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; dan b. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris. Akan tetapi,terhitung sejak tanggal 23 Maret 2013, Pasal 66 UUJN tersebut telah dihapus dengan ditetapkannya Putusan Nomor 49/PUU-X/2013 oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Mahkamah menyatakan proses peradilan guna mengambil dokumen dalam penyimpanan notaris dan memanggil notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang dibuatnya tidak perlu meminta persetujuan MPD. Hal tersebut sesuai dengan peraturan perundangan lainnya, yaitu: 1. Undang-Undang Dasar 1945 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatur prinsip equality before the law, yaitu persamaan atau kesetaraan kedudukan di mata hukum. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengadopsi prinsip-prinsip equal protection atau persamaan kedudukan dalam hukum, sebagaimana diatur di dalam pasal 27 ayat (1) yang

6 berbunyi Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal 28 D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Prinsip ini menegaskan, tidak boleh ada diskriminasi dalam hukum dan dalam perlakuan. Hukum pidana harus tunduk atas prinsip ini supaya menerima atau mengakui setiap orang sebagai subyek hukum. 3 Dalam negara hukum, negara mengakui dan melindungi hak asasi manusia setiap individu tanpa membedakan latar belakangnya. Semua orang memiliki hak diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law). Persamaan di hadapan hukum harus diartikan secara dinamis dan tidak diartikan statis. Artinya, kalau ada persamaan di hadapan hukum bagi semua orang harus diimbangi juga dengan persamaan perlakuan (equal treatment) bagi semua orang. Persamaan di hadapan hukum yang diartikan secara dinamis itu dipercayai akan memberikan jaminan adanya akses memperoleh keadilan bagi semua orang. Menurut Aristoteles, keadilan harus dibagikan oleh negara kepada semua orang, dan 3 Suryadi Radjab, 10 november 2003, Perlindungan HAM dalam KUHP, Kompas.

7 hukum yang mempunyai tugas menjaganya agar keadilan sampai kepada semua orang tanpa kecuali. 4 2. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Pasal 46 (1) UU KPK menyatakan bahwa: Dalam hal seseorang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, terhitung sejak tanggal penetapan tersebut prosedur khusus yang berlaku dalam rangka pemeriksaan tersangka yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lain, tidak berlaku berdasarkan Undang-Undang ini. Yang dimaksud dengan "prosedur khusus" adalah kewajiban memperoleh izin bagi tersangka pejabat negara tertentu untuk dapat dilakukan pemeriksaan. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Penjelasan Umum KUHAP menyatakan bahwa perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan pembedaan perlakuan. 3. Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Pasal 4 ayat (1) Undang-undang tersebut menyatakan Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Frasa tidak membeda-bedakan orang dapat dimaknai bahwa pengadilan menganggap 4 Frans Hendra Winarta, 23 agustus 2007, Bantuan Hukum Fakir Miskin, Suara Pembaruan.

8 sama terhadap setiap orang yang berhubungan dengan pengadilan. Baik orang tersebut masyarakat biasa, aparat penegak hukum, notaris dan lain sebagainya. Selain itu, bagi Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan Pejabat Lelang (sebagai pejabat umum selain notaris) ternyata juga tidak diatur secara khusus tentang prosedur izin pemeriksaan dalam proses peradilan. Oleh karena itu, memahami ketentuan perudang-undangan memang tidak dapat dilakukan secara parsial (sepihak) tanpa melihat peraturan lainnya sebagai satu kesatuan sistem hukum. Kesesuaian peraturan perundang-undangan memiliki peran penting dalam menciptakan peraturan yang tidak saling bertentangan. Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik yang merupakan alat bukti terkuat yang mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat yang dapat menentukan secara jelas hak dan kewajiban sehingga menjamin kepastian hukum dan sekaligus diharapkan dapat menghindari terjadinya sengketa di kemudian hari. Jika terjadi sengketa, akta otentik yang merupakan alat bukti terkuat dapat memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian perkara. 5 Sebagai bagian dari aparatur hukum, notaris dan para aparat penegak hukum lainnya juga memberikan pelayanan kepada masyarakat umum, karenanya diharapkan terjadi hubungan yang harmonis diantara mereka dengan 5 Nurman Rizal, 2005, Implementasi UUJN Kaitannya dengan Pengawasan, Majalah Renvoi, Nomor. 30, hlm. 35.

