INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

dokumen-dokumen yang mirip
KATA PENGANTAR. Kata Pengantar

TELEKOMUNIKASI DAN INTERNET

Seri TIKoMeter. Pusat Teknologi Informasi Dan Komunikasi BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Seri TIKoMeter. Pusat Teknologi Informasi Dan Komunikasi BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

tu a S n TELEKOMUNIKASI ia DAN INTERNET g a B

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007

1 Universitas Indonesia

Bab 8 Bidang Standarisasi

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013

Manfaat Teknologi Nirkabel bagi Masyarakat. Oleh : Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si Senin, 25 Oktober :26

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%)

BAB I PENDAHULUAN. terlihat dari tingkat pertumbuhan negara tersebut. Namun beberapa tahun terakhir

urnal Penelitian Pos Dan Informatika

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI

HASIL SURVEI INDIKATOR TIK 2015

DAFTAR INFORMASI PUBLIK HASIL PENELITIAN TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

I. PENDAHULUAN. dunia pendidikan sangat dirasakan kebermanfaatannya. Sejalan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan

DAFTAR INFORMASI PUBLIK HASIL PENELITIAN TAHUN 2011

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

BAB I PENDAHULUAN. industri tercepat dan terbesar yang menggerakkan perekonomian. Menurut World

DAFTAR INFORMASI PUBLIK INFORMASI YANG WAJIB TERSEDIA SETIAP SAAT PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2012 UNIT YANG MENGUASAI

BAB I PENDAHULUAN. Analisis daya saing..., 1 Rani Nur'aini, FT UI, 2009 Universitas Indonesia

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua

TANTANGAN INDONESIA PADA ERA BROADBAND ICT

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. ekonomi terbesar di dunia pada tahun Tujuan pemerintah tersebut

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

DAFTAR INFORMASI PUBLIK INFORMASI YANG WAJIB TERSEDIA SETIAP SAAT PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2011

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber: Laporan Postel Sem.I/2014

BAB 1 PENDAHULUAN. Semakin rendahnya pertumbuhan pasar serta tingginya persaingan

DAFTAR INFORMASI PUBLIK HASIL PENELITIAN TAHUN 2012

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN PMA TRIWULAN I TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan tugas wajib bagi negera-negara di dunia

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Integrasi ekonomi merupakan kebijakan perdagangan internasional yang dilakukan

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prasyarat untuk memperoleh peluang partisipasi, adaptasi dalam hal

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Pengguna Internet Asia[1] Perencanaan strategi..., Indrajaya Pitra Persada, FT UI, 2010.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang netter 23.3

I. PENDAHULUAN. Implementasi desentralisasi fiskal yang efektif dimulai sejak Januari

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, AGUSTUS 2016

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional

BAB I PENDAHULUAN. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri di Indonesia yang memiliki

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

, r ... JI' : i. -~ :.-.. ' I

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru bagi kita. Globalisasi

INDIKATOR KINERJA UTAMA KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

BAB I. PENDAHULUAN. adalah tricresyl phosphate yang merupakan senyawa organik ( ester) dengan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah tidak bisa berjalan sendiri karena dibutuhkan biaya yang sangat besar.

I. PENDAHULUAN. Pada masa persaingan bebas ini, ketika semua aspek kehidupan. terus berkembang, konsumen semakin membutuhkan jasa telekomunikasi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai masyarakat yang buta akan informasi. Internet (interconnectionnetworking)

Survei Perusahaan Informasi dan Komunikasi, 2013

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PEMBANGUNAN FASTEL USO WHITE PAPER PELUANG USAHA DI BIDANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh bidang konstruksi pada suatu negara cukup besar. Bidang

DAFTAR PM KOMINFO TERKAIT PERIZINAN DAN INVESTASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis daring (online) semakin pesat seiring dengan

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi baik itu telekomunikasi, komputer,

, 2015 PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI PENUNJANG KEGIATAN PEMBELAJARAN SISWA SMK NEGERI 4 BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup manusia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Perlado dan Barwise (2005), Mobile telecommunication atau

BAB 1 PENDAHULUAN. populasi dan pendapatan per kapita negara-negara anggota ASEAN. Dimana, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Sumber :

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan suatu langkah dalam membuat sesuatu yang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan Teknologi atau Information Technology ( IT ) dewasa ini

AKSES DAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip dasar yang dideklarasikan dalam WSIS untuk mewujudkan masyarakat informasi antara lain diperlukannya peran pemerintah

I. PENDAHULUAN. tidak pasti dan turbulen baik dari sisi teknologi, regulasi, pasar maupun

BAB I PENDAHULUAN. Banyak pihak yang membutuhkan aliran informasi yang cepat dan murah.

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, APRIL 2017

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

Data Statistik dan Hasil Survei EKONOMI KREATIF. Kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik

BAB I PENDAHULUAN. semakin banyak munculnya inovasi di bidang informasi. Perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. yang telah diaudit oleh akuntan publik. Selain itu, kondisi perekonomian domestik

Buku Saku Data dan Tren TIK 2014

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

: Determinan Intra-Industry Trade Komoditi Kosmetik Indonesia dengan Mitra Dagang Negara ASEAN-5 : I Putu Kurniawan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Kementerian Komunikasi dan Informatika (KEMKOMINFO)

BAB I PENDAHULUAN. Pendekatan pembangunan manusia telah menjadi tolak ukur pembangunan. pembangunan, yaitu United Nations Development Programme (UNDP)

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia tiga tahun terakhir lebih rendah dibandingkan Laos dan Kamboja.

Menggenjot UMKM dan Pasar Domestik Sebagai Tantangan di MEA Oleh: Mauled Moelyono 2

Transkripsi:

INDIKATOR TIK INDONESIA 2011 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Indikator TIK Indonesia 2011 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDM PUSLITBANG PENYELENGGARAAN POS DAN INFORMATIKA JAKARTA, 2011

Kementerian Kominfo, Jakarta, Indonesia 2011, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Hak cipta dilindungi undang-undang Ministry of Communication and Information Technology (Kominfo) All rights reserved. Published 2011 Katalog dalam terbitan (KDT) INDIKATOR TIK INDONESIA 2011 Tahun 2011/ Tim Indikator TIK Indonesia, Puslitbang PPI-Kominfo. (Penyunting: Siti Meiningsih, Yan Rianto) xxv, 112 halaman; 17.6 x 25 cm ISBN: 978-602-19788-0-1 1. Indikator TIK Indonesia Penulis (Tim Indikator TIK Indonesia, Kominfo): Vidyantina Heppy A. Nani Grace S. Diana Sari Tiari Pratiwi Hutami Irene Muflikh Nadhiroh Dewi Rosiyana Umami Nurlia Hikmah Diah Arum Maharani Anton Susanto Rini Wijayanti Penyunting: Siti Meiningsih Yan Riyanto Pengolah data: Rini Wijayanti Desain gambar dan tata letak: Vidyantina Heppy A. KOMINFO Penerbit/Published by: Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Gedung B Lantai 4 Jakarta Pusat 10110 Telp./Fax. (021)-3846189 web: www.balitbang.depkominfo.go.id ii

KATA PENGANTAR (Kepala Badan Litbang SDM- Kementerian KOMINFO) Buku Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia tahun 2011 terwujud berkat dukungan para pengambil kebijakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO), semangat kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Balai Pengkajian Badan Litbang Sumber Daya Manusia (SDM), dan kerjasama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PAPPIPTEK - LIPI). Penyusunan Buku Indikator TIK Indonesia 2011 ini mengacu pada indikator utama yang dikembangkan oleh ITU (International Telecommunication Union). Dengan terbitnya Buku Indikator TIK Indonesia 2011, kita boleh berbangga hati atas keberhasilan penghimpunan kembali informasi dan data indikator dari berbagai pihak yang selama ini menangani data indikator yaitu : Dirjen Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel) yang telah berubah nomenklatur menjadi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Dirjen PPI) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI), serta dari institusi terkait seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Selama 10 tahun (2002-2011), telah banyak dilakukan upaya pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan informasi tentang perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi oleh Kementerian Kominfo, BPPT, dan BPS. Kementerian Kominfo dalam tahun 2008-2011 telah melakukan upaya penyusunan dan pemutakhiran Indikator TIK. Penyusunan Indikator TIK Indonesia yang telah dilakukan oleh BPPT maupun Kementrian Kominfo belum seluruhnya sesuai dengan indikator TIK yang telah ditetapkan oleh ITU dan masyarakat informasi dan komunikasi negara-negara dunia. Problematika mendasar dalam membangun indikator TIK nasional antara lain karena keterbatasan dalam hal kelengkapan dan keakuratan data kuantitatif maupun kualitatif, dan kurangnya sinergi dengan instansiinstansi terkait untuk mewujudkan ketersediaan data TIK yang lebih akurat dan lengkap. Di atas semua keberhasilan dan tantangan ke depan dalam penerbitan Buku Indikator TIK Indonesia 2011 ini, penghargaan kami kepada: Bapak Menteri Kominfo yang telah iii

KATA PENGANTAR mengarahkan penyusunan buku ini menuju sasaran yang diinginkan ; Sekretaris Jenderal dan para Direktur Jenderal Kementerian Kominfo yang telah memberikan dukungan terlaksananya penyusunan buku ini, Bapak Dr. Rudi Lumanto dan Dr. Yan Rianto yang telah membantu mewujudkan penyusunan buku sesuai rencana ; para Pejabat Eselon 2, Kepala Puslitbang dan Balai Pengkajian di lingkungan Badan Litbang SDM yang telah menyumbangkan gagasan, pikiran, informasi dan data yang diperlukan. Ucapan terimakasih juga tertuju kepada Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Informatika yang telah mengkoordinasikan penyusunan Buku Indikator TIK Indonesia 2011. Semoga Buku Indikator TIK Indonesia 2011 ini menjadi sumbangan yang berharga bagi perencanaan pembangunan TIK di Indonesia ke depan khususnya dan dalam rangka mendukung Masterplan Perencanaan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Jakarta, Desember 2011 Kepala Badan Litbang SDM Kementrian Kominfo, Aizirman Djusan iv

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL INTISARI iii v viii xi xv BAB 1. PENDAHULUAN 1 1.1 Indikator Infrastruktur dan Akses dasar TIK 2 1.2 Indikator Akses dan Penggunaan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu 3 1.3 Indikator Akses dan penggunaan TIK pada bisnis 4 1.4 Sektor TIK dan Perdagangan 4 1.5 Akses dan penggunaan TIK pada sektor pendidikan 5 BAB 2. INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK 7 2.1 Pengguna Telepon Tetap dan Nirkabel 8 2.1.1 Pengguna Telepon Tetap Kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah 8 2.2 Pengguna Telepon Bergerak Seluler 9 2.2.1 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah 10 2.3 Pelanggan Fixed Broadband Internet 10 2.4 Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband 11 2.5 Perkembangan Kantor Pos 12 2.6 Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah 12 v

DAFTAR ISI BAB 3. PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU 19 3.1 Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Radio dan Televisi 20 3.2 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Telepon 22 3.3 Tingkat Kepemilikan dan Penggunaan Komputer dan Internet 23 3.4 Lokasi Penggunaan Internet oleh Individu dalam 12 Bulan Terakhir 24 3.5 Aktifitas Internet Yang Dilakukan Individu dalam 12 Bulan Terakhir 24 3.6 Individu dalam rumah tangga yang Menggunakan Telepon Bergerak 25 3.7 Jenis Koneksi Internet yang Digunakan 26 3.8 Frekuensi Mengakses Internet 27 BAB 4. PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 29 4.1 Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan 31 4.1.1. Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture 32 4.1.2. Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan 33 4.2 Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet 33 4.2.1. Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet 34 4.2.2. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha 35 4.3 Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan 35 4.3.1. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha 36 4.4 Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet 37 4.4.1. Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet 37 4.5 Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet 38 4.5.1. Kegitan Penggunaan Internet Pada PMDN, PMA dan Joint Venture 39 4.5.2. Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 39 4.6 Kegiatan Lain Penggunaan Oleh Internet Perusahaan 40 4.6.1. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 40 BAB 5. SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN 43 5.1 Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur 44 5.2 Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur 44 5.3 Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur 45 5.4 Impor Barang-barang Perlengkapan Telekomunikasi 46 5.5 Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi 46 5.6 Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia 47 5.7 Negara Tujuan Ekspor Barang-barang Audio-Visual 48 5.8 Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 48 5.9 Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 49 vi

DAFTAR ISI BAB 6. PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN 51 6.1 Profil Responden 52 6.2 Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan 53 6.2.1. Proporsi Sekolah dengan Penggunaan Sarana TIK 53 6.2.2. Rata-rata Waktu Penggunaan Sarana TIK Dalam Belajar Mengajar 54 6.2.3. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan TIK 55 6.2.4. Kegiatan Penggunaan Komputer berdasarkan dan Koneksivitas Internet 56 6.2.5. Pengajaran Keterampilan Komputer Dasar 57 6.2.6. Kurikulum Pelajaran Keterampilan Komputer Dasar 58 6.2.7. Sekolah yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet 59 6.2.8. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Dasar 60 6.2.9. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK 61 6.2.10 Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Dasar 62 6.2.11 Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK 63 6.2.12. Rasio Siswa Mengakses Internet Untuk Pembelajaran 64 vii

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Perkembangan Jumlah Pelanggan Jaringan Telepon Tetap Kabel dan Telepon Tetap Nirkabel, 2005-2010 8 Gambar 2.2 Pengguna Telepon Tetap kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah 9 Gambar 2.3 Perkembangan Jumlah Pengguna Telepon Bergerak Seluler, 2006 2010 9 Gambar 2.4 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah, 2010 10 Gambar 2.5 Perkembangan Pelanggan Fixed Broadband Internet 11 Gambar 2.6 Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband 11 Gambar 2.7 Perkembangan Kantor Pos, 2005-2010 12 Gambar 2.8 Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah 13 Gambar 2.9 Sebaran Kantor Pos Menurut Wilayah, 2010 13 Gambar 2.10 Sebaran Pelayanan Pos Bergerak Menurut Jenis dan Wilpos, 2010 14 Gambar 2.11 Sebaran Pelayanan Pos Lainnya Menurut Jenis dan Wilayah Pos, 2010 15 Gambar 2.12 Perkembangan Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya, 2005-2010 15 Gambar 2.13 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Wilayah Pos, 2010 16 Gambar 2.14 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Pulau, 2010 17 Gambar 2.15 Perkembangan Jangkauan Pelayanan Pos di Kelurahan/Desa, 2005-2010 17 Gambar 2.16 Tingkat Keterjangkauan Pelayanan Pos di Desa Menurut Wilpos, 2010 18 Gambar 3.1. Perbandingan Sampel dan Populasi 21 Gambar 3.2. Sebaran Responden Berdasarkan Pulau 21 Gambar 3.3. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Radio dan Televisi 22 Gambar 3.4. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Telepon 22 Gambar 3.5. Tingkat Kepemilikan dan Penggunaaan Komputer dan Internet 23 Gambar 3.6. Lokasi Mengakses Internet 24 Gambar 3.7. Aktivitas Mengakses Internet 25 Gambar 3.8. Proporsi Individu yang Menggunakan Telepon Seluler 26 Gambar 3.9. Jenis Teknolgi Akses Internet 27 Gambar 3.10. Frekuensi Mengakses Internet 27 Gambar 4.1 Sampel dan Populasi Perusahaan 30 Gambar 4.2. Perbandingan Populasi Perusahaan Bisnis Indonesia 31 Gambar 4.3. Skala Perusahaan Responden 31 viii

DAFTAR GAMBAR Gambar 4.4. Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan 32 Gambar 4.5. Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture 32 Gambar 4.6. Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan 33 Gambar 4.7. Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet 34 Gambar 4.8. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha 34 Gambar 4.9. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha 35 Gambar 4.10. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan 36 Gambar 4.11. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha 36 Gambar 4.12. Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet 37 Gambar 4.13. Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet Berdasarkan Skala Usaha 38 Gambar 4.14. Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet 38 Gambar 4.15. Kegiatan Penggunaan Internet PMDN, PMA dan Joint Venture 39 Gambar 4.16. Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 39 Gambar 4.17. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan 40 Gambar 4.18. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 41 Gambar 5.1. Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur 44 Gambar 5.2. Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur 45 Gambar 5.3. Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur 45 Gambar 5.4. Impor Barang-Barang Perlengkapan Telekomunikasi 46 Gambar 5.5. Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi 47 Gambar 5.6. Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia 47 Gambar 5.7. Negara Tujuan Ekspor Barang-Barang Audio-Visual 48 Gambar 5.8. Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 49 Gambar 5.9. Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 50 Gambar 6.1. Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Sekolah 52 Gambar 6.2. Proporsi Responden Berdasarkan Jenjang Pendidikan 52 Gambar 6.3. Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Sekolah dan Jenjang Pendidikan 53 Gambar 6.4. Proporsi Sekolah Terhadap Penggunaan Sarana TIK 53 Gambar 6.5. Proporsi Sekolah Terhadap Penggunaan Sarana TIK 54 Gambar 6.6. Rata-rata Waktu Penggunaan Sarana TIK Dalam Belajar Mengajar 54 Gambar 6.7. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar Mata Pelajaran Menggunakan TIK 55 ix

DAFTAR GAMBAR Gambar 6.8. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan TIK 56 Gambar 6.9. Proporsi Penggunaan Komputer Berdasarkan Kegiatan 56 Gambar 6.10. Kegiatan Penggunaan Komputer Berdasarkan dan Koneksivitas Internet 57 Gambar 6.10. Proporsi Sekolah Mengajarkan keterampilan Komputer Dasar 57 Gambar 6.11. Pengajaran Keterampilan Komputer Dasar 58 Gambar 6.12. Kurikulum Pelajaran Keterampilan Komputer Dasar 58 Gambar 6.13. Koneksi Internet yang Digunakan di Sekolah 60 Gambar 6.14 Sekolah Yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet 60 Gambar 6.15. Sekolah Yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet 61 Gambar 6.16. Kepemilikan Website dan Pemberian Akun Email 61 Gambar 6.17. Kepemilikan Website dan Pemberian Akun Email 62 Gambar 6.18. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer 63 Gambar 6.19. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Berdasarkan Jenjang Pendidikan 63 Gambar 6.20. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK Berdasarkan Jenis Sekolah 64 Gambar 6.21. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK Berdasarkan Jenjang Pendidikan 64 Gambar 6.22. Rasio Siswa Mengakses Internet Untuk Pembelajaran 65 Gambar 7.1. Teledensitas Telepon Tetap Negara Asia Terpilih, 2004-2010 68 Gambar 7.2. Teledensitas Telepon Tetap Negara ASEAN, 2004-2010 68 Gambar 7.3. Teledensitas Telepon Bergerak Negara Asia Terpilih, 2004-2010 69 Gambar 7.4. Teledensitas Telepon Bergerak Negara ASEAN, 2004-2010 70 Gambar 7.5. Densitas Broadband Negara-negara Asia Terpilih, 2004-2010 70 Gambar 7.6. Densitas Broadband Negara ASEAN, 2004-2010 71 Gambar 7.7. Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN 72 Gambar 7.8. Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih 72 Gambar 7.9. Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN 73 Gambar 7.10. Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih 74 x

DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Perkembangan Jumlah Pelanggan Jaringan Telepon Tetap Kabel dan Telepon Tetap Nirkabel, 2005-2010 77 Tabel 2.2 Pengguna Telepon Tetap kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah 77 Tabel 2.3 Perkembangan Jumlah Pengguna Telepon Bergerak Seluler, 2006 2010 78 Tabel 2.4 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah, 2010 78 Tabel 2.5 Perkembangan Pelanggan Fixed Broadband Internet 78 Tabel 2.6 Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband 79 Tabel 2.7 Perkembangan Kantor Pos, 2005-2010 79 Tabel 2.8 Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah 80 Tabel 2.9 Sebaran Kantor Pos Menurut Wilayah, 2010 80 Tabel 2.10 Sebaran Pelayanan Pos Bergerak Menurut Jenis dan Wilpos, 2010 81 Tabel 2.11 Sebaran Pelayanan Pos Lainnya Menurut Jenis dan Wilayah Pos, 2010 82 Tabel 2.12 Perkembangan Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya, 2005-2010 82 Tabel 2.13 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Wilayah Pos, 2010 83 Tabel 2.14 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Pulau, 2010 83 Tabel 2.15 Perkembangan Jangkauan Pelayanan Pos di Kelurahan/Desa, 2005-2010 84 Tabel 2.16 Tingkat Keterjangkauan Pelayanan Pos di Desa Menurut Wilpos, 2010 84 Tabel 3.1 Pembandingan Populasi dan Sampel 85 Tabel 3.2 Sebaran Responden Berdasarkan Pulau 86 Tabel 3.3 Proporsi rumah tangga yang memiliki radio dan televisi 86 Tabel 3.4 Proporsi rumah tangga yang memiliki telepon 86 Tabel 3.5 Tingkat kepemilikan dan penggunaaan komputer dan internet 86 Tabel 3.6 Lokasi akses internet 87 Tabel 3.7 Aktivitas internet 87 Tabel 3.8 Proporsi individu yang menggunakan telepon seluler 87 Tabel 3.9 Jenis Teknologi Akses Internet 88 Tabel 3.10 Frekuensi Akses Internet 88 xi

DAFTAR GAMBAR Tabel 4.1 Sampel dan Populasi Perusahaan 89 Tabel 4.2 Perbandingan Populasi Perusahaan Bisnis Indonesia 89 Tabel 4.3 Skala Perusahaan Responden 89 Tabel 4.4 Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan 89 Tabel 4.5 Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture 90 Tabel 4.6 Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan 90 Tabel 4.7 Rasio Tenaga Kerja Yang Menggunakan Komputer dan Internet 91 Tabel 4.8 Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha 91 Tabel 4.9 Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha 91 Tabel 4.10 Jenis Koneksi Internet yang Digunakan Perusahaan 91 Tabel 4.11 Jenis Koneksi Internet yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha 92 Tabel 4.12 Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet 92 Tabel 4.13 Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet berdasar Skala Usaha Perusahaan 93 Tabel 4.14 Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet 93 Tabel 4.15 Kegiatan Penggunaan Internet PMDN, PMA dan Joint Venture 94 Tabel 4.16 Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 94 Tabel 4.17. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan 94 Tabel 4.18 Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan Berdasar Skala Usaha 95 Tabel 5.1 Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur 96 Tabel 5.2 Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur 96 Tabel 5.3 Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur 96 Tabel 5.4 Impor Barang-barang Perlengkapan Telekomunikasi 97 Tabel 5.5 Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi 97 Tabel 5.6 Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia 98 Tabel 5.7 Negara Tujuan Ekspor Barang-barang Audio-Visual 98 Tabel 5.8 Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 99 Tabel 5.9 Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya 99 Tabel 6.1 Proporsi responden berdasarkan jenis sekolah 100 Tabel 6.2 Proporsi responden berdasarkan jenjang pendidikan 100 Tabel 6.3 Proporsi responden berdasarkan jenis sekolah dan jenjang pendidikan 100 Tabel 6.4 Proporsi sekolah dengan penggunaan sarana TIK 101 xii

