BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan lingkungan sekolah merupakan syarat sekolah sehat. Upaya penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang pedoman penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah. Salah satu upaya penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah yaitu kantin sekolah yang merupakan salah satu ruang lingkup higiene dan sanitasi sekolah. Kantin adalah tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Kantin merupakan salah satu bentuk fasilitas umum yang keberadaannya selain sebagai tempat untuk menjual makanan dan minuman juga sebagai tempat bertemunya segala macam masyarakat dalam hal ini siswa yang berada di lingkungan sekolah dengan segala penyakit yang mungkin dideritanya. Kantin sekolah menjadi salah satu indikasi kesehatan siswa dalam proses belajar mengajar (Depkes RI, 2003). Salah satu fungsi dari kantin adalah sebagai tempat memasak atau membuat makanan dan selanjutnya dihidangkan kepada konsumen, maka kantin dapat menjadi tempat menyebarnya segala penyakit yang medianya melalui makanan dan minuman. Dengan demikian makanan dan minuman yang dijual di kantin berpotensi menyebabkan penyakit bawaan makanan bila tidak dikelola dan ditangani dengan baik (Mukono, 2000). Kantin sekolah mempunyai peranan penting dalam mewujudkan pesan-pesan kesehatan dan dapat menentukan perilaku makan siswa sehari-hari melalui penyediaan pangan jajanan di sekolah. Kantin sekolah dapat menyediakan makanan sebagai pengganti makan pagi dan makan siang di rumah serta camilan dan minuman yang sehat, aman dan bergizi. Keberadaan kantin sekolah memberikan peranan penting karena mampu menyediakan ± ¼ konsumsi makanan keluarga karena keberadaan peserta didik di sekolah yang cukup lama. Kantin sekolah sehat yang memenuhi standar kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu indikator sekolah sehat (Nuraida, 2009). 1
Persyaratan sanitasi kantin telah dijelaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang kelaikan higiene sanitasi pada rumah makan dan restoran. Persyaratan higiene sanitasi kantin yang harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan adalah fasilitas sanitasi seperti kualitas lingkungan dan faktor-faktor lingkungan fisik atau sanitasi dasar, sanitasi makanan, sanitasi peralatan dan penjamah makanan. Sanitasi dasar terdiri dari penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban), pembuangan air limbah dan pengelolaan sampah (tempat sampah). Untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, sanitasi dasar merupakan sarana minimum yang diperlukan sebagai penyediaan lingkungan pemukiman sehat yang memenuhi syarat kesehatan (Azwar, 1995). Tidak hanya di pemukiman, kantin sekolah juga memerlukan sanitasi dasar yang harus dijaga kebersihannya agar dapat mencegah datangnya vektor penyakit, seperti lalat. Lalat merupakan vektor mekanik yang dapat memindahkan mikroorganisme ke penyediaan makanan seperti kantin sekolah. Apabila kepadatan lalat tinggi, lalat dapat menularkan penyakit tifus abdominalis, disentri, kolera dan penyakit gangguan pencernaan lainnya. Sifat lalat yang suka dengan tempat-tempat yang kotor dan bau perlu diwaspadai sehingga perlu dilakukan sanitasi terhadap lingkungan kantin termasuk sanitasi dasar kantin sekolah (Sumantri, 2010). Berdasarkan hasil penelitian tentang sekolah sehat yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Tahun 2007 pada 640 SD di provinsi yang diteliti, sebanyak 40% belum memiliki kantin. Sementara dari yang telah memiliki kantin (60%) sebanyak 84.30% kantinnya belum memenuhi syarat kesehatan. Selain itu banyak ditemukannya produk jajanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, termasuk perilaku pengelola kantin yang tidak mencerminkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penelitian Ardhiana (2011) mengenai sanitasi dasar kantin sekolah menengah atas (SMA) di Kecamatan Medan Barat Kota Medan menyebutkan penyediaan air bersih dan pembuangan air limbah telah memenuhi syarat kesehatan sedangkan jamban dan tempat pembuangan sampah tidak memenuhi syarat karena tidak 2
