BAB V KONSEP PERANCANGAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB 3 SRIWIJAYA ARCHAEOLOGY MUSEUM

Zona lainnya menjadi zona nista-madya dan utama-madya.

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep tersebut berawal dari tema utama yaitu Analogy pergerakan air laut, dimana tema

3.6. Analisa Program Kegiatan Sifat Kegiatan Konsep Rancangan Konsep Perancangan Tapak Konsep Tata Ruang 75

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

BAB VI HASIL RANCANGAN. dalam perancangan yaitu dengan menggunakan konsep perancangan yang mengacu

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI SENI LUKIS MODERN DI YOGYAKARTA

BAB V KONSEP PERANCANGAN UMUM

BAB V KONSEP 5.1 Konsep Tata Ruang Luar Gambar 5.1 Skema Site Plan

BAB VI HASIL RANCANGAN. Hasil rancangan adalah output dari semua proses dalam bab sebelumnya

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan

Bab V Konsep Perancangan

KONSEP DESAIN Konsep Organisasi Ruang Organisasi Ruang BAB III

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Seni Tradisi Sunda di Ciamis Jawa Barat menggunakan

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

dan perancangan Pasar Seni di Muntilan adalah bagaimana wujud rancangan sebagai tempat pemasaran dan wisata berdasarkan kontinuitas antar ruang

BAB V KONSEP. V.1.1. Tata Ruang Luar dan Zoning Bangunan

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA

BAB VI KONSEP PERANCANGAN

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III. Ide Rancangan. pengganti material kayu yang semakin susah diperoleh dan semakin mahal harga

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BABV ADAPTIVE RE-USE. Upaya yang akan dilakukan untuk perencanaan perubahan fungsi bangunan Omah Dhuwur Gallery adalah sebagai berikut:

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Transformasi pada objek

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Gambar 6.1 Konsep Hasil Perumusan Pendekatan Konsep Sumber : Analisa Penulis

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut :

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN

MUSEUM TELEKOMUNIKASI DI SURAKARTA

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

BAB III METODE PERANCANGAN. Pembahasan yang dikemukakan dalam bagian bab ini ditujukan untuk

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan yang digunakan dalam perancangan kembali pasar

BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN. memproduksi, memamerkan dan mengadakan kegiatan atau pelayanan yang

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

TAMAN REKREASI AIR DI PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB 6 HASIL RANCANGAN. pemikiran mengenai sirkulasi angin kawasan serta pemaksimalan lahan sebagai

Perancangan Convention and Exhibition di Malang

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB V KONSEP PERANCANGAN

TEMA DAN KONSEP. PUSAT MODE DAN DESAIN Tema : Dinamis KONSEP RUANG KONSEP TAPAK LOKASI OBJEK RANCANG

BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN INTERMODA DI TANGERANG

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

Penjelasan Skema : Konsep Citra yang diangkat merupakan representasi dari filosofi kehidupan suku Asmat yang berpusat pada 3 hal yaitu : Asmat sebagai

BAB V KONSEP. a. Memberikan ruang terbuka hijau yang cukup besar untuk dijadikan area publik.

BAB III KONSEP. Konsep edukasi pada redisain galeri Saptohoedojo ini ditekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep pada Hasil Rancangan. sebelumnya didasarkan pada sebuah tema historicism sejarah Singosari masa

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

V. KONSEP PENGEMBANGAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB V KONSEP PERANCANGAN. 5.1 Konsep Utama: Optimalisasi Lahan dengan Pengembangan Elemen Pembatas Sarana

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

5.1.1 Perubahan pada denah Perubahan pada struktur dan penutup atap D Interior dan exterior ruangan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TEMPAT ISTIRAHAT KM 166 DI JALAN TOL CIKOPO-PALIMANAN

BAB VI HASIL RANCANGAN

Lapas Kelas I A Kedungpane

Transkripsi:

BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Utama Benteng Van den Bosch awalnya merupakan sebuah benteng yang digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai zona pertahanan. Kini pemerintahan setempat membuka Benteng Van den Bosch sebagai tempat wisata. Meski telah dibuka untuk umum, tidak adanya penyesuaian desain mengakibatkan bangunan benteng hanya berperan sebagai tempat mati. Seingga perlu ditambahan sebuah fungsi baru di benteng yang sifatnya dapat mendukung benteng agar lebih dapat diterima oleh masyarakat.