DAFTAR GAMBAR Tabel 6.5 Tabel 6.6 Tabel 6.7 Tabel 6.8 Proporsi sekolah dengan penggunaan sarana TIK berdasarkan jenis sekolah 101 Rata-rata waktu penggunaan sarana TIK dalam kegiatan belajar mengajar 102 Rata-rata kegiatan belajar mengajar mata pelajaran yang menggunakan TIK 102 Rata-rata waktu kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan TIK berdasarkan jenis sekolah 102 Tabel 6.9 Proporsi penggunaan komputer berdasarkan kegiatan 103 Tabel 6.10 Kegiatan penggunaan komputer berdasarkan dan koneksivitas internet 103 Tabel 6.11 Pengajaran keterampilan komputer dasar 104 Tabel 6.12 Kurikulum pelajaran keterampilan komputer dasar 104 Tabel 6.13 Koneksi internet yang digunakan di sekolah 104 Tabel 6.14 Sekolah yang memberikan pekerjaan rumah melalui internet 104 Tabel 6.16 Sekolah yang memberikan pekerjaan rumah melalui internet berdasarkan jenis sekolah 105 Tabel 6.17 Kepemilikan website dan Pemberian akun email 105 Tabel 6.18 Rasio guru mengajar keterampilan komputer 105 Tabel 6.19 Rasio guru yang mengajar keterampilan komputer dasar berdasarkan jenjang pendidikan 105 Tabel 6.20 Rasio guru yang pernah/sedang mengikuti pelatihan TIK berdasarkan jenis sekolah 106 Tabel 6.21 Rasio guru mengikuti pelatihan TIK berdasarkan jenjang pendidikan 106 Tabel 6.22 Rasio siswa mengakses internet untuk pembelajaran 106 Tabel 7.1 Teledensitas Telepon Tetap Negara Asia terpilih, 2004-2010 107 Tabel 7.2 Teledensitas Telepon Tetap Negara ASEAN, 2004-2010 107 Tabel 7.3 Teledensitas Telepon Bergerak Negara Asia terpilih, 2004-2010 108 Tabel 7.4 Teledensitas Telepon Bergerak Negara ASEAN, 2004-2010 108 Tabel 7.5 Densitas Broadband Negara-negara Asia Terpilih, 2004-2010 109 Tabel 7.6 Densitas Broadband Negara ASEAN, 2004-2010 109 Tabel 7.7 Pelanggan Fixed Internet per 100 Inhabitant Negara ASEAN 110 Tabel 7.8 Pelanggan Fixed Internet per 100 Inhabitant Negara Asia Terpilih 110 Tabel 7.9 Pengguna internet per 100 Inhabitan Negara ASEAN 111 Tabel 7.10 Pengguna Internet per 100 inhabitan Asia Terpilih 111 xiii

xiv

INTISARI Tahun 2011, Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyusun Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia 2011 yang meliputi Infrastruktur dan Akses TIK, Akses dan Penggunaan TIK oleh Sektor Rumah Tangga dan Individu, Akses dan Penggunaan TIK Sektor Bisnis, Sektor TIK dan Perdagangan, Akses dan Penggunaan TIK oleh Sektor Pendidikan dan Perbandingan Internasional. Buku Indikator TIK Indonesia 2011 ini terwujud berkat kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Puslitbang PPI) Pusat Data dan Sarana Informatika bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Perkembangan Iptek. Data Akses dan Penggunaan TIK oleh Sektor Rumah Tangga dan Individu adalah hasil survei Puslitbang PPI dan 8 (delapan) Balai Pengkajian Badan Litbang SDM. Sementara data Akses dan Penggunaan TIK oleh Sektor Bisnis dan di Sektor Pendidikan merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo. Data sekunder diperoleh dari Statistik Postel, Badan Pusat Statistik (BPS), dan data-data dari International Telecommunication Union (ITU). 1. PENDAHULUAN Indikator dirancang untuk merepresentasikan dan menyediakan informasi kuantitatif tentang suatu hal tertentu yang menarik. Indikator TIK disusun hampir oleh semua negara di dunia, dan juga lembaga-lembaga yang ada di dunia, salah satunya adalah ITU (International Telecommunication Union). Indikator utama TIK yang dikeluarkan oleh ITU merupakan hasil proses konsultasi yang intensif dengan the Partnership on Measuring ICT for Development pada tahun 2005. Tujuan utama dari perumusan daftar indikator utama adalah untuk membantu negara-negara agar mempunyai data yang berkualitas dan dapat diperbandingan secara internasional dalam bidang TIK. xv

INTISARI Untuk tahun 2010, terdapat 46 indikator utamatik dan dua indikator referensi sebagai hasil revisi dari tahun 2005 yang memuat 41 indikator. Indikator utama mencerminkan kebutuhan pembuat kebijakan untuk mendapatkan data yang relevan tanpa mengabaikan masalah kelayakan statistik. Beberapa indikator yang sangat relevan tidak termasuk dalam daftar utama karena kesulitan mendapatkan kualitas data yang baik untuk perbandingan internasional. Perkembangan penting dari daftar indikator utama pertama adalah ditambahkannya 8 indikator utama dan 1 indikator referensi untuk mengukur penggunaaan dan akses TIK di sektor pendidikan. Indikator pendidikan ini dikembangkan oleh UNESCO Institute for Statistics (UIS) selama beberapa tahun dan telah menjadi subyek pengujian dan proses konsultasi ekstensif. Daftar indikator utama TIK revisi tahun 2010 berdasarkan ITU meliputi lima sektor yaitu : 1) Infrastruktur dan akses TIK; 2) Akses dan penggunaan TIK oleh rumah tangga dan individu; 3) Akses dan penggunaan TIK pada bisnis; 4) Sektor TIK dan perdagangan; 5) Akses dan penggunaan TIK pada sektor pendidikan. 2. INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Berdasarkan Statistik Postel (Kominfo) Semester II Tahun 2010, diperlihatkan pengguna telepon tetap sebesar 65,59 dan telepon tetap nirkabel sebesar 73,72. Sementara telepon bergerak seluler menurut wilayah didominasi oleh wilayah Jakarta-Banten dengan teledensitas 169,3. Teledensitas pengguna di kedua wilayah ini tinggi dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas pengguna di wilayah Jakarta sebagai pusat bisnis dan pemerintahan, serta Banten sebagai kota yang terdekat (kota satelit) dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dengan penggunaan telepon, baik untuk bisnis, komunikasi, dan sebagainya. Sementara tren pelanggan fixed broadband dari tahun 2005 sampai dengan 2009 mengalami peningkatan rata-rata per tahun 0,14. Untuk tren mobile broadband dalam kurun waktu 2005 sampai dengan 2010 mengalami peningkatan setiap tahunnya dan peningkatan signifikan di tahun 2009 dengan nilai 6,41 dengan peningkatan rata-rata per tahunnya sebesar 1,59. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan fixed broadband, pengguna lebih cenderung berlangganan mobile broadband dibandingkan fixed broadband mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan dan aktivitas pengguna yang cenderung mobile. Perkembangan pos berdasarkan jenisnya dan wilayah dari tahun 2005 sampai dengan 2010 cenderung tidak mengalami peningkatan, walaupun terjadi sedikit peningkatan tetapi tidak signifikan. Secara wilayah, keberadaan kantor pos masih didominasi pulau Jawa, mengingat persebaran penduduk di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa dan hal ini menuntut pos dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap layanan pos. Fasilitas lainnya yang diberikan oleh PT. Pos Indonesia adalah dengan fasilitas pelayanan pos bergerak yang meliputi pos keliling kota, pos keliling desa, pos pasar keliling. Dalam perkembangannya, fasilitas pos keliling desa memiliki unit terbanyak dan banyak terdapat di Pulau Jawa sementara untuk Kawasan timur Indonesia masih sedikit. Kondisi Indonesia yang terdiri xvi

INTISARI dari beribu pulau, serta masih banyak pedesaan yang berjarak jauh dari kota menjadikan Pos Keliling Desa sarana penunjang aktivitas masyarakat yang harus terus ditingkatkan kualitas layanannya. Sementara perkembangan jumlah pelayanan pos lainnya ditunjukkan dalam Statistik Postel tahun 2010 menunjukkan jumlah agen pos jauh lebih besar daripada agen pos di pulau yang lain. Hal ini tak lepas dari posisi Pulau Jawa yang merupakan pusat kegiatan ekonomi, bisnis dan pemerintahan yang memberikan banyak peluang untuk pendirian agen pos melalui kerjasama dengan PT. Pos Indonesia guna memenuhi kebutuhan akan layanan pos yang sangat besar dalam menunjang kegiatan bisnis dan pemerintahan. 3 AKSES DAN PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 98,60% rumah tangga memiliki akses TIK di rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan TIK di rumah tangga hampir menyeluruh, seiring dengan perkembangan TIK itu sendiri. Secara umum, rumah tangga terdiri dari komponen individu di dalamnya, dimana akses dan penggunaan TIK juga bergantung pada kebutuhan individu, baik itu untuk berkomunikasi, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Akses TIK yang diidentifikasi dalam survei ini adalah mengenai (1) kepemilikan radio dengan presentase 55.52%, jumlah ini menunjukkan media informasi audio diakses lebih dari setengah rumah tangga, tetapi masih jauh dibandingkan dengan akses dan penggunaan televisi sebagai media audio visual; (2) kepemilikan televisi di sektor rumah tangga memiliki presentase 95.56%, hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan rumah tangga mengaskses informasi melalui media televisi menjadi pilihan utama; (3) kepemilikan telepon sebesar 90% dengan sebagian besar responden memilih telepon seluler (HP) sebagai media komunikasinya, yakni 87.64%, sedangkan presentase telepon kabel sebesar 25.19%; (4) kepemilikan komputer dengan presentase yang memiliki sebesar 32,64%; (5) individu pengguna komputer sebesar 36,32%; (6) kepemilikan akses internet dengan presentase 37.51%; (7) lokasi individu mengakses internet yang banyak dipilih oleh responden untuk mengakses internet adalah di rumah (59%), dimana saja melalui HP (57.88%), dan di warnet (57.62%). Selebihnya, mengandalkan koneksi internet di kantor (29.76%), sekolah/kampus (28.33%), dan koneksi rumah teman/saudara (22.32%); (8) aktivitas mengakses internet adalah membuka situs jejaring sosial, yang diakui oleh 64.43% responden, (9) individu pengguna telepon seluler; (10) jenis akses internet dengan tipe narrowband, fixed broadband, dan mobile broadband. ; dan (11) frekuensi mengakses internet dengan (68%) hanya mengakses internet sesekali saja, yaitu minimal 1 kali dalam seminggu. Selebihnya sebesar 32% responden mengaku mengakses internet setiap hari. xvii

INTISARI 4. PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Sektor bisnis tidak terlepas dari penggunaan TIK, sedarinya penggunaan TIK dapat memudahkan aktivitas industri mulai dari proses produksi hingga pemasaran, sehingga dapat memotong biaya operasional perusahaan khususnya di bidang logistik. Survei ini mengidentifikasi perusahaan responden berdasarkan tiga kriteria status kepemilikan usaha yaitu perusahaan dengan modal dalam negeri (PMDN), modal asing (PMA), dan modal patungan antara dalam dan luar negeri (joint venture). Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar perusahaan responden berstatus PMDN (95%). Sementara itu, 4% merupakan perusahaan PMA dan 1% adalah perusahaan joint venture. Berdasarkan skala usaha yang diukur dari jumlah tenaga kerjanya, responden dikategorikan menjadi lima, yaitu perusahaan berskala besar (jumlah tenaga kerja: >100), perusahaan berskala menengah (jumlah tenaga kerja: 20-100), perusahaan berskala kecil (jumlah tenaga kerja antara: 5-19), dan perusahaan berskala mikro (jumlah tenaga kerja: <5). Berdasarkan kriteria tersebut diketahui bahwa perusahaan responden sebagian besar merupakan perusahaan berskala kecil (44%). Sedangkan, perusahaan berskala besar proporsinya paling sedikit yaitu hanya 11% dari total responden. Survei dilakukan terhadap 803 perusahaan yang dipilih secara proporsional berdasarkan delapan kota besar, yaitu Batam, Medan, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali dan Makasar. Informasi yang diidentifikasi mengenai penggunaan komputer dan internet pada perusahaan; Hasil survei menunjukkan bahwa 92% perusahaan yang disurvei telah menggunakan komputer untuk mendukung kegiatan bisnisnya. Bahkan, seluruh perusahaan PMA dan Joint Venture telah menggunakan komputer untuk menunjang kelancaran usaha atau bisnis mereka. Kondisi ini mengindikasikan tingginya penggunaan komputer di sektor bisnis. Hasil survei juga menunjukkan bahwa semakin besar skala usaha perusahaan (berdasarkan jumlah tenaga kerja) maka semakin besar pula tingkat penggunaan komputernya. Hasil survei memperlihatkan semakin banyaknya tenaga kerja perusahaan, semakin besar pula proporsi perusahaan yang menggunakan komputer. Dalam hal penggunaan internet, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan telah menggunakan internet (86%) untuk mendukung kegiatan bisnis mereka. Khususnya perusahaan PMA dan Joint Venture yang seluruhnya telah menggunakan internet. Berdasarkan bidang usaha, hasil survei menunjukkan bahwa persentase perusahaan pengguna internet paling besar adalah perusahaan pada bidang usaha jasa lainnya (93,75%), diikuti oleh perusahaan industri manufaktur (87,38%). Persentase perusahaan pengguna internet yang paling rendah adalah perusahaan pada bidang usaha dagang, hotel dan restoran (78,01%). Hasil survei menunjukkan adanya perbedaan persentase pengguna internet berdasarkan skala usaha baik yang diukur melalui jumlah tenaga kerja maupun dari omset perusahaan. Semakin besar skala usaha maka semakin besar persentase perusahaan yang menggunakan internet untuk kepentingan bisnisnya. Hasil survei menunjukkan bahwa seluruh perusahaan dengan skala usaha besar telah memanfaatkan internet untuk mendukung kegiatan bisnisnya. Sementara itu, sebagian perusahaan skala menengah xviii

INTISARI (9%) dan skala kecil (11,73%) belum memanfaatkan internet, dan hanya sebanyak 59,22% perusahaan dengan skala mikro yang sudah menggunakan internet pada perusahaannya. Rasio tenaga kerja perusahaan yang secara rutin menggunakan komputer dalam melakukan aktivitas pekerjaannya adalah 0,19. Sedangkan rasio tenaga kerja pengguna internet adalah 0,13. Hasil survei juga menunjukkan bahwa besarnya rasio tenaga kerja yang secara rutin menggunakan komputer dalam melakukan aktivitas perusahaan terhadap total tenaga kerja berbeda menurut bidang usaha. Jika dilihat berdasarkan bidang usaha, hasil survei menunjukkan bahwa rasio tenaga kerja dengan internet pada perusahaan bidang jasa lainnya sebesar 0,18, sedangkan rasio pada bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran adalah 0,24 dan rasio untuk perusahaan pada bidang industri manufaktur adalah 0,06. Dari segi koneksi internet, hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 83,00% dari seluruh perusahaan menggunakan fixed broadband sebagai koneksi internet. Terlihat juga pola pemilihan koneksi internet yang berbeda antara perusahaan skala mikro dan kecil dengan perusahaan skala menengah dan besar. Semakin besar skala usaha yang dimiliki perusahaan, semakin besar pula persentasi penggunaan fixed broadband sebagai pilihan koneksitas internet. Persentase penggunaan mobile broadband juga semakin kecil seiring dengan semakin besarnya skala usaha berdasarkan jumlah tenaga kerja perusahaan. Sementara untuk pemanfaatan internet, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan belum memiliki web. Hanya sekitar 40% perusahaan saja yang sudah memiliki media web guna mendukung kegiatan bisnisnya. Sedangkan perusahaan yang menggunakan LAN lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan web, yaitu sebanyak 53,78% perusahaan telah memiliki LAN sebagai infrastruktur jaringan komputer. Infrastrutur intranet dan extranet belum banyak digunakan oleh perusahaan bisnis di Indonesia, hanya 35,81% perusahaan yang menggunakan intranet dan hanya 9,86% perusahaan yang menggunakan extranet. Walaupun internet telah digunakan sebagian besar perusahaan (86%), namun masih sedikit perusahaan (40% dari total perusahaan pengguna internet) yang memanfaatkannya untuk menerima pesanan (menjual) barang dan jasa, sedangkan sebanyak 52,31% perusahaan pengguna internet telah memanfaatkan internet untuk menawarkan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Pemanfaatan internet untuk penawaran barang atau jasa; Perusahaan PMA yang paling banyak melakukan aktivitas penjualan melalui internet (48,39%) dibandingkan dengan perusahaan PMDN dan Joint Venture. Tetapi, sebagian besar (lebih dari 50%) perusahaan PMA dan PMDN telah menggunakan internet sebagai media penawaran. Untuk aktivitas penggunaan internet, hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas mengirim dan menerima email merupakan aktivitas yang dilakukan oleh hampir seluruh perusahaan dengan tingkat skala usaha (jumlah tenaga kerja) manapun. Sebanyak 56,31% perusahaan skala mikro, 86,03% perusahaan skala kecil, 100% perusahaan skala menengah dan 97,70% perusahaan skala besar mengaku melakukan aktivitas mengirim dan menerima email dalam aktivitas internet perusahaan mereka. xix

INTISARI 5. TIK DALAM PERDAGANGAN Persentase banyaknya perusahaan industri TIK terhadap perusahaan industri manufaktur dari tahun 2006 sampai dengan 2007 cenderung meningkat sebesar 1,14% pada tahun 2006 dan 1,18% pada tahun 2009. Pada tahun 2008 dan 2009 terjadi penurunan jumlah perusahaan TIK, namun presentase dari total perusahaan industri manufaktur justru terus meningkat menjadi 1,20%. Sejalan dengan perusahaan industri TIK, hal yang serupa juga terjadi pada banyaknya tenaga kerja industri TIK. Pada tahun 2006, total tenaga kerja yang bekerja pada industri TIK sebesar 4,52% dari total tenaga kerja industri manufaktur, tahun 2007 terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK sebesar 4,80%. Penurunan terjadi di tahun 2008, tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK hanya sebesar 4,16%. Pada tahun 2009, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK meningkat menjadi 160.921 pekerja, yaitu 4,65% dari total pekerja perusahaan industri manufaktur. Pada tahun 2005, Indonesia mengimpor perlengkapan telekomunikasi sebanyak 2,44% dari total impor. Di tahun 2007, impor barang perlengkapan telekomunikasi mengalami kenaikan menjadi 4,44% dari total impor barang. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi di tahun 2008 yaitu sebesar 5,25% dari total impor seluruh barang. Namun pada tahun 2009 kembali terjadi penurunan, yaitu sebesar 5,05% dari total impor seluruh barang. Sementara negara pengimpor perlengkapan telekomunikasi di Indonesia berasal dari Cina, Singapura, Swedia dan Hongkong. Khususnya pada tahun 2008 terjadi peningkatan import perlengkapan telekomunikasi yang cukup tajam dari Cina dan Singapura dibandingkan tahun 2007 namun sedikit menurun pada tahun 2009. Untuk tahun 2009, 4 negara pengimpor terbesar perlengkapan telekomunikasi ke Indonesia adalah Cina, Hongkong dan Swedia. Dalam hal ekspor barang TIK, terdapat dua jenis barang TIK yaitu barang-barang audiovisual dan komputer serta perlengkapannya. Indonesia mengekspor barang-barang audio visual hanya sebesar 0,0044% dari total seluruh barang yang diekspor. Pada kurun waktu 2006-2007 terjadi penurunan ekspor barang audio-visual, yaitu menjadi 0,0024% saja dari total barang yang diekspor oleh Indonesia. Kenaikan ekspor barang-barang audio visual terjadi di tahun 2008, namun persentase dari total seluruh barang yang diekspor menurun hanya sebesar 0,0021%. Pada tahun 2009, ekspor barang-barang audio-visual kembali mengalami peningkatan sejalan dengan persentase ekspor barang audio visual yaitu sebesar 0,0029%. Ekspor barang-barang audio visual dari Indonesia ke Belanda terus mengalami peningkatan dalam rentang waktu 2005-2009. Ekspor barang-barang audio visual pada tahun 2009 menurun dari tahun sebelumnya ke Singapura, Belgia dan Finlandia, akan tetapi meningkat ke Amerika Serikat dengan nilai ekspor 628,0 Million USD. Tahun 2005, Total nilai ekspor komputer dan komponennya mencapai 1.850.486,9 million USD dan menyumbang kontribusi terhadap total ekspor Indonesia sebesar 2,16% pada tahun itu. Akan tetapi pada tahun 2007, nilai total ekspor turun hampir setengah dari tahun sebelumnya menjadi hanya 976.529,2 million USD dan menurun lagi pada tahun 2008 menjadi 864.552,8 million USD. Nilai ekspor komputer dan perlengkapannya ini sedikit meningkat pada tahun 2009 menjadi 880.444,7 million USD yang berkontribusi 0,76% xx

INTISARI terhadap total ekspor. Pada tahun 2006, Singapura, Belanda, Jepang dan AS menjadi negara tujuan ekspor komputer dan perlengkapannya dengan nilai di atas 200.000 Million USD. Akan tetapi ekspor komputer dan perlengkapannya di Belanda, Jepang, dan AS menurun drastis sampai tahun 2009. Secara umum, nilai ekspor komputer dan perlengkapannya pada tahun 2007 dan 2008, menurun dari pada tahun 2006, dan mulai meningkat kembali pada tahun 2009. 6. PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR PENDIDIKAN Sebanyak 70% sekolah dalam survei merupakan sekolah negeri. Berdasarkan jenjang pendidikan, sekolah yang menjadi responden terbagi atas SD (59%), SMP (22%), SMA (11%) dan SMK (8%). Selain itu berdasarkan kota besar lokasi sekolah, hampir 30% sekolah dalam survei ini berlokasi di Jakarta, sebanyak 8,97% di Medan, 8,54% di Surabaya. Hasil survei menunjukkan pola penggunaan sarana TIK. Berdasarkan jenis sarana TIK, hasil survei menunjukkan bahwa 22,6% sekolah menggunakan radio pada kegiatan pengajaran, 48,81% sekolah menggunakan televisi pada kegiatan pengajaran, 94,38 sekolah memiliki akses telepon, 98% sekolah telah menggunakan komputer pada kegiatan pengajaran dan 80,03% sekolah memiliki akses internet. Sarana TIK yang paling sering digunakan adalah komputer, yakni selama 6,5 jam per minggu. Sarana lain yakni internet digunakan rata-rata selama 4,1 jam per minggu sedangkan televisi hanya selama 3,3 jam per minggu. Sarana yang paling sedikit penggunaannya adalah radio, dimana penggunaannya hanya rata-rata selama 2,2 jam per minggu. Sebanyak 86,5% komputer digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan 13,5% komputer digunakan untuk kegiatan administrasi sekolah. Mayoritas komputer di sekolah sudah terkoneksi internet, baik untuk tujuan kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan administrasi. Mayoritas sekolah (83%) mengajarkan keterampilan komputer dasar. Dalam hal waktu dimulainya pelajaran keterampilan komputer dasar, terlihat kesamaan untuk level SD, SMP, SMA, dan SMK yakni pada level awal untuk setiap jenjang tersebut yakni kelas I, kelas VII, dan kelas X. Hasil survei menunjukkan 99,09% sekolah menyatakan telah mengajarkan Microsoft office sebagai salah satu pelajarannya.sebanyak 25,87% sekolah juga mengajarkan Open Office sedangkan desain grafis (36,16%), keterampilan lainnya (28,90%) dan pemrograman (14,33%). Penggunaan koneksi internet melalui Jardiknas baru dimiliki oleh sebagian kecil sekolah, yaitu sebesar 38.69%. Sebagian besar sekolah (64.27%) justru lebih memilih koneksi fixed broadband lainnya sebagai koneksi internetnya sedangkan mobile broadband ternyata belum cukup populer disekolah karena hanya digunakan oleh 11,70%. Sebanyak 79% sekolah mengaku memberikan pekerjaan rumah yang mengharuskan siswanya untuk mengakses internet. Sedikit sekali sekolah yang sudah memiliki website dan memberikan akun email kepada siswa dan tenaga pengajarnya. Hanya 35,80% sekolah yang memiliki website, 16,46% memberikan akun email kepada pengajarnya dan 10,18% memberikan akun email kepada siswanya. xxi

