VALIDASI LUAS LAHAN DAN PROFIL TAMBAK DI KABUPATEN BERAU

dokumen-dokumen yang mirip
PENENTUAN POTENSI LAHAN DAN PROFIL BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

VALIDASI LUAS TAMBAK DAN MASALAH PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU DI KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR

VALIDASI LUAS TAMBAK DI KABUPATEN LUWU

PENENTUAN LUAS, POTENSI DAN KESESUAIAN LAHAN TAMBAK DI SULAWESI SELATAN MELALUI PEMANFAATAN DATA SATELIT PENGINDERAAN JAUH

Pemantauan perubahan profil pantai akibat

KERAPATAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI DASAR REHABILITASI DAN RESTOCKING KEPITING BAKAU DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) POLA TRADISIONAL PLUS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA

POTENSI KEBERADAAN TEKNOLOGI TAMBAK INTENSIF DI KECAMATAN GANTARANG KABUPATEN BULUKUMBA, SULAWESI SELATAN: STUDI KASUS PT.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan jenis sumberdaya hayati pesisir dan laut seperti rumput laut dan lain-lain telah lama dilakukan oleh masyarakat nelayan Kecamatan Kupang

Validasi luas periodik dan penentuan luas potensi tambak... (Mudian Paena) Mudian Paena *), Akhmad Mustafa *), Hasnawi *), dan Rachmansyah *) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusman a et al, 2003). Hutan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

STUDI KESESUAIAN LAHAN TAMBAK DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENANGANAN KAWASAN BENCANA ALAM DI PANTAI SELATAN JAWA TENGAH

493 Kajian potensi kawasan pertambakan di Kabupaten Pangkep... (Utojo) ABSTRAK

DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG SELATAN

TINJAUAN PUSTAKA. lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut

PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

LAPORAN SURVEI PUSAT PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih km 2 (Moosa et al

Pemetaan Spasial Varietas Jagung Berdasarkan Musim Tanam di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan

I. PENDAHULUAN. luas dan garis pantai yang panjang menjadi daya dukung yang sangat baik untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

Pemetaan Pola Hidrologi Pantai Surabaya-Sidoarjo Pasca Pembangunan Jembatan Suramadu dan Peristiwa Lapindo Menggunakan Citra SPOT 4

BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,

BAB I PENDAHULUAN I-1

Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Perikanan di Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

Bab I Pendahuluan. I.1. Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Welly Yulianti, 2015

PENDEDERAN IKAN BERONANG (Siganus guttatus) DENGAN UKURAN TUBUH BENIH YANG BERBEDA

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

6 MODEL PENGEMBANGAN PESISIR BERBASIS BUDIDAYA PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

ANALISA KESEHATAN VEGETASI MANGROVE BERDASARKAN NILAI NDVI (NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX ) MENGGUNAKAN CITRA ALOS

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Wilayah pesisir mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pada 8 februari 2010 pukul Data dari diakses

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERSEN TASE (%) Dinas Kelautan dan Perikanan ,81 JUMLAH ,81

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) POLA EKSTENSIF PLUS DI LAHAN MARGINAL

BAB III METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi penelitian

I. PENDAHULUAN. kompleks, karena curah hujan yang tinggi akan meningkatkan laju erosi (Paiman dan

MATERI DAN METODE. Prosedur

KARAKTERISTIK KUALITAS PERAIRAN TAMBAK DI KABUPATEN PONTIANAK

Validasi luas lahah tambak di Kabupaten Pinrang... Mudian Paena *), Akhmad Mustafa *), Hasnawi *), dan Rachmansyah *) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan PDB Kelompok Pertanian di Indonesia Tahun

KONDISI TERKINI BUDIDAYA IKAN BANDENG DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

dan (3) pemanfaatan berkelanjutan. Keharmonisan spasial mensyaratkan bahwa dalam suatu wilayah pembangunan, hendaknya tidak seluruhnya diperuntukkan

PENDAHULUAN. lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi

PENGEMBANGAN POTENSI WISATA ALAM KABUPATEN TULUNGAGUNG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sekitar pulau

Sistem Informasi Geografis Potensi Produktivitas Pertambakan Di Kota Surabaya

BAB I PENDAHULUAN. pantai mencapai km dengan luas wilayah laut sebesar 7,7 juta km 2

Oleh: Irwandy Syofyan, Rommie Jhonerie, Yusni Ikhwan Siregar ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. (Bahari Indonesia: Udang [29 maret 2011Potensi]

ABSTRAK. Kata kunci : Keramba jaring tancap, Rumput laut, Overlay, SIG.