Bentuk yang dinilai sesuai adalah museum. Museum menekankan pada elemen pendidikan yang mengedepankan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.. Selain itu, penekanan elemen pendidikan di cagar budaya dipilih karena pelestarian akan lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan pendidikan. Beberapa aspek di site yang melatarbelakangi pengembangan desain benteng dijawab dengan konsep contextual complexity. Konsep tersebut mengolah aspek fungsi, estetika, sejarah, kenyamanan ruang, edukasi dan psikologi secara kompleks kedalam sebuah ide desain museum yang kontras secara bentuk, namun fungsinya mengakomodasi apa yang dibutuhkan oleh site. Metode penggabungan yang dipilih untuk menyatukan fungsi benteng dan museum adalah hybrid architecture. Jenis penggabungan yang digunakan adalah fusi (fusion) dimana museum dan benteng menyatu dan menghasilkan fungsi baru yang berbeda namun merupakan paduan dari keduanya, yaitu Museum Benteng. Gambar 5.1. Konsep Museum Benteng Van den Bosch (Sumber : Analisis, 2016).

Gambar 5.3. Diagram Pameran dan Bangunan Peninggalan (Sumber : Analisis, 2016). Pada Musuem Kolumba yang menggunakan konsep yang sama, terdapat pemisah antara benda display dengan bangunan yang digunakan. Bangunan peninggalan sejarah terletak di bagian bawah dan benda pameran terletak dibagian atas, sedangkan museum menjadi bangunan yang melingkupinya. Pada Museum Benteng benda display dan bangunan peninggalan sejarah menyatu menjadi objek yang dipamerkan. Selain itu, bangunan peninggalan juga berperan pula sebagai museum yang mewadahi kegiatan pameran dan pembelajaran dari benda dan bangunan yang dipamerkan. 5.2 Konsep Desain Zonasi Berdasarkan sifatnya, ruang-ruang di museum dibagi menjadi dua katergori, yaitu 1. Zona Privat Zona privat merupakan zona khusus yang hanya dapat diakses oleh pekerja museum dan benteng. Area ini meliputi fungsi pengelolaan dan utilitas di benteng. 2. Zona semi privat Zona semi privat adalah zona yang dapat diakses oleh pengurus museum secara umum dan pengunjung secara terbatas. Zona ini meliputi ruang tamu dan drop off.

3. Zona Publik Zona publik adalah area yang secara bebas dapat dikunjungi oleh wisatawan Benteng Van den Bosch. Zona ini berupa ruang dalam bangunan museum benteng dan juga area outdoor benteng. Penataan zonasi pada Museum Benteng Van den Bosch berdasarkan sirkulasi dasar yang dari awal sudah didesain oleh perancang musem. Selain itu, museum yang berperan sebagai fungsi baru, penataan zonanya mempertimbangan kelayakan bangunan dalam pengembangan. Berdasarkan kegiatan yang ada pada tempat wisata Museum Benteng Van den Bosch, berikut kategori zona yang ada: 1. Zona Fasilitas Publik Area ini berupa ruang-ruang yang ada pada standard museum seperti entrance, lobi, ruang informasi, ruang tiket, ruang pameran permanen dan temporer serta ruang audiovisual. Keseluruhan ruangan ini merupakan ruangan inti dari Museum Benteng Van den Bosch. Gambar 5.4. Zonasi di Site (Sumber :Analisis, 2015). 2. Zona Fasilitas Pengunjung Zona fasilitas pengunjung merupakan fasilitas penunjang yang standard ada pada setiap tempat wisata. Zona ini terdiri dari kafetaria, toko souvenir, taman bermain dan mushola. Fasilitas