INTISARI Berdasarkan hasil survei, rasio guru yang mengajar keterampilan komputer dasar terhadap total guru ternyata masih sangat rendah, yakni 0,06. Sedangkan rasio guru yang melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan TIK adalah sebesar 0,39. Dan rasio guru yang pernah atau sedang mengikuti pelatihan TIK adalah sebesar 0,34. Ketiga rasio guru ini meningkat seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan sekolah. Sedangkan untuk rasio siswa yang mengakses internet untuk tujuan pembelajaran adalah sebesar 0,39. Rasio ini cukup rendah mengingat proporsi sekolah yang memiliki akses internet sekitar 80%. 7. PERBANDINGAN INTERNASIONAL Perkembangan TIK di suatu negara dapat diukur dengan membandingkan dengan negara lainnya. Dalam indikator TIK ini ditunjukkan bagaimana positioning Indonesia dibandingkan negara-negara di Asia dan khususnya di ASEAN. Data ini berdasarkan hasil dari ITU. Dimulai dengan perbandingan teledensitas telepon tetap, dalam kurun waktu 2006 sampai dengan 2010, Indonesia mengalami peningkatan teledensitas yang cukup tajam, terutama antara tahun 2006-2009, posisi Indonesia ini hanya di atas Kamboja, Myanmar, Laos, India dan Filipina. Sementara diantara negara-negara ASEAN, teledensitas telepon tetap Indonesia masih di bawah rata-rata negara ASEAN. Setelah tahun 2008, meningkat diatas rata-rata negara ASEAN. Perbandingan teledensitas telepon bergerak selama kurun 2004-2010 memiliki kecenderungan meningkat, tetapi jika dibandingkan teledensitas telepon bergerak Indonesia masih di bawah rata-rata Negara ASEAN. Vietnam merupakan Negara yang mengalami peningkatan paling tajam, pada tahun 2004 Vietnam berada pada posisi terendah (bersama dengan Kamboja), sementara pada tahun 2010 menjadi yang paling unggul mengalahkan negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Indonesia berapa pada posisi di atas Negara berkembang seperti kamboja, Laos dan Filipina. Perbandingan densitas broadband secara keseluruhan untuk negara ASEAN menunjukkan kecenderungan peningkatan. Indonesia berada pada posisi jauh di bawah ratarata untuk densitas broadband di ASEAN. Negara lain yang juga memiliki posisi di bawah rata-rata negara ASEAN adalah Vietnam, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Laos. Sementara Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam merupakan tiga negara yang memiliki densitas broadband tertinggi di ASEAN. Dibandingkan dengan negara Asia terpilih, Korea Selatan, Jepang dan Singapura merupakan negara maju yang memiliki densitas broadband tertinggi dibandingkan dengan Negara Asia lainnya. Pelanggan fixed internet Indonesia per 100 inhabitan diantara negara Asia terpilih, berada di bawah India dan diatas negara ASEAN yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar. Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan angka pengguna internet ASEAN. Pengguna internet per 100 inhabitan Indonesia lebih rendah dari negara Filipina dan Thailand, dan lebih tinggi dibandingkan Laos dan Kamboja. Singapura merupakan negara dengan pengguna internet per 100 inhabitan tertinggi di ASEAN, diikuti oleh Malaysia dan Brunei Darussalam. xxii

INTISARI Negara Asia dengan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan tertinggi adalah Korea diikuti oleh Jepang, Singgapura dan Malaysia. Terlihat pula bahwa Vietnam dan China merupakan negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet per 100 inhabitan tertinggi sejak tahun 2004 hingga 2010. Begitu pula dengan Filipina yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 178% ditahun 2010 dibandingkan dengan pengguna internet per 100 inhabitan ditahun 2009. xxiii

xxiv

BAB 1 PENDAHULUAN INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

PENDAHULUAN BAB 1 Pada tahun 2011, Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Pusat Data dan Sarana Informatika Kementerian KOMINFO bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melaksanakan penyusunan indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia mengacu pada indikator utama yang dikembangkan oleh International Telecommunication Union (ITU). Data mengenai perkembangan TIK dibutuhkan oleh negara-negara di dunia untuk melihat tingkat perkembangan TIK di negara tersebut. Hal ini dilakukan dengan mengindikasi variabel-variabel terkait pemanfaatan TIK sebagai indikator utama untuk mengukur perkembangan TIK. Indikator didefinisikan sebagai suatu cara penyampaian informasi yang berbasis ukuran atau data statistik, yang menggambarkan informasi tentang suatu hal tertentu atau suatu persoalan yang dianggap penting. Bagi negara berkembang seperti Indonesia membangun indikator yang dapat menggambarkan kondisi TIK terkini merupakan bagian penting sebagai alat untuk analisis dan perencanaan kebijakan bidang TIK kebijakan terkait lainnya. Indikator dirancang untuk merepresentasikan dan menyediakan informasi kuantitatif tentang suatu hal tertentu yang menarik. Indikator TIK disusun hampir oleh semua negara di dunia, dan juga lembaga-lembaga yang ada di dunia, salah satunya adalah ITU (International Telecommunication Union). Indikator utama TIK yang dikeluarkan oleh ITU merupakan hasil proses konsultasi yang intensif dengan the Partnership on Measuring ICT for Development pada tahun 2005. Tujuan utama dari perumusan daftar indikator utama adalah untuk membantu negara-negara agar mempunyai data yang berkualitas dan dapat diperbandingan secara internasional dalam bidang TIK. Seiring perkembangan TIK yang semakin pesat, maka diperlukan revisi dari indikator TIK yang sudah ada. Untuk tahun 2010, ada 46 indikator utamatik dan dua indikator referensi sebagai hasil revisi dari tahun 2005 yang memuat 41 indikator. Konsep perumusan daftar indikator utama dan indikator revisi berdasarkan pada permintaan dari masyarakat informasi. Indikator utama mencerminkan kebutuhan pembuat kebijakan untuk mendapatkan 1

BAB 1. PENDAHULUAN data yang relevan tanpa mengabaikan masalah kelayakan statistik. Beberapa indikator yang sangat relevan tidak termasuk dalam daftar utama karena kesulitan mendapatkan kualitas data yang baik untuk perbandingan internasional. Sebagai contoh, meskipun diperlukan untuk mengetahui perbedaan pemakaian TIK di daerah perkotaan dan pedesaan, tetapi tidak ada sistem internasional untuk klasifikasi geografis tiap negara. Perkembangan penting dari daftar indikator utama pertama adalah ditambahkannya 8 indikator utama dan 1 indikator referensi untuk mengukur penggunaaan dan akses TIK di sektor pendidikan. Indikator pendidikan ini dikembangkan oleh UNESCO Institute for Statistics (UIS) selama beberapa tahun dan telah menjadi subyek pengujian dan proses konsultasi ekstensif. Daftar inti indikator TIK revisi tahun 2010 berdasarkan ITU meliputi lima sektor yaitu sebagaimana terlihat dalam tabel dibawah ini : No. SEKTOR INDIKATOR INDIKATOR UTAMA INDIKATOR REFERENSI TOTAL 1. Infrastruktur dan akses TIK 10 10 2. Akses dan penggunaan TIK oleh rumah tangga dan individu 12 1 13 3. Akses dan penggunaan TIK pada bisnis 12 1 12 4. Sektor TIK dan Perdagangan 4 4 5. Akses dan penggunaan TIK pada sektor pendidikan 8 9 TOTAL 46 2 48 Masing-masing sektor indikator TIK mempunyai sejumlah indikator utama dan indikator referensi yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan mendapat data komprehensif untuk mengetahui tingkat akses dan penggunaan TIK. Daftar indikator tersebut dapat disusun dalam tabel sebagai berikut: 1.1 Indikator Infrastruktur dan Akses dasar TIK Indikator Utama No. Kode Keterangan 1. 2 3 4 A-1 A-2 A-3 A-4 Sambungan telepon tetap per 100 penduduk Pelanggan telepon tetap per 100 penduduk Pelanggan internet tetap per 100 penduduk Pelanggan fixed broadband internet per 100 penduduk 2

BAB 1. PENDAHULUAN No. Kode Keterangan 5 6 7 8 9 10 A-5 A-6 A-7 A-8 A-9 A-10 Pelanggan mobile broadband per 100 penduduk Bandwidth internet internasional per penduduk (bits/detik/penduduk} Persentase populasi yang terjangkau jaringan telepon seluler Tarif akses fixed broadband internet (20 jam per bulan)dalam US$ dan sebagai persentase dari pendapatan per kapita Tarif telepon seluler prepaid per bulan dalam US$ dan sebagai persentase dari pendapatan per kapita Persentase lokalitas yang memiliki pusat akses internet publik (PIACs) 1.2 Indikator Akses dan Penggunaan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu Indikator Utama No. Kode Keterangan 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 HH-1 HH-2 HH-3 HH-4 HH-5 HH-6 HH-7 HH-8 HH-9 HH-10 HH-11 HH-12 Proporsi rumah tangga yang memiliki radio Proporsi rumah tangga yang memiliki TV Proporsi rumah tangga yang memiliki telepon Proporsi rumah tangga yang memiliki komputer Proporsi individu yang menggunakan komputer dalam 12 bulan terakhir Proporsi rumah tangga yang memiliki akses internet Proporsi individu yang menggunakan internet dalam 12 bulan terakhir Lokasi individu menggunakan internet Aktivitas internet oleh individu dalam 12 bulan terakhir Proporsi Individu yang menggunakan telepon bergerak dalam 12 bulan terakhir Proporsi rumah tangga dengan akses internet berdasar tipe akses Frekuensi penggunaan internet individu dalam 12 bulan terakhir Indikator referensi No. Kode Keterangan 1 HHR1 Proporsi rumah tangga yang memiliki listrik 3

BAB 1. PENDAHULUAN 1.3. Indikator Akses dan penggunaan TIK pada bisnis Indikator utama No. Kode Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 B-1 B-2 B-3 B-4 B-5 B-6 B-7 B-8 B-9 B-10 B-11 B-12 Proporsi bisnis yang menggunakan komputer Proporsi tenaga kerja yang rutin menggunakan komputer Proporsi bisnis yang yang menggunakan internet Proporsi tenaga kerja yang rutin menggunakan internet Proporsi bisnis yang memiliki situs web Proporsi bisnis yang memiliki intranet Proporsi bisnis yang menerima pesanan melalui internet Proporsi bisnis yang melakukan pemesanan melalui internet Proporsi bisnis yang mengakses internet menurut tipe aksesnya Proporsi bisnis yang memiliki Local area Network (LAN) Proporsi bisnis yang memiliki extranet Proporsi bisnis yang menggunakan internet menurut jenis aktivitasnya 1.4. Sektor TIK dan Perdagangan Indikator utama No. Kode Keterangan 1 2 3 4 ICT1 ICT2 ICT3 ICT4 Proporsi keseluruhan tenaga kerja yang terlibat dalam sektor TIK Nilai tambah dalam sektor TIK Impor barang TIK sebagai persentase dari impor keseluruhan Ekspor barang TIK sebagai persentase dari ekspor keseluruhan 4

BAB 1. PENDAHULUAN 1.5. Akses dan penggunaan TIK pada sektor pendidikan Indikator utama No. Kode Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 ED1 ED2 ED3 ED4 ED5 ED6 ED7 ED8 Proporsi Sekolah dengan radio yang digunakan untuk tujuan pendidikan Proporsi sekolah dengan televisi yang digunakan untuk tujuan pendidikan Proporsi sekolah dengan fasilitas komunikasi telepon Rasio pelajar yang mempelajari komputer di sekolah dengan instruktur yang mengajarkan komputer Proporsi sekolah dengan akses internet berdasarkan jenis akses Proporsi pelajar yang mempunyai mempunyai akses internet di sekolah Proporsi pelajar yang masuk ke tingkat post secondary di bidang TIK terkait Proporsi pengajar TIK yang berkualitas di sekolah Indikator referensi No. Kode Keterangan 1 EDR1 Proporsi sekolah yang memiliki listrik Dalam bagian akhir Buku Indikator TIK Indonesia ini disajikan indikator perbandingan internasional TIK untuk melihat posisi Indonesia terhadap beberapa negara terutama negara ASEAN mengacu pada data statistik ITU. 5

6

BAB 2 INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK BAB 2 Tantangan pembangunan dari suatu negara besar seperti Indonesia adalah penyediaan infrastruktur untuk mendukung aktivitas ekonomi. Infrastruktur itu sendiri memiliki spektrum yang sangat luas. Satu hal yang harus mendapatkan perhatian utama adalah infrastruktur yang mendorong konektivitas antar wilayah sehingga dapat mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi Indonesia. Penyediaan infrastruktur yang mendorong konektivitas akan menurunkan biaya transportasi dan biaya logistik sehingga dapat meningkatkan daya saing produk, dan mempercepat gerak ekonomi. Termasuk dalam infrastruktur konektivitas ini adalah pembangunan jalur transportasi dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta seluruh regulasi dan aturan yang terkait dengannya Dalam era informasi kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada ketersediaan infrastruktur dan akses TIK untuk mendorong pergerakan sektor perekonomian. Ketersediaan pelayanan universal dan akses pada informasi dan komunikasi merupakan tujuan pembangunan nasional di banyak negara. Bab II bagian buku ini menyajikan beberapa indikator infrastruktur dan akses TIK dalam bentuk grafik dan deskripsi yang menjelaskan nilai proporsi, persentase terhadap jumlah penduduk. International Telecommunication Union (ITU) telah menetapkan sepuluh indikator utama untuk mengukur akses dan infrastruktur TIK, antara lain sambungan telepon tetap per 100 penduduk (A-1); pelanggan telepon tetap per 100 penduduk (A-2); pelanggan internet tetap per 100 penduduk (A-3); pelanggan fixed broadband internet per 100 penduduk (A-4); pelanggan mobile broadband per 100 penduduk (A-5); bandwidth internet internasional per penduduk (bits/detik/penduduk) (A-6); persentase populasi yang terjangkau jaringan telepon seluler (A-7); tarif akses fixed broadband internet (20 jam per bulan)dalam US$ dan sebagai persentase dari pendapatan per kapita (A-8); tarif telepon seluler prepaid per bulan dalam US$ dan sebagai persentase dari pendapatan per kapita (A-9); serta persentase lokalitas yang memiliki pusat akses internet publik (PIACs) (A-10). Data - data yang terdapat pada Bab II ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Statistik Postel 2010 yang dikeluarkan oleh Ditjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika dan Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika. Dari ke sepuluh indikator 7

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK utama ITU, hanya empat indikator saja yang datanya tersedia, yaitu sambungan telepon tetap per 100 penduduk (A-1); pelanggan telepon tetap per 100 penduduk (A-2); pelanggan fixed broadband internet per 100 penduduk (A-4); serta pelanggan mobile broadband per 100 penduduk (A-5). Selain data yang mengacu pada indikator utama ITU, terdapat data tambahan mengenai perkembangan pelayanan pos yang meliputi perkembangan kantor pos, fasilitas pelayanan pos, dan jangkauan pelayanan pos. 2.1 Pengguna Telepon Tetap dan Nirkabel Selama kurun 2006-2010, jumlah pelanggan telepon tetap kabel mengalami penurunan rata-rata 0,71% setiap tahunnya, sedangkan pelanggan telepon tetap nirkabel mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, yaitu 26%. Gambar 2.1 Perkembangan Jumlah Pelanggan Jaringan Telepon Tetap Kabel dan Telepon Tetap Nirkabel, 2005-2010 Sumber : Statistik Postel 2010 2.1.1 Pengguna Telepon Tetap Kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah Telepon tetap (fixed telephone) dihitung dengan membagi jumlah saluran telepon tetap dengan total penduduk kemudian mengalikan dengan 100. Pada tahun 2010, teledensitas tertinggi terdapat pada wilayah Jakarta-Banten yang mencapai 73,72. Angka ini jauh lebih besar daripada wilayah lain di Indonesia. Bahkan untuk wilayah Jawa-Barat-Jawa Tengah- DIY, teledensitasnya hanya 5,50 dan lebih rendah dari region Jawa Timur-Bali-Nusa Tenggara yang mencapai 12,23. Demikian juga teledensitas telepon tetap nirkabel, teledensitas tertinggi juga berada di wilayah Jakarta-Banten. Hal ini disebabkan pengguna pada kedua daerah tersebut jauh lebih besar dibanding wilayah lain. (Tabel 1.1). 8

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.2 Pengguna Telepon Tetap kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah Sumber: Statistik Postel 2010 2.2. Pengguna Telepon Bergerak Seluler Selama kurun waktu 2006 2010, terjadi peningkatan pengguna telepon bergerak seluler. Pada tahun 2006, teledensitas pengguna telepon bergerak seluler hanya mencapai 28,73. Lalu pada tahun 2007 meningkat menjadi 41,52. Peningkatan terus terjadi hingga tahun 2010 teledensitas telepon bergerak seluler telah mencapai 85,85. Gambar 2.3 Perkembangan Jumlah Pengguna Telepon Bergerak Seluler, 2006 2010 Sumber : Statistik Postel 2010 9

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK 2.2.1 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah Pada tahun 2010, teledensitas tertinggi juga terdapat di wilayah Jakarta-Banten dengan teledensitas mencapai 169,3. Artinya untuk setiap 100 penduduk terdapat sekitar 170 pengguna telepon bergerak seluler atau setiap orang memiliki lebih dari satu telepon bergerak seluler. Jakarta sebagai pusat bisnis dan pemerintahan, serta Banten sebagai kota yang terdekat (kota satelit), menyebabkan teledensitas telepon bergerak seluler ini cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya. Hal yang menarik untuk dianalisis ternyata teledensitas terbesar kedua, untuk telepon bergerak seluler justru terdapat di wilayah Kalimantan dengan angka 83,67. Artinya, terdapat sekitar 84 orang pengguna telepon bergerak seluler untuk setiap 100 penduduk atau hampir setiap penduduk di Kalimantan telah menggunakan telepon bergerak seluler. Angka ini bahkan jauh lebih besar daripada di region Jawa diluar Jakarta-Banten dan Bali- Nusa Tenggara. Region Jawa (diluar Jakarta-Banten) justru memiliki angka teledensitas telepon bergerak seluler paling kecil Gambar 2.4 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah, 2010 Sumber: Statistik Postel 2010 2.3. Pelanggan Fixed Broadband Internet Gambar 1.3. di bawah ini menunjukkan perkembangan pelanggan fixed broadband internet per 100 penduduk dalam kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2010. Dari sisi pelanggan fixed broadband internet per 100 penduduk dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Kenaikannya terlihat semakin tinggi, dimulai dari teledensitas 0,05 untuk tahun 2005 naik hampir 16 kali lipat menjadi 0,79 pada tahun 2010. 10

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.5 Perkembangan Pelanggan Fixed Broadband Internet Sumber: ITU 2.4. Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband Dalam kurun 2005-2010, perkembangan pelanggan mobile broadband per 100 penduduk dalam memperlihatkan kecenderungan kenaikan yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase pelanggan hanya 0,02% meningkat 300 kali lebih menjadi 6,41 pada tahun 2009. Gambar 2.6 Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband Sumber: ITU 11

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK 2.5. Perkembangan Kantor Pos Gambar 2.7 (tabel 2.7) memperlihatkan perkembangan jumlah kantor pos dalam kurun 2005 2010. Dilihat dari jumlahnya perkembangan kantor pos cenderung stagnan tidak mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2010 bertambah 1 kantor pos. Hal yang serupa juga dialami oleh kantor pos cabang (kabupaten) yang dari tahun 2005 hingga 2008 tidak mengalami peningkatan. Peningkatan signifikan baru terjadi di tahun 2009 meningkat sebanyak 27 kantor pos dari 88 menjadi 195, dan tahun 2010 bertambah lagi 1 kantor menjadi 196 kantor pos. Peningkatan jumlah kantor pos cabang (kabupaten) bisa dikaitkan dengan dampak kebijakan pemerintah melalui pemekaran wilayah dan otonomi daerah. Jumlah kantor pos cabang dalam kota mengalami penurunan pada tahun 2005 dan 2007, tetapi pada tahun 2009 meningkat menjadi 109 kantor pos jumlah yang sama dengan tahun 2005. Kondisi yang sama untuk kantor pos cabang luar kota, tahun 2006 jumlah kantor pos mengalami penurunan, tahun 2007 dan 2008 mengalami sedikit penambahan hingga mencapai jumlah terbanyak yaitu 2.427 kantor pos. Pada tahun 2009 terjadi penurunan dan meningkat lagi pada tahun 2010 terdapat 2.377 kantor. Gambar 2.7 Perkembangan Kantor Pos, 2005-2010 Sumber: Statistik Postel 2010 2.6. Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah Dalam tahun 2005-2010, jumlah kantor pos yang tersebar di berbagai wilayah cenderung tidak mengalami pergeseran. Pulau Jawa masih menjadi daerah yang paling banyak memiliki sarana kantor pos. Wilayah Pulau Jawa rata-rata memiliki jumlah kantor pos yang lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah pos yang lainnya. Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh sebaran jumlah penduduk yang lebih banyak di Pulau Jawa, yang pada akhirnya membawa dampak tuntutan kebutuhan masyarakat akan layanan pos. (Tabel 2.8) 12

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.8 Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah Sumber: Statistik Postel 2010 Jumlah kantor pos di Pulau Jawa lebih besar dari pulau lainnya mencapai 52,81% total kantor pos di Indonesia, sementara di pulau lainnya jumlah kantor pos terlihat sangat sedikit. Hal tersebut dapat disebabkan karena Pulau Jawa sebagai pusat bisnis dan pemerintahan. Jumlah terbesar kedua adalah di Pulau Sumatera yang memiliki kantor pos cabang luar kota sebesar 69,95% dari total kantor pos di Pulau Sumatera. Pulau Kalimantan memiliki jumlah kantor pos lebih banyak dari pada Sulawesi, maupun Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan wilayah Indonesia paling timur secara umum merupakan wilayah yang memiliki jumlah kantor pos relatif sangat sedikit di Indonesia. (Tabel 2.9). Gambar 2.9 Sebaran Kantor Pos Menurut Wilayah, 2010 Sumber: Statistik Postel 2010 13

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.10 (Tabel 2.10), memperlihatkan sebaran pelayanan pos bergerak menurut jenis dan wilayahnya. Pos keliling desa memiliki jumlah unit terbanyak, yaitu 1600 unit. Letak gegrafis Indonesia yang terdiri dari beribu pulau dan masih banyak pedesaan yang berjarak jauh dari kota menjadikan pos keliling desa sebagai sarana penunjang aktivitas masyarakat. Keberadaan pos keliling desa ini paling banyak di wilayah pos (Wilpos) V, VI, dan VII yang terletak di Pulau Jawa. Sedangkan pada Wilpos XI yang terletak pada Kawasan Timur Indonesia memiliki unit pos keliling desa yang sangat sedikit, yaitu 4 unit. Sebaran pos keliling kota terbanyak ada di Wilpos IV yang merupakan wilayah perkotaan sebanyak 108 unit, sedangkan untuk Wilpos lainnya jumlah pos keliling kota masih sedikit yaitu dibawah 20 unit. Kondisi wilayah pos selain Wilpos IV masih lebih banyak pedesaan, sehingga pos keliling desa lebih banyak terdapat pada wilayah-wilayah tersebut. Sementara, pos pasar keliling (sarling) berjumlah 265 unit yang tersebar pada Wilpos VII, IV, II memiliki jumlah diatas 30 unit. Gambar 2.10 Sebaran Pelayanan Pos Bergerak Menurut Jenis dan Wilpos, 2010 Sumber: Statistik Postel 2010 Gambar 2.11 memperlihatkan jumlah pelayanan pos lainnya di masing-masing pulau. Di Pulau Jawa yang banyak terdapat daerah perkotaan, jumlah agen pos yang jauh lebih besar daripada agen pos di pulau yang lain. Hal ini dapat dipahami karena Pulau Jawa yang merupakan pusat kegiatan ekonomi, bisnis dan pemerintahan yang memberikan banyak peluang untuk pendirian agen pos melalui kerjasama dengan PT. Pos Indonesia guna memenuhi kebutuhan akan layanan pos yang sangat besar dalam menunjang kegiatan bisnis dan pemerintahan. Pelayanan rumah pos banyak berada di wilayah Pulau Sumatera dan wilayah Indonesia bagian Timur. Sementara di Pulau Jawa justru tidak ada pelayanan rumah pos. Kondisi Ini dapat disebabkan fasilitas serta sarana layanan perposan di Pulau Jawa sudah sangat banyak tersedia dengan berbagai bentuk guna memenuhi kebutuhan masyarakat. 14

