BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR PUSTAKA. Anonimous, Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/

Tempat-tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang. pemerintah, swasta, dan atau perorangan yang dipergunakan langsung oleh

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya

BAB I PENDAHULUAN. juga dipengaruhi oleh tidak bersihnya kantin. Jika kantin tidak bersih, maka


HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

BAB I PENDAHULUAN. penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan

BAB IV HASIL PENELITIAN. Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI

ABSTRACT. Keywords : Sanitation, Canteen, Flies Density

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

Lampiran 1. Kategori Objek Pengamatan. Keterangan. Prinsip I : Pemilihan Bahan Baku Tahu. 1. Kacang kedelai dalam kondisi segar dan tidak busuk

I. PENDAHULUAN. Pada era globalisasi keadaan gizi masyarakat yang baik menjadi salah satu cara

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERADAAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAJANAN ES BUAH YANG DIJUAL DI SEKITAR PUSAT KOTA TEMANGGUNG

LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini:

BAB 1 : PENDAHULUAN. disebut penyakit bawaan makanan (foodborned diseases). WHO (2006)

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk makanan dari jasaboga. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik

BAB I PENDAHULUAN. terbagi menjadi dua macam yaitu komersial dengan orientasi pada profit dan non

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gorontalo dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. serta dilindungi dari ancaman yang merugikannya (Depkes RI, 1999). Memenuhi kebutuhan makhluk hidup membutuhkan bermacam-macam

BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan sebagainya (Depkes RI, 2000).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Anak usia sekolah merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai

Karakteristik Responden

BAB I PENDAHULUAN. tidak terjadi dengan sendirinya (Mukono, 2006). Pertambahan penduduk,

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1098/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN

LEMBAR KUESIONER UNTUK PENJAMAH MAKANAN LAPAS KELAS IIA BINJAI. Jenis Kelamin : 1.Laki-laki 2. Perempuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari enam usaha dasar

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. atau dikenal dengan kampus induk/pusat, kampus 2 terletak di Jalan Raden Saleh,

BAB I PENDAHULUAN. maju adalah mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, karena derajat kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Adanya kebutuhan fisiologis manusia seperti. mencakup kepemilikan jamban sebagai dari kebutuhan setiap anggota keluarga.

Lampiran 1. Lembar ObservasiHigiene Sanitasi Pembuatan Ikan Asin di Kota Sibolga Tahun 2012

KUESIONER PENGAMATAN FAKTOR RISIKO CEMARAN MIKROBA PADA PENJAMAH MAKANAN DI KANTIN SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN MEDAN JOHOR TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KUESIONER GAMBARAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INSIDENSI DIARE PADA BALITA DI RSU SARASWATI CIKAMPEK PERIODE BULAN JULI 2008

HIGIENE SANITASI PANGAN

Isu Pengelolaan Higiene Sanitasi

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal diselenggarakan. makanan dan minuman (UU RI No.

BAB I PENDAHULUAN. klien kekurangan cairan / dehidrasi. Keadaan kekurangan cairan apabila tidak

BAB I PENDAHULUAN. Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologi pada

DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.7 Kerangka Teori Gambar 3.1 Kerangka Konsep... 24

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG SERTIFIKASI TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN, TEMPAT-TEMPAT UMUM DAN PENGAWASAN KUALITAS AIR

Lampiran 1. Formulir Persetujuan Partisipasi Dalam Penelitian FORMULIR PERSETUJUAN PARTISIPASI DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) NASKAH PENJELASAN

PROPOSAL REKAYASA SARANA SANITASI ALAT PENGHITUNG KEPADATAN LALAT (FLY GRILL) BAB I PENDAHULUAN

HUBUNGAN ANTARA HIGIENE PERORANGAN, FREKUENSI KONSUMSI DAN SUMBER MAKANAN JAJANAN DENGAN KEJADIAN DIARE

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana

UNTUK KEPALA SEKOLAH SDN KOTA BINJAI

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan

ASPEK HYGIENE SANITASI MAKANAN PADA RUMAH MAKAN DI TERMINAL 42 ANDALAS KOTA GORONTALO 2012 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, kesehatan perlu dijaga dari hal-hal