penunjang ini berfungsi untuk menigkatkan daya tarik dan kenyamanan bagi para wisatawan. 3. Zona Fasilitas Teknik Fasilitas teknis merupakan zona privat standar yang ada pada sebuah museum. Zona ini terdiri dari ruang konservasi, ruang registrasi, ruang koleksi, ruang arsip, ruang keamanan, ruang penerimaan dan area drop off. 4. Zona Fasilitas Pengelola Zona ini terdiri dari ruang kepala museum, ruang rapat, ruang administrasi, ruang oprasional, ruang tata usaha dan ruang tamu. Keseluruhan ruang tersebut merupakan ruang privat dan ruang semi privat yang hanya dapat diakses oleh pekerja pada museum dan tamu khusus yang berhubungan dengan museum benteng. 5. Zona Fasilitas Servis Fasilitas servis adalah fasilitas yang berfungsi untuk mendukung bangunan secara umum khususnya dari segi utilitas. Zona ini terdiri dari ruang genset, ruang panel, ruang pompa, janitor, gudang dan pantry. Ruangan-ruangan tersebut merupakan ruang privat yang tidak dapat diakses oleh pengunjung museum.

Gambar 5.5. Diagram Zonasi 5.3 Konsep Storyline 5.3.1 Konsep Ruang Indoor Sebagai sebuah museum, bangunan Benteng Van den Bosch membutuhkan alur cerita yang kuat sebagai nyawa. Storyline menjadi acuan untuk membentuk desain dan suasana yang akan diciptakan dalam tiap segmen museum. Pada bangunan Museum Benteng Van den Bosch, alur cerita dibagi menjadi tiga segemen yang bertemakan sejarah Indonesia dari masa penjajahan hingga masa pasca kemerdekaan. Gambar 5.6. Skema Konsep Storyline Tiga segmen tersebut diletakkan berdasarkan tata bangunan benteng dan alur sirkulasi benteng yang asli yaitu yang dimulai dari kiri. Bagian pertama bertemakan Indonesia dan Belanda. Materi yang disajikan secara umum membahas tentang perjuangan Indonesia ketika dijajah oleh Belanda, dan secara khusus membahas keadaan Jawa Timur dan Benteng Van den Bosch pada masa tersebut. Suasana yang diciptakan bersifat formal formal. Suasana formal dengan materi yang berat disuguhkan diawal sirkulasi

Bagian kedua mengisahkan tentang perjalanan Indonesia secara umum dan Jawa Timur serta Benteng Van den Bosch secara khusus ketika dijajah oleh Jepang. Suasana semi formal diciptakan sebagai tanggapan dari penurunan daya fokus dan energi pengunjung yang dimiliki oleh pengunjung. Sedangkan bagian ketiga bertemakan Indonesia Merdeka. Materi yang disajikan mengisahkan proses Indonesia ketika meraih kemerdekaan dan keadaan Jawa Timur khususnya Benteng Van den Bosch ketika masa merdeka hingga pasca kemerdekaan. Perurunan fokus dan energi serta daya pengunjung yang semakin tajam dalam menyerap materi diakhir segmen ditanggapi dengan suasana informal yang diciptakan pada segmen ini. Penjelasan tersebut dirangkum dalam tabel 5.1. Tabel 5.1. Penjabaran Materi Storyline (Sumber : Analisis, 2015) Secara keseluruhan suasana dan emosi keruangan yang diciptakan pada benteng melawan grafik perkembangan energi, fokus dan daya penyerapan materi pada pengunjung yang menurun. Disetiap segemen akan diselingi oleh area transisi yang gunanya sebagai area istirahat bagi pengunjung. Selain itu, area transisi