9 mengedepankan misi dan persepsi yang sama. Persamaan persepsi antara aparatur penegak hukum dengan notaris ini penting agar masing-masing dapat memberikan pelayanan di bidang hukum kepada masyarakat secara benar dan proporsional. Kendati demikian, dalam menjalankan tugas jabatan notaris sebagai pejabat umum terutama dalam kaitannya dengan pembuatan akta otentik, sering terjadi kekurangpahaman atau ketidakmengertian di dalam masyarakat luas tentang lingkup jabatan notaris tersebut termasuk batasan-batasan tanggungjawabnya. Hal ini menjadi nyata ketika akta yang dibuat oleh seorang notaris dalam perkembangannya di kemudian hari mengakibatkan munculnya persengketaan di antara para pihak. Dalam keadaan demikian, tanggung jawab notaris serta kekuatan pembuktian akta notaris menjadi dipertanyakan. Seorang notaris diberi wewenang oleh undang-undang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan dan perjanjian yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik. 6 Berkenaan dengan hal tersebut, apakah notaris selalu harus ikut bertanggungjawab dan dilibatkan bahkan diikutsertakan sebagai tergugat dalam hal terjadi sengketa di antara para pihak dalam akta yang dibuatnya, sedangkan notaris dalam hal ini hanya menjalankan tugas dan kewenangannya untuk menuangkan keinginan para pihak tersebut dalam suatu 6 Pasal 15 ayat (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

10 akta otentik sebagai alat bukti otentik tentang suatu peristiwa hukum yang terjadi di antara para pihak yang bersangkutan Undang-Undang Jabatan Notaris sebagai rambu-rambu bagi Notaris telah diatur sedemikian rupa, agar dapat meminimalkan segala masalah yang ditimbulkan dari setiap tindakan Notaris dalam menjalankan jabatannya. Akan tetapi di dalam prakteknya dan dari fakta yang ada, berita tentang Notaris yang bermasalah masih selalu terdengar, masalah tersebut dapat berasal dari laporan masyarakat sebagai pihak yang dirugikan. Tidak jarang bahwa dalam hal terjadi kasus antara para penghadap, Notaris juga ikut terlibat dalam kasus tersebut, yaitu sebagai saksi, tersangka, bahkan juga sebagai tergugat. Pengertian saksi dalam Pasal 1 ayat (26) dan tersangka dalam Pasal 1 ayat (14) menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (untuk selanjutnya akan disebut KUHAP ) yaitu: Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.

11 Menurut Sudikno Mertokusumo, tergugat dalam bahasa inggris disebut dengan defendent 7, definisi defendent di dalam Black s Law Dictionary yaitu: The person defending or denying; the party against whom relief or recovery is sought in an action or suit or the accused in a criminal case Dari definisi menurut Black s Law Dictionary, dapat diambil pengertian bahwa tergugat adalah orang yang mempertahankan kebenarannya atau tidak mengakui tuduhan yang diajukan oleh suatu pihak tertentu agar memperoleh pemulihan atau kebebasan dari tuntutan yang diajukan kepadanya. Seseorang dapat menjadi saksi, tersangka atau tergugat dapat timbul, karena berbagai sebab, dapat disengaja atau tidak disengaja, akan tetapi dengan dalih apapun, jika terbukti bersalah, Notaris tersebut telah melanggar sumpahnya sendiri dan ditambah dengan membuat akta palsu karena tidak menjalankan jabatannya dengan benar. 8 Dalam hal seorang Notaris juga ikut terpanggil dalam suatu kasus tertentu, dimana ia dijadikan sebagai saksi atau tersangka atau bahkan juga sebagai tergugat, maka sampai di mana perlindungan yang ia peroleh sebagai pejabat umum yang menjalankan jabatannya, apakah dia diproses dengan cara pada umumnya sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 7 Sudikno Mertokusumo, 1979, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, hlm. 37. 8 Tan Thong Kie, 2000, Studi Notariat, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 262.

12 B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah bentuk tanggung jawab seorang Notaris dilihat dari berbagai aspek hukum? 2. Apakah akibat hukum terhadap akta otentik yang dibuat Notaris yang melakukan perbuatan melawan hukum dalam pembuatannya? 3. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap notaris dalam menjalankan jabatannya? C. Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan di perpustakaan dan search engine internet serta sepengetahuan penulis, penelitian mengenai Tinjauan Yuridis Terhadap Penjatuhan Sanksi Untuk Notaris Terkait Keterlibatan Atas Akta Yang Dibuatnya belum pernah diangkat sebelumnya. Ide untuk melakukan penelitian ini murni terlintas dari pikiran penulis sendiri setelah melihat beberapa kasus di Pengadilan yang melibatkan seorang notaris yang menjadi pihak tergugat. Dalam penelitian awal, penulis telah melakukan penelusuran guna mencari data pendukung. Dalam penelusuran itu penulis menemukan laporan penelitian