1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan. serta ada yang berskala kecil(said dan lutan, 2001).

STRATEGI PENGELOL AAN PAKAN YANG EFISIEN PADA BUDIDAYA UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei POL A SEMI-INTENSIF DI TAMBAK

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Persebaran Lahan Produksi Kelapa Sawit di Indonesia Sumber : Badan Koordinasi dan Penanaman Modal

FOKUS DAN RUANG LINGKUP MEDIA AKUAKULTUR INFORMASI INDEKSASI MEDIA AKUAKULTUR

I. PENDAHULUAN. Potensi perairan pantai Indonesia yang cukup luas adalah merupakan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Evaluasi Kesesuaian Lahan pada Kawasan Tambak Marjinal di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Ahmad Fahrizal*

DAYA DUKUNG LAHAN TAMBAK BUDIDAYA IKAN KERAPU (Ephinepelus spp) DI KECAMATAN BRONDONG KABUPATEN LAMONGAN. Agung Pamuji Rahayu*

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

KATA PENGANTAR. Banda Aceh, Desember Tim Penyusun. Daftar Isi - i

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

METODOLOGI BAB III Tinjauan Umum Diagram Alir BAB III METODOLOGI

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi

KAJIAN MORFODINAMIKA PESISIR KABUPATEN KENDAL MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH MULTI SPEKTRAL DAN MULTI WAKTU

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3Perubahan tutupan lahan Jakarta tahun 1989 dan 2002.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ujang Muhaemin A, 2015

DAFTAR TABEL. vii. Tabel 4.5 Perbandingan Pendapatan Budidaya Tambak di Kabupaten Pangkajene dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1291 Kajian aspek biologi dan sosial pada budidaya... (Nur Ansari Rangka) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

505 Validasi luas lahan dan profil tambak di Kabupaten Berau (Mudian Paena) VALIDASI LUAS LAHAN DAN PROFIL TAMBAK DI KABUPATEN BERAU ABSTRAK Mudian Paena, Hasnawi, dan Akhmad Mustafa Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan E-mail: mudianpaena@yahoo.co.id Peningkatan produksi perikanan harus didukung oleh ketersediaan data yang akurat, informasi inovasi teknologi yang sesuai, media alih teknologi, sarana dan prasarana. Keempat hal tersebut membutuhkan perhitungan estimasi yang tepat. Untuk mendapatkan data jumlah sarana dan prasarana yang tepat dan sesuai dibutuhkan data luas tambak aktual. Data luas tambak di Kabupaten Berau sudah ada namun masih perlu divalidasi mengingat data yang ada belum memberikan gambaran keakuratannya karena tidak menjelaskan metode pengambilan datanya. Pemanfaatan teknik penginderaan jauh dan SIG dalam menentuan luas tambak dianggap lebih efektif karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, hemat biaya, dan mengurangi pekerjaan teresterial. Selain itu data yang dihasilkan dari teknik ini dapat disajikan secara spasial dalam bentuk peta sehingga dapat dilakukan evaluasi dan pemantauan pola distribusi tambak dan kemungkinan perubahannya. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data luas tambak terbarukan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan data citra satelit ALOS akuisisi 2008, dipadukan dengan survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas tambak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sembaliung adalah 7.114,1 ha dimana sebesar 95-100% profil tambaknya masih belum teratur dan masih banyak sisa-sisa akar dan batang pohon mangrove. Disamping itu desain, tata letak dan konstruksi tambak yang baik dan benar belum diaplikasikan. KATA KUNCI: validasi luas, profil tambak, Kabupaten Berau PENDAHULUAN Kabupaten Berau yang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar. Berdasarkan data tahun 2009 tercatat bahwa luas lahan tambak di Kabupaten Berau mencapai 3.564,9 ha dengan produksi 309,3 ton (Anonim, 2009). Dari data tersebut menunjukkan bahwa rerata produksi hanya 86,76 kg/ ha, produksi tersebut pun belum dibedakan berdasarkan jenis komoditas yang dibudidayakan. Dengan demikian maka masih terdapat kemungkinan untuk meningkatkan produksi. Peningkatan produksi perikanan harus didukung oleh ketersediaan data yang akurat dan informasi inovasi teknologi yang sesuai serta media alih teknologi selain sarana dan prasarana. Keempat hal tersebut membutuhkan perhitungan estimasi yang tepat. Untuk mendapatkan data jumlah sarana dan prasarana yang tepat dan sesuai dibutuhkan data luas tambak aktual. Dengan luas tambak tersebut dapat ditentukan jumlah pupuk, pakan, dan komponen produksi lain selama satu musim atau siklus budidaya. Berdasarkan hal tersebut maka kebutuhan data luas tambak menjadi sangat penting. Perubahan luas tambak disebabkan oleh perubahan empat faktor yaitu perubahan penggunaan dan penutup lahan, perubahan profil pantai, perubahan kebutuhan masyarakat dan permintaan pasar, keempat faktor perubahan ini terus berjalan seiring dengan perubahan waktu. Mustafa dan Tarunamulia (2009), validasi data luas tambak dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan data terbaru luasan tambak yang ada dan perubahan luasan secara periodik. Perubahan penggunaan lahan dibeberapa tempat menunjukkan bahwa lahan tambak terdesak oleh perkembangan kota sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Mamuju, perubahan profil pantai terutama pada pantai-pantai tumbuh oleh karena sedimentasi telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai lahan baru untuk pembangunan tambak sebagimana yang terjadi di muara Sungai Saddang kabupaten Pinrang (Paena, 2008), sedangkan perubahan kebutuhan masyarakat dan permintaan pasar telah menjadi bukti pembukaan besar-besaran lahan tambak di Sulawesi Selatan pada tahun 1990-an karena keberhasilan budidaya udang windu (Mustafa et al., 2010. Fenomena