merupakan tanggapan terhadap isu museum fatigue yang dialami oleh pengunjung museum. Tiap segmen memiliki detail emosi mulai dari pengenalan diawal yang menyuguhkan materi yang ringan, dan klimaks pada tengah segmen yang menyajikan inti materi yang padat serta diakhiri penutup dengan materi yang ringan pula. Diawal perjalanan, pengunjung diajak untuk lebih antusias dalam belajar dan memahami sejarah, kemudian diharapkan pengunjung dapat menjadi lebih menghargai jasa pahlawan serta mendapatkan semangat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 5.3.2 Konsep Ruang Outdoor Gambar 5.7. Grafik Emosi pada Storyline Museum outdoor dirancang sebagai kesimpulan dari perjalanan pengujung dalam pembelajaran sejarah yang ditampilkan museum indoor. Model penyampaian informasi ditampilkan menggunakan konsep pertujukan yang menghibur dan dapat memanfaatkan bangunan benteng. Teknik yang digunakan adalah video mapping. Video mapping adalah sebuah seni visual dengan teknik pencaya dan proyeksi yang ditembakkan pada sebuah benda sehingga menciptakan sebuah ilusi optik ke benda yang ditembakkan. Video mapping menggabungkan pemetaan film dan video sebagai strategi pertunjukkan.

Gambar 5.7. Grafik Emosi pada Storyline (Sumber : https://3dvideomapping.files.wordpress.com/2012/02/dsc_7988.jpg diakses pada 1 Maret 2016). Di Museum Benteng Van den Bocsh, video mapping ditampilkan di bagian sisi luar benteng dengan menceritakan perjalanan benteng dari awal benteng berdiri hingga tersisa reruntuhan seperti sekarang. Museum outdoor ditempatkan diakhir sirkulasi pengunjung sebagai penutup pertujukan yang disuguhkan di Museum Benteng Van den Bosch. 5.4 Konsep Sirkulasi Sirkulasi di museum ini diatur dengan alur dari kiri ke kanan dengan pertimbangan desain suasana yang disuguhkan oleh konten pameran yang sesuai dengan kondisi eksisting bangunan. Suasana yang diciptakan adalah privat dan itim pada bagian pertama. Susana ini didukung oleh bangunan dengan tingkat ketertutupan bangunan yang benteng tinggi.

Pada bagian kedua, susana yang diciptakan lebih santai namun tetap formal. Perbandingan tingkat arsitektur antara benteng dengan arsitektur museum yang baru sebesar 50%-50%. Pembagian ini sesuai dengan kondisi eksisting dimana kerusakan yang terjadi di benteng bagian dua lebih besar dibanding di bagian satu. Gambar 5.8. Pembagian Jenis Pameran Sedangkan bagian tiga merupakan bagian dengan suasana paling santai dan bobot materi yang disuguhkan tidak seberat pada bagian nomor satu dan dua. Arsitektur museum yang baru pada bagian ini lebih dominan dari pada aristektur indische. Hal tersebut berdasar pada tingkat kerusakan yang paling parah dibagian nomor tiga. Alur sirkulasi ini berujung di area museum outdoor yang ada tepat di bagian depan museum bagian nomor tiga. Alur sirkulasi tersebut dapat menciptakan sebuah suasana dari formal dan materi yang penuh ke arah informal dengan materi yang lebih ringan yang berujung pada fasilitas penunjang sebagai hiburan seperti kafetaria dan area bermain anak.