tersedianya sabun pada seluruh jamban pada kantin sekolah dan tidak adanya tutup pada tempat sampah. Untuk tingkat kepadatan lalat pada kantin SMA di Kecamatan Medan Barat Kota Medan ada yang tergolong tinggi dan rendah. Kepadatan lalat tertinggi terdapat pada tempat sampah yaitu sebanyak 7,8 di kantin SMA Laksamana Martadinata. Pada etalase kantin, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 5,6 di kantin SMA NEGERI 3. Pada meja makan kantin, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 7,6 di SMA Methodist 8. Pada jamban, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 3,4 di SMA Methodist 5. Pada SPAL dan sumber air bersih kantin sekolah SMA di Kecamatan Medan Barat Kota Medan, kepadatan lalat rendah yaitu 0. Penelitian yang dilakukan oleh Lady dkk. (2014) mengenai santasi dasar kantin dan tingkat kepadatan lalat pada kantin sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2014 yaitu secara keseluruhan, sanitasi dasar kantin SMP di Kecamatan Tumpaan belum memenuhi syarat dan tingkat kepadatan lalat pada kantin SMP berada dalam tingkat sedang sebanyak 75% dan tinggi sebanyak 25%. Berdasarkan data referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), Kabupaten Simalungun memiliki 1223 sekolah yang terdiri dari 872 SD, 232 SMP/MTS, 80 SMA/MA, dan 39 SMK, dimana sekolah-sekolah tersebut tersebar dibeberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Simalungun, salah satunya di Kecamatan Sidamanik. Kecamatan Sidamanik memiliki banyak sekolah mulai dari Paud/TK, SD, SMP, SMA, serta SMK sebagai penunjang kesejahteraan masyarakatnya. Keberadaan sekolah berstatus negeri mendominasi di wilayah Kecamatan Sidamanik dibandingkan sekolah berstatus swasta. Jumlah sekolah sebanyak 43 sekolah terdiri dari 30 SD, 9 SMP, 2 SMA, dan 2 SMK. Hasil observasi yang dilakukan peneliti pada beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Sidamanik, masih banyak kantin sekolah yang sanitasi dasarnya tidak memenuhi syarat kesehatan. Seperti pewadahan sampah yang tidak tertutup, kotor dan tidak ada pemisahan antara sampah basah dan sampah kering. Terdapat kantin sekolah yang letaknya tidak jauh dengan toilet dan tempat pembuangan sampah sekolah. Hal ini dapat berperan sebagai faktor pendukung terciptanya tempat perkembangbiakan lalat yang dapat menularkan penyakit. 3
Perilaku penjamah makanan yang tidak menutup etalase makanannya juga memungkinkan terjadinya kontaminasi mikroorganisme oleh lalat. Karena tampak lalat berterbangan di sekitar tempat penyajian makanan dan lantai kantin. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh perilaku serta tingkat pengetahuan penjual makanan. Pengawasan dari pihak sekolah hanya sebatas kebersihan lingkungan sekolah saja yaitu memberitahu pihak kantin agar membersihkan sampah yang tercecer dari hasil samping kegiatan berjualan. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 1.2 Rumusan Masalah Perilaku penjual pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik masih ada yang kurang memperhatikan kebersihan kantinnya. Lalat yang tampak berterbangan dengan leluasa hinggap pada tempat penyajian makanan yang tidak ditutup. Kebiasaan tidak menutup etalase atau tempat penyajian makanan masih banyak dilakukan oleh penjual makanan pada kantin. Sanitasi dasar kantin juga masih ada yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap, dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik tahun 2015. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap, dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik tahun 2015. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui higiene sanitasi dasar kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 2. Untuk mengetahui pengetahuan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 4
3. Untuk mengetahui sikap penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 4. Untuk mengetahui tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 5. Untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi pihak pemerintah khususnya sektor kesehatan dan sektor pendidikan, diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam penyusunan program kantin sehat pada sekolah. 2. Bagi sekolah dan pemilik kantin diharapkan dapat menjadi informasi untuk meningkatkan higiene sanitasi dasar kantin. 3. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan penelitian ini. 4. Sebagai informasi dan bahan referensi bagi penelitian selanjutnya. 5