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.11 Sebaran Pelayanan Pos Lainnya Menurut Jenis dan Wilayah Pos, 2010 Sumber: Statistik Postel 2010 Fasilitas pelayanan pos lainnya merupakan fasilitas yang disediakan oleh PT. Pos Indonesia untuk mendukung pelayanan pos kepada masyarakat yang lebih bersifat pasif dan tersedia di tempat tertentu. Pelayanan pos lainnya meliputi kotak pos tersedia, kotak pos disewa, tromol pos, bis surat terpasang serta peti pos. Meskipun penyediaannya tampak cukup efektif dalam menjangkau masyarakat, namun kurun 2005-2010 tampak stagnan tidak ada penambahan juga pengurangan. Kondisi ini memperlihatkan pemanfaatan fasilitas pelayanan pos lainnya cenderung tidak berkembang tertinggal oleh pesatnya ragam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. (Tabel 2.12). Gambar 2.12 Perkembangan Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya, 2005-2010 Sumber: Statistik Postel 2010 15

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Dari jumlah keseluruhan fasilitas pelayanan pos paling banyak berada di wilayah IV mencapai 26,7%, hal ini kemungkinan disebabkan wilayah Jabodetabek sebagai wilayah central pusat bisnis dan pemerintahan. Sedangkan untuk wilayah IX yang terdiri dari Maluku dan Papua, terlihat sangat kecil dengan persentase 4,9%. Jika dilihat dari sebarannya fasilitas pelayanan pos lainnya sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa (khususnya di wilayah perkotaan). Fasilitas jenis kotak pos di poswil IV yang meliputi wilayah Jabodetabek jauh lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya. Gambar 2.13 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Wilayah Pos, 2010 WilposI: Aceh, Sumut WilposII: Sumbar, Riau WilposIII: Bengkulu, Jambi Lampung, Sumsel WilposIV: DKI Jakarta WilposV: Jabar WilposVI: Jateng, DIY WilposVII: Jatim WilposVIII: Bali, NTT,NTB WilposIX: Kalimantan WilposX: Sulawesi WilposXI: Maluku, Papua Sumber: Statistik Postel 2010 Dilihat dari distribusi berdasarkan pulau, untuk semua jenis pelayanan pos lainnya, sangat didominasi di Pulau Jawa. dari distribusi jumlah total fasilitas pos lainnya, di wilayah Jawa proporsinya 58,8% dari total fasilitas pelayanan pos yang ada. sementara di Sumatera jumlah fasilitas pelayanan pos lainnya mencapai 16,5%, dan yang terkecil yakni Maluku dan Papua hanya 4,9%. 16

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Gambar 2.14 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Pulau, 2010 Sumber: Statistik Postel 2010 Dalam kurun 2005-2010, secara umum jumlah jangkauan pelayanan pos di kelurahan/ desa di seluruh wilayah pos di Indonesia mengalami sedikit peningkatan. Pada tahun 2010, sebaran kelurahan/desa yang terjangkau pelayanan pos pada sebanyak 41,89% mengalami kenaikan sebesar 0,14% (97 kelurahan/desa) dari tahun sebelumnya. Berdasarkan wilayah, jangkauan pelayanan pos di beberapa tempat mengalami penurunan. Beberapa sarana jangkauan pelayanan pos masyarakat di kelurahan atau pedesaan, diantaranya KPrk (Kantor Pos pemeriksa), Kantor Pos Desa, Pos Keliling Desa, Pos Desa, dan Warpos Kesra. Penurunan-penurunan tersebut diimbangi dengan peningkatan sarana pos lainnya. Gambar 2.15 Perkembangan Jangkauan Pelayanan Pos di Kelurahan/Desa, 2005-2010 Sumber: Statistik Postel 2010 17

INFRASTRUKTUR DAN AKSES TIK Daerah dengan keterjangkauan pelayanan pos paling tinggi berada pada Wilpos V (69,3%), diikuti dengan Wilpos IV (66,6%) dan VI (57,4%) yang kesemuanya berada pada Pulau Jawa. Untuk Wilpos VII, tingkat keterjangkauannya relatif lebih rendah atau belum mencapai 50% (47%) daripada Wilpos lain yang berada di Pulau Jawa. Tingkat keterjangkauan paling rendah ternyata ada di Wilayah Barat Indonesia, yaitu di Wilpos I sebesar 19,8%. Sementara, Wilpos XI yang terletak di Kawasan Indonesia Bagian Timur, keterjangkauan pelayanan pos justru lebih tinggi daripada Wilpos I yaitu sebesar 41%. Gambar 2.16 Tingkat Keterjangkauan Pelayanan Pos di Desa Menurut Wilpos, 2010 WilposI: Aceh, Sumut WilposII: Sumbar, Riau WilposIII: Bengkulu, Jambi Lampung, Sumsel WilposIV: DKI Jakarta WilposV: Jabar WilposVI: Jateng, DIY WilposVII: Jatim WilposVIII: Bali, NTT,NTB WilposIX: Kalimantan WilposX: Sulawesi WilposXI: Maluku, Papua Sumber: Statistik Postel 2010 18

BAB 3 PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU BAB 3 Gambaran akses dan penggunaan TIK menjadi sangat diperlukan oleh suatu negara. Karena itulah dalam pertemuan World Summit on the Information Society (WSIS), tahun 2003, negara-negara dunia menyepakati pentingnya standar pengukuran TIK yang meliputi infrastruktur dan penggunaannya di masing-masing negara. Standar pengukuran TIK tersebut selain bertujuan untuk memperoleh gambaran kemajuan akses, penggunaan TIK serta infrastruktur di masing-masing negara juga berguna untuk mengetahui posisi perkembangan TIK di suatu negara terhadap negara lain. Bab ini menyajikan gambaran tentang pola akses dan penggunaan TIK oleh rumah tangga dan individu di Indonesia berdasarkan indikator utama yang dikembangkan oleh Internatinal Telecommunication Union (ITU). Untuk mengukur akses dan penggunaan TIK oleh rumah tangga dan individu, ITU menetapkan 12 indikator terdiri dari 6 indikator akses TIK oleh rumah tangga dan 6 indikator penggunaan TIK oleh individu. Perbedaan fundamental pengertian akses dan pengguna adalah akses TIK mengacu pada ketersediaan TIK dalam rumah sedangkan pengguna TIK adalah satu atau lebih individu anggota rumah tangga apakah mengakses di rumah atau di mana saja. (ITU, 2010). Gambaran akses dan penggunaan TIK sektor rumah tangga dan individu ini disajikan berdasarkan hasil survei tahun 2011 yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika - Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sampel individu dipilih berdasarkan metode acak terstratifikasi, suatu metode pengambilan sampel secara acak namun representatif mewakili keseluruhan populasi. Informasi yang diidentifikasi dalam survei ini adalah mengenai (1) kepemilikan radio; (2) kepemilikan televisi; (3) kepemilikan telepon; (4) kepemilikan komputer; (5) individu pengguna komputer; (6) kepemilikan akses internet; (7) individu pengguna internet; (8) lokasi individu mengakses internet; (9) aktivitas mengakses internet, (10) individu pengguna telepon seluler; (11) jenis akses internet; dan (12) frekuensi mengakses internet. 19

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Survei Akses dan Penggunan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu Tahun 2011 Berdasarkan data hasil sensus penduduk 2010 Badan Pusat Statistik (BPS), ditetapkan 10.000 sampel rumah tangga berdasarkan kepadatan penduduk di tiap-tiap provinsi. Sampel dipilih secara proporsional berdasarkan kepadatan penduduk di tiap provinsi, kota/kabupaten, serta kecamatan yang dipilih, dengan mempertimbangkan kesalahan sampel sebesar satu persen. Dari 10.000 kuesioner yang disebarkan langsung melalui suatu wawancara terdapat 89,95% atau sebanyak 8.995 yang valid. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 98,60% rumah tangga memiliki akses TIK di rumahnya. Penentuan sampel ditetapkan dengan cara membuat empat buah klaster pada setiap provinsi, yaitu klaster utara, selatan, barat dan timur. Setiap klaster terdiri dari kumpulan beberapa kota dan kabupaten yang terletak di bagian utara, selatan, barat, dan timur suatu provinsi. Kemudian dari setiap klaster tersebut dipilih satu kota/kabupaten sebagai wakil dari setiap klaster, dengan ketentuan jika pada klaster tersebut terdapat ibu kota provinsi, maka ibu kota provinsi tersebut yang harus dipilih sebagai wakil dari salah satu klaster. Sedangkan tiga klaster lainnya, boleh dipilih kota/kabupaten mana saja. Kemudian, dari setiap kota/kabupaten dipilih dua buah kecamatan yang masing-masing berada dekat dengan kota/kabupaten dan jauh dari kota/kabupaten. Hal ini dilakukan agar distribusi sampel menyebar cukup merata di wilayah Indonesia. Perbandingan antara sampel survei dengan populasi penduduk Indonesia hasil sensus penduduk BPS tahun 2010 dapat dilihat dalam gambar 3.1 berikut ini. Responden terbanyak 60,32% berada di Pulau Jawa, kemudian responden di Pulau Sumatera sebanyak 21,28%, dst seperti terlihat dalam gambar 3.2. Proporsi rumah tangga sampel ini sebanding dengan populasi penduduk di setiap pulau. Pulau Jawa dan Sumatera merupakan pulau yang memiliki jumlah penduduk terbanyak dibandingkan pulau lainnya. 3.1. Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Radio dan Televisi Gambar 3.3 menunjukkan dua indikator utama (HH-1 dan HH-2) yang digunakan untuk mengukur akses TIK oleh rumah tangga dan individu adalah proporsi rumah tangga yang memiliki radio dan televisi. Proporsi rumah tangga dengan radio dihitung dengan membagi jumlah rumah tangga yang memiliki radio dan jumlah total sampel rumah tangga. Sedangkan proporsi rumah tangga dengan televisi dihitung dengan membagi jumlah rumah tangga dengan televisi dan jumlah total sampel rumah tangga. Pada gambar tersebut terlihat bahwa tingkat kepemilikan radio lebih rendah dibandingkan tingkat kepemilikan televisi. Proporsi rumah tangga yang memiliki radio hanya berkisar 55.52%, sedangkan televisi dimiliki oleh 95.56% responden. 20

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Gambar 3.1. Perbandingan Sampel dan Populasi Gambar 3.2. Sebaran Responden Berdasarkan Pulau 21

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Gambar 3.3. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Radio dan Televisi 3.2. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Telepon Indikator utama akses dan penggunaan TIK oleh rumah tangga dan individu berikutnya adalah proporsi rumah tangga dengan telepon (HH-3). Proporsi rumah tangga dengan telepon dihitung dengan membagi jumlah rumah tangga yang memiliki setiap jenis telepon/hanya telepon kabel/hanya telepon bergerak/ kedua telepon kabel dan bergerak dan total sampel rumah tangga. Sama halnya dengan televisi, tingkat kepemilikan telepon di Indonesia juga sangat tinggi. Sebagian besar (90%) responden mengaku memiliki telepon dan hanya 10% yang tidak memiliki telepon. Jika ditelusur lebih jauh mengenai jenis telepon yang digunakan, maka sebagian besar responden memilih telepon seluler (HP) sebagai media komunikasinya, yakni 87.64%. Sedangkan telepon kabel hanya dimiliki oleh 25.19% responden. Gambar 3.4. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Telepon 22

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU 3.3. Tingkat Kepemilikan dan Penggunaan Komputer dan Internet Pada bagian ini akan diuraikan empat indikator yang menggambarkan tentang kepemilikan komputer dan akses internet oleh rumah tangga dan penggunaan komputer dan internet oleh individu anggota rumah tangga. Proporsi rumah tangga dengan komputer (HH-4) dihitung dengan membagi jumlah rumah tangga yang memiliki komputer dengan total sampel, sedangkan individu dalam rumah tangga yang menggunakan komputer (HH-5) dihitung dengan membagi jumlah individu yang menggunakan komputer dalam 12 bulan terakhir dengan total sampel. Selanjutnya proporsi rumah tangga dengan akses internet (HH-6) dihitung dengan membagi jumlah rumah tangga dengan akses internet dan total sampel, kemudian proporsi individu dalam rumah tangga yang menggunakan internet (HH-7) dihitung dengan membagi jumlah individu yang menggunakan internet dalam 12 bulan terakhir dan total sampel. Gambar 3.5 menunjukkan perbandingan antara tingkat kepemilikan serta penggunaan komputer dan akses internet. Pada gambar tersebut terlihat bahwa tingkat kepemilikan komputer dan internet lebih kecil dibandingkan dengan tingkat penggunaannya. Berdasarkan tingkat kepemilikan, proporsi rumah tangga yang memiliki komputer ternyata lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki akses internet. Namun sebaliknya, proporsi penggunaan komputer justru lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan internet. Berdasarkan hasil survei, tingkat penggunaan internet masih cukup rendah, yaitu sekitar 37.51%, sedangkan sisanya sebesar 62.49% tidak menggunakan internet. Gambaran ini seakan mendukung rendahnya tingkat penetrasi internet di Indonesia yang hanya berkisar 16.1% pada tahun 2011 1 Gambar 3.5. Tingkat Kepemilikan dan Penggunaaan Komputer dan Internet 1 http://www.internetworldstats.com 23

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU 3.4. Lokasi Penggunaan Internet oleh Individu dalam 12 Bulan Terakhir Lokasi individu menggunakan internet adalah indikator utama (HH-8) yang dihitung berdasarkan proporsi individu dalam rumah tangga yang menggunakan internet dalam 12 bulan terakhir. Adapun lokasi yang banyak dipilih oleh responden untuk mengakses internet adalah di rumah (59%), dimana saja melalui HP (57.88%), dan di warnet (57.62%). Selebihnya, mereka mengandalkan koneksi internet di kantor (29.76%), sekolah/kampus (28.33%), dan koneksi rumah teman/saudara (22.32%), seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.6. Gambar 3.6. Lokasi Mengakses Internet 3.5. Aktivitas Internet Yang Dilakukan Individu dalam 12 Bulan Terakhir Aktivitas individu dalam menggunakan internet merupakan indikator utama (HH-9) yang dihitung berdasarkan proporsi individu dalam rumah tangga yang menggunakan internet dalam 12 bulan terakhir terhadap total sampel. Hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas yang paling sering dilakukan ketika berselancar di internet adalah membuka situs jejaring sosial, yang diakui oleh 64.43% responden. Sesuai dengan peringkat yang muncul di alexa.com sebuah situs yang menampilkan indikator kepopuleran suatu website, situs jejaring sosial memang merupakan situs yang paling kerap diakses oleh pengguna internet dari Indonesia. Terbukti dalam tiga bulan terakhir, Facebook menempati urutan pertama sebagai situs yang paling sering dikunjungi, sedangkan twitter berada di posisi 9 2. Seperti yang terlihat pada gambar 3.7, selain membuka situs jejaring sosial, aktivitas lain yang banyak dilakukan dengan menggunakan internet adalah mencari informasi mengenai barang/jasa (48.55%), mengirim dan menerima email (47.33%), mengunduh film/ gambar (46.98%), dan mengirim pesan melalui instant messaging yang dilakukan oleh 46.74% responden. 2 www.alexa.com diakses pada 23 November 2011 24

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Gambar 3.7. Aktivitas Mengakses Internet 3.6. Individu dalam rumah tangga yang Menggunakan Telepon Bergerak Telepon bergerak atau selular (ponsel) saat ini bukan menjadi barang mahal dan relatif terjangkau oleh sebagian masyarakat Indonesia. Fakta ini didukung oleh data bahwa pada tahun 2010, terdapat 220 juta ponsel yang digunakan atau 92 ponsel per 100 penduduk (ITU, 2011). Mengingat adanya pemilik ganda, ITU mengindikasikan bahwa sebanyak 85% penduduk dewasa atau 65% dari jumlah penduduk memiliki akses terhadap ponsel. Hasil survei memperlihatkan tingkat penggunaan telepon seluler (HH-10) di individu juga cukup tinggi, yaitu sekitar 86%, meskipun angka ini sebenarnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan tingkat kepemilikan telepon seluler di rumah tangga. Proporsi pengguna telepon seluler dihitung berdasarkan proporsi individu dalam rumah tangga yang menggunakan telepon seluler dalam 12 bulan terakhir terhadap total sampel. 25

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Gambar 3.8. Proporsi Individu yang Menggunakan Telepon Seluler 3.7. Jenis Koneksi Internet yang Digunakan Proporsi rumah tangga dengan akses internet berdasarkan jenis akses (HH-11) mengacu pada layanan akses yang digunakan. Jenis koneksi internet yang digunakan pengguna internet terlihat pada gambar 3.9. Jenis koneksi tersebut dibagi menjadi 3, yaitu narrowband, fixed broadband, dan mobile broadband. Narrowband adalah jaringan internet yang memiliki kecepatan transfer rendah karena saluran yang digunakan cukup sempit. Istilah ini biasa diasosiasikan dengan koneksi dial-up, seperti koneksi telkomnet instant. Fixed broadband adalah jaringan internet yang menggunakan teknologi xdsl (Digital Subscriber Lines) / kabel tembaga, FTTH (Fiber To The Home) / serat optik, leased line, satelit, Wireless Local Area Network, dan WiMAX. Jaringan ini memiliki kecepatan transfer lebih tinggi karena lebar jalur data yang besar. Sedangkan mobile broadband adalah jaringan internet berkecepatan tinggi yang menggunakan teknologi CDMA, HSDPA, EVDO. Umumnya diakses melalui perangkat portable (mudah dibawa), seperti laptop, HP, dan sebagainya. Hasil survei menunjukkan sebagian besar responden memilih koneksi mobile broadband, yakni sebesar 49.32%. Sedangkan koneksi narrowband menjadi koneksi yang paling sedikit dipilih responden, yaitu hanya sekitar 25.01%. 26

PENGGUNAAN TIK OLEH RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Gambar 3.9. Jenis Teknolgi Akses Internet 3.8. Frekuensi Mengakses Internet Frekuensi menggunakan internet oleh individu dalam rumah tangga merupakan indikator utama akses dan pengunaan TIK (HH-12) yang dihitung berdasarkan seberapa sering seseorang menggunakan internet dalam setiap harinya atau dalam periode satu minggu. Perilaku pengguna internet mengenai frekuensi atau seberapa sering mereka mengakses internet ditunjukkan pada gambar 3.10. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (68%) hanya mengakses internet sesekali saja, yaitu minimal 1 kali dalam seminggu. Selebihnya sebesar 32% responden mengaku mengakses internet setiap hari. Gambar 3.10. Frekuensi Mengakses Internet 27

28

BAB 4 PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS BAB 4 Dalam perkembangan ekonomi dan teknologi, sektor bisnis memegang peranan penting untuk meningkatkan daya saing suatu bangsa. Adanya pergeseran paradigma strategi pembangunan bangsa dari pembangunan industri menuju ke era informasi, memberikan implikasi terhadap terjadinya proses transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasis pengetahuan (Knowledge Based Economy). Maka untuk mewujudkan terjadinya Knowledge Based Economy, diperlukan teknologi informasi dan komunikasi yang berperan sebagai pendukung dan muatan utama produk nasional, dapat direalisasikan dengan menggunakan berbagai strategi pencapaian. (Buku Putih Bidang TIK, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006). Bab ini menyajikan gambaran penggunaan TIK oleh sektor bisnis di Indonesia berdasarkan indikator utama yang dikembangkan oleh ITU. Untuk mengukur penggunaan TIK oleh sektor bisnis ITU menetapkan 12 indikator utama yang menggambarkan tentang akses dan pola penggunaan TIK oleh perusahaan di Indonesia (ITU, 2010). Gambaran akses dan penggunaan TIK sektor bisnis ini disajikan berdasarkan hasil survei tahun 2011 yang dilakukan oleh Pusat Data dan Sarana Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sampel individu dipilih berdasarkan metode klaster sampling acak, suatu metode pengambilan sampel secara acak namun representatif mewakili keseluruhan populasi. Indikator akses dan penggunaan TIK oleh sektor bisnis memberikan gambaran umum tentang perkembangan penggunaan TIK dalam dunia bisnis, pemanfaatan TIK oleh industri dan tenaga kerja di industri serta infrastruktur serta aktivitas penggunaan TIK di Indonesia. Data dan informasi sektor bisnis ini sangat diperlukan oleh para pengambil kebijakan sebagai bahan masukan dalam membuat perencanaan yang baik dan tepat sasaran. 29

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Survei Akses dan Penggunan TIK oleh Sektor Bisnis Tahun 2011 Survei menggunakan metode klaster sampling acak dengan menetapkan delapan kota besar sebagai klaster, mengacu pada data sensus ekonomi (BPS, 2006) yang menyatakan bahwa sebaran usaha terkonsentrasi pada Kawasan Barat Indonesia (83%) dengan 63,83% berlokasi di Pulau Jawa. Sementara itu, sebaran usaha di Kawasan Timur Indonesia adalah 16%, dan terkonsentrasi pada Pulau Sulawesi (6,98%). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan survei terhadap 803 perusahaan yang dipilih yang secara proporsional berdasarkan delapan kota besar, yaitu Batam, Medan, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali dan Makasar. Informasi yang diidentifikasi dalam survei ini adalah mengenai (1) penggunaan komputer; (2) tenaga kerja pengguna komputer; (3) penggunaan internet; (4) tenaga kerja pengguna internet; (5) jenis koneksi internet; (6) penggunaan web presence; (7) pemanfaatan internet untuk pemesanan barang atau jasa; (8) pemanfaatan internet untuk penawaran barang atau jasa; (9) penggunaan LAN; (10) penggunaan intranet; (11) penggunaan extranet; dan (12) aktivitas penggunaan internet. Perusahaan yang menjadi responden dalam survei ini diambil secara proporsional pada delapan kota besar di Indonesia. Perbandingan antara sampel survei dengan populasi perusahaan bisnis Indonesia diperlihatkan dalam gambar berikut ini. Gambar 4.1 Sampel dan Populasi Perusahaan Sumber: Survei Ekonomi BPS, 2006 Sebagian besar perusahaan sampel bergerak di bidang jasa baik jasa perdagangan, perhotelan dan restoran maupuan jasa lainnya (87%), kemudian sisanya adalah perusahaan manufaktur (13%). 30

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Gambar 4.2. Perbandingan Populasi Perusahaan Bisnis Indonesia Sumber: Survei Ekonomi BPS, 2006 Gambar 4.3. Skala Perusahaan Responden Berdasarkan skala usaha yang diukur melalui jumlah tenaga kerja, responden dikategorikan menjadi lima, yaitu perusahaan berskala besar (jumlah tenaga kerja: 100 orang atau lebih), perusahaan berskala menengah (jumlah tenaga kerja: 20 99 orang), perusahaan berskala kecil (jumlah tenaga kerja antara: 5 19 orang), dan perusahaan berskala mikro (jumlah tenaga kerja: < 5 orang). Menurut kriteria tersebut diketahui bahwa perusahaan responden didominasi oleh perusahaan berskala kecil (44%). Sementara itu, perusahaan berskala besar menjadi perusahaan yang proporsinya paling sedikit yaitu hanya 11% dari total responden. 4.1. Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan Gambar 4.4 menunjukkan dua indikator utama (B-1 dan B-3) yang digunakan untuk mengukur penggunaan TIK oleh sektor bisnis adalah proporsi penggunaan komputer dan internet pada perusahaan. Hasil survei menunjukkan bahwa 92% perusahaan yang disurvei 31