13 dengan tema yang serupa walaupun dengan titik pokok permasalahan yang berbeda yaitu: 1. Penelitian dengan judul: Kewenangan Notaris dalam Status Tersangka Menjalankan Tugas Sebagai Pejabat Umum Membuat Akta Otentik, yang disusun oleh Diana Ekawati, untuk diajukan sebagai Tesis kepada Universitas Diponegoro, dengan Perumusan Masalah sebagai berikut 9 : a. Bagaimana prosedur untuk melakukan penyidikan terhadap notaris yang dilaporkan telah melakukan perbuatan pidana? b. Bagaimana kewenangan Notaris yang telah ditetapkan sebagai tersangka pelaku tindak pidana menjalankan tugas jabatannya membuat akta otentik? c. Bagaimana prosedur untuk menetapkan pemberhentian sementara terhadap notaris yang telah ditetapkan sebagai tersangka pelaku tindak pidana? Perbedaan yang sangat terlihat yaitu dalam proses peradilan dan kewenangan menjalankan tugasnya. Dalam penelitian ini memfokuskan pada proses peradilan pidana dengan status notaris sebagai tersangka, sedangkan dalam penelitian yang dilakukan penulis menitikberatkan pada legalitas dan kemungkinan seorang notaris dijadikan tergugat di Pengadilan Perdata beserta batasan dan tolak ukurnya. 2. Penelitian dengan judul: Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Selaku Pejabat Umum Sehubungan dengan Akta yang Dibuatnya Berdasarkan 9 Diana Ekawati, Kewenangan Notaris dalam Status Tersangka Menjalankan Tugas Sebagai Pejabat Umum Membuat Akta Otentik, Tesis kepada Universitas Diponegoro

14 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris di Kota Banjarmasin, yang disusun oleh: Ni Luh Gede Seriasih, untuk diajukan sebagai tesis kepada Universitas Gadjah Mada, dengan Perumusan Masalah sebagai berikut: 10 a. Bagaimanakah peranan Majelis Pengawas Daerah dan Majelis Pengawas Wilayah dalam melaksanakan pengawasan terhadap notaris di Kota Banjarmasin Berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. b. Bagaimanakah penerapan sanksi perdata dan sanksi administratif terhadap notaris di Kota Banjarmasin dan apakah telah sesuai dengan Undangundang Nomor 2004 tentang Jabatan Notaris. Perbedaan yang sangat terlihat yaitu, penulisan ini mengangkat tentang macam-macam sanksi untuk notaris dan akibat hukum dari kekuatan akta yang dibuatnya, sedangkan dalam penelitian ini penulis lebih mengangkat masalah kemungkinan hukum pengajuan notaris sebagai tergugat dan akibat hukum terhadap akta-akta yang dibuatnya. 3. Penelitian dengan judul: Tolak Ukur yang Dijadikan Pedoman Hakim dalam Mengambil Keputusan yang Berkaitan dengan Akta Notaris Tentang Perjanjian yang Mengandung Unsur Penyalahgunaan Keadaan (Undue Influence), yang disusun oleh: Yuni Akhadiyah, untuk diajukan sebagai tesis 10 Ni Luh Gede Seriasih, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Selaku Pejabat Umum Sehubungan dengan Akta yang Dibuatnya Berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris di Kota Banjarmasin, Tesis kepada Universitas Gadjah Mada.

15 kepada Universitas Gadjah Mada, dengan Perumusan Masalah sebagai berikut: 11 a. Bagaimama putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta terhadap masalah yang mengandung unsur penyalahgunaan keadaan? b. Bagaimanakah kewenangan dan tanggungjawab notaris terhadap akta yang mengandung unsur penyalahgunaan keadaan (undue influence)? c. Apa tolak ukur yang dijadikan pedoman Hakim dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan akta notaris tentang perjanjian yang mengandung unsur penyalahgunaan keadaan (undue influence)? Perbedaan materi yang diangkat dari penulisan ini dengan tulisan yang diangkat penulis terletak pada bahan pertimbangan yang diambil oleh Hakim dalam kasus akta yang dibatalkan karena terjadi penyalahgunaan keadaan (undue influence) yang berkaitan dengan kewenangan dan tugas notaris serta tanggungjawabnya akan akta yang dibuatnya, sedangkan dalam penelitian yang penulis angkat adalah mengenai kemungkinannya notaris diajukan dan dijadikan tergugat di Pengadilan berkaitan dengan jabatannya sebagai pejabat pembuat akta di Indonesia. 11 Yuni Akhadiyah, Tolak Ukur yang Dijadikan Pedoman Hakim dalam Mengambil Keputusan yang Berkaitan dengan Akta Notaris Tentang Perjanjian yang Mengandung Unsur Penyalahgunaan Keadaan (Undue Influence), Tesis kepada Universitas Gadjah Mada.

16 D. Kegunaan Penelitian 1. Secara teoritis, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan khususnya pada dunia kenotariatan. 2. Secara praktis, dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mendapatkan pemahaman tentang dunia kenotariatan dan hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan kenotariatan. E. Tujuan Penelitian Dengan mengacu pada permasalahan seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk menganalisis bentuk-bentuk tanggung jawab notaris dari berbagai sisi dan ditinjau dari berbagai aspek hukum. 2. Untuk memaparkan akibat hukum terhadap notaris dan akta-akta otentik yang dibuat oleh notaris yang melakukan perbuatan melawan hukum. 3. Untuk mengetahui apa sajakah yang dapat dilakukan notaris agar terlindungi dalam melaksanakan jabatannya..