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 506 inipun terjadi hampir diseluruh wilayah pesisir Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Berau. Dengan demikian maka luas tambak yang ada di Kabupaten Berau perlu divalidasi kembali mengingat selain data yang ada belum memberikan gambaran keakuratannya karena belum menjelaskan metode pengambilan data serta kemungkinan adanya empat faktor perubahan tersebut di atas. Perhitungan luas tambak aktual dapat dilakukan dengan dua metode umum yaitu sensus dan teresterial. Metode sensus memiliki kelebihan terutama hemat dalam waktu dan biaya tetapi kelemahan yang mungkin terjadi adalah munculnya bias data yang sangat besar. Metode teresterial memiliki kelebihan, data yang dihasilkan memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan waktu survei yang lama dengan kebutuhan dana yang sangat besar. Oleh karena itu, metode ini hanya efektif pada daerah yang sempit (Paena et al, 2007). Metode teresterial umumnya dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), sementara itu lahan tambak yang ada di Kabupaten Berau belum sepenuhnya telah diukur oleh BPN sementara itu pembukaan lahan tambak di Kabupaten Berau semakin intensif. Perkembangan dan kemajuan teknologi telah memberikan dampak pada munculnya metode baru untuk menghitung luasan tambak, metode tersebut adalah pemanfaatan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG). Pemanfaatan teknik penginderaan jauh dan SIG dalam menentuan luas tambak dianggap lebih efektif karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, hemat biaya, dan mengurangi pekerjaan teresterial. Selain itu data yang dihasilkan dari teknik ini dapat disajikan secara spasial dalam bentuk peta sehingga dapat dilakukan evaluasi dan pemantauan pola distribusi tambak dan kemungkinan perubahannya. Dengan demikian data hasil kajian ini dapat dimanfaatkan untuk memvalidasi data luas tambak (Paena et al., 2007). Selanjutnya dikatakan bahwa, data yang akurat dan aktual mengenai luas tambak serta pola perkembangan spasialnya akan memberikan dampak positif pada semua stakeholder budidaya tambak. Hal ini penting terutama dalam perencanaan jumlah dan kualitas teknologi yang diterapkan serta sarana produksi lainnya, pemilihan manajemen dan kemungkinan skala pengelolaan, ketepatan perencanaan anggaran dan rekayasa keuntungan, perencanaan penggunaan dan alih fungsi lahan serta rencana pembangunan makro. Pemanfaatan teknik pengeinderaan jauh dan SIG semakin populer digunakan terutama untuk evaluasi lahan secara spasial. Beberapa penelitian yang memanfaatkan SIG telah dilakukan di beberapa daerah antara lain di Kabupaten Pinrang (Paena et al., 2007), Kepulauan Togean (Utojo et al., 2007), Kabupaten Luwu (Paena et al., 2008), Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka (Panjtara et al., 2008), perairan Kecamatan Moro Kabupaten Riau (Radiarta et al., 2008), Sulawesi Utara (Sudrajat et al., 2008), Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan SIG dapat memberikan solusi dalam pengembangan wilayah (keruangan). Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data luas tambak terbarukan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Citra ALOS akuisisi tahun 2008 dan peta administrasi Kabupaten Berau. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lapangan, GPS (Garmin 12 XL) dan perahu (spit boat). Sedangkan software yang digunakan untuk melakukan analisis spasial adalah Er Mapper 7.3 dan Arc View 3.3. Data yang dibuthkan dalam penelitian ini terbagi atas (1) data primer yang meliputi posisi (grid) beserta atributnya serta hasil wawancara tidak terbimbing yang dilakukan selama survei berlangsung, dan (2) data sekunder, meliputi berbagai informasi pendukung dari instansi terkait dan literatur yang ada hubungannya dengan lokasi dan topik penelitian. Prosedur penelitian dibedakan atas tiga tahapan yaitu; tahap pertama adalah pembuatan peta kerja; peta kerja dibuat dengan memanfaatkan software Er Mapper 7.3 dan Arc View 3.3 dan peta administrasi hasil digitasi, dimana citra ALOS terlebih dahulu dianalisis untuk menentukan komposit warna yang ideal sehingga kenampakan obyek tambak atau yang diduga tambak dapat dikenali dengan mudah terutama secara visual mengingat citra yang digunakan memiliki resolusi 10 meter. Dengan resolusi demikian maka petakan tambak yang umumnya lebih besar dari resolusi tersebut dengan jelas dapat dikenali pada layar komputer. Langkah selanjutnya adalah citra komposit tersebut