Jurnal of Health Education

HIGIENE DAN SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN KEPADATAN LALAT PADA WARUNG MAKAN DI PASAR TRADISIONAL PASAR HORAS PEMATANGSIANTAR TAHUN 2013

II OBSERVASI. NO OBJEK PENGAMATAN. TOTAL SKOR MASING MASING SETIAP KANTIN BOBOT NILAI LOKASI & BANGUNAN SMA LOKASI : A

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Barat : berbatasan dengan Sungai Bulango. b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Ipilo

LEMBAR OBSERVASI HIGIENE SANITASI PENGOLAHAN BUBUR AYAM DI KECAMATAN MEDAN SUNGGAL TAHUN

sekolah dengan upaya promotif dan preventif (Simon, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.

BAB I PENDAHULUAN. Transmitted Helminths. Jenis cacing yang sering ditemukan adalah Ascaris

BAB I PENDAHULUAN. sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada anak balita

1. Pendahuluan SANITASI LINGKUNGAN RUMAH DAN UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN PADA KAWASAN KUMUH KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Status kesehatan suatu populasi sangat ditentukan oleh kondisi tempat- tempat dimana

Lampiran 1. Aspek Penilaian GMP dalam Restoran

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam makanan secara tidak sengaja (Fathonah, 2005). Faktorfaktor

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu

Untuk menjamin makanan aman

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Makanan merupakan salah satu dari tiga unsur kebutuhan pokok manusia,

Sanitasi Penyedia Makanan

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 236/MENKES/PER/IV/1997 TENTANG PERSYARATAN KESEHATAN MAKANAN JAJANAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. Keadaan higiene dan sanitasi rumah makan yang memenuhi syarat adalah merupakan faktor

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 12 TAHUN 2004 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI MAKANAN DI TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN

BAB 1 PENDAHULUAN. akan dikonsumsi akan semakin besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi

BAB 1 PENDAHULUAN. mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda-benda yang

II Observasi. No Objek pengamatan. Total skor masing masing setiap kantin Bobot Nilai Lokasi & Bangunan SMA Lokasi : a.

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Mranggen merupakan daerah yang berada di Kabupaten Demak

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 48 telah. kesehatan keluarga, perbaikan gizi, pengawasan makanan dan minuman,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyelenggaraan makanan yang sehat dan aman merupakan salah satu

LAMPIRAN 1 KUESIONER PENJAMAH MAKANAN DI RUMAH MAKAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

LEMBAR OBSERVASI ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN. adanya makanan maka manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya. Makanan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia

ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU SISWA TERHADAP PHBS DAN PENYAKIT DEMAM TIFOID DI SMP X KOTA CIMAHI TAHUN 2011.

BAB I PENDAHULUAN. manusia, air diperlukan untuk menunjang kehidupan, antara lain dalam kondisi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan lain yang