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS telah menggunakan komputer untuk mendukung kegiatan bisnisnya. Sedangkan dalam penggunaan internet, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan telah menggunakan internet (86%) untuk mendukung kegiatan bisnis mereka. Gambar 4.4 Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan 4.1.1. Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture Seluruh perusahaan PMA dan Joint Venture telah menggunakan komputer dan internet untuk menunjang kelancaran usaha atau bisnis mereka. Sedangkan, pada perusahaan PMDN sebagian besar telah menggunakan komputer (91,71%) dan internet (85,66%) untuk mendukung kegiatan bisnis mereka. Gambar 4.5 Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture 32

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 4.1.2. Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan Hasil survei juga menunjukkan bahwa semakin besar skala usaha perusahaan (berdasarkan jumlah tenaga kerja) maka semakin besar pula tingkat penggunaan komputernya. Hasil survei memperlihatkan semakin banyaknya tenaga kerja perusahaan, semakin besar pula proporsi perusahaan yang menggunakan komputer. Sejalan dengan penggunaan komputer, hasil survei juga menunjukkan adanya perbedaan persentase pengguna internet berdasarkan skala usaha. Semakin besar skala usaha maka semakin besar persentase perusahaan yang menggunakan internet untuk kepentingan bisnisnya. Hasil survei menunjukkan bahwa hampir seluruh perusahaan dengan skala usaha besar (jumlah tenaga kerja 100 orang atau lebih) telah memanfaatkan internet untuk mendukung kegiatan bisnisnya. Sementara itu, sebagian perusahaan skala menengah (9%) dan skala kecil (11,73%) belum memanfaatkan internet, dan hanya sebanyak 59,22% perusahaan dengan skala mikro yang sudah menggunakan internet pada perusahaannya. Gambar 4.6 Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan 4.2. Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet Indikator utama penggunaan TIK di sektor bisnis berikutnya adalah rasio tenaga kerja pengguna komputer dan internet (B-2 dan B-4). Rasio tenaga kerja perusahaan yang secara rutin menggunakan komputer dalam melakukan aktivitas pekerjaannya adalah 0,19. Sedangkan rasio tenaga kerja pengguna internet adalah 0,13. Hal ini berarti setiap 100 tenaga kerja perusahaan terdapat 13 orang tenaga kerja yang menggunakan internet secara rutin. 33

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Gambar 4.7. Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet 4.2.1. Rasio Tenaga Kerja Menggunakan Komputer dan Internet Rasio tenaga kerja pengguna komputer juga menunjukkan perbedaan berdasarkan besarnya skala usaha yang diukur dari tenaga kerja. Semakin besar skala usaha maka semakin kecil rasio tenaga kerja yang secara rutin menggunakan komputer dalam melakukan aktivitas bisnis perusahaan. Bila berdasarkan skala usaha (jumlah tenaga kerja), maka perusahaan dengan skala mikro (tenaga kerja kurang dari lima orang) memiliki rasio tenaga kerja pengguna komputer tertinggi yaitu 0,54. Sementara itu, perusahaan berskala besar (tenaga kerja = 100 orang atau lebih) memiliki rasio tenaga kerja pengguna komputer terendah yaitu 0,15. Hal tersebut juga terjadi pada rasio tenaga kerja dengan akses internet, hasil survei menunjukkan bahwa perusahaan dengan skala mikro memiliki tenaga kerja kurang dari 5 orang memiliki rasio tenaga kerja pengguna internet sebesar 0,52, dan perusahaan dengan skala besar yang memiliki tenaga kerja 100 orang atau lebih memiliki rasio sebesar 0,1. Gambar 4.8. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha 34

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 4.2.2. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha Hasil survei juga menunjukkan bahwa besarnya rasio tenaga kerja yang secara rutin menggunakan komputer dalam melakukan aktivitas perusahaan terhadap total tenaga kerja adalah berbeda menurut bidang usaha. Perusahaan industri manufaktur memiliki rasio tenaga kerja dengan komputer paling kecil yaitu 0,09, sedangkan pada kelompok perusahaan dengan bidang usaha jasa perdagangan, perhotelan dan restauran serta perusahaan jasa lainnya mempunyai rasio masing-masing sebesar 0,32 dan 0,28. Sedangkan rasio tenaga kerja dengan internet pada perusahaan bidang jasa lainnya sebesar 0,18, sedangkan rasio pada bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran adalah 0,24 dan rasio untuk perusahaan pada bidang industri manufaktur adalah yang terkecil yaitu 0,06. Gambar 4.9. Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha 4.3. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan Gambar 4.10 menunjukkan indikator utama (B-9) yang digunakan untuk mengukur penggunaan TIK oleh sektor bisnis adalah proporsi jenis akses internet yang digunakan pada perusahaan. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 83,00% 3 dari seluruh perusahaan menggunakan fixed broadband sebagai koneksi internet. Teknologi narrowband merupakan teknologi yang paling sedikit digunakan oleh perusahaan untuk koneksitas internet. Hal ini menunjukkan bahwa koneksi internet dengan mempergunakan teknologi analog 4 jaringan telepon tidak banyak diminati oleh perusahaan. 3 Sebanyak 69,31% dari pengguna fixed broadband adalah pengguna Paket Speedy dan 17% merupakan pengguna ISP. 4 Teknologi analog adalah koneksi yang menggunakan standar koneksi dial-up telpon dan modem analog. Modem ini akan mengubah sinyal analog ke digital dan begitu pula sebaliknya. Kecepatan yang ditawarkan hanya terbatas sampai 56Kbps. 35

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Gambar 4.10. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan 4.3.1. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha Jika dilihat berdasarkan skala usaha ditemukan hal yang menarik yaitu bahwa semakin besar skala usaha yang dimiliki perusahaan, semakin besar pula persentasi penggunaan fixed broadband sebagai pilihan koneksitas internet. Terlihat pula pola pemilihan koneksi internet yang berbeda antara perusahaan skala mikro dan kecil dengan perusahaan skala menengah dan besar. Persentase penggunaan mobile broadband pada perusahaan skala mikro adalah yang paling tinggi. Persentase penggunaan mobile broadband juga semakin kecil seiring dengan semakin besarnya skala usaha berdasarkan jumlah tenaga kerja perusahaan. Hal ini mengindikasikan perusahaan dengan skala mikro dan skala kecil lebih banyak memanfaatkan mobile broadband sebagai koneksi internet di perusahaannya dibandingkan perusahaan skala menengah dan skala besar. Gambar 4.11. Jenis Koneksi Internet Yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha 36

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 4.4. Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet Pada bagian ini akan diuraikan empat indikator yang menggambarkan tentang proporsi perusahaan yang sudah memiliki media web (B-5), proporsi perusahaan yang menggunakan LAN (B-10), proporsi perusahaan yang menggunakan intranet (B-6), serta perusahaan yang menggunakan extranet (B-11). Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan belum memiliki web. Hanya sekitar 40% perusahaan saja yang sudah memiliki media web guna mendukung kegiatan bisnisnya. Sedangkan perusahaan yang menggunakan LAN lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan web, yaitu sebanyak 53,78% perusahaan telah memiliki LAN sebagai infrastruktur jaringan komputer. Infrastruktur intranet dan extranet belum banyak digunakan oleh perusahaan bisnis di Indonesia, hanya 35,81% perusahaan yang menggunakan intranet dan hanya 9,86% perusahaan yang menggunakan extranet. Gambar 4.12. Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet 4.4.1. Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet Ketersediaan infrastruktur LAN, web, intranet dan extranet dipengaruhi oleh skala usaha perusahaan berdasarkan tenaga kerja, terlihat bahwa pada perusahaan dengan skala usaha besar memiliki infrastrutur yang lebih baik. Sebanyak 93,10% perusahaan pada skala usaha besar telah menggunakan LAN, 78,16% menggunakan web, 66,67% menggunakan intranet dan 19,54% menggunakan extranet. 37

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS Gambar 4.13. Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet Berdasarkan Skala Usaha 4.5. Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet Gambar 4.14 menunjukan dua indikator utama (B-7 dan B-8) untuk mengukur penggunaan TIK di sektor bisnis yaitu proporsi perusahaan yang menerima pemesanan barang/jasa melalui internet dan proporsi perusahaan yang menawarkan barang/jasa melalui internet. Walaupun internet telah digunakan sebagian besar perusahaan (86%), namun masih sedikit perusahaan (40% dari total perusahaan pengguna internet) yang memanfaatkannya untuk menerima pesanan (menjual) barang dan jasa, sedangkan sebanyak 52,31% perusahaan pengguna internet telah memanfaatkan internet untuk menawarkan barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Gambar 4.14. Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet 38

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 4.5.1. Kegiatan Penggunaan Internet Pada PMDN, PMA dan Joint Venture Perusahaan PMA yang paling banyak melakukan aktivitas penjualan melalui internet (48,39%) dibandingkan dengan perusahaan PMDN dan Joint Venture. Tetapi, sebagian besar (lebih dari 50%) perusahaan PMA dan PMDN telah menggunakan internet sebagai media penawaran. Gambar 4.15. Kegiatan Penggunaan Internet PMDN, PMA dan Joint Venture 4.5.2. Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan skala kecil merupakan perusahaan yang memiliki proporsi terbesar diantara perusahaan dengan skala usaha lainnya dalam memanfaatkan internet untuk menerima pesanan barang atau jasa (50,32%). Dan lebih dari 50% perusahaan skala kecil dan besar memanfaatkan internet sebagai alat penawaran produk mereka. Gambar 4.16. Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 39

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS 4.6. Kegiatan Lain Penggunaan Oleh Internet Perusahaan Indikator utama penggunaan TIK di sektor bisnis berikutnya adalah proporsi perusahaan pengguna internet berdasarkan aktivitas yang dilakukan (B-12). Hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas mengirim dan menerima email merupakan aktivitas pemanfaat internet yang dilakukan oleh hampir semua perusahaan yang terjaring dalam survei (97,69%). Selain itu perusahaan sektor bisnis Indonesia paling banyak menggunakan internet untuk aktivitas mencari informasi mengenai barang dan jasa (80,69%), menyediakan pelayanan bagi pelanggan (51,44%) dan internet banking (51,01%). Sedangkan masih sangat sedikit perusahaan bisnis di Indonesia yang memanfaatkan internet untuk aktivitas memberikan pelatihan bagi karyawan (17%), delivering produk secara online (16,43%) dan melakukan teleconference melalui VoIP (13,54%). Gambar 4.17. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan 4.6.1. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha Gambaran yang sama juga terjadi bila perusahaan dipilah berdasarkan skala usaha. Hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas mengirim dan menerima email merupakan aktivitas yang dilakukan oleh hampir seluruh perusahaan dengan tingkat skala usaha (jumlah tenaga kerja) manapun. Sebanyak 56,31% perusahaan skala mikro, 86,03% perusahaan skala kecil, 100% perusahaan skala menengah dan 97,70% perusahaan skala besar mengaku melakukan 40

PENGGUNAAN TIK OLEH SEKTOR BISNIS aktivitas mengirim dan menerima email dalam aktivitas internet perusahaan mereka. Selain itu, hasil survei juga menunjukkan adanya hubungan antara pemanfaatan internet dengan skala usaha (jumlah tenaga kerja), hal ini dilihat dari semakin tingginya persentase perusahaan yang melakukan setiap aktivitas internet dengan semakin tingginya tingkatan skala usaha perusahaan (berdasarkan jumlah tenaga kerja). Gambar 4.18. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha 41

42

BAB 5 SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN BAB 5 Dalam aspek perdagangan global, dewasa ini perdagangan South to South, termasuk transaksi antara India Cina Indonesia, menunjukkan peningkatan yang cepat. Sejak 2008, pertumbuhan ekspor negara berkembang yang didorong oleh permintaan negara berkembang lainnya meningkat sangat signifikan (kontribusinya mencapai 54 persen). Hal ini berbeda jauh dengan kondisi tahun 1998 yang kontribusinya hanya 12 persen. Pertumbuhan yang kuat dari Cina, baik ekspor maupun impor memberikan dampak yang sangat penting bagi perkembangan perdagangan regional dan global. Impor Cina meningkat tajam selama dan setelah krisis ekonomi global 2008. Di samping itu, konsumsi Cina yang besar dapat menyerap ekspor yang besar dari negara-negara di sekitarnya termasuk Indonesia. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah negara dengan luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak dan sumber daya alam terkaya. Hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai kekuatan utama negara-negara di Asia Tenggara. Di sisi lain, konsekuensi dari akan diimplementasikannya komunitas ekonomi ASEAN dan terdapatnya Asean China Free Trade Area (ACFTA) mengharuskan Indonesia meningkatkan daya saingnya guna mendapatkan manfaat nyata dari adanya integrasi ekonomi tersebut. Oleh karena itu, percepatan transformasi ekonomi yang dirumuskan dalam MP3EI ini menjadi sangat penting dalam rangka memberikan daya dorong dan daya angkat bagi daya saing Indonesia. Karena keterbatasan data, pada bab sektor TIK dan perdagangan ini, disajikan gambaran kontribusi perusahaan industri TIK berdasarkan indikator utama sektor TIK (ITU, 2010), dan perkembangan tentang kegiatan ekspor dan impor peralatan TIK. Untuk mendapatkan gambaran tentang perkembangan perdagangan sektor TIK diperlukan data dan informasi yang lebih komperhensif untuk sektor industri lainnya misalnya jasa, pertanian, tekstil, dll. Data dan informasi ini dapat diperoleh melalui survei atau dari berbagai instansi seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Bank Indonesia (BI), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Badan Pusat Statistik (BPS). 43

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN 5.1. Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur Gambar 5.1. menunjukkan persentase banyaknya perusahaan industri TIK terhadap perusahaan industri manufaktur. Pada tahun 2006, total perusahaan yang bergerak di bidang TIK sebanyak 444 perusahaan atau sebesar 1,14% dari total perusahaan industri manufaktur. Di tahun 2007, jumlah perusahaan TIK mengalami penurunan, namun dalam hal persentase terhadap total perusahaan manufaktur mengalami peningkatan menjadi 1,18%. Pada tahun 2008, terjadi penurunan jumlah perusahaan TIK menjadi 409 perusahaan, akan tetapi persentase dari total perusahaan industri manufaktur justru terus meningkat menjadi 1,20%. Hal ini dikarenakan pada tahun 2008, jumlah total perusahaan industri manufaktur mengalami penurunan. Pada tahun 2009, perusahaan industri TIK meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 415 perusahaan dan sebesar 1.26% dari total perusahaan industri manufaktur. Gambar 5.1. Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur Sumber: Diolah dari data BPS 5.2. Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur Sejalan dengan perusahaan industri TIK, hal yang serupa juga terjadi pada banyaknya tenaga kerja industri TIK. Pada tahun 2006, total tenaga kerja yang bekerja pada industri TIK sebesar 4,52% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Di tahun 2007, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK yaitu sebesar 4,80% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Penurunan terjadi di tahun 2008, tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK hanya sebesar 4,16% dari total tenaga kerja di perusahaan manufaktur, bahkan lebih sedikit dibandingkan pada tahun 2006. Pada tahun 2009, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan TIK meningkat menjadi 160.921 pekerja, yaitu 4,65% dari total pekerja perusahaan industri manufaktur. 44

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN Gambar 5.2. Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur Sumber: Diolah dari data BPS 5.3. Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur Kontribusi nilai tambah industri TIK terhadap total nilai tambah industri manufaktur Indonesia pada tahun 2006 sebesar 4,42%. Pada tahun 2007 dan 2008, kontribusi nilai tambah industri TIK terus menurun. Pada tahun 2008, kontribusi nilai tambah industri TIK hanya sebesar 2,91% atau sebesar 19,879 trilyun rupiah. Tahun 2009, jumlah nilai tambah industri TIK meningkat menjadi 24,997 trilyun rupiah, yaitu sebesar 4,45% berkontribusi terhadap total nilai tambah industri manufaktur. Gambar 5.3. Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur Sumber: Diolah dari data BPS 45

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN 5.4. Impor Barang-barang Perlengkapan Telekomunikasi Gambar 5.4. menunjukkan persentasi impor barang-barang perlengkapan telekomunikasi di Indonesia. Pada tahun 2005, Indonesia mengimpor perlengkapan telekomunikasi sebanyak 2,44% dari total impor. Kemudian, pada tahun 2006 terjadi penurunan impor barang-barang perlengkapan telekomunikasi menjadi 2,19% dari total impor seluruh barang. Tahun 2007, impor barang perlengkapan telekomunikasi mengalami kenaikan menjadi 4,44% dari total impor barang. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi di tahun 2008 yaitu sebesar 5,25% dari total impor seluruh barang. Namun pada tahun 2009 kembali terjadi penurunan, yaitu sebesar 5,05% dari total impor seluruh barang. Gambar 5.4. Impor Barang-Barang Perlengkapan Telekomunikasi Sumber: Diolah dari data BPS 5.5. Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi Gambar 5.5. menunjukkan negara pengimpor perlengkapan telekomunikasi di Indonesia. Dari gambar tersebut kita dapat melihat bahwa Indonesia banyak mengimpor barang perlengkapan telekomunikasi dari Cina, Singapura, Swedia dan Hongkong. Khususnya pada tahun 2008 terjadi peningkatan import perlengkapan telekomunikasi yang cukup tajam dari Cina dan Singapura dibandingkan tahun 2007 namun sedikit menurun pada tahun 2009. Untuk tahun 2009, 4 negara pengimpor terbesar perlengkapan telekomunikasi ke Indonesia adalah Cina, Hongkong dan Swedia. 46

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN Gambar 5.5. Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi Sumber: Diolah dari data BPS 5. 6. Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia Dalam hal ekspor barang TIK, terdapat dua jenis barang TIK yaitu barang-barang audiovisual dan komputer serta perlengkapannya. Ekspor barang-barang audio-visual dapat dilihat pada Gambar 5.6. Tahun 2005, Indonesia mengekspor barang-barang audio visual hanya sebesar 0,0044% dari total seluruh barang yang diekspor. Lalu pada kurun waktu 2006-2007 terjadi penurunan ekspor barang audio-visual, yaitu menjadi 0,0024% saja dari total barang yang diekspor oleh Indonesia. Kenaikan ekspor barang-barang audio visual terjadi di tahun 2008, namun persentase dari total seluruh barang yang diekspor menurun hanya sebesar 0,0021%. Pada tahun 2009, ekspor barang-barang audio-visual kembali mengalami peningkatan sejalan dengan persentase ekspor barang audio visual yaitu sebesar 0,0029%. Namun hal ini masih lebih sedikit dibanding tahun 2005. Gambar 5.6. Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia Sumber: Diolah dari data BPS 47

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN 5. 7. Negara Tujuan Ekspor Barang-barang Audio-Visual Ekspor barang-barang audio-visual dari Indonesia ke Belanda terus mengalami peningkatan dalam rentang waktu 2005-2009. Ekspor barang-barang audio-visual pada tahun 2009 menurun dari tahun sebelumnya ke Singapura, Belgia dan Finlandia, akan tetapi meningkat ke Amerika Serikat dengan nilai ekspor 628,0 million USD. Dari rentang tahun 2005-2009, tujuan ekspor ke negara selain yang disebutkan dalam gambar 5.7. terus meningkat dengan rata-rata peningkatan ekspor 170 million USD per tahun. Gambar 5.7. Negara Tujuan Ekspor Barang-Barang Audio-Visual Sumber: Diolah dari data BPS 5.8. Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Tahun 2005, Total nilai ekspor komputer dan komponennya mencapai 1850486,9 million USD dan menyumbang kontribusi terhadap total ekspor Indonesia sebesar 2,16% pada tahun itu. Akan tetapi pada tahun 2007, nilai total ekspor turun hampir setengah dari tahun sebelumnya menjadi hanya 976.529,2 million USD dan menurun lagi pada tahun 2008 menjadi 864.552,8 million USD. Nilai ekspor komputer dan perlengkapannya ini sedikit meningkat pada tahun 2009 menjadi 880.444,7 million USD yang berkontribusi 0,76% terhadap total ekspor. 48

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN Gambar 5.8. Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Sumber: Diolah dari data BPS 5.9. Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Pada tahun 2006, Singapura, Belanda, Jepang dan AS menjadi negara tujuan ekspor komputer dan perlengkapannya dengan nilai di atas 200.000 million USD. Akan tetapi ekspor komputer dan perlengkapannya di Belanda, Jepang, dan AS menurun drastis sampai tahun 2009. Nilai ekspor komputer dan perlengkapannya di Singapura berfluktuatif, tahun 2007 meningkat daripada tahun sebelumnya, akan tetapi tahun 2008 sempat menurun, serta meningkat kembali pada tahun 2009. Secara umum, nilai ekspor komputer dan perlengkapannya pada tahun 2007 dan 2008, menurun dari pada tahun 2006, dan mulai meningkat kembali pada tahun 2009. 49

SEKTOR TIK DAN PERDAGANGAN Gambar 5.9. Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Sumber: Diolah dari data BPS 50

BAB 6 PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN BAB 6 Peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Nasional menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan, mesin pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. Dalam konteks ini, peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, tujuan utama di dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut diatas haruslah bisa menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan sains dan teknologi. Bab ini menyajikan gambaran tentang penggunaan TIK oleh sektor pendidikan di Indonesia berdasarkan indikator utama yang dikembangkan oleh International Telecommunication Union (ITU). Untuk mengukur penggunaan TIK oleh sektor pendidikan ITU menetapkan 8 indikator utama yang menggambarkan tentang akses dan pola penggunaan TIK oleh sektor pendidikan di Indonesia (ITU, 2010). Delapan indikator utama tersebut adalah proporsi sekolah dengan sarana radio (ED-1); proporsi sekolah dengan sarana televisi (ED-2); proporsi sekolah dengan sarana telepon (ED-3); rasio komputer dengan siswa (ED-4); proporsi sekolah dengan akses internet berdasarkan jenis koneksi internet (ED-5); proporsi siswa yang mengakses internet (ED-6); Proporsi pelajar yang masuk ke post secondary level di bidang TIK terkait (ED7); dan proporsi pengajar TIK yang berkualitas di sekolah (ED-8). Gambaran akses dan penggunaan TIK sektor pendidikan ini disajikan berdasarkan hasil survei tahun 2011 yang dilakukan oleh Pusat Data dan Sarana Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sampel individu dipilih berdasarkan metode stratifikasi sampel acak, suatu metode pengambilan sampel secara acak namun representatif mewakili keseluruhan populasi. 51

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Informasi yang diidentifikasi dalam survei ini, selain mengacu pada beberapa indikator utama ITU juga memberikan gambaran mengenai rata-rata waktu penggunaan sarana TIK dalam kegiatan belajar mengajar; rata-rata lama kegiatan belajar mengajar untuk mata pelajaran yang menggunakan TIK; penggunaan komputer berdasarkan kegiatan dan koneksivitas terhadap internet, pengajaran keterampilan komputer dasar, kurikulum pelajaran keterampilan komputer dasar, sekolah yang memberikan pekerjaan rumah dengan mengakses internet, kepemilikan website, serta pemberian akun email pengajar dan siswa, serta rasio guru yang pernah/sedang mengikuti pelatihan TIK. 6.1. Profil Responden Guna mengidentifikasi penggunaan TIK di sektor pendidikan, survei dilakukan terhadap 801 sekolah yang terdapat di 17 kota besar yang ada di Indonesia. Sekolah yang disurvei tersebut terdiri dari sekolah negeri maupun swasta dari berbagai jenjang pendidikan yaitu SD, SMP, SMA dan SMK. Profil responden akan dijelaskan di bab ini berdasarkan jenis sekolah, jenjang pendidikan, dan lokasi. Gambar 6.1. menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden merupakan sekolah negeri, hanya 30% sekolah swasta yang menjadi responden. Jika dikategorikan berdasarkan jenjang pendidikan, Gambar 6.2. menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenjang sekolah dasar (SD) yaitu sebesar 59%. Sedangkan responden terkecil merupakan sekolah kejuruan (SMK) yaitu sebesar 8%. Sedangkan persentase SMP dan SMA masing-masing sebesar 22% dan 11%. Sementara itu, Gambar 6.3. memperlihatkan proporsi responden berdasarkan jenis sekolah dan jenjang pendidikan. Gambar tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden di berbagai jenjang pendidikan merupakan sekolah negeri kecuali pada jenjang kejuruan (SMK). Sebanyak 55,22% responden SMK merupakan sekolah swasta. Gambar 6.1. Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Sekolah Gambar 6.2. Proporsi Responden Berdasarkan Jenjang Pendidikan 52