507 Validasi luas lahan dan profil tambak di Kabupaten Berau (Mudian Paena) digabung dalam layer yang sama dengan peta administrasi dengan menggunakan Arc View sehingga terbentuk projek. Selanjutnya dilakukan layout dengan menambahkan toponomi secukupnya hingga menghasilkan peta kerja. Tahap kedua adalah survei lapangan; survei dilakukan dengan mengunjungi sentra-sentra budidaya yang ada, terutama yang tersebar di pulau-pulau kecil yang terletak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sambaliung. Data posisi dan atributnya merupakan data utama yang dicatat selama survei, selain wawancara. Selanjutnya adalah tahap ketiga; dimana data posisi di lapangan ditampilkan dalam satu layar dengan citra. Tampilan tersebut akan membantu dalam menganalisis lokasi tambak yang sesungguhnya sebelum proses digitasi dilakukan. Proses digitasi dilakukan disetiap lokasi tambak dengan identitas yang berbeda pada setiap lokasi, tujuannya adalah untuk memudahkan perhitungan luas baik berdasarkan pulau maupun kecamatan. Poligon hasil digitasi selanjunya dilayout untuk menghasilkan peta sebaran tambak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sambaliung Kebupaten Berau tahun 2010. HASIL DAN BAHASAN Luas tambak di Kabupaten Berau pada tahun 2010 tepatnya di Kecamatan Kepulauan Derawan dan Sembaliung mencapai 7.114,1 ha (Tabel 1 dan Gambar 1). Dari jumlah tersebut, hanya 535,702 ha (7,53%) yang berada di daratan utama sedangkan 92,46% (6.578,398 ha) terdapat di pulau-pulau. Dari 10 pulau yang ada maka pulau Lungsurannaga merupakan pulau yang memiliki luas tambak terbesar mencapai 2.551,296 ha atau sekitar 35,86% dari total luas tambak yang ada, dan sebaran tambak yang paling sedikit terdapat di Pulau Nakal sekitar 161,553 ha atau sekitar 2,27% dari total luas tambak yang ada. Bersadarkan análisis spasial yang dilakukan dapat diketahui luas masing-masing pulau yang ada di Kabupaten Berau berikut persentasi luas yang dimanfaatkan untuk lahan tambak. Total luas pulau mencapai 33.452,828 ha, pulau Lunsurannaga merupakan pulau terluas dengan luas mencapai 7.509,010 ha atau sekitar 22,44% dari total luas pulau yang ada, sedangkan pulau terkecil adalah Pulau Tidung dengan luas 327,872 ha atau hanya 0,98%. Pulau Nakal merupakan pulau yang memiliki perbandingan terbesar antara luas pulau dengan luas tambak dimana dari total luas pulau telah termanfaatkan sebagai tambak sebesar 41,997%, sedangkan pulau Telasua merupakan pulau yang memiliki persentasi terendah yaitu 3,147% yang telah dimanfaatkan untuk tambak. Data tersebut juga memberikan gambaran bahwa dari total luas pulau telah dimanfaatkan sebagai tambak sebesar 19,773%. Tabel 1. Sebaran dan luas tambak yang ada di Kecamatan Pulau Derawan dan Sambaliung Kabupaten Berau tahun 2010 Nama daerah Luas tambak Luas pulau (ha) Luas tambak per luas pulau persen tambak/luas (ha) Kasai-Teluk Semanting 139,00 Pulau Badak-Badak 177,38 1.150,39 0,15 15,42 Pulau Tidung 57,34 327,87 0,17 17,49 Pulau Tempurung 279,46 1.344,14 0,21 20,79 Pulau Kolowan 856,36 6.242,07 0,14 13,72 Pulau Guntung/Derawan 1.115,33 3.895,02 0,29 28,63 Pulau Telasau 33,27 1.057,13 0,03 3,15 Pulau Soadangbesar 1.001,35 6.239,86 0,16 16,05 Pulau Nakal 161,55 384,68 0,42 42,00 Pulau Pagat 345,06 5.302,66 0,07 6,51 Pulau Lungsurannaga 2.551,30 7.509,01 0,34 33,98 Daerah I yang disurvei 396,70 Total luas 7.114,10 33.452,83 1,98 19,80