HIGIENE SANITASI MAKANAN DAN MINUMAN JAJANAN DI KOMPLEKS USU, MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi alternatif makanan dan minuman sehari-hari dan banyak dikonsumsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan lingkungan sekolah merupakan syarat sekolah sehat. Upaya penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang pedoman penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah. Salah satu upaya penyelenggaraan kesehatan lingkungan sekolah yaitu kantin sekolah yang merupakan salah satu ruang lingkup higiene dan sanitasi sekolah. Kantin adalah tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Kantin merupakan salah satu bentuk fasilitas umum yang keberadaannya selain sebagai tempat untuk menjual makanan dan minuman juga sebagai tempat bertemunya segala macam masyarakat dalam hal ini siswa yang berada di lingkungan sekolah dengan segala penyakit yang mungkin dideritanya. Kantin sekolah menjadi salah satu indikasi kesehatan siswa dalam proses belajar mengajar (Depkes RI, 2003). Salah satu fungsi dari kantin adalah sebagai tempat memasak atau membuat makanan dan selanjutnya dihidangkan kepada konsumen, maka kantin dapat menjadi tempat menyebarnya segala penyakit yang medianya melalui makanan dan minuman. Dengan demikian makanan dan minuman yang dijual di kantin berpotensi menyebabkan penyakit bawaan makanan bila tidak dikelola dan ditangani dengan baik (Mukono, 2000). Kantin sekolah mempunyai peranan penting dalam mewujudkan pesan-pesan kesehatan dan dapat menentukan perilaku makan siswa sehari-hari melalui penyediaan pangan jajanan di sekolah. Kantin sekolah dapat menyediakan makanan sebagai pengganti makan pagi dan makan siang di rumah serta camilan dan minuman yang sehat, aman dan bergizi. Keberadaan kantin sekolah memberikan peranan penting karena mampu menyediakan ± ¼ konsumsi makanan keluarga karena keberadaan peserta didik di sekolah yang cukup lama. Kantin sekolah sehat yang memenuhi standar kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu indikator sekolah sehat (Nuraida, 2009). 1

Persyaratan sanitasi kantin telah dijelaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang kelaikan higiene sanitasi pada rumah makan dan restoran. Persyaratan higiene sanitasi kantin yang harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan adalah fasilitas sanitasi seperti kualitas lingkungan dan faktor-faktor lingkungan fisik atau sanitasi dasar, sanitasi makanan, sanitasi peralatan dan penjamah makanan. Sanitasi dasar terdiri dari penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban), pembuangan air limbah dan pengelolaan sampah (tempat sampah). Untuk meningkatkan kesehatan lingkungan, sanitasi dasar merupakan sarana minimum yang diperlukan sebagai penyediaan lingkungan pemukiman sehat yang memenuhi syarat kesehatan (Azwar, 1995). Tidak hanya di pemukiman, kantin sekolah juga memerlukan sanitasi dasar yang harus dijaga kebersihannya agar dapat mencegah datangnya vektor penyakit, seperti lalat. Lalat merupakan vektor mekanik yang dapat memindahkan mikroorganisme ke penyediaan makanan seperti kantin sekolah. Apabila kepadatan lalat tinggi, lalat dapat menularkan penyakit tifus abdominalis, disentri, kolera dan penyakit gangguan pencernaan lainnya. Sifat lalat yang suka dengan tempat-tempat yang kotor dan bau perlu diwaspadai sehingga perlu dilakukan sanitasi terhadap lingkungan kantin termasuk sanitasi dasar kantin sekolah (Sumantri, 2010). Berdasarkan hasil penelitian tentang sekolah sehat yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Tahun 2007 pada 640 SD di provinsi yang diteliti, sebanyak 40% belum memiliki kantin. Sementara dari yang telah memiliki kantin (60%) sebanyak 84.30% kantinnya belum memenuhi syarat kesehatan. Selain itu banyak ditemukannya produk jajanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, termasuk perilaku pengelola kantin yang tidak mencerminkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penelitian Ardhiana (2011) mengenai sanitasi dasar kantin sekolah menengah atas (SMA) di Kecamatan Medan Barat Kota Medan menyebutkan penyediaan air bersih dan pembuangan air limbah telah memenuhi syarat kesehatan sedangkan jamban dan tempat pembuangan sampah tidak memenuhi syarat karena tidak 2