pengunjung secara intern dipengaruhi oleh kebiasaan, pertimbangan waktu dan tenaga serta keuntungan yang akan didapatkan. Pada dasarnya, dalam sebuah pameran, semakin sedikit waktu dan usaha yang pengunjung keluarkan dalam menemukan alur sirkulasinya, maka semakin mereka akan menghargai pengalamanan mereka dalam museum tersebut serta dalam menyerap secara optimal nilai edukasi yang disuguhkan. Terdapat beberapa prinsip dalam pengaturan sirkulasi pameran sebagai langkah dalam mengoptimalkan nilai dari sebuah museum, yaitu (Bitgood, 2002): - Mengembangan sebuah pameran dengan memprediksi terlebih dahulu pola sirkulasi pengunjung. Bangaimana mengefisienkan jalur sehingga pengunjung tidak terlalu membuang energinya, - Meminimalkan jumlah langkah dengan tidak adanya backtracking, - Jangan menyediakan pilihan bagi pengunjung untuk menentukan alur sirkulasinya sendiri dalam menghahiri perjalannya dalam pameran tanpa menikmati terlebih dahulu keseluruhan dari pameran dalam museum, - Hindari penataan konten pameran dengan meletakan dua benda pameran yang akan mengakibatkan pengunjung membandingkan dan hanya berfokus pada salah satunya. Sehingga, guna mengefektifkan penyerapan informasi, penataan benda display diletakan di satu sisi jalan saja, tidak dikedua sisi jalan maupun tersebar dalam ruangan yang besar.

Gambar 5.10. Penataan Benda Pameran 5.4.2 Jenis Alur Sirkulasi Museum Terdapat dua jenis sirkulasi di Museum Benteng Van den Bosch berdasarkan fungsinya, yaitu untuk dilalui oleh manusia saja dan yang kedua dilalui oleh manusia dan barang pameran museum. Kedua sirkulasi tersebut dibedakan oleh standar ukuran dan material yang digunakan. Berdasarkan tingkat privasinya, terdapat tiga jenis sirkulasi, yaitu sirukulasi privat, semi privat dan publik. Sirkulasi semi privat dan privat harus tertutup dan terpisah dengan area publik sedangkan sirkulasi publik sifatnya terbuka dan ukurannya lebih lebar dari pada sirkulasi privat dan semi privat.

Gambar 5.11. Alur Sirkulasi Pengunjung Sedangkan menurut sirukulasi benda pameran dan non pameran, sirkulasi dikelompokan menjadi dua alur yang berbeda, yaitu : Gambar 5.12. Alur Sirkulasi Pengelola Gambar 5.13. Alur Benda Pameran

keruang yang lain. Sehingga tebentuk ruang koridor yang diperindah dengan siluet arch yang fungsinya juga sebagai pelindung dari cuaca. Ciri khas tersebut benjadi karakter museum yang akan tetap dipertahankan dengan ditambahkan dengan sirkulasi didalam ruang sebagai standard dari museum. Sehingga pengunjung pameran tidak harus keluar ruang jika akan berpindah dari ruang pameran satu ke ruang pameran yang lain. 5.4.4 Fenomena Museum Fatigue Museum fatigue merupakan fenomena kelelahan yang dialami oleh pengunjung museum yang ditandai dengan penurunan fokus pengunjung pada materi pameran. Hal tersebut berbanding lurus dengan waktu yang dibutuhkan dan banyaknya benda yang dipamerkan serta cara memamerkannya. Dari dalam tubuh manusia, faktor yang mempengaruhi sangat beragam, mulai dari usia, jenis kelamin, jenis, dan minat. Salah satu cara yang digunakan untuk meminimalisir potensi terjadinya museum fatigue adalah dengan menciptakan vareasi sirkulasi. Sehingga, secara emosional pengunjung merasa perjalanannya menjadi lebih rekreatif dan mempertahankan mood agar tetap stabil.

Gambar 5.16. Skematik Vareasi Sirkulasi Namun hal tersebut tidak dapat berlangsung lama. Dalam sebuah penelitian, rata-rata perhatian pengunjung terhadap pameran akan berkurang secara tajam setelah 30-45 menit di dalam museum (Falk et al 1985). Sehingga selain vareasi sirkulasi, juga diperlukan area khusus yang bertujuan menetralkan kembali ketegangan yang dirasakan oleh pengunjung (museum fatigue). Area khusus tersebut berupa ruang istirahat dengan persyaratan ruang yang suasanya nyaman serta berbeda dengan suasana yang ada di area pameran. Di Museum Van den Bosch diletakan tiga titik peristirahatan di ujung ketiga bagian dari museum. Titik peristirahatan tersebut juga berfungsi untuk memberikan pembatas antara tiga kelompok bagian museum yang berbeda. Gambar 5.17. Skematik Rest Area