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 508 Gambar 1. Peta sebaran tambak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sembaliung Kabupaten Berau pada tahun 2010 Data luas yang diperoleh dari dinas terkait menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian (Tabel 2). Jika membandingkan data luas tahun 2009 maka terdapat perbedaan luas tambak mencapai 3.403,4 ha. Data luas pada 10 tahun terakhir, tidak menyajikan data luas tahun 2004 sedangkan data tahun 2003 dan tahun 2005 hanya menyajikan data potensi. Seluruh tambak yang ada di Kabupaten Berau memiliki profil sebagai tambak tradisional sebagaimana yang dijumpai pada umumnya tambak-tambak tradisional di Indonesia, dimana setiap petakan dapat mencapai luas di atas 25 ha, walaupun telah ada yang dipetakan secara teratur namun Tabel 2. Data perkembangan luas tambak, produksi dan nilai produksi Kabupaten Berau Tahun Luas lahan Produksi Nilai produksi (ha) (ton) (Rp x1.000) 2000 511,4 27,5 579.510.000 2001 1.100,7 52,2 1.418.800.000 2002 1.147,5 68,2 1.956.100.000 2003 20.850,0 92,0-2004 - - - 2005 20.850,0 162,7 3.473.650.000 2006 3.542,9 218,0 4.785.950.000 2007 3.564,9 309,3 6.580.500.000 2008 3.624,9 349,0 6.867.000.000 2009 3.710,7 309,2 7.448.100.000