tersedianya sabun pada seluruh jamban pada kantin sekolah dan tidak adanya tutup pada tempat sampah. Untuk tingkat kepadatan lalat pada kantin SMA di Kecamatan Medan Barat Kota Medan ada yang tergolong tinggi dan rendah. Kepadatan lalat tertinggi terdapat pada tempat sampah yaitu sebanyak 7,8 di kantin SMA Laksamana Martadinata. Pada etalase kantin, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 5,6 di kantin SMA NEGERI 3. Pada meja makan kantin, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 7,6 di SMA Methodist 8. Pada jamban, kepadatan lalat tertinggi sebanyak 3,4 di SMA Methodist 5. Pada SPAL dan sumber air bersih kantin sekolah SMA di Kecamatan Medan Barat Kota Medan, kepadatan lalat rendah yaitu 0. Penelitian yang dilakukan oleh Lady dkk. (2014) mengenai santasi dasar kantin dan tingkat kepadatan lalat pada kantin sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2014 yaitu secara keseluruhan, sanitasi dasar kantin SMP di Kecamatan Tumpaan belum memenuhi syarat dan tingkat kepadatan lalat pada kantin SMP berada dalam tingkat sedang sebanyak 75% dan tinggi sebanyak 25%. Berdasarkan data referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), Kabupaten Simalungun memiliki 1223 sekolah yang terdiri dari 872 SD, 232 SMP/MTS, 80 SMA/MA, dan 39 SMK, dimana sekolah-sekolah tersebut tersebar dibeberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Simalungun, salah satunya di Kecamatan Sidamanik. Kecamatan Sidamanik memiliki banyak sekolah mulai dari Paud/TK, SD, SMP, SMA, serta SMK sebagai penunjang kesejahteraan masyarakatnya. Keberadaan sekolah berstatus negeri mendominasi di wilayah Kecamatan Sidamanik dibandingkan sekolah berstatus swasta. Jumlah sekolah sebanyak 43 sekolah terdiri dari 30 SD, 9 SMP, 2 SMA, dan 2 SMK. Hasil observasi yang dilakukan peneliti pada beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Sidamanik, masih banyak kantin sekolah yang sanitasi dasarnya tidak memenuhi syarat kesehatan. Seperti pewadahan sampah yang tidak tertutup, kotor dan tidak ada pemisahan antara sampah basah dan sampah kering. Terdapat kantin sekolah yang letaknya tidak jauh dengan toilet dan tempat pembuangan sampah sekolah. Hal ini dapat berperan sebagai faktor pendukung terciptanya tempat perkembangbiakan lalat yang dapat menularkan penyakit. 3

Perilaku penjamah makanan yang tidak menutup etalase makanannya juga memungkinkan terjadinya kontaminasi mikroorganisme oleh lalat. Karena tampak lalat berterbangan di sekitar tempat penyajian makanan dan lantai kantin. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh perilaku serta tingkat pengetahuan penjual makanan. Pengawasan dari pihak sekolah hanya sebatas kebersihan lingkungan sekolah saja yaitu memberitahu pihak kantin agar membersihkan sampah yang tercecer dari hasil samping kegiatan berjualan. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 1.2 Rumusan Masalah Perilaku penjual pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik masih ada yang kurang memperhatikan kebersihan kantinnya. Lalat yang tampak berterbangan dengan leluasa hinggap pada tempat penyajian makanan yang tidak ditutup. Kebiasaan tidak menutup etalase atau tempat penyajian makanan masih banyak dilakukan oleh penjual makanan pada kantin. Sanitasi dasar kantin juga masih ada yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap, dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik tahun 2015. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui higiene sanitasi dasar serta pengetahuan, sikap, dan tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik tahun 2015. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui higiene sanitasi dasar kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 2. Untuk mengetahui pengetahuan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 4

3. Untuk mengetahui sikap penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 4. Untuk mengetahui tindakan penjual terhadap kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 5. Untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat pada kantin sekolah di Kecamatan Sidamanik. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi pihak pemerintah khususnya sektor kesehatan dan sektor pendidikan, diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam penyusunan program kantin sehat pada sekolah. 2. Bagi sekolah dan pemilik kantin diharapkan dapat menjadi informasi untuk meningkatkan higiene sanitasi dasar kantin. 3. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan penelitian ini. 4. Sebagai informasi dan bahan referensi bagi penelitian selanjutnya. 5