5.4.5 Wayfinding Interior Museum Alur sirkulasi di museum bagi pengunjung dapat diperjelas dengan bantuan sebagai signage. Signage selain sebagai penunjuk, juga dapat memberikan kejelasan mengenai materi yang disuguhkan oleh benda pameran. Signage ini dapat secara spesifik menggunakan kode warna, tekstur, simbol maupun teknik non verbal untuk membantu pengunjung difabel dengna menggunakan audio maupun huruf braile. Warna kontras (dari 70%) antara jalur karpet dan tepi juga merupakan cara yang efektif untuk menentukan jalur untuk orang dengan low vision atau cacat kognitif. Sebagai museum yang berada menyatu dengan bangunan benteng, detail desain pada signage juga diperhatikan. Kontras sebagai penyatu antara museum dengan benteng juga terlihat di bagian museum. Kekontrasan tersebut dapat digambarkan dengan ilustrasi sebagai berikut. Gambar 5.18. Skematik Perletakan Rest Area

Gambar 5.20. Ilustrasi Konsep Bentuk Terdapat dua langkah pemilihan bentuk pada museum. Langkah pertama lebih menekankan pada pengolahan interior dan penambahan massa dengan skala kecil. Bentukan ini selain mengakomodasi fungsi museum, juga sebagai penguat struktur benteng agar tetap dapat bertahan. Bentuk kedua adalah massa baru yang menyatu dengan memanfaatkan sisa benteng yang sudah tidak membentuk ruang lagi. Penambahan tersebut menjadikan entrance museum terlihat jelas serta reruntuhan benteng yang sudah tidak berfungsi dapat dimanfaatkan. Bentuk massa baru keseluruhannya tetap membentuk unity dengan mengikuti geometri dari benteng. Dominasi garis horizontal tetap ditonjolkan dengan pengulangan pada garis vertikal dengan skala dan proporsi yang sama. Gambar 5.21. Skematik Geometri Benteng Van den Bosch 5.6 Konsep Material dan Warna Material yang digunakan pada infill disain di Museum Benteng Van den Bosch harus mewakili zamannya. Untuk memperlihatkan hal tersebut, dipilih material modern seperti kaca dan baja agar kontras dengan benteng sebagai bangunan lama. Meski berbeda jenis, namun metode infill desain yang digunakan harus dapat menciptakan unity dengan benteng. Secara umum, warna yang dipilih menyesuaikan dengan warna dasar dari bangunan Benteng Van den Bosch. Namun begitu, tidak ada unsur pemaksaan warna pada material. Warna dari seluruh material yang digunakan harus mewakili karakternya masing-masing.

Gambar 5.22. Gambaran Warna yang Digunakan Warna dasar yang dipilih adalah coklat dan metal. Warna coklat dan gradasinya hingga krem secara psikologis memberikan kesan kaya dan hangat, warna krem merepresentasikan kelembutan dan klasik. Kelebihan lainnya adalah warna coklat dapat menimbulkan kesan modern, canggih dan mahal karena kedekatannya dengan warna emas. Sedangkan warna silver yang terlihat dari material metal yang digunakan menciptakan kesan modern, mahal namun sederhana. Hal tersebut merupakan cerminan dari perhiasan perak. 5.7 Konsep Pencahayaan Sebagai sebuah museum, Benteng Van den Bosch harus memperlihatkan identitasnya sebagai bangunan monumental dengan pencahayaan yang optimal. Di bagian eksterior, pencahayaan berupa lampu harus ditata sedemikian rupa agar karalteristik benteng yang megah dapat terpancarkan. Di bagian interior, terdapat dua jenis pencahayaan, yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Gambar 5.23. Skematik Pencahayaan Untuk mewujudkan bangunan yang hemat energi dan menyatu dengan alam, bangunan Museum Benteng Van den Bosch lebih menekankan pada pencahayaan alami. Cara yang digunakan adalah dengan meminimalkan kebutuhan lampu pada siang hari dan memperbanyak bukaan serta elemen