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.3. Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Sekolah dan Jenjang Pendidikan 6.2. Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan 6.2.1. Proporsi Sekolah dengan Penggunaan Sarana TIK Gambar 6.4 menyajikan tiga indikator utama ITU, yaitu proporsi sekolah dengan sarana radio (ED-1); proporsi sekolah dengan sarana televisi (ED-2), dan proporsi sekolah dengan sarana telepon (ED-3). Sementara rasio komputer dengan siswa (ED-4) pada survei ini diperoleh data mengenai proporsi sekolah yang telah menggunakan komputer. Sebanyak 22,6% sekolah menggunakan radio, 48,81% sekolah menggunakan televisi, 94,38 sekolah memiliki akses telepon, 98% sekolah telah menggunakan komputer dan 80,53% sekolah memiliki akses internet. Gambar 6.4. Proporsi Sekolah Terhadap Penggunaan Sarana TIK 53

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.5. berikutnya menunjukkan pola penggunaan TIK di sekolah berdasarkan jenis sekolah. Pada gambar tersebut terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan pola penggunaannya antara sekolah negeri dan sekolah swasta, akan tetapi sekolah swasta memiliki proporsi yang lebih tinggi dalam penggunaan semua sarana TIK dibandingkan dengan sekolah negeri. Gambar 6.5. Proporsi Sekolah Terhadap Penggunaan Sarana TIK 6.2.2. Rata-rata Waktu Penggunaan Sarana TIK Dalam Belajar Mengajar Sarana TIK yang paling sering digunakan adalah komputer, yakni selama 6,5 jam per minggu. Sarana lain yakni internet digunakan rata-rata selama 4,1 jam per minggu sedangkan televisi hanya selama 3,3 jam per minggu. Sarana yang paling sedikit penggunaannya adalah radio, dimana penggunaannya hanya rata-rata selama 2,2 jam per minggu. Dari hal tersebut, terlihat perbedaan yang cukup besar antara rata-rata waktu penggunaan komputer dan radio, dimana selisihnya mencapai 4,3 jam per minggu. Gambar 6.6 Rata-rata Waktu Penggunaan Sarana TIK Dalam Belajar Mengajar 54

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN 6.2.3. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan TIK Rata-rata waktu menggunakan sarana TIK untuk kegiatan belajar-mengajar antara 2,7 hingga 3 jam per minggu. Mata pelajaran yang paling lama menggunakan TIK adalah kemampuan dasar/keterampilan komputer dan bahasa, dimana keduanya memiliki nilai rata-rata yang sama yakni 3. Mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) memiliki rata-rata waktu yang lebih rendah, yakni masing-masing bernilai 2,9 jam per minggu dan 2,8 per minggu. Sedangkan mata pelajaran lainnya memiliki rata-rata waktu penggunaan sebesar 2,7 jam per minggu. Gambar 6.7. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar Mata Pelajaran Menggunakan TIK Pada sekolah negeri dan swasta, secara umum terlihat bahwa rata-rata lama kegiatan belajar mengajar tidak terlalu berbeda. Seperti diperlihatkan pada Gambar 6.7, untuk mata pelajaran matematika, rata-rata lama kegiatan belajar-mengajar di kedua jenis sekolah tersebut sama-sama bernilai 2,9 jam per minggu. Walaupun demikian, terdapat selisih waktu rata-rata antara mata pelajaran IPA, kemampuan dasar komputer, dan bahasa antara 0,1-0,3 jam per minggu. Sekolah negeri lebih lama menggunakan TIK untuk mata pelajaran IPA, sedangkan sekolah swasta lebih banyak menggunakannya untuk pelajaran komputer dasar dan bahasa. Perbedaan yang cukup besar terlihat untuk mata pelajaran lainnya, dimana selisihnya mencapai 0,8 jam per minggu. Rata-rata waktu penggunaan TIK untuk mata pelajaran selain matematika, IPA, keterampilan komputer dasar, dan bahasa hanya mencapai 2,5 jam per minggu sedangkan di sekolah swasta, nilainya mencapai 3,3 jam per minggu. 55

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.8. Rata-rata Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan TIK 6.2.4. Kegiatan Penggunaan Komputer berdasarkan dan Koneksivitas Internet Gambar 6.9. berikutnya menunjukkan persentase komputer berdasarkan tujuan penggunaannya, terlihat bahwa 86,5% komputer digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan 13,5% komputer digunakan untuk kegiatan administrasi sekolah. internet. Gambar 6.9 Proporsi Penggunaan Komputer Berdasarkan Kegiatan Kemudian jika dilihat berdasarkan tujuan penggunaan dan koneksivitas terhadap internet, seperti terlihat dalam gambar 6.10. Mayoritas komputer sudah terkoneksi internet, baik untuk tujuan kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan administrasi. Lebih dari 70% komputer untuk masing-masing kegiatan sudah terkoneksi internet. 56

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.10. Kegiatan Penggunaan Komputer Berdasarkan dan Koneksivitas Internet 6.2.5. Pengajaran Keterampilan Komputer Dasar Berdasarkan hasil survei, terlihat bahwa mayoritas sekolah mengajarkan keterampilan komputer dasar yakni sebanyak 83%. Sebagian kecil sekolah hanya 17% yang tidak mengajarkan keterampilan komputer dasar. Gambar 6.10. Proporsi Sekolah Mengajarkan keterampilan Komputer Dasar Apabila dilihat berdasarkan jenis sekolahnya, ternyata hampir semua sekolah swasta mengajarkan keterampilan tersebut yakni sebesar 96,22% sedangkan sekolah negeri hanya bernilai 77,42% seperti terlihat dalam gambar berikut ini. 57

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.11. Pengajaran Keterampilan Komputer Dasar 6.2.6. Kurikulum Pelajaran Keterampilan Komputer Dasar Saat ini, pengembangan kurikulum pendidikan komputer dasar mutlak diperlukan bagi setiap satuan pendidikan untuk mengakomodasi pesatnya perkembangan TIK di Indonesia. Guna mendukung tercapainya pendidikan berbasis TIK, maka hampir seluruh sekolah mulai mengajarkan keterampilan komputer dasar sejak dini. Hasil survei menunjukkan 99,09% sekolah menyatakan telah mengajarkan Microsoft Office sebagai salah satu pelajarannya. Gambar 6.12. Kurikulum Pelajaran Keterampilan Komputer Dasar Microsoft Office merupakan perangkat lunak berbayar yang cukup populer di Indonesia karena memiliki antar muka yang menarik dan mudah digunakan. Perangkat lunak ini umumnya digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan ataupun pengeditan dokumen. Selain itu, 25,87% sekolah juga mengajarkan Open Office yang sebenarnya memiliki fungsi sama dengan Microsoft Office, namun piranti tersebut lebih bersifat open source. Keterampilan komputer yang paling sedikit diajarkan di sekolah adalah 58

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN pemrograman, yakni hanya sebesar 14,33% karena keterampilan ini membutuhkan logika matematis yang cukup sulit untuk diajarkan, terutama di tingkat dasar. Keterampilan komputer yang juga diperkenalkan antara lain desain grafis (36,16%) dan keterampilan lainnya (28,90%). 6.2.7. Koneksi Internet di Sekolah Indikator utama ITU berikutnya adalah mengenai proporsi sekolah dengan akses internet berdasarkan jenis koneksi yang digunakan (ED-5). Pengembangan infrastruktur TIK di lingkungan pendidikan telah dimulai sejak tahun 1995, namun terlihat semakin pesat sejak dikembangkannya Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang mampu menghubungkan seluruh kantor dinas baik ditingkat propinsi maupun kota/kabupaten, sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi. Jejaring ini dibuat untuk memperlancar dan mengoptimalkan arus komunikasi data dan informasi antar pelaksana pendidikan sehingga lebih optimal, transparan, efektif dan efisien. Berdasarkan hasil survei, penggunaan koneksi internet melalui Jardiknas baru dimiliki oleh sebagian kecil sekolah, yaitu sebesar 38,69%. Koneksi ini menggunakan teknologi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) 5 yang dikembangkan oleh PT Telkom. Sebagian besar sekolah (64,27%) justru lebih memilih koneksi fixed broadband sebagai koneksi internetnya. Sebenarnya Jardiknas merupakan salah satu jenis produk yang menggunakan koneksi fixed broadband, namun dalam survei ini yang termasuk dalam koneksi fixedbbroadband adalah koneksi Speedy dengan Paket Familia, Paket Executive, dan Paket Biz, serta koneksi melalui ISP (Internet Service Provider). Jenis koneksi internet lainnya, yaitu koneksi mobile broadband ternyata belum cukup populer disekolah karena hanya digunakan oleh 11,70% responden. Demikian halnya dengan koneksi narrowband yang paling sedikit digunakan di sekolah, yakni hanya sebesar 6,40%. Telkomnet Instant yang termasuk dalam jenis koneksi ini memang mulai kurang diminati masyarakat karena aksesnya yang lambat dengan tingkat kecepatan hanya terbatas sampai 56Kbps. 5 ADSL adalah suatu teknologi komunikasi data yang memungkinkan transmisi data menjadi lebih cepat melalui kabel telepon biasa dibandingkan dengan modem konvensional yang ada. Sesuai dengan namanya, ADSL mentransmisikan data secara asimetrik yaitu kapasitas transmisinya berbeda antara downstream (download) dan upstream (upload). Kapasitas downstream lebih tinggi daripada upstream dengan kecepatan pengiriman data bisa mencapai 8 Mbps untuk downstream dan 1 Mbps untuk upstream. 59

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.13. Koneksi Internet yang Digunakan di Sekolah 6.2.8. Sekolah yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kualitas/mutu pendidikan. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian besar sekolah untuk mendorong para siswanya agar aktif melakukan kegiatan belajar secara mandiri di luar sekolah. Gambar 6.14. menunjukkan bahwa mayoritas sekolah telah melakukan hal tersebut dengan cara memberikan pekerjaan rumah yang membutuhkan akses internet, yakni sebesar 79%. Gambar 6.14 Sekolah Yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet 60

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Jika dilihat berdasarkan jenis sekolah, pemanfaatan TIK bagi siswa di sekolah swasta lebih besar dibandingkan sekolah negeri. Kondisi ini semakin terlihat pada Gambar 6.15, dimana sekolah swasta lebih banyak memberikan pekerjaan rumah dengan mengakses internet daripada sekolah negeri. Gambar 6.15. Sekolah Yang Memberikan Pekerjaan Rumah Melalui Internet 6.2.9. Kepemilikan Website dan Pemberian Akun Email Secara umum, terlihat bahwa sebagian besar sekolah yang disurvei tidak memiliki website, serta tidak memberikan akun email terhadap pengajar maupun siswanya. Hal tersebut diperlihatkan pada Gambar 6.16. Gambar 6.16. Kepemilikan Website dan Pemberian Akun Email 61

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Apabila dlihat lebih jauh berdasarkan jenis sekolahnya (Gambar 6.17), terlihat pola yang hampir sama untuk sekolah negeri dan swasta yaitu sebagian besar belum memiliki website, serta tidak memberikan akun email terhadap pengajar dan siswanya. Walaupun demikian, terlihat bahwa sekolah swasta lebih banyak memiliki website dibandingkan sekolah negeri dimana nilainya masing-masing adalah 44,12% untuk sekolah swasta, dan 32,26% untuk sekolah negeri. Di lain pihak, dalam hal pemberian akun email kepada pengajar dan siswa, tidak terdapat perbedaan yang jauh antara sekolah negeri dan swasta. Gambar 6.17. Kepemilikan Website dan Pemberian Akun Email 6.2.10. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Dasar Indikator utama ITU selanjutnya adalah proporsi guru yang mengajar keterampilan TIK (ED-8). SDM merupakan salah satu komponen penting dalam pengembangan TIK di sektor pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah melalui Depdiknas telah melakukan pengembangan SDM sejak disosialisasikannya internet pada tahun 1999. Pengembangan SDM dilakukan baik melalui jalur formal maupun non formal, seperti pelatihan internet, jaringan, keterampilan komputer, multimedia, dan sebagainya. Berdasarkan hasil survei, rasio guru yang mengajar keterampilan komputer dasar terhadap total guru ternyata masih sangat rendah, yakni 0,06. Jika dipilah berdasarkan jenis sekolah seperti yang terlihat pada gambar 6.18. maka rasio guru yang mengajar keterampilan komputer dasar di sekolah swasta lebih banyak dibandingkan sekolah negeri. Kondisi ini dapat dipahami karena proporsi sekolah swasta yang mengajarkan keterampilan tersebut juga lebih banyak dibandingkan sekolah negeri. 62

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.18. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Namun jika dilihat berdasarkan jenjang pendidikan seperti pada gambar 6.19, untuk jenjang SD dan SMP memiliki rasio yang sama, yaitu 0,06. Sedangkan SMA, meskipun mayoritas mengajarkan pelajaran keterampilan komputer yang lebih sulit (seperti desain grafis dan pemrograman), namun rasio guru yang mengajar pelajaran tersebut hanya 0,05. Rasio tertinggi dimiliki oleh SMK, yaitu 0,09. Gambar 6.19. Rasio Guru Mengajar Keterampilan Komputer Berdasarkan Jenjang Pendidikan 6.2.11. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK Berdasarkan jenis sekolah, seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.20 berikut ini, ternyata rasio pada sekolah negeri lebih tinggi dibandingkan sekolah swasta. Hal ini mengindikasikan bahwa kesempatan tenaga pengajar di sekolah negeri untuk mendapatkan pelatihan TIK lebih banyak dibandingkan tenaga pengajar di sekolah swasta. 63

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.20. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK Berdasarkan Jenis Sekolah 6.2.12 Rasio Siswa Mengakses Internet Untuk Pembelajaran Komponen SDM TIK lain yang diukur dalam survei ini adalah siswa yang mengakses internet untuk tujuan pembelajaran (ED-6), dengan rasio sebesar 0,39. Rasio ini cukup rendah mengingat proporsi sekolah yang memiliki akses internet sekitar 80%, sehingga mengindikasikan bahwa koneksi internet yang ada disekolah belum termanfaatkan secara optimal baik dari segi jumlah siswa yang mengakses maupun dari jenis konten yang diakses. Gambar 6.21. Rasio Guru Mengikuti Pelatihan TIK Berdasarkan Jenjang Pendidikan Gambar 6.22 berikut ini menunjukkan bahwa rasio siswa yang mengakses internet untuk tujuan pembelajaran lebih banyak di sekolah swasta dibandingkan sekolah negeri, yaitu 0,45 untuk sekolah swasta dan 0,37 untuk sekolah negeri. 64

PENGGUNAAN TIK DI SEKTOR PENDIDIKAN Gambar 6.22. Rasio Siswa Mengakses Internet Untuk Pembelajaran 65

66

BAB 7 PERBANDINGAN INTERNASIONAL INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

PERBANDINGAN INTERNASIONAL BAB 7 Indikator adalah analisis statistik yang dapat menggambarkan secara obyektif keadaan dan perkembangan kemampuan iptek suatu negara yang digunakan untuk : a) Mengukur dan memahami status suatu negara berdasarkan kegiatan teknologi; b) Menetapkan tujuan yang dicapai dalam jangka waktu tertentu; c) Merumuskan dan mengevaluasi kebijakan alternatif. (Niwa Fuji, 2009). Karena keterbatasan data, Bab perbandingan internasional ini menyajikan Posisi perkembangan TIK Indonesia terhadap beberapa negara berdasarkan data dari ITU pada tahun 2011. Perbandingan ketersediaan infrastruktur dan akses terhadap layanan TIK seperti teledensitas telepon, telepon bergerak, densitas broadband, pelanggan fixed internet, dan pengguna internet di negara ASEAN dan negara terpilih di Asia dapat menjadi komparasi perkembangan TIK Indonesia dalam melihat positioning di kawasan Asia. 7.1. Perbandingan Teledensitas telepon tetap, Indonesia dan Negara Asia terpilih Penetrasi telepon baik telepon tetap maupun selular di suatu negara dapat dinyatakan dengan teledensitas, yang dinyatakan dengan perbandingan antara jumlah sambungan telepon dengan jumlah penduduk di negara tersebut. Gambar 7.1 adalah menunjukkan teledensitas telepon tetap di Negara Asia termasuk Indonesia. Dalam kurun 2006-2010, Indonesia mengalami peningkatan teledensitas yang cukup tajam, terutama antara tahun 2006-2009, meskipun posisi Indonesia hanya di atas Kamboja, Myanmar, Laos, India dan Filipina. Negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, China mengalami kecenderungan menurun dari tahun ke tahun. 67

PERBANDINGAN INTERNASIONAL Gambar 7.1 Teledensitas Telepon Tetap Negara Asia Terpilih, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.2. Perbandingan Teledensitas Telepon Tetap Negara ASEAN Selama kurun 2004-2010 rata-rata teledensitas telepon tetap di negara ASEAN adalah 12,0. Pada tahun 2004-2008, teledensitas telepon tetap Indonesia masih di bawah rata-rata negara ASEAN. Setelah tahun 2008 meningkat di atas rata-rata negara ASEAN. Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Viet Nam merupakan Negara ASEAN yang memiliki teledensitas telepon tetap di atas Indonesia (Gambar 7.2) Gambar 7.2. Teledensitas Telepon Tetap Negara ASEAN, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 68

PERBANDINGAN INTERNASIONAL 7.3. Perbandingan Teledensitas Telepon Bergerak Negara Asia terpilih Gambaran yang berbeda terlihat pada teledensitas telepon bergerak. Selama tahun 2004-2010 semua Negara Asia terpilih termasuk Indonesia mengalami peningkatan. Viet Nam merupakan Negara yang mengalami peningkatan paling tajam. Bila pada tahun 2004 Viet Nam berada pada posisi terendah (bersama dengan Kamboja), maka pada tahun 2010 menjadi yang paling unggul mengalahkan negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Indonesia berapa pada posisi di atas Negara berkembang seperti Kamboja, Laos dan Filipina (Gambar 7.3) Gambar 7.3. Teledensitas Telepon Bergerak Negara Asia Terpilih, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.4. Perbandingan Tedensitas Telepon Bergerak Negara ASEAN Gambar 7.4. berikutnya menunjukkan teledensitas telepon bergerak di negara-negara ASEAN. Selama kurun 2004-2010 rata-rata teledensitas telepon bergerak di negara ASEAN adalah 20. Walaupun memiliki kecenderungan meningkat, teledensitas telepon bergerak Indonesia masih di bawah rata-rata Negara ASEAN Pada tahun 2010, Negara-negara seperti Viet Nam, Singapura dan Malaysia menduduki posisi tiga teratas dibandingkan negara ASEAN lainnya. 69

PERBANDINGAN INTERNASIONAL Gambar 7.4. Teledensitas Telepon Bergerak Negara ASEAN, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.5. Perbandingan Densitas Broadband Negara-Negara Asia Terpilih Gambar 7.5. Menunjukkan kecenderungan peningkatan densitas broadband di Negara Asia terpilih termasuk Indonesia. Korea Selatan, Jepang dan Singapura merupakan negara maju yang memiliki densitas broadband tertinggi dibandingkan dengan Negara Asia terpilih lainnya. Walaupun selama kurun 2004-2010 cenderung meningkat, densitas broadband Indonesia berada pada posisi ketiga terendah sesudah Myanmar dan Kamboja. Gambar 7.5. Densitas Broadband Negara-negara Asia Terpilih, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 70

PERBANDINGAN INTERNASIONAL 7.6. Perbandingan Densitas Broadband Negara ASEAN Gambar 7.6, memperlihatkan bahwa Indonesia berada pada posisi jauh di bawah ratarata densitas broadband Negara ASEAN. Negara lain yang juga memiliki posisi di bawah ratarata negara ASEAN adalah Viet Nam, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Laos. Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam merupakan tiga negara yang memiliki densitas broadband tertinggi Gambar 7.6. Densitas Broadband Negara ASEAN, 2004-2010 Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.7. Perbandingan Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN Pelanggan fixed internet Indonesia per 100 inhabitan mengalami fluktuasi sejak tahun 2005 hingga tahun 2009. Berdasarkan data ITU, pertumbuhan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 11% dari tahun 2005-2009. Pada tahun 2007, terjadi penurunan jumlah pelanggan fixed internet per 100 inhabitan Indonesia sebesar 42%, tetapi kemudian meningkat 7% ditahun selanjutnya. Dibandingkan dengan Negara ASEAN, Indonesia berada di ketiga dari bawah bersama Laos dan Kamboja. Pelanggan fixed internet per 100 inhabitan Indonesia pun masih berada dibawah nilai rata-rata ASEAN. Negara ASEAN dengan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan tertinggi adalah Brunei Darussalam diikuti oleh Singapura dan Malaysia. Pelanggan fixed internet per 100 inhabitan di Singapura mengalami penurunan sejak tahun 2005, dan terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008, tetapi kemudian mengalami peningkatan sedikit di tahun 2009. Sedangkan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan Brunei Darussalam mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 2007, dan kenaikan ini pun terus berlangsung hingga tahun selanjutnya. Viet Nam merupakan negara dengan pertumbuhan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan yang tertinggi selain Brunei, yaitu rata-rata sebesar 41% per tahun. 71

PERBANDINGAN INTERNASIONAL Gambar 7.7. Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.8. Perbandingan Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih Dibandingkan dengan Negara Asia lainnya, pelanggan fixed internet Indonesia per 100 inhabitan Indonesia berada dibawah India dan diatas Negara ASEAN yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar. Negara Asia dengan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan tertinggi adalah Korea diikuti oleh Brunei Darussalam dan Singapura. Korea memiliki pelanggan fixed internet per 100 inhabitan yang cenderung meningkat sejak tahun 2004, padahal sejak tahun 2004-2007 Singapura memiliki pelanggan fixed internet per 100 inhabitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Korea, tetapi tahun 2008-2009 pelanggan fixed internet per 100 inhabitan Korea adalah yang tertinggi. Gambar 7.8. Pelanggan Fixed Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih Sumber: International Telecommunication Union, 2011 72

PERBANDINGAN INTERNASIONAL 7.9. Perbandingan Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN Pengguna internet per 100 inhabitan Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan angka pengguna internet ASEAN. Pengguna internet per 100 inhabitan Indonesia lebih rendah dari negara Filipina dan Thailand, dan lebih tinggi dibandingkan Laos dan Kamboja. Singapura merupakan negara dengan pengguna internet per 100 inhabitan tertinggi di ASEAN, diikuti oleh Malaysia dan Brunei Darussalam. Gambar 7.9. Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara ASEAN Sumber: International Telecommunication Union, 2011 7.10. Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih Dibandingkan dengan Negara Asia lainnya, pengguna internet per 100 inhabitan Indonesia berada dibawah Thailand dan diatas negara India dan negara ASEAN lain yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar. Negara Asia dengan pelanggan fixed internet per 100 inhabitan tertinggi adalah Korea diikuti oleh Jepang, Singgapura dan Malaysia. Terlihat pula bahwa Viet Nam dan China merupakan negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet per 100 inhabitan tertinggi sejak tahun 2004 hingga 2010. Begitu pula dengan Filipina yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 178% ditahun 2010 dibandingkan dengan pengguna internet per 100 inhabitan ditahun 2009. 73

PERBANDINGAN INTERNASIONAL Gambar 7.10. Pengguna Internet per 100 inhabitan Negara Asia Terpilih Sumber: International Telecommunication Union, 2011 74

DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN INDIKATOR TIK INDONESIA 2011

DAFTAR PUSTAKA Andriariza, Yan (Ed.). 2010. Indikator TIK Indonesia 2009 Bidang Telekomunikasi, Komunikasi, Sumber Daya Manusia, Pemerintahan. Jakarta : Pusat Litbang Aplikasi Telematika Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika. Andriariza, Yan dan Dewi Hernikawati. 2011. Indikator TIK Tahun 2010. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika. Badan Pusat Statistik. 2011. Hasil Olah Cepat Penduduk Indonesia Menurut Provinsi, Kabupaten/ Kota, dan Kecamatan Sensus Penduduk 2010. Jakarta : BPS. Badan Pusat Statistik. 2010. Statistik Industri Besar dan Sedang. Jakarta : BPS. Badan Pusat Statistik. 2010. Statistik Ekspor, Jilid I. Jakarta : BPS. Badan Pusat Statistik. 2010. Statistik Impor, Jilid I. Jakarta : BPS. Badan Pusat Statistik. 2008. Statistik Potensi Desa Indonesia. Jakarta : BPS. Deloitte Access Economics. 2011. Nusantara Terhubung : Peran Internet dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia. Deputi Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (Ed). 2011. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 2025. Jakarta : Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. DITJEN POSTEL. 2010. Statistik Postel 2010. Jakarta : Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika. DR. Phill. Fuji Niwa. 2009. Science and Technology Indicator System : How to Measure the National Innovation System. GRIPS, NISTEP. International Telecommunication Union. 2009. Manual for Measuring ICT Access and Uses by Households and Individuals. Genewa : International Telecommunication Union. International Telecommunication Union. 2010. Core ICT Indicators 2010. Genewa : International Telecommunication Union. 75

Meiningsih, Siti. Et.al. 2010. Indikator Iptek Indonesia 2009. Jakarta : LIPI Press. Ramli, Kalamullah. Et.al. 2011. Indonesia ICT White Paper 2010. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika. Rianto, Yan. Et.al. 2011. Hasil Survei Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Sektor Bisnis Indonesia 2011. Jakarta : Pusat Data dan Sarana Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. 76

LAMPIRAN Tabel 2.1 Perkembangan Jumlah Pelanggan Jaringan Telepon Tetap Kabel dan Telepon Tetap Nirkabel, 2005-2010 Teledensitas 2006 2007 2008 2009 2010 Tetap Kabel 3,94 3,88 3,81 3,69 3,55 Tetap Nirkabel 2,71 4,81 9,53 11,69 13,37 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.2 Pengguna Telepon Tetap kabel dan Nirkabel Menurut Wilayah Layanan Sumatera Jakarta- Banten Jabar- Jateng-DIY Jatim- Bali-NT Kalimantan Sulawesi- Maluku- Papua FWA 4,16 65,59 5,5 12,33 6,89 6,74 Fixed Telephone 6,68 73,72 8,1 15,37 10,53 10,77 Sumber : Statistik Postel 2010 77

LAMPIRAN Tabel 2.3 Perkembangan Jumlah Pengguna Telepon Bergerak Seluler, 2006 2010 Teledensitas 2006 2007 2008 2009 2010 Telepon Bergerak Seluler 28,73 41,52 61,72 71,75 88,85 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.4 Pengguna Telepon Bergerak Seluler Menurut Wilayah, 2010 Layanan Jakarta- Banten Kalimantan Sumatera Sulawesi- Maluku-Papua Jatim-Bali-NT Jabar-Jateng- DIY Telepon Bergerak Seluler 169,3 83,67 70,85 56,75 56,5 36,92 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.5 Perkembangan Pelanggan Fixed Broadband Internet Negara 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Indonesia 0.05 0.08 0.34 0.42 0.72 0.79 Sumber :ITU, 2011 78

LAMPIRAN Tabel 2.6 Perkembangan Pelanggan Mobile Broadband Negara 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Indonesia 0.00 0.02 0.77 1.47 3.50 6.41 Sumber : ITU, 2011 Tabel 2.7 Perkembangan Kantor Pos, 2005-2010 No Jenis Kantor Pos 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 Kantor Pos 207 207 207 207 207 208 2 Kantor Pos Cabang (Kabupaten) 88 88 88 88 195 196 3 Kantor Pos Cabang (Dalam Kota) 760 755 754 751 761 762 4 Kantor Pos Cabang (Luar Kota) 2433 2425 2422 2427 2369 2377 Jumlah 3488 3475 3471 3473 3532 3543 Sumber : Statistik Postel 2010 79

LAMPIRAN Tabel 2.8 Perkembangan Kantor Pos Menurut Wilayah No Wilayah 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 Jawa 1773 1771 1771 1766 1811 1819 2 Sumatra 834 822 819 818 821 822 3 Bali, NTB,NTT 207 205 206 207 207 208 4 Kalimantan 314 306 305 308 308 309 5 Sulawesi 273 272 272 273 276 276 6 Maluku dan Papua 109 99 99 101 109 109 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.9 Sebaran Kantor Pos Menurut Wilayah, 2010 No Jenis Sumatra Jawa Bali,NTT,NTB Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua 1 Kantor Pos 50 102 14 19 13 10 208 2 Kantor Pos Cabang (Kabupaten) 71 268 17 33 42 23 454 3 Kantor Pos Cabang (Dalam Kota) 126 348 31 48 37 10 600 4 Kantor Pos Cabang (Luar Kota) 575 1212 146 209 184 66 2392 Jumlah 822 1930 208 309 276 109 3654 Jumlah Sumber : Statistik Postel 2010 80

LAMPIRAN Tabel 2.10 Sebaran Pelayanan Pos Bergerak Menurut Jenis dan Wilpos, 2010 No Pos Pelayanan Bergerak Satuan Wilayah Pos I II III IV V VI VII VIII IX X XI 1 Pos Keliling Kota Unit 6 16 11 108 16 17 18 2 10 5 2 Trayek 6 17 16 112 20 21 22 2 16 9 2 Terminal 15 35 30 182 38 45 43 5 40 19 3 2 Pos Keliling Desa Unit 136 88 176 56 250 392 250 51 93 104 4 Trayek 239 155 328 95 455 673 428 103 153 160 10 Terminal 440 446 546 212 1.014 1.432 919 211 285 329 28 3 Pos Sarling Unit 21 36 23 39 7 31 45 18 25 19 1 4 Jumlah Pos Pelayanan Bergerak Trayek - - - - - - - - - - - Terminal - - - - - - - - - - - Unit 163 140 210 203 273 440 313 71 128 128 7 Trayek 245 172 344 207 475 694 450 105 169 169 12 Terminal 455 481 576 394 1.052 1.477 962 216 325 348 31 Sumber : Statistik Postel 2010 81

LAMPIRAN Tabel 2.11 Sebaran Pelayanan Pos Lainnya Menurut Jenis dan Wilayah Pos, 2010 No Pelayanan Pos Lainnya Sumatera Jawa Bali,NTB, NTT Kalimantan Sulawesi Maluku, Papua 1 Rumah Pos 133 0 1 2 1 1 2 Agenpos 150 1062 110 127 97 27 3 Agenpos Desa 70 156 40 37 12 3 4 Agenpos Koperasi 65 238 36 49 21 18 5 Depo Bpm 897 3198 449 212 342 122 6 Pos Desa 746 1200 199 207 180 117 7 Kantor Pos Desa 123 319 42 145 155 71 8 Warpos Kesra 310 758 93 147 59 59 9 Pos Sekolah 939 1571 266 286 124 108 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.12 Perkembangan Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya, 2005-2010 No Fasilitas Pos 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 Kotak Pos tersedia 77.768 77.768 77.768 77.768 77.768 77.768 2 Kotak Pos Disewa 50.560 50.560 50.560 50.560 50.560 50.560 3 Tromol Pos 3.270 3.270 3.270 3.270 3.270 3.270 4 Bis Surat Terpasang 18.260 18.260 18.260 18.260 18.260 18.260 5 Peti Pos 199 199 199 199 199 199 Jumlah 99.497 99.497 99.497 99.497 99.497 99.497 Sumber : Statistik Postel 2010 82

LAMPIRAN Tabel 2.13 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Wilayah Pos, 2010 No Pelayanan Pos Lainnya Wilayah Pos Jumlah I II III IV V VI VII VIII IX X XI 1 Kotak Pos tersedia 3.658 4.058 4.181 23.971 6.514 8.365 6.486 4.661 6.009 5.578 4.287 77.768 2 Kotak Pos Disewa 2.090 1.570 1.693 18.465 4.613 5.879 4.438 3.704 2.766 2.321 3.021 50.560 3 Tromol Pos 218 35 89 169 143 1.073 1.237 69 112 30 95 3.270 4 Bis Surat Terpasang 1.419 1.154 1.550 2.338 2.321 2.812 2.898 1.004 1.366 901 497 18.260 5 Peti Pos 6 33 1 84 9 24 27 7 5 3 199 Jumlah 5.301 5.280 5.821 26.562 8.987 12.274 10.648 5.741 7.492 6.512 4.879 99.497 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.14 Sebaran Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Menurut Pulau, 2010 No Fasilitas Pelayanan Pos Lainnya Sumatera Jawa Bali,NTB, NTT Wilayah kepulauan Jumlah Kalimantan Sulawesi Maluku, Papua 1 Kotak Pos tersedia 11.897 45.336 4.661 6.009 5.578 4.287 77.768 2 Kotak Pos Disewa 5.353 33.395 3.704 2.766 2.321 3.021 50.560 3 Tromol Pos 342 2.622 69 112 30 95 3.270 4 Bis Surat Terpasang 4.123 10.369 1.004 1.366 901 497 18.260 5 Peti Pos 40 144 7 5 3 0 199 Jumlah * 16.402 58.471 5.741 7.492 6.512 4.879 99.497 *) tidak termasuk Kotak Pos Disewa Sumber : Statistik Postel 2010 83

LAMPIRAN Tabel 2.15 Perkembangan Jangkauan Pelayanan Pos di Kelurahan/Desa, 2005-2010 No Jangkauan Pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 Jumlah Kelurahan/Desa 68298 68298 68298 70629 70629 70629 2 Dilayani KPrk 6045 6045 6045 5705 5705 5705 3 Dilayani Kantor Pos Cabang Luar Kota 9698 9578 9554 10888 10516 10696 4 Dilayani Kantor Pos Desa 2581 2578 2617 3558 3552 3474 5 Dilayani Pos Keliling Desa 11466 5810 5445 5307 5307 5307 6 Dilayani Pos Desa 2986 2940 2864 2759 2759 2754 7 Dilayani Agenpos Desa 422 422 422 430 430 430 8 Dilayani Warpos Kesra 1252 1252 1252 1220 1220 1220 Sumber : Statistik Postel 2010 Tabel 2.16 Tingkat Keterjangkauan Pelayanan Pos di Desa Menurut Wilpos, 2010 Keterangan wilpos 1 wilpos 2 wilpos 3 wilpos 4 wilpos 5 wilpos 6 wilpos 7 wilpos 8 wilpos 9 wilpos 10 % Belum Terjangkau 80.1 57.2 66.5 33.3 30.6 42.6 52.9 48.3 75.4 44.6 69.5 % Terjangkau 19.8 42.7 33.4 66.6 69.3 57.4 47 51.6 24.5 55.4 30.4 wilpos 11 Sumber : Statistik Postel 2010 84

LAMPIRAN Tabel 3.1 Pembandingan Populasi dan Sampel Propinsi Populasi Sampel 3200 - Jawa Barat 3623068 1812 3500 - Jawa Timur 5903336 1577 3300 - Jawa Tengah 4631688 1363 1200 - Sumatera Utara 4561139 546 3600 Banten 4721228 447 3100 - DKI Jakarta 5252293 404 1600 - Sumatera Selatan 3506931 313 1800 Lampung 2143517 320 7300 - Sulawesi Selatan 1927918 338 1400 Riau 1752304 233 5200 - Nusa Tenggara Barat 2361852 189 1100 Aceh 513705 189 1300 - Sumatera Barat 1479469 204 5300 - Nusa Tenggara Timur 865702 197 6300 - Kalimantan Selatan 1641204 153 5100 Bali 2071024 164 3400 - D.I. Yogyakarta 2361823 145 1500 Jambi 1316006 30 7200 - Sulawesi Tengah 1169477 111 9400 Papua 619850 120 7100 - Sulawesi Utara 829635 96 7400 - Sulawesi Tenggara 981230 94 6200 - Kalimantan Tengah 950218 93 1700 Bengkulu 852946 72 8100 Maluku 661317 65 6100 - Kalimantan Barat 1883246 185 1900 - Bangka Belitung 780431 51 7600 - Sulawesi Barat 1007397 49 7500 Gorontalo 554551 44 8200 - Maluku Utara 536893 44 9100 - Papua Barat 491038 32 2100 - Kepulauan Riau 1492656 71 6400 - Kalimantan Timur 2165609 150 Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo 85

LAMPIRAN Tabel 3.2 Sebaran Responden Berdasarkan Pulau Pulau Jumlah Responden Persentase Jawa 5426 60.32% Sumatera 1914 21.28% Sulawesi 638 7.09% Lombok 355 3.95% Kalimantan 275 3.06% Bali 149 1.66% Irian Jaya 138 1.53% Maluku 93 1.03% Kepulauan Riau 7 0.08% T O T A L 8995 100% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Tabel 3.3 Proporsi rumah tangga yang memiliki radio dan televisi Penggunaan TIK Jumlah Persentase Responden Ya Tidak Ya Tidak Memiliki radio 4994 4001 55.53% 44.48% Memiliki televise 8596 399 95.56% 4.44% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Tabel 3.4 Proporsi rumah tangga yang memiliki telepon Proporsi rumah tangga dengan Jumlah Persentase telepon Responden Memiliki telepon 8055 89.55% Tidak memiliki telepon 940 10.45% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Penggunaan TIK Jumlah Responden Persentase Ya Tidak Ya Tidak Telepon Kabel 2266 6729 25.19% 74.81% Telepon Seluler (HP) 7883 1112 87.64% 12.36% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo 86

LAMPIRAN Tabel 3.5 Tingkat kepemilikan dan penggunaaan komputer dan internet Memiliki Menggunakan Komputer 33.64% 36.32% Internet 26.47% 37.51% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Lokasi 3.6 Lokasi akses internet Lokasi Akses Internet Jumlah Responden Persentase Rumah 1991 59.01% Dimana saja melalui HP 1953 57.88% Warnet 1944 57.62% Kantor 1004 29.76% Sekolah/Kampus 956 28.33% Rumah teman/saudara/orang lain yang dikenal 753 22.32% Dimana saja menggunakan WiFi 522 15.47% Fasilitas akses internet di komunitas 415 12.30% Lainnya 29 0.86% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Tabel 3.7 Aktivitas internet Aktivitas Internet Jumlah Persentase Responden Membuka situs jejaring sosial 2174 64.43% Mencari informasi mengenai barang atau jasa 1638 48.55% Mengirim atau menerima email 1597 47.33% Mengunduh film, gambar, music, menonton TV atau video atau 1585 46.98% mendengarkan radio atau musik Mengirim pesan melalui Instant Messaging 1577 46.74% Melakukan aktifitas belajar 1496 44.34% Bermain game 1485 44.01% Mencari informasi mengenai kesehatan atau pelayanan kesehatan 1309 38.80% Membaca atau mengunduh online newspaper, majah atau e-book 1272 37.70% Mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan 955 28.30% Mengunduh software 655 19.41% Menjual atau membeli barang atau jasa 518 15.35% Internet Banking 382 11.32% Teleconference melalui VoIP 189 5.60% Lainnya 100 2.96% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo 87

LAMPIRAN Tabel 3.8 Proporsi individu yang menggunakan telepon seluler Proporsi individu yang menggunakan Jumlah Persentase HP Responden Menggunakan telepon seluler 7752 86.18% Tidak menggunakan telepon seluler 1243 13.82% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Tabel 3.9 Jenis Teknologi Akses Internet Jenis Akses Jumlah Responden Persentase Narrowband 498 25.01% Fixed Broadband 667 33.50% Mobile Broadband 982 49.32% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo Tabel 3.10 Frekuensi Akses Internet Frekuensi Akses Internet Jumlah Persentase Responden Setiap hari 1088 32.25% Minimal 1 kali dalam 1 minggu 2286 67.75% Sumber: Survei Akses Penggunaan TIK Rumah Tangga dan Individu, Puslitbang PPI Kominfo 88

LAMPIRAN Tabel 4.1 Sampel dan Populasi Perusahaan Pulau Sampel Populasi Jawa 74,10% 68,02% Sumatera 11,95% 18,85% Sulawesi 5,73% 7,43% Bali 8,22% 5,67% Sumber: Survei Ekonomi BPS, 2006 Tabel 4.2 Perbandingan Populasi Perusahaan Bisnis Indonesia Bidang Usaha Jumlah Perusahaan Persentase Dagang, Hotel & Restoran 332 41,35% Industri - Manufaktur 103 12,83% Jasa lainnya 368 45,83% Sumber: Survei Ekonomi BPS, 2006 Tabel 4.3 Skala Perusahaan Responden Skala Usaha Jumlah Perusahaan Persentase Skala Mikro ( <5 ) 103 12,83% Skala Kecil ( 5-19 ) 358 44,58% Skala Menengah ( 20-99 ) 255 31,76% Skala Besar ( >99 ) 87 10,83% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.4 Penggunaan Komputer dan Internet pada Perusahaan Sumber: Menggunakan komputer Menggunakan internet Ya Tidak Ya Tidak 92,15% 7,85% 86,43% 13,57% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 89

LAMPIRAN Tabel 4.5 Penggunaan Komputer dan Internet di PMDN, PMA dan Joint Venture Status Kepemilikan Modal Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Menggunakan Komputer Menggunakan Internet Persentase Jumlah Perusahaan Persentase Jumlah Perusahaan Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak PMDN 697 63 91,71% 8,29% 651 109 85,66% 14,34% PMA 31 0 100% 0% 31 0 100% 0% Joint Venture 12 0 100% 0% 12 0 100% 0% Tabel 4.6 Penggunaan Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Perusahaan Skala Usaha Menggunakan Komputer Menggunakan Internet Ya Tidak Ya Tidak Skala Mikro ( <5 ) 71,84% 28,16% 59,22% 40,78% Skala Kecil ( 5-19 ) 92,74% 7,26% 88,27% 11,73% Skala Menengah ( 20-99 ) 96,86% 3,14% 90,59% 9,41% Skala Besar ( >99 ) 100,00% 0,00% 98,85% 1,15% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 90

LAMPIRAN Tabel 4.7 Rasio Tenaga Kerja Yang Menggunakan Komputer dan Internet Rasio Tenaga Kerja Pengguna Komputer Rasio Tenaga Kerja Pengguna Internet Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 0,19 0,13 Tabel 4.8 Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Skala Usaha Skala Usaha Rasio Tenaga Kerja Pengguna Komputer Rasio Tenaga Kerja Pengguna Internet Skala Mikro ( <5 ) 0,58 0,52 Skala Kecil ( 5-19 ) 0,42 0,35 Skala Menengah ( 20-99 ) 0,37 0,27 Skala Besar ( >99 ) 0,15 0,1 Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.9 Rasio Tenaga Kerja Komputer dan Internet Berdasar Bidang Usaha Bidang Usaha Rasio Tenaga Kerja Pengguna Komputer Rasio Tenaga Kerja Pengguna Internet Dagang, Hotel & Restoran 0,32 0,24 Industri Manufaktur 0,09 0,06 Jasa lainnya 0,28 0,18 Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.10 Jenis Koneksi Internet yang Digunakan Perusahaan Narrowband Fixed Broadband Mobile Broadband 7,06% 83% 15,85% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 91

LAMPIRAN Tabel 4.11 Jenis Koneksi Internet yang Digunakan Perusahaan Berdasar Skala Usaha Skala Usaha Narrowband Fixed Mobile Broadband Broadband Skala Mikro ( <5 ) 12,12% 62,12% 25,76% Skala Kecil ( 5-19 ) 7,76% 74,63% 17,61% Skala Menengah ( 20-99 ) 4,33% 86,61% 9,06% Skala Besar ( >99 ) 3,48% 18,26% 16,52% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.12 Penggunaan web, LAN (Local Area Network), Intranet dan Extranet Menggunakan LAN Ya 53,78% Tidak 46,22% Menggunakan web Ya 39,35% Tidak 60,65% Menggunakan intranet Ya 35,81% Tidak 64,19% Menggunakan Ekstranet Ya 9,86% Tidak 90,14% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 92

LAMPIRAN Tabel 4.13 Penggunaan web, LAN, Intranet dan Extranet berdasar Skala Usaha Perusahaan Skala Usaha Web LAN Intranet Ekstranet Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Skala Mikro ( <5 ) 17,48% 82,52% 14,86% 85,14% 20,27% 79,73% 4,05% 95,95% Skala Kecil ( 5-19 ) 31,01% 68,99% 43,07% 56,93% 28,31% 71,69% 6,02% 93,98% Skala Menengah ( 20-99 ) 46,67% 53,33% 65,99% 34,01% 39,68% 60,32% 13,36% 86,64% Skala Besar ( >99 ) 78,16% 21,84% 93,10% 6,90% 66,67% 33,33% 19,54% 80,46% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.14 Penerimaan Pesanan dan Penawaran Barang atau Jasa Melalui Internet Pemanfaatan Internet Persentase Menerima Pesanan 45,97% Barang/Jasa Menawarkan barang jasa 52,31% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 93

LAMPIRAN Tabel 4.15 Kegiatan Penggunaan Internet PMDN, PMA dan Joint Venture Status Kepemilikan Modal Menerima Pesanan Barang/Jasa Menawarkan barang jasa Ya Tidak Ya Tidak PMDN 46,08% 53,92% 52,53% 47,47% PMA 48,39% 51,61% 54,84% 45,16% Joint Venture 33,33% 66,67% 33,33% 66,67% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.16 Kegiatan Penggunaan Internet Berdasar Skala Usaha Skala Usaha Menerima Pesanan Barang/Jasa Menawarkan barang jasa Ya Tidak Ya Tidak Skala Mikro ( <5 ) 44,26% 55,74% 47,54% 52,46% Skala Kecil ( 5-19 ) 50,32% 49,68% 55,06% 44,94% Skala Menengah ( 20-99 ) 41,13% 58,87% 49,78% 50,22% Skala Besar ( >99 ) 44,19% 55,81% 52,33% 47,67% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 4.17. Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan Aktivitas Internet Jumlah Persentase Perusahaan Mengirim dan menerima email 678 18,74% Mencari informasi mengenai barang atau jasa 560 15,48% Mengirim pesan melalui Instant Messaging 419 11,58% Menyediakan pelayanan bagi pelanggan 357 9,87% Internet Banking 354 9,79% Mencari informasi mengenai organisasi 317 8,76% pemerintahan Mengakses fasilitas finansial lainnya 234 6,47% Bekomunikasi dengan organisasi pemerintahan 199 5,50% Merekrut pegawai baru 172 4,76% Memberikan pelatihan bagi karyawan 118 3,26% Delivering produk yang dijual secara online 114 3,15% Teleconference melalui VoIP 94 2,60% Lainnya:Promosi hotel 1 0,03% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 94