509 Validasi luas lahan dan profil tambak di Kabupaten Berau (Mudian Paena) pesrsentasenya hanya mencapai 5-10% dari total luas tambak, 95-100% belum teratur dan belum bersih. Tambak yang ada umumnya belum bersih dari bekas akar dan pohon mangrove, disisi lain pembukaan lahan terus dilakukan. Secara teknik umumnya tambak yang ada di Kabupaten Berau belum menerapkan rekayasa tambak yang benar. Menurut Mustafa (2008), salah satu faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tambak adalah rekayasa tambak yang mencakup desain, tata letak dan konstruksi tambak. Selanjutnya dijelaskan bahwa secara umum desain tambak merupakan perencanaan bentuk tambak yang meliputi ukuran panjang dan lebar petakan, kedalaman, ukuran pematang, ukuran berm, dan ukuran saluran keliling serta ukuran dan letak pintu air. Tata letak suatu unit tambak harus memenuhi tujuan untuk menjamin kelancaran mobilitas operasional sehari-hari, menjamin kelancaran dan keamanan pasokan air serta pembuangannya, dan menekan biaya konstruksi tanpa mengurangi fungsi teknis dari unit tambak yang dibangun. Bersadarkan luas, profil dan rekayasa tambak maka perlu ditetapkan model pengembangan dan pengelolaan tambak yang ada di Kabupten Berau, selain belum tertata dengan baik sesuai dengan pengelolaan tambak yang baik dan benar juga karena laju pembukaan lahan untuk tambak sangat tinggi yang kemungkinannya dapat menurunkan kualitas lingkungan dimasa mendatang. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan: 1. Luas tambak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sembaliung Kabupaten Berau mencapai 7.114,1 ha dan luas total pulau-pualunya adalah 33.452,828 ha. 2. Profil tambak di Kecamatan Pulau Derawan dan Sambaliung Kabupaten Berau, seluruhnya masih tradisional dan hanya 5 10 % yang petakannya teratur, dan sekitar 95-100% tambaknya masih terdapat bekas akar dan pohon mangrove. 3. Desain, tata letak dan konstruksi tambak yang baik dan benar belum seluruhnya dapat diaplikasikan oleh pembudidaya. Perlu dibuat model pengelolaan dan pengembangan budidaya tambak di Kabupaten Berau, mengingat intensitas pembukaan lahan baru sangat intensif dilakukan, selain itu belum diterapkannya rekayasa teknik tambak ang baik dan benar. DAFTAR ACUAN Anonim, 2009. Laporan tahunan. Dinas Perikanan dan Kelautan. Pemerintah Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. 64 hal. Anonim, 2009. Laporan statistik perikanan Kabupaten Berau. 66 hal. Mustafa, A dan Tarunamulia, 2009. Penentuan luas, potensi dan kesesuaian lahan tambak di Sulawesi Selatan melalui pemanfaatan data satelit penginderaan jauh. Media Akuakultur 3 (2): 93-103. Mustafa, A. 2008. Disain, tata letak, dan konstruksi tambak. Media Akuakultur 3 (2): 166-174. Mustafa, A., Sapo, I., Paena, M., 2010. Studi penggunaan produk kimia dan biologi pada budidaya udang váname (Litopenaeus vannamei) di tambak Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Jurnal Riset Akuakultur 5 (1): 115-133. Paena, M., Mustafa, A., Hasnawi dan Rachmansyah, 2007. Validasi lahan tambak di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Jurnal Riset Akuakultur 2 (3): 329-343. Paena, M., Mustafa, A., Hasnawi dan Rachmansyah, 2008. Validasi luas periodik dan penentuan luas potensi tambak di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Jurnal Riset Akuakultur 3 (1): 137-146. Paena, M., 2008. Pemanfaatan teknik penginderaan jauh dan sisitem informasi geografis untuk memantau perubahan profil pantai akibat sedimentasi di muara Sungai Saddang Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Media Akuakultur 3 (2): 175-180. Panjtara, B., Utojo, Aliman dan Mangampa, M., 2008. Kesesuaian lahan budidaya tambak di Kecamatan watubangga Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Jurnal Riset Akuakultur 3 (1): 123-135.

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 510 Radiarta, I.N., Prihadi, T.H, Saputra, A., Haryadi, J. dan Johan,O., 2008. Penentuan lokasi budidaya rumput laut (Eucheuma spp) berdasarkan parameter lingkungan di perairan Kecamatan Moro Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Riset Akuakultur 3 (1): 123-135. Sudrajat, A., Saputra, A., Prihadi, T.H dan Hidayat, A., 2008. Kajian potensi kawasan budidaya laut di Provinsi Sulawesi Utara dengan pendekatan sistem informasi geografis. Teknologi Perikanan Budidaya. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Hal 401-414. Utojo, Mansyur, A., Mustafa, A., Hasnawi dan Tangko, AM., 2007. Pemilihan lokasi budidaya ikan, rumput laut dan tiram mutiara yang ramah lingkungan di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah. Jurnal Riset Akuakultur 2 (3): 303-318.