transparan. Ruang-ruang yang menggunakan lampu pada siang hari hanyalah area pameran yang mana barang-barang yang dipamerkan terancam rusak jika terpapar oleh sinar matahari. Namun begitu, kenyamanan pengguna akan gangguan panas tetap diperhatikan. Gambar 5.24. Pemanfaatan cahaya alami dan buatan (Sumber : Good Lighting for Museums, Galleries and Exhibitions. Fördergemeinschaft Gutes Licht, 2015) 5.8 Konsep Lansekap Pembagian zona lansekap di museum terdiri dari tiga kelompok. Zona pertama merupakan area bagian dalam museum yang berupa tanaman hias seperti soka, kenikir, tapak dara hingga kambija dan kastuba. Tanaman- tanaman tersebut berfungsi sebagai pendukung pameran outdoor dan sebagai area bermain bagi pengunjung. Selain menikmati pameran di museum, pengunjung juga dapat merasakan suasana outdoor yang dipenuhi tanaman hias cantik di zona ini. Gambar 5.25. Zonasi Lansekap

Gambar 5.26. Tanaman Zona 1 (Sumber : http://www.petanimudabogor.com/image-product/img1374-1341649067.jpg diakses pada 20 November 2015). Zona kedua berupa tanaman perdu yang juga dapat dinikmati oleh penggunjung. Zona ini menyatu pula dengan area entrance dan juga parkir, sehingga selain dapat dinikmati untuk duduk-duduk beristirahat, zona ini juga perfungsi sebagai peneduh. Pohon-pohon yang dipilih adalah pohon yang berkanopi lebar seperti pohon trembesi. Gambar 5.27. Tanaman Zona 2 (Sumber http://assetsa2.kompasiana.com/statics/crawl/555debf80423bd5c178b4567.jpeg?t=o&v=760 diakses pada 20 November 2015). Zona ketiga adalah area konservasi berupa pepohonan yang bertujuan untuk tetap menselaraskan bangunan dengan alam. Sebagai kawasan yang dekat dengan sungai dan areanya yang sejak awal merupakan tanah mati, konservasi bertujuan untuk berkontribusi pada perbaikan alam. Zona ini tidak dibuka untuk umum dengan alasan keamanan.

Gambar 5.28. Tanaman Zona 3 (Sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d2/starr_050516-1264_ficus_benjamina.jpg diakses pada 20 November 2015). 5.9 Konsep Universal Design Sebagai museum yang bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapan informasi bagi pengunjung yang datang ke Benteng Van den Bosch, maka harus disediakan sarana yang mendukung. Salah satunya yaitu penyediaan fasilitas bagi seluruh jenis pengunjung, baik anak-anak, dewasa, lansia maupun yang berkebutuhan khusus seperti ibu hamil dan difabel. Fasilitas yang aksesible tersebut berupa desain yang dapat digunakan bagi semua kalangan baik dari penyediaan ruang-ruang hingga area sirkulasi. 5.10 Konsep Programatik 5.10.1 Kebutuhan Ruang Gambar 5.29. Ilustrasi Universal Design Berikut merupakan tabel kebutuhan ruang minimum Museum Benteng Van den Bosch. Perhitungan ini belum disesuaikan dengan luasan yang tersedia di benteng. Luasan yang sebenarnya akan tampak ketika kebutuhan ruang minimum diimplementasikan di site.

Tabel 5.2. Kebutuhan Ruang (Sumber :Analisis, 2015) 5.10.2 Kedekatan Ruang Berikut merupakan detail kedekatan ruang pada zonasi yang telah dibagi berdasarkan kegiatannya. Matriks ini berfungsi untuk penyusunan alur kegitan bagi pengguna Museum Benteng Van den Bosch.