LAMPIRAN Tabel 4.18 Kegiatan Lain Penggunaan Internet Oleh Perusahaan Berdasar Skala Usaha Aktivitas Internet Jumlah Perusahaan Berdasarkan Skala Usaha (Jumlah Tenaga Kerja) Skala Mikro ( <5 ) Skala Kecil ( 5-19 ) Skala Menengah ( 20-99 ) Skala Besar ( >99 ) Persentase Perusahaan Berdasarkan Skala Usaha (Jumlah Tenaga Kerja) Skala Mikro ( <5 ) Skala Kecil ( 5-19 ) Skala Menengah ( 20-99 ) Mengirim dan menerima email 58 308 227 85 95,08% 97,47% 98,27% 98,84% Mencari informasi mengenai barang 48 255 182 75 78,69% 80,70% 78,79% 87,21% atau jasa Mencari informasi mengenai organisasi 19 124 111 63 31,15% 39,24% 48,05% 73,26% pemerintahan Internet Banking 23 137 136 58 37,70% 43,35% 58,87% 67,44% Mengirim pesan melalui Instant 37 174 156 52 60,66% 55,06% 67,53% 60,47% Messaging Menyediakan pelayanan bagi pelanggan 27 161 121 48 44,26% 50,95% 52,38% 55,81% Merekrut pegawai baru 6 56 63 47 9,84% 17,72% 27,27% 54,65% Bekomunikasi dengan organisasi 9 66 78 46 14,75% 20,89% 33,77% 53,49% pemerintahan Mengakses fasilitas finansial lainnya 14 83 93 44 22,95% 26,27% 40,26% 51,16% Teleconference melalui VoIP 2 25 39 28 3,28% 7,91% 16,88% 32,56% Memberikan pelatihan bagi karyawan 5 34 55 24 8,20% 10,76% 23,81% 27,91% Delivering produk yang dijual secara 11 52 33 18 18,03% 16,46% 14,29% 20,93% online Lainnya:Promosi hotel 0 1 0 0 0,00% 0,32% 0,00% 0,00% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Bisnis Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Skala Besar ( >99 ) 95

LAMPIRAN Tabel 5.1 Proporsi Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur Tahun Banyaknya Perusahaan Banyaknya Perusahaan TIK Persentase Industri TIK Terhadap Industri Manufaktur 2006 29468 274 1,13% 2007 27998 324 1,18% 2008 25694 320 1,20% 2009 25007 300 1,26% Sumber: Diolah dari data BPS Tahun Tabel 5.2 Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur Jumlah Tenaga Kerja Industri Total Jumlah Tenaga Kerja Industri TIK Proporsi Tenaga Kerja Industri TIK Terhadap Tenaga Kerja Industri Manufaktur 2006 4755703 163 908 3,52% 2007 4624937 167 196 3,80% 2008 4457932 172 191 3,16% 2009 4405643 137 877 3,65% Sumber: Diolah dari data BPS Tabel 5.3 Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur Tahun Nilai tambah industri total Nilai tambah industri TIK Kontribusi Nilai Tambah Industri TIK Terhadap Nilai Tambah Industri Manufaktur 2006 485157 16 979 4,42% 2007 563484 21 232 3,99% 2008 683035 22 244 2,91% 2009 746526 19 567 3,35% Sumber: Diolah dari data BPS 96

LAMPIRAN Tabel 5.4 Impor Barang-barang Perlengkapan Telekomunikasi Total Impor Barang Perlengkapan 1402 1337,6 2486,1 6776,7 4893,6 Telekomunikasi Total Import Industri manufaktur 57700,9 61065,5 74473,4 129197,3 96829,2 Kontribusi impor perlengkapan 2,43% 2,19% 3,34% 5,25% 5,05% telekomunikasi terhadap total impor Sumber: Diolah dari data BPS Tabel 5.5 Negara Asal Pengimpor Perlengkapan Telekomunikasi Negara Asal 2005 2006 2007 2008 2009 Cina 210,5 265,3 741,7 2033,4 1848 Hongkong 41,7 55,1 136,8 637,7 542,3 Singapura 29 77,2 77,3 1050,1 395,7 Korea selatan 79,2 50,6 114,6 434,2 366,8 Swedia 242,2 288,2 411,6 542,3 340,2 Jepang 55,9 55,1 82,4 518,6 280 Malaysia 33,9 46,1 57,5 203,1 117,9 Jerman 261 93 282,3 254,8 114,4 Finlandia 229 185 90,6 160,5 58 AS 42,7 45,9 63,1 66,9 50,6 Lainnya 176,9 176,1 428,2 775,1 779,7 Total 1402 1337,6 2486,1 6776,7 4893,6 Sumber: Diolah dari data BPS 97

LAMPIRAN Tabel 5.6 Ekspor Barang-barang Audio-Visual di Indonesia Total Ekspor Audio visual 2.842,2 2.722,1 2.620,6 2.867,2 3.432,0 (million USD) Total Ekspor Industri 85.660.000 100.798.600 114.100.900 137.020.400 116.510.000 Manufaktur Kontribusi Ekspor Audiovisual terhadap total 0,0033% 0,0027% 0,0023% 0,0021% 0,0029% ekspor Sumber: Diolah dari data BPS Tabel 5.7 Negara Tujuan Ekspor Barang-barang Audio-Visual Negara tujuan 2005 2006 2007 2008 2009 AS 757,1 457,9 375,2 451,6 628,0 Singapura 477,2 576,3 534,2 452,6 287,7 Jepang 244,2 187,6 209,9 247,4 205,7 Hongkong 107,0 175,2 217,5 192,2 181,2 Korea Selatan 91,3 81,3 87,3 136,1 155,4 Jerman 111,3 106,0 118,2 88,9 153,4 Belanda 114,9 100,8 66,7 128,3 147,5 Uni emirat Arab 99,3 90,9 79,6 101,5 106,6 Belgia 151,0 168,6 201,1 134,9 87,4 Finlandia 61,2 127,7 27,8 3,5 1,4 Lainnya 627,7 649,8 703,1 930,2 1.477,7 Total Ekspor Audio visual 2.842,2 2.722,1 2.620,6 2.867,2 3.432,0 (million USD) Sumber: Diolah dari data BPS 98

LAMPIRAN Tabel 5.8 Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Total Ekspor Computer dan komponennya (million USD) Total Ekspor Industry Manufaktur Kontribusi Ekspor Komputer dan komponen komputer terhadap total ekspor Sumber: Diolah dari data BPS 1.850.386,9 1.785.619,1 976.529,2 864.552,8 880.433,7 85.660.000 100.798.600 114.100.900 137.020.400 116.510.000 2,16% 1,77% 0,86% 0,63% 0,76% Tabel 5.9 Negara Tujuan Ekspor Komputer dan Perlengkapannya Negara tujuan 2005 2006 2007 2008 2009 Singapura 266.504,9 250.369,8 278.942,6 195.021,8 244.587,0 Cina 105.556,7 143.955,2 169.909,8 150.202,5 188.562,8 AS 343.637,4 215.697,6 72.801,0 67.778,1 71.613,5 Belanda 2.677.322,7 245.479,0 75.036,0 78.954,4 48.980,2 Jepang 373.592,1 248.894,6 143.517,4 157.764,5 48.101,7 Hongkong 69.709,1 125.816,6 14.457,9 21.910,2 33.061,0 Jerman 51.518,7 39.132,4 27.483,1 8.719,7 29.250,5 Thailand 21.809,7 51.023,9 27.925,4 23.535,5 29.176,2 Taiwan 32.105,6 48.740,6 6.809,8 5.780,3 6.500,4 Korea Selatan 13.339,9 43.444,5 4.609,2 4.022,8 3.794,4 Lainnya 305.290,1 373.064,9 155.037,0 150.963,0 246.806,0 Total Ekspor Computer 1.850.386,9 1.785.619,1 976.529,2 864.552,8 880.433,7 dan komponennya (million USD) Sumber: Diolah dari data BPS 99

LAMPIRAN Sumber: Tabel 6.1 Proporsi responden berdasarkan jenis sekolah Jenis Jumlah Persentase Sekolah NEGERI 558 70,10% SWASTA 238 29,90% T O T A L 796 100% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.2 Proporsi responden berdasarkan jenjang pendidikan Jenjang Jumlah Persentase Pendidikan SD 466 58,54% SMP 174 21,86% SMA 89 11,18% SMK 67 8,42% T O T A L 796 100% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.3 Proporsi responden berdasarkan jenis sekolah dan jenjang pendidikan Jenjang Jumlah Persentase Pendidikan NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA SD 363 103 77,90% 22,10% SMP 111 63 63,79% 36,21% SMA 54 35 60,67% 39,33% SMK 30 37 44,78% 55,22% T O T A L 558 238 70,10% 29,90% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 100

LAMPIRAN Tabel 6.4 Proporsi sekolah dengan penggunaan sarana TIK Penggunaan TIK Jumlah Persentase Ya Tidak Ya Tidak Menggunakan radio 181 615 22,74% 77,26% Menggunakan 391 405 49,12% 50,88% televisi Menggunakan 756 40 94,97% 5,03% telepon Menggunakan 785 11 98,62% 1,38% komputer Memiliki internet 641 155 80,53% 19,47% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.5 Proporsi sekolah dengan penggunaan sarana TIK berdasarkan jenis sekolah Jumlah Persentase Penggunaan TIK NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Menggunakan 119 439 62 176 21,33% 78,67% 26,05% 73,95% radio Menggunakan 264 294 127 111 47,31% 52,69% 53,36% 46,64% televise Menggunakan 520 38 236 2 93,19% 6,81% 99,16% 0,84% telepon Menggunakan 548 10 237 1 98,21% 1,79% 99,58% 0,42% komputer Memiliki internet 435 123 206 32 77,96% 22,04% 86,55% 13,45% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan, Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 101

LAMPIRAN Tabel 6.6 Rata-rata waktu penggunaan sarana TIK dalam kegiatan belajar mengajar Sumber: Sarana TIK Rata-rata Komputer 6,5 Internet 4,1 Radio 2,2 Televisi 3,3 Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.7 Rata-rata kegiatan belajar mengajar mata pelajaran yang menggunakan TIK Mata Pelajaran Rata-rata Matematika 2,9 Ilmu Pengetahuan Alam 2,8 Kemampuan Dasar 3 Komputer/Keterampilan Komputer Bahasa 3 Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.8 Rata-rata waktu kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan TIK berdasarkan jenis sekolah Mata Pelajaran Jenis Sekolah NEGERI SWASTA Matematika 2,9 2,9 Ilmu Pengetahuan Alam 2,9 2,6 Kemampuan Dasar 3 3,1 Komputer/Keterampilan Komputer Bahasa 2,9 3,1 Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 102

LAMPIRAN Tabel 6.9 Proporsi penggunaan komputer berdasarkan kegiatan Kegiatan Jumlah Persentase Kegiatan Belajar 20.780 86,50% Mengajar Kegiatan Administrasi 3.244 13,50% T O T A L 24.024 100% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.10 Kegiatan penggunaan komputer berdasarkan dan koneksivitas internet Kegiatan Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Jumlah Persentase Terkoneksi Tidak Terkoneksi Terkoneksi Tidak Terkoneksi Kegiatan Belajar 15.027 5.753 72,31% 27,69% Mengajar Kegiatan Administrasi 2.401 843 74,01% 25,99% T O T A L 17.428 6.596 72,54% 27,46% 103

LAMPIRAN Tabel 6.11 Pengajaran keterampilan komputer dasar Sumber: Mengajarkan Jumlah Persentase Komputer Dasar Ya 661 83,04% Tidak 135 16,96% T O T A L 796 100% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.12 Kurikulum pelajaran keterampilan komputer dasar Kurikulum Jumlah Persentase Microsoft Office 655 99,09% Open Office 171 25,87% Desain Grafis 239 36,16% Pemrograman 95 14,37% Lainnya 191 28,90% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.13 Koneksi internet yang digunakan di sekolah Sumber: Koneksi Jumlah Persentase JARDIKNAS 248 38,69% Narrowband 41 6,40% Fixed Broadband 412 64,27% Mobile Broadband 75 11,70% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Sumber: Tabel 6.14 Sekolah yang memberikan pekerjaan rumah melalui internet Memberikan pekerjaan rumah Jumlah Persentase dengan mengakses internet Ya 628 78,89% Tidak 168 21,11% T O T A L 796 100% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 104

LAMPIRAN Tabel 6.16 Sekolah yang memberikan pekerjaan rumah melalui internet berdasarkan jenis sekolah Memberikan pekerjaan Jumlah Persentase rumah dengan mengakses internet NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA Ya 419 209 75,09% 87,82% Tidak 139 29 24,91% 12,18% Sumber: T O T A L 558 238 100% 100% Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.17 Kepemilikan website dan Pemberian akun email Ketersediaan Jumlah Persentase Website/Email NEGERI SWASTA NEGERI SWASTA Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Memiliki Website 180 378 105 133 32,26% 67,74% 44,12% 55,88% Memberikan akun email 86 472 45 193 15,41% 84,59% 18,91% 81,09% pengajar Memberikan akun email siswa 58 500 23 215 10,39% 89,61% 9,66% 90,34% Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Sumber: Tabel 6.18 Rasio guru mengajar keterampilan komputer Jenis Rasio Sekolah NEGERI 0,06 SWASTA 0,08 Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.19 Rasio guru yang mengajar keterampilan komputer dasar berdasarkan jenjang pendidikan Sumber: Jenjang Rasio Pendidikan SD 0,06 SMP 0,05 SMA 0,05 SMK 0,09 Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 105

LAMPIRAN Tabel 6.20 Rasio guru yang pernah/sedang mengikuti pelatihan TIK berdasarkan jenis sekolah Jenis Sekolah Rasio NEGERI 0,37 SWASTA 0,26 Sumber: Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.21 Rasio guru mengikuti pelatihan TIK berdasarkan jenjang pendidikan Sumber: Jenjang Pendidikan Rasio SD 0,23 SMP 0,37 SMA 0,56 SMK 0,28 Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo Tabel 6.22 Rasio siswa mengakses internet untuk pembelajaran Sumber: Jenis sekolah Rasio Negeri 0,37 Swasta 0,45 Survei Akses dan Penggunaan TIK di Sektor Pendidikan Pusat Data dan Sarana Informatika Kominfo 106

LAMPIRAN Tabel 7.1 Teledensitas Telepon Tetap Negara Asia terpilih, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 23,35 23,10 21,65 21,07 21,00 20,56 20,03 Cambodia 0,24 0,25 0,19 0,27 0,31 0,39 2,54 Indonesia 4,62 5,94 6,45 8,40 12,93 14,30 15,83 Lao PDR 1,32 1,58 1,58 1,60 2,12 1,64 1,66 Myanmar 0,92 1,09 1,23 0,99 1,07 1,16 1,26 Philiphina 4,10 3,94 4,17 4,44 4,52 7,40 7,27 Singapura 44,64 43,23 42,03 40,61 39,31 38,94 39,00 Thailand 10,31 10,55 10,51 10,36 10,83 10,49 10,14 Vietnam 12,31 10,19 13,13 17,18 20,05 18,67 Malaysia 17,37 16,73 16,33 16,08 16,41 16,19 16,10 Korea 50,33 50,81 47,46 48,44 51,03 56,11 59,24 China 23,97 26,80 27,98 27,67 25,62 23,50 21,95 India 4,11 4,40 3,52 3,34 3,18 3,07 2,87 Jepang 47,20 45,93 44,30 40,50 38,27 35,06 31,94 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 Tabel 7.2 Teledensitas Telepon Tetap Negara ASEAN, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 23,35 23,10 21,65 21,07 21,00 20,56 20,03 Cambodia 0,24 0,25 0,19 0,27 0,31 0,39 2,54 Indonesia 4,62 5,94 6,45 8,40 12,93 14,30 15,83 Lao PDR 1,32 1,58 1,58 1,60 2,12 1,64 1,66 Myanmar 0,92 1,09 1,23 0,99 1,07 1,16 1,26 Philiphina 4,10 3,94 4,17 4,44 4,52 7,40 7,27 Singapura 44,64 43,23 42,03 40,61 39,31 38,94 39,00 Thailand 10,31 10,55 10,51 10,36 10,83 10,49 10,14 Vietnam 12,31 10,19 13,13 17,18 20,05 18,67 Malaysia 17,37 16,73 16,33 16,08 16,41 16,19 16,10 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 107

LAMPIRAN Tabel 7.3 Teledensitas Telepon Bergerak Negara Asia terpilih, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 56,88 64,14 81,39 96,99 103,68 105,37 109,07 Cambodia 6,53 7,95 12,74 18,90 30,65 44,84 57,65 Indonesia 13,51 20,64 27,75 40,17 59,83 67,08 91,72 Lao PDR 3,60 11,43 17,28 24,93 33,58 52,92 64,56 Myanmar 3,50 7,24 10,99 14,12 19,72 26,12 30,88 Philiphina 39,24 40,66 49,21 64,68 75,54 82,43 85,67 Singapura 95,93 102,78 108,59 129,21 134,42 139,11 143,66 Thailand 41,44 46,68 60,53 78,14 90,58 95,99 100,81 Vietnam 6,03 11,54 22,47 52,96 87,11 113,03 175,30 Malaysia 57,10 74,88 73,21 86,31 100,77 107,85 121,32 Korea 57,10 74,88 73,21 86,31 100,77 107,85 121,32 China 25,74 30,09 35,07 41,42 48,28 55,97 64,04 India 4,65 7,91 14,35 19,90 29,13 43,48 61,42 Jepang 72,43 76,34 78,94 84,84 87,24 90,81 95,39 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 Tabel 7.4 Teledensitas Telepon Bergerak Negara ASEAN, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 56,88 64,14 81,39 96,99 103,68 105,37 109,07 Cambodia 6,53 7,95 12,74 18,90 30,65 44,84 57,65 Indonesia 13,51 20,64 27,75 40,17 59,83 67,08 91,72 Lao PDR 3,60 11,43 17,28 24,93 33,58 52,92 64,56 Myanmar 3,50 7,24 10,99 14,12 19,72 26,12 30,88 Philiphina 39,24 40,66 49,21 64,68 75,54 82,43 85,67 Singapura 95,93 102,78 108,59 129,21 134,42 139,11 143,66 Thailand 41,44 46,68 60,53 78,14 90,58 95,99 100,81 Vietnam 6,03 11,54 22,47 52,96 87,11 113,03 175,30 Malaysia 57,10 74,88 73,21 86,31 100,77 107,85 121,32 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 108

LAMPIRAN Tabel 7.5 Densitas Broadband Negara-negara Asia Terpilih, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 1,76 2,24 2,42 3,08 4,39 5,11 5,44 Cambodia 0,01 0,01 0,02 0,06 0,12 0,21 0,25 Indonesia 0,04 0,05 0,08 0,34 0,42 0,72 0,79 Lao PDR 0,00 0,01 0,01 0,08 0,10 0,14 0,19 Myanmar 0,00 0,00 0,01 0,01 0,02 0,03 0,03 Philiphina 0,11 0,14 0,30 0,56 1,16 1,88 1,85 Singapura 13,11 15,38 17,87 19,55 21,45 23,67 24,72 Thailand 0,11 0,16 1,35 2,63 3,34 3,87 Vietnam 0,06 0,25 0,61 1,52 2,38 3,70 4,13 Malaysia 0,99 1,85 2,82 3,79 4,79 5,98 7,32 Korea 25,46 25,91 29,71 31,99 33,35 35,03 36,63 China 1,92 2,86 3,87 5,03 6,24 7,79 9,42 India 0,02 0,12 0,20 0,27 0,44 0,64 0,90 Jepang 15,48 18,44 20,91 22,37 23,80 25,01 26,91 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 Tabel 7.6 Densitas Broadband Negara ASEAN, 2004-2010 Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 1,76 2,24 2,42 3,08 4,39 5,11 5,44 Cambodia 0,01 0,01 0,02 0,06 0,12 0,21 0,25 Indonesia 0,04 0,05 0,08 0,34 0,42 0,72 0,79 Lao PDR 0,00 0,01 0,01 0,08 0,10 0,14 0,19 Myanmar 0,00 0,00 0,01 0,01 0,02 0,03 0,03 Philiphina 0,11 0,14 0,30 0,56 1,16 1,88 1,85 Singapura 13,11 15,38 17,87 19,55 21,45 23,67 24,72 Thailand 0,11 0,16 1,35 2,63 3,34 3,87 Vietnam 0,06 0,25 0,61 1,52 2,38 3,70 4,13 Malaysia 0,99 1,85 2,82 3,79 4,79 5,98 7,32 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 109

LAMPIRAN Tabel 7.7 Pelanggan Fixed Internet per 100 Inhabitant Negara ASEAN Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Brunai D 4,94 4,95 4,75 15,39 21,95 25,56 Cambodia 0,06 0,06 0,08 0,11 0,14 Indonesia 0,39 0,60 0,82 1,18 0,68 0,73 Lao PDR 0,10 0,11 0,08 0,09 0,22 0,26 Myanmar 0,01 0,01 0,03 0,04 0,05 Philiphina 1,43 1,68 2,30 2,93 3,93 3,93 Singapura 53,87 52,86 52,23 42,04 23,72 25,22 Thailand 1,91 2,63 3,34 Vietnam 2,02 3,49 4,83 6,16 7,80 Malaysia 13,85 15,92 16,88 18,23 18,99 20,01 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 Tabel 7.8 Pelanggan Fixed Internet per 100 Inhabitant Negara Asia Terpilih Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Brunai D 4,94 4,95 4,75 15,39 21,95 25,56 Cambodia 0,06 0,06 0,08 0,11 0,14 Indonesia 0,39 0,60 0,82 1,18 0,68 0,73 Lao PDR 0,10 0,11 0,08 0,09 0,22 0,26 Myanmar 0,01 0,01 0,03 0,04 0,05 Philiphina 1,43 1,68 2,30 2,93 3,93 3,93 Singapura 53,87 52,86 52,23 42,04 23,72 25,22 Thailand 1,91 2,63 3,34 Vietnam 2,02 3,49 4,83 6,16 7,80 Malaysia 13,85 15,92 16,88 18,23 18,99 20,01 Korea 25,46 25,91 29,71 30,97 32,42 34,08 China 5,86 5,58 5,88 6,50 7,17 8,35 India 0,49 0,61 1,09 1,15 1,08 1,26 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 110

LAMPIRAN Tabel 7.9 Pengguna internet per 100 Inhabitan Negara ASEAN Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 29,72 36,47 42,19 44,68 46,00 49,00 50,00 Cambodia 0,30 0,32 0,47 0,49 0,51 0,53 1,26 Indonesia 2,60 3,60 4,76 5,79 7,92 8,70 9,10 Lao PDR 0,36 0,85 1,17 1,64 3,55 6,00 7,00 Myanmar 0,02 0,07 0,18 0,22 0,22 0,22 Philiphina 5,24 5,40 5,74 5,97 6,22 9,00 25,00 Singapura 62,00 61,00 59,00 68,00 69,00 69,00 70,00 Thailand 10,68 15,03 17,16 20,03 18,20 20,10 21,20 Vietnam 7,64 12,74 17,25 20,76 23,92 26,55 27,56 Malaysia 42,25 48,63 51,64 55,70 55,80 55,90 55,30 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 Tabel 7.10 Pengguna Internet per 100 inhabitan Asia Terpilih Negara 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Brunai D 29,72 36,47 42,19 44,68 46,00 49,00 50,00 Cambodia 0,30 0,32 0,47 0,49 0,51 0,53 1,26 Indonesia 2,60 3,60 4,76 5,79 7,92 8,70 9,10 Lao PDR 0,36 0,85 1,17 1,64 3,55 6,00 7,00 Myanmar 0,02 0,07 0,18 0,22 0,22 0,22 Philiphina 5,24 5,40 5,74 5,97 6,22 9,00 25,00 Singapura 62,00 61,00 59,00 68,00 69,00 69,00 70,00 Thailand 10,68 15,03 17,16 20,03 18,20 20,10 21,20 Vietnam 7,64 12,74 17,25 20,76 23,92 26,55 27,56 Malaysia 42,25 48,63 51,64 55,70 55,80 55,90 55,30 Korea 72,70 73,50 78,10 78,80 80,99 81,60 83,70 China 7,30 8,52 10,52 16,00 22,60 28,90 34,30 India 1,98 2,39 2,81 3,95 4,38 5,12 7,50 Jepang 62,39 66,92 68,69 74,30 75,40 78,00 80,00 Sumber: International Telecommunication Union (ITU), 2011 111

KOMINFO Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Gedung B Lantai 4 Jakarta Pusa 10110 Telp./Fax. (021) 3846189 web: www.balitbang.kominfo.go.id