Gambar 5.30. Hubungan antar Ruang Fasilitas Publik Gambar 5.31. Hubungan antar Ruang Fasilitas Pengelola Gambar 5.32. Hubungan antar Ruang Fasilitas Penunjang

Gambar 5.33. Hubungan antar Ruang Fasilitas Teknis 5.10.3 Hubungan Antar Ruang Gambar5.34. Hubungan antar Ruang Fasilitas Servis Berikut merupakan diagram kebutuhan ruang yang memperlihatkan kedekatan antar ruang serta sifat ruang tersebut berdasarkan tingkat privasinya. Selain itu, juga dijelaskan jenis penghawaan yang digunakan di ruangan.

Gambar 5.35. Diagram Hubungan Ruang 5.10.4 Organisasi Ruang Organisasi ruang yang digunakan di Museum Benteng Van den Bosch ini berupa organisasi ruang berbentuk cluster. organisasi cluster terdiri dari ruang-ruang yang berulang yang memiliki fungsifungsi sejenis dan memiliki sifat visual yang umum seperti wujud dan orientasi. Organisasi ini dipilih karena dapat menerima ruangraung yang berlainan bentuk, ukuran dan fungsi namun berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan penempatannya.

Gambar 5.36. Diagram Organisasi Ruang (Sumber : M67 (2015)). 5.11 Konsep Utilitas 5.11.1 Sistem Penghawaan Terdapat dua sistem penghawaan yang digunakan, yaitu sistem penghawan alami dan sistem penghawaan buatan. Sebagai bangunan yang hemat energi dan menyatu dengan alam maka bangunan ini memilimalisir penggunaan AC. Seperti pada desain bangunan benteng yang dahulu yang dirancang untuk menggunakan pengwaan alami, maka desain bangunan baru juga harus mengikuti faedah tersebut dengan cara mengoptimalkan bukaan guna memperlancar sirkulasi udara secara alami. Gambar 5.37. Skematik Penghawaan Namun guna memenuhi persyaratan bangunan museum maka pada ruangan-ruangan tertentu, tetap menggunakan AC. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga benda yang dipamerkan agar tetap terjaga dengan baik dan tidak mudah rusak karena suhu dan udara yang buruk. Ruangan-ruang tersebut terdiri dari ruang pameran beserta ruang-ruang yang menyatu dengan lobi, ruang audiovisual, ruang arsip, ruang koleksi dan ruang konservasi.

5.11.2 Sistem Instalasi Listrik Jaringan elektrikal di Museum Benteng Van den Bosch berasal dari PLN yang tersambung pada jaringan daerah setempat. Selain itu tersedia pula genset sebagai pemasok listrik cadangan pada keadaan darurat. Genset diletakan diarea yang jauh dari ruang pameran agar tidak mengganggu susana pengunjung didalam ruang pamer. 5.11.3 Jaringan Pencegah Kebakaran Sistem pencegahan bahaya kebakaran terdiri dari sistem pendeteksi sumber kebakaran, sistem peringatan kebakaran, sistem pemadam kebakaran, dan sirkulasi untuk penyelamatan atau jalur evakuasi. 5.11.4 Jalur Evakuasi Jalur evakuasi yang disediakan berupa jalur vertikal dan jalur horizontal. Jalur evakuasi vertikal yang berupa tangga darurat ditambahkan di setiap blok massa benteng. Jalur evakuasi horizontal berupa jalur yang mengarahkan pengguna bangunan keluar dari gedung dan keluar dari kawasan benteng ketika dalam keadaan darurat. Selain itu, pola penataan lanskap dan bangunan di Museum Benteng Van den Bosch telah dirancang untuk memudahkan pemadaman api menggunakan mobil pemadam kebakaran. Gambar 5.38. Jalur Evakuasi (Sumber : Analisis, 2015)